Kamis, 10 Januari 2013

CHAPTER 2

“Ah, kalau begitu bagaimana jika kita berkenalan saja.“ ia mengulurkan tangannya padaku, “Namaku Kyle, kau siapa Nona cantik?“

“Bukan urusanmu.“

Aku langsung mengalihkan pandanganku dan mengacuhkan pria itu. Aku bisa mendengar suara Lou, Dhea dan Asya yang tertawa karena mendengarkan ucapanku.

Di tengah-tengah pertunjukan Dhea dan Asya memberitahu bahwa ada seseorang yang sangat mencurigakan membawa sebuah tas menuju ke ruangan yang akan di pergunakan untuk pesta setelah acara selesai nanti.

“Hey, Nona kau mau kemana? Acara belum selesai, kau terlihat panik. Ada apa?“

“Sudah ku bilang tak ada urusannya denganmu.“

Aku langsung pergi meninggalkan kursiku dan pria yang menyebalkan itu. Dhea dan Asya sedang menungguku di depan pintu.

“Kau kenapa? Wajahmu terlihat kusut, La?“

“Bukan saatnya bertanya hal yang tidak penting seperti itu Dhee. Mana orang yang mencurigakan itu?“

“Dia masuk ke dalam. Ayo kita masuk dan langsung berpencar untuk mencarinya.“

“Baiklah, Sya. Ayo kita masuk.“

Kami bertiga masuk ke dalam ruangan itu dan langsung berpencar. Akhirnya aku menemukan seorang pria yang baru saja selesai memasangkan sebuah bom.

“Jangan bergerak, atau aku akan menembak kepalamu.“ aku menodongkan pistol kepada orang tersebut.

“Terlambat Nona, karena bom waktu itu akan segera meledak. Sebaiknya kau segera keluar, sayang sekali jika gadis cantik sepertimu harus mati sia-sia.“

“Sialan, tutup mulutmu.“ bentakku, “Lou cepat kirim orang untuk membawa bajingan ini. Karena aku harus segera mematikan bom waktunya.“

“Steve dan Brad sebentar lagi sampai. Tahan di situ.“

Tak lama kemudian Steve dan Brad datang. Steve langsung memborgol pria misterius itu.

“Jadi apa yang harus kita lakukan?“ Asya bertanya dengan suara yang bergetar.

“Tentu saja kita harus mematikannya. Sudah tidak ada waktu lagi. Brad apa kau membawa tang?“

“Tentu saja. Ini, La.“ Brad memberikan tangnya padaku.

Setelah menerima tang itu aku langsung berjongkok di depan bom yang akan segera meledak dalam waktu beberapa menit lagi itu.

Aku menarik nafas dalam-dalam, dengan tangan yang gemetaran aku mulai memutus tiap kabel yang merangkai mengelilingi bom tersebut.

Waktu terasa begitu cepat, jika tidak cepat-cepat bom ini akan segera meledak. Ini bukan kali pertamanya aku menjinakan sebuah bom.

Aku harus sangat berhati-hati sekali dan memperhitungkan setiap langkah yang harus aku ambil. Dan aku semakin gugup saat kabel yang tersisa tinggal dua warna saja. Sedangkan waktu yang tersisa tinggal 10 detik lagi.

“Lila, ayo cepat. Kita tidak punya banyak waktu.“

“Jangan membuyarkan konsentrasiku, Sya.“

“Kau potong saja kabelnya.“

“Dhee, diamlah. Aku tahu apa yang harus aku lakukan.“

“Tapi waktu yang kita miliki tinggal beberapa detik lagi, La.“

“Kalian berdua, berhentilah mengganggu Lila. Percayakan saja padanya, Lila sudah sangat ahli menjinakan bom. Ayolah, ini kan bukan tugas pertama kalian.“

Setelah berpikir keras, akhirnya aku memutuskan untuk memotong kabel berwarna merah.
“Baiklah, aku akan segera memotongmu merah.“ Aku menutup mataku ketika melakukannya.

Kreeekkk... Aku mendengar suara kabel yang terputus. Selama beberapa detik aku terpaku dalam posisi seperti itu. Aku tersadar dan langsung membuka mata ketika kedua sahabatku tercinta memelukku dengan sangat erat.

“Kau berhasil Lila.“

“Hei, lepaskan tangan kalian. Bom ini harus segera di bawa keluar oleh Brad.“

“Kerja yang bagus seperti biasanya Lila. Aku akan segera membawa bom ini keluar.“

“Kami harus kembali ke kursi kami, Brad.“

Lalu kami semua pergi meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kursi masing-masing. Sedangkan Brad langsung menemui Lou di luar.

“Hai Nona, darimana saja? Kau terlihat agak kusut.“

“Sudah ku bilang itu bukan urusanmu.“

“Ya Tuhan, mengapa gadis secantik dirimu begitu galak sekali. Padahal aku sangat ingin mengenalmu.“

Aku memelototinya, lalu segera mengacuhkannya. Sampai tiba-tiba semua penerangan mati total. Aku bisa mendengar pria cerewet di sampingku mengumpat.

“Mengapa kau mengumpat seperti itu? Kau takut gelap ya, Tuan yang banyak sekali bicara.“

“Tidak aku tidak takut. Hanya saja perasaanku tidak enak. Aku merasa akan terjadi sesuatu di tempat ini.“

Tiba-tiba terdengar suara tembakan. Semua orang yang berada di situ langsung mejerit panik. Aku mendengar panggilan dari Dhea dan Asya. Namun ketika aku hendak pergi ada sebuah tangan yang mencengkram kuat pergelangan tanganku.

“Diam disini Nona, aku akan melindungimu.“ ia berbisik.

“Lepaskan tanganmu dari tanganku. Aku bisa menjaga diriku sendiri dan berhentilah memanggilku NONA.“

“Lalu aku harus memanggilmu apa? Kau tidak mau memberitahu namamu padaku.“

“Panggil aku ARA. Kyle dengar, aku harus segera pergi. Aku tidak bisa berdiam diri disini.“

“Aku khawatir padamu.“

“Aku akan baik-baik saj...“ Aku merasakan sesuatu yang panas dan lembab menyentuh bibirku. Bibir Kyle.

“Berhati-hatilah. Sampai berjumpa lagi Ara.“

Aku yang masih dalam keadaan syok atas kejadian yang baru saja terjadi langsung berdiri dan meninggalkan tempat Kyle.

Ya Tuhan, perasaan apa ini? Mengapa dadaku jadi bergemuruh tak beraturan seperti ini??

Aku tersadar oleh suara tembakan yang berada tak jauh dari tempatku berdiri. Aku langsung menyingkap gaunku dan langsung mengeluarkan pistol.

“Dhee, Asya, dimana posisi kalian?“

“Kami sedang berusaha mengevakuasi orang-orang keluar gedung. Kau berhati-hati di dalam, Steve dan Brad akan segera menyusulmu.“

Bagus sekali, mereka berdua meninggalkanku sendirian di dalam sini.

2 komentar:

  1. seru...seru...seruuuuu

    Kyle langsung nyosor aja tuh
    padahal gelap tapi tepat sasaran
    hahaha...

    Berpengalaman sekali Kyle
    ckckckck :Dv

    Dhee sma Asya gimana ya???
    *mikir keras

    Next chapter sist

    BalasHapus
  2. Banyak tanya ih Kyle, nyebelin bgt..
    Smpe asal nyosor dikegelapan itu, hebatnya sekali sosor tepat sasaran. Emg selalu bgitu :p

    Wow, bom nya bisa djinakkan.
    Good job sist..

    Asya sm Dhee kna sosor juga gak tuh :D


    Lanjut ya sist :*

    BalasHapus