Kamis, 14 Maret 2013

CHAPTER 47

Aku sudah siap dengan gaun malam indah yang membalut tubuhku. Malam ini aku akan menyusup ke pesta dan mendekati Butler. Aku berdandan secantik dan sesexy mungkin agar ia tertarik padaku. Dari artikel-artikel yang kubaca, Butler adalah seorang don juan. Ia sangat menyukai wanita-wanita sexy.

Gaun malam merah yang kupakai sekarang membuatku terlihat sexy dengan belahan dada rendah dan punggung yang terbuka hingga membuat Gale tidak henti-hentinya memintaku untuk menggantinya dengan gaun yang lain. Tentu saja aku menolaknya dan kami sempat berdebat hingga akhirnya ia menyerah.

Akhirnya aku tiba di tempat pesta. Setelah memperlihatkan undangan yang kubawa kepada penjaga, aku pun masuk ke dalam ruangan pesta. Tidak lama kemudian Gale menyusul masuk.

Entah pesta apa yang diadakan tapi sepertinya bukan hanya relasi bisnis Butler saja yang hadir tapi beberapa orang penting di negara ini juga hadir.

Sambil memegang gelas wine, aku mengedarkan pandanganku keseluruh ruangan dan mataku berhenti pada mata abu-abu yang akan selalu aku ingat sampai kapanpun. Aku mendapati Butler sedang menatapku. Tatapannya membuatku risih, matanya seakan ingin melahapku. Aku berpura-pura mengacuhkannya dan sepertinya umpanku berhasil, karena tidak memakan waktu lama akhirnya ia mendekatiku.

"Selamat malam, nona." Butler menyapaku dan aku pun berpura-pura kaget dengan kehadirannya.

Jantungku berdegup kencang, rasanya aku ingin sekali langsung menembakkan pistol ke kepalanya. Suara Gale melalui alat pendengar yang terpasang di anting yang kupakai membuatku lebih tenang dan aku pun membalas sapaannya.

"Selamat malam, Mr. Butler." Aku mengulurkan tanganku dan tersenyum semanis mungkin.

Ia meraih tanganku lalu menciumnya. "Senang kau bisa datang ke pestaku, nona…?."

"Elaina Reindhart, kau bisa memanggilku Lana."

"Lana, senang bertemu denganmu. Panggil aku Gerard."

Kami pun mulai berbincang-bincang dan sepanjang malam itu tidak sedetikpun Butler meninggalkanku. Sepertinya rencanaku untuk mendekatinya berjalan mulus.

Setelah pertemuan di pesta, Butler semakin gencar mendekatiku. Tampaknya ia tidak membuang waktu, ia sering menelepon dan mengajakku keluar sekedar untuk makan siang. Sebuah apartemen pun aku sewa untuk melengkapi penyamaranku. Aku tidak lagi datang ke markas. Tapi untuk keamanan, Gale dan yang lain secara bergantian selalu mengawasi tempat tinggalku.

****

Malam ini Butler mengundangku ke rumahnya untuk makan malam. Kesempatan yang sudah aku tunggu-tunggu sejak beberapa hari ini.

Rumah yang besar dan mewah dengan penjagaan yang super ketat langsung menyambutku ketika aku turun dari mobil. Seorang penjaga langsung mengantarku ke pintu masuk. Di dalam, seorang pria berwajah dingin menyambutku tapi ia memperlakukanku dengan sangat hormat. Tanpa banyak bicara ia memberi isyarat untuk mengikutinya.

Aku berjalan mengikutinya melintasi sebuah ruangan luas dengan perabotan mewah hingga kami berhenti di satu ruangan dengan pintu tertutup. Pria itu membuka pintu lalu mempersilahkanku masuk.

"Mr. Butler akan menemui anda sebentar lagi, nona Reindhart."

Aku mengangguk dan pria itu pun berlalu dari hadapanku.Setelah memastikan keadaan aman, aku mulai memasang alat penyadap dan kamera kecil yang kubawa ditempat strategis dan tersembunyi.

"Kalian melihat dan mendengarku?." Aku berbisik melalui alat yang terpasang dikalung yang kupakai.

"Yup, kami melihat dan mendengarmu, Dhee."

"Bagus La." Aku mengacungkan jempolku ke kamera.

"Sayang, berhati-hatilah."

"Tentu Gale. Aku akan berhati-hati. Sampai nanti."

Kemudian aku duduk disofa dan tidak lama kemudian pintu terbuka. Butler masuk dan langsung tersenyum melihatku.

"Lana, aku senang kau datang, sayang. Kau kelihatan sangat cantik. Maaf sudah membuatmu menunggu." Ia membungkuk lalu mencium tanganku.

"Terima kasih sudah mengundangku, Gerard."

"Aku senang kau menerimanya, Lana."

Kemudian Butler berjalan ke mini bar dan menuangkan sampanye ke dalam gelas lalu memberikannya padaku.Kami berbincang-bincang sebentar lalu Butler mengajakku keluar dan kami langsung menuju ruang makan.

Kami mulai menyantap hidangan yang sudah tersedia di meja. Ketika kami selesai makan, pria berwajah dingin tadi masuk, lalu berbisik kepada Butler dan keluar.

"Lana, maafkan aku. Ada tamu yang harus segera aku temui. Jadi aku harus meninggalkanmu sementara."

"Tidak masalah. Boleh aku memakai kamar mandimu?."

"Tentu saja, Lana."

Kami keluar dari ruang makan. Aku langsung menuju kamar mandi yang ditunjukkannya, sedangkan Butler masuk ke ruang tamu. Bagus gumamku dalam hati.

"Kalian mendengarku?."

"Iya, sayang. Kau dimana? Kau baik-baik saja?."

"Aku di kamar mandi. Aku baik-baik saja, sayang. Apa yang kalian lihat?."

"Butler dan empat orang tamunya. Mereka sedang membicarakan tentang pengiriman senjata ke Timur Tengah besok siang."

"Bagus, kalian awasi mereka. Aku akan masuk ke ruang kerjanya."

"Baik, Dhee. Berhati-hatilah."

Perlahan aku membuka pintu kamar mandi, terlihat dua orang bersenjata yang berjaga-jaga di dalam. Dengan mengendap-endap, aku menaiki tangga menuju lantai atas. Sepertinya aku tidak perlu bersusah payah mencarinya. Di lantai itu hanya ada satu ruangan kaca berukuran besar yang tertutup tirai.
Dengan hati-hati aku membuka pintu kaca dan menutupnya kembali. Sebuah kamar tidur menyatu dengan ruang kerja hanya dibatasi oleh pintu kaca dengan tirai yang memisahkan kedua ruangan itu.

Aku masuk ke ruangan kerja dan mulai mencari-cari informasi hingga akhirnya aku mendapatkan berkas sebuah rancangan senjata pembunuh masal dan sebuah dokumen. Dengan kamera kecil berbentuk pulpen, aku memotret berkas-berkas itu.

"Dhee, kau masih di ruang kerja Butler?. Segera keluar dari sana. Butler dan tamunya sudah keluar dari ruangan."

"Oke, Sya aku sudah selesai disini. Aku segera keluar."

Setelah memasukkan kamera ke dalam clutch, aku bergegas keluar dari ruang kerja. Sial, sepertinya Butler ada di luar kamar, aku mendengarnya berbicara di telepon.

"Bunuh ilmuwan itu dan keluarganya. Siapa saja yang berani melawan perintahku akan berakhir seperti keluarga Anderson." Suara Butler terdengar dingin dan kejam.

Ya Tuhan… Aku menutup mulutku ketika mendengarnya menyebut nama keluarga Anderson. Air mataku menetes mengingat kekejamannya dulu kepada Alana dan keluarganya.

"Sayang, ada apa? Kau menangis, kau kenapa?." Suara Gale terdengar sangat cemas.

"Memang benar Butler yang membunuh Alana dan orangtuanya, Gale." Aku berbisik pelan sambil terisak.

"Sayang, cepat keluar dari sana."

"Aku…aku masih ada di kamarnya. Aku akan segera keluar."

Suara langkah kaki yang mendekati pintu membuatku tanpa pikir panjang lagi langsung naik ke atas ranjang dan berpura-pura tidur.

Kemudian aku mendengar pintu kamar dibuka dan suara langkah kaki mendekati ranjang. Dadaku berdegup kencang ketika langkah kaki itu berhenti lalu seseorang duduk diranjang.

Aku langsung membuka mataku ketika nafas panasnya menyentuh wajahku.

"Gerard, kau mengejutkanku. Aku ketiduran rupanya."

"Kenapa kau ada disini, Lana?".

"Maafkan aku, Gerard. Tadi aku mencarimu. Tiba-tiba kepalaku sakit jadi aku putuskan untuk berbaring disini tapi ternyata aku malah ketiduran."

"Tidak apa-apa, sayang. Bagaimana kepalamu? Apa masih sakit?." Butler menyentuh keningku dan mengusapnya. "Tidurlah lagi, aku akan menemanimu, Lana." Butler menatapku lekat lalu wajahnya mendekat dan berusaha mencium bibirku. Dengan cepat aku mengecup pipinya lalu turun dari ranjang dan melangkah ke pintu.

"Kepalaku masih sedikit sakit dan aku tidak membawa obat, jadi sebaiknya aku pulang sekarang, Gerard."

"Kau bisa tidur disini. Aku ingin bersamamu malam ini, sayang." Butler mendekat dan menahan pintu yang akan kubuka hingga tubuhku terjepit diantara pintu dan tubuhnya. Aku bisa merasakan nafasnya yang panas ketika wajahnya mendekat. "Kau sangat cantik, Lana. Aku selalu memikirkanmu sejak pertemuan kita di pesta." Suaranya terdengar berat dan tatapan matanya menjadi liar.

"Gerard, aku harus pulang sekarang." Aku berusaha tenang walau dadaku berdegup kencang. Ya Tuhan, tolong aku. Apa yang harus aku lakukan.

"Tidak, sayang. Kau akan bersamaku malam ini." Tangannya mengelus punggungku yang terbuka. Ketika ia akan menciumku, tiba-tiba ponselnya berdering. Butler tidak menghiraukannya tapi ponsel itu terus saja berdering dan akhirnya dengan kesal ia pun mengangkatnya. Tampaknya telepon itu sangat menarik perhatiannya. Ketika dia lengah, aku segera membuka pintu dan keluar.

"Terima kasih untuk makan malamnya. Selamat malam, Gerard" kataku tergesa-gesa dan tanpa menunggu jawabannya, aku segera turun dan keluar dari rumah itu.

Gale langsung memelukku ketika aku baru melangkah masuk ke apartemen. Lila, Zac, Asya dan Mark juga ada disini.

"Aku senang kau sudah kembali, sayang." Gale terus menciumi wajahku dan memelukku erat.

"Jangan berlebihan, Gale. Aku tidak apa-apa."

"Kalau aku tidak menelepon laki-laki itu, kau mungkin belum keluar dari sana, sayang."

"Apa?? Jadi kau yang meneleponnya tadi, Gale?."

"Tentu saja, Dhee. Gale langsung meneleponnya ketika mendengar Butler menahanmu."

"Hhmm…kau sangat cerdik, sayang. Terima kasih." Aku mengecup pipinya.

Gale malah semakin mempererat pelukannya dan terus menciumi wajahku sampai aku harus mencubit perutnya untuk menghentikannya karena Zac, Lila, Asya dan Mark mulai tertawa geli melihat kami.

Sambil meringis, Gale menyusulku bergabung dengan mereka duduk di sofa untuk membahas hasil penyelidikan tadi dan akan melaporkannya kepada Lou besok sekaligus menyusun rencana penyergapan.

****

Sesuai infomasi yang berhasil kami dapat, hari ini Butler akan melakukan pengiriman senjata ke Timur Tengah. Kami telah sampai di gudang penyimpanan senjata yang berada disebuah gedung tua di pinggiran kota. Tempatnya sangat terpencil dan sepi.

Sambil bersembunyi disebuah gubuk tidak jauh dari gudang, Lou mulai memberi instruksi kepada kami.

"Baiklah, kalian semua siap?."

"Siap, Lou." Kami menjawab berbarengan.

"Zac, keluarkan senjatanya."

"Baik, Lou." Zac mengambil tas ransel yang dibawanya lalu menaruhnya diatas meja dan membukanya.

Sontak mata kami semua terbelalak melihat isi ransel yang dibuka oleh Zac. Bukan senjata melainkan berpak-pak pampers. Zac sendiri sangat terkejut melihat isi ransel yang dibawanya.

"Zac, kau ingin kami memakai pampers?" kata Gale menahan geli.

"Zac, apa ini? Aku menyuruhmu membawa senjata, bukan pampers."

"Ma-maaf Lou. Sepertinya aku salah bawa ransel. Pasti tertinggal di mobil" jawab Zac gugup dan wajahnya memerah.

"Bukan sepertinya lagi, Zac. Kau memang salah bawa ransel..hahaha…" Aku tidak dapat lagi menahan tawa dan kami pun tertawa geli melihat kegugupan Zac. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus.

Sambil bersungut-sungut, Zac keluar membawa ransel tersebut dan berjalan menuju mobil. Setelah beberapa menit, Zac kembali membawa ransel yang lain.

"Semoga kali ini benar senjata yang kau bawa, Zac bukannya pakaian Lila." Gale kembali menggoda Zac.

"Tentu saja ini senjata, Gale. Kau ingin bukti?". Zac langsung melemparkan sebuah pistol ke arah Gale tapi Gale mengelak sehingga pistol itu mengenai lengan Brad yang berdiri di sebelahnya.

"Aduuuhhh…. Kenapa kau melemparku, Zac." Brad meringis sambil mengelus-elus lengannya.

"Ma-maaf Brad, aku tidak sengaja." Wajah Zac kembali memerah lalu sambil bersungut-sungut ia menggaruk-garuk kepalanya. Kami kembali tertawa geli melihat tingkahnya.

"Sudah, sudah. Sebaiknya kita bersiap-siap sekarang." Lou menengahi kami yang masih tertawa melihat tingkah Zac.

Kami pun mulai mempersiapkan senjata masing-masing. Semua telah siap. Senjata, rompi anti peluru lengkap dengan alat komunikasi telah melekat di tubuh kami masing-masing.

Sebuah limo berhenti di depan gudang dan tampak beberapa orang turun dari mobil, mereka adalah orang-orang yang kemarin menemui Butler.

Kami mulai bergerak ketika melihat Butler tiba dan langsung masuk ke dalam gudang. Kami dibantu pihak kepolisian berpencar di beberapa titik, mengepung gudang tersebut.

Dua orang bersenjata yang menjaga pintu masuk gudang berhasil dilumpuhkan oleh Eric dan Steve. Kami pun mulai menyebar masuk ke gudang tanpa bersuara.

Di dalam, enam orang tampak sedang memasukkan senjata ke dalam peti. Tapi kami tidak melihat Butler. Kami bersembunyi di balik tumpukan peti.

"Eric, Steve, Brad kalian tangani orang-orang itu. Lakukan dengan cepat dan tanpa bersuara. Zac, Dhee, Gale dan aku akan naik ke atas. Sepertinya Butler dan tamu-tamunya berada di atas."

Setelah mendapat instruksi dari Lou, kami pun menyebar. Lou benar, Butler dan tamu-tamunya beserta anak buahnya terlihat di satu ruangan di lantai atas. Tak lama setelah Eric dan Steve bergabung, kami pun menyerbu masuk. Aku, Gale dan Steve masuk melalui pintu tepat dibelakang Butler. Lou, Zac dan Eric mendobrak pintu depan.

"CIA…angkat tangan…letakkan senjata kalian. Kalian sudah terkepung!!!."

Kami menodongkan senjata ke arah mereka yang tampak terkejut dengan kehadiran kami. Tapi sepertinya anak buah Butler tidak mau menyerah, mereka balik menodongkan senjata kepada kami.

"Suruh anak buahmu meletakkan senjata mereka, Butler atau aku akan menembak kepalamu." Aku menodongkan pistol ke kepalanya dan mengokangnya.

"La-Lana, kau…" Butler sangat terkejut melihatku.

"Terkejut melihatku, Gerard?" kataku sinis. "Kau tidak akan lolos kali ini. Suruh anak buahmu meletakkan senjatanya dan tendang kedepan."

Butler memberi isyarat kepada anak buahnya dan mereka pun meletakkan senjata di lantai lalu menendangnya.

Kami segera meringkus mereka, tapi Butler melarikan diri melalui pintu belakang setelah mendorong Steve dengan keras ke lantai. Aku langsung mengejarnya diikuti oleh Gale dan Zac. Di lorong, dua orang menghadang kami sehingga kami pun terlibat perkelahian.

Aku berhasil lolos dan kembali mengejar Butler hingga akhirnya ia terdesak disebuah tembok tinggi yang mengelilingi gedung.

"Menyerahlah, Butler. Kau tidak bisa kemana-mana sekarang." Aku menodongkan pistol ke arahnya.

"Lana, aku mencintaimu. Kau bisa ikut denganku. Aku akan membuatmu bahagia."

"Cinta?? Manusia sepertimu tidak punya cinta, Butler. Aku juga tidak sudi ikut dengan seorang pembunuh kejam sepertimu. Tapi kau benar, kau bisa membuatku bahagia jika aku menembakmu sekarang karena kau telah membunuh keluarga Anderson. Anak buahmu hampir membunuhku juga malam itu." Aku berteriak dengan emosi. Bayangan kekejamannya membunuh Alana membuatku kalap.

"Jadi kau yang ada disana, Lana."

"Ya, kau pasti sangat menyesal sekarang karena tidak terus mencari dan membunuhku. Karena aku yang akan membunuhmu sekarang." Aku sudah siap menembaknya ketika Gale dan Zac berlari mendekat ke arahku.

"Sayang, jangan lakukan itu. Kau bukan seorang pembunuh."

"Orang ini pantas mati. Entah sudah berapa banyak keluarga tak berdosa yang dibunuhnya."

Gale dan Zac terus mencoba menenangkanku dan ketika aku lengah, Butler kembali mencoba melarikan diri. Aku langsung menembak kakinya. Zac meringkus dan memborgolnya lalu membawanya pergi.

"Semua sudah berakhir, sayang. Ayo kita pulang." Gale memeluk bahuku.

Aku dan Gale berjalan berdampingan keluar dari gudang ketika tiba-tiba terdengar suara di belakang kami. Gale langsung mendorong tubuhku ke samping ketika bunyi letusan pistol terdengar. Tubuh kami terjatuh bersamaan lalu suara letusan kedua kembali terdengar, kali ini aku liat Eric mengarahkan senjatanya kepada orang yang menembak kami.

"Dhee, Gale kalian tidak apa-apa?." Suara teriakan Eric terdengar panik.

"Aku tidak apa-apa, Ric" Aku berteriak kepada Eric.

"Sayang, kau tidak apa-apa?." Aku menoleh ke arah Gale yang terbaring dibelakangku. Darah! Ya Tuhan, begitu banyak darah keluar dari lengan dan kepalanya.

"Galeeee!!!." Aku berteriak histeris melihatnya dan langsung memeluk tubuhnya yang tidak bergerak.

"Dheeeee!!!." Lou dan yang lainnya langsung berlarian ke arah kami.

"Ya Tuhan, Dhee. Gale tertembak." Lou langsung bersimpuh di sampingku.

Aku hanya bisa menangis memanggil namanya sambil memeluk tubuhnya sampai ambulan datang dan paramedis membawanya ke dalam ambulan. Ya Tuhan, aku mohon selamatkan kekasihku. Doa itu tidak henti-hentinya aku ucapkan diantara tangisanku.

"Dhee, tenanglah. Semoga Gale baik-baik saja." Steve yang menemaniku di dalam ambulan berusaha menenangkan dan menghiburku.

"Aku takut Steve. Aku tidak mau kehilangan dia." Akhirnya aku tidak bisa lagi menahan diri, aku pun menangis terisak.

Ambulan yang membawa kami pun tiba di rumah sakit. Paramedis segera membawa Gale ke dalam menuju ruang operasi. Tidak lama kemudian Lou dan Eric tiba, disusul Lila, Zac, Asya dan Mark. Lila dan Asya langsung duduk disampingku dan memelukku  yang masih menangis. Dua jam kemudian, dokter keluar dari ruang operasi. Aku langsung menghampirinya diikuti yang lain. Dokter mengatakan peluru yang bersarang di lengan Gale sudah berhasil diangkat tapi benturan di kepalanya sangat parah dan itu yang membuatnya masih tidak sadarkan diri.

Setelah dipindahkan ke ruang perawatan, Gale masih belum sadar. Hari sudah malam dan keadaannya masih belum berubah. Aku tidak kuasa menahan air mataku melihatnya terbaring tak sadarkan diri seperti ini. Tak sedetikpun aku meninggalkannya, aku duduk disamping ranjang sambil menggenggam erat tangannya.

"Kau harus sadar, sayang. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku sangat mencintaimu." Aku berbisik ditelinganya dengan airmata yang terus mengalir.

"Dhee, jangan menangis terus. Sebaiknya kau pulang dulu. Istirahatlah dan kau juga belum makan."

"Tidak La. Bagaimana aku bisa makan kalau keadaan Gale seperti ini" jawabku lirih.

"Tapi kau tetap harus makan Dhee. Ayolah, kalau kau sakit bagaimana?."

"Pulanglah Dhee. Aku akan menjaga Gale disini. Ini sudah malam, kau bisa kembali besok pagi-pagi. Aku akan kabari kalau ada apa-apa."

"Terima kasih, Steve." Aku menjawab dengan lirih. Teman-temanku benar, sebaiknya aku pulang, tubuhku sudah sangat lemah dan bajuku penuh darah yang mengering. "Aku akan kembali besok pagi, sayang" kataku sambil mencium kening Gale. Rasanya berat sekali untuk meninggalkannya.

"Ayo Dhee, aku dan Lila akan mengantarmu ke apartemen."

"Baiklah, Zac."

Dalam perjalanan ke apartemen, aku merasa perutku seperti diaduk-aduk. Aku merasa sangat mual.

"Dhee, kau kenapa?." Lila menatapku cemas.

"Aku merasa sangat mual, La. Mungkin karena belum makan. Zac, tolong cepat...aku sudah tidak tahan."

Benar saja, sesampainya di apartemen, aku langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua. Setelah aku lebih tenang dan menyakinkan bahwa aku baik-baik saja, akhirnya Lila dan Zac pun pulang.

Sepeninggal Lila dan Zac, aku melangkah ke kamar mandi. Ketika aku membuka kemeja yang penuh darah, air mataku kembali mengalir. Aku terduduk lemas di bawah shower. Air yang mengalir langsung mengguyur kepala dan seluruh tubuhku menyatu dengan airmata yang terus membasahi pipiku. 

Entah sudah berapa lama aku di kamar mandi, aku baru beranjak dari sana setelah tubuhku menggigil kedinginan. Aku mengambil kaos milik Gale dan memakainya lalu pergi ke dapur untuk membuat makanan. Baru sedikit makanan masuk ke mulutku, lagi-lagi aku merasa mual dan kembali memuntahkan semua di kamar mandi.

Malam semakin larut tapi aku tidak bisa tidur, tubuhku terasa lemas karena muntah terus menerus. Tubuhku rasanya tidak bertenaga. Aku tidak mungkin menelepon Asya atau Lila, ada Naima yang harus diurus Lila dan Asya juga sedang hamil. Aku hanya bisa menangis, aku merasa sendirian. Lalu aku mengambil fotoku dan Gale di meja samping tempat tidur. "Aku membutuhkanmu Gale." Bisikku terisak sambil memeluk bingkai foto itu.

Sinar matahari langsung menyambutku ketika aku membuka mata. Suara ketukan dipintu membuatku beranjak ke wastafel, tubuhku terasa lemas dan wajahku juga terlihat pucat. Setelah mencuci muka, aku keluar kamar dan membuka pintu.

"Eric…"

"Dhee, bagaimana keadaanmu? Aku menjemputmu untuk ke rumah sakit dan aku bawakan sarapan untukmu juga. Kau terlihat pucat. Kau sakit, Dhee?."

"Aku baik-baik saja, terima kasih, Eric. Seharusnya kau tidak perlu melakukan ini."

"Sudahlah, Dhee. Sebaiknya kau mandi sekarang lalu sarapan setelah itu kita pergi."

"Baiklah." Aku menuju ke kamar mandi dan aku kembali muntah-muntah. Ya Tuhan, apa yang terjadi pada diriku. Tubuhku semakin lemah tapi aku berusaha menguatkan diri. Aku tidak boleh sakit. Setelah selesai mandi dan berpakaian, aku kembali menemui Eric di ruang tamu.

"Aku sudah siap, Eric. Bisa kita pergi sekarang?."

"Dhee, kau yakin tidak apa-apa? Sebaiknya kau sarapan dulu." Eric menyodorkan makanan dan coklat panas yang dibawanya.

Aku mengambilnya dan dengan malas mengunyah makanan yang dibawanya. Bagaimana aku bisa makan dalam keadaan seperti ini. Perasaanku tak menentu, rasanya hatiku begitu kosong. Tanpa sadar air mata jatuh membasahi pipiku.

"Dhee, berhentilah menangis. Semua akan baik-baik saja." Eric menggenggam erat tanganku. "Kau tahu aku mencintaimu, tapi aku sadar cinta kalian berdua begitu besar. Dan sekarang, aku hanya ingin kau bahagia. Gale akan sembuh, Dhee. Cintamu yang begitu besar kepadanya yang akan membuatnya kuat dan bertahan."

"Terima kasih, Eric. Untuk semuanya."

"Sudahlah, Dhee. Kita berangkat sekarang?."

Aku mengangguk. Kami keluar apartemen dan langsung menuju rumah sakit. Di rumah sakit, keadaan Gale masih belum berubah. Steve masih berjaga bersama Brad. Ketika aku akan menghampiri ranjang, rasa mual itu kembali datang.

"Dhee, kau kenapa?."

"Aku tidak tahu, Eric. Dari semalam dan pagi ini aku seperti ini."

'Sebaiknya periksakan dirimu ke dokter, Dhee."

"Tidak usah, Steve. Mungkin karena aku telat makan kemarin…" Pandanganku tiba-tiba menjadi kabur, sekelilingku terasa berputar. Aku merasa Eric menangkap tubuhku lalu semua gelap.

Perlahan aku membuka mataku. Aku terbaring diranjang rumah sakit, kulihat Lila dan Asya duduk disisi ranjang.

"L-La… S-Sya…."

"Dhee, syukurlah kau sudah sadar."

"Aku kenapa La? Apa yang terjadi?."

"Kau pingsan tadi, Dhee. Menurut dokter kau sedang hamil satu minggu."

"A-aku hamil? Ya Tuhan…" Refleks aku mengelus perutku, airmataku menetes. Terima kasih, Tuhan. Kau memberiku kebahagiaan ditengah-tengah kesedihanku.

"Iya, Dhee. Kau hamil. Selamat ya." Lila dan Asya memelukku.

"Terima kasih, La…Sya. Tolong bantu aku, aku ingin menemui Gale."

Asya dan Lila lalu mengantarku ke ruangan tempat Gale dirawat. Aku duduk disamping ranjang dan mencium keningnya lama sambil menggenggam tangannya.

"Sayang, aku tahu kau mendengarku. Aku ingin kau tahu kalau aku sangat bersyukur telah bertemu denganmu dan menjadi kekasihmu. Aku sangat mencintaimu dan aku ingin hidup bersamamu selamanya bersama anak kita. Aku hamil, sayang." Aku berbisik ditelinganya dengan terisak. "Aku ingin menikah denganmu, Gale. Aku ingin menjadi istrimu. Demi Tuhan, kau harus sadar, untuk aku, untuk anak kita. Kami sangat membutuhkanmu."

Sambil menangis aku merebahkan kepalaku di dadanya. Aku memegang tangannya dan menaruhnya dipipiku.

"Aku merindukanmu, sayang. Sangat merindukanmu." Aku menciumi tangannya.

Selama beberapa menit aku dalam posisi seperti itu. Tiba-tiba aku merasakan jari-jarinya bergerak perlahan dipipiku yang basah. Aku menoleh dan melihat matanya terbuka perlahan. Terima kasih, Tuhan. Aku segera menekan bell di samping tempat tidur.

"H-hai…" Gale menyapaku dengan suara lemah.

"Hai…aku senang kau kembali, sayang." Aku mengecup keningnya.

"Jangan menangis, sayang. A-aku tidak apa-apa. Aku tidak mau melihatmu menangis" bisiknya sambil mengusap airmata dipipiku perlahan.

Tidak lama kemudian, Dokter dan suster masuk dan langsung memeriksanya. Dokter menyatakan Gale sudah melewati masa kritis dan akan segera pulih.

****

Selama dua minggu, Gale menjalani perawatan di rumah sakit hingga akhirnya diperbolehkan pulang. Kondisinya sudah pulih seperti semula. Kehamilanku berusia tiga minggu sekarang dan tentu saja Gale sangat bahagia ketika mengetahui kehamilanku, tidak henti-hentinya ia menciumi perutku.

Dan hari ini, Gale mengajakku pergi berlayar dengan yatch miliknya. Menjelang malam, kami tiba di pantai Malibu. Gale mengajakku makan malam di pinggir pantai. Sebuah meja dengan dua kursi lengkap dengan hiasan bunga segar di atas meja sudah tersedia di sana. Tidak lama setelah kami duduk, pelayan datang membawa minuman. Kami pun bersulang. Tidak lama kemudian, pelayan kembali datang membawakan hidangan makan malam. Kami pun mulai menyantap hidangan di atas meja.

Setelah selesai makan, Gale mengajakku berjalan-jalan di tepi pantai. Sambil berpelukan, kami berjalan menyusuri pantai hingga akhirnya sampai disebuah batu karang. Gale membantuku naik dan kami berdiri disana.

"Kau tidak apa-apa, sayang? Apa kau lelah? Bayi kita baik-baik saja?." Gale mengelus perutku dengan lembut.

"Aku tidak apa-apa, sayang. Kami baik-baik saja."

"Ada sesuatu untukmu, sayang" bisiknya. "Lihatlah." Gale menunjuk ke langit yang malam itu dipenuhi bintang-bintang.

"Bintang? Indah sekali, Gale. Aku suka suasana ini."

"Iya, sangat indah, sayang.  Tapi bukan itu maksudku. Tunggu sebentar ya." Gale membalikkan badannya sambil mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang dan suaranya terdengar kesal. Setelah itu ia kembali berbalik ke arahku. "Sekarang lihatlah ke sana, sayang."

Aku melihat langit menjadi terang karena sinar kembang api yang sangat indah. Aku berdecak kagum melihatnya. Mataku membulat dan sontak menutup mulutku dengan kedua tangan ketika kembang api itu membentuk sebuah tulisan "DHEANDRA, WOULD YOU MARRY ME?". Ya Tuhan... Aku menoleh ke arah Gale yang sedang menatapku sambil memegang sebuah kotak berisi cincin.

"Would you marry me, Dheandra Ilana Puteri Reindhart?" bisiknya sambil tersenyum.

"Yes…yes…yes, I would Gale..." Aku menjerit dan langsung memeluknya. Kami pun berciuman dan berpelukan. Setelah aku melepaskan pelukanku, Gale memasangkan cincin indah itu di jari manisku lalu menciumnya.

"Terima kasih, aku sangat bahagia kau menerima lamaranku, sayang."

"Karena aku mencintaimu, Gale. Sangat…sangat mencintaimu."

"Aku juga sangat mencintaimu, sayang. Aku mencintai kalian berdua melebihi dari nyawaku sendiri. Kau dan bayi kita adalah hal terindah yang ada dalam hidupku. Kalian berdua membuat hidupku menjadi lebih lengkap dan berarti."

Gale mencium bibirku dengan lembut dan penuh kasih sayang. Kami berpelukan dan menikmati pertunjukan kembang api yang menambah keindahan malam ini.

Aku membenamkan diriku dipelukannya yang hangat. Aku yakin sekarang, bersama Gale lah aku ingin menghabiskan seluruh sisa hidupku...bersama pria yang aku cintai dan mencintaiku. Dan juga bersama seorang bayi yang saat ini tumbuh dirahimku.

****

Sabtu, 02 Maret 2013

CHAPTER 46

Aku terbangun dengan tubuh gemetar dan keringat membasahi seluruh tubuh. Mimpi buruk itu datang lagi membuat ingatanku melayang ke 15 tahun yang lalu saat berumur 8 tahun. Sebuah peristiwa yang nyaris merenggut nyawaku dan telah merenggut nyawa sahabatku Alana. Dan peristiwa itu juga yang telah merubah jalan hidupku.

Aku mengenal Alana ketika ia baru pindah ke lingkungan kami.  Rumah kami bersebelahan, saat itu kami berumur 8 tahun. Ayahnya seorang ilmuwan dan ibunya bekerja di sebuah bank. Kami menjadi akrab karena orang tua kami sama-sama sibuk. Orangtuaku berprofesi sebagai polisi. Itu yang aku tahu sampai akhirnya ketika umurku 15 tahun, Mama dan Papa mengatakan bahwa mereka adalah seorang secret agent. Mereka menyembunyikan identitas untuk melindungiku.

Aku sering menghabiskan waktu di rumah Alana, hanya ditemani seorang pengasuh yang bekerja di sana. Malam itu, aku masih berada di rumah Alana karena Mama dan Papa mengatakan ada pekerjaan yang harus diselesaikan sehingga mereka akan terlambat pulang. Setelah makan malam bersama kedua orangtuanya, aku dan Alana pergi tidur. Aku terbangun ketika mendengar kegaduhan di luar. Alana tidak ada di kamar, maka aku keluar kamar untuk mencarinya. 

Ketika akan menuruni tangga, aku melihat beberapa orang bersenjata di bawah. Aku langsung bersembunyi dan berusaha melihat apa yang terjadi. Disana Alana dan kedua orangtuanya duduk terikat di sofa dengan mulut di lakban.

Orang-orang itu menodongkan pistol ke arah mereka. Ada seorang pria tinggi besar yang berdiri diantara orang-orang bersenjata itu. Ketika pria itu mengangkat tangannya, mereka pun langsung menembak Alana dan kedua orangtuanya.

Aku terpekik dan gemetar melihatnya lalu langsung berlari ke kamar, bersembunyi di sebuah ruangan rahasia di kamar itu. Mereka mulai mencariku, menodongkan pistol kesana kemari. Bahkan ketika mendengar suara, mereka langsung menembak. Peluru-peluru itu hampir saja mengenai tubuhku. Aku diam dan gemetar tidak berani bersuara, sampai akhirnya suara sirine mobil polisi membuat mereka pergi.

Aku baru  keluar dari tempat persembunyianku setelah mendengar suara mama dan papa yang panik mencariku. Dan aku hanya bisa terpaku melihat polisi membawa tubuh sahabatku Alana yang sudah kaku dalam sebuah kantung.

Sejak kejadian itu, aku mengalami trauma yang hebat dan selama beberapa tahun aku berada dalam perawatan psikiater hingga akhirnya mama dan papa memutuskan untuk membawaku pindah ke New York.Kehidupanku pun kembali normal hingga dewasa hingga akhirnya aku memutuskan menjadi secret agent mengikuti jejak kedua orangtuaku.

Kepalaku berdenyut-denyut mengingat mata itu, mata abu-abu yang tidak akan pernah aku lupakan. Mata itu kembali hadir ketika aku melihatnya ditayangan TV tadi malam. Gerard Butler… ternyata orang itu yang telah membunuh sahabatku. Dari keterangan yang aku liat tadi, ia seorang pengusaha. Besok aku harus mencari info tentang orang itu, itu tekadku.

****

Semalaman aku tidak bisa tidur, kepalaku pun terasa sakit sekali ketika keesokan paginya aku bangun dan pergi ke markas.

"Pagi La, Sya." Aku menyapa kedua sahabatku ketika akan ke pantry. "Bagaimana kabar putri mungilmu, La? aku kangen sekali padanya."

"Pagi Dhee, Naima baik-baik saja. Mainlah ke rumahku kapan-kapan. Hei, kau kenapa? wajahmu pucat Dhee."

"Aku tidak apa-apa La. Aku hanya tidak bisa tidur semalam."

"Kau pasti bersama Gale ya sampai tidak bisa tidur, Dhee?."

"Aku tidak bersama siapa-siapa, tahu. Aku sendirian semalam, Sya."

"Maaf, Dhee. Aku hanya bercanda."

"Ah…maafkan aku membentakmu, Sya. Bagaimana kandunganmu? perutmu sudah semakin terlihat, Sya."

"Kandunganku baik-baik saja, Dhee. Sudah hampir tiga bulan usianya" kata Asya sambil mengelus-elus perutnya.

Aku tersenyum melihatnya. Aku sangat berbahagia untuk kedua sahabatku. Mereka telah menemukan kebahagiaan masing-masing. Seandainya Alana masih hidup…airmataku mengalir saat teringat sahabatku itu tapi aku buru-buru menghapusnya.

"Dhee, kau kenapa?."

"Tidak apa-apa, La. Aku hanya senang karena kalian telah menemukan kebahagiaan kalian."

"Ada yang kau sembunyikan dari kami, Dhee. Tidak biasanya seperti ini. Ayolah, ceritakan pada kami, Dhee."

"Nanti saja aku ceritakan, La. Sekarang aku mau ke pantry." Aku langsung menuju pantry meninggalkan Asya dan Lila yang saling berpandangan.

Aku duduk sambil meminum gelas kopiku yang kedua. Sentuhan pelan dibahu membuatku menoleh. Ternyata Gale, dia sudah berdiri disampingku sambil meremas bahuku lembut.

"Hai, sayang". Ia mencium keningku lalu duduk di sampingku. "Asya dan Lila bilang kau ada disini. Mereka sangat mengkhawatirkanmu. Kau sakit?."

"Tidak apa-apa, Gale. Aku sedikit sakit kepala saja."

"Seharusnya tidak usah masuk kalau kau sakit, sayang."

"Aku tidak sakit, Gale. Aku hanya tidak tidur semalam."

"Ada yang mengganggu pikiranmu? Ceritakan padaku, Dhee."

"Aku akan ceritakan nanti, Gale." Aku melirik jam ditanganku, sebentar lagi rapat dimulai. "Sebaiknya kita ke ruang rapat sekarang."

Lalu kami berjalan menuju ruang rapat. Disana sudah menunggu Lou dan para agent.

"Maaf, kami terlambat."

"Rapat belum di mulai, Dhee. Kau tidak apa-apa? Wajahmu kelihatan pucat."

"Aku tidak apa-apa, Lou." Aku langsung menarik kursi disebelah Lila dan duduk.

Rapat tentang evaluasi hasil kerja pun dimulai. Pikiranku melayang kesana kemari, aku sama sekali tidak bisa mencerna apa yang dikatakan Lou.

"Dhee, kau masih bersama kami?."

"Eh…I-iya Lou. Maaf." Dan semua mata di ruangan itu pun menatapku dengan heran karena tidak biasanya aku seperti ini.

Setelah dua jam, akhirnya rapat selesai. Lou serta agent lain sudah meninggalkan ruang rapat hanya tinggal aku, Gale, Lila, Zac dan Asya saja di ruangan ini. Aku bermaksud berdiri tapi tangan Lila menahanku.

"Ada apa La?."

"Dhee, ceritakan pada kami apa yang mengganggu pikiranmu."

"Nanti saja saat makan siang, La. Sekarang ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."

"Sayang, kau tidak sedang menghindar kan?."

"Tidak, Gale. Aku akan ceritakan semua nanti saat makan siang. Aku janji. Sebaiknya kita kembali kerja sekarang."

Tanpa menunggu jawaban mereka, aku langsung keluar dan menuju ruangan kerjaku. Tapi aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaan dihadapanku. Akhirnya aku membuka arsip 15 tahun yang lalu mengenai kasus pembunuhan keluarga Anderson tapi tidak banyak informasi yang bisa aku dapatkan.

Suara ketukan dipintu membuatku buru-buru menutup laptopku. Gale terlihat berjalan menghampiriku.

"Ada apa, Gale?."

"Sudah waktunya makan siang, sayang. Ayo, kita ke kantin. Aku tidak mau kau jatuh sakit."

"Baiklah."

Kami pun berjalan beriringan menuju kantin. Ternyata Asya, Lila dan Zac sudah berada di sana. Setelah mengambil makanan, aku dan Gale bergabung bersama mereka. Kami tidak banyak berbicara ketika makan, sepertinya mereka membiarkanku untuk makan terlebih dahulu. Setelah beberapa saat, aku menyingkirkan piring makananku yang masih tersisa. Rasanya aku tidak berselera makan.

"Kenapa tidak dihabiskan, sayang?. Makanmu sedikit sekali. Kau harus makan, kau bisa sakit kalau begini."

"Aku tidak berselera, Gale."

"Dhee, Gale benar. Kau harus makan."

Aku menggelengkan kepala mendengar ucapan Lila. "Maafkan aku, aku tahu kalian mengkhawatirkanku. Sekarang aku akan ceritakan pada kalian apa yang membuatku seperti ini."

Setelah menghela nafas, akhirnya aku ceritakan semua tentang masa laluku pada mereka. Raut terkejut terlihat jelas di wajah mereka ketika mendengarnya.

"Maafkan aku, sayang. Aku tidak tahu tentang hal ini." Gale meremas tanganku lembut seakan ingin memberi kekuatan padaku.

"Kau tidak pernah menceritakan tentang ini pada aku dan Lila, Dhee."

"Maaf Sya. Menceritakan semua ini kembali sangat berat untukku. Aku harus kembali mengingat kejadian dimasa lalu yang sangat ingin aku lupakan."

"Kami mengerti, Dhee."

"Jadi kau ingin membuka kembali kasus ini?."

"Iya, Zac. Aku tidak akan pernah bisa melupakan mata itu, mata orang yang telah membunuh kel. Anderson, membunuh sahabatku. Orang yang telah membuatku hidup dalam trauma selama bertahun-tahun saat aku masih sangat kecil. Sekarang aku sudah tahu siapa dia. Dan aku membutuhkan kalian untuk mencari informasi lebih detail tentangnya. Kalian mau membantuku, kan?."

"Tentu Dhee, kami pasti akan membantumu."

"Kau akan memberitahu Lou tentang hal ini kan?."

"Tentu saja, Gale. Aku memerlukan lebih banyak informasi dari bagian arsip dan aku harus meminta ijin pada Lou terlebih dahulu."

"Baiklah, kami mendukungmu, Dhee."

"Terima kasih."

Lima belas menit kemudian, kami meninggalkan kantin dan kembali ke meja kerja masing-masing. Hari itu juga setelah mendapat persetujuan dari Lou, aku dan Gale langsung menuju gudang arsip untuk mencari dokumen pembunuhan itu.

"Gale, aku menemukannya." Setelah membongkar cukup lama tumpukan file-file akhirnya aku berhasil menemukan dokumen itu.

Kami duduk dan membaca satu persatu lembar kertas itu dengan teliti. Tak terasa air mataku jatuh ketika melihat foto Alana dan kedua orangtuanya yang bersimbah darah. Hatiku terasa sakit sekali. Luka itu semakin terbuka lebar.

"Sayang, kau tidak apa-apa?." Gale merengkuh bahuku dan memelukku.

"Aku harus menangkap orang itu, Gale. Aku yakin Alana tidak akan tenang sebelum orang itu tertangkap begitu juga aku."

"Aku mengerti, sayang. Aku akan selalu ada untuk mendukungmu."

"Terima kasih, sayang."

Setelah aku lebih tenang, kami pun kembali membaca berkas-berkas itu.

"Dhee, kau bilang Mr. Anderson seorang ilmuwan?. Coba lihat apa yang aku temukan." Gale menyodorkan kertas yang dipegangnya. Aku lalu membaca bagian yang ditunjuknya.

"Mr. Anderson bekerja di perusahaan milik Gerard Butler. Pada saat terjadi pembunuhan itu ia sedang membuat suatu penemuan. Gale, Gerard Butler…orang itu memang terlibat dan ini pasti berhubungan dengan penemuan yang sedang dikerjakan Mr. Anderson."

Tiba-tiba ponselku berbunyi, Lila sudah mendapatkan informasi tentang Gerard Butler. Kami pun bergegas menuju ruang rapat karena Lila dan yang lain menunggu di sana.

"Dhee, coba kau lihat ini." Lila langsung menyodorkan laptop ke arahku. "Butler ternyata terlibat perdagangan senjata ilegal, Dhee."

"Apa?? Tapi kenapa ia masih bebas? kenapa tidak di tahan La?."

"Ia sangat lihai, Dhee. Ia selalu bisa terlepas dari hukuman karena tidak cukup bukti. Ia seperti tidak terjamah oleh hukum."

"Hmmm…kali ini tidak akan terjadi lagi Sya. Aku akan mendekatinya dan menyusup untuk mencari bukti."

"Tidak, sayang. Kau tidak akan melakukan itu."

"Gale, tidak ada cara lain untuk mendapatkan bukti kejahatannya. Aku harus mendekatinya."

"Tapi itu sangat berbahaya. Bagaimana kalau ia mengetahuinya?. Nyawamu bisa terancam, Dhee." Gale tampak gusar.

"Aku secret agent, Gale. Aku sudah biasa melakukan penyamaran dan aku akan berhati-hati, aku janji."

"Gale, sebaiknya kita percaya pada Dhee. Ini memang satu-satunya cara untuk bisa mendapatkan bukti."

"Oke…oke. Baiklah. Lalu bagaimana caramu menyusup ke sana?."

"Dhee bisa menyusup ke acara pesta yang akan diadakan 3 hari lagi." Tiba-tiba Lou masuk diikuti oleh Steve dan Brad.

"Pesta Lou?. Hmm…ide bagus. Aku bisa mendekatinya di pesta itu."

"Butler akan menggelar pesta disebuah hotel. Seluruh relasi bisnisnya akan hadir. Kami akan atur agar kau bisa menyusup sebagai perwakilan dari salah satu perusahaan relasinya, Dhee. Gale, aku tahu kau mengkhawatirkan Dhee. Kami akan menyusupkanmu juga jadi kau bisa mengawasinya dari dekat."

"Baik, Lou. Terima kasih."

****

Malam ini, aku dan Gale masih berada di markas untuk meretas masuk ke dalam komputer pribadi milik Butler. Siang tadi Lila dan Asya sudah berhasil masuk tapi belum berhasil membuka data-data yang terkunci. Aku memutuskan untuk mencobanya lagi malam ini. Sebelum menyusup aku harus mendapatkan lebih banyak informasi.

Butler memiliki perusahaan di beberapa negara. Tapi perusahaan yang sangat mencurigakan adalah perusahaan dimana ayah Alana pernah bekerja dan kami akan fokus pada perusahaan itu karena aku yakin pembunuhan itu berhubungan dengan penemuan yang saat itu sedang dikerjakan oleh Mr. Anderson.

Sudah berjam-jam aku dan Gale di depan komputer tapi masih belum berhasil menemukan kata kuncinya.

"Sebaiknya kita lanjutkan besok, sayang. Sudah malam, kau harus istirahat."

"Tidak, Gale. Aku harus menyelesaikannya malam ini juga."

"Kau sangat keras kepala, Dhee. Aku hanya tidak ingin kau sakit" gerutunya sambil menyandarkan tubuh ke kursi dengan gusar.

Aku tersenyum geli melihatnya. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, sayang." Lalu aku mengecup pipinya sekilas.

"Ya sudah, aku akan buatkan kopi untuk kita." Gale berdiri lalu keluar menuju pantry.

Sepeninggal Gale, aku memijat keningku yang terasa sakit tapi aku tidak mau berhenti, aku harus mendapatkan kata kuncinya.

"Minumlah, kau kelihatan kacau." Gale menyodorkan kopi yang dibawanya.

"Terima kasih, sayang" kataku lalu meminum kopi yang dibawanya.

"Rileks saja dulu. Sepertinya kau memerlukan pijatan." Gale menarik bahuku pelan hingga bersandar dan tangannya mulai memijat bahuku.

"Rasanya enak sekali, sayang." Aku memejamkan mata menikmati pijatannya.

"SEXY BITCHES." Tiba-tiba Gale bergumam.

Mataku hampir melompat keluar mendengar Gale mengatakan itu. "Apaaa?. Apa maksudmu, Gale?." Aku langsung berteriak dan melotot kearahnya.

"Maaf, sayang. Aku hanya sedang membaca judul artikel tentang Butler. Maafkan aku." Gale menunjukkan artikel yang dibacanya. "Kau sudah mencobanya?."

"Kau pikir ia memakai kata 'sexy bitches' untuk kata kuncinya?."

"Tidak ada salahnya mencoba, kan?. Ia selalu menggunakan kata itu untuk wanita-wanita yang mendekatinya."

Walaupun aku ragu tapi tidak ada salahnya mencoba. Akhirnya, aku memasukkannya sebagai kata kunci. Dan…BINGGO berhasil.

"Haaa…kau benar Gale." Aku berteriak dan langsung memeluknya.

"Ia benar-benar laki-laki berengsek. Kau harus berhati-hati padanya, sayang."

"Tentu, sayang. Kau tidak perlu khawatir."

Aku segera mengcopy semua data-data tentang penemuan yang sedang dikerjakan Mr. Anderson tersebut ke dalam USB. Tampaknya Mr. Anderson berseberangan dengan Butler hingga ia dibunuh. Setelah selesai, aku dan Gale kembali ke apartemen. Hari ini sangat melelahkan hingga akhirnya kami langsung terlelap ketika kepala kami menyentuh bantal.

****

Jumat, 01 Maret 2013

CHAPTER 45


Aku tertegun sejenak, rasa kantuk yang tadi menyerangku mendadak hilang saat mendengar berita tentang hilangnya Naima. Aku langsung kembali keruanganku mengambil tas dan persenjataanku, setelah aku memberitahukan kepada Dhee, Gale, dan yang lain aku langsung pergi kerumah Lila.

Hanya butuh waktu 10 menit untuk menembus jalanan menuju kerumah Lila. Sesampainya disana aku langsung mencari Lila. Kulihat Lila sedang mondar mandir gelisah sambil memegang ponselnya.
“La, kau sudah memeriksa semua pintu dan jendela?? Apakah ada tanda-tanda yang mencurigakan??”
“Aku sudah memeriksanya Sya, jendela kamarnya rusak. Terlihat seperti dibuka paksa” jelas Lila.
“Sebaiknya kita telusuri melalui jendela itu, karena tidak mungkin penculiknya membawa pergi Naima dari pintu depan”

Lalu aku dan Lila memeriksa lagi bagian samping kamar Naima dari luar. Aku terus berjalan, hingga aku melihat sebuah pintu yang terletak tidak begitu jauh dari bangunan rumah Lila.
“La, itu pintu kemana??” aku menunjuk kearah pintu itu.
“Setelah pintu itu, ada taman kecil dan setelah itu disamping bangunan rumah ada hutan yang tidak terlalu lebat”

Kami mendekati pintu itu, aku langsung mendapati kalau kuncinya juga telah dirusak.
“La, ini berarti penculiknya lewat dari sini, ayo kita mulai mencari dari sini. Mungkin penculiknya masih ada disekitar sini”
“Iya, Sya..”

Kami berdua mulai menyusuri halaman, hingga taman yang masih ada dibelakang rumah Lila sambil tetap siaga dengan senjata kami, kalau saja ada yang mencurigakan. Saat kami akan memasuki hutan Dhee, Gale, Lou, Olivia, Steve dan Brad datang. Kami membagi menjadi beberapa kelompok agar pencarian lebih cepat dan mulai menyebar kebeberapa titik melakukan pencarian.


Sekitar hampir satu jam kami menyusuri hutan yang disamping rumah Lila, tiba-tiba Brad menelponku kalau dia dan Steve menemukan sebuah pondok yang berada ditengah hutan itu. Menurut mereka dari kejauhan sepertinya ada hal yang mencurigakan. Mendengar informasi itu aku langsung memberitahukan dengan yang lainnya dan kami segera mendekat kepondok itu.

Kami sudah mendekati pondok itu perlahan sambil tetap memperhatikannya. Dari sana terdengar suara bayi menangis.
“Itu Naima..” Lila langsung bergerak untuk masuk kedalam pondok itu.
“La, kita harus menunggu beberapa saat dulu. Kita tidak tahu siapa yang ada didalam itu. Aku takut kalau kita langsung masuk akan membuat penculik itu melukai Naima.” Jelas Lou.
“Lou, benar La.. kau harus bersabar sebentar. Lagi pula Brad dan Steve mulai menyusup masuk. Kita akan segera masuk jika mereka telah memberikan aba-aba.” Aku berusaha menenangkan Lila.

Saat suasana sedang tegang menunggu isyarat dari Brad dan Steve. Tiba-tiba terdengar seseorang yang mendekat kearah kami dengan tergesa-gesa. Kami yang terkejut langsung mengambil posisi bertahan, jika saja itu musuh yang akan menyerang kami.
“Maaf aku terlambat sayang” ternyata itu Zac yang baru saja datang.
“Kau membuat kami kaget Zac, untung saja aku tidak menembakmu” jawabku sambil memasukkan kembali senjataku.
“Maaf aku sangat panik, ketika Gale mengabari Eric tadi”
Melihat Zac yang datang Lila langsung memeluk suaminya. Beberapa saat Lila menangis sambil       menceritakan kronologi hilangnya Naima. Zac mengangguk sambil menenangkan Lila.

Tak berapa lama kemudian Steve memberikan isyarat supaya kami segera mendekat. Kami mendekat perlahan, menyebar mengelilingi pondok itu. Aku yang berada didekat jendela, dapat melihat apa yang ada didalam. Kulihat seorang lelaki sedang menggendong Naima dan seorang lagi kulihat keluar dari pondok itu. Mereka sedang membicarakan cara untuk membawa Naima pergi dari sini. Aku yang didekat Steve menanyakan siapa lelaki yang barusan tadi pergi.
“Steve apa kau tahu siapa lelaki itu??” aku berbisik kepadanya.
“Dia adalah anak buah dari Scarface kemarin. Aku juga tidak tahu sejak kapan Kyle berhubungan dengan anak buah Scarface.”
“Kyle??..” aku terkejut saat Steve menyebut nama Kyle.
“Iya, Kyle Patrick putra dari Red Eye”
Aku mengangguk, dan langsung memberi tahu Dhee dan Lila kalau yang menculik Naima itu adalah Kyle.

Mendengar Kyle yang menculik Naima, Lila langsung masuk kedalam tanpa bisa kami tahan lagi. Sebenarnya kami sangat terkejut saat Lila tiba-tiba masuk kedalam pondok, tapi aku dan Dhee segera menyusul Lila. Sedangkan Zac dan yang lainnya tetap berjaga diluar karena seorang anak buah Scarface belum kembali.

“Apa yang kau inginkan Kyle??” Lila terdengar sangat emosi saat dia mengetahui Kyle lah dibalik semua ini.
“Ohh, kau sudah ada disini ternyata Lila. Padahal aku belum memberitahumu” jawab Kyle sambil tersenyum sinis.
“Kyle, apa yang kau inginkan?? Sampai-sampai kau menculik anakkku..” seketika emosi Lila mereda saat melihat Naima dipelukan Kyle.
“Aku menginginkanmu Lila, aku ingin kau pergi bersamaku”
“Apa maksudmu?? Aku sudah menikah dan itu anakku Kyle. Tidak mungkin aku pergi denganmu” jawab Lila.
“Kau jangan khawatir, kita akan pergi bersama anak ini.. Dengan begitu kau tidak usah bersedih, kau akan tetap bersamanya”

“Kyle, cepat serahkan Naima sekarang??” bentak Dhee.
“Tidak Dhee. Sebelum Lila memastikan kalau dia akan ikut denganku.”
Kalau saja Kyle tidak sedang menggendong Naima, sudah kupastikan aku akan menembaknya. Namun aku tetap berusaha sabar, karena ada Naima bersamanya. Aku takut dia akan melukai Naima kalau kami memaksanya.

“Baiklah, aku kan ikut denganmu Kyle. Ini kulakukan karena aku ingin bersama anakku.” Jawab Lila.
Kyle tersenyum puas mendengar jawaban Lila.
“Sekarang biarkan aku menggendong anakku. Aku sangat mengkhawatirkannya” Lila menjulurkan tanganya.
Tapi Kyle mundur selangkah tidak memberikan Naima langsung kepada Lila.
“Letakkan dulu senjata kalian berdua kelantai, aku tidak percaya sepenuhnya dengan kalian berdua” jawab Kyle sambil menunjuk kearahku dan Dhee.

Dhee memberikan isyarat kepadaku untuk menuruti perintah Kyle. Karena kulihat Zac dan yang lainnya sudah ada dekat pintu. Dan Kyle tidak menyadarinya.
Lalu aku dan Dhee meletakkan senjata kami kelantai.

“Kita sudah melakukannya Kyle..”
“Bagus, kalian ternyata bisa dipercayai juga” jawab Kyle sambil tersenyum.
Lila mendekati Kyle “Aku ingin menggendongnya Kyle, aku sangat merindukannya”
Awalnya Kyle terlihat agak ragu namun akhirnya dia memberikan Naima kepada Lila, karena Naima menangis lagi. Setelah Naima kembali bersama Lila. Lila dengan cepat menjauh dari Kyle.
“Kau ingat janjimu Lila..” Kyle mengingatkan.

“Aku yang akan mengingat janjinya Kyle..”Zac yang muncul tiba-tiba langsung menodongkan senjatanya kekepala Kyle.
“Kau...”
“Beraninya kau menganggu keluargaku. Apa kau lupa bagaimana kami menangkap Red Eye kemarin?? Ternyata kau dan dia sama, sama-sama pengecut Kyle.”
Mendengar kata-kata Zac, Kyle terlihat sangat marah. “Lepaskan aku”
Tapi Eric yang ada didekat Zac langsung memborgol tangan Kyle.
“Kau harus menanggung semua akibatnya, dan kau akan menyesal” Zac menjauh dari Kyle.
“Aku tidak akan menyesal..” Kyle menjawab dengan entengnya.
Zac yang tadi sudah menjauh dari Kyle, kembali mendekatinya. Tiba-tiba melayangkan sebuah pukulan keras kewajah Kyle. “Ini untuk kemarahanku”
Lalu Zac pergi keluar dari pondok itu sambil mengajak Lila yang sedang menggendong Naima.

“Biar kami yang mengurusnya, kalian bertiga kembalilah kerumah Lila dan Zac” perintah Lou kepadaku, Dhee dan Olivia.
“Baiklah” jawab kami bertiga.

Lalu kami bertiga kembali kerumah Lila, begitu juga dengan Lou dan Gale. Hanya Brad, Eric dan Steve yang tidak kembali kerumah Lila. Mereka membawa Kyle dan anak buah Scarface tadi kemarkas kepolisian untuk diproses secara hukum.

***

Dua bulan telah berlalu dari kejadian penculikan Naima yang dilakukan oleh Kyle. Beberapa waktu yang lalu Lila dan Zac juga sudah pindah kerumah baru mereka. Sepertinya keluarga itu agak sedikit trauma sejak kejadian penculikan itu.

Hari ini aku dan Mark juga baru selesai pindahan dari apartemen Mark kerumah baru kami yang terletak sebuah kompleks perumahan mewah di New York. Setelah selesai membereskan pakaian dan beberapa barang, aku dan Mark langsung mandi. Selesai makan malam, aku kekamar untuk beristirahat. Aku merasa kepalaku pusing lagi. Memang beberapa hari ini aku sering sekali merasa pusing, Mark sudah mengajakku untuk kedokter namun karena pusing itu tidak menganggu aktivitasku jadinya aku menolak.

Dikamar aku berusaha untuk tidur, agar pusingnya hilang. Tapi saat aku akan tertidur Mark masuk, sepertinya dia tahu kalau aku pusing lagi..
“Kau kenapa sayang?? Pusing lagi??” dia bertanya sambil berbaring disampingku.
“Aku memang sedikit pusing Mark, itu karena aku kelelahan.”
“Aku ambilkan obat yaa”
“Tidak usah, aku hanya ingin beristirahat dan tidur, besok pagi pasti sudah lebih baik” jawabku.
“Kau yakin sayang??”
Aku mengangguk, “ Iya aku yakin sayang” jawabku.
Lalu aku memejamkan mataku, sedang dia memeluk tubuhku sambil mencium keningku.

Pagi harinya aku terbangun saat sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar menghangatkan tubuhku. Saat aku membuka mataku, aku langsung mencari Mark yang tadi malam ada disampingku.
“Mark, sayang...” aku memanggilnya.
“Iya sayang, kau sudah bangun yaa..”

Kulihat Mark baru selesai mandi, dia langsung mendekatiku, duduk disamping tempat tidur.
“Jam berapa ini?? kenapa kau tidak membangunkanku??”
“Tidurmu nyenyak sekali, aku tidak tega jika harus membangunkanmu sayang” katanya sambil mencium keningku.
“Tapi aku harus kekantor, aku tidak ingin terlambat..”
“Kau ingin masuk kerja?? Apa pusingmu sudah hilang??”
“Umm, sedikit.” Jawabku.
“Apa kau yakin sayang, jika belum juga membaik sebaiknya kita pergi kedokter saja hari ini, aku mengkhawatirkanmu” katanya sambil membelai wajahku.
Aku beranjak duduk disampingnya “Aku tidak apa-apa, percaya padaku sayang” aku mencium bibirnya dengan gemas.

Saat aku menciumnya, Mark lagsung membalasnya ciumanku. Bibirnya mengecap semua bagian mulutku. Lidahnya masuk kedalam mulutku dan menari bersama lidahku didalam sana. Ciuman kami berubah menjadi ciuman yang liar dan panas. Aku mulai mengalungkan tanganku kelehernya. Mark masih menciumku dengan intens, sesekali dia menggigit bibir bawahku. Beberapa saat kemudian Mark melepaskan ciumannya karena nafas kami yang sudah terengah-engah.  

“Sebaiknya kau segera bersiap sayang, jika tidak aku akan membuatmu tidak masuk kekantor hari ini” suaranya terdengar berat ditelingaku.
Aku tersenyum sambil mengangguk, “Ya, aku akan bersiap sekarang “ jawabku.
Lalu aku turun dari tempat tidur, namun saat berdiri tubuhku terasa limbung. Hampir saja aku terjatuh untung Mark memegangi tubuhku.
“Hati-hati sayang”
“Ahh, iya..”

Lalu aku masuk kekamar mandi, saat dikamar mandi kepalaku pusing lagi bahkan saat ini aku merasakan mual. Aku tak dapat lagi menahannya hingga aku muntah.
Saat aku muntah-muntah, Mark masuk kedalam kamar mandi. Dia langsung menutupi tubuhku yang telanjang dengan jubah mandiku.
“Kau muntah sayang, sebaiknya tidak usah kekantor saja, aku akan menelpon Dhee menberitahukan keadaanmu”
“Ini masuk angin Mark, aku baik-baik  saja. Biasanya aku akan merasa lebih enak setelah muntah.”
Karena kau bersikeras tetap pergi kekantor, akhirnya dia mengizinkanku masuk hari ini dengan syarat aku harus menelponnya jika terjadi seseuatu denganku.


***

Sesampainya dikantor aku masuk keruanganku, menyelesaikan pekerjaanku. Namun belum lama aku bekerja, perutku mual lagi, dengan cepat aku bergegas ketoilet. Saat akan keluar ruanganku, aku bertemu Dhee, sepertinya dia akan keruanganku. Karena aku sudah tak tahan lagi tak kuhiraukan Dhee yang memanggilku. Saat didalam toilet aku langsung memuntahkan semuanya. Setelah selesai aku keluar toilet, tubuhku terasa lemah sekali.
“Kau kenapa Sya?? kau muntah??” Dhee menghampiriku sambil memberikan segelas air minum.
“Terima kasih Dhee, aku tidak enak badan. Sudah beberapa kali aku muntah pagi ini. Sepertinya aku ingin pulang saja”
“Kau harus segera kedokter Sya, aku antar ya. Lagi pula kau tidak membawa mobilkan hari ini??”
“Aku akan menelpon Mark saja, aku ingin kedokter sepulang dari sini”
“Baiklah, aku harap kau tidak apa-apa Sya” jawab Dhee sambil menepuk pundakku.
“Terima kasih Dhee”

Lalu kami kembali lagi keruanganku. Aku langsung menelpon Mark, untuk meminta jemput dengannya. Setelah setengah jam menunggu akhirnya Mark datang, aku langsung berpamitan dengan Dhee kemudian pergi kedokter untuk memeriksa kesehatanku yang beberapa hari ini menurun.

Sesampainya aku dirumah sakit aku langsung diperiksa oleh seorang dokter. Setelah hampir satu jam menunggu akhirnya hasil labku keluar. Dokter menyatakan kalau saat ini aku hamil. Sesaat aku dan Mark terkejut saat dokter itu menyatakan aku hamil, namun tak lama kemudian Mark langsung memelukku dan menciumku. Aku tidak percaya, tapi aku sangat bahagia mendengarnya. Menurut perkiraan dokter kehamilanku berusia empat minggu.

Selesai memeriksa keadaanku dan kandunganku, dokter memberikan beberapa resep obat dan vitamin, serta daftar yang boleh ku lakukan dan yang tidak selama aku hamil. Setelah semuanya selesai aku dan Mark pulang kerumah.

“Sayang, aku sangat bahagia saat dokter itu bilang kau hamil. Aku sangat mencintaimu sayang” dia memelukku erat, kemudian mencium keningku dengan lembut.
“Aku juga sangat mencintaimu Mark, sangat mencintaimu”
Dia melepaskan pelukannya dan mengelus perutku “Cepat besar ya sayang” katanya sambil mencium perutku.
Aku tersenyum, kemudian memeluk erat tubuhnya. Ya Tuhan, terima kasih untuk semua kebahagaiaan yang kau berikan kepada keluarga kecilku ini.