Kamis, 28 Februari 2013

CHAPTER 44 (REVISI)

Tak terasa waktu dua minggu kami bulan madu sudah berakhir, kini aku dan Mark baru kembali ke New York. Sesampainya di New York kami langsung pulang ke apartemen Mark, mulai sekarang aku akan tinggal diapartemennya Mark yang terletak ditengah kota New York.

Perjalanan yang panjang dari London ke New York, membuat kami sangat kelelahan. Aku langsung tertidur sesampainya diapartemen. Tak kuhiraukan lagi Mark yang masih mengangkat koper-koper kami dari bagasi mobil menuju kekamar.


Aku, mama, dan papa sedang dalam perjalanan kesebuah tempat. Papa yang mengajakku dan mama untuk berlibur. Aku sangat senang sekali, karena sudah lama kami tidak berlibur bersama. Selama diperjalanan aku hanya sibuk membaca buku cerita yang baru saja dibelikan mama. Saat aku sedang membaca tiba-tiba mobil yang kami tumpangi seperti berguncang, papa yang sedang menyetir terlihat sangat kebingungan tak bisa mengendalikan mobil. Mobil kami melaju semakin kencang. Aku yang duduk sendiri dibangku belakang ketakutan, begitupun mama dia mengenggam tanganku erat.
“Aku takut ma..” air mataku mulai mengalir.
“Tenang sayang, kamu jangan takut..”mama menenangkanku.

Namun tak lama kemudian, terdengar suara benturan cukup keras, mobil kami terbalik. Tubuhku terhempas, kepalaku terbentur. Aku meringis kesakitan sambil memegangi kepalaku. Tapi sakit yang kurasakan tak sebanding dengan kulihat disekelilingku, kulihat kaca mobil pecah, mama tak sadarkan diri dengan wajah penuh darah begitupun papa. Aku berteriak  histeris melihat mereka berdua.
“Maaa... Pa,,,, bangun...”
Tapi mereka tak sedikitpun bergerak.
“Mama,...papa....” aku berteriak lagi..


“Asya.. bangun sayang..”
Terdengar seseorang memanggilku sambil mengguncang tubuhku.
“Sayang, sayang...” panggilnya lagi.
Perlahan aku membuka mataku, ada Mark dengan wajah paniknya disampingku.
“Kau kenapa?? Kau mimpi buruk” katanya sambil menyeka keringat diwajahku.
“Aku pergi dengan kedua orang tuaku, tapi kita kecelakaan. Dan mereka...” aku langsung menangis saat membayangkan wajah kedua orang tuaku tadi.
“ Itu hanya mimpi sayang, kau terlalu lelah”
Aku masih menangis..
“Ku mohon jangan menangis lagi, sayang” katanya sambil menyeka air mataku, lalu dia menarikku kedalam pelukannya, dia mencium keningku dengan hangat.
“Ada aku disini..”
Aku memeluknya erat, membenamkan wajahku kedadanya sambil memejamkan kembali mataku berusaha untuk tidak mengingat mimpi itu lagi.

***

Pagi harinya aku terbangun mendengar suara ponselku yang dari tadi berdering memecah kesunyian. Kuambil ponselku yang ada dimeja disamping tempat tidur kami. Kulihat nama Dhee yang tertera dilayar ponselku, langsung saja aku menerimanya.
“Halo Dhee..”
“Asya, apa kau sudah pulang dari bulan madu mu?”
“Iya, Dhee aku kembali kemarin sore..”
“Maaf aku mengganggu waktumu dan Mark, tapi kita membutuhkanmu. Sebuah kecelakaan yang menewaskan salah satu petinggi kepolisian diduga telah direncanakan oleh sebuah kelompok mafia. Saat ini kami telah berhasil menangkap anak buahnya. Kami membutuhkanmu Sya, Brad dan Gale baru akan kembali dari Kanada besok. Kita akan menyusun strategi hari ini.” Dhee menjelaskan semuanya padaku.
“Iya Dhee aku mengerti, aku memang akan kembali kekantor hari ini. Aku akan sampai dikantor satu jam lagi.” Jawabku.
“Terima kasih Sya. Baiklah kami akan menunggu kedatanganmu. Sampai bertemu dikantor nanti”
“Iya Dhee..” aku menutup telponnya.


“Siapa sayang..??” suara dan belaian Mark dipunggungku sedikit mengejutkanku.
Aku yang tadi memunggunginya, berbalik menghadapnya sambil membelai wajah tampannya.
“Kau sudah bangun yaa?? Tadi Dhee menelponku. Mereka membutuhkanku, saat ini kami kekurangan tim. Gale dan Brad sedang di Kanada. Aku akan bersiap sekarang sayang, aku harus segera kekantor”
“Apa kau baik-baik saja setelah mimpi burukmu semalam, kau baru tertidur lagi menjelang pagi sayang??”
“Aku baik-baik saja” jawabku sambil mengecup bibirnya.
“Sebaiknya kau juga segera bersiap, bukankah waktu liburmu juga telah berakhir. Aku yakin sebentar lagi asistenmu akan menelponmu  juga” jawabku sambil tersenyum.
“Ya, kita akan kembali kerutinitas lagi sayang”
Lalu kami beranjak dari tempat tidur, masuk kekamar mandi.


***

Aku masuk kedalam kantor dengan tergesah-gesah, aku tahu  saat ini aku sudah terlambat 20 menit. Andai saja aku dan Mark pergi lebih awal sebelum kemacetan terjadi, pasti aku tidak akan terlambat. Aku bertanya dengan salah satu pegawai kemana Dhee dan yang lainnya, ternyata mereka sudah ada diruang rapat.

Aku masuk keruang rapat, kulihat sudah ada Lou, Steve, Eric, Zac dan Dhee disana. Aku langsung duduk disebelah Dhee.
“Maaf aku terlambat..”
“Tidak apa-apa Sya, kami baru memulainya 15 menit yang lalu” jawab Lou.
Aku mengangguk mendengarkan Lou.
“Sya, aku yakin tadi saat aku menelponmu kau sedang asyik dengan Mark kan??” Dhee berbisik-bisik menggodaku.
“Tidak Dhee, aku baru bisa tertidur nyenyak menjelang pagi”
“Ohh, jadi itu sudah selesai..”
Aku melotot kepada Dhee..
Suara Lou berdehem membuat aku dan Dhee fokus lagi mendengarkan Zac yang sedang menjelaskan strategi yang akan kami lakukan untuk menangani kasus ini.


Dari penjelasan Zac aku baru tahu kalau kelompok mafia ini seringkali merencanakan beberapa tindak kejahatan yang korbannya adalah pejabat kepolisian, pengusaha kaya, bahkan pejabat pemerintahan juga target kejahatan mereka. Aku jadi berfikir bahwa kelompok ini sangat rapi dalam menjalankan aksinya, mereka bukan mafia biasa.


Kami telah menyusun rencana untuk melakukan penyergapan, tapi sebelumnya kami akan menginterogasi seorang lelaki yang diduga anak buah dari kelompok mafia itu. Menurut Eric biasanya anak buah kelompok mafia itu tidak akan mengaku siapa ketua kelompok mereka. Bahkan mereka rela mati asalkan rahasia kelompok mereka tetap terjaga. Kami mendapat ide, untuk melakukan hal yang pernah dilakukan Lila kepada Red Eye saat kami melakukan penyergapan dirumah orang tua Kyle. Ya, memasukkan serum anti kebohongan kedalam minumannya.


Selesai rapat kami langsung kekantor polisi, menemui seseorang yang diduga anak buah dari sebuah kelompok mafia besar. Sesampainya disana kami langsung melaksanakan apa yang telah kami rencanakan tadi saat dikantor. Steve yang memasukkan serumnya kedalam air minum lelaki itu, dia tak menyadari apa yang telah Steve lakukan. Beberapa saat setelah dia meminumnya, Zac dan Lou menginterogasinya.


Dari hasil interogasi yang dilakukan Zan dan Lou, kami mulai menemukan banyak fakta darinya, ternyata dia adalah Charlie Hunt,  anggota kelompok mafia yang diketuai oleh Sam Moran atau yang lebih dikenal dengan nama Scarface. Saat mendengar namanya aku langsung mencari data tentang Sam Moran atau Scarface. Setelah mendapatkan beberapa informasi aku mulai membacanya data-datanya. Aku tidak memperhatikan percakapan antara Zac, Lou dan Charlie Hunt namun saat Charlie Hunt menyebutkan nama Ardy Yudha Wiranata dan Christina Mary Clarkson aku langsung kaget, itu nama kedua orang tuaku. Dhee juga langsung memandangiku saat mendengar nama itu. Aku meletakkan laptopku, kemudian mendekat duduk disamping Zac.
“Bisakah kau menjelaskan tentang Ardy Yudha Wiranata dan Christina Mary Clarkson??”
“Aku sudah bekerja dengan Sam selama 16 tahun, Ardy Wiranata adalah seorang pengusaha sukses, istrinya Christina Clarkson adalah seorang agent wanita yang sangat hebat. Setelah mereka menikah Ardy juga menjadi agent, mereka bersama 3 orang temannya adalah tim yang hebat saat itu. Semua kasus dapat dipecahkan, beberapa kelompok mafia berhasil mereka tangkap, namun tidak untuk kami. Kami berhasil merencanakan sebuah kecelakan yang menewaskan keluarga itu bahkan sampai saat ini anak perempuannya pun tidak diketahui keberadaannya. Kecelakaan itu terjadi 14 tahun yang lalu di Las Vegas. Dan sampai saat ini tidak ada yang mengetahui pasti kalau kami lah yang menyebabkan kecelakaan itu”

Aku tertegun mendengarkannya. Hatiku terasa hancur, aku mengepalkan kedua tanganku kemarahanku sudah tak dapat ditahan lagi.
“Ya cukup Charlie”
Aku langsung kembali kedekat Dhee, Dhee langsung menatapku kasihan.
“Sya..” dia memanggilku.
“Aku ingin membereskannya sekarang, aku akan mencari Sam”
“Sya, kita akan melakukannya setelah ini, kau harus sedikit bersabar. Aku tahu yang kau rasakan saat ini”
Aku mengangguk, ya aku takkan bisa menghadapi Scarface sendirian. Akan kubalas semuanya nanti.
“Aku keluar sebentar, aku ingin sendiri. Tolong lanjutkan pencarian datanya”
Lalu aku langsung keluar dari ruangan itu menuju toilet. Air mataku tak dapat kutahan lagi, ingin rasanya aku menjerit. Sebuah kenyataan yang sangat pahit. Kedua orang tuaku meninggal bukan karena kecelakaan murni tapi ini semua direncanakan. Itu berarti mereka dibunuh. Aku menangis sejadi-jadinya ditoilet.


Beberapa saat kemudian aku bisa mengendalikan emosiku. Aku keluar toilet  dengan mata sedikit bengkak. Bayangan wajah kedua orang tuaku dimimpiku semalam kembali ku ingat. Hatiku kembali sakit. Ya Tuhan, kuatkan aku untuk melewati semua ini.


Saat aku keluar dari toilet aku bertemu dengan Steve. Dia baru saja keluar dari toilet pria. Aku berusaha untuk memalingkan wajahku agar mataku yang sehabis menangis tidak dilihatnya. Namun ternyata Steve mengetahuinya dan dia mulai bertanya kepadaku.
“Kau disini rupanya..?? Dhee mencarimu. Interogasinya sudah selesai”
“Aku akan segera kesana. Terima kasih Steve” jawabku sambil tetap berjalan untuk menemui Dhee dan yang lainnya.
Saat sedang berjalan Steve menarik tangan kananku.”Sya, apa benar yang dikatakan Dhee tentang orang tuamu tadi ??”
Aku mengangguk “Iya Steve, aku tidak tahu kalau kecelakaan itu direncanakan, karena saat itu aku masih kecil” air mataku mulai mengalir lagi.
Dia menepuk pundakku, kemudian dia memelukku “ kita akan mencarinya besok. Semua data telah terkumpul. Kau harus sabar Sya”
“Iya Steve, terima kasih untuk bantuan kalian” aku melepaskan pelukannya.
“Kita harus kembali menemui mereka, kami semua mengkhawatirkanmu” ajak Steve.
Lalu kami kembali keruangan interogasi.


Saat melihatku Dhee langsung memelukku erat.
“Kita sudah mendapatkan datanya Sya. Besok kita akan menyergap mereka”
Aku mengangguk. “Terima kasih untuk bantuannya Dhee”
Lalu kami kembali kekantor mempersiapkan untuk penyergapan besok.


***
Pagi ini aku sudah bersiap untuk penyergapan. Mark akan ikut kami hari ini setelah aku menceritakan tentang kecelakaan orang tuaku yang disebabkan oleh Sam. Sebenarnya aku tidak setuju dia ikut, tapi dia memaksa, dia sangat mengkhawatirkanku. Akhirnya aku menyetujuinya, asalkan Mark nanti menunggu dimobil pengintai.


Sesampai dikantor kami langsung menuju ketempat persembunyian Scarface. Saat ini mereka sedang ada disebuah hotel dan sebentar lagi akan mereka akan meninggalkan hotel. Tim kami sudah menyebar dibeberapa titik disekitar hotel itu.


“Sayang aku keluar sekarang. Tetaplah disini, dan jangan kemana-mana sebelum aku kembali. Aku mohon”
“Kau harus hati-hati sayang, aku akan menunggumu disini” jawabnya sambil mengecup bibirku.
“Aku mencintaimu Mark..”
“Aku juga sangat mencintaimu” jawabnya.
Lalu aku keluar dari mobil, bergabung dengan tim yang lainnya.


Aku setim dengan Dhee dan Eric. Kami masuk lewat pintu darurat hotel itu. Langsung kelantai tiga. Karena menurut informasi yang kami dapatkan dia menempati kamar dilantai 3. Tak butuh waktu yang lama kami menemukan kamar 131 tempat Scarface menginap. Saat ada didepan pintu kamarnya kami mendengar beberapa orang sedang berbicara. Eric meyakinkan kalau itu adalah suara Scarface. Dengan sekali aba-aba kami menendang pintunya dan pintu itu terbuka. Eric benar, ada Scarface dan 2 orang anak buahnya disini. Mereka terkejut melihat kami bertiga.
“Tidak ada lagi celah untuk melarikan diri Scarface, tempat ini sudah dikepung” Eric mengancamnya.
“Kalian siapa??”
“Aku putri dari Ardy Wiranata dan Christina Clarkson” aku menjawabnya sambil tetap siaga dengan senjataku.
“Kau...”
“Menyerahlah Sam, inilah akhir hidupmu sebagai mafia”


Namun tanpa diduga anak buahnya melepaskan sebuah tembakan kearahku, dengan cepat aku menghindar dan tembakannya meleset. Kami terlibat aksi tembak menembak, aku dan Dhee berlawanan dengan anak buah Scarface sedangkan Eric dengan Scarface, tak lama kemudian Steve datang membantu Eric. Saat senjata lawanku kehabisan peluru, dia melepaskan sebuah pukulan kearahku disaat aku lengah  dan mengenai bibirku. Aku merasa terasa darah keluar dari bibirku namun aku tak mengiraukannya. Aku langsung menembak kakinya, dan tak lama kemudian dia terduduk tak berdaya menahan sakit. Kulihat begitu juga lelaki yang berkelahi dengan Dhee, dia menyerah setelah Gale menembaknya.

Aku melihat Scarface yang masih bisa bertahan melawan Eric dan Steve. Emosi ku sudah tak dapat kutahan lagi, aku langsung melepaskan sebuah tembakan hingga tepat mengenai kaki kanannya. Scarface terjatuh, senjatanya terlepas. Dengan cepat Steve mengambilnya.

“Itu untuk semua kejahatanmu Sam..” aku mendengus kearahnya.
“Aku akan membalasnya “
“Tidak ada waktu lagi” jawabku.
                                   
Dan Eric langsung memborgol tangannya. Tak lama kemudian beberapa tim kami datang membawa mereka kedalam mobil tahanan.
“Kalian tidak apa-apakan?? Maaf kami datang terlambat. Anak buahnya ada dibawah tadi” Zac datang bersama Lou dan Brad.
“Kita tidak apa-apa Zac.” Jawabku.
“Sya, bibirmu berdarah..”
“Aku tidak apa-apa Dhee, hanya pukulan ringan dari lawanku tadi”
“Aku akan mengobatimu dimobil nanti”
Aku mengangguk..

“Sebaiknya kau dan Dhee segera kembali kemobil Sya, kami akan segera menyusul setelah memeriksa kamar ini. Sepertinya mereka menyembunyikan sesuatu”
“Baiklah, kami menunggu kalian dimobil secepatnya” jawab Dhee.


Lalu aku dan Dhee kembali kemobil, di mobil kulihat Mark menunggu dengan gelisah. Dia tersenyum saat melihatku dan Dhee kembali.
“Sayang, apa kau terluka??” Mark langsung memelukku dan mencium keningku.
“Aku tidak apa-apa. Sudah kubilang kau tak perlu khawatir denganku”
“Iya Mark, kami tidak apa-apa. Sebentar lagi yang lainnya kan segera kembali” jawab Dhee.

Mark memperhatikan wajahku, dia memegangi ujung bibirku “ tapi ini??”
“Tidak, ini hanya luka kecil, Dhee yang akan mengobatiku.”
“Sini biar aku yang mengobatimu Sya” Dhee mendekatiku sambil memegang es batu.
“Dhee biarkan aku yang mengobatinya, sebaiknya kau istirahat saja” Mark mengambil es batu dan obat yang dibawa Dhee.
“Baiklah” jawab Dhee sambil tersenyum.

Lalu Mark mengobati lukaku, aku meringis perih saat obatnya dioleskan kebibirku.
“Aku bersyukur kau tidak apa-apa, aku sangat takut terjadi sesuatu denganmu sayang”
“Kau sudah lihatkan, aku baik-baik saja sayang. Scarface sudah ditangkap, dan tadi aku sempat menembaknya. Aku sedikit lega akhirnya dendamku terbalas” jawabku sambil tersenyum.
“Tadi aku menelpon Christian memberitahu tentang ini, sebaiknya kau telpon lagi nanti. dia mengkhawatirkanmu..”
“Baiklah, aku akan menelponnya nanti” jawabku sambil membelai wajahnya dan mengecup bibirnya dan melepaskannya.

Belum lama aku melepaskannya dia menarik daguku lagi. Dia mencium bibirku dengan lembut dan intens “Aku mencintaimu sayang”
“Aku juga sangat mencintaimu” jawabku sambil membalas ciumannya.


“Sebaiknya kita pulang sekarang” suara Zac membuat kami melepaskan ciuman kami.
Aku tersipu malu saat kulihat Zac dan yang lainnya sudah kembali. Mereka berdiri didepan pintu mobil yang dari tadi memang kami buka.
“Apa semuanya sudah selesai??” tanyaku
“Iya Sya, barang bukti sudah dibawa”
“Lanjutkan dirumah Mark..” Gale menggoda Mark. Sedangkan Mark hanya tersenyum.
“Gale...” aku melotot kearah Gale.
“Sudah sebaiknya kita pulang dan segera beristirahat. Hari ini cukup melelahkan” Zac menengahi aku dan Gale.
“Terima kasih untuk semuanya ya, aku tahu ini takkan berhasil tanpa kalian semua.”
“Sudah seharusnya kita saling membantu Sya..” jawab Lou.
Lalu kami masuk mobil untuk kembali kekantor dan setelah itu kami pulang kerumah untuk beristirahat.



***
Seminggu telah berlalu dari penyergapan Scarface, aku sangat lega karena akhirnya aku bisa membalaskan semua yang dilakukan Scarface kepada orang tuaku. Sekarang dia telah tertangkap dan dipenjarakan.


Pagi ini aku sudah berada dikantor, setibanya dikantor aku langsung keruanganku untuk membereskan semua berkas yang nanti akan aku laporkan kepada Lou. Belum lama aku mengerjakan pekerjaanku, aku keluar ruanganku untuk membuat kopi, rasanya aku sangat mengantuk pagi ini.


Tapi saat aku tiba dipantry, ponselku berbunyi. Ternyata Lila yang menelponku.
“Hallo La??”
“Sya,..” suaranya terdengar bergetar.
“Ada apa La?? Sepertinya kau sedang panik..”
“Naima hilang Sya, aku mohon bantu aku mencarinya.”
“Naima hilang?? Kau yakin, mungkin dia diajak oleh susternya keluar??”
“Tidak Sya, dia belum keluar hari ini. Tadi pagi saat suster kekamarnya, Naima sudah tidak ada” jawab Lila sambil menangis.
“Aku dan yang lainnya akan segera kesana La, kau harus tenang dulu. Sebaiknya beritahu Zac secepatnya.”
“Aku sudah menelpon Zac, tadi tidak bisa. Ponselnya tidak aktif”
“Ya sudah kau harus tetap tenang La, aku akan kesana” jawabku sambil menutup telponnya.

Minggu, 17 Februari 2013

CHAPTER 43


“Selamat datang Natasya sayang” aku langsung mencari sumber suara itu. Itu suara yang sangat aku kenali, yang sangat aku rindukan saat ini.
“Aku sudah lama menunggumu..” saat aku menoleh Kak Tian sedang duduk dipinggir tempat tidur diruangan itu.
“Kak....” aku langsung berlari memeluknya erat.
“Hey, apa kabar sayang..??” dia mencium kepalaku.
“Aku baik kak, sangat baik.. kak Tian??”
“Aku baik, maaf ya aku baru bisa menemui sekarang.”
Aku mengangguk, kemudian dia melepaskan pelukannya.
“Tadi kau bilang belum akan datang kak. Kau bohong yaa??.”
“Jangan salahkan aku Sya, ini ide calon suamimu. Dia yang ingin aku memberikan kejutan untukmu.”

Aku menoleh kearah Mark sambil menekuk wajahku. Sedangkan Mark tersenyum melihatku yang cemberut.
“Kejutan apalagi Mark, kau bisa membuatku gila..”
“Kau akan tahu nanti sayang. Ehm, aku keluar dulu ya, aku harus menemui mama dilobi.“
Aku mengangguk sambil memandangi Mark yang masih tersenyum.

Setelah Mark keluar, aku dan Kak Tian mengobrol bersama. Aku melepaskan semua kerinduanku padanya, setelah hampir setahun aku tidak bertemu dengannya. Kak Tian sebenarnya hanya kakak sepupuku, tapi sejak kedua orang tuaku meninggal saat aku berumur 10 tahun. Keluarganya yang mengasuhku hingga aku berumur 18 tahun. Kak Tian sudah menganggapku sebagai adik kandungnya sendiri, begitupun aku padanya.

***
Aku dan Kak Tian mengobrol hingga menjelang sore, barulah pada sore harinya Mark mengajakku melihat tempat  upacara pernikahan kami. Sesampainya ditempat itu, aku sangat kagum melihatnya, lokasinya tepat dipinggir pantai California yang sangat indah. Dan dapat kulihat seluruh persiapan hampir selesai. Aku hanya bisa menutup mulutku dengan kedua tanganku saat melihatnya, ini sangat indah. Mark benar-benar memberiku sebuah kejutan yang besar.

“Kau menyukainya??” katanya sambil melingkarkan tangannya dipinggangku dan mengecup keningku dengan lembut.
Aku mengangguk “terima kasih untuk semuanya Mark..”
“Ini tidak seberapa dengan kebahagiaan yang aku rasakan selama denganmu. Aku akan memberikan apapun yang bisa membahagiakanmu.”
“Kau berlebihan Mark..” jawabku sambil membelai wajahnya yang tampan.
“Aku serius dengan ucapanku Asya. Sekarang semua yang aku miliki adalah milikmu. Kau akan menjadi Mrs Feehily sebentar lagi.”
“Aku bingung bagaimana mengungkapkan semua kebahagiaanku ini. Tapi kau harus tahu Mark, aku sangat mencintaimu..” aku mencium bibirnya sekilas.
“Aku juga sangat mencintaimu, sayang..”

Lalu Mark memegang wajahku, dia mencium bibirku dengan lembut. Dan aku membalas ciumannya. Bibirnya mengecap semua bagian bibirku, saat mulutku terbuka lidahnya masuk kedalam mulutku dan lidah kami pun bertautan. Sesekali aku menggigit bibirnya dengan lembut. Seketika ciuman kami berubah menjadi panas dan mengairahkan. Nafas kami sudah terengah-engah karena kekurangan oksigen, lalu Mark melepaskan ciumannya.

“Aku sangat menginginkanmu. Bercintalah denganku sayang.” suaranya terdengar berat ditelingaku.
Aku menggeleng, “ tidak sampai kita menjadi resmi menikah..”
“Sayang, apa yang kau katakan?? Aku sangat merindukanmu” wajahnya terlihat kecewa mendengar jawabanku.
“Aku ingin bercinta denganmu saat kita sudah menjadi suami istri”
“Asyaa...”
“Aku ingin pulang Mark, aku sangat lelah. Oh iya, aku ingin tidur sendiri malam ini. Kau mengerti maksudku kan??” aku berjalan meninggalkannya.
“Bagaimana denganku sayang..??” tanyanya sambil mengacak-acak rambutnya.
“Kak Tian sendiri, atau kau pesan lagi kamar yang lain..”
“Kau membuatku gila yaa” katanya sambil berjalan mengiringi dari belakang.

Karena hari sudah mulai gelap, kami kembali kehotel. Sesampainya dihotel aku langsung mandi dan makan malam bersama. Setelah mengobrol sebentar aku memutuskan kembali kekamarku untuk beristirahat. Aku harus beristirahat dengan cukup malam ini karena aku yakin besok aku akan sangat sibuk.

***
Tak terasa hari ini adalah hari pernikahanku, sejak dari tadi pagi kami semua bersiap-siap. Karena memang acaranya yang akan dilaksanakan pada pukul 10 pagi ini. Setelah aku selesai berdandan, aku menatap diriku lekat-lekat dihadapan cermin. Hari ini aku akan menjadi istri Mark, lelaki yang sangat aku cintai. Aku sangat bahagia saat mengingatnya namun disamping itu, aku juga merasa sangat sedih. Seharusnya hari ini ada orang tuaku yang mendampingiku nanti, tapi itu tidak akan pernah terjadi. Hanya ada kak Tian dan tante Elizabeth, ibunya kak Tian yang akan mendampingiku.

Saat aku sedang bercermin Lila dan Dhee masuk kedalam kamarku, mereka terlihat sangat cantik. Aku tersenyum melihat mereka.
“Sya, kau cantik sekali..” Lila langsung memelukku.
“Terima kasih La” kalian juga sangat cantik.
“Sya, mengapa kau terlihat sedih?? Ada apa??.”
“Aku tidak apa-apa Dhee, aku hanya ingat kedua orang tuaku. Aku sangat berharap mereka ada disini mendampingku.” Jawabku terisak.
“Asya aku mengerti perasaanmu, kemarin aku juga merasa sedih karena Maa tidak ada bersamaku. Tapi aku ingat, kalau aku bersedih pasti Maa akan sedih juga. Jadi aku berusaha untuk kuat, aku yakin aku bisa melewati semuanya. Dan itu juga untukmu Sya, kau jangan pernah bersedih. Mereka akan bersedih melihat kau tidak bahagia dihari pernikahanmu” Lila menepuk pundakku.
“Iya Sya, Lila benar. Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan untukmu. Kau jangan bersedih. Ingatlah Mark yang sangat mencintaimu, kami semua juga mencintaimu.”
Aku tertegun mendengar ucapan kedua sahabatku. Yang mereka katakan benar, aku tidak boleh bersedih. Ini hari yang sangat istimewa untukku. Air mataku turun tanpa bisa kutahan lagi. Cepat-cepat aku menghapusnya dengan tanganku.
“Jangan menangis, kau akan merusak semuanya.”
“Iya Dhee, aku hanya terharu. Terima kasih kalian sudah membuat hatiku sedikit tenang.”
Mereka tersenyum lalu memelukku.

Suara  seseorang berdehem membuat kedua sahabatmu melepaskan pelukannya.
“Waktunya sudah tiba sayang, kita tidak boleh terlambat” Kak Tian menghampiriku. Lalu dia mengulurkan tangannya padaku.
“Iya kak, aku sudah siap” jawabku sambil menggenggam erat tangannya.”
“Kau harus ingat apa yang telah aku katakan padamu semalam, aku tak ingin kau bersedih sayang.”
Aku mengangguk sambil menatapnya, lalu kami keluar dari kamar menuju ketempat upacara pernikahanku.
***
Aku dan kak Tian berjalan bergandengan diiringi oleh Lila dan Dhee dibelakangku. Kak Tian mengandeng tanganku erat, sepertinya dia dapat merasakan bahwa saat ini aku sangat gugup. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya karena kulihat semua mata tertuju padaku, aku berusaha tetap tersenyum untuk menyembunyikan segala kegugupanku yang ada dalam diriku.

Saat aku memandang lurus kedepan, kulihat Mark berdiri gagah dengan memakai setelan tuxedo berwarna putih. Senyuman selalu menghiasi wajah tampannya, kegugupanku sedikit berkurang saat aku menatap mata birunya. Ya Tuhan, lancarkanlah semuanya..

Aku sudah sampai didekat Mark, kak Tian menyerahkan tanganku kepada Mark. Aku berdiri sejajar dihadapannya. Dan upacara yang sakral itupun dimulai.

***
Upacara pernikahan yang khidmat itu telah selesai dilakukan, sekarang aku telah resmi menjadi istri Mark Feehily. Ya aku Mrs Feehily sekarang, aku tersenyum saat mengucapkannya didalam hati.
Disekelilingku terlihat semua orang nampak bersuka cita saat pesta pernikahan dimulai. Aku bahagia jika semua orang berbahagia. Aku bersyukur sekali upacara pernikahanku tadi berjalan dengan lancar.

“Sayang, aku sangat bahagia akhirnya kau menjadi istriku.” Suara Mark membuyarkan lamunanku saat aku sedang memandangi orang-orang disekelilingku. Tangannya memeluk pinggangku, dan bibirnya mengecup keningku dengan lembut.
“Aku juga sangat bahagia sayang. Aku harap ini bukan mimpi, ini kenyataan..” jawabku sambil membenamkan wajahku kedadanya.
“Sya, ini bukan mimpi. Ini nyata untuk kita. Kau Mrs Feehily sekarang” Mark meyakinkanku.
Aku mengangguk, “terima kasih kau telah meyakinkanku Mark.”

Lalu dia mengangkat wajahku, mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Dia mencium bibirku dengan lembut dan intens. Beberapa saat setelah aku membalas ciumannya, ciuman kami berubah menjadi ciuman yang menggairahkan, dengan cepat tanganku sudah melingkar dileher Mark, begitu juga tangan Mark yang telah berpindah dipinggulku dan meremasnya dengan lembut.

“Hey, kalian lupa ya kalau ini masih dipesta pernikahan kalian..”
Kami melepaskan ciuman kami, kulihat sudah ada Lila, Zac, Dhee dan Gale. Aku yakin saat ini wajahku pasti sudah sangat memerah karena malu. Sepertinya aku dan Mark lupa kalau kami masih dipesta pernikahan.

“Asya, wajahmu sangat merah..” Dhee meledekku.
“Dheee...”
“Kalian lupa diri yaa?? Untung Naima tidak melihatnya” Zac menggeleng-geleng sambil tersenyum.
Aku hanya tersenyum mendengar sahabatku meledekku. Sedangkan mereka tertawa melihat ekspresiku.

“Sudah, sudah sebaiknya kita ucapkan selamat untuk Asya dan Mark..” Lila menengahi kami.
Lalu Lila memelukku “Selamat ya Sya, akhirnya kau menikah juga. Semoga kalian cepat mendapat momongan yaa”  
“Terima kasih La, aku harap juga begitu. Eh, Naima mana ya?? Aku sangat merindukannya La..”
“Dia bersama Zac, Sya..” Lalu aku mendekati Zac, mencium wajah imut Naima.
“Selamat untuk kalian ya.”
“Iya terima kasih Zac” jawab Mark sambil tersenyum.

Setelah aku mencium Naima, Dhee memelukku. “Selamat ya Sya, Mark. Semoga kalian selalu diberikan kebahagiaan. Dan sepertinya sekarang hanya aku yang tersisa diapartemen”
“Terima kasih Dhee” jawab Mark.
“Iya terima kasih Dhee, sebaiknya kau segera menikah agar kau tidak sendirian diapartemen”
“Asyaa,.” Dhee melotot menatapku.
“Iya sayang, yang dikatakan Asya benar kau tidak akan pernah sendiri jika kita menikah..”
“Gale.. apa maksudmu??”
“Aku akan menikahimu secepatnya sayang, agar kau tidak kesepian” jawab Gale sambil tersenyum.
“Aku belum siap Gale..”

Gale mengacak-acak rambutnya menjawab jawaban dari Dhee. Sedangkan kami hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka berdua. Dhee dan Gale pasangan yang sangat lucu, aku berharap mereka akan segera menikah seperti aku dan Lila.

Setelah pesta pernikahannya selesai aku dan Mark akan langsung pergi untuk berbulan madu. Rencananya kami akan berbulan madu dibeberapa negara Eropa selama 2 minggu. Saat akan pergi aku tak lupa berpamitan dengan keluarga, dan sahabatku. Terutama dengan Kak Tian dan tante Elizabeth, karena mereka akan segera pulang ke Jakarta.
“Kau jaga dirimu baik-baik ya sayang. Aku akan selalu merindukanmu” katanya sambil memelukku.
Aku mengangguk “ Aku harap takkan lama lagi aku akan mendapat kabar tentang pernikahanmu kak..”
“Iya, aku janji untuk itu sayang.” Katanya sambil mencium keningku.

Sabtu, 16 Februari 2013

CHAPTER 42



Akhir-akhir ini aku sering ditugaskan oleh Lou keluar kota bahkan keluar negeri untuk menghadiri beberapa pertemuan dengan para agent dunia. Terkadang aku bingung sendiri, bagaimana jika nanti aku sudah menikah apa kesibukanku akan tetap seperti ini. Entahlah. Beruntungnya Mark sangat memaklumi pekerjaanku, selama aku masih bisa menjaga keselamatan diriku.

Sudah lama sekali aku tidak berkumpul dengan kedua sahabatku, aku sangat merindukan mereka. Terutama dengan Lila, aku sudah lama tidak bertemu dengannya, tepatnya sejak dia memutuskan untuk non aktif sementara dari keanggotaannya sebagai agent karena sebentar lagi dia akan melahirkan putri pertamanya.

Hari ini aku berencana untuk mengunjungi Lila dirumahnya yang terletak dipinggiran kota New York. Aku belum menceritakan tentang rencana pernikahanku dengan Mark yang akan dilaksanakan dipertengahan tahun ini. Aku yakin dia akan sama bahagianya denganku saat mengetahuinya. Tadi saat dikantor aku menceritakannya dengan Dhee. Jangan ditanya bagaimana reaksi Dhee saat mendengarnya. Dia sangat senang karena akhirnya aku akan segera menikah dengan Mark. Dan yang membuatku tertawa saat Gale langsung mengajaknya menikah juga. Namun Dhee tidak mengubrisnya, sepertinya dia belum siap menikah dalam waktu dekat. Melihat Dhee yang belum memberikan tanggapan Gale terlihat agak kecewa. Tingkah Gale yang sedikit konyol itu membuatku tak henti-hentinya tertawa.

Aku mengendarai mobilku dengan kencang dijalanan yang sepi, sekitar 10 menit akhirnya aku sampai dirumah Lila. Aku langsung memarkirkan mobilku didepan garasinya, kemudian mengetuk pintunya. Tak lama  kemudian Lila membukakan pintunya. Dia sepertinya terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba.

“Lilaaa....” aku langsung memeluknya.
“Asya.. kapan kau pulang dari L.A?? kau tidak bilang akan datang??. Ayo masuk..”
Lalu kami berdua berjalan masuk keruang tamu Lila dan duduk disofa.
“ 2 hari yang lalu La, aku sengaja tidak memberitahumu akan kesini, aku ingin memberimu kejutan. Kau tahu, aku sangat merindukanmu..”
“aku juga sangat merindukanmu Sya, kemarin dihari terakhirku dikantor kau sedang ada di L.A. Bagaimana semuanya pekerjaanmu beres kan??”
“Iya La, semuanya beres.. “ jawabku.
“kau mau minum apa?? Aku buatkan yaa”
“tidak La, tidak usah aku belum haus. Oh iya, aku membawakanmu ini.” aku memberikan bungkusan berisi buah-buahan yang ku beli tadi.
“ya sudah kalau kau belum mau, terima kasih ya untuk buahnya “

“Ehh, Zac mana La??”
“Zac, sedang pergi berbelanja Sya, persediaan makanan kami tinggal sedikit. Tadinya aku ingin ikut, tapi dia melarangku.”
“ohh, iya La, kau jangan terlalu lelah. Apalagi saat ini perutmu sudah sangat besar. Kapan kau kan melahirkan??”
“Menurut dokter, sekitar 3 atau 4 hari lagi Sya. Aku sangat gugup menantinya. “
“Semoga proses kelahirannya lancar ya La..”
“ aku harap juga begitu,. Bagaimana hubunganmu dengan Mark?? Zac dan Dhee bilang akhir-akhir ini kau sering diantar Mark kalau kekantor. Dia sudah tahu tentang pekerjaanmu??”

Aku langsung tersenyum mendengarnya,
“kau kenapa tersenyum??”
“Iya dia sudah lama tahu tentang pekerjaanku, dan beruntungnya dia memakluminya. Dan satu hal lagi La, dia melamarku...” jawabku penuh semangat
“kau serius Sya?? Lalu kapan kalian akan menikah??’ Lila meyakinkanku
Aku mengangguk “ Iya aku serius, kami akan menikah pertengahan tahun ini. Mark masih ada beberapa jadwal tour saat ini”
“Selamat Sya, selamat yaa.. aku turut bahagia mendengarnya” dia langsung memelukku.
“terima kasih La, kau tahu aku sangat membutuhkan kalian untuk memantapkan hatiku. Terkadang saat aku ingat pernikahanku yang semakin dekat membuatku ragu dan gugup”
“apa yang kau ragukan Sya??, Mark sangat mencintaimu, dia mau menerima keadaanmu”
“entahlah apa yang kuragukan saat ini, aku tidak bisa mengungkapkannya”jawabku.
“sebenarnya semua perempuan akan gugup saat akan menikah. Lalu apakah Christian sudah tahu tentang ini”
“aku sudah menelponnya beberapa waktu lalu, dia sangat senang. Tapi sayang dia belum bisa datang kesini, dia sepertinya sangat sibuk La.”
“sudah tidak apa-apa Sya, disini kau masih ada aku, Dhee, Zac, dan Gale. Kita semua keluarga Sya. “

Aku mengangguk mendengar ucapannya, Lila benar walaupun kak Tian belum bisa kesini aku masih ada sahabatku yang selalu menemaniku. Merekalah keluargaku selain kak Tian.
“Asya, aku tahu kau sedang memikirkan orang tuamu. Kau jangan sedih Sya” Lila menepuk pundakku.
“Iya La,aku tahu. Aku tidak boleh bersedih. Aku sangat beruntung memiliki kalian semua.”
“Sya, aku kedapur dulu ya. Aku ingin membuat teh untuk kita berdua.”
“aku ikut ya, sekalian aku mau ketoilet La.” Jawabku

Lalu kami berjalan kedalam, Lila kedapur dan aku toilet. Selesai dari toilet aku menyusul Lila didapur. Saat baru saja aku melangkah keluar toilet kudengar Lila memanggil namaku.
“Syaa. Asya.. tolong aku Sya”
“Iya La, ada apa??” aku bergegas menemuinya
Saat aku sampai didapur kulihat Lila sudah terduduk dikursi didekat meja makan,wajahnya terlihat sangat pucat, keringatnya pun bercucuran. Aku langsung panik melihatnya.
“Kau kenapa La??”
“Sya, perutku sakit sekali rasanya. Tolong bantu aku kekamar yaa”
“Iya Laa, ayo. Kau pelan-pelan yaa??”

Aku memapah Lila berjalan kekamarnya. Sesampai dikamar dia langsung duduk bersandar ditempat tidurnya.
“kau kenapa La.. aku telpon Zac dulu yaa..”
“perutku sakit Sya, sepertinya aku akan melahirkan. Iya kau telpon Zac, cepat Sya..”
“Iya La, aku menelponnya sekarang”
Lalu aku menelpon Zac, tapi saat ku telpon terdengar suara ponsel berbunyi diatas meja hias Lila. Astaga aku rasa ponsel Zac tertinggal.
“Sya, itu ponselnya Zac. Ponselnya tertinggal.”Lila masih meringis kesakitan.
“kita kerumah sakit saja yaa. Aku bantu kemobilku”
“Tidak Sya, kau telpon saja dokter kandunganku. Suruh dia kesini. Nomornya ada diponselku. Cepat Sya ini sakit sekali” Lila meringis sambil memegangi perutnya
“Iya La, iya.”
Lalu aku mengambil ponsel Lila dan menelpon dokter kandungannya. Mereka akan datang kesini 10 menit lagi. Tapi aku sangat kasihan melihat Lila yang kesakitan. Ya Tuhan, bantulah dia..

Saat aku sedang menenangkan Lila yang mulai menangis karena kesakitan, kudengar seseorang datang.
“Sayang kenapa kau tidak mengunci pintunya??” terdengar suara Zac dari arah ruang tamu
“Zaaac...” Lila memanggil Zac pelan.
“La, kau tunggu disini ya. Biar aku yang menemui Zac” Lila mengangguk, aku lalu menemui Zac.

Kulihat Zac baru saja pulang dari belanja banyak sekali kantong yang dia bawa.
“Zac, akhirnya kau pulang juga”
“Hai Sya, Lila mana??”
“Lila dikamar, perutnya sakit Zac. Aku sudah menelpon dokter untuk kesini. Sebaiknya....”
Belum selesai aku berbicara, Zac sudah meninggalkanku. Dia langsung kekamar menemui Lila, begitupun aku yang kembali kekamar. Dikamar kulihat Zac menenangkan Lila yang menangis.
“sudah lama Sya Lila perut Lila sakit..??” tanya Zac
“belum sih Zac, apa mungkin Lila mau lahiran sekarang Zac??”
Saat aku sedang berbicara dengan Zac kudengar seseorang mengetuk pintu. Dengan cepat aku keluar kamar dan membuka pintu. Ternyata seorang dokter dan dua orang suster yang datang. Aku langsung mengantarkan dokter dan suster itu kekamar Lila. Dikamar dokter langsung memeriksa Lila sedangkan aku menunggu diruang keluarga yang ada dirumah Lila. Selama menunggu Lila, aku menelpon Dhee untuk segera kesini. Untunglah Dhee tidak sibuk dia akan segera datang.

***
Selama sejam lebih aku menunggu kudengar Lila sesekali berteriak, aku sangat mengkhawatirkanya. Beruntung Dhee datang, kami menunggu bersama sambil berdoa semoga semuanya lancar. Dan benar saja tak lama kemudian seorang suster keluar, diiringi oleh Zac. Aku dan Dhee langsung mendekati Zac yang sedang berbicara dengan dokter.
“Zac, bagaimana Lila, semuanya baik-baik saja kan??” aku langsung bertanya kepada Zac.
“Lila, baik-baik saja Sya, Dhee. Dia sudah melahirkan putri kami dengan selamat. Terima kasih kalian sudah membantu Lila yaa “
“Iya Zac. Boleh kami masuk sekarang”
“sudah boleh Dhee. Aku mau mengambil perlengkapan bayi yang ada dikamar atas yaa” kata Zac sambil meninggalkan aku dan Dhee.

Aku dan Dhee langsung masuk menemui Lila, saat itu kulihat Lila setengah tertidur sambil memeluk bayi mungilnya yang lucu. Namun mendengar aku dan Dhee masuk Lila kembali membuka matanya.
“La, maaf kami menganggumu. Kami hanya ingin melihat keadaanmu dan bayimu.”
“kalian tidak menganggu Sya, Dhee. Terima kasih untuk bantuannya yaa”
Aku mengangguk sambil duduk dikursi disamping tempat tidur Lila. “La selamat yaa..”
“Iya La, selamat ya. Bayimu sangat lucu..” Dhee mendekati bayi Lila sambil membelai wajahnya
“sangat menggemaskan ya Dhee. Ehh, namanya putri cantik ini siapa La??”
“Aurora Naima Alexandra, dan aku memanggilnya Naima” terlihat rona bahagia diwajah Lila.
Aku dan Dhee tersenyum melihat Lila membelai dan  mencium pipi putri kecilnya.
“Bertambah lagi kebahagiaan yang kumiliki selain kalian semua. Aku memilikinyanya”

***
Waktu ternyata berjalan dengan sangat cepat, tak terasa acara pernikahanku dan Mark tinggal seminggu lagi. Semua persiapan telah selesai, hanya saja aku belum bisa membayangkan seperti apa tempat pernikahanku nanti. Karena Mark merahasiakannya dariku, aku hanya tahu kalau acaranya akan dilaksanakan disebuah pantai.
Hari ini, tiga hari sebelum hari pernikahanku aku dan Mark akan pergi kelokasi pernikahan kami, Menurut Mark sebagian keluarganya sudah ada disana. Tapi yang membuatku sedikit sedih kak Tian yang kemarin rencananya akan datang hari ini ternyata batal. Dia baru akan datang sehari sebelum pernikahanku. Aku sedikit kecewa mendengarnya, padahal aku sangat merindukannya.

“Sayang, kau kenapa?? Sepertinya kau tidak bahagia??’ suara Mark membuyarkan lamunanku.
“aku tidak apa-apa sayang..”
“Asya, kau jangan gugup. Ayolah tersenyum sayang” Mark meremas tanganku

Aku tersenyum mendengar ucapannya, perasaanku rasanya tak karuan. Bercampur aduk antara bahagia dan sedih. Aku sangat bahagia karena aku akan segera menikah dengan Mark, tapi kesedihan melandaku, aku sangat ingin ada kedua orang tuaku saat pernikahanku nanti. Tapi hal itu tidak mungkin terjadi, hanya akan ada kak Tian yang mendampingiku. Aku memejamkan mata mengingat itu semua. Ya Tuhan beri aku kekuatan untuk melewati ini tanpa kedua orang tuaku.

Akhirnya perjalanan yang melelahkan itu telah usai, sesampai dibandara kami langsung melanjutkan perjalanan dengan mobil. Tiga puluh menit perjalanan kami sampai disebuah hotel mewah. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dihotel ini. perjalanan panjang tadi ternyata sangat melelahkanku.

“Istirahatlah dulu sayang, aku tidak ingin kau sakit. Aku janji sore ini kita akan melihat tempatnya” katanya ambil mencium keningku
“Baiklah, aku istirahat dulu ya“
Lalu aku dan Mark berjalan kekamar hotel, Mark menyuruhku membuka pintunya.
“kau buka ya sayang, ini kuncinya”
Aku mengambil kunci dari tangan Mark, dan membuka pintunya. Lalu aku masuk kedalam, saat aku masuk kudengar seseorang memanggil namaku.


Kamis, 14 Februari 2013

CHAPTER 41

“Dhee...“ tiba-tiba Adam menghampiriku yang sedang menikmati makan malamku.
“Bolehkah aku duduk disini?“

“Hai Adam, senang bisa bertemu denganmu lagi. Tentu saja, silakan duduk.“ jantungku langsung berdebar hebat.

“Kapan kau tiba di London? Aku pikir Lila atau Asya yang akan datang kemarin?“

“Tidak Adam, Asya sedang ada tugas di Kanada sedangkan Lila dia sedang hamil besar jadi tidak mungkin untuk bepergian jauh.“

“Lila sedang hamil?“

“Iya, Lila sudah menikah.“

“Sepertinya akan banyak sekali secret agent yang patah hati jika mendengar salah satu dari kalian sudah menikah.“

“Kau bisa saja, Adam.“

“Tapi kenapa Lila lebih memilih menikah di usia muda, ya? Siapa pria yang menjadi suaminya itu? Apakah Zac?“

“Ya, Lila menikah dengan Zac. Lalu kau sendiri kapan akan menikah?“

“Aku belum menemukan wanita yang tepat Dhee. Aku masih saja memikirkanmu.“

Aku langsung terbatuk-batuk mendengar ucapannya itu.

“Kau baik-baik saja, Dhee?“

“Aku tidak apa-apa, Adam. Aku hanya merasa ada makan yang tersangkut di tenggorokanku. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa.“

“Aku pikir kau tersedak karena mendengar ucapanku itu.“

“Tidak Adam tidak.“

“Tapi yang aku katakan itu sungguh-sungguh, Dhee. Aku masih mencintaimu, sangat sangat mencintaimu.“

“Adam...“ aku hanya bisa mendesah keras, tak tahu harus berkata apa lagi.

Tiba-tiba Adam meraih salah satu tanganku. Lalu ia mengecup buku-buku jariku dengan sangat lembut dan lama.

Jantungku kembali berdetak kencang tak karuan. Lalu Adam mulai mendekatkan wajahnya, sehingga aku bisa merasakan nafasnya di wajahku. Ya Tuhan...

Sampai akhirnya Adam mendaratkan ciumannya tepat di bibirku. Ciumannya terasa sangat lembut dan panas di bibirku.
Suasana restoran yang romantis, dengan penerangan yang temaranlm serta alunan musik. Membuat suasana romantis yang
di suguhkan jadi semakin terasa. Kami berdua terbawa suasana.

Karena akhirnya aku membuka mulutku untuk memberikan akses lidahnya agar lebih leluasa mengeksplorasi mulutku.

Lidah kami saling berpagutan. Saling mencecap rasa masing. Aku membalas tiap ciumannya dan sesekali menggigit bibirnya dengan gemas dan bergairah.

Ketika nafas kami berubah menjadi terengah-engah. Adam melepaskan ciumannya. Dengan tatapan mata yang menyala-nyala.

“Aku sangat menginginkanmu malam ini, Dhee.“ suaranya terdengar sangat berat.

“Tidak Adam, aku...“

“Kumohon Dhee, hanya malam ini.“

Permohonannya benar-benar terdengar sungguh-sungguh. Membuat hatiku menjadi kalut dan bergejolak. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini.

“Tidak Adam...“

Aku memanggil pelayan untuk membawakan bill-nya. Setelah membayar tagihannya aku beranjak dari kursiku. Bersiap untuk pergi dari tempat itu dan kembali ke hotel.

“Dhee, tunggu dulu.“ Adam memcengkram lenganku dengan kuat.

“Ada apa lagi Adam? Lepaskan tanganku dan biarkan aku pergi. Aku sangat lelah.“

“Biar aku mengantarmu kembali ke hotel. Boleh, kan?“

Aku berpikir sejenak, “Umm... Baiklah kalau begitu.“

Adam melepaskan cengkramannya. Lalu kami berdua keluar dari restoran Italia itu dan menuju ke hotel tempatku menginap.

Kami berjalan berdampingan. Tapi keheningan hadir di antara kami. Baik aku maupun Adam hanya terdiam, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami berdua. Sampai pada akhirnya kami sampai di depan hotel.

“Umm... Terima kasih sudah mengantarkanku Adam.“

“Sama-sama Dhee. Sebaiknya kau lekas masuk.“

“Baiklah, sekali lagi terima kasih. Sampai berjumpa lagi besok di pertemuan.“

“Selamat beristirahat, Dhee.“

Aku tersenyum sambil melambai kepada Adam. Lalu aku masuk ke dalam hotel,menuju ke kamatku dan langsung beristirahat.

Pasca penolakanku atas permintaan Adam pada malam pertemuan kami. Antara aku dan Adam seperti tercipta semuah benteng pembatas yang menjulang tinggi.

Selama pertemuan dan sesudahnya Adam selalu bersikap profesional. Sampai hari terakhirku berada di London pun Adam tetap seperti itu.

Namun aku tidak begitu menghiraukan perubahan sikap Adam kepadaku. Karena aku hanya mencintai Gale, kekasihku. Dan akhirnya pesawatpun lepas landas menuju New York. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan keksihku, karena aku sangat sangat merindukannya sekali.

Senin, 11 Februari 2013

CHAPTER 40

Chapter 40

“Kau memang cantik Miss Davis. Pantas saja putra kebanggaanku begitu tergila-gila kepadamu.“

“Saya hanya seorang gadis yang biasa-biasa saja.“

“Dan aku berharap kaulah yang menjadi pendamping Kyle. Aku akan sangat bahagia sekali jika kau menjadi menantuku.“

“Tapi maaf aku tidak sedang ingin menjalin suatu hubungan yang serius dengan siapapun. Dan pernikahan tidak ada dalam rencana jangka panjangku.“

Pada saat itu Kyle mengajakku untuk berbincang-bincang dengan ayahnya di salah satu sudut ruangan.

“Tapi Ara, wajahmu mengingatkanku kepada seseorang.“

“Benarkah? Siapa itu?“

“Seorang wanita yang sempat aku cintai ketika aku berada di Indonesia. Sayangnya wanita itu menikah dengan orang lain dan memiliki seorang putri.“

Detak jantungku langsung berdetak kencang mendengarkan ceritanya. Jangan bilang bahwa kau pernah mencintai ibuku.

“Memangnya siapa nama wanita itu?“

“Clarissa Angelina Davidson.“

Aku langsung tersedak mendengar nama yang di sebutkan oleh Red Eye. Ya Tuhan, itukan nama Maa.

“Kau tidak apa-apa, Ra?“

“Tidak apa-apa Kyle, aku hanya tersedak. Lalu apakah anda masih sering bertemu dengan wanita itu?“

“Kami bertemu di kantor polisi. Karena Clarissa seorang secret agent dan aku ini seorang mafia.“

Kyle membelalakkan matanya terkejut, “Apa? Ini bercanda kan, Pa?“

“Tidak Kyle, ayahmu ini memang seorang penjahat kelas kakap. Pihak kepolisian mana yang tidak mengenal Red Eye. Kau mau tahu Kyle, aku sudah menembak mati Clarissa.“

“Hentikan omong kosong ini, Pa.“

“Sudah kubilang aku tidak berbohong. Semua yang aku katakan adalah yang sebenarnya, Kyle.“

“Akhirnya kau mengakui juga semua kejahatanmu Red Eye. Kau di tangkap.“

Aku mengeluarkan borgol dan dengan cepat memborgol kedua tangannya.

Red Eye terkejut, “Apa-apaan ini?“

“Aku dari CIA, yang bertugas untuk menangkapmu. Karena setelah bertahun-tahun akhirnya aku bisa berhadapan langasung dengan pembunuh ibuku.“

Red Eye mengerutkan keningnya, “Ibumu?“

“Clarissa Angelina Davidson adalah ibuku. Kau sudah membuatku tumbuh dewasa tanpa mengenal ibuku dan tanpa kasih sayang ibuku.“

“Kau... Kau Kyla? Salah satu secret agent terbaik yang di miliki oleh CIA, kan?“

“Ya aku Kyla dan aku mendekati anakmu hanya untuk menangkapmu. Jangan macam-macam karena tempat ini sudah di kepung.“

“Ya Tuhan, ada apa sebenarnya ini?“ Kyle terlihat frustasi dengan semua ini.

“Kyle kau harus menolong Papa.“

“Diam di tempat Kyle, Papamu sudah banyak sekali melakukan kejahatan.“

Tapi tiba-tiba Kyle menarik lenganku hingga pistol yang aku pegang terjatuh. Lalu Kyle menyereku menjauh dari Red Eye.

“Apa yang kau lakukan, Kyle. Lepaskan aku.“ tapi Kyle tidak menggubris ucapanku, “Zac tolong aku.“

Tiba-tiba Kyle berhenti, “Zac? Siapa pria itu?“

“Suamiku, sampai kapanpun kau takkan bisa memilikiku, Kyle.“

“Aku akan tetap menjadikanmu milikku. Apapun yang terjadi, aku tidak peduli.“

Kyle menyeretku masuk ke dalam sebuah kamar dan mengunci pintunya. Lalu Kyle menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur dan menindih tubuhku.

“Menyingkir kau dari atas tubuhku, Kyle.“ aku berontak.

“Tidak akan Ara, siapapun namamu. Aku takkan melepaskanmu lagi, sampai kapanpun.

Kyle berusaha untuk menciumku. Namun aku terus berontak dan menghindar. Namun Kyle tidak mau menyerah. Dia terus saja berusaha untuk menciumku.

“Tidak Kyle, lepaskan aku.“ aku terus berteriak dan berontak, “Zaaaacccc.“

Tiba-tiba tubuh Kyle terpelanting. Dan menubruk tembok.

“Jangan coba-coba untuk menyentuh istriku, Kyle.“

Aku langsung bangun, “Zac...“

“Sayang, apa kau terluka? Maaf aku terlambat menemukanmu.“ Zac memeluk dan menciumi wajahku dengan lembut.

“Aku baik-baik saja, Zac. Ayo kita keluar dari sini.“

Zac memapahku keluar dari kamar itu. Sedangkan Kyle tidak sadarkan diri karena terbentur tembok.

***

Ternyata keadaan di sini berubah menjadi sangat kacau. Kami terlibat baku tembak dengan para mafia itu. Aku melihat Zac dan Lila yang keluar dari sebuah ruangan.

“Lila, apakah kau baik-baik saja?“

“Aku baik-baik saja, Sya.“

“Sebaiknya kau cepat keluar dari tempat ini.“

“Tidak Dhee, aku akan membantu kalian.“

“Jangan bandel, Lila. Cepat keluar.“

Aku tahu bahwa Lila ingin  sekali ikut berkelahi, tapi itu tidak mungkin. Karena keadaanku yang sedang mengandung ini.

Dan akhirnya Zac berhasil memaksa Lila untuk keluar dari tempat ini. Setelah Lila dan Zac berhasil keluar. Aku kembali fokus pada pertarungan ini.

Setelah satu jam semua mafia berhasil kami lumpuhkan. Dan langsung di bawa untuk di masukkan ke dalam penjara.

Ketika di luar kami bertemu dengan Zac dan Lila yang sedang berdebat. Entah apa yang sedang mereka berdua ributkan. Karena yang ada di pikiranku saat ini adalah bertemu dengan Gale.

Dan aku menemukan kekasihku sedang mendapatkan pengobatan dari para medis. Tubuhnya penuh luka, tapi Galr terlihat baik-baik saja.

“Sayang, kau tidak apa-apa?“

“Aku tidak apa-apa Dhee, hanya luka kecil.“

Aku langsung memeluk Gale, “ Aku sangat mengkhawatirkanmu, Gale.“

“Sttt, aku baik-baik saja sayang.“

Lalu Lila dan Zac menghampiri kami.

“Dhee...“ Lila langsung memelukku, “Kau tidak apa-apa, kan? Asya dimana, dia juga baik-baik saja,kan?“

“Kami baik-baik saja, Lila. Kau jangan khawatir.“

“Maaf sudah melibatkan kalian dalam masalahku.“

“Sudahlah, Lila. Jangan mulai lagi, oke. Ngomong-ngomong kau tadi kemana mengapa menghilang dan tidak bisa di hubungi?“

“Kyle tadi menyeretku ke sebuah kamar dan berusaha untuk memperkosaku, Dhee. Aku syok Kyle sampai bisa berbuat seperti itu.“

“Ya ampun, tapi Kyle belum melakukan apapun, kan?‘

“Tidak Dhee, karena Zac segera dan menolongku.“

“Dan sekarang kita bisa pulang untuk beristirahat.“

“Kau benar Gale, tapi aku ingin para medis memeriksa keadaan Lila dan kandungannya.“

Zac langsung membawa Lila ke ambulan yang lain. Setelah itu kami semua pulang untuk beristirahat.

***

Akhirnya Red Eye berhasil di tangkap. Paa sempat marah kepadaku, sebenarnya Paa sangat mengkhawatirkanku apalagi setelah tahu bahwa aku sedang hamil.

Semoga Maa disana bisa lebih tenang. Dan yang terpenting adalah aku bisa menjalani kehidupanku tanpa beban di masa lalu yang selalu membuatku merasa tidak tenang.

Aku pun bisa lebih tenang dan santai menjalani kehamilanku yang semakin hari semakin membesar. Dan Zac tidak mengizinkanku untuk terjun langung dalam menangani sebuah kasus.

Jadi aku hanya mengerjakan tugas-tugasku di kantor saja. Toh, hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Menanti kelahiran putri kecilku yang akan segera lahir empat bulan lagi. Karena saat ini kehamilanku sudah menginjak bulan ke lima.

Zac pun sudah mempersiapkan sebuah rumah di daerah pinggiran kota yang masih hijau. Rumahnya sangat indah dan sejuk sekali. Karena kami memiliki sebuah danau pribadi yang berada tepat di depan.rumah.

Dan ada sebuah hutan kecil juga di sana. Suasana seperti ini yang aku butuhkan. Karena bisa membuat pikiranku lebih rileks.

Sudah tiga hari kami pindah ke sana. Sangat menyenangkan sekali memiliki sebuah rumah yang indah seperti ini karena aku bisa melakukan berbagai hal yang aku inginkan.

“Sayang, akhirnya kita memiliki sebuah rumah untuk keluarga kecil kita ini.“

“Terima kasih untuk rumah yang indah ini, Zac. Aku sangat menyukainya, terutama danau yang berada di depan sana.“

“Ayo kita naik perahu sambil berkeliling danau.“

“Pasti akan sangat menyenangkan sekali. Ayo kita pergi sekarang, Zac.“

Lalu kami berdua pergi keluar, kebetulan sekali hari ini cuacanya sangat bagus. Ternyata sangat menyenangkan sekali berjalan-jalan menggunakan perahu di danau.

“Aku mencintaimu, Zac.“

“Aku juga sangat mencintaimu, sayang.“

Zac langsung memagut bibirku dan menciumku dengan sangat lembut sekali. Dan ketika Zac mulai liar aku segera melepaskan ciumannya.

“Hentika, atau kita berdua akan jatuh ke dalam danau.“

“Maafkan aku sayang. Karena aku masih belum bisa menahan diriku.“

***

Hari aku berangkat ke London. Karena Lou menugaskanku untuk menghadiri sebuah pertemuan di sana yang rencenanya akan di selenggarakan selama satu minggu.

Itu artinya aku harus berpisah selama satu minggu dari Gale. Gale sempat mengajukan diri kepada Lou untuk ikut denganku ke London, sayangnya Lou memiliki tugas lain yang harus di kerjakan oleh Gale.

Itulah yang membuatnya menekuk wajahnya sejak tadi pagi sebelum mengantarkanku ke bandara. Lucu sekali jika melihat ekspresi wajahnya yang merajuk seperti itu, sangat menggelikan sekali.

Dan pesawat yang menuju ke London akhirnya lepas landas. Aku memutuskan untuk membaca berkas-berkas yang di berikan oleh Lou sebelum tidur. Aku tidak begitu suka oleh efek yang di timbulkan oleh jetlag.

Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan sangat melelahkan akhirnya aku mendarat di bandara Hethrow London. Dari situ aku langsung menuju ke hotel yang sudah di siapkan oleh pihak penyelenggara pertemuan.

Karena pertemuan baru akan di mulai keesokkan harinya aku memutuskan untuk tidur setelah mengirimkan e-mail untuk Gale. Mataku langsung terpejam ketika menyentuh bantal yang sangat empuk itu.

Aku terbangun karena perutku sangat lapar sekali. Dengan enggan aku membuka mata dan melihat jam yang ada di meja samping tempat tidur.

Pukul delapan malam, pantas saja aku merasa sangat lapar sekali. Aku bangun dan setelah meregangkan tubuhku, aku langsung bergegas untuk mandi.

Setelah selesai aku memutuskan untuk mencari makanan di luar hotel saja sambil berjalan-jalan. Menikmati hiruk pikuk kota London di malam hari.

Akhirnya aku memutuskan untuk makan di sebuah restoran Italia. Di restoran itulah aku bertemu kembali dengan Adam. Pria yang berhasil membuat jantungku berdetak hebat setelah Gale.