Selasa, 22 Januari 2013

CHAPTER 17

Aku kembali ke tempatku sambil berseri-seri. Apalagi kalau bukan pria bermata abu-abu itu yang membuat wajahku jadi berseri-seri seperti ini.

Aku bersenandung sambil memasuki paddock. Suara dari Dhee menyadarkanku.

“Lana, Dilla... Senang sekali melihat kalian berada di sini. Bukankah kalian akan datang kemari hari Sabtu?“

“Memangnya tidak boleh kami datang kemari hari Jum‘at.“

“Tidak, bukan seperti itu maksudku Dilla. Hai Gale, hai Mark aku sampai lupa jika kalian ada disini juga.“

“Tidak apa-apa, Ra. Aku mengerti kok.“ Gale menjawab pertanyaanku sambil tertawa.

“Senang sekali kalian bisa menyempatkan waktu untuk datang kemari.“

“Kau sudah lama menggeluti bidang ini, Ra?“

“Kau tanya Dilla saja Mark. Hahaha, aku tinggal sebentar tidak apa-apa, kan.“

Aku masuk ke pit lane untuk melihat sebentar mobil yang akan aku pakai nanti. Lalu aku kembali lagi ke depan untuk menemui para sahabatku.

Ketika aku kembali mereka yang tadinya sedang mengobrol sambil bersenda gurau tiba-tiba terdiam. Tentu saja aku pun jadi ikut terdiam dan bertanya-tanya.

“Ada apa? Mengapa kalian jadi terdiam?“ tanyaku

“Kau baik-baik saja kan, Ra?“

“Aku baik-baik saja Dilla. Memangnya kenapa?“

“Sejak tadi kau terlihat sangat ceria sekali, Ra. Wajahmu terlihat berseri dan matamu berbinar-binar, sepertinya ada hal yang membuatmu senang.“

“Aku hanya merasa senang saja, karena aku bisa kembali balapan Lana.“

Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Dhee dan Asya. Aku belum mau menceritakan alasan yang membuatku berseri-seri hari ini.

Alasan utamanya karena aku tidak tahu nama pria itu. Ya Tuhan, dia benar-benar sangat tampan. Tatapan dan senyumnya berhasil membuat jantungku berdetak tidak karuan seperti ini.

Aku baru pertama kali merasakan perasan seperti ini. Ketika masih bersama Brad pun aku tidak pernah merasakan perasaan yang seperti ini. I think I‘m fallin‘ in love at the first sight with a stranger.

Hari Minggu pun tiba, sejak pagi aku bersama timku sudah sangat sibuk sekali. Memeriksa mesin mobil dan pakaian beserta alat pengaman yang harus aku pakai nanti.

Dan sejak hari itu aku belum bertemu lagi dengan pria yang sudah berhasil membuat jantungku berdetak kencang tak beraturan seperti ini.

Aku sudah berada di balik kemudi. Para pembalap sudah bersiap di garis start di posisi mereka masing-masing. Bersiap menunggu balapan mulai.

Aku langsung memacu mobilku ketika lampu berwarna hijau menyala. Aku bersorak dalam hati, karena bisa mengendarai mobil balap ini lagi kembali.

Aku langsung menyalin mobil-mobil yang berada di depanku. Dan aku semakin senang ketika aku berhasil memimpin di depan.

Ya, aku berhasil memimpin balapan. Ketika dua lap terakhir tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam dengan polet berwarna putih menyalip mobilku.

Yang membuatku kesal adalah dia menyenggol mobilku dengan sangat keras sekali. Untung saja aku tetap berada di posisi kedua dan tidak keluar dari lintasan.

Aku berusaha keras untuk mengejar mobil itu. Meskipun pada akhirnya aku harus puas berasa di posisi kedua.

Aku keluar dari dalam mobilku dengan kesal. Karena pada akhirnya ada juga orang yang bisa mengimbangi kemampuanku.

“Ara, selamat kau berhasil finish di podium kedua.“ Dhee dan Asya memelukku.

“Hei, mengapa kau terlihat tidak senang, Ra?“ Dilla mencecarku dengan pertanyaan.

“Jika orang itu tidak menyenggol mobilku dengan begitu keras. Aku bisa finish di podium pertama.“

“Bukankah podium kedua sudah bagus, Ra.“

“Aku belum pernah mendapatkan podium kedua, Gale.“ mendengar ucapanku Gale langsung terlihat bingung.

“Sayang, Ara belum pernah mendapkan podium kedua sekalipun. Biasanya Ara selalu finish di tempat pertama.“

“Mungkin pada akhirnya kau menemukan lawan yang sepadan, Ra.“

“Ah, kau tidak akan mengerti Mark. Aku pergi dulu, ya. Charlie memanggilku untuk naik ke podium, aku ingin melihat wajah orang yang berhasil mengalahkan aku.“

“Tersenyumlah, Ra.“

Aku hanya tersenyum ketir menanggapi ucapan Dhee. Aku berjalan menuju ke podium bersama Charlie.

Disana sudah ada dua orang pembalap yang finish di posisi pertama dan ketiga. Ketika semakin mendekati podium aku semakin jelas melihat wajah pembalap yang berhasil mengalahkanku.

Mataku langsung membulat sempurna ketika mengetahui bahwa pembalap yang mengalahkanku itu adalah pria tampan bermata abu-abu yang bertabrakan denganku beberapa hari yang lalu.

Pria yang beberapa terakhir ini selalu hadir di dalam mimpiku. Ternyata adalah orang yang menyenggol mobilku dengan begitu keras tadi. Ya Tuhan...

Melihat kedatanganku pria itu langsung menghampiriku. Ia mengulurkan tangannya tapi aku menepisnya.

“Hai Ara, senang bisa bertemu denganmu lagi. Aku terkejut mengetahui bahwa kau ternyata seorang pembalap juga sepertku.“ ia mengulurkan tangannya, “Selamat karena kau berhasil mendapatkan podium kedua. Ah iya, namaku David tapi kau bisa memanggilku Dave.“

Aku hanya menatapnya tajam lalu pergi meninggalkannya.

“Ara, tunggu dulu kau mau kemana? Aku ingin berbincang-bincang denganmu.“

Aku kesal sekali pada Dave, meskipun jujur aku jatuh cinta padanya. Tapi, aku tidak bisa menerima cara dia ketika berada di lintasan tadi.

Setelah penyerahan tropi aku bergegas pergi menujuku ke paddock-ku. Namun Dave mengejarku, dan ia berhasil menjegal langkahku.

“Ara, aku mohon jangan menghindar lagi dariku.“

“Jangan ganggu aku, Dave. Aku sangat lelah sekali.“

“Tidak, kau harus memberitahuku alasan yang membuatmu marah dan menghindariku.“

“Aku tidak suka dengan caramu ketika menyalipku di lintasan. Kau menyenggol mobilku dengan sangat keras. Kau tahu jika aku kehilangan kendali akan terjadi tabrakan beruntun dilintasan. Bukan hanya aku yang menjadi korban.“

“Maafkan aku Ara. Aku berjanji akan memperbaiki lagi tehnikku ketika berada di lintasan.“

“Sudahlah Dave, semua itu sudah terlambat.“

“Tapi kau masih terlihat kesal padaku. Katakanlah apa yang harus aku lakukan agar kau tidak marah dan kesal lagi padaku.“

Aku memutar mataku, berpikir, “Aku ingin berduel denganmu di lintasan.“

“Apa? Kau ingin berduel di lintasan?“ aku mengangguk, “Hanya kau dan aku?“

“Ya, hanya kau dan aku. Tidak ada pembalap lain yang ikut.“

Dave terlihat berpikir mendengar ucapanku, “Baiklah, kalau begitu aku akan menerima tantangan darimu. Dengan syarat jika aku menang kau harus pergi berkencan denganku selama satu minggu,tapi jika aku kalah kau boleh melakukan apapun padaku. Bagaimana, deal?“ ia mengulurkan tangannya.

Dengan mantap aku langsung menjabat uluran tangannya, “Deal.

Ia tersenyum mendengar ucapanku. Dan ya Tuhan senyumannya itu membuat jantungku melompat-lompat kegirangan.

“Tapi sebelum kita melaksanakan duel itu. Maukah kau pergi menemaniku makan malam nanti malam? Kumohon.“

“Ummm... B-baiklah, aku mau menemanimu.“

“Bagus, kalau begitu berikan padaku nomor ponsel dan nama hotel tempatmu menginap. Aku akan menjemputmu di sana pukul tujuh.“

Aku memberitahukan nama hotel tempatku menginap dan nomor ponselku. Setelah itu barulah ia memperbolehkanku untuk pergi.

Ya Tuhan, aku Dave mengajakku makan malam. Aku sangat gugup sekali, aku takut Dave bisa mendengar detak jantungku yang berdetak dengan begitu kencang ini. Dan aku semakin tidak bisa menahan pipiku yang selalu merona merah dari para sahabatku.

Perkenalan kami berdua terus berlanjut meskipun aku sudah kembali pada rutinitasku di New York. Meskipun hubungan aku dan Dave semakin membaik duel itu akan tetap di laksanakan bulan depan.

Hari itu aku sedang bermalas-malasan di ruanganku. Karena sedang tidak ada kasus besar yang harus kami tanganin. Karena mengantuk aku memutuskan untuk membuat kopi di pantry.

Dalam perjalanan menuju ke sana aku kembali bertabrakan dengan seseorang karena mengantuk.

“Maaf maaf aku tidak memperhatikan jalan.“

“Ara, apa yang sedang kau lakukan di sini?“

Aku mendongkakkan kepalaku, “Dave... Kau... apa yang kau lakukan disini?“

Tiba-tiba Lou keluar dari ruangannya dan menghampiri kami.

“Hai Zac, akhirnya kau tiba juga disini.“

“Zac?“ aku mengerutkan keningku.

“Ah, rupanya kau Lila. Ayo kau juga ikut keruanganku bersama Zac.“

Dengan kebingungan aku dan Zac mengikuti Lou ke ruangannya.

“Bisakah jelaskan padaku semua ini. Jangan bilang bahwa Dave itu adalah nama samaranmu dan jangan bilang juga bahwa kau ini seorang secret agent.

“Kau benar Lila. Tapi sepertinya kalian berdua sudah saling kenal.“

“Kami bertemu di sirkuit Lou. Aku tak menyangka bahwa gadis cantik ini seorang pembalap. Dan sekarang aku bertemu dengannya lagi disini dengan nama Lila.“

“Karena aku sama seperti denganmu Dave ummm maksudku Zac.“

“Kau sama seperti denganku?“

“Iya Zac, Lila ini merupakan salah satu secret agent terbaik yang di miliki oleh departemen kami.“

“Apa?“ Zac mebelalakan matanya mendengar penjelasan Lou.

“Dan aku akan menjadikan kalian berdua sebagai partner.“

“Lou aku ini kan berpartner dengan Dhee dan Asya.“

“Aku tahu Lila, dan aku juga menginginkan kau dan Zac menjadi partner. Apalagi kalian berdua saling mengenal satu sama lain. Dan Zac mulai hari ini kau akan berada satu ruangan dengan Lila.“

“Satu ruangan denganku juga, Lou?“

“Ya, dan sebaiknya kau mengajak Zac ke ruanganmu.“

Lalu aku dan Zac keluar dari ruangan  Lou. Hari ini Dhee dan Asya sedang melakukan misi yang di berikan oleh Lou tanpa menyertakan aku.

“Selamat datang di ruanganku Zac. Ah, ruangan kita maksudku.“

“Kau tahu aku sangat terkejut sekali mengetahui bahwa gadis sencantik dirimu ternyata seorang agen rahasia.“

“Dan aku selalu membawa senjata kemanapun aku pergi Zac. Jadi berhati-hatilah padaku.“ aku menjawabnya sambil tertawa.

Aku dan Zac semakin dekat. Kami berdua semakin tidak bisa di pisahkan. Bahkan kami berdua tidak bisa menutupi hubungan kami yang saling tertarik satu sama lain.

Bahkan Brad hanya memandangi kami dengan tatapan nanar. Terlihat jelas sekali dimatanya ada perasaan tidak rela melihat kedekatan aku dan Zac.

Sampai akhirnya kami berdua memutuskan untuk berpacaran. Zac selalu menemani dan membuatku tersenyum. Dengan mantap aku mengatakan bahwa ya aku sangat mencintai Zac. Perasaan yang aku rasakan berbeda dengan perasaan yang aku rasakan pada Kyle dan Brad.

2 komentar:

  1. Zac keren bisa bikin Lila ga karuan gitu
    tambah keren lg krn tnyata dia secret agent juga :o

    walau ngeselin awalnya gara2 ditabrak mobilnya sm zac
    sampe ga jd juara 1 gara2 itu tp akhirnya hati Lila
    yg ketabrak hati Zac :D

    next chapter ttg apaan ya??


    BalasHapus
  2. Cieee, yg senggol-senggolan disirkuit...
    Bntr lagi ditempat lain itu :p

    Dave ehh Zac..
    Sukses bikin Lila senyum-senyum sendiri..

    Lou juga tau bgt kl mereka saling suka..
    Zac dijadiin partner nya Lila, satu ruangan juga itu.
    Ckckck, kalo sering2 berdua diruangan ntr kejadian tu hal2 yang diinginkan :D

    Cemburu menguras laut tuh Brad liat Lila sm Zac..

    Lanjut2..
    Dtnggu hot scene nya Lila Zac yaa :D

    BalasHapus