Minggu, 27 Januari 2013

CHAPTER 26

***

Pagi ini Lou mengumpulkan kami di ruang pertemuan. Dan biasanya jika Lou sudah mengumpulkan kami di sini pasti akan ada hal penting yang di sampaikan.

“Apakah sudah berkumpul semuanya?“ Lou membuka suara.

Otomatis kami semua langsung memeriksa siapa yang belum datang. Dan ternyata Zac dan Lila belum terlihat, mungkin mereka belum terlalu sehat.

Tiba-tiba pintu ruang pertemuan terbuka. Ternyata Zac dan Lila yang datang. Wajah Lila masih terlihat agak pucat.

“Maafkan kami terlambat Lou.“ Zac meminta maaf.

“Tidak apa-apa Zac, kebetulan kami belum mulai. Sebaiknya kalian segera duduk.“

Zac dan Lila pun langsung menuju ke kursi yang masih kosong. Aku langsung menyapa Lila karena ia duduk di sampingku.

“Kau masih terlihat pucat, La. Mengapa datang ke kantor, seharusnya kau beristirahat saja.“

“Mana mungkin aku berdiam diri di atas tempat tidur Dhee, sedangkan ada kasus besar yang harus kita tangani.“

“Kasus besar?“

“Zac menceritakan kepadaku apa yang dia dan Steve temukan di California. Pasti Lou akan memberitahukannya.“

Setelah itu Lila langsung terdiam memperhatikan Lou. Aku jadi mengira-ngira di dalam hati. Apa yang terjadi sebenarnya sampai-sampai membuat Lila yang belum sehat memaksakan diri untuk datang ke kantor??

Ternyata benar saja kasus yang sedang sedang di jelaskan oleh Lou ternyata sangat gawat. Pantas saja Lila datang, karena kasus ini melibatkan bom yang bukan sembarang bom.

Semua orang di dalam ruangan terlihat begitu tegang. Zac dan Steve bergantian menjelaskan setiap penemuan yang di temukan oleh mereka.

Aku kaget karena target para teroris ini adalah Gedung Putih, mereka bermaksud melakukan penyerangan saat pertemuan para petinggi setiap negara yang akan di laksanakan bulan depan.

Belum lagi hal yang sangat mengejutkan kami adalah Steve memukan sebuah peta. Dan ternyata peta itu adalah peta sebuah gedung. Peta markas kami.
Selain akan melakukan penyerangan di gedung putih ternyata para teroris itu juga berniat untuk melakukan pernyerangan terhadap markas kami.

Ya Tuhan, kepalaku langung sakit memikirkannya. Waktu yang kami miliki sangat sedikit untuk menyiapkan semuanya. Belum lagi kami harus melakukan berbagai penyelidikan.

Pikiran kami terbagi-bagi karena kami harus membagi dua pasukan kami untuk melekukan pengamanan di Washington DC dab New York.

Aku melirik Lila ia terlihat berpikir keras. Bom atom Uranium, aku tahu Lila pasti sedang memikirkan dampak dan kekuatan bom ini jika meledak. Karena Lila seorang perakit dan penjinak bom handal.

Ini pasti akan menjadi tugasnya untuk menjinakan bom itu. Kami semua yang berada di ruangan ini berusaha untuk bersikap tenang. Meskipun sebenarnya aku dan teman-teman yang lain sangat-sangat tegang dan tertekan.

“Jadi seperti itu, lusa kita akan mengadakan pertemuan dengan para agent rahasia dari berbagai negara. Karena ini bukan ancaman yang kecil. Kita juga membutuhkan bantuan dari mereka, karena kita akan melakukan pengamanan di sini dan New York.“

“Lou tapi kita harus mencari orang yang sangat mengerti tentang bom.“

“Kau tenang saja Zac, karena kita memiliki seorang perakit dan penjinak bom yang sangat handal.“

“Benarkah? Siapa, apakah aku mengenalnya?“

Lou tersenyum geli mendengar pertanyaan Zac. Rupanya Zac belum tahu bahwa kekasihnyalah orang yang di maksud oleh Lou.

“Kau benar-benar tidak tahu, Zac?“ akhirnya aku ikut berbicara, sedangkan Lila tetap sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Aku tidak tahu, Dhee.“

“Zac, Lila adalah seorang perakit bom dan penjitak bom yang sangat handal.“ jelas Lou mantap.

Mata Zac langsung membulat terkejut karena mendengar penjelasan Lou. “Apa? Lila? Sayang, apakah itu benar?“

Namun Lila hanya mengacungkan jari telunjuknya sebagai tanda bahwa ia sedang tidak ingin di ganggu. Seperti itulah Lila jika kita sedang berhadapan dengan yang namanya bom.

“Sudahlah Zac, Lila memang seperti itu jika sedang berpikir.“ Asya menjelaskan.

“Sudah, sebaiknya kita lanjutkan lagi. Biarkan saja dulu Lila seperti itu. Dhee aku mempercayakanmu untuk memimpin tim para agent rahasia yang handal dalam bidang IT dan untuk urusan persenjataan aku akan mempercayakannya kepadamu Asya. Dan untuk yang lainnya akan di putuskan nanti, kalau begitu pertemuan ini selesai. Aku sangat mengharapkan kerjasama dari kalian. Baiklah sampai disini saja karena banyak sekali yang harus kita kerjakan.“

Lou menutup rapatnya, satu persatu kami mulai keluar dari dalam ruangan. Tapi tidak dengan aku, Asya, Lila, Zac dan Gale. Kami masih berada di dalam ruang pertemuan.

“Lila, sudahlah jangan terlalu di pikirkan. Akan ada banyak penjinak bom yang membantumu.“

“Aku hanya sedang mikirkan dampak dari bom itu, Dhee. Ya Tuhan, bagaimana jika aku tidak bisa menjinakkannya. Berapa puluh ribu nyawa yang akan jadi korban. Belum lagi efek dari ledakan ini bisa memberikan dampak hingga 4 KM dari pusat ledakan.“

Yang di katakan Lila memang benar, wajar saja jika dia terlihat tertekan memikirkan semua ini.

“Jadi apa yang akan kau lakukan?“

“Berdoalah agar bom itu bisa di ledakan menggunakan remot. Dengan begitu kita bisa menahannya dengan cara mematikan seluruh jaringan. Sehingga aku memiliki waktu untuk menjinakannya. Dan ini tugasmu Dhee. Aku bergantung padamu.“

2 komentar:

  1. waduh…berat nih berat bgt kasusnya
    baru meeting ajj udah bikin sakit kepala

    Ayo mikir keras apa yg hrs dilakukan ><

    Bergantung pada keahlian Dhee, Lila dan Asya nih.
    Keren jg kita memimpin cwok2 ganteng nnti hehe

    Next chapter menguras pikiran dan tenaga ini
    Semoga sukses!!

    BalasHapus
  2. Astagaa,..
    Berat nih kasusnya ckkckck
    Sampe2 butuh kekuatan penuh ini.
    sangat memusingkan..

    kasian Zac tuh dicuekin sama Lila.
    Lila sih kalo udh mikir keras suka lupa diri.
    Zac aja dilupain itu :D

    Ayo semangat, kita pasti bisa..

    BalasHapus