Jumat, 13 September 2013

CHAPTER 49

“Emmmm, kakiku sangat pegal. Sebenarnya seluruh tubuhku sangat pegal, tapi kakiku yang paling sakit. Maukah kau memijat kakiku?”

Wajah tampannya langsung terlihat agak kaget dan kesal. Namun ia tetap mau melakukan
permintaanku untuk memijat kakiku. “Baiklah sayang, aku akan melakukannya. Sebentar…”

Gale turun dari tempat tidur, melepaskan sepatu dan jas yang di pakainya. Lalu berjalan menuju ke meja rias dan mengambil sesuatu dari sana dan kembali ke atas tempat tidur.

Dengan perlahan Gale meraih kakiku dan melepaskan sepatu yang masih menempel dikedua kakiku. Lalu ia menuangkan sedikit minyak aroma terapi di kakiku dan mulai memijatnya dengan lembut.

Aku memperhatikan sambil menahan tawa. Karena ekspresi Gale sangat sangat lucu sekali. Aku tahu sekali bahwa ia sedang berusaha keras untuk menahan gairah yang sudah sangat meledak-ledak di dalam dirinya.

“Gale, agak ke atas sedikit. Mengapa kau terus-terusan memijat di tempat yang sama?” tanpa menjawab perkataanku Gale mulai menyingkap gaun pengantinku lebih ke atas.

Sentuhan tangannya mengirimkan getaran-getaran keseluruh tubuhku, sedangkan Gale mulai terdengar menggeram dengan suara yang berat.

Gale mulai terlihat frustasi, namun ia tetap berusaha menahan gairah yang saat ini sedang berkecamuk di dalam dirinya. Setelah sepuluh menit kakiku merasa jauh lebih baik daripada sebelumnya.

“Gale…” panggilku pelan.

“Ada apa, sayang?” jawabnya sambil masih memijat kakiku.

“Sudah cukup, hentikan pijatanmu. Kakiku sudah terasa jauh lebih baik, terima kasih.”

“Apa benar kakimu sudah tidak apa-apa?” tanyanya sambil menatap lekat mataku.

Aku mengangguk, “Sudah Gale, terima kasih.”

"Err bisakah sekarang kita melakukannya?" Tanyanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku, "Aku sudah tidak bisa menunggu lagi, sayang."

Semakin lama Gale mendekatkan wajahnya dan mulai mencium lembut bibirku. Sedangkan tangannya mulai membelai bagian belakang telinga dan tengkukku. Ciumannya semakin dalam, tapi aku berusaha keras agar tidak terbuai dalam sensai ini. Karena aku masih ingin mengerjainya. Sebenarnya aku tidak tega mengerjai Gale, tapi di lain sisi aku ingin sekali mengerjainya. Jangan-jangan ini adalah kemauan dari bayi yang sedang aku kandung ini. Mungkin dia ingin mengerjai Daddynya.

"Gale..." panggilku di sela-sela ciuman kami yang mulai memanas.

"Sabar sayang, aku baru mulai." Bisiknya dengan suara yang berat.

"Gale..." akhirnya aku menarik diri dari ciuman kami.

"Ada apa, sayang?" Tanyanya sambil mengernyitkan kening dan terlihat sangat kecewa sekali. Karena aku menghentikan kegiatannya, seperti seorang anak yang mainannya di rebut oleh anak lain.

"Aku lapar, Gale."

"Aku juga sama sayang, aku lapar akan dirimu."

"Aku serius Gale, aku ingin makan." Timpalku sambil mengerucutkan bibirku.

Gale menghembuskan nafas dengan frustasi, "Apa yang ingin kau makan, sayang? Aku akan membuatkannya untukmu."

"Aku ingin kau membelikanku lasagna dan chocolate smoothies di kafe favorit kita."

Gale membulatkan matanya menatapku, "Tapi jarak kafe itu dengan rumah ini jauh, sayang. Ini juga sudah malam."

"Kafe itu buka dua puluh empat jam, Gale. Pokoknya aku ingin makan itu, aku tidak mau tahu." Aku merajuk.

"Baiklah, aku akan membelikannya untukmu."

Gale berjalan ke kamar mandi, lalu beberapa saat kemudia ia keluar sudah dengan pakaian casualnya. Setelah pamit ia pun pergi untuk membeli makanan yang aku inginkan.

Sepeninggalan Gale aku memutuskan untuk membersihkan seluruh badanku yang sudah sangat lengket. Setelah mandi dan berpakaian tubuhku terasa jauh lebih segar. Sambil menunggu kedatangan Gale aku berbaring di atas tempat tidur sambil membaca sebuah buku. Namun rasa kantuk itu datang menyerangku. Dan aku sudah tak sanggup lagi membuka kedua mataku untuk lebih lama lagi. Akhirnya aku menyerah dan tertidur karena kelelahan.

***

GALE

Aku tak menyangka bahwa di malam pengantinku aku harus berkeliaran di malam hari untuk mencarikan makanan yang di minta oleh istriku tercinta. Ya, sebenarnya Dhee tidak sepenuhnya salah karena saat ini ia memang sedang mengandung anakku.

Andai saja Dhee tidak hamil saat ini aku pasti sedang melancarkan semua rencana untuk menikmati malam pengantin yang sudah aku rancang sejak lama. Tapi ternyata kesabaranku sedang di uji saat ini. Aku harus rela menahan semua hasrat yang sudah sejak lama menyala di tubuhku.

Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh lima menit akhirnya aku sampai di kafe yang biasa kami datangi. Aku langsung memesan makanan dan minuman yang di minta oleh Dhee. Setelah mendapatkan pesananku, aku langsung bergegas pulang.

Sesampainya di rumah aku langsung menata makanan dan minuman yang baru saja kubeli ke piring dan gelas. Setelah itu aku segera bergegas menuju ke kamar untuk segera memberikan makanan dan minuman ini untuk istriku tercinta.

Dengan bersemangat aku membuka pintu kamar. Namun tubuhku langsung lesu, karena aku mendapati istri cantiku sedang berbaring sambil menutup kedua matanya dengan nafas yang teratur.

Aku berjalan lemas menuju meja yang berada di depan sofa dan menyimpan nampan yang aku pegang. Lagi-lagi aku hanya bisa menghembuskan nafas untuk menghilangkan rasa kesal dan kecewa yang mulai menyesaki dadaku. Selama berjam-jam aku hanya memandangi nampan yang berada di hadapanku dan istriku yang sedang terlelap dengan begitu pulas. 

Aku memang merasa lelah namun mataku tetap tak bisa kupejamkan. Akhirnya aku memutuskan untuk memakan lasagna dan menghabiskan chocolate smoothies yang aku beli tadi. Hari ini benar-benar membuatku sangat kelaparan. Aku memakan lasagna itu dengan lahapnya, biarlah nanti aku membelinya lagi jika Dhee masih menginginkan lasagna dan chocolate smoothies ini. Dan setelah semuanya habis aku tertidur di atas sofa karena lelah secara lahir dan batin.

***

DHEE

Mataku terbuka dengan perlahan-lahan, aku berusaha menyesuaikan penglihatanku di ruangan ini. Ah, maksudku kamarku dan Gale di rumah baru kami. Aku mengedarkan pandanganku kesekeliling, tapi aku tak mendapati Gale di sampingku.

Lalu aku turun dari tempat tidur. Dan menemukam Gale sedang tertidur di atas sofa. Dan... Oh astaga ia menghabiskan semua lasagna dan chocolate smoothiesku. Aku langsung merasakan perasaan marah ketika mengetahui Gale memakan makananku itu.

Dengan gemas aku membangunkannya. Aku akan meminta Gale untuk membelikannya kembali. Dan ia harus mau.

"Gale... ayo bangun." Aku mengguncang-guncangkan tubuhnya. Tapi Gale tak bergeming. "Galeeeee, ayo bangun." Aku berteriak sambil mencubiti perutnya dan sesekali menggelitikinya hingga akhirnya Gale membuka matanya.

"Ya ya aku bangun, ada apa sayang? Kau tahu bahwa aku baru tidur selama satu jam saja. Biarkan aku tidur sebentar lagi." Ucapnya sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Aku berkacak pinggang sambil memandangnya sinis. Aku benar-benar sangat kesal sekali. Gale menghabiskan makananku, rasanya aku ingin menangis saja. Tapi tidak, aku tidak akan menangis. Aku akan memarahi Gale.

"Mengapa kau menghabiskan makananku?" Tegurku dengan suara yang terdengar dingin.

Namun Gale hanya mengernyitkan keningnya, "Makanan apa, sayang?"

Ya ampun Gale malah bertanya makanan apa? Argh, aku semakin kesal dengan kelakuannya pagi ini. Tanpa berkata-kata aku memutuskan untuk pergi ke kamae mandi sambil menghentak-hentakan kakiku. Biar saja ia heran kenapa aku bersikap seperti ini.

Aksi diamku masih terus berlanjut ketika kami sedang berada di dalam pesawat yang menuju ke Maldives. Aku memang sudah lama sekali ingin pergi ke Maldives, menikmati sinar matahari dan menggelapkan kulitku. Tapi saat ini aku masih kesal dengan Gale. Sangat sangat kesal.

"Sayang, sebenarnya kau kenapa? Aku perhatikan sejak tadi pagi kau menekuk terus wajah cantikmu itu." Aku hanya mendelikkan mataku lalu segera mengalihkan pandanganku keluar jendela pesawat.

Gale terlihat mengacak rambutnya dengan frustasi melihat sikapku yang masih saja mengacuhkannya. Aku bisa melihat dari ujung mataku bahwa Gale berkali-kali melirikku dengan sikap yang canggung dan serba salah.

Tiba-tiba Gale merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya, "Sayang, kumohon jangan seperti ini. Kumohon katakan kepadaku jika aku melakukan kesalahan kepadamu. Jangan diam seperti ini, kau benar-benar membuatku gila sayang."

Entah mengapa mendengar kata-katanya itu tiba-tiba saja aku menangis terisak di dalam pelukannya. Aku benar-benar tidak mengerti dengan perubahan suasana hatiku akhir-akhir ini. Tak jarang aku merajuk hanya karena masalah yang sangat kecil sekali.

"Sayang, jangan menangis."

"Aku kesal kepadamu, Gale..." ucapku di sela-sela isak tangisku, "Aku kesal karena kau menghabiskan lasagna dan chocolate smoothies milikku."

Mendengar ucapakanku itu Gale langsung menangkup wajahku dengan kedua tangannya yang besar itu, memaksaku untuk menatap wajahnya. "Jadi kau mengacuhkanku selama berjam-jam karena masalah itu, sayang?" Aku mengangguk lemah, "Astaga sayang, mengapa kau tidak mengatakannya. Jadi sebelum kita ke bandara kita bisa mampir dulu kesana."

"Ma-afkan aku, Gale." Isakku.

Gale langsung memelukku erat, "Maafkan aku sayang, seharusnya aku bisa lebih peka.  Apalagi saat ini kau sedang mengandung bayiku." Ungkapnya sambil mengecup puncak kepalaku berkali-kali.

***

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Akhirnya kami sampai juga di Maldives. Sebuah vila yang letaknya lebih menjorok ke arah laut menjadi pilihan kami. Vila ini cukup luas, di lengkapi dengan fasilitas yang canggih dengan furniture yang minimalis namun terlihat begitu elegan.

Bagian favoritku di vila ini adalah terasnya yang langsung menyajikan pemandangan laun yang sangat indah sekali. Ada sebuah sofa putih berukuran besar di sana. Tempat ini benar-benar indah sekali. Aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.

Sore itu aku sedang menikmati suasana sekitar yang benar-benar indah. Semburat jingga yang muncul menambah suasana di tempat ini menjadi romantis.

Tiba-tiba Gale memelukku dengan lembut dari belakang, "Apakah kau senang berada di sini, sayang?" Ucapnya tepat di telingaku.

"Aku sangat senang Gale, terima kasih. Tempatnya benar-benar sangat indah sekali." Ucapku sambil membalikkan tubuhku menghadapnya.

"Apapun akan aku lakukan untuk membahagiankanmu, sayang. Asalkan aku bisa melihat kau tersenyum. Aku sangat mencintaimu istriku."

"Aku lebih lebih mencintaimu suamiku." Lalu kami berdua berciuman dengan sangat lembut. Sama-sama ingin mengungkapkan dan menunjukkan apa yang sedangan kami rasakan saat ini.

Tuhan, terima kasih atas kebahagian yang tak terkira ini. Aku akan selalu berdoa agar semua ini tetap abadi hingga maut memisahkan kami berdua.

-The End-

CHAPTER 48

"Sayang, apa kau sudah siap?"

"Iya, aku sudah siap, Gale."

Hari ini hari pertamaku dan Gale mulai bekerja kembali setelah beberapa hari berada di Malibu untuk berlibur. Aku sudah tidak sabar ingin memberitahu kedua sahabatku Lila dan Asya tentang pertunangan kami.

Aku tersenyum ketika teringat momen saat Gale melamarku di pantai. "Kehadiranmu membuat Mommy dan Daddy bahagia, sayang. Karena kehadiranmu pula kau sudah merubah kekerasan hati Mommy." Bisikku sambil mengelus perutku yang masih rata perlahan.

"Sayang kau kenapa? Apa perutmu sakit?" Gale menghampiriku dengan wajah yang terlihat cemas.

"Aku tidak apa-apa, Gale. Kami berdua baik-baik saja." Aku tersenyum sambil mengelus pipinya, "Aku hanya merasa kehadiran bayi ini telah merubah segalanya. Selama ini aku selalu menghindar ketika kau ingin malamarku. Tapi sekarang, aku ingin segera menjadi Mrs. Harold."

"Itu akan segera terjadi, sayang. Kalau kau mau besok kita bisa menikah, bagaimana?" Gale meraih tubuhku merapat ke tubuhnya dan menatapku dengan tatapan penuh harap.

"Tidak secepat itu juga, sayang. Kita tetap pada rencana, tiga minggu lagi." Aku tertawa geli melihatnya, "Aku tetap akan menjadi istrimu, Gale." Lalu aku mengecup pipinya sekilas.

Gale menundukkan kepalanya sehingga kening kami saling menempel."Aku sudah tidak sabar untuk menjadikanmu milikku satu-satunya, sayang. Kau dan bayi kita. Kalian sangat berharga bagiku. Aku mencintai kalian berdua."

"Aku juga mencintaimu, Gale."

Dengan lembut Gale mencium bibirku. Aku melingkarkan kedua tanganku di lehernya dan membalas ciumannya lalu mengelus tengkuknya. Sehingga dengan cepat ciuman kami berubah menjadi panas. Lidahnya menerobos masuk ke dalam mulutku yang terbuka. Lidah kami saling bertautan dan mencecap rasa masing-masing.

Gale meremas pinggangku dengan lembut dan penuh gairah. Mengalirkan jutaan volt aliran listrik keseluruh tubuhku. Tangannya mengelus punggungku dan memelukku erat, sehingga tubuh kami semakin menempel. Sedangkan mulutnya masih mengeksplorasi bibirku. Nafasku terengah-engah begitu juga dengan Gale, ketika ciuman kami terlepas. Kening kami masih menempel ketika kami berusaha mengatur nafas.

"Sebaiknua kita segera berangkat, sayang. Atau kita akan sangat terlambat datang ke kantor." Bisiknya setelah nafas kami kembali normal.

"Aku akan bilang pada Lou kalau kau yang membuat kita terlambat." Kataku sambil tertawa dan membelai pipinya.

"Hei, aku juga akan mengatakan bahwa kaulah yang membuat aku jadi penyebab kita terlambat. Karena percintaan panas kita semalam. Bagaimana, sayang?" Jawabnya sambil menyeringai nakal.

"Itu pasti akan menjadi alasan terkonyol yang pernah Lou dengar. Kalau begitu kita harus pergi sekarang, sayang." Aku tertawa geli membayangkannya.

Sambil tertawa kami turun dan keluar apartemen. Gale membukakan pintu mobil dan sebelum aku masuk ia kembali mengecup bibirku sekilas. Rasa cinta dan sayang yang mendalam terpancar jelas dari mata dan perlakuannya kepadaku.

***

Di markas aku dan Gale langsung menemui kedua sahabatku Lila dan Asya. Mereka berdua sedang bersama Zac berkumpul di ruangan Lila.

"Hai Lila, Asya, Zac. Apa kami berdua boleh masuk?" Ucapku sambil mengintip dari balik pintu.

"Dhee, Gale... Tentu saja boleh, Dhee. Kau ini ada-ada saja." Lila menghampiri kami lalu memelukku erat, "Bagaimana kabar kalian berdua dan juga calon keponakanku ini?"

"Kami baik-baik saja, Lila." Aku menjawab pertanyaan Lila setelah pelukannya terlepas.

"Aku kira kalian berdua belum kembali dari liburan."

"Tadi malam kami baru sampai, Sya."

"Sepertinya kalian berdua membawa kabar bahagia." Zac menyipitkan matanya menatap kami berdua secara bergantian.

"Sok tahu kau, Zac." Jawab Gale sambil tertawa melihat tingkah Zac

"Yang benar, Gale? Wajah kalian terlihat semakin berseri-seri. Terutama kau Gale, tidak sepertu biasanya."

"Iya Zac, kau benar. Kalian tahu Dhee sudah menerima lamaranku." Gale tersenyum melingkarkan tangannua di bahuku.

"Wah, benarkah itu, Dhee?"

"Iya La, aku sudah menerima lamaran Gale." Kataku sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisku.

Lalu Asya dan Lila langsung memelukku.

"Selamat ya, untuk kalian berdua. Ini kabar yang kami tunggu-tunggu sejak lama."

"Terima kasih."

"Akhirnya kalian berdua bertungan juga, ya. Aku ikut bahagia."

"Iya, terima kasih Zac."

"Jadi kapan rencananya kalian akan menikah? Jangan lama-lama nanti perutmu semakin membesar, Dhee."

"Tiga minggu lagi, Sya."

"Wah sebentar lagu. Kalian pasti sangat sibuk sekali menyiapkannya. Kalau perlu bantuan kami katakan saja."

"Iya, kau jangan terlalu lelah, Dhee. Ingan kandunganmu."

"Aku mengerti, terima kasih untuk semuanya."

Dan sejak hari itu, aku dan Gale sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk persiapan pernikahan kami. Untung saja Lila, Asya, Mark dan Zac mau membantu kami mempersiapkannya. Gaun pengantin dan semua persiapan lainnya sudah siap semua. Karena tidak banyak orang yang kami undang, mengingat aku dan Gale adalah seorang secret agent.
Meskipun Gale masih tetap berprofesi sebagai seorang aktor.

Hari pernikahanpu tiba. Halaman belakang dari rumah yang sudah di beli Gale saat ini sudah berubah menjadi bernuansa serba putih. Banyak sekali bunga mawar putih dimana-mana, tempat ini di sulap menjadi tempat yang sangat indah sekali. Kedua sahabatku mengenakan gaun putih sebagai pengiringku. Aku sangat gugup sekali dengan semua ini. Namun orang-orang yang aku sayangi selalu mendukungku dan menguatkanku.

Papa mengiringiku berjalan menuju ke tempat Gale berdiri saat ini. Semua mata yang terfokus kepadaku membuatku semakin merasa gugup. Namun semua perasaan itu hilang ketika Papa menyerahkan tanganku kepada Gale. Gale tersenyum menggoda ketika aku sudah berada di dekatnya.

Dan upacara yang sakral itupun segera di laksanakan.

"When the day turns into light, I look into your eyes. I see my future now. All the world and its wonder. This love won't fade away and through the hardest days I'll never question us. You are the reason, my only reason." Ucap Gale dengan mantap sambil terus menatapku.

Lalu aku membalas ucapannya tersebut, "I am blessed of what I need in a world loosing hope. You're my only believe. You make things right everytime after time. I love you." Ketika aku selesai Gale langsung mencium bibirku dengan sangat lembut sekali. Para hadirin pun bertepuk tangan memberikan selamat kepada kami.

"Aku ingin menyanyikan sebuah lagu untuk kedua mempelai. Semoga kalian berdua dan para tamu undangan menyukainya. Selamat menikmati." Mark turun dari panggung dan bergegas menuju ke sebuah piano yang memang sengaja di persiapkan.

Mark mulai memainkam jari-jarinya dengan lihai di atas tuts piano. Musik yang romantis pun mulai mengalun dengan lembut.

"Nothing's impossible, nothing's unreachable, when am I weary. You make me stronger, this love is beautiful so unforgettable. I feel no winter cold when we're together, when we're together." Suara Mark yang merdu dengan alunan musik yang lembut membuatku ingin berdansa dan ternyata Gale tahu keinginanku. Dengan lembut Gale mengajakku berdansa  "Will you stand by me? Hold on and never let me go. Will you stand by  me? With you I know I belong. When the story gets told, when the days turns into the night I look into your eyes I see my future now. All the world and its wonder." Lirik yang sangat indah terus mengalun, membuat suasana menjadi sangat romantis sekali. Aku menatap wajah Gale yang tampan suamiku tercinta. "This love won't fade away and through the hardest days I'll never question us. You are the reason, my only reason. I am blessed of what I need in a world loosing hope. You're my only believe. You make things right everytime after time." Para tamu ikut berdansa mengikuti alunan musik. Dan ketika Mark mengakhiri lagunya semua tamu memberikan tepuk tangan yang meriah sekali.

"I love you with all of my heart amd all of my soul my beautiful wife." Bisik Gale lembut.

"And I love too my gorgeous husband, thanks for this greatest moment you've gave to me."

Lalu Galr kembali menciumku dengan sangat lembut. Namun ciumannya itu langsung berubah menjadi panas ketika lidahnya berusaha menelusup masuk ke dalam mulutku. Tangannya mulai meremaa pinggangku dengan lembut. Aku bisa merasakan nafasnya yang mulai terengah.

"Cepat masuk ke kamar saja kalian berdua. Disini masih banyak tamu." Suara Zac langsung menyadarkanku dan aku segera melepaskan pagutan bibir Gale.

"Hai, kalian rupanya." Sapaku dengan wajah yang memerah.

"Selamat ya Dhee, aku bahagia melihatmu akhirnya menikah juga dengan Gale." Asya memeluk sambil mengucapkan selamat kepadaku.

"Terima kasih, Sya. Ini semua berkat dorongan dari kalian."

"Bukan Dhee, semua ini berkat bayi yang sedang kau kandung saat ini."

"Kau benar, Sya." Aku menjawab sambil mengelus perutku.

"Kapan kalian akan pergi berbulan madu?" Lila yang sedang menggendong Naima menghampiriku.

"Sepertinya besok, La. Halo sayang, kau cantik sekali hari ini." Aku mencium pipi Naima yang tembem. Sangat menggemaskan sekali, "La, bolehkah aku menggendong Naima?"

"Tentu saja, tapi Naima sangat berat sekali seranga, Dhee. Hati-hati, ya." Ucap Lila sambil memberikan Naima kepadaku.

"Tentu saja aku akan berhati-hati, La."

Menggendong Naima membuatku ingin segera melahirkan bayi kami. Aku penasaran apakah bayi kami akan mirip aku atau Gale. Sangat menyenangkan sekali rasanya jika bisa melahirkan bayi yabg sehat seperti Naima.

Tak terasa pesta pun usai dan semua tamu undangan sudah pulang. Gale memutuskan untuk berangkat berbulan madu besok. Alasannya kareba dia tidak ibgin aku kelelahan karena harus menempuh perjalanan panjang setelah pesta pernikahan kami usai. Gale tidak ingin terjadi sesuatu denganku dan bayi kami.

Gale menggendongku memasuki kamar kami yang berada di lanrai dua. Sebuah kamar dengan ukuran yang sangat luas dengan sebuah tempat tidur berukuran king size di tengahnya. Dekorasi kamar ini sangat indah, hangat dan romantis. Dengan dominasinwarna broken white, ada sebuah TV plasma berukuran besar serta sofa melingkar dengan ukuran yang cukup besar berwarna coklat yang sangat empuk sekali. Secara keseluruhan aku sangat menyukai segala hal yang ada di rumah ini. Gale benar-benar tahu dengan pasti apa yang aku sukai.

Gale menurunkanku di atas tempat tidur dengan perlahan, lalu ia ikut berbaring di sampingku, tangannya langsung asyik mengelus-elus perutku.

"Gale..."

"Ada apa sayang?" Tanyanya sambil menatap lekat mataku.

"Ayo kita berjalan-jalan keliling rumah. Ini kali pertama aku menginjakkan kakiku di rumah ini."

"Tidak sekarang sayang, nantin saja. Setelah kita pulang berbulan madu kita bisa mengelilingi rumah ini sepuasnya."

"Ayolah... kumohon..." aku memasang wajah memelas.

"Tidak sayang, ini malam pertama kita," ucapnya sambil mendekat ke wajahku. Gale terlihat sangat bergairah sekali. Namun ketika bibirnya hampir menempel di bibirku...

"Gale..." sontak Gale langsung memberi jarak di antara wajah kami.

"Ada apa sayang?"

***