Jumat, 25 Januari 2013

Chapter 22


Hari ini selepas dari kantor aku memutuskan untuk pergi ketoko buku untuk membeli beberapa buku referensi untuk tugas kuliahku, kebetulan hari ini aku pulang dari kantor lebih awal karena memang beberapa hari ini kami sedang tidak sibuk. Belum ada kasus-kasus besar yang akan ditangani. Bahkan Lila dan Zac memutuskan untuk cuti, mereka sedang liburan bersama didaerah pegunungan Aspen. Kali ini aku pergi sendiri, biasanya aku pergi bersama Dhee. Namun hari ini dia pulang lebih dulu, karena dia akan pergi bersama Gale.

Sebelum ketoko buku aku kesebuah minimarket untuk membeli makanan kecil, karena seingatku tadi persediaan makananku diapartemen sudah habis. Setelah selesai aku berjalan menuju toko buku yang letaknya tidak jauh dari minimarket itu, sambil meminum minuman kalengku karena aku merasa sangat haus. Saat aku sedang berjalan tiba-tiba seseorang menabrakku,.

“aduhh...” aku mengaduh saat tubuhku berbenturan dengannya.
“aww....”seseorang yang menabrakku tadi setengah berteriak.
Saat aku mendongakkan kepalaku melihatnya aku terkejut, ternyata lelaki yang menabrakku tadi wajahnya basah dan bahkan kemeja putih garis-garisnya kotor dibagian depan. Rasa kesal yang ada didalam diriku berubah menjadi rasa bersalah saat melihatnya.
“maaf,...”

Kulihat lelaki itu nampak kesal menatapku, dia menyeka air yang ada diwajahnya.
“aku sungguh tidak sengaja..” aku meminta maaf padanya.  
“ ya sudah, aku tidak apa-apa”
Secara refleks aku mengeluarkan sapu tangan yang ada didalam saku jaketku.
“pakai ini untuk membersihkan wajahmu”
Tatapannya yang tadi kesal berubah melembut saat aku mengeluarkan sapu tangan dan memberikan padanya. Lalu dia mengambilnya dan membersihkan wajahnya.
“maaf, bajumu juga kotor.”
“bukan masalah, Terima kasih untuk saputangannya..”
Aku mengangguk.
“kau tidak apa-apakan, sepertinya tadi kau mengaduh saat aku menabrakmu??”
“tidak, aku tidak apa-apa, hanya sedikit terkejut” jawabku
Tiba-tiba dia menjulurkan tangannya “ aku, Robert.. boleh aku tahu namamu??”
“ ehh, aku.. Dilla.” Jawabku.
“maaf tadi aku sedikit kesal padamu, karena jujur saja aku juga sangat terkejut..”
Aku mengangguk “ kau sudah baik-baik saja kan??”
“iya aku baik-baik saja”
“kalau begitu aku permisi dulu ya, aku masih ada urusan. Maaf atas kejadian tadi” lalu aku pergi meninggalkannya.
“ iya terima kasih..”

Aku langsung pergi meninggalkan Robert, dan menuju ketoko buku. Sekitar 1 jam aku berburu beberapa buku, aku langsung pulang. Sesampainya aku diapartemen kulihat tidak ada orang. Sepertinya Dhee belum pulang. Karena aku merasa sangat lelah, setelah mandi aku langsung berbaring ditempat tidur. Belum lama, aku membaringkan diriku kudengar ponselku berbunyi. Sejenak kulihat dilayar ponselku, bukan nomor yang kukenal. Dengan ragu-ragu aku menerimanya..
“Iya hallo, benar. Ohh, aku sedang istirahat sekarang. Maaf aku sedikit kelelahan, aku rasa aku perlu sedikit tidur. Maaf sebelumnya” aku pun langsung menutupnya.

Ternyata Robert, lelaki yang kutemui tadi sore menelponku, sejujurnya aku sangat terkejut dari mana dia mendapatkan nomor ponselku. Rupanya dia menemukan kartu namaku yang tadi jatuh. Untunglah yang terjatuh tadi atas nama Dilla, bukan Asya. Aku menarik nafas lega saat dia memanggilku Dilla bukan Asya.

Tiba-tiba lamunanku buyar saat suara ponselku berbunyi lagi. Kali ini yang menelponku adalah Mark. Dia sedang tidak ada di New York sekarang, dia sedang ada tour dibeberapa negara Eropa.
Tanpa fikir panjang aku menerima telpon dari Mark.
“iya sayang, aku baik-baik saja.. dan kau?? Kau hati-hati ya disana. Iya aku selalu hati-hati disini. Aku pasti slalu menunggu. Baiklah jaga dirimu ya sayang. I love you too.. “
Setelah aku menutup telpon dari Mark, aku memejamkan mataku. Ternyata aku sangat lelah hari ini, padahal tidak terlalu banyak hal yang aku kerjakan. Tak berapa lama kemudian mataku benar-benar terpejam dan aku terlelap.

*****
Sejak pertemuanku dengan Robert beberapa hari yang lalu, dia jadi sangat sering menelponku. Sebenarnya aku malas menerima telpon darinya, tapi aku tak berani jika harus menolaknya secara kasar. Beberapa kali dia mengajakku untuk berkencan dengannya namun kutolak. Mana mungkin disaat Mark sedang ada Tour diEropa aku berkencan dengan laki-laki lain. Itu bukan tipeku, untuk mengkhianati kekasihku.

Minggu siang disaat aku sedang menikmati santaiku sambil mendengarkan musik dikamar. Kudengar ponselku berbunyi Lou menelponku, tidak biasanya dia menelponku diluar jam kantor, kecuali kalau ada pekerjaan yang sangat penting. Dengan enggan aku menerimanya. Beberapa saat aku berbicara dengannya aku dikejutkan dengan pernyataannya yang mengatakan kalau teman-teman Stephanie sedang menyusun sebuah aksi balas dendam kepada kami karena mereka marah saat kami Dhee, Steve, Brad serta beberapa kru lainnya melakukan penyergapan dan penangkapan terhadap Stephanie di California minggu kemarin. Dan juga diduga mereka akan melakukan penyelundupan obat-obatan terlarang keluar negri. Karena informasi itu kami harus menyusun strategi untuk menggagalkan usaha balas dendam dan penyelundupan obat-obatan terlarang yang akan mereka lakukan. Maka Lou mengajak kami untuk mengadakan rapat besok pagi.

Sesaat setelah Lou menutup telponnya, aku langsung menelpon Lila memberitahu tentang informasi yang baru saja aku dapatkan. Dan sayang ternyata Lila belum bisa pulang siang ini karena dia dan Zac terjebak badai di pegunungan Aspen. Belum pasti juga kapan mereka akan kembali lagi ke New York.

*****
Keesokan harinya jam delapan pagi kami sudah berkumpul dikantor, semua anggota tim telah berkumpul kecuali Lila dan Zac yang belum jug hadir. Aku rasa mereka tidak akan hadir hari ini. sebelum rapat dimulai Lou menanyakan Zac dan Lila kepada aku dan Dhee.
“Sya, Dhee. Lila belum datang yaa??”
Aku langsung melirik Dhee yang duduk disampingku.
“Lila, sepertinya masih terjebak badai. Dia sedang berlibur dari beberapa hari yang lalu” jawabku
“rencananya dia akan pulang kemarin siang, tapi kemarin saat Asya menelpon dia bilang sedang ada badai. Jadi dia belum tahu kapan pulangnya Lou. “
“ooh aku harap Lila bisa secepatnya kembali karena kita sangat membutuhkannya. Oh ya sepertinya Zac juga belum terlihat yaa. Brad kau tau dimana Zac, sudah beberapa hari aku menelponnya tidak bisa. Apa mungkin dia kembali ke London yaa??” tanya Lou sambil memandang Brad.
“maaf, aku juga tidak tahu Lou..” jawab Brad sekenanya
“ya sudah kalu begitu kiat mulai saja rapat kita hari ini.” Lou membuka rapat kami pagi ini.

Pembahasan kami hari ini adalah tentang kelompok Stephanie yang akan melakukan penyelundupan obat-obat terlarang keluar negri. Menurut info yang kami dapatkan mereka menyewa sebuah rumah dipinggiran kota New York tempat tersebut juga biasanya dijadikan mereka untuk berkumpul. Dan hal yang menarik lagi mereka ternyata sedang mencari-cari tim kami, karena kami beperan dalam penangkapan Stephanie.

Saat kami sedang menyusun rencana untuk penyergapan terdengar dari luar pintu ruangan rapat kami diketuk.. tak lama kemudian Zac dan Lila masuk.
“maaf kami terlambat Lou..” Zac langsung duduk didekat disebelah Steve dan Lila langsung duduk didekatku.
Lou melirik jam tangannya “ ya 10 menit untuk kalian berdua.. jelaskan setelah rapat ini. kita lanjutkan rencana dan strategi kita” katanya sambil kembali ketopik permasalahan kami.
“baik Lou..” Zac dan Lila menjawab berbarengan.

Rapat dilanjutkan, beberapa anggota tim kami sudah menemukan nama-nama anggota kelompok Stephanie. Saat aku melihat daftar namanya disana tertulis nama Tom, foto identitas yang sepertinya aku mengenalinya. Otakku berfikir keras mengingat siapakah orang yang mirip dengan orang yang bernama Rob ini. saat aku berusaha mengingatnya Dhee membuyarkan konsentrasiku.
“Sya, kau kenapa?? Sepertinya kau sedang bingung”
“tidak Dhee, aku hanya sedang mengingat seseorang yang mirip dengan Rob itu. Rasanya aku pernah melihatnya tapi dimana ya??” jawabku sambil mengacak-acak rambut panjangku.
“mungkin hanya perasaanmu saja Sya, jangan berprasangka buruk kepada seseorang sebelum kau memiliki bukti yang kuat”
“Iya laa, aku hanya menebak saja. Aku rasa jika aku tau siapa yang mirip dengan Rob itu maka aku akan menyelidikinya untuk membuktikannya” jawabku

Sekitar hampir 2 jam kami rapat, akhirnya kami selesai juga. Kesimpulannya adalah mereka akan mengirimkan obat-obatan terlarang itu setiap akhir minggu, karena mereka akan mengangkut obat-obatan itu ke bandara berbarengan dengan mobil-mobil pembawa bahan makanan untuk kenegara-negara miskin yang ada di Afrika. Dan sebuah rumah dicurigai sebagai tempat mereka menyimpan obat-obatan terlarang itu sedang dilacak oleh Zac dan Steve.


****

Selesai rapat kami semua kembali kepada pekerjaan kami masing-masing, aku kembali keruanganku untuk memeriksa beberapa senjata yang akan kami pakai untuk penyergapan nanti. Belum lama aku diruanganku Dhee masuk sambil membawa laptopnya.
“senjatamu sudah lengkap semua??”
“Iya Dhee, semuanya sudah lengkap.. kau sedang apa??” tanyaku
“Sya, aku menemukan beberapa foto baru anggota kelompok Stephanie.” Dhee meletakkan laptopnya diatas mejaku.

Akupun melihat foto-foto baru yang baru saja ditemukan Dhee. Saat aku melihatnya lagi aku baru ingat, salah satu dari orang itu mirip dengan Robert. Lelaki yang baru saja kutemui berapa hari yang lalu. Walaupun difoto ini lelaki yang bernama Tom itu berambut panjang dan wajah brewokan namun mata dan hidungnya sangat mirip. Aku jadi berfikir apa mungkin Robert yang aku kenal itu Tom “
“Dhee, aku baru ingat lelaki yang mirip dengan Tom itu siapa??”
“Siapa Sya??”
“Namanya Robert, aku baru mengenalnya beberapa hari yang lalu. Aku memang belum yakin kalau dia itu Tom, tapi dia sedikit mirip Dhee.”
“kamu masih sering berhubungan dengannya??” tanya Dhee.
“Dia memang sering menelponku.”
“ itu bagus Sya. Kenapa tidak kau selidiki saja dia, kau temui dia dan ambil beberapa gambarnya setelah itu kita cocokkan??”
“ bagaimana caranya Dhee?? Kemarin memang dia sering mengajakku untuk berkencan tapi aku selalu menolaknya..” jawabku.
“kenapa kau tolak??”
“mana mungkin aku kencan dengannya, bagaimana perasaan Mark kalau dia tau?? Kau gila Dhee??” aku sedikit melototinya.

Beberapa saat Dhee terdiam. Dan kemudian tersenyum.
“Baiklah bagaimana jika kau susun sebuah rencana untuk pergi dengannya. Itu bisa memastikan apakah Robert yang kau kenal itu adalah Tom??”
“bagaimana jika kudekati saja dia??” sebuah ide muncul dikepalaku.
“boleh juga, terserah kau Sya. Asalkan kau jangan sampai benar-benar jatuh cinta padanya.” Dhee menyikutku.
“heeh, tidak akan Dhee.. “ jawabku sambil melotot.

Saat aku sedang membahas Tom ataupun Robert. Tiba-tiba ponsel ku berbunyi. Langsung saja aku mengambilnya. Dan ternyata yang menelponku adalah Robert. Aku tersenyum saat melihat layar ponselku.
“hmm, kalau sudah Mark yang menelpon kau langsung saja senyum-senyum sendiri..”
“Dhee, kali ini bukan. Kau lihat siapa yang menelponku.” Aku menunjukkan ponselku kepada Dhee.
“Robert?? Kebetulan Sya. Kau angkat saja”
Aku langsung mengangguk dan memberikan isyarat diam kepada Dhee. Lalu mengangkat telpon dari Robert.

“Hallo.. Iya kebetulan aku sedang tidak kuliah hari ini. Kau mau mengajakku makan siang?? Baiklah. Iya aku serius. Dimana?? Iya aku tahu, cafe nya didekat kampusku. Baiklah jam makan siang aku akan segera kesana. Bye Robert..” aku menutup telponnya.

“Bagaimana Sya??”
“iya, kebetulan dia mengajakku makan siang hari ini..” jawabku
“itu bagus Sya, kau bisa menjalankan rencanamu tadi. Jika memang dia benar Tom, kau bisa memata-matainya. “
“kenapa jadi aku yang memata-matainya Dhee??”
“Asya, jika memang dia Tom. Hanya kau yang bisa mendekatinya. Kau bisa menyelidiki setiap setiap kegiatannya. Bila perlu kau pacari saja dia. Lagipula kalau dilihat dari foto ini, dia tampan juga ” Jawab Dhee sambil tersenyum jahil.
“sepertinya kalau aku mendengarkan semua saranmu, lama-lama hubunganku dengan Mark akan kacau”
“ini demi tugas kita Sya. Tidak salahnya kau berkorban..” jawab Dhee.
“Terserah apa yang ingin kau katakan Dhee”  jawabku sambil menekuk wajahku.
“oh iya, sebaiknya kau segera bersiap-siap, kau punya janji dengan Tom, ehh Robert yaa??” dia meledekku lagi

Aku melirik jam tanganku, benar ternyata hari sudah hampir jam setengah 12, aku harus segera kekampus. Karena dia akan menjemputku dikampus. Lalu aku membereskan semua senjata yang ada dimejaku dan memasukkannya lagi kedalam laci mejaku.
“ ya sudah aku pergi sekarang yaa.”
“ semoga berhasil Sya, dan ingat kamera pengintainya jangan sampai ketahuan..” Dhee mengingatkanku. 

2 komentar:

  1. ko Rob jd penjahatnya ya
    kirain jd selingkuhan Asya gitu
    :pv

    mo deketin Rob buat mata2in?
    hmm…jgn smp jatuh cinta ya Sya :3

    lila zac kecapean itu smp telat datang :3

    lanjutkan next chapter

    BalasHapus
  2. Whoaaaa penjahatnya kece badai tuhh...
    jangan2 ntar asya jatuh cinta lagi sama rob
    apalagi robnya udh ngejar2 asya tuh...
    hasseeekk xDv

    Lila sama Zac datangnya telat abis pada ngapain ya itu mereka nyampe telat gtu datngnya???
    Hohohoho

    Dhee di culik :O
    cepet tolongin..
    eh eric dateng tuh dan langsung nolongin
    aseekkkk xD


    ayo ayo next chapter sist :*

    BalasHapus