Akhirnya komplotannya Stephanie bisa kami tangkap semua. Meskipun Dhee harus terluka karena tertembak. Hari itu aku hanya melamun di ruanganku, Zac dan Steve sedang mendapatkan tugas dari Lou di California. Sedangkan Asya hari ini bertugas untuk menjemput Dhee yang sudah di perbolehkan pulang hari ini.
Ketika sedang berjalan menuju ke kantin tiba-tiba Lou keluar dari dalam ruangannya dan memanggilku untuk masuk. Ternyata di dalam ruangan Lou ada seorang pria.
"Lila, perkenalkan dia ini adalan agent rahasia baru di departemen kita ini."
"Hai, aku Lila kau siapa?
Pria itu berdiri dan membalikan tubuhnya kepadaku. Aku hampir menjerit ketika melihat wajahnya.
"Gale, sedang apa kau berada disini? Lou, dia agent rahasia baru di sini? Bagaimana bisa?"
"Benar Lila, akhirnya Gale lulus dan bisa masuk di sini. Meskipun aku tahu dia ini seorang aktor dan juga kekasihnya Dhee."
"Maaf Lou, nama kekasihku Lana bukan Dhee."
"Gale, setiap agent rahasis pasti menyembunyikan jati dirinya. Kau juga selama inj mengenalku dengan nama Ara bukan. Nama asliku Lila dan Lana itu adalah Dhee dan Dilla itu Asya."
Gale sepertinya sangat terkejut mendengar penjelasnku. Terlebih lagi mengetahui bahwa kekasih tercintanya itu ternyata seorang agent rshasia.
"J-jadi kalian bertiga itu adalah seorang agent rahasia."
"Benar Gale, Lila, Dhee dan Asya adalah agent rahasia terbaik yang kami miliki. Ada juga Zac, Steve, Brad dan Eric mereka juga agent rahasia terbaik yang di miliki oleh depertemen kami."
"Dhee pasti akan sangat terkejut mengetahui kekasih tercintanya menjadi seorang agent rahasia juga. Selamat datang dan selamat bergabung di tim kami Gale. Sayangnya yang ada di sini hanya aku, Lou dan Brad, jika saja teman-teman yang lain sedang tidak bertugas kita pasti akan mengadakan pesta penyambutan untukmu Gale."
"Jadi Lana ah maksudku Dhee adalah seorang agent rahasia?"
"Ya, berhenti terkejut seperti itu Gale. Nanti jika kita mendapatkan tugas kau harus terbiasa melihat Dhee menggunakan senjata api."
"Lila, jangan bilang bahwa Dhee terluka saat menjalankan tugasnya."
Aku hanya mengangguk sambil menepuk pundaknya. "Kau jangan terlalu khawatir Gale. Dhee itu sudah profesional, kau tahu kekasihku juga seorang agent rahasia."
"Bagaimana kalau kita lanjutkan sambil makan siang di kantin saja?" Lou mengusulkan.
"Usul yang bagus Lou, karena tadi aku memang akan pergi ke kantin."
Lalu kami bertiga keluar dari ruangan Lou. Ketika sedang menuju ke kantin kami berpapasan dengan Asya dan Dhee. Dan Dhee sangat terkejut sekali melihat Gale berada di kantor sekaligus markas kami ini.
"Gale, mengapa kau bisa berada disini?"
"Sayang." Gale langsung memeluk Dhee dengan penuh kerinduan, "Mengapa kau berada disini sayang? Mengap kau tidak langsunh pulang ke apartemen saja."
"Sebaiknya kita mengobrol di kantin saja. Lou akan menjelaskan semuanya padamu Dhee."
Akhirnya kami semua pergi ke kantin. Ketika makan siang Lou menjelaskan semuanya kepada Dhee dan Asya. Meskipun Dhee terlihat terkejut tapi kebahagiaan terpancar jelas dari sorot matanya.
Keesokan harinya Gale mulai mengikuti berbagai pelatihan fisik di markas. Ia mengikuti pelatihan menembak dan beladiri serta mendapatkan pelatihan khusus dari Dhee untuk bidang IT.
Siang itu aku, Asya dan Dhee sedang Asyik melihat Gale yang sedang berlatih beladiri.
"Bagaimana Dhee? Apakah Gale ada kemajuan?"
"Ya, lumayanlah La. Aku harus lebih sering melatihnya."
"Awas Dhee kau harus benar-benar serius memberikan pelatihan pada Gale. Jangan bermesraan." Asya tertawa.
"Asya.. Kau ini ya, berhentilah meledekku. Lagipula Lila dan Zac juga seperti itu, kan."
"Hei hei, mengapa kau menyeret namaku dan Zac."
"Itu kenyataan, Lila. Semua orang di kantorpun sudah mengetahui hubunganmu dengan Zac."
"Aku tahu, Sya. Eh, ngomong-ngomong Gale kuda-kudanya salahnya. Jika kakinya seperti itu ia tidak akan bisa bertahan."
***
Sudah tiga hari Zac berada di California. Aku benar-benar merasa kesepian, karena biasanya kami selalu bersama-sama. Aku merasa bosan terus-terusan berada di dalam ruanganku.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke ruangannya Asya, karena saat ini Dhee dan Gale sedang melaksanakan tugas pertama mereka sebagai partner.
"Kau kenapa? Wajahmu terlihat kusut, La?"
"Sudah tiga hari Zac pergi bersama Steve ke California. Namun Zac belum juga menghubungiku, Sya. Aku sangat mengkhawatirkannya, perasaanku berkata bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk."
"Itu hanya perasaanmu saja, Lila. Aku saja sudah beberapa minggu ini tidak bertemu dengan Mark. Karena aku tahu pekerjaan dia seperti apa."
"Tapi Mark sering menghubungimu, Sya. Bahkan hampir setiap hari Mark menghubungimu, tapi tidak dengan Zac. Ia biasanya tidak seperti ini, Sya."
Mendengar suaraku yang putus asa dan ketakutan Asya memelukku untuk menenangkan.
"Zac akan baik-baik saja, La. Berpikiran positivlah. Bagaimana jika kita minum kopi di kantin saja. Ayolah, jangan bersedih seperti ini."
Asya menarik tanganku dan kami pergi menuju ke kantin dan memesan kopi. Aku dan Asya mengambil meja yang tidak terlalu jauh dari TV Plasma yang berada disana.
Mataku menatap televisi, meskipun aku tidaj bisa berkonsentrsi pada acara yang sedang di tayangkan. Sampai tiba-tiba acara yang sedang tadi tayang terpotong oleh berita sekilas info tentang sebuah kecelakan pesawat dengan tujuan California-New York.
Entah mengapa aku langsung merasa tegang dan ketakukan ketika mendengernya. Aku langsung terfokus pada televisi ketika menayangkan nama-nama penumpang yang menjadi korban dan masih dalam proses pencarian.
Jantungku seperti langsung berhenti berdetak ketika melihat sebuah nama yang aku kenal berada di daftar penumpang yang mengalami kecelakaan itu. David Alexander itu adalah nama samaran Zac. Air mataku langsung jatuh membasahi pipi ketika membaca nama itu.
"Tidak... Ini tidak mungkin." Ucapku terbata-bata.
"Lila kau kenapa? Wajahmu sangat pucat sekali."
"Asya, aku... aku harus pergi ke bandara. Zac... Zac..."
"Ada apa dengan Zac, La?"
Namun aku langsung memeluk Asya dan menangis di dalam pelukannya.
"Aku harus pergi Sya."
Aku langsung melepaskan pelukanku dab segera pergi dari situ. Aku memacu mobilku dengan kecepatan penuh, karena aku ingin segera sampai di bandara. Aku ingin mendapatkan kepastian tentang kecelakaan pesawat itu dan mencari kabar tentang Zac.
Zac menjadi salah satu penumpang pesawat yang jatuh itu. Ya Tuhan, berita itu benar-benar membuatku syok. Seperti di sambar petir di siang hari. Pikiranku terus tertuju kepada Zac, semoga kekasihku selamat dari kecelakaan itu dan segera di temukan. Ya Tuhan, aku benar-benar tidak tahu bagaimana aku harus menjalani hidupku tanpa Zac. Pria yang sangat aku cintai, karena dialah pusat dari seluruh hidupku.
Air mataku jatuh tak tertahankan lagi. Pikiranku kacau, duniaku seperti berhenti berputar. Semuanya seperti mimpi dan aku memang berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi. Perjalanan menuju ke bandara terasa sangat panjang sekali dan membuatku semakin tertekan. Bahkan aku tidak menghiraukan ponselku yang terus berdering.
Setelah perjalanan yang hampir membuatku gila akhirnya aku sampai di bandara. Aku langsung menuju kebagian informasi tentang kecelakaan pesawat yang baru saja terjadi.
Aku tak kuasa menahan tangisku ketika mengetahui kebenaran bahwa kekasih dan sahabatku Steve ikut menjadi korban dalam kecelakaan pesawat itu. Aku terduduk lemas di salah satu kursi yang berada di pojok. Menutup wajahku dan mulai menangis tersedu.
Sampai tiba-tiba aku merasakan seseorang yang memelukku. Aku menegakan wajahku untuk melihat orang yang memelukku. Ternyata Asyalah yang sedang memeluku, aku juga melihat Lou dengan wajah yang terlihat khawatir dan tegang serta Eric dan Brad juga berada di bandara.
"Asya.. Zac..." suaraku tertahan karena air mata yang tak kuasa aku tahan lagi.
"Shhh, aku tahu Lila. Yang bisa kita lakukan saat ini hanyalan berdoa dan menunggu." Asya melepaskan pelukannya
"Tapi..."
"Yakinlah bahwa Steve dan Zac akan baik-baik saja dan segera di temukan oleh tim penyelamat."
"Kau yang sabar ya, Lila." Eric mengupas pundakku pelan.
"Terima kasih Eric."
"Aku sudah mengirimkan beberapa tim kesana untuk membantu pencarian."
"Lou, bolehkah aku ikut mencari?"
"Tidak Lila, aku tidak akan mengizinkanmu untuk ikut pencarian. Aku tidak ingin mengambil resiko."
"Aku mohon, Lou. Aku tidak akan tenang jiks terus berdiam diri seperti ini di sini."
"Maaf Lila, aku tetap tidak akan memberimu izin."
"Tapi Lou..." Lou menggelengkan kepalanya.
Air mataku kembali jatuh membasahi pipiku. Waktu terasa berjalan sangat lambat sekali. Dan belum ada perkembangan yang signifikan, informasinya masih sama. Aku belum mau beranjak dari tempat itu, karena aku tidak ingin melewatkan setiap perkembangan yang ada.
"Lila, sebaiknya kau pulang saja bersama Asya. Malam sudah semakin larut."
"Tidak Lou, aku akan tetap berada disini."
"Kita pulang saja ya, La. Kau harus beristirahat."
"Tidak Sya, aku tidak mau pulang. Kau pulang saja duluan, aku tidak apa-apa."
Waktu terus berjalan, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari dan aku masih bertahan disini di temani oleh Asya Lou. Tak lama kemudian Dhee dan Gale datang, Dhee langsung memelukku.
"Lila, maaf aku dan Gale baru bisa kemari."
"Aku turut prihatin, La. Apakah sudah ada perkembangan?"
Aku hanyq menggeleng pelan sambil berurai air mata. Semua ketidak pastian ini akan membunuhku secara perlahan.
Pagi ini semakin banyak orang yang datang untuk mencari informasi keberadaan keluarga atau kerabatnya. Lou dan Asya pamit dulu karena ada beberapa pekerjaan yang harus di kerjakannya. Sedangkan Dhee dan Gale masih bertahan disini menemaniku.
"Lila, sebaiknya kau pulang untuk mandi, beristirahat dan makan. Aku tak ingin kau menjadi sakit."
"Kami akan tetap disini dan jika ads perkembangan aku akan langsung menghubungimu, La."
"Gale akan mengantarmu pulang ke apartemen."
"Tidak perlu Dhee, terima kasih. Aku akan pulang sendiri saja, Dhee... Gale... terima kasih atas semuanya."
Dhee memelukku, "Hati-hati di jalan, La."
Aku hanya mengangguk, setelah berpamitan aku langsung pergi meninggalkan bandara. Aku tidak mengarahkan mobilku menuju ke apartemenku melainkan menuju ke apartemen milik Zac.
Sesampainya di sana aku langsung menuju ke kamar Zac. Aku langsung jatuh terduduk di lantai sambil menangis. Kamar ini terasa dingin tanpa Zac, meskipun ruangan ini berbau aroma khas tubuhnya.
Aku berjalan lunglai menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku, setelah selesai aku mengambil kaos dan boxer milik Zac dan memakainya. Lalu aku menaiki tempat tidur dan membaringkan tubuhku.
Aku memandang langit-langit kamar dengan pikiran yang menerawang jauh. Bahkan aku sampai tidak sadar jika pipiku sudah basah. Ya Tuhan, aku benar-benar tak tahu harus melakukan apa?? Aku hanya berharap agar Zac dapat segera di temukan dalam keadaan apapun. Meskipun aku benar-benar belum dan tak akan pernah siap untuk menghadapi kemungkinan yang lebih buruk lagi.
hooohhh!!! :O :O :O :O
BalasHapusKo bisa jd secret agent Galenya? :O :O
Udah bosen jd aktor?
Atau aktor merangkap secret agent?
keren…keren :3
Tinggal Mark nih. apa mau jd secret agent juga ya? hmmm…
Eric sorry ya dicuekin dulu :3
Aduh kasian Zac sm Steve kecelakaan :'(
Semoga merka selamat (H.A.R.U.S!!!)
Cupcup Lila yg tabah ya :'(
Next chapter semoga kbr bahagia
Lanjut lanjut sist
:*
Wahhh..
BalasHapusSurprise bgt. Gale jadi secret agent juga??
seneng bgt itu Dhee, udh gak bohong-bohong lagi ya ttg jati dirinya.
nambah lagi pasangan didepartemen kita.
kalo kemrn cuma Lila sm Zac, skrg ada Dhee sm Gale.
hmm.. kasian Asya nih. Udah sendiri, ditinggal lama lagi sm Mark yg lagi Tour.
nasib, nasib :'(
Zac sm Steve kecelakaan??
Blm juga ditemuin tuh. makin kacau ini.
Lila juga stress bgt tuh pas Zac ilang.
Yang sabar ya Lila..
Ehmm, author sedihnya Lila tuh berasa sama pembaca.
hiksss... pngen nangis..
lnjutannya jng sedih2 yaa.
yg seneng2 aja ;D