Sesampainya dikampus aku
langsung duduk didepan kelasku. Tak lama menunggu aku melihat Robert datang
kearahku, aku pura-pura konsentrasi membaca buku. Setelah sampai didekatku dia
langsung menyapaku..
“Hai, Dilla.. kau sudah
lama menungguku??” katanya duduk disampingku.
“tidak juga, aku baru saja
keluar..”
“kita bisa pergi
sekarang?? Aku sudah sangat lapar” ajaknya.
“baiklah aku juga sudah
lapar..” aku beranjak dari tempat duduk dan memasukkan buku-bukuku kedalam tas.
Lalu kami pergi kecafe
yang terletak diseberang kampusku. Aku sengaja menerima ajakannya untuk naik
mobil bersamanya dan meninggalkan mobilku dikampus. Aku ingin melihat bagaimana
mobilnya apakah ada sesuatu yang mencurigakan atau tidak. Saat aku masuk
didalam mobilnya aku mulai melirik, melihat sarta memainkan kamera pengintai yang
terpasang dijam tanganku apakah ada hal yang mencurigakan atau tidak.
Sesaat setelah sampai
dicafe, kami langsung memesan makanan dan setelah pesanan itu datang kami
langsung makan bersama. Disaat makan itulah aku mulai memperhatikan wajah
Robert, dia memang mirip dengan Tom. Dan satu hal lagi, Dhee benar dia memang
tampan. Makanku yang terhenti karena memperhatikan Robert membuatnya jadi
memperhatikanku.
“Dilla, kau sangat
cantik..” katanya sambil menyentuh tanganku
Aku terkejut dengan
sentuhan tangannya yang tiba-tiba.
“terima kasih akhirnya kau
mau kuajak makan bersama. Kau tau aku sudah lama menginginkan waktu berdua
denganmu,.”
Aku mengangguk sambil
tersenyum..
“oh iya kau tidak kekantor
hari ini??” aku berusaha untuk mengalihkan pembicaraannya. Karena aku memasang
alat perekam juga di liontin kalungku, akan sangat memalukan jika Robert
terus-terusan memujiku dan semuanya terekam. Aku akan sangat malu saat rekaman
ini diputar kembali dikantor.
“aku mengambil cuti sambil
akhir minggu ini, aku sedang ada urusan lagipula aku akan mengunjungi kedua
orang tuaku di Paris.”
“orang tuamu di Paris??”
“iya mereka sudah menetap
diParis sejak 2 tahun yang lalu. Tadinya mereka di London, tapi karena suatu
hal mereka pindah di Paris dan menetap disana.”
Lalu dia menceritakan
sedikit tentang dirinya dan keluarganya. Aku hanya mendengarkan dan
memperhatikannya. Dari situ aku baru tahu kalau dia sebenarnya adalah anak
yatim piatu yang diambil oleh pasangan suami istri yang kaya raya untuk
dijadikan anak. Tapi aku bingung tentang kebenaran ucapannya, apa mungkin dia berbohong?? Tapi dari
tatapan matanya sepertinya dia tidak bohong. Entahlah..
*****
Selesai makan siang dengan
Robert aku kembali kekampus, saat dikampus aku masuk kedalam mobil dan membuka
laptop untuk mengirimkan foto, dan rekaman video tentang aku dan Robert kepada
Dhee. Aku harap Dhee bisa memastikan apakah Robert itu adalah Tom. Setelah
selesai aku memacu mobilku dengan kencang kembali kekantor.
Setibanya dikantor aku
langsung keruangan Dhee, ternyata Dhee bersama Lila. Mereka sedang
mengidentifikasi foto Tom dengan hasil rekamanku tadi.
“bagaimana Dhee, La,
apakah Rob itu Tom??” aku langsung mendekati mereka berdua.
“ coba kau lihat Sya,
kedua foto ini sangat mirip. Jadi menurut ku Robert itu adalah Tom” Dhee
meyakinkanku.
“Dan juga tadi aku baru
saja mendapatkan informasi kalau Tom itu adalah kaki tangan dari ketua
kelompoknya. Jadi bisa dikatakan kalau Tom mengetahui semua informasi kelompok
Stephanie” Lila menambahkan.
“Dan Lou sudah mengetahui
tentang ini Sya, dia tadi menugaskanmu untuk tetap mendekati dan memata-matai
Tom”
“ternyata tugasku
berlanjut..” aku mendesah
“tidak apa-apa Sya,
lagipula Robert menyukaimu. Sedikit menyenangkan bukan??” Dhee meledekku lagi.
“tidak untuk seorang mafia
Dhee.. “
“tapi setelah aku
lihat-lihat dia tampan juga Sya” Lila ikut meledekku.
“ kalian berdua memang
sama ya..”
Lalu mereka tertawa
melihatku menekuk wajahku.
****
Sejak hari itu, aku dan
Robert jadi sering bersama walaupun itu hanya sekedar ngobrol atau makan
bersama. Kedekatan antara aku dan Robert ini sedikit menganggu hubunganku
dengan Mark, tak jarang saat aku bersama Robert, Mark tiba-tiba menelponku. Dan
dengan terpaksa aku berbohong padanya mengatakan kalau aku sedang sibuk dan
tidak bisa diganggu.
Sementara aku menghabiskan
waktuku dengan Robert, Lila dan Dhea bersama Tim yang lainnya sedang menyiapkan
rencana penyergapan di apartemen Robert dan dirumah yang sudah dipastikan kalau
itu gudang dari obat-obatan terlarang. Memang sebelumnya aku sudah memberitahu
mereka bahwa Robert akan mengajakku keapartemennya. Dia mengajakku
keapartemennya karena besok dia akan pergi keParis dan belum tahu kapan akan
kembali ke New York.
Pagi ini aku sudah
bersiap-siap untuk pergi bersama Robert, sudah dua hari aku menyewa sebuah flat
untuk tempat tinggalku sementara. Hal itu dikarenakan Robert selalu ingin
mengantarku pulang. Aku tidak mungkin mengajak Robert ke apartemen, karena hal
itu sangat berbahaya.
Tepat pukul 9 Robert
menjemputku, dia sangat kagum melihatku memakai Gaun berwarna coklat tua dengan
model punggung terbuka, ditambah lagi dengan beberapa aksesoris yang mendukung
penampilanku. Aku sengaja berdandan sedikit berlebihan dari biasanya, aku ingin
membuat Robert terkagum-kagum melihatku.
Sekitar 30 menit kami
mengendarai mobil dari flatku. Kami tiba disebuah apartemen yang sangat mewah.
Dia langsung mengajakku masuk kedalam,sebelum aku masuk kedalam kulirik kearah
seberang jalan sana mobil pengintai sudah terparkir disana Dhee,Lila dan tim
lainnya sudah bersiap disana. Mereka hanya menunggu instruksi dari ku untuk
menyergap Robert nanti.
“Ayo, Dilla sayang..
masuklah” Robert menarik tanganku kedalam apartemennya.
“ baiklah..” aku
mengikutinya.
Lalu kami masuk kedalam
apartemennya, ternyata perabotan didalamnya sangatlah mewah, dan canggih.
Saat masuk aku langsung
duduk disofa yang ada diruang tamunya.
“kau mau minum sesuatu??”
tanyanya
“tidak Robert, nanti saja
aku belum haus. Sebenarnya apa yang akan kita lakukan disini??” tanyaku
“aku ingin menghabiskan
waktuku denganmu, aku akan sangat merindukanmu sayang.. “ dia yang duduk
disampingku langsung menarikku kedalam pelukannya.
Aku berusaha untuk
melepaskan pelukannya dari ku namun sulit aku tak ingin dia tersinggung dengan
gerakanku yang menolaknya.
“kau tau aku sangat
mencintaimu Dilla, aku ingin kau menjadi kekasihku..” kata-kata itu terlontar
dari mulutnya.
“ kau mau kan jadi kekasihku??’
Sejenak aku tersentak
kaget, apa yang dikatakan Robert barusan, apakah
itu sebuah pernyataan cintanya untukku. Ya Tuhan, haruskah aku mempercayainya??
Oh, tidak-tidak ada Mark yang selalu ada untukku. Aku meyakinkan hatiku..
“maaf Robert aku tidak
bisa..” jawabku
“kenapa??”
“ya aku tidak bisa.. aku
tidak sedang ingin berhubungan dengan siapapun” jawabku
Lalu dia menghadapkan
wajahnya padaku, memegang wajahku dengan tangannya dan kemudian langsung
menciumku dengan liar. Aku terkejut dengan gerakannya yang tiba-tiba. Untunglah
saat itu aku sedang mengenggam ponselku. Aku langsung menekan tombol panggilan
cepat. Aku menelpon Lila untuk segera datang. Lalu kubiarkan ponselku
tergeletak, aku meraih tangan Robert yang mulai membelai leher dan punggungku,
aku memegang erat tangannya. Dengan beraninya sedikit kugigit bibir Robert. Dia
mengerang. Setelah itu aku mendorong tubuhnya jatuh kesofa. Aku tersenyum saat
dia jatuh.
“Dilla, kau sedikit nakal”
ternyata dia kaget namun senang melihat responku.
Aku tersenyum menatapnya, maafkan aku Rob ataupun Tom kau harus
menerima nasib burukmu hari ini juga. Aku menyeringai kepadanya.
Sesaat dari aku
menjatuhkannya, dia menarikku lagi, sehingga aku jatuh dipelukannya. Dengan
gerakan cepat dia membalikkan tubuhku, sehingga aku yang berbaring disofa.
Robert menatapku dalam, matanya menyala-nyala, dari gerakannya kulihat dia akan
segera menindihku.
Dengan sekali gerakan aku
menendangnya, tendanganku tepat mengenai perutnya sehingga dia tersungkur.
“Dilla, apa yang kau
lakukan” dia berdiri dari jatuhnya.
“itu untuk kebohongan yang
kubuat selama ini Robert..”
“apa maksudmu??”
Kemudian pintu
apartemennya ditendang dengan kasar oleh Lila sehingga terbuka.
“tetap disitu Tom, tidak
ada cara untuk pergi” Lila sudah mengarahkan senjata nya ke Tom.
“ apa maksudmu Dilla??
“aku bukan wanita yang
mudah kau bohongi Tom,aku tau siapa kau..”
Lalu aku dan Dhee
mendekatinya, aku akan segera memborgolnya. Ya tangan kirinya ku borgol namun
belum selsai aku memborgolnya. Tiba-tiba dia menarikku dan bersiap mencekikku
dengan tangan kanannya yang memegang pisau lipat kecil.
“maafkan aku Dilla, aku
mengikuti permainanmu, dan kalian jika temanmu ingin selamat letakkan senjata
yang kalian punya. Atau dia akan mati” Tom ataupun Robert sudah berubah menjadi
arogan.
Namun sebelum dia
menyelesaikan perkataannya aku mengigit tangannya yang bersiap untuk mencekikku
sehingga pisau ditangannya terlepas dan jatuh kelantai.
“Aww.. kau brengsek
Dilla,. “
“Kauu, “ aku meraih tangan
kanannya dan memborgolnya.
“ jangan pernah pergi jauh
Robert,” aku tersenyum mengejek padanya”
Lalu Steve, Brad dan 3
orang teman kami lainnya langsung mendekat kearahku.
“Biar kami yang
mengurusnya Sya..”
“Terima kasih, Brad” aku
meninggalkan melepaskan Robert dan memberikannya kepada Brad dan Steve.
Aku mengambil tas dan
ponselku dan kemudian keluar dari apartemen Robert. Sedangkan yang lainnya
masih membereskan Robert dan menggeledah beberapa ruangan.
****
Kluar dari apartemen
Robert aku, Lila dan Dhee langsung naik kemobil untuk segera bergabung dengan
Lou, dan Zac serta tim mereka.Saat didalam mobil aku langsung mengganti gaunku
dengan pakaian kerjaku, memakai rompi anti peluru dan mempersiapkan senjataku
dengan baik.
“apa yang sudah kau
lakukan dengannya Sya?? “ Lila bertanya padaku.
“tidak ada waktu untuk
menjelaskannya sekarang La, berusahalah lebih cepat.. “
Lalu Lila mempercepat laju
mobilnya karena jarak antara apartemen dan tempat penyergapan kedua agak jauh.
Kulihat mobil Brad dan Steve sudah mengikuti kami dari belakang.
Sekitar setengah jam
perjalanan kami sampai disebuah daerah pinggiran yang tempatnya tidak terlalu
terpencil. Kami langsung bergabung dengan dengan team Lou..
“bagaimana keadaan didalam
Lou??” tanya Dhee.
“masih terlihat lengang
Dhee, beberapa kali terlihat orang keluar masuk kedalam rumah”
“baiklah kita serang
sekarang Lou??”
“sebaiknya kita berbagi
team, sebagian ada yang dari depan dan dari belakang” Zac menambahkan.
“baiklah “ aku mengangguk.
Lalu kami berbagi team,
team Lou dan Brad dari depan sedangkan kami bertiga dan team Zac masuk melalui
pintu belakang. Saat masuk kami langsung dihadang oleh beberapa orang yang
sedang berjaga-jaga dipintu belakang. Tanpa diduga anggota mereka lumayan
banyak. Mereka semua langsung menyerang kami, sebagian dari mereka tidak
memiliki senjata seperti kami sebagian lagi langsung menembaki kami, namun
karena kami memakai rompi anti peluru hanya suara berdesing yang terdengar.
Beberapa diantara mereka sangat ahli dalam bela diri sehingga mereka terkadang
langsung menyerang kearah kami. Pertarungan kami sangat lah sengit. Kami, fokus
kepada musuh yang dihadapi. Sebagian dari mereka sudah berhasil kami kalahkan,
namun sebagian lagi belum, dengan terpaksa kami menembak mereka.
Saat ditengah pertarungan
kami, aku tidak melihat Dhee. Aku sedikit mendekat kearah Lila.
“La,, Dhee kmana?? Aku
tidak melihatnya??”
Lila melirik kesamping
sambil tetap fokus mempertahankan diri.
“Iya Sya, dia kemana??”
Aku mulai mengkhawatirkan
Dhee, kemana dia?? Tidak biasanya dia
menghilang dtengah penyergapan seperti ini.
“biar aku yang mencarinya
La,.” Aku sedikit berteriak.
“ aku akan ikut Sya..”
Lalu aku dan Lila mulai
memasuki setiap ruangan satu persatu, mencari Dhee. Dan akhirnya kami
mencurigai sebuah kamar yang pintunya terkunci. Kulihat disana ada seorang
laki-laki yang memakai seragam seperti kami. Namun aku belum mengenalnya..
“kau melihat Dhee??’ tanya
Lila.
“Iya La, dia ada
didalam...” jawab lelaki itu.
“ yasudah La kita dobrak
saja” aku sudah tidak sabar untuk medobrak pintu itu.
“tidak ada jalan lain ayo
kita lakukan bertiga”
Lila mengangguk setuju.
Dengan satu aba-aba kami bertiga langsung menendang pintu kamar itu.
Hasilnya dengan sekali
tendangan pintunya terbuka. Saat masuk, kulihat Dhee sudah terduduk lesu dengan
mulut ditutup dan tangan dan kaki diikat. Ternyata Dhee disandera oleh ketua
kelompok Stephanie. Kami bertiga langsung menyerang lelaki yang diduga bernama
Matt itu. Dengan perlahan aku mendekati Dhee yang terduduk lesu dan membuka
tutup mulutnya. Dhee kau baik-baik saja??” aku memanggilnya sambil fokus
menyerang musuh.
“tidak setelah cairan itu
masuk kedalam tubuhku Sya” aku melirik kelantai sebuah bekas suntikan. Cairan
apa itu???
Lalu aku langsung
memanggil lelaki anggota baru kami tadi. “maaf bisa aku minta tolong bawa Dhee
kerumah sakit sekarang.. “ aku setengah memerintah padanya
“baiklah” katanya.
Lalu lelaki itu membantu
Dhee melepaskan semua ikatan yang ada ditubuhnya. Setelah selesai mereka
langsung mencari jalan keluar. Saat Dhee berdiri tubuhnya hampir saja jatuh.
Lelaki tadi langsung menggendong Dhee, saat digendong tangan Dhee terkulai
lemah dengan darah yang mengalir.
Ya Tuhan Dhee juga
terluka.. “cepat bawa dia pergi dari sini” perintahku
Pertarungan kami sangat
lah sengit sampai-sampai Lila harus berkejar kejaran smbil menembak Matt. Matt
baru dapat dilumpuhkan saat sebuah peluru bersarang dikakinya. Sekitar satu jam
pertempuran kami, tim dari kepolisian datang smbil membawa beberapa unit mobil
tawanan. Karena mereka sangat banyak sekali. Saat polisi datang, mereka
langsung mengepungnya. Sehingga tidak ada lagi celah untuk melarikan diri. Para
anggota polisi itu langsung menangkap semua anggota dari kelompok Matt. Bahkan
bisa dipastikan anggota mereka telah tertangkap semua. Tidak lupa penyisiran
dibeberapa ruangan kami lakukan untuk mencari barang bukti. Ternyata benar kami
menemukan hampir 100 paket obat-obatan terlarang yang siap dikirimkan besok
pagi.
Setelah semua urusan sudah selesai, kami semua
langsung menyusul Dhee kerumah sakit. Kami semua sangat mencemaskannya. Tadi Dhee
dibawa oleh seorang agent yang baru pindah dari London, dan aku baru tahu kalau
namanya Eric, aku menyuruh Eric untuk membawanya karena kondisinya yang sangat buruk,
apalagi Dhee juga sempat diberikan obat bius dengan dosis sedang oleh Matt. Dan
dia juga terluka dibagian bahu kirinya. Saat kami tanyakan keadaannya kepada
dokter, katanya kondisinya memang sedikit drop shingga dia perlu dirawat selama
tiga hari disini. Namun secara keseluruhannya tidak terlalu berbahaya.
Asya mulai menggoda Robert pk baju sexy
BalasHapusdan Robert pun tergoda :D
Untung masih sadar ya itu Asya jd penyergapan
bisa berjalan lancar.
Kl ga sadar team diluar bklan nunggu lama itu
aba2 dr Asya haha
Giliran Dhee yg terluka skrg dan Eric pun muncul.
Ga sbr baca next chapter
yuk ah buru2 ke sana
:*