Adam begitu lembut memcium bibirku. Lidahnya bertautan dan menari-nari bersamaan dengan lidahku.
Aku menelusupkan jari-jariku di rambutnya. Aku tahu bahwa ini salah, aku tidak boleh melakukan hal ini. Tapi ternyata tubuhku berkhianat.
Ketika aku semakin larut dalam kenikmatan ini. Tiba-tiba ada suara yang menyadarkanku. Ternyata Eric melihatku ketika sedang berciuman dengan Adam.
Eric langsung menarik tubuh Adam dan menarik kerah bajunya. Kemarahan terpancar jelas di matanya.
“Sudah Eric hentikan. Jangan membuat keributan disini, Adam tidak bersalah. Karena aku juga menyambut ciumannya.“
Eric melepaskan cengkramannya, “Tapi dia menyakitimu Dhee, dia membuatmu menangis.“
“Bukan Adam yang membuatku menangis. Sebaiknya kau lihat saja apa yang sudah Adam temukan.“
Eric langsung berjalan mendekati laptop milik Adam. Eric sepertinya sangat shock juga.
“Ya Tuhan, ini tidak mungkin. Bagaimana mungkin kalian...“ Eric menghentikan kata-katanya.
“Aku menangis karena mengkhawatirkan keadaan kedua sahabatku, Eric. Apalagi saat ini Lila sedang berada di New York, Lila sedang berada dalam jarak yang dekat sekali dengan para teroris itu.“
“Maafkan aku Dhee. Sudahlah, aku minta kita lupakan saja apa yang sudah terjadi ini. Sebaiknya kita kembali lagi bertugas.
Kepalaku berdenyut-denyut dan terasa sangat sakit sekali. Ya Tuhan, bagaimana bisa aku berciuman dengan Adam seperti itu, aku sudah mengkhianati Gale.
Hatiku terasa sangat sakit sekali. Saat ini aku harus lebih berwaspada. Agar kejadian tadi tidak terulang lagi.
Setelah itu kami mulai fokus kembali. Sampai pagi menjelang kami semua belum menemukan apa-apa.
Akhirnya kami memutuskan pulang dan beristirahat dahulu. Tentu saja kami juga menyebar beberapa orang untuk memantau. Sehingga aku bisa terus memantau keadaan di luar sana.
Dua hari kemudian Lou, Olivia, Lila dan Zac kembali ke Waahington DC. Aku melihat ada beberapa luka kecil di wajah Lila. Dan itu membuatku semakin takut, apakah Lila sudah mengetahui bahwa dirinya menjadi salah satu yang di incar oleh komplotan teroris itu atau belum.
Siang itu kami memutuskan untuk berkumpul di apartemen aku dan Asya. Lou, Olivia, Lila dan Zac terlihat kelelahan.
“Jadi apa yang terjadi disana sampai-sampai kalian tidak mengabari kami disini.“
“Keadaan disana sangat kacau. Pintu masuk ke markas di tutup dan aksesnya dimatikan, Dhee.“
“Lalu bagaimana caranya kalian bisa masuk?“
“Menggunakan bom, Eric. Karena itu jalan satu-satunya agar kami bisa masuk.“
“Lalu ada apa dengan wajahmu, La?“
“Ini terkena serpihan kaca, Sya.“
“Para teroris itu berusaha membobol server markas. Namun sebelum itu terjadi Olivia berhasil memblokirnya.“
“Keadaan di dalam bagaimana?“
“Sangat kacau Gale, ada beberapa korban tewas dari pihak kita. Selain itu mereka menyimpan beberapa bom waktu di beberapa tempat. Kalian tahu bahwa ada penyusup di markas kita.“
“Penyusup? Apa maksudmu, Zac?“ aku mengernyit tidak mengerti.
“Ternyata Liza adalah kaki tangan para teroris itu. Dia memberikan peta dan akses masuk ke dalam gedung.“ Lou menjelaskan.
“Lou apakah kau sudah tahu apa yang mereka cari disana?“
“Kami tidak tahu Adam, hanya saja mereka terus mengincar Lila.“
Lalu Adam memberikan laptopnya kepada Lou, “Bacalah apa yang aku temukan dua hari yang lalu.“
Lou, Olivia, Lila, dan Zac langsung mengalihkan perhatiannya pada laptop milik Adam.
Ekspresi wajah mereka langsung berubah menjadi tegang. Zac lebih lebih, karena syok mengetahui nyawa kekasih tercintanya sedang terancam.
“Ba-bagaimana bisa kalian bertiga menjadi target para teroris itu?“ Zac mengacak-acak rambutnya dengan gusar.
“Sayang, tenanglah.“ Lila menangkan Zac.
“Bagaimana aku bisa tenang, sedangkan di luar sana ada orang yang mengincar nyawa kekasihku.“
Suasana di apartemen setika berubah menjadi tegang. Sepertinya semua orang mulai sibuk dengan pikirannya masing-masing.
“Zac kau bisa mendampingi Lila mencari bom itu di simpan aku akan menambahkan beberapa tim lagi untuk kalian bertiga. Gale kau bersama Dhee dan Eric kau bersama Asya. Aku harap dengan begini akan membuat kalian lebih tenang. Dan kita mulai bergerak lagi.“
Sekarang kami mulai menyusun kembali strategi. Kembali memeriksa rute-rute dan tempat-tempat yang memungkinkan untuk di jadikan tempat persembunyian para teroris.
Setelah berminggu-minggu melakukan penyelidikan dan penyisiran. Akhirnya kami berhasil menemukan tempat untuk bom itu di ledakan. Dan bom itu bisa di ledakan menggunakan sebuah remote.
***
Kasus kali ini benar-benar sangat menguras tenaga dan pikiranku. Bukan hanya aku, tapi semua orang di dalam tim di buat kelabakan oleh ulah para teroris itu.
Beberapa jam menjelang konfrensi di Gedung Putih kami semakin gencar melakukan pencarian dan pengamanan.
Aku dan Zac bergegas menuju ke pusat kota Washington DC. Hari ini hari Sabtu dan keadaan kota sangat ramai, jalanan padat oleh kendaraan.
“Dhee, berapa menit lagi waktu yang aku butuhkan untuk mencari bomnya?... Baiklah, kalau begitu bisakah kau mematikan semua jaringannya?... Aku mengerti Dhee.“
“Bagaimana? Berapa banyak waktu yang kita butuhkan?“
“Dua puluh menit Zac, Dhee membutuhkan waktu sepuluh menit untuk mematikan semua sistem jaringan di kota.“
“Dan pertemuan di Gedung Putih akan di mulai setengah jam lagi.“
“Percayalah bahwa kita bisa menangani semua ini.“
Mendekati pusat kota kami mulai terjebak kemacetan yang sangat panjang dan padat sekali.
“Sebaiknya kita turun dari mobil. Sepertinya Dhee sudah berhasil mematikan semua sistem jaringan.“
“Baiklah, apakah kau sudah siap sayang?“
Aku mengangguk dengan pasti. Setelah memasang semua perlengkapan dan persenjataan selesai, kami berdua bergegas untuk segera keluar dari dalam mobil.
Keadaan disitu memang mulai kacau karena orang-orang mengeluh ponsel mereka mati dan tidak ada sinyal.
Kami berlari kesana kemari sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kami.
Ayolah, dimana letak bom itu.
Otakku berpikir keras. Berbagai bayangan berkelebatan di dalam kepalaku.
“Zac, aku tahu dimana bom itu di letakan. Ayo.“
Aku langsung berlari menuju kesebuah bis dengan kode KS109 yang terpampang jelas di kaca depan bisnya. Sedangkan Zac mengikutiku dari belakang.
“Dimana letak bom itu?“
“Di bis dengan kode KS109 Zac. Ayo cepat.“
Aku langsung menghentikan bis tersebut dan masuk ke dalam. Sedangkan Zac langsung memeriksa bagasi di kedua sisi bis.
“Aku mohon tinggalkan bis ini sekarang.“
Tapi para penumpang bis malah terdiam dan memandangiku. Aku menghela nafas sampai akhirnya aku mengeluarkan pistol dan mengacungkannya ke udara.
“Cepat tinggalkan bis ini. SEKARANG.“ aku berteriak.
Melihat aku mengeluarkan pistol, para penumpang itu langsung panik, histeris dan berhamburan keluar. Aku langsung memeriksa setiap sudut kursi penumpang tapi tidak menemukan apa-apa.
Aku langsung bergerak menuju ke bagian belakang bis. Di sana aku menemukan sebuah tas besar berwarna hitam.
Aku membukanya sedikit untuk meyakinkannya. Ternyata tas ini memang berisi bom atom uranium.
“Aku tidak menemukannya di bagasi, sayang.“
“Aku sudah menemukannya. Ayo kita harus segera pergi dari sini. Perasaanku mengatakan bahwa para teroris itu berada di dekat sini.“
Zac mengambil alih tasnya, lalu kami mulai berjalan keluar dari dalam bis. Belum terlalu jauh kami mendengar sebuah suara tembakan.
Aku dan Zac berlari untuk menghindari peluru-peluru itu. Rupanya para teroris itu melihat kami membawa bomnya.
“Kita berlindung di sana.“
Zac menarikku untuk berlindung di balik mobil yang berada di sana. Gencatan senjatapun tak dapat di hindari. Jumlah mereka cukup banyak sedangkan kami hanya berdua.
Aku hanya bisa berharap bahwa teman-teman akan segera tiba disini dan membantu kami berdua.
“Peluruku habis Zac.“ dadaku naik turun.
“Begitu juga denganku, sayang. Semoga bantuan lekas datang.“
Tak lama kemudian aku melihat Lou, Olivia, Dhee, Gale, Asya, Eric, Adam dan Nico datang dengan pasukan. Aku bisa bernafas lega melihat mereka datang sambil menembaki para teroris itu.
Dhee mendekat dan melemparkan pistol untukku dan Zac sambil tersenyum.
“Maaf kami terlambat.“
“Tidak apa-apa Dhee.“
Kami langsung terlibat kembali dalam gencatan senjata yang sangat sengit. Aku melihat ke salah satu mobil yang di gunakan oleh teroris itu.
Aku melihat ada sebuah bom lempar yang terselip di jendelanya.
“Kalian semua cepat mundur dan cari perlindungan.“ teriakku kepada teman-temanku.
“Apa yang akan kau lakukan?“
“Ikut saja perkataanku Sya. Zac kau juga harus berlindung.“
“Tidak sayang.“
“Aku akan baik-baik saja percalah kepadaku. Aku sangat mencintaimu Zac.“ aku mengecup bibirnya sekilas.
Setelah teman-temanku menjauh, aku langsung mengarahkan pistolku ke arah jendela mobil itu. Bom itu jatuh ke dalam mobil, aku langsung berlari mencari tempat berlindungan terdekat. Tepat ketika bom itu meledak, dengan cukup hebat. Dan aku tertelungkup di atas aspal sambil menutup mata dan telingaku.
Setelah ledakan mereda aku membuka mata dan telingaku dan memandang berkeliling. Aku melihat Zac berlari ke arahku.
“Sayang apakah kau baik-baik saja?“ Zac membantuku untuk berdiri.
“Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu dan yang lain?“
“Kami baik-baik saja, Lila.“
“Syukurlah Lou.“
“Akhirnya semua para teroris itu mati. Semua selesai.“
“Belum selesai Gale. Bom yang berada di dalam tas yang kau pegang saat ini masih aktif.“
Gale langsung memucat mendengar ucapanku. Aku langsung tersadar bahwa Dhee tidak ada bersama kami.
“Dhee kemana?“
Mendengar pertanyaanku mereka langsung memucat.
“Tadi dia ada bersamaku, La.“
Aku langsung berlari ke arah mobil-mobil yang tadi mereka gunakan untuk berlindung.
“Dhee... Kau dimana?“
Aku berkeliling sampai akhirnya aku menemukan sosoknya tergeletak dengan tubuh yang berlumuran darah.
Aku langsung berteriak, “Dhee...“
wah Eric knp ganggu? #eeh
BalasHapusuntung tangannya Adam ga menyusup kyk Nico
bisa luluh lantak nnti Dhee :3
Markas udah beres. Lila, Zac, Lou, Olivia selamet.
Gedung Putih juga bisa diselamatin dan
teroris udah dibasmi…yeay sukses ^^
Gale konyol bgt. cweknya ga dijagain smp ketembak
ckckck
#jitakGale
seru, tegang dan konyol…haha
lanjut2 sist :*
hahahaa
BalasHapusketauan tuh Dhee sm Eric, bakal diaduin ke Gale gak ya??
ato Eric malah minta cium juga?? :D
Beneran tegang ya baca Chap ini, ckckck
Lila sama Zac kompak bgt deh,
keren nih berdua..
dan Gale konyol..
Dhee pun gak dijagainnya ckckck
pacar macam apa itu ya :D
Dhee ngilang lagi??
dan luka lagi, Omg selamatkan Dhee ;"(