Kamis, 31 Januari 2013

CHAPTER 33

Akhirnya aku dan Zac memutuskan untuk pergi tidur siang saja. Dari pada aku harus mendengarnya yang selalu memaksaku untuk pergi ke dokter.

Sinar mentari sore menerobos masuk ke dalam kamar. Ketika aku membuka mata Zac masih tertidur sambil memeluk tubuhku, kepalanya berada di dadaku.

Aku selalu menyukai saat-saat seperti ini. Melihat Zac yang sedang tertidur seperti ini. Wajahnya terlihat sangat damai sekali.

“Hai sayang, rupanya kau sudah bangun. Bagaimana keadaanmu sekarang?“ Zac menyentuh keningku dengan telapak tangannya.

“Jauh lebih baik. Bisakah kau melepaskan pelukanmu, Zac?“

“Tidak sayang, karena saat ini aku ingin sekali bercinta denganmu.“

Wajahku memanas mendengar perkataannya, “Zac...“

“Hei kenapa wajahmu memerah, sayang. Ini kan bukan pertama kalinya bercinta, sayang.“

“Berhenti menggodaku, Zac.“ aku langsung cemberut.

“Kau terlihat sangat cantik jika sedang cemberut seperti ini. Dan kau tahu, itu membuatku semakin ingin bercinta denganmu.“

Zac langsung mencium bibirku dengan penuh gairah. Membuatku terengah-engah karena ciumannya yang sangat dalam dan intens sekali.

Tangannya mulai menelusup ke dalam pakainku. Lalu mulai menangkup dan membelai payudaraku yang terasa penuh dan agak keras. Akhir-akhir ini aku memang merasakan perubahan pada tubuhku.

Zac menyusupkan tangannya ke belakang tubuhku dan melepas pengait bra yang kupakai. Lalu dengan gerakan yang lembut Zac melepaskan pakaian di tubuhku dan melepaskan pakaiannya sendiri.

“Sayang, sepertinya ada yang berubah dengan tubuhmu.“

“Apa maksudmu, Zac?“

“Aku merasa payudaramu agak penuh dan keras.“

“Zac, jangan banyak bicara...“

“Aku serius, sayang. Dan sepertinya perutmu yang bagian bawah jadi lebih keras.“ ia menekan-nekan perutku tapi tidak terlalu keras.

Akhirnya aku langsung menarik tubuh Zac dan menciumnya. Agar dia berhenti berbicara dan itu berhasil. Lalu aku mendorong tubuhnya hingga terbaring di atas tempat tidur.

Aku melepaskan ciumanku dan mulai merangkak menaiki tubuhnya. Aku mulai mengarahkan miliknya yang sudah mengeras ke dalam pusat diriku.

Dan Zac memegangi pinggulku dan meremas pinggangku secara perlahan-lahan. Aku diam beberapa saat untuk menghirup oksigen. Setelah itu aku mulai menggerakan tubuhku naik turun secara perlahan.

Tak lama kemudian tubuhku bergetar hebat karena orgasme yang melandaku. Lalu Zac membalik tubuhku dengan perlahan. Dia mulai mencium bibirku dengan bernafsu dan mulai menusukku dengan begitu keras sehingga membuatku berteriak.

“Awww... Zac, pelan-pelan aku mohon, Zac.“ Air mataku tak terasa mulai menetes membasahi pipiku.

Zac langsung menghentikan gerakannya dan menghapus air mataku.

“Sayang, maafkan aku karena sudah menyakitimu.“

“Pelan-pelan, Zac. Aku mohon, lakukan dengan pelan.“

“Baik sayang, aku akan melakukannya dengan pelan. Karena aku tidak ingin membuatmu kesakitan.“

Zac membelai wajahku kemudian mencium bibirku dengan sangat lembut. Lalu Zac mulai kembali menggerakkan tubuhnya. Namun kali ini ia melakukannya dengan sangat lembut dan pelan.

“Zac...“ aku mendesah karena akan kembali mengalami orgasme sambil mempererat memeluknya.

“Tahan sebentar sayang, aku hampir sampai.“ ia menggeram pelan.

Tak lama kemudia aku merasakan tubuhnya bergetar. Ia menciumku ketika gelombang orgasme melanda kami dengan cukup hebat.

“Ah... Sayang, aku sangat mencintaimu.“

“Zac, menyingkirlah dari tubuhku.“

Zac mengeluarkan dirinya dan berbaring di sampingku.

“Maaf karena tadi aku tidak bisa menahan diriku sayang.“

“Tidak apa-apa Zac. “ aku membelai wajahnya.

“Ayo kita pergi makan malam di luar. Karena besok pagi kita akan kembali ke New York.“

“Bantu aku bangun, Zac. Aku ingin pergi mandi.“

“Kita akan mandi bersama, sayang.“

Zac mengecup bibirku lalu mengangkat tubuhku dan membawa tubuhku ke kamar mandi. Setelah selesai mandi kami bergegas untuk berpakaian.

Sayangnya aku masih belum selesai berpakaian. Itu karena gaun yang aku bawa tak ada yang muat satupun.

Tiba-tiba Zac yang sudah siap masuk kekamar.

“Ya ampun sayang mengapa kau masih belum berpakaian juga?“

“Zac, gaunku tidak ada yang muat satupun.“ keluhku.

“Bagaimana dengan gaun yang berwarna hitam ini?“ Zac mengambil salah satu gaunku yang berserakan di atas tempat tidur. “Sepertinya gaun ini akan muat di tubuhmu.“

“Gaun itu terlalu terbuka di bagian depan, Zac. Apakah kau rela orang lain melihat dadaku.“

“Tidak sayang, aku tidak akan membiarkan orang lain memandangi bagian tubuh istriku.“ Zac terlihat seperti memikirkan sesuatu. “Bagaimana jika kau menggunakan syal untuk menutupi bagian depan tubuhmu, sayang.“

“Baiklah kalau begitu. Beri aku waktu lima belas menit untuk bersiap-siap.“

“Aku akan menunggumu di bawah, sayang.“

Lima belas menit kemudian aku turun ke bawah menemui suamiku. Lalu kami pun pergi makan malam di sebuah restoran ternama di sana.

Sebelum pulang kami menyempatkan untuk pergi berjalan-jalan keliling kota. Dan akhirnya kami memutuskan untuk pulang dan beristirahat. Karena besok pagi kami akan kembali ke New York.

Setelah perjalanan yang cukup panjang dan cukup melelahkan akhirnya kami sampai di apartemen kami.

Aku pikir jika kembali ke New York aku takkan mengalami mual-mual lagi. Tapi buktinya pagi ini, aku kembali mengalaminya. Dan kali ini sepertinya aku takkan bisa masuk ke kantor.

“Sebaiknya kau tidak usah ke kantor saja hari ini, sayang.“

“Sepertinya nanti siang aku akan pergi ke dokter saja.“

“Mau aku temani?“

“Tidak perlu Zac, kau harus pergi bukankah Dhee bilang ada pertemuan hari ini.“

“Ya sudah, kalau begitu aku pergi. Nanti kau hati-hati, ya. “

“Tentu saja, kau juga hati-hati. Ah dan jangan lupa sampaikan salam dariku, ya.“

“Akan aku sampaikan. Aku mencintaimu istriku.“

“Dan aku mencintaimu suamiku yang tampan. Sudah, cepat pergi nanti kau terlambat.“

Zac mencium bibirku sebelum akhirnya pergi. Tak banyak yang bisa aku lakukan di apartemen. Apapun yang aku makan pasti langsung keluar dari dalam perutku.

Apa yang sebenarnya terjadi padaku?

Ketika jam makan siang aku pergi ke Rumah Sakit. Setelah menunggu satu jam akhirnya hasil lab milikku keluar. Akhir sangat syok sekali ketika dokter membacakan hasilnya kepadaku.

Ternyata saat ini aku sedang hamil dan usia kehamilanku sudah berusia tujuh minggu. Ya Tuhan, mengapa aku bisa tidak menyadarinya. Bahkan sebelum pulang aku sempat melakukan USG dan mencetak hasil USG-nya.

Ketika sampai di apartemen aku langsung melemparkan tasku ke kursi. Lalu aku berbaring di atas sofa. Dan aku masih tidak percaya dengan berita kehamilanku.

Dan yang membuatku tak habis pikir adalah mengapa aku sampai tak menyadarinya. Ya Tuhan, tujuh minggu... Usia kandunganku sudah tujuh minggu, itu hampir dua bulan. Dan selama itu aku tidak menyadarinya sama sekali.

Tapi aku bersyuruk bahwa tidak terjadi sesuatu dengan calon bayiku. Dan akhirnya mataku terpejam.

Sebuah kecupan di bibirku berhasil membuatku untuk membuka mata. Dan hanya Zac yang biasa membangunkanku seperti itu.

“Hai, rupanya kau sudah pulang. Maaf aku tidak mendengarmu datang.“

“Tidak apa-apa sayang. Apakah kau sudah pergi ke dokter? Lalu bagaimana hasilnya?“ Zac langsung membanjiriku dengan pertanyaan.

Aku meraih salah satu tangannya kemudian meletakkannya di atas perutku. Zac hanya mengerutkan keningnya.

“Perutmu bermasalah, sayang?“ Aku menggeleng kepalaku sambil tersenyum, “Lalu?“

“Zac... Aku hamil.“

“Apa? Kau hamil sayang?“

“Benar Zac, dokter bilang sudah tujuh minggu.“

“Apa tujuh minggu? Ya Tuhan, berarti...“

“Aku tahu apa yang akan kau katakan, sayang. Aku juga terkejut mendengarnya.“

Zac langsung memeluk tubuhku, “Sayang, aku sangat mencintaimu.“

“Bolehkah aku tetap bekerja?“

“Tentu saja, sayang. Asalkan kau berjanji akan berhati-hati.“

Aku mengangguk dan Zac langsung mencium bibirku. Setelah itu ia langsung mengusap-usap perutku dan menciuminya.

“Terima kasih sayang, karena sudah menjadikanku pria paling beruntung dan berbahagia di seluruh dunia.“

“Aku sangat mencintaimu Zac.“

Kami pun kembali berciuman dengan sangat lembut sekali.

Rabu, 30 Januari 2013

CHAPTER 32

Sinar matahari yang menerobos masuk ke dalam kamar membuatku terbangun.
Aku membuka mataku perlahan. Kepalaku terasa sangat sakit sekali, begitu juga dengan sekujur tubuhku.
Aku langsung terduduk di atas tempat tidur, dan selimut yang aku gunakan merosot. Aku hampir berteriak ketika melihat tubuhku yang telanjang, tanpa sehelai kainpun di tubuhku.
Ya Tuhan, mengapa aku tidak memakai pakaian di tubuhku? Apa yang sebenarnya sudah terjadi semalam?
Aku mengingat-ingat kejadian semalam sambil melihat ke sekeliling kamar. Di lantai kamar berserakan pakaianku dan ada bungkusan foil.
Aku memeriksa tubuhku, aku mendapati beberapa tanda merah di payudaraku dan di perutku, tepatnya di dekat pusar. Setelah itu aku langsung membungkus tubuhku dengan selimut.
Dadaku langsung naik turun melihat fakta yang baru saja aku temukan pagi ini. Tak lama kemudian Steve muncul dari dalam kamar mandi.
Ia terlihat sangat segar, rambutnya yang acak-acakan malah membuatnya terlihat seksi. Dadanya yang telanjang memamerkan otot-otot yang keras dan terpahat sempurna membuatku sempat menelan ludah.
“Rupanya kau sudah bangun, Sya.“
Steve berjalan mendekat ke arahku, “Diam di tempat, Steve dan jangan mendekat.“
Mendengar ucapanku Steve langsung berhenti dan terdiam.
“Apa yang sudah kau lakukan padaku, Steve?“
“Aku melakukan hal yang kau minta tadi malam.“
“Tidak mungkin, aku pasti sedang mabuk, Steve.“
“Kau dan aku memang sedang dalam keadaan mabuk, Sya. Tapi kita melakukannya dalam keadaan sadar.“
“Mengapa aku, Steve?“ mataku mulai memanas.
“Karena aku mencintaimu, Sya. Sudah sejak lama aku memendam perasaan ini.“ Steve mendekat dan duduk di sampingku, “Demi Tuhan Asya, kumohon jangan menangis.“ ia mengusap air mataku dengan lembut.
“Ini salah Steve, sangat salah sekali. Seharusnya kita tidak melakukan hal ini.“
“Aku tahu Sya, aku juga tahu bahwa kau sudah memiliki kekasih. Jadi yang keduapun aku rela, Sya. Asalkan aku bisa selalu bersamamu.“
“Steve...“
“Asya, aku benar-benar membutuhkan jawabanmu sekarang juga. Apapun keputusanmu aku akan menerimanya.“
Aku menghela nafas dalam-dalam, “Maaf Steve, sebaiknya hubungan kita tetap seperti dulu. Sebagai teman dan rekan kerja saja.“
Steve terlihat kecewa mendengar keputusanku. Tapi aku memang tidak bisa membagi hati dan cintaku untuk Steve.
“Maafkan aku Steve, aku benar-benar tidak bisa.“
“Aku mengerti, Sya.“
Steve menyambar kaosnya dan memakainya dengan cepat, memakai jaket kulitnya. Lalu ia keluar dari dalam kamarku.
Ya Tuhan, aku sudah bercinta dengan pria yang bukan kekasihku. Apa yang harus aku lakukan jika Mark pulang nanti.
***
Tidak terasa akhirnya hari ini aku akan resmi menjadi Mrs. Efron. Menikah secepat ini memang tidak pernah aku rencanakan sebelumnya. Dan tidak ada di dalam kamus kehidupanku.
Sejak bertemu dengan Zac, keinginan utamku adakah agar bisa menikah dengannya. Dan hari ini semua itu akan terwujud.
Namun aku merasa sangat sedih sekali, karena Maa tidak ada di hari paling penting dalam hidupku. Aku tidak begitu tahu dan mengenal sosok Maa.
Aku hanya tahu cerita dan wajah Maa itu dari cerita dan foto-foto yang Paa simpan. Ya, karena Maa sudah sangat lama sekali meninggal.
Maa meninggal ketika aku masih berusia 5 tahun. Menurut Paa Maa meninggal dalam tugas. Karena kedua orang tuaku bekerja di departemen kepolisian. Itulah alasan mengapa aku bisa menjadi seorang agent rahasia seperti ini.
Barulah Paa memberitahuku penyebab kematian Maa yang sebenarnya ketika aku berumur 17 tahun dan sedang mengikuti pendidikan untuk menjadi seorang agent rahasia bersama kedua sahabatku Dhee dan Asya.
Paa membesarkanku dengan cukup keras dan penuh kasih sayang. Bagiku Paa adalah ayah terbaik di dunia ini dan aku sangat sangat menyayanginya.
Dan hari ini aku merasakan kerinduan yang amat mendalam kepada Maa. Andai Maa masih hidup, pasti saat ini beliau akan menemami dan memberikan dukungan moral kepadaku. Menghilangkan kegelisahan yang aku rasakan saat ini.
Namun aku bersyukur bisa mengenal Dhee dan Asya. Mereka selalu ada di saat aku butuh. Aku sangat mencintai dan menyayangi mereka berdua.
Tiba-tiba Paa masuk ke dalam kamarku.
“Sayang, mengapa kau terlihat sedih seperti ini? Tidak baik jika bersedih di hari pernikahanmu, apakah kau tidak bahagia?“
“Paa, aku sangat sangat bahagia sekali karena hari ini aku akan menikah dengan Zac.“
“Lalu apa yang membuatmu bersedih?“
“Aku berharap Maa ada disini, Paa. Aku kangen Maa.“ aku langsung memeluk Paa.
“Paa mengerti sayang, Maa disana ikut bahagia melihatmu. Karena akhirnya ada seseorang yang akan menjagamu sayang. Jadi jangan menangis, Paa yakin Maa akan sedih jika melihatmu menangis. Tersenyumlah.“
“Aku sayang, Paa. Lila janji akan mencari orang yang sudah membunuh Maa, Paa.“
“Tidak sayang, Paa tidak ingin melihatmu terluka. Ayo, sudah waktunya kita keluar.“
Setelah membenahi gaun pengantinku, Paa dan aku keluar lalu menuju ke halaman belakang tempat di selenggarakannya upacara pernikahan.
Pernikahanku dan Zac di selenggarakan di rumah kedua orang tua Zac yang berada di kawasan Brooklyn. Acara ini tertutup untuk umum. Yang hadir hanya sanak saudara dan rekan-rekan kami sesama agent rahasia.
Dan kedua sahabatku tersayang terlihat sangat cantik sekali. Mereka berdua tidak terlihat seperti seorang pengantin. Gale dan Mark pasti terpesona melihat kekasih mereka.
Ketika sampai di halaman belakang semua mata langsung tertuju kepadaku. Dan itu membuatku sangat gugup sekali.
Dan di depan sana Zac berdiri dengan gagahnya dalam balutan tuxedo berwarna putih. Zac tersenyum padaku, ya Tuhan pria tampan ini akan segera menjadi suamiku.
Ketika sudah mendekat Paa langsung menyerahkan tanganku kepada Zac. Dan ucapara pernikahan pun berlangsung dengan khidmat.
Dan setelah upacara selesai pesta resepsipun di mulai. Semua orang terlihat bahagia di pesta ini. Terlebih lagi atasanku dan teman-temanku di departemen. Mereka terlihat lebih santai, karena biasanya kami jarang merasa santai seperti ini.
“Sayang, aku benar-benar tidak menyangka bahwa sekarang kau adalah istriku.“  Zac menempelkan keningnya ke keningku.
“Aku mencintaimu, suamiku.“ aku tertawa geli ketika mengucapkan kata “suamiku“ pada Zac.
Zac mengernyitkan keningnya, “Apa ada yang lucu, sayang? Mengapa kau tertawa?“
“Tidak aku hanya merasa geli harus memanggilmu dengan sebutan “suamiku“.“ aku terkekeh.
“Kau membiasakannya istriku tercinta.“ Zac mencium bibirku dengan lembut.
“Hei, kalian berdua jangan bermesraan disini.“
Kami melepaskan ciuman kami. Ternyata ada Gale, Dhee, Asya dan Mark.
“Dave, biarkan aku memeluk sahabku. Karena kau bisa memeluknya setiap saat.“ Dhee langsung menarikku ke dalam pelukannya. “Selamat ya, Ra. Semoga cepat dapat momongan.“
“Terima kasih Lana, mudah-mudahan. Kapan kau akan menyusul, Lana?“
“Yang jelas tidak dalam waktu dekat.“ Dhee melepaskan pelukannya.
“Ara, selamat ya. Apartemen akan sepi tanpamu.“
“Kita masih bisa bertemu, Dilla. Hai Mark,senang bisa melihatmu. Kapan kau tiba disini?“
“Dua hari yang lalu, Ra. Aku memang berniat untuk memberikan kejutan untuk Dilla. Selamat ya.“
“Dave, selamat ya. Akhirnya kau menikah juga.“
“Karena aku sangat mencintai kekasihku, Gale. Maka dari itu aku menikahinya.“
Aku, Dhee dan Asya hanya tertawa mendengar obrolan Zac, Gale dan Mark. Setelah acara selesai aku dan Zac menutuskan untuk langsung pergi ke Aspen.
Karena aku sangat menyukai tempat itu. Pasti akan sangat menyenangkan sekali bisa kembali ke tempat itu lagi. Namun kali ini dengan status yang berbeda.
Ketika sudah sampai di sana tak banyak yang kami lakukan. Karena aku merasa ada yang tidak beres dengan tubuhku. Zac sudah berkali-kali memaksaku untuk pergi ke dokter, namun aku selalu menolaknya.
“Tidak Zac, aku tidak perlu ke dokter.“
“Ayolah sayang, kita pergi ke dokter. Jika kau tidak apa-apa mengapa aku selalu melihatmu muntah-muntah di pagi hari.“
“Lambungku sedang bermasalah, Zac. Aku hanya butuh tidur, aku berjanji keadaanku akan jauh lebih baik nanti sore.“
Zac memeluk dan mencium keningku, “Aku hanya takut kau kenapa-napa, sayang. Ya sudah, ayo kita pergi ke kamar untuk beristirahat.

Selasa, 29 Januari 2013

CHAPTER 31

Aku berlutut di samping tubuh Dhee yang tergeletak tak sadarkan diri.

“Ya Tuhan, Dhee... Ayo sadar Dhee...“

“Bawa Dhee Rumah Sakit cepat. Panggil ambulan kemari.“ Lou berteriak.

Sedangkan Gale hanya mematung sambil memeluk tas berisi bom itu. Bahkan ketika para medis datang dan membawa tubuh Dhee ke dalam ambulan.

“Gale, cepat masuk ke dalam ambulan. Mengapa kau dari tadi hanya bengong.“ Asya membentak Gale.

“Ah baiklah.“ Gale bergegas masuk ke dalam ambulan.

“Tunggu Gale, apakah kau mau membawa bom itu ke Rumah Sakit bersamamu?“

“Ya Tuhan, aku lupa La.“

Gale memberikan tasnya kepadaku. Lalu ia masuk ke dalam ambulan yang membawa Dhee.

“Ayo kita cari tempat untuk mematikan bom itu.“ Lou berkata.

Lalu kami pergi meninggalkan tempat itu. Kami pergi ke suatu tempat yang jauh dari perkotaan.

Dan saat ini kami sudah berada di sebuah lapangan berumput hijau yang sangat luas sekali.

Aku duduk di atas rumput dan mulai membuka tas itu dan mulai berkonsentrasi. Otakku berpikir keras untuk menon-aktifkan bom itu. Aku memijit-mijit kepalaku yang akhir-akhir ini sering terasa sakit.

“Kau baik-baik saja sayang?“ Zac bertanya sambil meremas bahuku dengan lembut.

“Hanya sakit kepala ringan saja.“

“Aku yakin kau bisa melakukannya, sayang.“

“Terima kasih sudah berada bersamaku sampai detik ini, Zac.“

“Karena aku sangat mencintaimu, sayang.“

Aku tersenyum mendengar perkataannya. Lalu aku kembali berkutat dengan benda yang sangat berbahaya yang ada di depanku saat ini.

Detik demi detik terus bergulir. Dan setelah satu jam lebih berkutat akhirnya aku berhasil menon-aktifkan bom itu.

“Berhasil...“ aku langsung berdiri sambil berteriak dan melompat-lompat senang.

Zac langsung memelukku di susul oleh teman-teman yang lain.

“Kerja yang bagus Lila. Kita semua berhasil menyelesaikan tugas ini dengan sangat baik. Terima kasih semuanya.“ Lou berkata.

Lou membawa bom itu untuk di serahkan ke departemen nuklir untuk di amankan.

Sedangkan kami semua langsung pulang ke hotel dan apartemen masing-masing untuk beristirahat.

***

Seminggu kemudian setelah kasus yang sangat besar itu. Kami mulai kembali ke rutinitas sehari-hari.

Dhee sudah sembuh dan sudah kembali ke apartemen. Sedangkan Lila sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Zac yang akan di selenggarakan minggu depan.

Aku benar-benar merasa iri melihat kedua sahabatku yang terlihat bahagia bersama pasangannya masing-masing.

Sedangkan aku? Mark masih sibuk dengan tour-nya dan entah kapan akan kembali ke New York. Aku sangat merindukannya, meskipun Mark sering menghubungiku. Tapi mendengarkan suaranya takkan cukup.

Malam itu aku memutuskan untuk pergi ke sebuah club. Malam ini aku ingin menghilangkan kepenatan yang aku rasakan.

Ketika sedang asyik minum aku bertemu dengan Steve. Akhirnya ia menemaniku minum.

“Asya, aku mencintaimu. Sudah lama aku memendam perasaan cinta ini.“

“Steve...“ aku kembali meminum minumanku.

“Asya, sudah berhenti. Atau kita akan sangat mabuk dan takkan bisa pulang.“

“Kau benar, Steve. Lagipula aku tidak membawa mobil kemari. Kau harus mengantarkanku pulang ke apartemen.“

Steve membantuku berdiri dan memapahku keluar dari tempat itu. Lalu ia membantuku masuk ke dalam mobilnya.

Setengah jam kemudian kami sampai di apartemenku. Ketika sampai tidak ada siapa-siapa, mungkin Dhee sudah tidur.

Steve membantuku masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhku. Entah setan apa yang merasukiku dan karena pengaruh alkohol yang kuminum tadi. Aku langsung menarik tubuh Steve. Sehingga ia berada di atas tubuhku.

“Steve jangan pergi.“

“Aku harus pulang, Sya. Ini sudah malam.“

“Tidak, jangan pergi kumohon.“ aku mulai membelai wajahnya dan Steve memejamkan matanya meresapi belaianku.

“Aku tetap harus pulang.“

“Bercintalah denganku, Steve. Kumohon, bercintalah denganku.“

“Apakah kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu itu Asya?“

“Aku serius dengan ucapanku, Steve. Bercintalah denganku malam ini.“

Steve langsung melumat bibirku seperti orang yang kelaparan namun ciumannya terasa lembut sekali di bibirku.

Aku melingkarkan kedua lenganku di lehernya dan membalas ciumannya. Yang semakin lama membuat aku terengah-engah menginginkan lebih.

Steve membuka kaos yang aku pakai. Hingga kedua payudaraku yang sudah mengeras mulai terekspos. Dia membuka pengait bra-ku dan setelah terlepas ia menengkup dan mulai meremasnya dengan lembut.

“Ah...“ suara erangan nikmat keluar dari mulutku.

“Kau sangat cantik seperti ini, Sya.“ ucapny sambil meremas kedua payudaraku secara bergantian.

Steve menghisap dan mempermainkan putingnya dan membuatnya semakin keras dengan lidahnya yang panas.

Setiap sentuhannya mengirimkan aliran listrik yang berpusat di organ vitalku. Lalu ia mulai menelusuri tubuhku dengan lidahnya.

Menciumi perutku dan mempermainkan clikku yang sudah mengeras di bawah sana. Membuatku tak henti-hentinya mengeluarkan suara erangan.

Lalu Steve mulai melepaskan seluruh pakaiannya. Miliknya sudah sangat keras dan siap sekali. Namun rupanya Steve malah mengeksplorasi pusat diriku.

Ia menelusupkan lidahnya disana. Menggigit dan menghisap clitnya. Membuat tubuhku bergetar hebat saat orgasme itu melandaku.

Mataku mengkerjap-kerjap, dadaku naik turun karena nafas yang terengah-engah. Aku seperti melihat ribuan kupu-kupu berwarna warni yang beterbangan di hadapanku.

Aku mendengar Steve seperti merobek bungkusan foil. Lalu membuka lebar kedua pahaku dan mengaitkannya di pinggangnya.

Ia mulai mengarahkan miliknya untuk memasuki diriku. Nafasku tertahan ketika organ vitalku merengan menerima miliknya.

“Oh, ya Tuhan, Steve...“ suaraku tertahan ketika miliknya tertanam seluruhnya.

Steve mulai menggerakkan tubuhnya maju mundur. Menusuk di tempat yang sangat tepat di dalam sana.

Menghantarkan kenikmatan di seluruh tubuhku.

“Ya Tuhan Asya, milikmu sangat ketat sekali.“ suaranya terdengar berat.

Setiap gerakannya membuat otot-otot tubuhku menegang dan bergetar hebat. Karena orgasme yang hampir meledak.

“Steve...“ aku terpekik tertahan sambil memeluk erat tubuhnya.

“Tahan sayang, aku ingin datang bersama denganmu.“

Steve mempercepat gerakannya. Membuatku tak henti-hentinya meracau karena orgasme yang sudah berada di ujung dan siap meledak.

Aku merasakan tubuh Steve bergetar hebat. Giginya bergemertak dan suaranya mulai mengeluarkan geraman.

Kami saling meneriakan nama masing-masing ketika mencapai pusat orgasme. Steve mencium bibir dan memelukku dengan sangat erat.

Tubuh kami ambruk, nafas kami masih memburu. Ketika nafas kami berdua kembali normal, Steve mengeluarkan dirinya dari dalam diriku.

Ia berguling ke sampingku,mencium dan memeluk tubuhku. Sebelum akhirnya kami terlelap karena kelelahan.

CHAPTER 30 ( REVISI )

Adam begitu lembut memcium bibirku. Lidahnya bertautan dan menari-nari bersamaan dengan lidahku.

Aku menelusupkan jari-jariku di rambutnya. Aku tahu bahwa ini salah, aku tidak boleh melakukan hal ini. Tapi ternyata tubuhku berkhianat.

Ketika aku semakin larut dalam kenikmatan ini. Tiba-tiba ada suara yang menyadarkanku. Ternyata Eric melihatku ketika sedang berciuman dengan Adam.

Eric langsung menarik tubuh Adam dan menarik kerah bajunya. Kemarahan terpancar jelas di matanya.

“Sudah Eric hentikan. Jangan membuat keributan disini, Adam tidak bersalah. Karena aku juga menyambut ciumannya.“

Eric melepaskan cengkramannya, “Tapi dia menyakitimu Dhee, dia membuatmu menangis.“

“Bukan Adam yang membuatku menangis. Sebaiknya kau lihat saja apa yang sudah Adam temukan.“

Eric langsung berjalan mendekati laptop milik Adam. Eric sepertinya sangat shock juga.

“Ya Tuhan, ini tidak mungkin. Bagaimana mungkin kalian...“ Eric menghentikan kata-katanya.

“Aku menangis karena mengkhawatirkan keadaan kedua sahabatku, Eric. Apalagi saat ini Lila sedang berada di New York, Lila sedang berada dalam jarak yang dekat sekali dengan para teroris itu.“

“Maafkan aku  Dhee. Sudahlah, aku minta kita lupakan saja apa yang sudah terjadi ini. Sebaiknya kita kembali lagi bertugas.

Kepalaku berdenyut-denyut dan terasa sangat sakit sekali. Ya Tuhan, bagaimana bisa aku berciuman dengan Adam seperti itu, aku sudah mengkhianati Gale.

Hatiku terasa sangat sakit sekali. Saat ini aku harus lebih berwaspada. Agar kejadian tadi tidak terulang lagi.

Setelah itu kami mulai fokus kembali. Sampai pagi menjelang kami semua belum menemukan apa-apa.

Akhirnya kami memutuskan pulang dan beristirahat dahulu. Tentu saja kami juga menyebar beberapa orang untuk memantau. Sehingga aku bisa terus memantau keadaan di luar sana.

Dua hari kemudian Lou, Olivia, Lila dan Zac kembali ke Waahington DC. Aku melihat ada beberapa luka kecil di wajah Lila. Dan itu membuatku semakin takut, apakah Lila sudah mengetahui bahwa dirinya menjadi salah satu yang di incar oleh komplotan teroris itu atau belum.

Siang itu kami memutuskan untuk berkumpul di apartemen aku dan Asya. Lou, Olivia, Lila dan Zac terlihat kelelahan.

“Jadi apa yang terjadi disana sampai-sampai kalian tidak mengabari kami disini.“

“Keadaan disana sangat kacau. Pintu masuk ke markas di tutup dan aksesnya dimatikan, Dhee.“

“Lalu bagaimana caranya kalian bisa masuk?“

“Menggunakan bom, Eric. Karena itu jalan satu-satunya agar kami bisa masuk.“

“Lalu ada apa dengan wajahmu, La?“

“Ini terkena serpihan kaca, Sya.“

“Para teroris itu berusaha membobol server markas. Namun sebelum itu terjadi Olivia berhasil memblokirnya.“

“Keadaan di dalam bagaimana?“

“Sangat kacau Gale, ada beberapa korban tewas dari pihak kita. Selain itu mereka menyimpan beberapa bom waktu di beberapa tempat. Kalian tahu bahwa ada penyusup di markas kita.“

“Penyusup? Apa maksudmu, Zac?“ aku mengernyit tidak mengerti.

“Ternyata Liza adalah kaki tangan para teroris itu. Dia memberikan peta dan akses masuk ke dalam gedung.“ Lou menjelaskan.

“Lou apakah kau sudah tahu apa yang mereka cari disana?“

“Kami tidak tahu Adam, hanya saja mereka terus mengincar Lila.“

Lalu Adam memberikan laptopnya kepada Lou, “Bacalah apa yang aku temukan dua hari yang lalu.“

Lou, Olivia, Lila, dan Zac langsung mengalihkan perhatiannya pada laptop milik Adam.

Ekspresi wajah mereka langsung berubah menjadi tegang. Zac lebih lebih, karena syok mengetahui nyawa kekasih tercintanya sedang terancam.

“Ba-bagaimana bisa kalian bertiga menjadi target para teroris itu?“ Zac mengacak-acak rambutnya dengan gusar.

“Sayang, tenanglah.“ Lila menangkan Zac.

“Bagaimana aku bisa tenang, sedangkan di luar sana ada orang yang mengincar nyawa kekasihku.“

Suasana di apartemen setika berubah menjadi tegang. Sepertinya semua orang mulai sibuk dengan pikirannya masing-masing.

“Zac kau bisa mendampingi Lila mencari bom itu di simpan aku akan menambahkan beberapa tim lagi untuk kalian bertiga. Gale kau bersama Dhee dan Eric kau bersama Asya. Aku harap dengan begini akan membuat kalian lebih tenang. Dan kita mulai bergerak lagi.“

Sekarang kami mulai menyusun kembali strategi. Kembali memeriksa rute-rute dan tempat-tempat yang memungkinkan untuk di jadikan tempat persembunyian para teroris.

Setelah berminggu-minggu melakukan penyelidikan dan penyisiran. Akhirnya kami berhasil menemukan tempat untuk bom itu di ledakan. Dan bom itu bisa di ledakan menggunakan sebuah remote.

***

Kasus kali ini benar-benar sangat menguras tenaga dan pikiranku. Bukan hanya aku, tapi semua orang di dalam tim di buat kelabakan oleh ulah para teroris itu.

Beberapa jam menjelang konfrensi di Gedung Putih kami semakin gencar melakukan pencarian dan pengamanan.

Aku dan Zac bergegas menuju ke pusat kota Washington DC. Hari ini hari Sabtu dan keadaan kota sangat ramai, jalanan padat oleh kendaraan.

“Dhee, berapa menit lagi waktu yang aku butuhkan untuk mencari bomnya?... Baiklah, kalau begitu bisakah kau mematikan semua jaringannya?... Aku mengerti Dhee.“

“Bagaimana? Berapa banyak waktu yang kita butuhkan?“

“Dua puluh menit Zac, Dhee membutuhkan waktu sepuluh menit untuk mematikan semua sistem jaringan di kota.“

“Dan pertemuan di Gedung Putih akan di mulai setengah jam lagi.“

“Percayalah bahwa kita bisa menangani semua ini.“

Mendekati pusat kota kami mulai terjebak kemacetan yang sangat panjang dan padat sekali.

“Sebaiknya kita turun dari mobil. Sepertinya Dhee sudah berhasil mematikan semua sistem jaringan.“

“Baiklah, apakah kau sudah siap sayang?“

Aku mengangguk dengan pasti. Setelah memasang semua perlengkapan dan persenjataan selesai, kami berdua bergegas untuk segera keluar dari dalam mobil.

Keadaan disitu memang mulai kacau karena orang-orang mengeluh ponsel mereka mati dan tidak ada sinyal.

Kami berlari kesana kemari sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kami.

Ayolah, dimana letak bom itu.

Otakku berpikir keras. Berbagai bayangan berkelebatan di dalam kepalaku.

“Zac, aku tahu dimana bom itu di letakan. Ayo.“

Aku langsung berlari menuju kesebuah bis dengan kode KS109 yang terpampang jelas di kaca depan bisnya. Sedangkan Zac mengikutiku dari belakang.

“Dimana letak bom itu?“

“Di bis dengan kode KS109 Zac. Ayo cepat.“

Aku langsung menghentikan bis tersebut dan masuk ke dalam. Sedangkan Zac langsung memeriksa bagasi di kedua sisi bis.

“Aku mohon tinggalkan bis ini sekarang.“

Tapi para penumpang bis malah terdiam dan memandangiku. Aku menghela nafas sampai akhirnya aku mengeluarkan pistol dan mengacungkannya ke udara.

“Cepat tinggalkan bis ini. SEKARANG.“ aku berteriak.

Melihat aku mengeluarkan pistol, para penumpang itu langsung panik, histeris dan berhamburan keluar. Aku langsung memeriksa setiap sudut kursi penumpang tapi tidak menemukan apa-apa.

Aku langsung bergerak menuju ke bagian belakang bis. Di sana aku menemukan sebuah tas besar berwarna hitam.

Aku membukanya sedikit untuk meyakinkannya. Ternyata tas ini memang berisi bom atom uranium.

“Aku tidak menemukannya di bagasi, sayang.“

“Aku sudah menemukannya. Ayo kita harus segera pergi dari sini. Perasaanku mengatakan bahwa para teroris itu berada di dekat sini.“

Zac mengambil alih tasnya, lalu kami mulai berjalan keluar dari dalam bis. Belum terlalu jauh kami mendengar sebuah suara tembakan.

Aku dan Zac berlari untuk menghindari peluru-peluru itu. Rupanya para teroris itu melihat kami membawa bomnya.

“Kita berlindung di sana.“

Zac menarikku untuk berlindung di balik mobil yang berada di sana. Gencatan senjatapun tak dapat di hindari. Jumlah mereka cukup banyak sedangkan kami hanya berdua.

Aku hanya bisa berharap bahwa teman-teman akan segera tiba disini dan membantu kami berdua.

“Peluruku habis Zac.“ dadaku naik turun.

“Begitu juga denganku, sayang. Semoga bantuan lekas datang.“

Tak lama kemudian aku melihat Lou, Olivia, Dhee, Gale, Asya, Eric, Adam dan Nico datang dengan pasukan. Aku bisa bernafas lega melihat mereka datang sambil menembaki para teroris itu.

Dhee mendekat dan melemparkan pistol untukku dan Zac sambil tersenyum.

“Maaf kami terlambat.“

“Tidak apa-apa Dhee.“

Kami langsung terlibat kembali dalam gencatan senjata yang sangat sengit. Aku melihat ke salah satu mobil yang di gunakan oleh teroris itu.

Aku melihat ada sebuah bom lempar yang terselip di jendelanya.

“Kalian semua cepat mundur dan cari perlindungan.“ teriakku kepada teman-temanku.

“Apa yang akan kau lakukan?“

“Ikut saja perkataanku Sya. Zac kau juga harus berlindung.“

“Tidak sayang.“

“Aku akan baik-baik saja percalah kepadaku. Aku sangat mencintaimu Zac.“ aku mengecup bibirnya sekilas.

Setelah teman-temanku menjauh, aku langsung mengarahkan pistolku ke arah jendela mobil itu. Bom itu jatuh ke dalam mobil, aku langsung berlari mencari tempat berlindungan terdekat. Tepat ketika bom itu meledak, dengan cukup hebat. Dan aku tertelungkup di atas aspal sambil menutup mata dan telingaku.

Setelah ledakan mereda aku membuka mata dan telingaku dan memandang berkeliling. Aku melihat Zac berlari ke arahku.

“Sayang apakah kau baik-baik saja?“ Zac membantuku untuk berdiri.

“Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu dan yang lain?“

“Kami baik-baik saja, Lila.“

“Syukurlah Lou.“

“Akhirnya semua para teroris itu mati. Semua selesai.“

“Belum selesai Gale. Bom yang berada di dalam tas yang kau pegang saat ini masih aktif.“

Gale langsung memucat mendengar ucapanku. Aku langsung tersadar bahwa Dhee tidak ada bersama kami.

“Dhee kemana?“

Mendengar pertanyaanku mereka langsung memucat.

“Tadi dia ada bersamaku, La.“

Aku langsung berlari ke arah mobil-mobil yang tadi mereka gunakan untuk berlindung.

“Dhee... Kau dimana?“

Aku berkeliling sampai akhirnya aku menemukan sosoknya tergeletak dengan tubuh yang berlumuran darah.

Aku langsung berteriak, “Dhee...“

CHAPTER 29

“Tahan sebentar, Sya. Kakimu bengkak.“

“Awww... Sakit, Nic.“ aku mencengkram bahu Nico dengan erat.

Bahkan tanpa sadar aku menggigit bibirku karena menahan sakit.

“Sebentar lagi selesai, Sya.“

Dan lima menit kemudian Nico selesai memijat kakiku yang terkilir. Bahkan Nico kembali memakaikan sepatuku.

“Terima kasih, Nic. Kakiku sudah jauh lebih sekarang.“

“Sama-sama, hey ada dengan bibirmu?“

Aku langsung memegangi bibirku yang memang terasa agak perih, “Sepertinya tadi aku menggigit bibirku agak keras, Nic.“

Tiba-tiba Nico mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku. Aku hanya bisa mematung, bahkan ketika ia menggigit bibir bawahku dan menghisapnya dengan lembut.

Lama-lama aku pun mulai terbuai, sampai akhirnya aku pun membalas tiap ciumannya. Aku mulai mengalungkan kedua lenganku di lehernya.

Ciuman kami semakin lama semakin panas dan liar. Nico membuatku lupa diri dan melupakan semuanya.

Jari-jari Nico mulai menelusuri punggungku. Lalu mulai bergerak ke arah payudaraku. Ketika tangannya mulai meremas payudaraku. Mulutku mengeluarkan erangan.

Suara ponselku berdering, seperti sebuah tamparan yang sangat keras sekali. Telepon dari Dhee membuatku sadar.

Aku langung menjawab panggilan dari Dhee. Dhee memberi tahu bahwa Adam menemukan sesuatu. Ternyata para teroris itu mengincar kami bertiga.

Karena menurup mereka keberadaan aku, Dhee dan Lila mengancam mereka semua.

“Ada apa, Sya? Mengapa wajahmu terlihat sangat pucat sekali?

“Ternyata para teroris itu mengejar sesuatu di New York.“

“Apa itu?“

“Mereka mengincar Dhee, aku dan Lila.“

“Ya Tuhan, jangan takut. Karena aku akan selalu melindungimu. Ayo kita terusnya penyisirannya.“

Selama melakukan penyisiran Nico terus menggenggam tanganku. Sejenak aku bisa merasa tenang, meskipun sebenarnya aku sangat mengkhawatirkan Lila dan Dhee.

Apalagi sampai saat ini Lila belum menghubungi kami sama sekali. Ya Tuhan, lindungilah kedua sahabatku.

***

Aku sangat syok mengetahui apa yang sudah di dapatkan oleh Adam. Ternyata namaku, Asya dan Lila masuk ke dalam daftar orang yang paling di incar oleh para teroris itu.

Kepalaku sakit memikirkannya. Bahkan tanpa sadar air mataku mulai jatuh membasahi kedua pipiku.

“Ada apa Dhee? Mengapa kau menangis?“

“Aku hanya memikirkan keadaan Lila dan Asya, Dam. Aku takut terjadi sesuatu pada mereka. Aku sangat menyayangi mereka berdua, Dam. Mereka lebih dari sekedar sahabat untukku.“

Tiba-tiba Adam memeluk tubuhku dan mulai menghapus air mata yang membasahi pipiku.

“Jangan menangis, kumohon. Aku tahu kau pasti akan sangat terkejut sekali ketika mengetahui apa yang sudah aku temukan tadi. Aku juga sangat terkejut, Dhee. Dan hal itu membuatku ingin selalu berada di sampingmu dan melindungimu, Dhee.“

“Tidak boleh, Adam tidak sendiri.“

“Aku tahu, Dhee. Aku tahu bahwa kau sudah memiliki kekasih. Dan aku tidak peduli.“

Adam menangkup kedua pipiku. Membakarku dengan tatapannya yang tajam. Lalu bibirnya mengunci bibirku.

“Adam... Kumohon jangan seperti ini.“ aku berusaha memprotesnya ketika bibirnya masih mengunci bibirku.

“Biarkan aku menciummu Dhee, kumohon. Karena aku takkan bisa memilikimu.“

Mendengar ucapannya aku langsung menekan bibirku, membuat ciuman kami semakin dalam dan intents.

Senin, 28 Januari 2013

CHAPTER 28

Lila memberitahu bahwa markas di serang oleh para teroris. Itu berarti mereka sudah benar-benar meninggalkan California.

Lila dan Zac sedang berada dalam perjalanan kembali ke New York. Dan menyuruhku untuk tetap berada di Washington DC bersama Asya.

Sepertinya kami harus mulai bergerak untuk melukan penyisiran Gedung Putih dan kota Washington secara keseluruhan malam ini juga.

***

Akhirnya Dhee menutup teleponnya dan menjelaskan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi.

Aku langsung berlari ke kamar untuk berganti pakaian lalu mengenakan rompi anti peluru dan perlengkapan lainnya serta membawa persenjataanku.

Setelah selesai aku langsung keluar dari kamar. Dan mendapati Dhee sedang berada di depan laptopnya sudah dengan pakaian yang lengkap.

“Bagaimana Dhee, apakah kau bisa melihat keadaan di dalam markas“

“Aku tidak bisa memasuki servernya, Sya. Sepertinya mereka telah mematikan semua sistemnya.“

“Ya ampun, semoga Lila sudah sampai di sana Dhee jadi kita bisa mengetahui keadaannya seperti apa.“

Dhee menutup laptopnya, “Ayo kita pergi sekarang, Sya. Kita harus bergerak malam ini. Karena sebagian dari para teroris itu sudah mulai menyerang markas kita.“

“Kau benar Dhee, ayo kita pergi sekarang.“

Lalu kami berduapun segera pergi untuk melakukan penyisiran. Dhee langsung memacu mobilnya menuju ke Gedung Putih.

Disana Gale, Eric, Adam dan Nico sedang menunggu kedatangan kami berdua.

“Akhirnya kalian berdua datang juga. Lila mana?“

“Lila dan Zac sedang dalam perjalanan kembali ke New York, Gale.“

“Ayo kita sebaiknya membawa pasukan masing-masing untuk berpencar. Jangan buang-buang waktu lagi.“

“Kau benar, Dhee. Aku dan timku akan segera bergerak sekarang.“ Eric pun pergi.

“Hati-hati sayang. Aku mencintaimu.“ Gale mengecup bibir Dhee lalu pergi.

“Adam ayo kita  cari tempat untuk melakukan pelacakan. Aku juga ingin tahu apa yang sudah kau temukan.“

“Aku memang menemukan sesuatu, Dhee. Ayo kita bergerak juga.“

“Asya aku pergi. Kau hati-hati.“

“Kau juga Dhee.“

Dhee dan Adam pun pergi. Tinggalah aku dan Nico berdua saja.

“Kau sudah mendapatkan info, Nico?“

“Belum ada informasi yang pasti, Sya. Tapi ada baiknya kita berkeliling di halaman Gedung Putih, sebelum kita melakukan pengecekan ke dalam gedung.“

“Kau benar Nic, siapa tahu kita bisa menemukan sesuatu yang akan mempermudah pekerjaan Lila.“

Aku dan Nico mulai menyusuri setiap jengkal halaman Gedung Putih yang sangat luas itu di tengah kegelapan.

Selama perjalanan aku tidak henti-hentinya menguap. Aku juga sudah mulai merasa lelah. Kami sudah berjalan cukup jauh tapi belum juga menemukan sesuatu.

“Nico, bisa kita berhenti sebentar. Aku sangat lelah.“ keluhku sambil bersandar di sebuah pohon besar yang berada di sana.

“Baru begitu saja kau sudah lelah.“

“Karena bagaimanapun juga aku ini seorang wanita, Nico. Jangan samakan denganmu.“

“Ya sudah, ayo kita mencari tempat untuk beristirahat dulu.“

Nico berjalan di depan dan aku mengukutinya di belakang sambil menggerutu tidak jelas.

Sampai-sampai aku tidak tahu ketika Nico berhenti. Dan aku menabrak punggungnya dengan cukup keras.

“Awww...“ aku mengusap keningku, “Mengapa kau berhenti secara tiba-tiba, sakit tahu.“

“Berhentilah menggerutu Asya.“

Nico kembali berjalan meninggalkanku. Benar-benar menyebalkan sekali dia.

“Hei Asya, cepatlah.“ panggilnya.

“Iya iya, tunggu sebentar.“

Aku segera menghampirinya. Karena terburu-buru aku sampai tidak memperhatikan langkahku.

Sampai-sampai aku tersandung dan terjatuh tepat di atas tubuh Nico. Wajah kami berdua sangat dekat sekali. Aku bisa merasakan nafasnya, matanya menatap tajam mataku.

Tubuhku langsung terasa panas, detak jantungku berdetak sangat cepat sekali. Ya Tuhan, tubuhku seperti terkena aliran listrik. Dan kami berada dalam posisi itu cukup lama.

Jangan sampai aku jatuh cinta kepadanya. Itu tidak boleh.

“Asya, bisakah kau bangun dari atas tubuhku?“

Lamunanku langsung buyar mendengar suaranya. Aku buru-buru bangun dari atas tubuhnya.

“Ma-maafkan aku, Nic.“

“Ya sudah, ayo kita beristirahat saja. Kau tidak terluka, kan?“

“Tidak, aku baik-baik saja.“ namun ketika melangkah pergelangan kaki kananku terasa sakit sekali, “Aww...“

“Kau bilang tidak apa-apa. Biar aku membantumu.“

Nico menggendongku ke sebuah kursi yang berada di bawah pohon lalu mendudukanku. Lalu Nico mengarah ke kaki kananku.

“Apa yang akan kau lakukan?“

“Memeriksa kakiku. Jangan banyak protes, biar aku memeriksanya.“

Nico mulai membuka sepatuku, ternyata pergelangan kakiku agak membengkak. Lalu Nico mulai memijatnya dengan perlahan.

“Awww...“ aku meringis karena kesakitan, “Pelan-pelan Nico.“

Minggu, 27 Januari 2013

CHAPTER 27

Ya Tuhan semua ini benar-benar membuatku pusing. Hal pertama yang harus di lakukan adalah mengetahui alat yang di gunakan untuk meledakkan bomnya.

“Sudah-sudah kalian berdua jangan terlalu banyak berpikir. Kita bisa memecahkan semua ini bersama-sama.“

“Gale benar sayang, ingat kesehatanmu belum pulih sepenuhnya. Aku tidak ingin kau sakit.“

“Sebaiknya kita keluar saja dari sini dan kita mulai bekerja. Ingat Lou mengandalkan kita bertiga.“

“Aku kaget mengetahui kalian bertiga adalah agent rahasia yang sering dibicarakan oleh para agent rahasia di seluruh dunia. Aku juga sempat mendengar bahwa ketiga agent rahasia yang di miliki departemen ini adalah wanita dan mereka sangat cantik sekali. Sayangnya tak banyak yang tahu wajahnya seperti apa.“

“Sayang, semua yang kau dengarkan di luar sana terlalu berlebihan. Ayo kita keluar, rapat ini membuatku sangat lapar sekali.“

Lalu kami keluar dari ruang pertemuan dan menuju ke kantin untuk makan siang. Sejak hari itu kami semua sibuk menyiapkan berbagai hal.

Hari ini kami semua sedang berada di Washington DC untuk mengadakan pertemuan dengan para agent rahasia yang berasal dari berbagai negara.

Aku, Lou, Asya dan Lila duduk di kursi depan yang langsung menghadap para agent rahasia yang hadir dan ada seorang lagi agent rahasia wanita yang bernama Olivia. Dan kami bertiga serta Olivia menjadi pusat perhatian para agent rahasia yang notabenenya pria semuanya.

Asya berbisik padaku, “Dhee, aku merasa tidak nyaman duduk disini.“

“Aku juga sama Sya. Para pria itu menatap kita dengan tatapan kelaparan.“

Tiba-tiba Olivia menyela, “Bersabarlah, wajar saja jika kalian membuat mereka penasaran. Karena ternyata kalian memang gadis yang sangat cantik. Semua yang di ceritakan oleh Lou ternyata benar.“

“Gadis-gadis, pertemuan akan segera di mulai. Teruskan bergosipnya nanti ketika jam makan siang.“

“Kami tidak bergosip Lou. Hanya berkenalan dengan Olivia saja.“ aku tersenyum sambil mengedipkan sebelah mataku kepada Lou.

Rapat kali ini kami membahas banyak hal. Salah satunya adalah pembagian tugas. Para agent rahasia yang memiliki keahlian menjinakkan bom akan di pimpin oleh Lila. Dan aku akan memimpin para agent yang ahli dalam bidang IT. Begitupun dengan Asya dengan keahliannya dalam persenjataan.

Makan siang pun tiba,  belum ada perubahan pada sikap Lila. Karena Lila yang bersikap dingin itulah sempat membuat Zac uring-uringan. Aku mendengar dari Gale bahwa ada seorang agent yg terus membicarakan Lila, bahkan agent itu bilang ingin sekali merasakan bercinta dengan Lila.

Tentu saja Zac emosi bahkan hampir memukul agent itu. Untung saja Gale menahannya, lalu Zac menunjukan cincin pertunangannya dengan Lila.

Padahal aku tahu bahwa Zac dan Lila belum bertunangan. Setelah makan siang kami kembali ke ruang rapat.

Namun kali ini kami berunding dengan tim masing-masing di ruangan yang berbeda-beda.

Ketika sedang berunding aku menatap satu persatu wajah anggota timku. Mataku langsung terpaku pada seorang pria. Ia sangat tampan, tatapan matanya juga sangat tajam.

Ternyara pria itu bernama Adam Pitts, dia adalah seorang agent rahasia yang berasal dari London.

Ya Tuhan, tatapan mata dan senyumannya membuat badanku panas dan seperti terkena aliran listrik. Dadaku bergemuruh.

Aku langsung menggeleng-gelengkan kepalaku. Berusaha untuk mengeluarkan pikiran itu dalam kepalaku.

Aku tidak boleh tertarik apalagi jika sampai jatuh cinta kepadanya. Itu tidak boleh. Aku sudah memiliki Gale di sampingku. Dia sangat mencintaiku dan aku juga sangat mencintainya.

Tiba-tiba suara Adam membuyarkan lamunanku, “Kau tidak apa-apa, Dhee?“

“Ah, maafkan aku Adam. Aku tidak apa-apa, sebaiknya kita lanjutkan lagi rapatnya.“

Rapat berakhir pada pukul delapan malam. Kami semua pulang ke apartemen kami yang berada di Washington DC. Yang ada di apartemen hanya aku dan Asya. Karena sekarang Lila tinggal bersama Zac.

Di New York pun Lila sudah pindah ke apartemen milik Zac. Karena Zac dan Lila memutuskan untuk menikah setelah semua ini berakhir.

Aku dan Asya cukup kaget ketika mendengar hal ini. Aku saja belum berani mengambil keputusan seperti yang di lakukan oleh Lila dan Zac. Malam itu aku dan Asya sedang berbincang-bincang di ruang TV.

“Sepi ya Dhee, rasanya tak percaya bahwa Lila akhirnya memutuskan untuk menikah dengan Zac.“

“Kau benar Sya, meskipun syok kita harus ikut berbahagia untuknya.“

“Aku belum memiliki pemikiran kesana. Aku tidak tahu hubunganku dengan Mark akan mengarah kemana.“

“Bersabarlah Sya, yakinlah bahwa Mark juga sama sepertimu saat ini. Oh iya, di timku ada seorang agent yang sangat tampan Sya. Namanya Adam di berasal dari London.“

“Aku juga sama Dhee, namanya Nicky Bryne. Namun ia lebih suka di panggil Nico, dia juga tampan dan berasal dari London. Tatapannya membuatku takut Dhee.“

“Kau takut jatuh cinta kepadanya? Begitu juga denganku, Sya.“

Ketika sedang asyik mengobrol tiba-tiba Lila menelepon. Dari suaranya dia terdengar sangat panik sekali. Dan aku sangat yakin sekali bahwa terjadi sesuatu. Jika tidak Lila tidak mungkin akan sepanik ini.

CHAPTER 26

***

Pagi ini Lou mengumpulkan kami di ruang pertemuan. Dan biasanya jika Lou sudah mengumpulkan kami di sini pasti akan ada hal penting yang di sampaikan.

“Apakah sudah berkumpul semuanya?“ Lou membuka suara.

Otomatis kami semua langsung memeriksa siapa yang belum datang. Dan ternyata Zac dan Lila belum terlihat, mungkin mereka belum terlalu sehat.

Tiba-tiba pintu ruang pertemuan terbuka. Ternyata Zac dan Lila yang datang. Wajah Lila masih terlihat agak pucat.

“Maafkan kami terlambat Lou.“ Zac meminta maaf.

“Tidak apa-apa Zac, kebetulan kami belum mulai. Sebaiknya kalian segera duduk.“

Zac dan Lila pun langsung menuju ke kursi yang masih kosong. Aku langsung menyapa Lila karena ia duduk di sampingku.

“Kau masih terlihat pucat, La. Mengapa datang ke kantor, seharusnya kau beristirahat saja.“

“Mana mungkin aku berdiam diri di atas tempat tidur Dhee, sedangkan ada kasus besar yang harus kita tangani.“

“Kasus besar?“

“Zac menceritakan kepadaku apa yang dia dan Steve temukan di California. Pasti Lou akan memberitahukannya.“

Setelah itu Lila langsung terdiam memperhatikan Lou. Aku jadi mengira-ngira di dalam hati. Apa yang terjadi sebenarnya sampai-sampai membuat Lila yang belum sehat memaksakan diri untuk datang ke kantor??

Ternyata benar saja kasus yang sedang sedang di jelaskan oleh Lou ternyata sangat gawat. Pantas saja Lila datang, karena kasus ini melibatkan bom yang bukan sembarang bom.

Semua orang di dalam ruangan terlihat begitu tegang. Zac dan Steve bergantian menjelaskan setiap penemuan yang di temukan oleh mereka.

Aku kaget karena target para teroris ini adalah Gedung Putih, mereka bermaksud melakukan penyerangan saat pertemuan para petinggi setiap negara yang akan di laksanakan bulan depan.

Belum lagi hal yang sangat mengejutkan kami adalah Steve memukan sebuah peta. Dan ternyata peta itu adalah peta sebuah gedung. Peta markas kami.
Selain akan melakukan penyerangan di gedung putih ternyata para teroris itu juga berniat untuk melakukan pernyerangan terhadap markas kami.

Ya Tuhan, kepalaku langung sakit memikirkannya. Waktu yang kami miliki sangat sedikit untuk menyiapkan semuanya. Belum lagi kami harus melakukan berbagai penyelidikan.

Pikiran kami terbagi-bagi karena kami harus membagi dua pasukan kami untuk melekukan pengamanan di Washington DC dab New York.

Aku melirik Lila ia terlihat berpikir keras. Bom atom Uranium, aku tahu Lila pasti sedang memikirkan dampak dan kekuatan bom ini jika meledak. Karena Lila seorang perakit dan penjinak bom handal.

Ini pasti akan menjadi tugasnya untuk menjinakan bom itu. Kami semua yang berada di ruangan ini berusaha untuk bersikap tenang. Meskipun sebenarnya aku dan teman-teman yang lain sangat-sangat tegang dan tertekan.

“Jadi seperti itu, lusa kita akan mengadakan pertemuan dengan para agent rahasia dari berbagai negara. Karena ini bukan ancaman yang kecil. Kita juga membutuhkan bantuan dari mereka, karena kita akan melakukan pengamanan di sini dan New York.“

“Lou tapi kita harus mencari orang yang sangat mengerti tentang bom.“

“Kau tenang saja Zac, karena kita memiliki seorang perakit dan penjinak bom yang sangat handal.“

“Benarkah? Siapa, apakah aku mengenalnya?“

Lou tersenyum geli mendengar pertanyaan Zac. Rupanya Zac belum tahu bahwa kekasihnyalah orang yang di maksud oleh Lou.

“Kau benar-benar tidak tahu, Zac?“ akhirnya aku ikut berbicara, sedangkan Lila tetap sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Aku tidak tahu, Dhee.“

“Zac, Lila adalah seorang perakit bom dan penjitak bom yang sangat handal.“ jelas Lou mantap.

Mata Zac langsung membulat terkejut karena mendengar penjelasan Lou. “Apa? Lila? Sayang, apakah itu benar?“

Namun Lila hanya mengacungkan jari telunjuknya sebagai tanda bahwa ia sedang tidak ingin di ganggu. Seperti itulah Lila jika kita sedang berhadapan dengan yang namanya bom.

“Sudahlah Zac, Lila memang seperti itu jika sedang berpikir.“ Asya menjelaskan.

“Sudah, sebaiknya kita lanjutkan lagi. Biarkan saja dulu Lila seperti itu. Dhee aku mempercayakanmu untuk memimpin tim para agent rahasia yang handal dalam bidang IT dan untuk urusan persenjataan aku akan mempercayakannya kepadamu Asya. Dan untuk yang lainnya akan di putuskan nanti, kalau begitu pertemuan ini selesai. Aku sangat mengharapkan kerjasama dari kalian. Baiklah sampai disini saja karena banyak sekali yang harus kita kerjakan.“

Lou menutup rapatnya, satu persatu kami mulai keluar dari dalam ruangan. Tapi tidak dengan aku, Asya, Lila, Zac dan Gale. Kami masih berada di dalam ruang pertemuan.

“Lila, sudahlah jangan terlalu di pikirkan. Akan ada banyak penjinak bom yang membantumu.“

“Aku hanya sedang mikirkan dampak dari bom itu, Dhee. Ya Tuhan, bagaimana jika aku tidak bisa menjinakkannya. Berapa puluh ribu nyawa yang akan jadi korban. Belum lagi efek dari ledakan ini bisa memberikan dampak hingga 4 KM dari pusat ledakan.“

Yang di katakan Lila memang benar, wajar saja jika dia terlihat tertekan memikirkan semua ini.

“Jadi apa yang akan kau lakukan?“

“Berdoalah agar bom itu bisa di ledakan menggunakan remot. Dengan begitu kita bisa menahannya dengan cara mematikan seluruh jaringan. Sehingga aku memiliki waktu untuk menjinakannya. Dan ini tugasmu Dhee. Aku bergantung padamu.“

CHAPTER 25

Mataku tak terpejam, tubuhku terasa kaku di atas tempat tidur. Entah sudah berapa lama aku berada dalam posisi seperti itu. Bahkan suara ponselku yang terus berderingn pun tetap aku abaikan. Karena aku yakin bahwa masih belum ads perkembangan tentang keberadaan Zac. Aku butuh waktu untuk sendiri. Agar aku bisa mendapatkan kembali kesadaran dan kewarasanku.

Tidak terasa tiga hari sudah aku lewati dan masih tetap tidak ada perkembangan tentang Zac. Hidupku benar-benar hampa, untuk menangispun aku sudah tidak bisa.

Aku kembali menjadi mayat hidup, seperti tubuh yang kehilangan nyawanya. Tak banyak yang bisa aku lakukan di kantor ataupun di kampus. Aku hanya termenung dan mengurung diri di dalam ruanganku. Untung saja Lou bisa mengerti dengan keadaanku saat ini.

"Lila, ayo kita ke kantin untuk makan siang."

"Aku tidak lapar Dhee."

"Kau harus makan Lila, sudah tiga hari kau tidak makan apapun. Kalau begini terus kau bisa sakit."

"Bagaimana aku bisa makan Dhee, sedangkan aku tidak tahu bagaimana keadaan Zac di luar sana."

"Aku mengerti La, sangat mengerti sekali perasaanmu seperti apa. Tapi jangan sampai menyiksa dirimu seperti ini, Zac takkan suka jika kau seperti ini. Ayolah, kita makan di kantin."

Dhee menarik tubuhku dari kursi. Dengan terpaksa aku pun berdiri dari kursiku dengan malas. Baru beberapa langkah kepalaku langsung terasa sakit dan berputar-putar. Tubuhku ambruk, semuanya menjadi gelap dan aku tidak ingat apa-apa.

***

Akhrinya aku bisa juga menarik Lila keluar dari ruangannya. Namun baru beberapa langkah Lila langsung ambruk tidak sadarkan diri. Aku langsung berteriak panik.

"Gale... Lou... Asya... Brad... siapa saja tolonglah aku." Aku berteriak-teriak didepan ruangan Lila.

Gale, Asya, Eric, Brad dan Lou langsung menghampiriku.

"Ada apa Dhee?"

"Lila Sya..."

"Lila pingsan..."

"Ya Tuhan, baru saja aku akan memberitahunya bahwa Zac dan Steve selamat. Saat ini mereka sudah berada di bandara."

"Zac dan Steve selamat, Lou?"

"Benar Dhee, kalau begitu kau, Gale dan Asya bawa ke Rumah Sakit. Aku, Eric dan Brad akan pergi ke bandara."

"Kabari kami, Lou."

"Tentu saja."

Aku, Gale dan Asya langsung membawa Lila ke Rumah Sakit. Sesampainya disana Lila langsung di tangani oleh dokter. Sedangkan kami menunggu di ruang tunggu.

"Gale, bagaimana bisa kau menjadi seorang agent rahasia?"

"Pihak kepolisian menwariku, Sya. Setelah mengikuti beberapa tes akhirnya aku lulus dan pihak kepolisian memintaku untuk bertemu dengan Lou. Lalu Lou memanggil Lila yang ternyata adalah Ara, aku benar-benar kaget pada hari itu."

"Satu masalah besar akhirnya selesai juga. Kau tahu sayang, aku benar-benar hampir putus asa karena harus menutupi identitasku yang sebenarnya kepadamu."

"Aku mengerti, sayang."

"Apakah kau masih akan tetap menjadi seorang aktor?"

"Tentu saja, Sya. Aku tidak mungkin meninggalkan dunia yang sudah membesarkan namaku."

"Mengapa dokter masih saja belum keluar. Lila benar-benar tidak berdaya tanpa Zac."

"Kau benar Dhee, kadang aku selalu berpikir kenapa mereka bukannya menikah saja."

"Aku setuju denganmu, Sya."

"Lalu kapan kau mau menikah denganku, sayang?"

"Yang jelas tidak dalam waktu dekat Gale. Aku belum siap selain itu masih banyak hal yang ingin aku capai dan aku lakukan."

"Aku akan menunggumu, sayang."

Ketika sedang berbincang-bincang tiba-tiba Zac muncul dengan wajah yang sangat panik, di ikuti oleh Lou dan Eric, sedangkan Brad langsung mengantar Steve pulang.Terdapat beberapa luka di wajahnya namun tidak parah.

"Bagaimana keadaan Lila?"

"Dokter masih di dalam Zac. Selamat datang kembali, senang melihatmu baik-baik saja."

"Terima kasih Dhee, bagaimana Lila bisa seperti ini?"

"Karena Lila sangat mencintaimu Zac."

Akhirnya dokterpun keluar dan menjelaskan keadaan Lila, dokter juga mengizinkan kami untuk melihat keadaan Lila. Namun kami tidak di perbolehkan masuk secara bersamaan. Akhirnya kami menyuruh Zac untuk masuk melihat keadaan Lila.

***

"Sayang, ayo bangun ini aku. Aku sudah pulang, aku baik-baik saja, sayang. Maafkan aku, karena sudah membuatmu seperti ini?"

Aku membuka mataku perlahan dan melihat Zac sedang menunduk sambil menggenggam tanganku. Ya Tuhan, ternyata ini benar-benar dia. Ini Zac-ku kekasihku, pusat kehidupanku, nyawaku. Terima kasih kau sudah mengembalikannya kepadaku Tuhan.

"Z-Zac..." panggilku dengan suara terbata.

"Sayang, kau sudah bangun. Iya, ini aku Zac, sayang." Zac langsung menciumi keningku.

"Kau kembali Zac, kau sudah kembali padaku. Aku hampir putus asa Zac..." tanpa sadar air mataku mulai jatuh,  "Aku tidak tahu apakah aku bisa melanjutkaj hidupku tanpamu."

"Shhh, jangan menangis sayang. Aku sudah berada disini, aku takkan pernah membiarkanmu sendiri."

Setelah menjalani perawatan selama dua hari akhirnya dokter memperbolehkan aku untuk pulang. Malam itu Zac mengajakku makan malam, meskipun kami hanya makan malam di apartemen milik Zac. Tapi entah mengapa makan malam kali ini benar-benar terasa sangat istimewa sekali.

Saat itu kami sudah duduk saling berhadapan di meja makan yang sudah Zac tata menjadi sangat indah. Dengan diiringi oleh musik yang mengalun pelan yang semakin menambah suasana menjadi semakin romantis.

"Kapan kau menyiapkan semua ini, Zac?"

"Ummm... Ketika kau sedang tidur sayang. Aku berharap kau akan menyukai makan yang sudah aku masak khusus untuk malam ini."

"Tempat ini menjadi sangat romantis, aku sangat menyukainya. Terima kasih."

"Aku sangat senang kau menyukainya, sayang. Ayo kita makan."

Kamipun mulai makan dan ketika acara sudah selesai. Kami memutuskan untuk berbincang sambil meminum sampanye.

Tiba-tiba Zac mengenggam tanganku dan menciuminya dengan sangat lembut. "Sayang aku ingin mengatakan sesuatu padamu?"

"Mengatakan apa? Sepertinya sangat serius sekali."

Zac berdiri dari kursinya, dan menghampiriku lalu mengeluarkan sebuah kotak dari dalam saku celananya, dan ternyata ada sebuah cincin dari emas putih bertahtakan batu rubi yang sangat indah sekali. Setelah itu Zac berlutut di hadapanku.

"Sayang, aku memang tidak padai dalam merangkai kata-kata yang indah dan romantis seperti pujangga. Namun aku ingin menyampaikan bahwa hidupku semakin indah dan berwarna setelah kau hadir. Maka dari itu izinkanlah aku untuk menjaga dan mencintaimu seumur hidupku, karena aku ingin hidup bersamamu hingga maut memisahkan kita berdua. Lila, maukah kau menikah dan menjadi istriku?"

Mataku membulat karena terkejut mendengarkan kata-katanya barusan. Ya Tuhan, Zac melamarku pria tampan ini ingin memiliku selamanya.

Air mata bahagia mulai berkumpul di sudut mataku, "Aku mau Zac, aku mau menjadi istrimu."

Zac menyematkan cincin itu di jari manis tangan kananku, menciumnya lalu memelukku dengan sangat erat sekali.

"Sayang, terima kasih karena kau sudah menerima lamaranku yang tidak romantis ini."

"Tidak Zac, bagiku malam ini sangat romantis sekali. Aku mencintaimu sangat sangat mencintaimu Zac."

"Aku juga sangat mencintaimu, sayang."

Zac mencium bibirku dengan sangat lembut sekali, aku melingkarkan kedua lenganku di lehernya dan sesekali membelai tengkuknya. Ciuman kami sangat dalam dan sangat intens, meskipun dadaku sudah terasa sesak aku tetap tidak mau melepaskan ciumanku.

Ketika ciuman kami terlepas, hembusan nafas kami sudah menjadi cepat dan terengah-engah. Zac menggendongku sambil menciumku dan berjalan menuju ke dalam kamar.

"Zac, turunkan aku."

"Tempat tidurnya di sana sayang bukan disini."

"Cepat turunkan aku."

Akhirnya Zac menurunkanku dengan perlahan-lahan. Lalu aku mencium bibirnya sambil mendorongnya perhalan hingga tubuhnya terjatuh di atas tempat tidur.

Lalu aku merangkak di atas tubuhnya dan kembali menciuminya sambil membuka satu persatu kancing kemejanya. Aku melempar kemeja ke lantai lalu kembali menciumi lehernya. Tubuh Zac melenggelinjang ketika aku mulai menciumi perutnya dan kembali mencium bibirnya.

Ia memelukku dengan begitu erat lalu mulai menurunkan restleting gaunku dan menurunkannya dengan perlahan. Menyisakan celana dalam saja, karena hanya itulah satu-satunya kain yang melekat di tubuhku. Tangannya mulai meremas-remas payudaraku yang sudsh mulai mengeras dan membuatku mengeluarkan desahan.

Aku merangkak turun untuk membuka ikat pinggang dan menarik celana serta boxer yang di gunakannya secara perlahan. Membebaskan miliknya yang sudah membesar dan keras. Dengan perlahan aku memegang miliknya itu, membuat gerakan naik dan turun di sana. Sesekali aku mempermaikan bolanya dan menekannya pelan.

Dan itu membuat Zac menggeram. Lalu aku mulai menjilati miliknya itu dan memasukan miliknya ke dalam mulutku. Mulai menghisapnya dengan tempo yang semakin keras dan membuat Zac menggerang.

"Ya... Sayang, terus begitu." Zac terus meracau selama aku melakukan oral padanya.

Lama kelamaan miliknya semakin besar dan keras berada di dalam mulutku. Membuatku kehabisan nafas.

"Sudah hentikan sayang, aku ingin segera berada di dalam dirimu."

Ternyata Zac sudah membawa bungkusan foil. Aku merebutnya dari tangannya, lalu merobeknya menggunakan gigiku. Setelah itu aku memasangkannya pada miliknya yang sudah keras, besar, tegak dan basah oleh air liurku.

Aku memposisikan tubuhku mengangkanginya lalu secara perlahan memasukan miliknya kedalam diriku, aku menahan nafas ketika aku meregang untuk menerimanya memasuki diriku.

Ketika seluruh milikknya sudah berada di dalam diriku. Aku mulai menggoyangkan tubuhnya sambil mencengram kuat lengan Zac. Suara erangan keluar dari tenggorokan kami berdua. Zac terus menelusuri bagian depan tubuhku, meremas dan menghisap payudaraku.

Membuat tubuhku bergetar karena orgasme yang siap meledak.

"Zac..." teriakku memanggil namanya.

"Datanglah untukku sayang."

Zac menusukku dengan perlahan namun setiap tusukannya membuatku berteriak. Dan pada akhirnya tubuhku ambruk karena gelombang orgasme yang menyerangku dengan begitu hebatnya.

Zac menurunkan tubuhku mengangkat salah satu kakiku dan memiringkan tubuhku. Lalu dengan perlahan ia memasukiku dari belakang. Ia terus bergerang dengan perlahan sepertinya Zac sedang membangkitkan kembali gairah di dalam diriku. Bibirnya terus memagut bibirku sedangkan jari-jarinya menyentuh clitku membuat pola melingkar disana.

Membuatku mengerang di mulutnya, "Ah..."

Cukup lama kami bercinta dengan posisi itu tapi sepertinya Zac belum memperlihatkan tanda-tanda akan mencapai orgasmenya. Kami kembali berganti posisi. Zac membalikan tubuhku sehingga aku berada dalam posisi menungging. Ia kembali memasukiku dari belakang.

Dan aku sudah berkali-kali mengalami orgasme. Tiba-tiba Zac semakin cepat menggerakan tubuhnya, suaranya menggeram dan bergetar. Tangannya meremas payudaraku dan kembali menekan clitku.

"Sayang..." Zac menggeram memanggil namaku.

Akhirnya Zac membalik lagi badanku, mengaitkan kakiku kepinggangnya dan mulai bergerak dengan cepat. Sampai akhirnya tubuh kami berdua bergetar hebat secara bersamaan. Zac pun mencapai klimaksnya bersamaan denganku. Tubuhnya langsung ambruk di atas tubuhku.

"Jika setiap hari seperti ini aku tidak akan bisa bangun untuk untuk bekerja, Zac." Ucapku dengan nafas yang terengah-engah.

"Aku sangat merindukanmu sayang."

Zac mengeluarkan dirinya dari dalam diriku, dan berbaring di sampingku. Aku melirik jam yang berada di meja samping ranjang dekatku. Aku hampir tersedak ketika melihat angka-angka digital di jam itu. Pukul 02.00 dini hari, ya ampun berarti aku dan Zac hampir empat jam bercinta.

"Tidurlah sayang, atau kita akan terlambat lagi dalam pertemuan pagi ini. Karena ada hal yang sangat penting sekali yang harus di sampaikan."

"Kau dan Steve menemukan apa di sana?"

"Besok saja sayang, kau harus tidur."

"Baiklah kalau begitu, selamat malam sayang."

"Mimpi indah sayang, selamat malam." Zac mengecup bibirku.

Ketika aku memejamkan mataku, lengan Zac langsung memelukku. Kehangatan yang terpancar dari tubuhnya membuatku terlelap dengan perasaan yang damai. Meskipun aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Yang terpenting bagiku adalah Zac ada di sampingku.

Sabtu, 26 Januari 2013

Chapter 23



Sesampainya dikampus aku langsung duduk didepan kelasku. Tak lama menunggu aku melihat Robert datang kearahku, aku pura-pura konsentrasi membaca buku. Setelah sampai didekatku dia langsung menyapaku..
“Hai, Dilla.. kau sudah lama menungguku??” katanya duduk disampingku.
“tidak juga, aku baru saja keluar..”
“kita bisa pergi sekarang?? Aku sudah sangat lapar” ajaknya.
“baiklah aku juga sudah lapar..” aku beranjak dari tempat duduk dan memasukkan buku-bukuku kedalam tas.

Lalu kami pergi kecafe yang terletak diseberang kampusku. Aku sengaja menerima ajakannya untuk naik mobil bersamanya dan meninggalkan mobilku dikampus. Aku ingin melihat bagaimana mobilnya apakah ada sesuatu yang mencurigakan atau tidak. Saat aku masuk didalam mobilnya aku mulai melirik, melihat  sarta memainkan kamera pengintai yang terpasang dijam tanganku apakah ada hal yang mencurigakan atau tidak.

Sesaat setelah sampai dicafe, kami langsung memesan makanan dan setelah pesanan itu datang kami langsung makan bersama. Disaat makan itulah aku mulai memperhatikan wajah Robert, dia memang mirip dengan Tom. Dan satu hal lagi, Dhee benar dia memang tampan. Makanku yang terhenti karena memperhatikan Robert membuatnya jadi memperhatikanku.
“Dilla, kau sangat cantik..” katanya sambil menyentuh tanganku
Aku terkejut dengan sentuhan tangannya yang tiba-tiba.
“terima kasih akhirnya kau mau kuajak makan bersama. Kau tau aku sudah lama menginginkan waktu berdua denganmu,.”
Aku mengangguk sambil tersenyum..
“oh iya kau tidak kekantor hari ini??” aku berusaha untuk mengalihkan pembicaraannya. Karena aku memasang alat perekam juga di liontin kalungku, akan sangat memalukan jika Robert terus-terusan memujiku dan semuanya terekam. Aku akan sangat malu saat rekaman ini diputar kembali dikantor.
“aku mengambil cuti sambil akhir minggu ini, aku sedang ada urusan lagipula aku akan mengunjungi kedua orang tuaku di Paris.”
“orang tuamu di Paris??”
“iya mereka sudah menetap diParis sejak 2 tahun yang lalu. Tadinya mereka di London, tapi karena suatu hal mereka pindah di Paris dan menetap disana.”

Lalu dia menceritakan sedikit tentang dirinya dan keluarganya. Aku hanya mendengarkan dan memperhatikannya. Dari situ aku baru tahu kalau dia sebenarnya adalah anak yatim piatu yang diambil oleh pasangan suami istri yang kaya raya untuk dijadikan anak. Tapi aku bingung tentang kebenaran ucapannya, apa mungkin dia berbohong?? Tapi dari tatapan matanya sepertinya dia tidak bohong. Entahlah..
*****
Selesai makan siang dengan Robert aku kembali kekampus, saat dikampus aku masuk kedalam mobil dan membuka laptop untuk mengirimkan foto, dan rekaman video tentang aku dan Robert kepada Dhee. Aku harap Dhee bisa memastikan apakah Robert itu adalah Tom. Setelah selesai aku memacu mobilku dengan kencang kembali kekantor.

Setibanya dikantor aku langsung keruangan Dhee, ternyata Dhee bersama Lila. Mereka sedang mengidentifikasi foto Tom dengan hasil rekamanku tadi.
“bagaimana Dhee, La, apakah Rob itu Tom??” aku langsung mendekati mereka berdua.
“ coba kau lihat Sya, kedua foto ini sangat mirip. Jadi menurut ku Robert itu adalah Tom” Dhee meyakinkanku.
“Dan juga tadi aku baru saja mendapatkan informasi kalau Tom itu adalah kaki tangan dari ketua kelompoknya. Jadi bisa dikatakan kalau Tom mengetahui semua informasi kelompok Stephanie” Lila menambahkan.
“Dan Lou sudah mengetahui tentang ini Sya, dia tadi menugaskanmu untuk tetap mendekati dan memata-matai Tom”
“ternyata tugasku berlanjut..” aku mendesah
“tidak apa-apa Sya, lagipula Robert menyukaimu. Sedikit menyenangkan bukan??” Dhee meledekku lagi.
“tidak untuk seorang mafia Dhee.. “
“tapi setelah aku lihat-lihat dia tampan juga Sya” Lila ikut meledekku.
“ kalian berdua memang sama ya..”
Lalu mereka tertawa melihatku menekuk wajahku.
****
Sejak hari itu, aku dan Robert jadi sering bersama walaupun itu hanya sekedar ngobrol atau makan bersama. Kedekatan antara aku dan Robert ini sedikit menganggu hubunganku dengan Mark, tak jarang saat aku bersama Robert, Mark tiba-tiba menelponku. Dan dengan terpaksa aku berbohong padanya mengatakan kalau aku sedang sibuk dan tidak bisa diganggu.

Sementara aku menghabiskan waktuku dengan Robert, Lila dan Dhea bersama Tim yang lainnya sedang menyiapkan rencana penyergapan di apartemen Robert dan dirumah yang sudah dipastikan kalau itu gudang dari obat-obatan terlarang. Memang sebelumnya aku sudah memberitahu mereka bahwa Robert akan mengajakku keapartemennya. Dia mengajakku keapartemennya karena besok dia akan pergi keParis dan belum tahu kapan akan kembali ke New York.

Pagi ini aku sudah bersiap-siap untuk pergi bersama Robert, sudah dua hari aku menyewa sebuah flat untuk tempat tinggalku sementara. Hal itu dikarenakan Robert selalu ingin mengantarku pulang. Aku tidak mungkin mengajak Robert ke apartemen, karena hal itu sangat berbahaya.

Tepat pukul 9 Robert menjemputku, dia sangat kagum melihatku memakai Gaun berwarna coklat tua dengan model punggung terbuka, ditambah lagi dengan beberapa aksesoris yang mendukung penampilanku. Aku sengaja berdandan sedikit berlebihan dari biasanya, aku ingin membuat Robert terkagum-kagum melihatku.

Sekitar 30 menit kami mengendarai mobil dari flatku. Kami tiba disebuah apartemen yang sangat mewah. Dia langsung mengajakku masuk kedalam,sebelum aku masuk kedalam kulirik kearah seberang jalan sana mobil pengintai sudah terparkir disana Dhee,Lila dan tim lainnya sudah bersiap disana. Mereka hanya menunggu instruksi dari ku untuk menyergap Robert nanti.
“Ayo, Dilla sayang.. masuklah” Robert menarik tanganku kedalam apartemennya.
“ baiklah..” aku mengikutinya.

Lalu kami masuk kedalam apartemennya, ternyata perabotan didalamnya sangatlah mewah, dan canggih.
Saat masuk aku langsung duduk disofa yang ada diruang tamunya.
“kau mau minum sesuatu??” tanyanya
“tidak Robert, nanti saja aku belum haus. Sebenarnya apa yang akan kita lakukan disini??” tanyaku
“aku ingin menghabiskan waktuku denganmu, aku akan sangat merindukanmu sayang.. “ dia yang duduk disampingku langsung menarikku kedalam pelukannya.
Aku berusaha untuk melepaskan pelukannya dari ku namun sulit aku tak ingin dia tersinggung dengan gerakanku yang menolaknya.

“kau tau aku sangat mencintaimu Dilla, aku ingin kau menjadi kekasihku..” kata-kata itu terlontar dari mulutnya.
“ kau mau kan jadi kekasihku??’
Sejenak aku tersentak kaget, apa yang dikatakan Robert barusan, apakah itu sebuah pernyataan cintanya untukku. Ya Tuhan, haruskah aku mempercayainya?? Oh, tidak-tidak ada Mark yang selalu ada untukku. Aku meyakinkan hatiku..
“maaf Robert aku tidak bisa..” jawabku
“kenapa??”
“ya aku tidak bisa.. aku tidak sedang ingin berhubungan dengan siapapun” jawabku

Lalu dia menghadapkan wajahnya padaku, memegang wajahku dengan tangannya dan kemudian langsung menciumku dengan liar. Aku terkejut dengan gerakannya yang tiba-tiba. Untunglah saat itu aku sedang mengenggam ponselku. Aku langsung menekan tombol panggilan cepat. Aku menelpon Lila untuk segera datang. Lalu kubiarkan ponselku tergeletak, aku meraih tangan Robert yang mulai membelai leher dan punggungku, aku memegang erat tangannya. Dengan beraninya sedikit kugigit bibir Robert. Dia mengerang. Setelah itu aku mendorong tubuhnya jatuh kesofa. Aku tersenyum saat dia jatuh.
“Dilla, kau sedikit nakal” ternyata dia kaget namun senang melihat responku.
Aku tersenyum menatapnya, maafkan aku Rob ataupun Tom kau harus menerima nasib burukmu hari ini juga. Aku menyeringai kepadanya.

Sesaat dari aku menjatuhkannya, dia menarikku lagi, sehingga aku jatuh dipelukannya. Dengan gerakan cepat dia membalikkan tubuhku, sehingga aku yang berbaring disofa. Robert menatapku dalam, matanya menyala-nyala, dari gerakannya kulihat dia akan segera menindihku.
Dengan sekali gerakan aku menendangnya, tendanganku tepat mengenai perutnya sehingga dia tersungkur.
“Dilla, apa yang kau lakukan” dia berdiri dari jatuhnya.
“itu untuk kebohongan yang kubuat selama ini Robert..”
“apa maksudmu??”

Kemudian pintu apartemennya ditendang dengan kasar oleh Lila sehingga terbuka.
“tetap disitu Tom, tidak ada cara untuk pergi” Lila sudah mengarahkan senjata nya ke Tom.
“ apa maksudmu Dilla??
“aku bukan wanita yang mudah kau bohongi Tom,aku tau siapa kau..”
Lalu aku dan Dhee mendekatinya, aku akan segera memborgolnya. Ya tangan kirinya ku borgol namun belum selsai aku memborgolnya. Tiba-tiba dia menarikku dan bersiap mencekikku dengan tangan kanannya yang memegang pisau lipat kecil.
“maafkan aku Dilla, aku mengikuti permainanmu, dan kalian jika temanmu ingin selamat letakkan senjata yang kalian punya. Atau dia akan mati” Tom ataupun Robert sudah berubah menjadi arogan.
Namun sebelum dia menyelesaikan perkataannya aku mengigit tangannya yang bersiap untuk mencekikku sehingga pisau ditangannya terlepas dan jatuh kelantai.
“Aww.. kau brengsek Dilla,. “
“Kauu, “ aku meraih tangan kanannya dan memborgolnya.
“ jangan pernah pergi jauh Robert,” aku tersenyum mengejek padanya”

Lalu Steve, Brad dan 3 orang teman kami lainnya langsung mendekat kearahku.
“Biar kami yang mengurusnya Sya..”
“Terima kasih, Brad” aku meninggalkan melepaskan Robert dan memberikannya kepada Brad dan Steve.
Aku mengambil tas dan ponselku dan kemudian keluar dari apartemen Robert. Sedangkan yang lainnya masih membereskan Robert dan menggeledah beberapa ruangan.
**** 
Kluar dari apartemen Robert aku, Lila dan Dhee langsung naik kemobil untuk segera bergabung dengan Lou, dan Zac serta tim mereka.Saat didalam mobil aku langsung mengganti gaunku dengan pakaian kerjaku, memakai rompi anti peluru dan mempersiapkan senjataku dengan baik.
“apa yang sudah kau lakukan dengannya Sya?? “ Lila bertanya padaku.
“tidak ada waktu untuk menjelaskannya sekarang La, berusahalah lebih cepat.. “
Lalu Lila mempercepat laju mobilnya karena jarak antara apartemen dan tempat penyergapan kedua agak jauh. Kulihat mobil Brad dan Steve sudah mengikuti kami dari belakang.

Sekitar setengah jam perjalanan kami sampai disebuah daerah pinggiran yang tempatnya tidak terlalu terpencil. Kami langsung bergabung dengan dengan team Lou..
“bagaimana keadaan didalam Lou??” tanya Dhee.
“masih terlihat lengang Dhee, beberapa kali terlihat orang keluar masuk kedalam rumah”
“baiklah kita serang sekarang Lou??”
“sebaiknya kita berbagi team, sebagian ada yang dari depan dan dari belakang” Zac menambahkan.
“baiklah “ aku mengangguk.

Lalu kami berbagi team, team Lou dan Brad dari depan sedangkan kami bertiga dan team Zac masuk melalui pintu belakang. Saat masuk kami langsung dihadang oleh beberapa orang yang sedang berjaga-jaga dipintu belakang. Tanpa diduga anggota mereka lumayan banyak. Mereka semua langsung menyerang kami, sebagian dari mereka tidak memiliki senjata seperti kami sebagian lagi langsung menembaki kami, namun karena kami memakai rompi anti peluru hanya suara berdesing yang terdengar. Beberapa diantara mereka sangat ahli dalam bela diri sehingga mereka terkadang langsung menyerang kearah kami. Pertarungan kami sangat lah sengit. Kami, fokus kepada musuh yang dihadapi. Sebagian dari mereka sudah berhasil kami kalahkan, namun sebagian lagi belum, dengan terpaksa kami menembak mereka.

Saat ditengah pertarungan kami, aku tidak melihat Dhee. Aku sedikit mendekat kearah Lila.
“La,, Dhee kmana?? Aku tidak melihatnya??”
Lila melirik kesamping sambil tetap fokus mempertahankan diri.
“Iya Sya, dia kemana??”
Aku mulai mengkhawatirkan Dhee, kemana dia?? Tidak biasanya dia menghilang dtengah penyergapan seperti ini.
“biar aku yang mencarinya La,.” Aku sedikit berteriak.
“ aku akan ikut Sya..”

Lalu aku dan Lila mulai memasuki setiap ruangan satu persatu, mencari Dhee. Dan akhirnya kami mencurigai sebuah kamar yang pintunya terkunci. Kulihat disana ada seorang laki-laki yang memakai seragam seperti kami. Namun aku belum mengenalnya..
“kau melihat Dhee??’ tanya Lila.
“Iya La, dia ada didalam...” jawab lelaki itu.
“ yasudah La kita dobrak saja” aku sudah tidak sabar untuk medobrak pintu itu.
“tidak ada jalan lain ayo kita lakukan bertiga”
Lila mengangguk setuju. Dengan satu aba-aba kami bertiga langsung menendang pintu kamar itu.
Hasilnya dengan sekali tendangan pintunya terbuka. Saat masuk, kulihat Dhee sudah terduduk lesu dengan mulut ditutup dan tangan dan kaki diikat. Ternyata Dhee disandera oleh ketua kelompok Stephanie. Kami bertiga langsung menyerang lelaki yang diduga bernama Matt itu. Dengan perlahan aku mendekati Dhee yang terduduk lesu dan membuka tutup mulutnya. Dhee kau baik-baik saja??” aku memanggilnya sambil fokus menyerang musuh.
“tidak setelah cairan itu masuk kedalam tubuhku Sya” aku melirik kelantai sebuah bekas suntikan. Cairan apa itu???
Lalu aku langsung memanggil lelaki anggota baru kami tadi. “maaf bisa aku minta tolong bawa Dhee kerumah sakit sekarang.. “ aku setengah memerintah padanya
“baiklah” katanya.
Lalu lelaki itu membantu Dhee melepaskan semua ikatan yang ada ditubuhnya. Setelah selesai mereka langsung mencari jalan keluar. Saat Dhee berdiri tubuhnya hampir saja jatuh. Lelaki tadi langsung menggendong Dhee, saat digendong tangan Dhee terkulai lemah dengan darah yang mengalir.
Ya Tuhan Dhee juga terluka.. “cepat bawa dia pergi dari sini” perintahku

Pertarungan kami sangat lah sengit sampai-sampai Lila harus berkejar kejaran smbil menembak Matt. Matt baru dapat dilumpuhkan saat sebuah peluru bersarang dikakinya. Sekitar satu jam pertempuran kami, tim dari kepolisian datang smbil membawa beberapa unit mobil tawanan. Karena mereka sangat banyak sekali. Saat polisi datang, mereka langsung mengepungnya. Sehingga tidak ada lagi celah untuk melarikan diri. Para anggota polisi itu langsung menangkap semua anggota dari kelompok Matt. Bahkan bisa dipastikan anggota mereka telah tertangkap semua. Tidak lupa penyisiran dibeberapa ruangan kami lakukan untuk mencari barang bukti. Ternyata benar kami menemukan hampir 100 paket obat-obatan terlarang yang siap dikirimkan besok pagi.

Setelah semua urusan sudah selesai, kami semua langsung menyusul Dhee kerumah sakit. Kami semua sangat mencemaskannya. Tadi Dhee dibawa oleh seorang agent yang baru pindah dari London, dan aku baru tahu kalau namanya Eric, aku menyuruh Eric untuk membawanya karena kondisinya yang sangat buruk, apalagi Dhee juga sempat diberikan obat bius dengan dosis sedang oleh Matt. Dan dia juga terluka dibagian bahu kirinya. Saat kami tanyakan keadaannya kepada dokter, katanya kondisinya memang sedikit drop shingga dia perlu dirawat selama tiga hari disini. Namun secara keseluruhannya tidak terlalu berbahaya.