Hari ini aku sedang menikmati hari liburku bersama kedua sahabatku Dhee dan Lila. Tadinya kami berencana untuk pergi berlibur ke Hawaii, namun men mengingat pekerjaan kami sebagai seorang secret agent kami memutuskan untuk menghabiskan waktu di New York saja.
Hari itu kami pergi kesebuah salon untuk melakukan perawatan tubuh dari ujung kepala sampai ujung rambut. Benar-benar momen yang sangat menyenangkan sekali.
"Lila, kau kenapa?"
"Aku tidak apa-apa, Sya."
"Jangan menyembunyikan sesuatu dari kami berdua Lila."
"Dhee benar Lila, kau harus menceritakannya pada kami berdua."
Namun Lila hanya terdiam dan mengalihkan pandangannya dari kami berdua. Lila memang termasuk orang tidak begitu terbuka, bahkan kepadaku dan Dhee. Biasanya aku dan Dhee tidak pernah memaksanya untuk bercerita pada kami berdua. Karena jika sudah merasa siap Lila pasti akan menceritakannya pada kami berdua.
“Andai setiap hari bisa seperti ini. Pasti sangat menyenangkan sekali. Tidak berhadapan dengan pekerjaan.“
“Kau benar Dhee, hidup pasti akan lebih menyenangkan.“
“Tapi pasti akan sangat membosankan. Jika kita menjalani hidup yang biasa saja dan tanpa tantangan. Setelah ini kalian mau kemana lagi?“
“Aku ada janji dengan Gale, Lila.“
“Sedangkan aku akan pergi dengan Mark.“
“Berarti malam ini aku akan sendirian di apartemen.“
“Bukankah kau biasanya pergi dengan Brad, La?“
“Jangan sebut namanya Dhee, kumohon.“
Lalu Lila menghentikan perawatan yang sedang di lakukannya. Lalu pergi meninggalkan aku dan Dhee begitu saja.
“Lila kenapa ya, Dhee?“
“Mungkin sedang bertengkar dengan Brad, Sya. Entahlah.“
Aku bingung melihat ekspresi Lila
yang langsung pergi saat Dhee menyebut nama Brad. Sebenarnya apa yang terjadi
antara Lila dan Brad, bukannya beberapa hari yang lalu kulihat mereka baik-baik
saja.
“Sya.. kapan kau akan pergi
dengan Mark??” suara Dhee membuyarkan lamunanku tentang Lila dan Brad.
“ohh, sekitar jam 10 nanti. Kau??”
“ sebentar lagi, setelah selesai
ini aku akan pergi. Gale akan menjemputku sebentar lagi. “
“ Oke, have fun ya Dhee” jawabku
sambil tersenyum.
Dan benar saja setelah selesai perawatan
Dhee langsung pergi bersama Gale. Sedangkan aku masih mencari Lila yang tadi
menghilang entah kemana. Sudah kukirimkan pesan singkat namun tak dibalasnya
dan beberapa kali kutelpon barulah diterimanya.
“Hallo, La.. kau dimana?? Kau
tidak akan kesini lagi?. Oh, ya sudah aku menyusulmu kesana”
Setelah aku menelpon Lila, aku
langsung menyusulnya. Ternyata dia ada di kafe yang ada diseberang jalan tempat
perawatan kami tadi. Sesampainya aku disana aku langsung duduk disebelahnya.
Kulihat wajah Lila sedikit kusut.
“ada apa dengan mu La?? Sejak
tadi kau telihat sangat uring-uringan. Kau ada masalah??” tanyaku pada Lila.
“ sudahlah Sya, aku tidak
apa-apa. Tidak usah mengkhawatirkanku”
Aku mengangguk mendengar
jawabannya, sepertinya Lila belum mau menceritakan masalah padaku. Lalu kami
membicarakan tentang kuliah dan pekerjaan kami. Belum lama aku dan Lila
mengobrol Mark menelponku, katanya dia sudah ada di depan Salon tempat kami
perawatan tadi. Rupanya aku lupa memberitahu Mark kalau aku ada di Kafe bersama
Lila. Akhirnya kuputuskan untuk menemuinya diparkiran.
“La, aku pergi sekarang ya? Mark
sudah menungguku didepan.”
“iya, Sya hati-hati ya..”
“Iya La, kau juga harus
hati-hati. Bye..” aku berpamitan dengan Lila.
Aku meninggalkan Lila dan
bergegas ke parkiran menemui Mark, kulihat Mark sudah berdiri disamping mobil
ferarri merahnya.
“Hai, maaf aku lama yaa??” kataku
sambil memeluknya sekilas dan dia mencium keningku.
“tidak juga,. “ jawabnya sambil
tersenyum.
“ tadi aku lupa memberi tahumu
kalau aku kekafe bersama Ara.”
“tidak apa-apa sayang. Hmm, bisakah
kita pergi sekarang?? Tanyanya sambil membelai wajahku.
Aku mengangguk, sedangkan Mark
membukakan pintu mobilnya untukku.
“silakan cantik...”
“ terima kasih pangeran..”
jawabku sambil tersenyum.
Lalu aku masuk kedalam mobil,
begitu juga dengan Mark langsung duduk dibalik kemudi mobilnya. Dia mulai
mengendarai mobilnya.
“Mark, kita akan pergi kemana??”
tanyaku
“ kesuatu tempat sayang..”
jawabnya sambil tersenyum.
“iya.. kemana??”
“sebaiknya kau nikmati saja
perjalanannya, Dilla sayang. Kau pasti sangat menyukai tempatnya.”
“baiklah..” jawabku sambil
cemberut.
Sedangkan Mark kembali fokus
menyetir mobilnya.
Setelah menempuh perjalanan
sekitar setengah jam, kulihat Mark memperlambat laju mobilnya. Kulihat ini
sepertinya sebuah taman yang sangat luas. Taman yang terletak dipinggiran kota
New York. Lalu Mark memberhentikan mobilnya.
“ini tempatnya??” tanyaku
Dia mengangguk, “ iya, ada banyak
hal yang indah didalam sana..” katanya
sambil menunjuk kearah areal taman.
“baiklah..” jawabku.
Lalu kami berdua keluar dari
mobil dan masuk kearea taman itu sambil bergandengan tangan, sesekali Mark
mencium kening dan bibirku.
“Mark, orang-orang memperhatikan
kita berdua. Aku malu, apa lagi kau kan penyanyi.”
“tidak apa-apa sayang, lagi pula
kenapa kau malu?? Kau malu aku jadi
kekasihmu” tanyanya sambil mengerutkan dahinya.
“bukan itu maksudku, aku bukan
malu karenamu. Tapi aku takut mereka berfikiran kalau aku tidak pantas
untukmu.” Jawabku.
“siapa yang bilang kau tak pantas
untukku?? Kau lah yang sangat pantas untukku, bukan yang lain. Jangan
berfikiran negatif, tetaplah berfikiran positif terhadap orang lain” katanya
sambil menggenggam tanganku dan mencium buku-buku jariku.
Mark mengajakku kesebuah tempat
dipinggir danau dan disana banyak sekali tanaman bunga, harus kuakui Mark
adalah orang yang sangat romantis, dia selalu tahu apa yang menjadi kesukaanku.
Lalu kami duduk dibawah pohon dipinggir danau itu.
“kau menyukai tempat ini,
sayang??”
“iya, tempat yang indah Mark. Aku
sangat menyukainya. “ jawabku sambil memeluk lengannya dan menyandarkan
kepalaku dibahunya.
“aku bahagia, jika kau bahagia
Dilla” katanya sambil mencium keningku lama.
Setelah melepaskan ciumannya
dariku, kulihat Mark merogoh saku jaketnya. Dan setelah itu dia seperti
kebingungan.
“kau seperti kebingungan?? Ada
apa??” tanyaku.
“ehm, sepertinya aku meninggalkan
sesuatu didalam mobil.”
“apa??’ tanyaku lagi.
“kau tidak apa-apakan kalau
kutinggalkan sebentar disini. Aku akan mengambilnya dimobil. Hanya sebentar
sayang..”
Aku mengangguk kebingungan, apa yang sebenarnya dicari Mark??
Lalu Mark pergi kemobil, sedangkan
aku masih tetap duduk. Saat aku sedang memandang kearah danau, kulihat ada
seorang remaja yang sedang berdiri dipinggir danau, lalu dia seperti
melemparkan sesuatu ketanah dan tak lama kemudian banyak sekali burung-burung
merpati berdatangan. Aku berdecak kagum melihatnya. Aku sangat menyukai burung
merpati, apalagi yang berwarna putih. Akhirnya aku mendekati remaja itu, dan
saat aku mendekat burung–burung merpati yang sedang makan tadi langsung
berterbangan. Tak ku sangka ternyata burung-burung itu terkejut dengan
kedatanganku. Remaja itu pun memandangiku.
“Maaf, aku bukan bermaksud
mengusir burung-burung itu. Tapi aku hanya ingin mendekatinya. Aku sangat
menyukai burung merpati” kataku sambil tersenyum.
“Kau menyukainya??” tanya remaja
itu.
Aku mengangguk. Lalu dia
mendekatiku.
“kau lemparkan saja makanannya.
Mereka akan datang lagi” katanya sambil memberikan segenggam biji jagung
ketanganku. Dan aku pun mengucapkan terima kasih dan menerimanya.
Kami berdua pun melemparkan
beberapa biji jagung ke tanah dan burung-burung merpati itu kembali datang. Beberapa
ekor merpati mendekatiku dan memakan jagung yang ada ditanganku. Aku sangat
senang karena ternyata burung itu mulai
jinak..
Saat aku sedang asyik bermain
dengan burung-burung itu kulihat Mark datang. Namun ketika dia melihatku, dia
berlari kearahku. Aku sangat terkejut dan saat dia sampai didekatku,
burung-burung itu beterbangan lagi.
“Kau membuatnya pergi Mark. “
kataku sambil cemberut.
Mark langsung menarik tanganku, “
ayo kita pergi dari sini”
“ Kau kenapa?? Aku masih ingin
disini”
“Tidak sayang, sebaiknya kita
pergi dari sini” Mark menarikku tanganku paksa.
“ayo lah Dilla, ku mohon kita
pergi dari sini..” katanya. Sekilas kulihat wajahnya, Mark sedikit pucat.
“Mark kau......”
Tapi Mark langsung menarikku dan
dia berlari “ ayo cepat”
Akhirnya aku mengikutinya, Mark
berlari dengan cepat sehingga aku juga berlari bersamanya. Hingga dia berhenti
saat kami sudah didekat mobilnya yang terparkir. Pegangan tangannya padaku
masih erat. Dibukakannya pintu mobil dan aku langsung duduk. Kemudian dia juga
duduk dan mulai mengendarai mobilnya.
“Mark, ada apa sebenarnya?? Kau membuatku
bingung.”
“tidak seharusnya kau seperti
tadi sayang..” jawabnya dingin.
“kenapa?? Aku tidak melakukan
apa-apa. Selama kau pergi aku hanya bermain dengan anak itu“
“Iya, itu tidak baik Dilla.”
“anak tadi tidak baik?? Kau mengenalnya??”
“bukan dia??”
“lalu apa?? Kamu sangat aneh dan membuatku
bingung. Memaksaku pulang, disaat aku sedang asyik bermain dengan burung
merpati itu.”
“Dilla, aku tidak suka kau
bermain dengan burung-burung itu. “
“ kau tidak menyukainya?? Tapi aku
sangat menyukainya”
“ apa kau tidak tau bahaya dari
burung itu?? dan kumohon jangan pernah kau bermain dengan burung atau
sejenisnya didekatku “ jawabnya.
Aku masih terdiam mendengarkan
jawaban Mark. Sangat tidak masuk diakal kalau alasan adalah bahaya dari burung.
Sepertinya Mark menyembunyikan sesuatu tentang dirinya padaku.
Kulihat Mark mempercepat laju
kendaraannya dan tak lama kemudian kami sampai di apartemennya.
“ ayo kita masuk ke apartemenku..
“ ajaknya
“ kau memang aneh Mark, sangat
aneh..” aku mendengus kesal.
“ Dilla, ku mohon.. ”
Akupun menurutinya, turun dari mobil
dan masuk kedalam apartemennya. Saat sudah sampai didalam Mark langsung
memberiku handuk.
“ apa maksudmu??”
“ aku takkan pernah mendekatimu
sebelum kau mandi Dilla. “ jawabnya
“ hahh?? Aku baru menyadari kalau
aku berpacaran dengan orang yang sangat aneh. Kau membuatku gila Mark. Tadi kau
mengajakku ketaman itu, dan disaat aku sedang menikmatinya kau mengajakku
kesini dan sekarang kau takkan mendekatiku sebelum aku mandi. Ada apa
sebenarnya?? “ aku menatapnya dalam.
Mark menghela nafasnya dan
membalas menatapku.
“ baiklah.. ku akui aku takut dan
alergi dengan burung dan sejenisnya” jawabnya pelan
Aku terkejut mendengarnya, mana
mungkin lelaki dengan postur tinggi dan berotot ini takut dengan burung. Seketika
amarahku berkurang dan ingin rasanya aku tertawa. Namun aku langsung menggigit
bibirku untuk menahannya.
“Dilla, kumohon kau turuti apa
yang kukatakan padamu..” katanya
Aku mengangguk, sambil mengambil
handuk yang diberikan Mark padaku tadi. Dan berjalan kekamar mandi yang ada
dikamarnya.
“aku menunggumu sayang..” katanya
sambil duduk disofa yang ada diruang tamunya.
Aku langsung mandi, membersihkan
tubuhku. Sealergi apakah Mark sampai-sampai
ia takkan mendekatiku jika aku tidak segera mandi?? Oh Tuhan, hal apa lagi yang tidak kuketahui dari Mark. Aku mendesah
didalam hati.
Wuiih panjang ya
BalasHapusChapter terpanjang dr chap lainnya ini :D
Waduh Lila knp sm Brad ya.
Dhee sm Asya lg bahagia sm pcr masing2
Lila ko mlh sedih gitu :(
Mark aneh dan konyol iih
takut sm burung ckckck
tapi ga lari terbirit2 itu ya dia wkt liat Asya
lg mainin burung mlh nyamperin haha
hhmmm…stlh mandi Asya mo diapain ya sm Mark
*mikir keras
next chapter yaaaa ditunggu
Waduhh itu lila sama brad knpa ya :O
BalasHapushuahahaha Mark ada2 aj tuh xD
Mark jeles kali karena Asya lbh suka sama burung merpati dari pada burungnya Mark #eh xD
Nahio abis mandi mau di apain tuh Asya sama Mark?
Ckckckck gokil gokil lanjutkan Sya
Good job :*
Waduhh itu lila sama brad knpa ya :O
BalasHapushuahahaha Mark ada2 aj tuh xD
Mark jeles kali karena Asya lbh suka sama burung merpati dari pada burungnya Mark #eh xD
Nahio abis mandi mau di apain tuh Asya sama Mark?
Ckckckck gokil gokil lanjutkan Sya
Good job :*