"Umm…tidak, aku tidak apa-apa Gale. Aku hanya sedang berfikir kalau aku pasti akan sangat merindukanmu karena besok kau pergi ke California"
"Aku juga pasti merindukanmu, sayang. Tapi aku tidak lama hanya 3 hari disana"
"Kita baru saja bertemu dan besok kau sudah harus pergi lagi"
"Maafkan aku, sayang tapi aku harus pergi. Atau…apa kau bisa libur dari kuliahmu? Aku ingin kau ikut denganku Lana"
"Tidak sayang, aku tidak bisa. Banyak tugas kuliah yang harus aku selesaikan" kataku sambil membelai wajah tampannya.
Setelah menyelesaikan makan kami pun kembali ke pantai lagi. Kami duduk-duduk dipinggir pantai sambil bersenda gurau dan terkadang aku menyandarkan kepalaku dibahunya, bermanja-manja dengannya.
Aku sangat mencintainya walau terkadang ia suka berbuat konyol dan suka memaksakan keinginannya, tapi aku tahu ia sangat mencintaiku. Ingin rasanya aku memberitahunya tentang identitasku yang sebenarnya tapi itu tidak mungkin. Terkadang aku merasa tersiksa karena tidak bisa berterus terang padanya. Maafkan aku, Gale. Tak sadar aku menghela nafasku.
"Sayang, kau kenapa? apa yang sedang kau fikirkan? dari tadi saat di cafe kau kelihatan gelisah" suara Gale membuyarkan lamunanku. Aku mengangkat wajahku dan terlihat kecemasan di wajahnya.
"Aku tidak apa-apa, sayang". Aku tersenyum untuk menenangkannya.
"Sungguh? jangan sembunyikan apapun dariku Lana, please?"
Aku menganggukkan kepalaku lalu ia menciumku dengan lembut.
"Aku sangat sangat mencintaimu, Lana" bisiknya.
"Aku juga sangat mencintaimu, Gale"
Lalu ia merengkuhku kedalam pelukannya. Tak terasa hari beranjak sore dan semburat warna jingga di langit mulai terlihat, sangat indah dan pemandangan itu selalu membuatku terkagum-kagum karena itulah aku sangat suka melihat sunset.
Ketika sedang menikmati sunset, tiba-tiba ponselku bergetar ternyata pesan dari Asya. Mereka telah mendapatkan informasi tentang wanita itu dan akan memperlihatkannya padaku setelah aku kembali ke apartemen.
Dengan alasan lelah dan kepalaku sakit akhirnya aku bisa membuat Gale mengantarku ke apartemen. Setelah sampai ia pun langsung pulang karena aku beralasan ingin segera beristirahat.
Sampai di dalam apartemen aku segera mencari kedua sahabatku itu.
"Lila.…Asya. Informasi apa yang kalian dapatkan?"
"Ayo, aku tunjukkan Dhee". Aku dan Asya berjalan mengikuti Lila menuju ruang kerja kami. "Semua informasi ada di komputer ini Dhee".
Akupun duduk di depan komputer dan langsung membaca semua informasi yang ada di sana.
"Namanya Stephanie Larkin. Ia penggemar berat kekasihmu Dhee. Bisa dibilang ia sangat terobsesi pada Gale"
"Iya Sya, aku bisa melihatnya. Disini tertulis kalau ia pernah bermasalah dengan Gale 3 tahun yang lalu. Ia menguntit Gale hingga Gale melaporkannya ke pihak kepolisian. Polisi memberikan peringatan untuk tidak mendekati Gale dan tampaknya itu berhasil".
"Klik bagian foto itu Dhee. Kau akan terkejut melihatnya. Foto-foto itu diambil 3 tahun yang lalu".
Aku menuruti kata-kata Lila. Ya Tuhan, wanita ini benar-benar sangat terobsesi pada Gale. Ia menempelkan foto-foto Gale diseluruh dinding rumahnya. Bahkan foto diri Gale dengan ukuran besarpun menghiasi sudut kamarnya.
"Besok aku akan memasang lagi beberapa kamera di apartemennya. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya La, Sya"
Keesokan harinya setelah Gale pergi, aku segera masuk ke apartemennya dan memasang kembali beberapa kamera disetiap sudut ruangan. Setelah selesai aku kembali ke apartemen dan siap didepan komputer pengawas.
Dua puluh menit kemudian aku melihat seseorang masuk ke dalam apartemen Gale. Aku segera memperbesar gambarnya agar bisa melihat dengan jelas siapa orang itu. Ya Tuhan, dugaanku benar ia adalah Stephanie.
Aku terus memperhatikan gerak-geriknya. Ia menyusuri setiap sudut ruangan sampai akhirnya ia membuka pintu kamar Gale dan masuk. Apa yang akan dilakukannya di kamar itu?
Stephanie membuka lemari pakaian lalu mengambil sebuah kaos dan memakainya. Ia pun beranjak ke laci meja samping tempat tidur dan membukanya. Entah apa yang dicarinya. Lalu ia menarik secarik kertas dari dalam laci dan membacanya. Setelah menyimpannya lagi di dalam laci, ia membuka kaos yang dipakainya lalu melipatnya dengan rapi dan menyimpannya di tempat semula. Ia keluar dari kamar lalu meninggalkan apartemen.
Aku segera mengeluarkan kaset rekaman CCTV dan menyimpannya dengan rapi. Kaset ini cukup untuk menyeretnya ke penjara. Tapi aku penasaran dengan kertas yang dibacanya tadi.
"La…Sya, aku pergi dulu ke apartemen Gale"
"Loh Dhee, kau kan baru dari sana tadi. Ada apa?"
"Nanti saja aku ceritakan La"
Aku segera turun dan menuju mobilku. Aku memacu mobilku dengan kecepatan tinggi, aku tidak mau membuang waktu, aku harus segera mengetahui apa isi kertas itu.
Sesampainya di apartemen Gale, aku segera masuk dan mencari kertas itu. Aku langsung membacanya dan ternyata ini adalah jadwal syuting dan kegiatan serta tercantum nama hotel tempat Gale menginap selama di California.
Sepertinya Stephanie akan menyusul ke California. Aku tidak akan tinggal diam. Aku harus berangkat ke sana sore ini juga. Lou, ya aku harus meminta bantuannya. Dengan kecepatan tinggi, aku kembali memacu mobilku dan kembali ke apartemen.
Sampai di apartemen, aku segera menceritakan semua yang terjadi pada Lila dan Asya.
"Sebaiknya kau hubungi Lou, Dhee"
"Memang itu yang akan aku lakukan Sya"
Lalu aku segera menghubungi Lou dan memintanya menyediakan pesawat dan segala keperluanku selama di California. Lou menyetujuinya bahkan dia mengirim Steve untuk ikut bersamaku.
Ketika akan mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa, Gale menelponku.
"Hai sayang, kau sudah sampai?"
"Iya, aku sudah sampai siang tadi. Sekarang aku ada di lokasi syuting. Apa yang sedang kau lakukan?"
"Biasalah, mengerjakan tugas-tugas kampus"
"Aku sangat merindukanmu. Kalau saja kau bisa ikut, aku pasti akan lebih semangat"
"Jangan begitu Gale, kau harus tetap semangat dan fokus pada pekerjaanmu"
"Baik tuan Puteri, aku akan ingat itu. Sayang, aku harus kembali syuting. I love you"
"I love you too"
Setelah telepon ditutup, aku kembali melanjutkan mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa termasuk senjata andalanku.
"Dhee, kau harus berhati-hati ya. Jangan sampai ia melihatmu"
"Aku khawatir Stephanie akan menyakitimu, Dhee. Karena dia tahu kau kekasih Gale"
"Aku akan menyamar, jadi wanita itu bahkan Gale tidak akan tahu kalau aku ada di sana. Kalian tidak usah khawatir, ada Steve juga yang akan membantuku"
Setelah tiga puluh menit, akhirnya mobil yang menjemputku ke bandara pun tiba.
"Aku berangkat Sya, La"
"Iya Dhee. Hati-hati ya"
"Tetap hubungi kami ya Dhee. Kami akan membantumu dari sini"
"Baiklah. Terima kasih La, Sya"
Setelah memeluk kedua sahabatku, akupun segera masuk ke dalam mobil dan Steve sudah ada di sana menungguku. Kamipun berangkat ke bandara dan sesampainya disana kami langsung naik ke pesawat yang telah disediakan.
Kami tiba di California dan langsung menuju hotel yang sama dengan Gale menginap. Setelah memakai penyamaran kami, aku dan Steve langsung menuju lokasi syuting yang terletak di sebuah taman kota.
Kami mengamati keadaan disana, mencoba mencari sosok Stephanie diantara orang-orang yang ada disekitar lokasi. Entah kenapa naluriku sebagai agen mengatakan bahwa kekasihku itu sedang dalam bahaya. Ya Tuhan, semoga saja perasaanku ini salah.
Sampai syuting selesai, kami tidak menemukan sosok Stephanie. Akhirnya aku dan Steve memutuskan untuk meletakkan kamera tersembunyi di kamar Gale.
Setelah berkoordinasi dengan pihak hotel dan keamanan, aku dan Steve mulai memasang beberapa kamera disetiap sudut ruangan yang luas itu. Lalu aku dan Steve memasang komputer pengawas di ruangan kami.
Satu jam kemudian, Gale masuk ke dalam kamar hotelnya, lalu menuju ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian ia kembali dan duduk di atas tempat tidurnya.
"Kekasihmu itu memang tampan Dhee. Pantas saja Stephanie sangat terobsesi padanya. Kalau aku perempuan, aku juga pasti akan tertarik padanya" Steve tertawa menggodaku.
"Untunglah kau bukan perempuan Steve, karena kau akan berhadapan denganku…hahaha"
Sambil terus mengawasi komputer kami bercanda untuk mengurangi ketegangan. Tiba-tiba Gale terlihat mengambil ponselnya.
"Hmmm…siapa yang akan ia telepon? apa seorang wanita untuk menemaninya?" Steve kembali menggoda sambil melirikku.
"Diam Steve. Ia bukan pria seperti itu. Kau menyakiti hatiku Steve". Aku melempar pulpen yang aku pegang ke arahnya.
"Ampun Dhee. Aku hanya bercanda. Aku tahu ia bukan type pria seperti itu. Selama ini reputasinya sangat baik"
Tiba-tiba ponselku berdering ternyata Gale yang menelponku. Aku segera menjawabnya dan mataku masih tetap mengawasinya. Setelah cukup lama berbicara akhirnya ia menutup teleponnya.
Malam semakin larut, tidak ada kejadian seperti yang aku takutkan. Gale pun sudah tidur, tapi kami tidak boleh lengah. Entah sudah berapa gelas kopi yang kami minum untuk tetap terjaga.
"Sebaiknya kau istirahat Dhee. Tidurlah. Biar aku yang mengawasi"
"Baiklah, Steve. Kita akan bergantian tidur. Bangunkan aku bila giliranmu tidur tiba"
"Oke Dhee. Tenang saja"
Aku pun membaringkan diri di tempat tidur dan langsung terlelap. Ketika terbangun aku melihat Steve masih terjaga di depan komputer pengawas. Aku melihat jam di meja samping tempat tidur, sudah pukul 4. Seharusnya sudah gilirannya untuk tidur tapi Steve tidak membangunkanku.
"Steve, kenapa kau tidak membangunkanku? Sekarang tidurlah biar aku lanjutkan"
"Aku tidak mengantuk Dhee. Kau tidur saja lagi"
"Ayolah Steve, jangan berdebat denganku"
Setelah Steve beranjak ke tempat tidur, aku melanjutkan pengawasanku sambil meminum kopi panas yang kubuat. Pukul 7 Steve terbangun, kami pun bersiap-siap untuk mengikuti Gale ke lokasi syuting.
Di lokasi keadaan sangat kacau. Banyak sekali orang yang ada di sana bukan hanya artis dan kru film tapi juga penduduk sekitar yang ingin melihat jalannya syuting.
Aku melihat Gale sedang berbincang-bincang dengan beberapa artis dan kru. Tidak ada yang mencurigakan.
Aku, Steve dan beberapa orang pihak kepolisian California yang menyamar dan tersebar dibeberapa titik masih terus mengawasi keadaan sekitar. Brad bergabung dengan kami pagi ini. Lou mengirimnya kesini untuk membantu kami.
Kami tidak boleh lengah, Stephanie bisa muncul sewaktu-waktu. Tadi sebelum kami berangkat, Lila menghubungiku dan memberitahu kalau Stephanie tidak ada di rumahnya. Dan mereka menemukan bukti kalau ia akan menyakiti Gale.
Dan yang lebih mengejutkan ternyata sudah 1 tahun terakhir ini Stephanie terlibat dalam sindikat obat-obatan international. Keadaan ini lebih buruk dari kejadian 3 tahun yang lalu.
Rasanya tubuhku tidak bertulang ketika mendengarnya. Aku tidak bisa membayangkan kalau hal buruk terjadi pada Gale. Mataku masih tetap mengawasinya kemana pun ia bergerak. Tidak mengalihkan pandanganku sedikitpun dari sosoknya.
Tiba-tiba mataku menangkap sosok Stephanie yang muncul ditengah-tengah kerumunan orang. Aku segera memberitahu Steve dan Brad. Mereka pun segera memberi aba-aba kepada petugas bersiap-siap untuk segala kemungkinan buruk yang terjadi.
Brad dan beberapa petugas mulai mendekat ke tempat Gale berada. Beberapa petugas lainnya mendekat kearah Stephanie tapi sebelum mereka tiba, Stephanie sudah menghambur kearah Gale sambil berteriak dan memegang sebilah pisau. Keadaan disana menjadi kacau. Brad langsung menarik tubuh Gale.
Aku tersentak kaget dan bersiap untuk berlari ke arah Gale tapi Steve menahan tanganku.
"Tetap disini Dhee"
"Tapi Steve…"
"Penyamaranmu akan terbongkar kalau kau ke sana"
"Persetan dengan penyamaranku, Steve"
"Tidak, kau tetap disini !!"
"Steve…"
"Jangan berdebat denganku Dhee ini bukan saat yang tepat. Brad dan petugas-petugas itu sudah mengatasinya"
Aku melihat Stephanie sudah diringkus dan dibawa polisi. Gale terlihat sangat shock dan pucat. Ia ditemani oleh petugas kepolisian dan kru filmnya. Rasanya aku ingin sekali memeluknya tapi aku tidak bisa, aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Setelah berbicara dengan pihak kepolisian, Brad pun berjalan mendekati kami.
"Brad, bagaimana keadaan disana sekarang? Gale baik-baik saja kan?"
"Semua sudah beres, Dhee. Gale sudah aman sekarang dan ia baik-baik saja hanya shock. Aku mengerti perasaanmu, tapi kau tidak perlu khawatir Dhee"
"Terima kasih Brad. Kau telah menyelamatkan nyawanya"
"Sudahlah Dhee. Itu sudah tugasku"
"Dan kau Steve, terima kasih sudah membantuku. Walau terkadang menyebalkan tapi kau partner yang baik"
"Hmmm…jadi aku menyebalkan ya? seharusnya aku biarkan saja tadi penyamaranmu terbongkar"
Kamipun tertawa bersama dan meninggalkan tempat itu untuk kembali ke hotel dan selanjutnya kembali ke New York. Gale sudah aman sekarang, aku akan menemuinya nanti setelah ia kembali.
***
Whoaa ternyata stephanie anggota sindikat obat2an terlarang :O
BalasHapuswah kacau nih mesti laporan sama Lou
dhee mulai beraksi dan melakukan penymaran, fiuh untung aja steve bisa nahan dhee klo nggak bakalan kebongkar tuh penyamaran dhee..
yeayyy akhirnya stephanie berhasil di ciduk dan gale bisa selamat...
next chapter dong sist :*