Minggu, 13 Januari 2013

CHAPTER 7

Semenjak memutuskan untuk berpacaran dengan Brad. Setiap kali ada kasus yang harus kami bertiga selesaikan Brad selalu memaksa Lou untuk menyertakannya dalam tim kami.

Tentu saja Dhee danAsya mulai curiga. Karena aku dan Brad kerap kali terlihat berdua ketika sedang berada di markas. Karena kedua sahabatku tersayang belum tahu bahwa pada akhirnya aku dan Brad pacaran.

Hari itu aku, Dhee dan Asya sedang menghabiskan waktu di kantin yang berada di markas kami. Hari ini Brad tidak terlihat karena sedang ada kasus yang harus segera di selesaikannya.

“Lila, bolehkah kami bertanya sesuatu padamu?“

“Tentu saja Dhee, apa yang ingin kalian tanyakan?“

“Akhir-akhir ini aku dan Asya sering sekali melihatmu bersama-sama dengan Brad. Dan kedekatan kalian kali ini menurutku tidak seperti partner lagi.“

“Aku dan Brad memang memutuskan untuk berpacaran sejak seminggu yang lalu.“

“Apa?“ tanya Dhee dan Asya bersamaan.

“Apakah kau sungguh-sungguh, La?“

“Iya Sya, tentu saja aku bersungguh-sungguh. Maaf aku belum sempat menceritakannya pada kalian berdua. Karena tampaknya kalian berdua juga sedang sibuk dengan pacar-pacar kalian.“

“Kami mengerti, La. Akhirnya kau mau membuka hatimu juga.“

“Semoga langgeng, ya.“

Pada suatu hari Lou memberikan perintah padaku untuk menyelidiki sebuah kasus seorang diri. Aku pun melamar pekerjaan di perusahaan itu sebagai seorang asisten.

Ternyata perusahaan yang aku masuki adalah semuah perusahaan yang bergerak dalam bidang musik. Namun di perusahaan ini ada campur tangan pihak mafia.

Karena tak jarang para mafia itu melakukan transaksi narkoba dan senjata di perusahaan ini.

Sudah seminggu aku bekerja di perusahaan ini. Namun belum ada tanda-tanda yang mencurigakan dari komplotan mafia itu.

Hari itu aku memutuskan untuk makan siang di kantin yang ada diperusahaan. Selain malas keadaan diluar sedang turun hujan sejak tadi pagi.

Aku memilih sebuah meja yang berada di pojok. Menikmati secangkir cappucino panas dan chicken noodle stir-fry seorang diri. Sambil mengawasi keadaan di dalam kantin.

“Ara, kamu Ara, kan?“ tiba-tiba ada sebuah suara yang memanggil namaku.

Aku memandang wajah orang yang memanggilku tadi, “Kau...“ ternyata pemilik suara itu adalah Kyle.

“Ternyata benar kau Ara. Ya Tuhan  aku senang sekali bisa bertemu lagi denganmu.“ ia duduk di kursi kosong yang berada didepanku. “Apa kabar?“

“Aku baik, terima kasih.“

“Apa yang sedang kau lakukan disini, Ra?“

“Aku bekerja disini, lalu apa yang sedang kau lakukan disini?“

“Aku dan grup bandku memiliki kontrak dengan perusahaan ini. Jika kau bekerja disini mengapa apa aku jarang melihatmu sebelumnya?“

“Baru satu minggu aku bekerja disini.“

“Ah, pantas saja ternyata kau masih baru. Aku akan semakin rajin mampir kesini kalau begitu.“

“Memangnya sebelumnya kau jarang datang kemari?“

“Terpakasa, aku sangat malas sekali jika harus mengikuti rapat dsini. Tapi mulai sekarang tidak lagi, karena ada kau disini. Kaulah alasanku untuk datang kemari mulai hari ini.“

Aku mengerutkan kening mendengar ucapannya itu, “Apa maksudmu itu, Kyle?“

“Karena aku mencintaimu, Ra.“

Aku tersedak mendengar kata-katanya. Aku buru-buru meminum air mineral dan mengatur jantungku yang berdetak kencang. Kumohon, jangan membuat wajahku semakin panas dan memerah.

“Ra, apakah kau baik-baik saja?“

“Aku tidak apa-apa, Kyle.“

“Aku selalu teringat padamu semenjak pertemuan kita di acara itu, Ra. Apalagi kau menghilang sejak insiden itu, aku berusaha untuk mencarimu tapi aku tidak bisa menemukanmu.“

“Kyle maaf, aku harus segera kembali ke atas. Masih banyak perkerjaan yang harus aku selesaikan.“ Aku berdiri dan bergegas untuk pergi.

“Tunggu, Ra...“ Kyle menarik tanganku lalu ia menekan bibirnya di bibirku.

Aku mendorongnya dan segera pergi dari tempat itu dengan perasaan yang teramat sangat kacau sekali.

***

Hari itu aku sedang duduk di lobi apartemenku. Aku sedang menunggu kedatangan Mark. Karena hari ini ia berjanji akan mengajakku berjalan-jalan.

Aku menerima ajakannya karena tanganku yang terluka sudah sembuh. Selain itu aku juga memang sangat merindukannya, aku tidak bisa memuningkir perasaanku bahwa aku memang jatuh cinta pada Mark.

“Dilla, maafkan aku datang terlambat.“ ucapnya sambil mengecup keningku dan membuyarkan lamunanku.

“H-hai Mark, kau sudah datang rupanya.“

“Maaf aku terlambat, sayang. Aku terjebak macet. Maaf aku sudah membuatmu menunggu lama.“

Aku membelai wajah tampannya, “Tidak apa-apa Mark, aku mengerti.“

Ia langsung memelukku, “Terima kasih atas pengertianmu sayang. Bagaimana jika kita pergi sekarang?“

“Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi sekarang Tuan Putri.“ ia mengulurkan tangannya sambil membungkukkan tubuhnya.

Aku hanya tersenyum sambil menerima uluran tangannya. Mark benar-benar selalu membuatku merasa sangat istimewa sekali.

Lalu kami masuk ke dalam mobil Ferrari merah milik Mark dan pergi menjauh meninggalkan apartemen.

2 komentar:

  1. whooaa…Kyle mulai datang menggoda Lila

    Lila bklan tergoda ga ya?? hhmmm…
    #usap2dagu

    Asya pacaran sm Mark…

    Trs Dhee jg udah pnya pacar?
    wooo…siapa ya itu? :o



    BalasHapus
  2. Kylee emg keturunan soang yaa..
    Maen sosor2 aja, gak pake aba2 lagi :D

    hmmm, Asya alias Dilla mau jalan kemana ya sm Mark.
    #mikir...

    trus dhee,,,???

    BalasHapus