Akhirnya aku dan Zac memutuskan untuk pergi tidur siang saja. Dari pada aku harus mendengarnya yang selalu memaksaku untuk pergi ke dokter.
Sinar mentari sore menerobos masuk ke dalam kamar. Ketika aku membuka mata Zac masih tertidur sambil memeluk tubuhku, kepalanya berada di dadaku.
Aku selalu menyukai saat-saat seperti ini. Melihat Zac yang sedang tertidur seperti ini. Wajahnya terlihat sangat damai sekali.
“Hai sayang, rupanya kau sudah bangun. Bagaimana keadaanmu sekarang?“ Zac menyentuh keningku dengan telapak tangannya.
“Jauh lebih baik. Bisakah kau melepaskan pelukanmu, Zac?“
“Tidak sayang, karena saat ini aku ingin sekali bercinta denganmu.“
Wajahku memanas mendengar perkataannya, “Zac...“
“Hei kenapa wajahmu memerah, sayang. Ini kan bukan pertama kalinya bercinta, sayang.“
“Berhenti menggodaku, Zac.“ aku langsung cemberut.
“Kau terlihat sangat cantik jika sedang cemberut seperti ini. Dan kau tahu, itu membuatku semakin ingin bercinta denganmu.“
Zac langsung mencium bibirku dengan penuh gairah. Membuatku terengah-engah karena ciumannya yang sangat dalam dan intens sekali.
Tangannya mulai menelusup ke dalam pakainku. Lalu mulai menangkup dan membelai payudaraku yang terasa penuh dan agak keras. Akhir-akhir ini aku memang merasakan perubahan pada tubuhku.
Zac menyusupkan tangannya ke belakang tubuhku dan melepas pengait bra yang kupakai. Lalu dengan gerakan yang lembut Zac melepaskan pakaian di tubuhku dan melepaskan pakaiannya sendiri.
“Sayang, sepertinya ada yang berubah dengan tubuhmu.“
“Apa maksudmu, Zac?“
“Aku merasa payudaramu agak penuh dan keras.“
“Zac, jangan banyak bicara...“
“Aku serius, sayang. Dan sepertinya perutmu yang bagian bawah jadi lebih keras.“ ia menekan-nekan perutku tapi tidak terlalu keras.
Akhirnya aku langsung menarik tubuh Zac dan menciumnya. Agar dia berhenti berbicara dan itu berhasil. Lalu aku mendorong tubuhnya hingga terbaring di atas tempat tidur.
Aku melepaskan ciumanku dan mulai merangkak menaiki tubuhnya. Aku mulai mengarahkan miliknya yang sudah mengeras ke dalam pusat diriku.
Dan Zac memegangi pinggulku dan meremas pinggangku secara perlahan-lahan. Aku diam beberapa saat untuk menghirup oksigen. Setelah itu aku mulai menggerakan tubuhku naik turun secara perlahan.
Tak lama kemudian tubuhku bergetar hebat karena orgasme yang melandaku. Lalu Zac membalik tubuhku dengan perlahan. Dia mulai mencium bibirku dengan bernafsu dan mulai menusukku dengan begitu keras sehingga membuatku berteriak.
“Awww... Zac, pelan-pelan aku mohon, Zac.“ Air mataku tak terasa mulai menetes membasahi pipiku.
Zac langsung menghentikan gerakannya dan menghapus air mataku.
“Sayang, maafkan aku karena sudah menyakitimu.“
“Pelan-pelan, Zac. Aku mohon, lakukan dengan pelan.“
“Baik sayang, aku akan melakukannya dengan pelan. Karena aku tidak ingin membuatmu kesakitan.“
Zac membelai wajahku kemudian mencium bibirku dengan sangat lembut. Lalu Zac mulai kembali menggerakkan tubuhnya. Namun kali ini ia melakukannya dengan sangat lembut dan pelan.
“Zac...“ aku mendesah karena akan kembali mengalami orgasme sambil mempererat memeluknya.
“Tahan sebentar sayang, aku hampir sampai.“ ia menggeram pelan.
Tak lama kemudia aku merasakan tubuhnya bergetar. Ia menciumku ketika gelombang orgasme melanda kami dengan cukup hebat.
“Ah... Sayang, aku sangat mencintaimu.“
“Zac, menyingkirlah dari tubuhku.“
Zac mengeluarkan dirinya dan berbaring di sampingku.
“Maaf karena tadi aku tidak bisa menahan diriku sayang.“
“Tidak apa-apa Zac. “ aku membelai wajahnya.
“Ayo kita pergi makan malam di luar. Karena besok pagi kita akan kembali ke New York.“
“Bantu aku bangun, Zac. Aku ingin pergi mandi.“
“Kita akan mandi bersama, sayang.“
Zac mengecup bibirku lalu mengangkat tubuhku dan membawa tubuhku ke kamar mandi. Setelah selesai mandi kami bergegas untuk berpakaian.
Sayangnya aku masih belum selesai berpakaian. Itu karena gaun yang aku bawa tak ada yang muat satupun.
Tiba-tiba Zac yang sudah siap masuk kekamar.
“Ya ampun sayang mengapa kau masih belum berpakaian juga?“
“Zac, gaunku tidak ada yang muat satupun.“ keluhku.
“Bagaimana dengan gaun yang berwarna hitam ini?“ Zac mengambil salah satu gaunku yang berserakan di atas tempat tidur. “Sepertinya gaun ini akan muat di tubuhmu.“
“Gaun itu terlalu terbuka di bagian depan, Zac. Apakah kau rela orang lain melihat dadaku.“
“Tidak sayang, aku tidak akan membiarkan orang lain memandangi bagian tubuh istriku.“ Zac terlihat seperti memikirkan sesuatu. “Bagaimana jika kau menggunakan syal untuk menutupi bagian depan tubuhmu, sayang.“
“Baiklah kalau begitu. Beri aku waktu lima belas menit untuk bersiap-siap.“
“Aku akan menunggumu di bawah, sayang.“
Lima belas menit kemudian aku turun ke bawah menemui suamiku. Lalu kami pun pergi makan malam di sebuah restoran ternama di sana.
Sebelum pulang kami menyempatkan untuk pergi berjalan-jalan keliling kota. Dan akhirnya kami memutuskan untuk pulang dan beristirahat. Karena besok pagi kami akan kembali ke New York.
Setelah perjalanan yang cukup panjang dan cukup melelahkan akhirnya kami sampai di apartemen kami.
Aku pikir jika kembali ke New York aku takkan mengalami mual-mual lagi. Tapi buktinya pagi ini, aku kembali mengalaminya. Dan kali ini sepertinya aku takkan bisa masuk ke kantor.
“Sebaiknya kau tidak usah ke kantor saja hari ini, sayang.“
“Sepertinya nanti siang aku akan pergi ke dokter saja.“
“Mau aku temani?“
“Tidak perlu Zac, kau harus pergi bukankah Dhee bilang ada pertemuan hari ini.“
“Ya sudah, kalau begitu aku pergi. Nanti kau hati-hati, ya. “
“Tentu saja, kau juga hati-hati. Ah dan jangan lupa sampaikan salam dariku, ya.“
“Akan aku sampaikan. Aku mencintaimu istriku.“
“Dan aku mencintaimu suamiku yang tampan. Sudah, cepat pergi nanti kau terlambat.“
Zac mencium bibirku sebelum akhirnya pergi. Tak banyak yang bisa aku lakukan di apartemen. Apapun yang aku makan pasti langsung keluar dari dalam perutku.
Apa yang sebenarnya terjadi padaku?
Ketika jam makan siang aku pergi ke Rumah Sakit. Setelah menunggu satu jam akhirnya hasil lab milikku keluar. Akhir sangat syok sekali ketika dokter membacakan hasilnya kepadaku.
Ternyata saat ini aku sedang hamil dan usia kehamilanku sudah berusia tujuh minggu. Ya Tuhan, mengapa aku bisa tidak menyadarinya. Bahkan sebelum pulang aku sempat melakukan USG dan mencetak hasil USG-nya.
Ketika sampai di apartemen aku langsung melemparkan tasku ke kursi. Lalu aku berbaring di atas sofa. Dan aku masih tidak percaya dengan berita kehamilanku.
Dan yang membuatku tak habis pikir adalah mengapa aku sampai tak menyadarinya. Ya Tuhan, tujuh minggu... Usia kandunganku sudah tujuh minggu, itu hampir dua bulan. Dan selama itu aku tidak menyadarinya sama sekali.
Tapi aku bersyuruk bahwa tidak terjadi sesuatu dengan calon bayiku. Dan akhirnya mataku terpejam.
Sebuah kecupan di bibirku berhasil membuatku untuk membuka mata. Dan hanya Zac yang biasa membangunkanku seperti itu.
“Hai, rupanya kau sudah pulang. Maaf aku tidak mendengarmu datang.“
“Tidak apa-apa sayang. Apakah kau sudah pergi ke dokter? Lalu bagaimana hasilnya?“ Zac langsung membanjiriku dengan pertanyaan.
Aku meraih salah satu tangannya kemudian meletakkannya di atas perutku. Zac hanya mengerutkan keningnya.
“Perutmu bermasalah, sayang?“ Aku menggeleng kepalaku sambil tersenyum, “Lalu?“
“Zac... Aku hamil.“
“Apa? Kau hamil sayang?“
“Benar Zac, dokter bilang sudah tujuh minggu.“
“Apa tujuh minggu? Ya Tuhan, berarti...“
“Aku tahu apa yang akan kau katakan, sayang. Aku juga terkejut mendengarnya.“
Zac langsung memeluk tubuhku, “Sayang, aku sangat mencintaimu.“
“Bolehkah aku tetap bekerja?“
“Tentu saja, sayang. Asalkan kau berjanji akan berhati-hati.“
Aku mengangguk dan Zac langsung mencium bibirku. Setelah itu ia langsung mengusap-usap perutku dan menciuminya.
“Terima kasih sayang, karena sudah menjadikanku pria paling beruntung dan berbahagia di seluruh dunia.“
“Aku sangat mencintaimu Zac.“
Kami pun kembali berciuman dengan sangat lembut sekali.