Kamis, 28 Februari 2013
CHAPTER 44 (REVISI)
Minggu, 17 Februari 2013
CHAPTER 43
Sabtu, 16 Februari 2013
CHAPTER 42
Kamis, 14 Februari 2013
CHAPTER 41
“Dhee...“ tiba-tiba Adam menghampiriku yang sedang menikmati makan malamku.
“Bolehkah aku duduk disini?“
“Hai Adam, senang bisa bertemu denganmu lagi. Tentu saja, silakan duduk.“ jantungku langsung berdebar hebat.
“Kapan kau tiba di London? Aku pikir Lila atau Asya yang akan datang kemarin?“
“Tidak Adam, Asya sedang ada tugas di Kanada sedangkan Lila dia sedang hamil besar jadi tidak mungkin untuk bepergian jauh.“
“Lila sedang hamil?“
“Iya, Lila sudah menikah.“
“Sepertinya akan banyak sekali secret agent yang patah hati jika mendengar salah satu dari kalian sudah menikah.“
“Kau bisa saja, Adam.“
“Tapi kenapa Lila lebih memilih menikah di usia muda, ya? Siapa pria yang menjadi suaminya itu? Apakah Zac?“
“Ya, Lila menikah dengan Zac. Lalu kau sendiri kapan akan menikah?“
“Aku belum menemukan wanita yang tepat Dhee. Aku masih saja memikirkanmu.“
Aku langsung terbatuk-batuk mendengar ucapannya itu.
“Kau baik-baik saja, Dhee?“
“Aku tidak apa-apa, Adam. Aku hanya merasa ada makan yang tersangkut di tenggorokanku. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa.“
“Aku pikir kau tersedak karena mendengar ucapanku itu.“
“Tidak Adam tidak.“
“Tapi yang aku katakan itu sungguh-sungguh, Dhee. Aku masih mencintaimu, sangat sangat mencintaimu.“
“Adam...“ aku hanya bisa mendesah keras, tak tahu harus berkata apa lagi.
Tiba-tiba Adam meraih salah satu tanganku. Lalu ia mengecup buku-buku jariku dengan sangat lembut dan lama.
Jantungku kembali berdetak kencang tak karuan. Lalu Adam mulai mendekatkan wajahnya, sehingga aku bisa merasakan nafasnya di wajahku. Ya Tuhan...
Sampai akhirnya Adam mendaratkan ciumannya tepat di bibirku. Ciumannya terasa sangat lembut dan panas di bibirku.
Suasana restoran yang romantis, dengan penerangan yang temaranlm serta alunan musik. Membuat suasana romantis yang
di suguhkan jadi semakin terasa. Kami berdua terbawa suasana.
Karena akhirnya aku membuka mulutku untuk memberikan akses lidahnya agar lebih leluasa mengeksplorasi mulutku.
Lidah kami saling berpagutan. Saling mencecap rasa masing. Aku membalas tiap ciumannya dan sesekali menggigit bibirnya dengan gemas dan bergairah.
Ketika nafas kami berubah menjadi terengah-engah. Adam melepaskan ciumannya. Dengan tatapan mata yang menyala-nyala.
“Aku sangat menginginkanmu malam ini, Dhee.“ suaranya terdengar sangat berat.
“Tidak Adam, aku...“
“Kumohon Dhee, hanya malam ini.“
Permohonannya benar-benar terdengar sungguh-sungguh. Membuat hatiku menjadi kalut dan bergejolak. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini.
“Tidak Adam...“
Aku memanggil pelayan untuk membawakan bill-nya. Setelah membayar tagihannya aku beranjak dari kursiku. Bersiap untuk pergi dari tempat itu dan kembali ke hotel.
“Dhee, tunggu dulu.“ Adam memcengkram lenganku dengan kuat.
“Ada apa lagi Adam? Lepaskan tanganku dan biarkan aku pergi. Aku sangat lelah.“
“Biar aku mengantarmu kembali ke hotel. Boleh, kan?“
Aku berpikir sejenak, “Umm... Baiklah kalau begitu.“
Adam melepaskan cengkramannya. Lalu kami berdua keluar dari restoran Italia itu dan menuju ke hotel tempatku menginap.
Kami berjalan berdampingan. Tapi keheningan hadir di antara kami. Baik aku maupun Adam hanya terdiam, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami berdua. Sampai pada akhirnya kami sampai di depan hotel.
“Umm... Terima kasih sudah mengantarkanku Adam.“
“Sama-sama Dhee. Sebaiknya kau lekas masuk.“
“Baiklah, sekali lagi terima kasih. Sampai berjumpa lagi besok di pertemuan.“
“Selamat beristirahat, Dhee.“
Aku tersenyum sambil melambai kepada Adam. Lalu aku masuk ke dalam hotel,menuju ke kamatku dan langsung beristirahat.
Pasca penolakanku atas permintaan Adam pada malam pertemuan kami. Antara aku dan Adam seperti tercipta semuah benteng pembatas yang menjulang tinggi.
Selama pertemuan dan sesudahnya Adam selalu bersikap profesional. Sampai hari terakhirku berada di London pun Adam tetap seperti itu.
Namun aku tidak begitu menghiraukan perubahan sikap Adam kepadaku. Karena aku hanya mencintai Gale, kekasihku. Dan akhirnya pesawatpun lepas landas menuju New York. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan keksihku, karena aku sangat sangat merindukannya sekali.
Senin, 11 Februari 2013
CHAPTER 40
Chapter 40
“Kau memang cantik Miss Davis. Pantas saja putra kebanggaanku begitu tergila-gila kepadamu.“
“Saya hanya seorang gadis yang biasa-biasa saja.“
“Dan aku berharap kaulah yang menjadi pendamping Kyle. Aku akan sangat bahagia sekali jika kau menjadi menantuku.“
“Tapi maaf aku tidak sedang ingin menjalin suatu hubungan yang serius dengan siapapun. Dan pernikahan tidak ada dalam rencana jangka panjangku.“
Pada saat itu Kyle mengajakku untuk berbincang-bincang dengan ayahnya di salah satu sudut ruangan.
“Tapi Ara, wajahmu mengingatkanku kepada seseorang.“
“Benarkah? Siapa itu?“
“Seorang wanita yang sempat aku cintai ketika aku berada di Indonesia. Sayangnya wanita itu menikah dengan orang lain dan memiliki seorang putri.“
Detak jantungku langsung berdetak kencang mendengarkan ceritanya. Jangan bilang bahwa kau pernah mencintai ibuku.
“Memangnya siapa nama wanita itu?“
“Clarissa Angelina Davidson.“
Aku langsung tersedak mendengar nama yang di sebutkan oleh Red Eye. Ya Tuhan, itukan nama Maa.
“Kau tidak apa-apa, Ra?“
“Tidak apa-apa Kyle, aku hanya tersedak. Lalu apakah anda masih sering bertemu dengan wanita itu?“
“Kami bertemu di kantor polisi. Karena Clarissa seorang secret agent dan aku ini seorang mafia.“
Kyle membelalakkan matanya terkejut, “Apa? Ini bercanda kan, Pa?“
“Tidak Kyle, ayahmu ini memang seorang penjahat kelas kakap. Pihak kepolisian mana yang tidak mengenal Red Eye. Kau mau tahu Kyle, aku sudah menembak mati Clarissa.“
“Hentikan omong kosong ini, Pa.“
“Sudah kubilang aku tidak berbohong. Semua yang aku katakan adalah yang sebenarnya, Kyle.“
“Akhirnya kau mengakui juga semua kejahatanmu Red Eye. Kau di tangkap.“
Aku mengeluarkan borgol dan dengan cepat memborgol kedua tangannya.
Red Eye terkejut, “Apa-apaan ini?“
“Aku dari CIA, yang bertugas untuk menangkapmu. Karena setelah bertahun-tahun akhirnya aku bisa berhadapan langasung dengan pembunuh ibuku.“
Red Eye mengerutkan keningnya, “Ibumu?“
“Clarissa Angelina Davidson adalah ibuku. Kau sudah membuatku tumbuh dewasa tanpa mengenal ibuku dan tanpa kasih sayang ibuku.“
“Kau... Kau Kyla? Salah satu secret agent terbaik yang di miliki oleh CIA, kan?“
“Ya aku Kyla dan aku mendekati anakmu hanya untuk menangkapmu. Jangan macam-macam karena tempat ini sudah di kepung.“
“Ya Tuhan, ada apa sebenarnya ini?“ Kyle terlihat frustasi dengan semua ini.
“Kyle kau harus menolong Papa.“
“Diam di tempat Kyle, Papamu sudah banyak sekali melakukan kejahatan.“
Tapi tiba-tiba Kyle menarik lenganku hingga pistol yang aku pegang terjatuh. Lalu Kyle menyereku menjauh dari Red Eye.
“Apa yang kau lakukan, Kyle. Lepaskan aku.“ tapi Kyle tidak menggubris ucapanku, “Zac tolong aku.“
Tiba-tiba Kyle berhenti, “Zac? Siapa pria itu?“
“Suamiku, sampai kapanpun kau takkan bisa memilikiku, Kyle.“
“Aku akan tetap menjadikanmu milikku. Apapun yang terjadi, aku tidak peduli.“
Kyle menyeretku masuk ke dalam sebuah kamar dan mengunci pintunya. Lalu Kyle menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur dan menindih tubuhku.
“Menyingkir kau dari atas tubuhku, Kyle.“ aku berontak.
“Tidak akan Ara, siapapun namamu. Aku takkan melepaskanmu lagi, sampai kapanpun.
Kyle berusaha untuk menciumku. Namun aku terus berontak dan menghindar. Namun Kyle tidak mau menyerah. Dia terus saja berusaha untuk menciumku.
“Tidak Kyle, lepaskan aku.“ aku terus berteriak dan berontak, “Zaaaacccc.“
Tiba-tiba tubuh Kyle terpelanting. Dan menubruk tembok.
“Jangan coba-coba untuk menyentuh istriku, Kyle.“
Aku langsung bangun, “Zac...“
“Sayang, apa kau terluka? Maaf aku terlambat menemukanmu.“ Zac memeluk dan menciumi wajahku dengan lembut.
“Aku baik-baik saja, Zac. Ayo kita keluar dari sini.“
Zac memapahku keluar dari kamar itu. Sedangkan Kyle tidak sadarkan diri karena terbentur tembok.
***
Ternyata keadaan di sini berubah menjadi sangat kacau. Kami terlibat baku tembak dengan para mafia itu. Aku melihat Zac dan Lila yang keluar dari sebuah ruangan.
“Lila, apakah kau baik-baik saja?“
“Aku baik-baik saja, Sya.“
“Sebaiknya kau cepat keluar dari tempat ini.“
“Tidak Dhee, aku akan membantu kalian.“
“Jangan bandel, Lila. Cepat keluar.“
Aku tahu bahwa Lila ingin sekali ikut berkelahi, tapi itu tidak mungkin. Karena keadaanku yang sedang mengandung ini.
Dan akhirnya Zac berhasil memaksa Lila untuk keluar dari tempat ini. Setelah Lila dan Zac berhasil keluar. Aku kembali fokus pada pertarungan ini.
Setelah satu jam semua mafia berhasil kami lumpuhkan. Dan langsung di bawa untuk di masukkan ke dalam penjara.
Ketika di luar kami bertemu dengan Zac dan Lila yang sedang berdebat. Entah apa yang sedang mereka berdua ributkan. Karena yang ada di pikiranku saat ini adalah bertemu dengan Gale.
Dan aku menemukan kekasihku sedang mendapatkan pengobatan dari para medis. Tubuhnya penuh luka, tapi Galr terlihat baik-baik saja.
“Sayang, kau tidak apa-apa?“
“Aku tidak apa-apa Dhee, hanya luka kecil.“
Aku langsung memeluk Gale, “ Aku sangat mengkhawatirkanmu, Gale.“
“Sttt, aku baik-baik saja sayang.“
Lalu Lila dan Zac menghampiri kami.
“Dhee...“ Lila langsung memelukku, “Kau tidak apa-apa, kan? Asya dimana, dia juga baik-baik saja,kan?“
“Kami baik-baik saja, Lila. Kau jangan khawatir.“
“Maaf sudah melibatkan kalian dalam masalahku.“
“Sudahlah, Lila. Jangan mulai lagi, oke. Ngomong-ngomong kau tadi kemana mengapa menghilang dan tidak bisa di hubungi?“
“Kyle tadi menyeretku ke sebuah kamar dan berusaha untuk memperkosaku, Dhee. Aku syok Kyle sampai bisa berbuat seperti itu.“
“Ya ampun, tapi Kyle belum melakukan apapun, kan?‘
“Tidak Dhee, karena Zac segera dan menolongku.“
“Dan sekarang kita bisa pulang untuk beristirahat.“
“Kau benar Gale, tapi aku ingin para medis memeriksa keadaan Lila dan kandungannya.“
Zac langsung membawa Lila ke ambulan yang lain. Setelah itu kami semua pulang untuk beristirahat.
***
Akhirnya Red Eye berhasil di tangkap. Paa sempat marah kepadaku, sebenarnya Paa sangat mengkhawatirkanku apalagi setelah tahu bahwa aku sedang hamil.
Semoga Maa disana bisa lebih tenang. Dan yang terpenting adalah aku bisa menjalani kehidupanku tanpa beban di masa lalu yang selalu membuatku merasa tidak tenang.
Aku pun bisa lebih tenang dan santai menjalani kehamilanku yang semakin hari semakin membesar. Dan Zac tidak mengizinkanku untuk terjun langung dalam menangani sebuah kasus.
Jadi aku hanya mengerjakan tugas-tugasku di kantor saja. Toh, hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Menanti kelahiran putri kecilku yang akan segera lahir empat bulan lagi. Karena saat ini kehamilanku sudah menginjak bulan ke lima.
Zac pun sudah mempersiapkan sebuah rumah di daerah pinggiran kota yang masih hijau. Rumahnya sangat indah dan sejuk sekali. Karena kami memiliki sebuah danau pribadi yang berada tepat di depan.rumah.
Dan ada sebuah hutan kecil juga di sana. Suasana seperti ini yang aku butuhkan. Karena bisa membuat pikiranku lebih rileks.
Sudah tiga hari kami pindah ke sana. Sangat menyenangkan sekali memiliki sebuah rumah yang indah seperti ini karena aku bisa melakukan berbagai hal yang aku inginkan.
“Sayang, akhirnya kita memiliki sebuah rumah untuk keluarga kecil kita ini.“
“Terima kasih untuk rumah yang indah ini, Zac. Aku sangat menyukainya, terutama danau yang berada di depan sana.“
“Ayo kita naik perahu sambil berkeliling danau.“
“Pasti akan sangat menyenangkan sekali. Ayo kita pergi sekarang, Zac.“
Lalu kami berdua pergi keluar, kebetulan sekali hari ini cuacanya sangat bagus. Ternyata sangat menyenangkan sekali berjalan-jalan menggunakan perahu di danau.
“Aku mencintaimu, Zac.“
“Aku juga sangat mencintaimu, sayang.“
Zac langsung memagut bibirku dan menciumku dengan sangat lembut sekali. Dan ketika Zac mulai liar aku segera melepaskan ciumannya.
“Hentika, atau kita berdua akan jatuh ke dalam danau.“
“Maafkan aku sayang. Karena aku masih belum bisa menahan diriku.“
***
Hari aku berangkat ke London. Karena Lou menugaskanku untuk menghadiri sebuah pertemuan di sana yang rencenanya akan di selenggarakan selama satu minggu.
Itu artinya aku harus berpisah selama satu minggu dari Gale. Gale sempat mengajukan diri kepada Lou untuk ikut denganku ke London, sayangnya Lou memiliki tugas lain yang harus di kerjakan oleh Gale.
Itulah yang membuatnya menekuk wajahnya sejak tadi pagi sebelum mengantarkanku ke bandara. Lucu sekali jika melihat ekspresi wajahnya yang merajuk seperti itu, sangat menggelikan sekali.
Dan pesawat yang menuju ke London akhirnya lepas landas. Aku memutuskan untuk membaca berkas-berkas yang di berikan oleh Lou sebelum tidur. Aku tidak begitu suka oleh efek yang di timbulkan oleh jetlag.
Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan sangat melelahkan akhirnya aku mendarat di bandara Hethrow London. Dari situ aku langsung menuju ke hotel yang sudah di siapkan oleh pihak penyelenggara pertemuan.
Karena pertemuan baru akan di mulai keesokkan harinya aku memutuskan untuk tidur setelah mengirimkan e-mail untuk Gale. Mataku langsung terpejam ketika menyentuh bantal yang sangat empuk itu.
Aku terbangun karena perutku sangat lapar sekali. Dengan enggan aku membuka mata dan melihat jam yang ada di meja samping tempat tidur.
Pukul delapan malam, pantas saja aku merasa sangat lapar sekali. Aku bangun dan setelah meregangkan tubuhku, aku langsung bergegas untuk mandi.
Setelah selesai aku memutuskan untuk mencari makanan di luar hotel saja sambil berjalan-jalan. Menikmati hiruk pikuk kota London di malam hari.
Akhirnya aku memutuskan untuk makan di sebuah restoran Italia. Di restoran itulah aku bertemu kembali dengan Adam. Pria yang berhasil membuat jantungku berdetak hebat setelah Gale.