Senin, 28 Januari 2013

CHAPTER 28

Lila memberitahu bahwa markas di serang oleh para teroris. Itu berarti mereka sudah benar-benar meninggalkan California.

Lila dan Zac sedang berada dalam perjalanan kembali ke New York. Dan menyuruhku untuk tetap berada di Washington DC bersama Asya.

Sepertinya kami harus mulai bergerak untuk melukan penyisiran Gedung Putih dan kota Washington secara keseluruhan malam ini juga.

***

Akhirnya Dhee menutup teleponnya dan menjelaskan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi.

Aku langsung berlari ke kamar untuk berganti pakaian lalu mengenakan rompi anti peluru dan perlengkapan lainnya serta membawa persenjataanku.

Setelah selesai aku langsung keluar dari kamar. Dan mendapati Dhee sedang berada di depan laptopnya sudah dengan pakaian yang lengkap.

“Bagaimana Dhee, apakah kau bisa melihat keadaan di dalam markas“

“Aku tidak bisa memasuki servernya, Sya. Sepertinya mereka telah mematikan semua sistemnya.“

“Ya ampun, semoga Lila sudah sampai di sana Dhee jadi kita bisa mengetahui keadaannya seperti apa.“

Dhee menutup laptopnya, “Ayo kita pergi sekarang, Sya. Kita harus bergerak malam ini. Karena sebagian dari para teroris itu sudah mulai menyerang markas kita.“

“Kau benar Dhee, ayo kita pergi sekarang.“

Lalu kami berduapun segera pergi untuk melakukan penyisiran. Dhee langsung memacu mobilnya menuju ke Gedung Putih.

Disana Gale, Eric, Adam dan Nico sedang menunggu kedatangan kami berdua.

“Akhirnya kalian berdua datang juga. Lila mana?“

“Lila dan Zac sedang dalam perjalanan kembali ke New York, Gale.“

“Ayo kita sebaiknya membawa pasukan masing-masing untuk berpencar. Jangan buang-buang waktu lagi.“

“Kau benar, Dhee. Aku dan timku akan segera bergerak sekarang.“ Eric pun pergi.

“Hati-hati sayang. Aku mencintaimu.“ Gale mengecup bibir Dhee lalu pergi.

“Adam ayo kita  cari tempat untuk melakukan pelacakan. Aku juga ingin tahu apa yang sudah kau temukan.“

“Aku memang menemukan sesuatu, Dhee. Ayo kita bergerak juga.“

“Asya aku pergi. Kau hati-hati.“

“Kau juga Dhee.“

Dhee dan Adam pun pergi. Tinggalah aku dan Nico berdua saja.

“Kau sudah mendapatkan info, Nico?“

“Belum ada informasi yang pasti, Sya. Tapi ada baiknya kita berkeliling di halaman Gedung Putih, sebelum kita melakukan pengecekan ke dalam gedung.“

“Kau benar Nic, siapa tahu kita bisa menemukan sesuatu yang akan mempermudah pekerjaan Lila.“

Aku dan Nico mulai menyusuri setiap jengkal halaman Gedung Putih yang sangat luas itu di tengah kegelapan.

Selama perjalanan aku tidak henti-hentinya menguap. Aku juga sudah mulai merasa lelah. Kami sudah berjalan cukup jauh tapi belum juga menemukan sesuatu.

“Nico, bisa kita berhenti sebentar. Aku sangat lelah.“ keluhku sambil bersandar di sebuah pohon besar yang berada di sana.

“Baru begitu saja kau sudah lelah.“

“Karena bagaimanapun juga aku ini seorang wanita, Nico. Jangan samakan denganmu.“

“Ya sudah, ayo kita mencari tempat untuk beristirahat dulu.“

Nico berjalan di depan dan aku mengukutinya di belakang sambil menggerutu tidak jelas.

Sampai-sampai aku tidak tahu ketika Nico berhenti. Dan aku menabrak punggungnya dengan cukup keras.

“Awww...“ aku mengusap keningku, “Mengapa kau berhenti secara tiba-tiba, sakit tahu.“

“Berhentilah menggerutu Asya.“

Nico kembali berjalan meninggalkanku. Benar-benar menyebalkan sekali dia.

“Hei Asya, cepatlah.“ panggilnya.

“Iya iya, tunggu sebentar.“

Aku segera menghampirinya. Karena terburu-buru aku sampai tidak memperhatikan langkahku.

Sampai-sampai aku tersandung dan terjatuh tepat di atas tubuh Nico. Wajah kami berdua sangat dekat sekali. Aku bisa merasakan nafasnya, matanya menatap tajam mataku.

Tubuhku langsung terasa panas, detak jantungku berdetak sangat cepat sekali. Ya Tuhan, tubuhku seperti terkena aliran listrik. Dan kami berada dalam posisi itu cukup lama.

Jangan sampai aku jatuh cinta kepadanya. Itu tidak boleh.

“Asya, bisakah kau bangun dari atas tubuhku?“

Lamunanku langsung buyar mendengar suaranya. Aku buru-buru bangun dari atas tubuhnya.

“Ma-maafkan aku, Nic.“

“Ya sudah, ayo kita beristirahat saja. Kau tidak terluka, kan?“

“Tidak, aku baik-baik saja.“ namun ketika melangkah pergelangan kaki kananku terasa sakit sekali, “Aww...“

“Kau bilang tidak apa-apa. Biar aku membantumu.“

Nico menggendongku ke sebuah kursi yang berada di bawah pohon lalu mendudukanku. Lalu Nico mengarah ke kaki kananku.

“Apa yang akan kau lakukan?“

“Memeriksa kakiku. Jangan banyak protes, biar aku memeriksanya.“

Nico mulai membuka sepatuku, ternyata pergelangan kakiku agak membengkak. Lalu Nico mulai memijatnya dengan perlahan.

“Awww...“ aku meringis karena kesakitan, “Pelan-pelan Nico.“

1 komentar:

  1. Tugas malam dimulai..
    Gak tau apa orang belum tidur seharian.
    Haduh,, tugasnya gak kenal waktu ini.

    Seteam sama Nico, berdua aja???
    Menyebalkan.. Nico cerewet ihh.
    Bikin emosi aja.
    Sampe jatuh tuh Asyanya, ckckckk

    Lnjut sista, lanjut..
    Penasaran, itu Nico nya bantuin Asya ato mau apa??
    Awas macem2, tendang loo :D

    BalasHapus