Aku sudah siap dengan gaun malam indah yang membalut tubuhku. Malam ini aku akan menyusup ke pesta dan mendekati Butler. Aku berdandan secantik dan sesexy mungkin agar ia tertarik padaku. Dari artikel-artikel yang kubaca, Butler adalah seorang don juan. Ia sangat menyukai wanita-wanita sexy.
Gaun malam merah yang kupakai sekarang membuatku terlihat sexy dengan belahan dada rendah dan punggung yang terbuka hingga membuat Gale tidak henti-hentinya memintaku untuk menggantinya dengan gaun yang lain. Tentu saja aku menolaknya dan kami sempat berdebat hingga akhirnya ia menyerah.
Akhirnya aku tiba di tempat pesta. Setelah memperlihatkan undangan yang kubawa kepada penjaga, aku pun masuk ke dalam ruangan pesta. Tidak lama kemudian Gale menyusul masuk.
Entah pesta apa yang diadakan tapi sepertinya bukan hanya relasi bisnis Butler saja yang hadir tapi beberapa orang penting di negara ini juga hadir.
Sambil memegang gelas wine, aku mengedarkan pandanganku keseluruh ruangan dan mataku berhenti pada mata abu-abu yang akan selalu aku ingat sampai kapanpun. Aku mendapati Butler sedang menatapku. Tatapannya membuatku risih, matanya seakan ingin melahapku. Aku berpura-pura mengacuhkannya dan sepertinya umpanku berhasil, karena tidak memakan waktu lama akhirnya ia mendekatiku.
"Selamat malam, nona." Butler menyapaku dan aku pun berpura-pura kaget dengan kehadirannya.
Jantungku berdegup kencang, rasanya aku ingin sekali langsung menembakkan pistol ke kepalanya. Suara Gale melalui alat pendengar yang terpasang di anting yang kupakai membuatku lebih tenang dan aku pun membalas sapaannya.
"Selamat malam, Mr. Butler." Aku mengulurkan tanganku dan tersenyum semanis mungkin.
Ia meraih tanganku lalu menciumnya. "Senang kau bisa datang ke pestaku, nona…?."
"Elaina Reindhart, kau bisa memanggilku Lana."
"Lana, senang bertemu denganmu. Panggil aku Gerard."
Kami pun mulai berbincang-bincang dan sepanjang malam itu tidak sedetikpun Butler meninggalkanku. Sepertinya rencanaku untuk mendekatinya berjalan mulus.
Setelah pertemuan di pesta, Butler semakin gencar mendekatiku. Tampaknya ia tidak membuang waktu, ia sering menelepon dan mengajakku keluar sekedar untuk makan siang. Sebuah apartemen pun aku sewa untuk melengkapi penyamaranku. Aku tidak lagi datang ke markas. Tapi untuk keamanan, Gale dan yang lain secara bergantian selalu mengawasi tempat tinggalku.
****
Malam ini Butler mengundangku ke rumahnya untuk makan malam. Kesempatan yang sudah aku tunggu-tunggu sejak beberapa hari ini.
Rumah yang besar dan mewah dengan penjagaan yang super ketat langsung menyambutku ketika aku turun dari mobil. Seorang penjaga langsung mengantarku ke pintu masuk. Di dalam, seorang pria berwajah dingin menyambutku tapi ia memperlakukanku dengan sangat hormat. Tanpa banyak bicara ia memberi isyarat untuk mengikutinya.
Aku berjalan mengikutinya melintasi sebuah ruangan luas dengan perabotan mewah hingga kami berhenti di satu ruangan dengan pintu tertutup. Pria itu membuka pintu lalu mempersilahkanku masuk.
"Mr. Butler akan menemui anda sebentar lagi, nona Reindhart."
Aku mengangguk dan pria itu pun berlalu dari hadapanku.Setelah memastikan keadaan aman, aku mulai memasang alat penyadap dan kamera kecil yang kubawa ditempat strategis dan tersembunyi.
"Kalian melihat dan mendengarku?." Aku berbisik melalui alat yang terpasang dikalung yang kupakai.
"Yup, kami melihat dan mendengarmu, Dhee."
"Bagus La." Aku mengacungkan jempolku ke kamera.
"Sayang, berhati-hatilah."
"Tentu Gale. Aku akan berhati-hati. Sampai nanti."
Kemudian aku duduk disofa dan tidak lama kemudian pintu terbuka. Butler masuk dan langsung tersenyum melihatku.
"Lana, aku senang kau datang, sayang. Kau kelihatan sangat cantik. Maaf sudah membuatmu menunggu." Ia membungkuk lalu mencium tanganku.
"Terima kasih sudah mengundangku, Gerard."
"Aku senang kau menerimanya, Lana."
Kemudian Butler berjalan ke mini bar dan menuangkan sampanye ke dalam gelas lalu memberikannya padaku.Kami berbincang-bincang sebentar lalu Butler mengajakku keluar dan kami langsung menuju ruang makan.
Kami mulai menyantap hidangan yang sudah tersedia di meja. Ketika kami selesai makan, pria berwajah dingin tadi masuk, lalu berbisik kepada Butler dan keluar.
"Lana, maafkan aku. Ada tamu yang harus segera aku temui. Jadi aku harus meninggalkanmu sementara."
"Tidak masalah. Boleh aku memakai kamar mandimu?."
"Tentu saja, Lana."
Kami keluar dari ruang makan. Aku langsung menuju kamar mandi yang ditunjukkannya, sedangkan Butler masuk ke ruang tamu. Bagus gumamku dalam hati.
"Kalian mendengarku?."
"Iya, sayang. Kau dimana? Kau baik-baik saja?."
"Aku di kamar mandi. Aku baik-baik saja, sayang. Apa yang kalian lihat?."
"Butler dan empat orang tamunya. Mereka sedang membicarakan tentang pengiriman senjata ke Timur Tengah besok siang."
"Bagus, kalian awasi mereka. Aku akan masuk ke ruang kerjanya."
"Baik, Dhee. Berhati-hatilah."
Perlahan aku membuka pintu kamar mandi, terlihat dua orang bersenjata yang berjaga-jaga di dalam. Dengan mengendap-endap, aku menaiki tangga menuju lantai atas. Sepertinya aku tidak perlu bersusah payah mencarinya. Di lantai itu hanya ada satu ruangan kaca berukuran besar yang tertutup tirai.
Dengan hati-hati aku membuka pintu kaca dan menutupnya kembali. Sebuah kamar tidur menyatu dengan ruang kerja hanya dibatasi oleh pintu kaca dengan tirai yang memisahkan kedua ruangan itu.
Aku masuk ke ruangan kerja dan mulai mencari-cari informasi hingga akhirnya aku mendapatkan berkas sebuah rancangan senjata pembunuh masal dan sebuah dokumen. Dengan kamera kecil berbentuk pulpen, aku memotret berkas-berkas itu.
"Dhee, kau masih di ruang kerja Butler?. Segera keluar dari sana. Butler dan tamunya sudah keluar dari ruangan."
"Oke, Sya aku sudah selesai disini. Aku segera keluar."
Setelah memasukkan kamera ke dalam clutch, aku bergegas keluar dari ruang kerja. Sial, sepertinya Butler ada di luar kamar, aku mendengarnya berbicara di telepon.
"Bunuh ilmuwan itu dan keluarganya. Siapa saja yang berani melawan perintahku akan berakhir seperti keluarga Anderson." Suara Butler terdengar dingin dan kejam.
Ya Tuhan… Aku menutup mulutku ketika mendengarnya menyebut nama keluarga Anderson. Air mataku menetes mengingat kekejamannya dulu kepada Alana dan keluarganya.
"Sayang, ada apa? Kau menangis, kau kenapa?." Suara Gale terdengar sangat cemas.
"Memang benar Butler yang membunuh Alana dan orangtuanya, Gale." Aku berbisik pelan sambil terisak.
"Sayang, cepat keluar dari sana."
"Aku…aku masih ada di kamarnya. Aku akan segera keluar."
Suara langkah kaki yang mendekati pintu membuatku tanpa pikir panjang lagi langsung naik ke atas ranjang dan berpura-pura tidur.
Kemudian aku mendengar pintu kamar dibuka dan suara langkah kaki mendekati ranjang. Dadaku berdegup kencang ketika langkah kaki itu berhenti lalu seseorang duduk diranjang.
Aku langsung membuka mataku ketika nafas panasnya menyentuh wajahku.
"Gerard, kau mengejutkanku. Aku ketiduran rupanya."
"Kenapa kau ada disini, Lana?".
"Maafkan aku, Gerard. Tadi aku mencarimu. Tiba-tiba kepalaku sakit jadi aku putuskan untuk berbaring disini tapi ternyata aku malah ketiduran."
"Tidak apa-apa, sayang. Bagaimana kepalamu? Apa masih sakit?." Butler menyentuh keningku dan mengusapnya. "Tidurlah lagi, aku akan menemanimu, Lana." Butler menatapku lekat lalu wajahnya mendekat dan berusaha mencium bibirku. Dengan cepat aku mengecup pipinya lalu turun dari ranjang dan melangkah ke pintu.
"Kepalaku masih sedikit sakit dan aku tidak membawa obat, jadi sebaiknya aku pulang sekarang, Gerard."
"Kau bisa tidur disini. Aku ingin bersamamu malam ini, sayang." Butler mendekat dan menahan pintu yang akan kubuka hingga tubuhku terjepit diantara pintu dan tubuhnya. Aku bisa merasakan nafasnya yang panas ketika wajahnya mendekat. "Kau sangat cantik, Lana. Aku selalu memikirkanmu sejak pertemuan kita di pesta." Suaranya terdengar berat dan tatapan matanya menjadi liar.
"Gerard, aku harus pulang sekarang." Aku berusaha tenang walau dadaku berdegup kencang. Ya Tuhan, tolong aku. Apa yang harus aku lakukan.
"Tidak, sayang. Kau akan bersamaku malam ini." Tangannya mengelus punggungku yang terbuka. Ketika ia akan menciumku, tiba-tiba ponselnya berdering. Butler tidak menghiraukannya tapi ponsel itu terus saja berdering dan akhirnya dengan kesal ia pun mengangkatnya. Tampaknya telepon itu sangat menarik perhatiannya. Ketika dia lengah, aku segera membuka pintu dan keluar.
"Terima kasih untuk makan malamnya. Selamat malam, Gerard" kataku tergesa-gesa dan tanpa menunggu jawabannya, aku segera turun dan keluar dari rumah itu.
Gale langsung memelukku ketika aku baru melangkah masuk ke apartemen. Lila, Zac, Asya dan Mark juga ada disini.
"Aku senang kau sudah kembali, sayang." Gale terus menciumi wajahku dan memelukku erat.
"Jangan berlebihan, Gale. Aku tidak apa-apa."
"Kalau aku tidak menelepon laki-laki itu, kau mungkin belum keluar dari sana, sayang."
"Apa?? Jadi kau yang meneleponnya tadi, Gale?."
"Tentu saja, Dhee. Gale langsung meneleponnya ketika mendengar Butler menahanmu."
"Hhmm…kau sangat cerdik, sayang. Terima kasih." Aku mengecup pipinya.
Gale malah semakin mempererat pelukannya dan terus menciumi wajahku sampai aku harus mencubit perutnya untuk menghentikannya karena Zac, Lila, Asya dan Mark mulai tertawa geli melihat kami.
Sambil meringis, Gale menyusulku bergabung dengan mereka duduk di sofa untuk membahas hasil penyelidikan tadi dan akan melaporkannya kepada Lou besok sekaligus menyusun rencana penyergapan.
****
Sesuai infomasi yang berhasil kami dapat, hari ini Butler akan melakukan pengiriman senjata ke Timur Tengah. Kami telah sampai di gudang penyimpanan senjata yang berada disebuah gedung tua di pinggiran kota. Tempatnya sangat terpencil dan sepi.
Sambil bersembunyi disebuah gubuk tidak jauh dari gudang, Lou mulai memberi instruksi kepada kami.
"Baiklah, kalian semua siap?."
"Siap, Lou." Kami menjawab berbarengan.
"Zac, keluarkan senjatanya."
"Baik, Lou." Zac mengambil tas ransel yang dibawanya lalu menaruhnya diatas meja dan membukanya.
Sontak mata kami semua terbelalak melihat isi ransel yang dibuka oleh Zac. Bukan senjata melainkan berpak-pak pampers. Zac sendiri sangat terkejut melihat isi ransel yang dibawanya.
"Zac, kau ingin kami memakai pampers?" kata Gale menahan geli.
"Zac, apa ini? Aku menyuruhmu membawa senjata, bukan pampers."
"Ma-maaf Lou. Sepertinya aku salah bawa ransel. Pasti tertinggal di mobil" jawab Zac gugup dan wajahnya memerah.
"Bukan sepertinya lagi, Zac. Kau memang salah bawa ransel..hahaha…" Aku tidak dapat lagi menahan tawa dan kami pun tertawa geli melihat kegugupan Zac. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
Sambil bersungut-sungut, Zac keluar membawa ransel tersebut dan berjalan menuju mobil. Setelah beberapa menit, Zac kembali membawa ransel yang lain.
"Semoga kali ini benar senjata yang kau bawa, Zac bukannya pakaian Lila." Gale kembali menggoda Zac.
"Tentu saja ini senjata, Gale. Kau ingin bukti?". Zac langsung melemparkan sebuah pistol ke arah Gale tapi Gale mengelak sehingga pistol itu mengenai lengan Brad yang berdiri di sebelahnya.
"Aduuuhhh…. Kenapa kau melemparku, Zac." Brad meringis sambil mengelus-elus lengannya.
"Ma-maaf Brad, aku tidak sengaja." Wajah Zac kembali memerah lalu sambil bersungut-sungut ia menggaruk-garuk kepalanya. Kami kembali tertawa geli melihat tingkahnya.
"Sudah, sudah. Sebaiknya kita bersiap-siap sekarang." Lou menengahi kami yang masih tertawa melihat tingkah Zac.
Kami pun mulai mempersiapkan senjata masing-masing. Semua telah siap. Senjata, rompi anti peluru lengkap dengan alat komunikasi telah melekat di tubuh kami masing-masing.
Sebuah limo berhenti di depan gudang dan tampak beberapa orang turun dari mobil, mereka adalah orang-orang yang kemarin menemui Butler.
Kami mulai bergerak ketika melihat Butler tiba dan langsung masuk ke dalam gudang. Kami dibantu pihak kepolisian berpencar di beberapa titik, mengepung gudang tersebut.
Dua orang bersenjata yang menjaga pintu masuk gudang berhasil dilumpuhkan oleh Eric dan Steve. Kami pun mulai menyebar masuk ke gudang tanpa bersuara.
Di dalam, enam orang tampak sedang memasukkan senjata ke dalam peti. Tapi kami tidak melihat Butler. Kami bersembunyi di balik tumpukan peti.
"Eric, Steve, Brad kalian tangani orang-orang itu. Lakukan dengan cepat dan tanpa bersuara. Zac, Dhee, Gale dan aku akan naik ke atas. Sepertinya Butler dan tamu-tamunya berada di atas."
Setelah mendapat instruksi dari Lou, kami pun menyebar. Lou benar, Butler dan tamu-tamunya beserta anak buahnya terlihat di satu ruangan di lantai atas. Tak lama setelah Eric dan Steve bergabung, kami pun menyerbu masuk. Aku, Gale dan Steve masuk melalui pintu tepat dibelakang Butler. Lou, Zac dan Eric mendobrak pintu depan.
"CIA…angkat tangan…letakkan senjata kalian. Kalian sudah terkepung!!!."
Kami menodongkan senjata ke arah mereka yang tampak terkejut dengan kehadiran kami. Tapi sepertinya anak buah Butler tidak mau menyerah, mereka balik menodongkan senjata kepada kami.
"Suruh anak buahmu meletakkan senjata mereka, Butler atau aku akan menembak kepalamu." Aku menodongkan pistol ke kepalanya dan mengokangnya.
"La-Lana, kau…" Butler sangat terkejut melihatku.
"Terkejut melihatku, Gerard?" kataku sinis. "Kau tidak akan lolos kali ini. Suruh anak buahmu meletakkan senjatanya dan tendang kedepan."
Butler memberi isyarat kepada anak buahnya dan mereka pun meletakkan senjata di lantai lalu menendangnya.
Kami segera meringkus mereka, tapi Butler melarikan diri melalui pintu belakang setelah mendorong Steve dengan keras ke lantai. Aku langsung mengejarnya diikuti oleh Gale dan Zac. Di lorong, dua orang menghadang kami sehingga kami pun terlibat perkelahian.
Aku berhasil lolos dan kembali mengejar Butler hingga akhirnya ia terdesak disebuah tembok tinggi yang mengelilingi gedung.
"Menyerahlah, Butler. Kau tidak bisa kemana-mana sekarang." Aku menodongkan pistol ke arahnya.
"Lana, aku mencintaimu. Kau bisa ikut denganku. Aku akan membuatmu bahagia."
"Cinta?? Manusia sepertimu tidak punya cinta, Butler. Aku juga tidak sudi ikut dengan seorang pembunuh kejam sepertimu. Tapi kau benar, kau bisa membuatku bahagia jika aku menembakmu sekarang karena kau telah membunuh keluarga Anderson. Anak buahmu hampir membunuhku juga malam itu." Aku berteriak dengan emosi. Bayangan kekejamannya membunuh Alana membuatku kalap.
"Jadi kau yang ada disana, Lana."
"Ya, kau pasti sangat menyesal sekarang karena tidak terus mencari dan membunuhku. Karena aku yang akan membunuhmu sekarang." Aku sudah siap menembaknya ketika Gale dan Zac berlari mendekat ke arahku.
"Sayang, jangan lakukan itu. Kau bukan seorang pembunuh."
"Orang ini pantas mati. Entah sudah berapa banyak keluarga tak berdosa yang dibunuhnya."
Gale dan Zac terus mencoba menenangkanku dan ketika aku lengah, Butler kembali mencoba melarikan diri. Aku langsung menembak kakinya. Zac meringkus dan memborgolnya lalu membawanya pergi.
"Semua sudah berakhir, sayang. Ayo kita pulang." Gale memeluk bahuku.
Aku dan Gale berjalan berdampingan keluar dari gudang ketika tiba-tiba terdengar suara di belakang kami. Gale langsung mendorong tubuhku ke samping ketika bunyi letusan pistol terdengar. Tubuh kami terjatuh bersamaan lalu suara letusan kedua kembali terdengar, kali ini aku liat Eric mengarahkan senjatanya kepada orang yang menembak kami.
"Dhee, Gale kalian tidak apa-apa?." Suara teriakan Eric terdengar panik.
"Aku tidak apa-apa, Ric" Aku berteriak kepada Eric.
"Sayang, kau tidak apa-apa?." Aku menoleh ke arah Gale yang terbaring dibelakangku. Darah! Ya Tuhan, begitu banyak darah keluar dari lengan dan kepalanya.
"Galeeee!!!." Aku berteriak histeris melihatnya dan langsung memeluk tubuhnya yang tidak bergerak.
"Dheeeee!!!." Lou dan yang lainnya langsung berlarian ke arah kami.
"Ya Tuhan, Dhee. Gale tertembak." Lou langsung bersimpuh di sampingku.
Aku hanya bisa menangis memanggil namanya sambil memeluk tubuhnya sampai ambulan datang dan paramedis membawanya ke dalam ambulan. Ya Tuhan, aku mohon selamatkan kekasihku. Doa itu tidak henti-hentinya aku ucapkan diantara tangisanku.
"Dhee, tenanglah. Semoga Gale baik-baik saja." Steve yang menemaniku di dalam ambulan berusaha menenangkan dan menghiburku.
"Aku takut Steve. Aku tidak mau kehilangan dia." Akhirnya aku tidak bisa lagi menahan diri, aku pun menangis terisak.
Ambulan yang membawa kami pun tiba di rumah sakit. Paramedis segera membawa Gale ke dalam menuju ruang operasi. Tidak lama kemudian Lou dan Eric tiba, disusul Lila, Zac, Asya dan Mark. Lila dan Asya langsung duduk disampingku dan memelukku yang masih menangis. Dua jam kemudian, dokter keluar dari ruang operasi. Aku langsung menghampirinya diikuti yang lain. Dokter mengatakan peluru yang bersarang di lengan Gale sudah berhasil diangkat tapi benturan di kepalanya sangat parah dan itu yang membuatnya masih tidak sadarkan diri.
Setelah dipindahkan ke ruang perawatan, Gale masih belum sadar. Hari sudah malam dan keadaannya masih belum berubah. Aku tidak kuasa menahan air mataku melihatnya terbaring tak sadarkan diri seperti ini. Tak sedetikpun aku meninggalkannya, aku duduk disamping ranjang sambil menggenggam erat tangannya.
"Kau harus sadar, sayang. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku sangat mencintaimu." Aku berbisik ditelinganya dengan airmata yang terus mengalir.
"Dhee, jangan menangis terus. Sebaiknya kau pulang dulu. Istirahatlah dan kau juga belum makan."
"Tidak La. Bagaimana aku bisa makan kalau keadaan Gale seperti ini" jawabku lirih.
"Tapi kau tetap harus makan Dhee. Ayolah, kalau kau sakit bagaimana?."
"Pulanglah Dhee. Aku akan menjaga Gale disini. Ini sudah malam, kau bisa kembali besok pagi-pagi. Aku akan kabari kalau ada apa-apa."
"Terima kasih, Steve." Aku menjawab dengan lirih. Teman-temanku benar, sebaiknya aku pulang, tubuhku sudah sangat lemah dan bajuku penuh darah yang mengering. "Aku akan kembali besok pagi, sayang" kataku sambil mencium kening Gale. Rasanya berat sekali untuk meninggalkannya.
"Ayo Dhee, aku dan Lila akan mengantarmu ke apartemen."
"Baiklah, Zac."
Dalam perjalanan ke apartemen, aku merasa perutku seperti diaduk-aduk. Aku merasa sangat mual.
"Dhee, kau kenapa?." Lila menatapku cemas.
"Aku merasa sangat mual, La. Mungkin karena belum makan. Zac, tolong cepat...aku sudah tidak tahan."
Benar saja, sesampainya di apartemen, aku langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua. Setelah aku lebih tenang dan menyakinkan bahwa aku baik-baik saja, akhirnya Lila dan Zac pun pulang.
Sepeninggal Lila dan Zac, aku melangkah ke kamar mandi. Ketika aku membuka kemeja yang penuh darah, air mataku kembali mengalir. Aku terduduk lemas di bawah shower. Air yang mengalir langsung mengguyur kepala dan seluruh tubuhku menyatu dengan airmata yang terus membasahi pipiku.
Entah sudah berapa lama aku di kamar mandi, aku baru beranjak dari sana setelah tubuhku menggigil kedinginan. Aku mengambil kaos milik Gale dan memakainya lalu pergi ke dapur untuk membuat makanan. Baru sedikit makanan masuk ke mulutku, lagi-lagi aku merasa mual dan kembali memuntahkan semua di kamar mandi.
Malam semakin larut tapi aku tidak bisa tidur, tubuhku terasa lemas karena muntah terus menerus. Tubuhku rasanya tidak bertenaga. Aku tidak mungkin menelepon Asya atau Lila, ada Naima yang harus diurus Lila dan Asya juga sedang hamil. Aku hanya bisa menangis, aku merasa sendirian. Lalu aku mengambil fotoku dan Gale di meja samping tempat tidur. "Aku membutuhkanmu Gale." Bisikku terisak sambil memeluk bingkai foto itu.
Sinar matahari langsung menyambutku ketika aku membuka mata. Suara ketukan dipintu membuatku beranjak ke wastafel, tubuhku terasa lemas dan wajahku juga terlihat pucat. Setelah mencuci muka, aku keluar kamar dan membuka pintu.
"Eric…"
"Dhee, bagaimana keadaanmu? Aku menjemputmu untuk ke rumah sakit dan aku bawakan sarapan untukmu juga. Kau terlihat pucat. Kau sakit, Dhee?."
"Aku baik-baik saja, terima kasih, Eric. Seharusnya kau tidak perlu melakukan ini."
"Sudahlah, Dhee. Sebaiknya kau mandi sekarang lalu sarapan setelah itu kita pergi."
"Baiklah." Aku menuju ke kamar mandi dan aku kembali muntah-muntah. Ya Tuhan, apa yang terjadi pada diriku. Tubuhku semakin lemah tapi aku berusaha menguatkan diri. Aku tidak boleh sakit. Setelah selesai mandi dan berpakaian, aku kembali menemui Eric di ruang tamu.
"Aku sudah siap, Eric. Bisa kita pergi sekarang?."
"Dhee, kau yakin tidak apa-apa? Sebaiknya kau sarapan dulu." Eric menyodorkan makanan dan coklat panas yang dibawanya.
Aku mengambilnya dan dengan malas mengunyah makanan yang dibawanya. Bagaimana aku bisa makan dalam keadaan seperti ini. Perasaanku tak menentu, rasanya hatiku begitu kosong. Tanpa sadar air mata jatuh membasahi pipiku.
"Dhee, berhentilah menangis. Semua akan baik-baik saja." Eric menggenggam erat tanganku. "Kau tahu aku mencintaimu, tapi aku sadar cinta kalian berdua begitu besar. Dan sekarang, aku hanya ingin kau bahagia. Gale akan sembuh, Dhee. Cintamu yang begitu besar kepadanya yang akan membuatnya kuat dan bertahan."
"Terima kasih, Eric. Untuk semuanya."
"Sudahlah, Dhee. Kita berangkat sekarang?."
Aku mengangguk. Kami keluar apartemen dan langsung menuju rumah sakit. Di rumah sakit, keadaan Gale masih belum berubah. Steve masih berjaga bersama Brad. Ketika aku akan menghampiri ranjang, rasa mual itu kembali datang.
"Dhee, kau kenapa?."
"Aku tidak tahu, Eric. Dari semalam dan pagi ini aku seperti ini."
'Sebaiknya periksakan dirimu ke dokter, Dhee."
"Tidak usah, Steve. Mungkin karena aku telat makan kemarin…" Pandanganku tiba-tiba menjadi kabur, sekelilingku terasa berputar. Aku merasa Eric menangkap tubuhku lalu semua gelap.
Perlahan aku membuka mataku. Aku terbaring diranjang rumah sakit, kulihat Lila dan Asya duduk disisi ranjang.
"L-La… S-Sya…."
"Dhee, syukurlah kau sudah sadar."
"Aku kenapa La? Apa yang terjadi?."
"Kau pingsan tadi, Dhee. Menurut dokter kau sedang hamil satu minggu."
"A-aku hamil? Ya Tuhan…" Refleks aku mengelus perutku, airmataku menetes. Terima kasih, Tuhan. Kau memberiku kebahagiaan ditengah-tengah kesedihanku.
"Iya, Dhee. Kau hamil. Selamat ya." Lila dan Asya memelukku.
"Terima kasih, La…Sya. Tolong bantu aku, aku ingin menemui Gale."
Asya dan Lila lalu mengantarku ke ruangan tempat Gale dirawat. Aku duduk disamping ranjang dan mencium keningnya lama sambil menggenggam tangannya.
"Sayang, aku tahu kau mendengarku. Aku ingin kau tahu kalau aku sangat bersyukur telah bertemu denganmu dan menjadi kekasihmu. Aku sangat mencintaimu dan aku ingin hidup bersamamu selamanya bersama anak kita. Aku hamil, sayang." Aku berbisik ditelinganya dengan terisak. "Aku ingin menikah denganmu, Gale. Aku ingin menjadi istrimu. Demi Tuhan, kau harus sadar, untuk aku, untuk anak kita. Kami sangat membutuhkanmu."
Sambil menangis aku merebahkan kepalaku di dadanya. Aku memegang tangannya dan menaruhnya dipipiku.
"Aku merindukanmu, sayang. Sangat merindukanmu." Aku menciumi tangannya.
Selama beberapa menit aku dalam posisi seperti itu. Tiba-tiba aku merasakan jari-jarinya bergerak perlahan dipipiku yang basah. Aku menoleh dan melihat matanya terbuka perlahan. Terima kasih, Tuhan. Aku segera menekan bell di samping tempat tidur.
"H-hai…" Gale menyapaku dengan suara lemah.
"Hai…aku senang kau kembali, sayang." Aku mengecup keningnya.
"Jangan menangis, sayang. A-aku tidak apa-apa. Aku tidak mau melihatmu menangis" bisiknya sambil mengusap airmata dipipiku perlahan.
Tidak lama kemudian, Dokter dan suster masuk dan langsung memeriksanya. Dokter menyatakan Gale sudah melewati masa kritis dan akan segera pulih.
****
Selama dua minggu, Gale menjalani perawatan di rumah sakit hingga akhirnya diperbolehkan pulang. Kondisinya sudah pulih seperti semula. Kehamilanku berusia tiga minggu sekarang dan tentu saja Gale sangat bahagia ketika mengetahui kehamilanku, tidak henti-hentinya ia menciumi perutku.
Dan hari ini, Gale mengajakku pergi berlayar dengan yatch miliknya. Menjelang malam, kami tiba di pantai Malibu. Gale mengajakku makan malam di pinggir pantai. Sebuah meja dengan dua kursi lengkap dengan hiasan bunga segar di atas meja sudah tersedia di sana. Tidak lama setelah kami duduk, pelayan datang membawa minuman. Kami pun bersulang. Tidak lama kemudian, pelayan kembali datang membawakan hidangan makan malam. Kami pun mulai menyantap hidangan di atas meja.
Setelah selesai makan, Gale mengajakku berjalan-jalan di tepi pantai. Sambil berpelukan, kami berjalan menyusuri pantai hingga akhirnya sampai disebuah batu karang. Gale membantuku naik dan kami berdiri disana.
"Kau tidak apa-apa, sayang? Apa kau lelah? Bayi kita baik-baik saja?." Gale mengelus perutku dengan lembut.
"Aku tidak apa-apa, sayang. Kami baik-baik saja."
"Ada sesuatu untukmu, sayang" bisiknya. "Lihatlah." Gale menunjuk ke langit yang malam itu dipenuhi bintang-bintang.
"Bintang? Indah sekali, Gale. Aku suka suasana ini."
"Iya, sangat indah, sayang. Tapi bukan itu maksudku. Tunggu sebentar ya." Gale membalikkan badannya sambil mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang dan suaranya terdengar kesal. Setelah itu ia kembali berbalik ke arahku. "Sekarang lihatlah ke sana, sayang."
Aku melihat langit menjadi terang karena sinar kembang api yang sangat indah. Aku berdecak kagum melihatnya. Mataku membulat dan sontak menutup mulutku dengan kedua tangan ketika kembang api itu membentuk sebuah tulisan "DHEANDRA, WOULD YOU MARRY ME?". Ya Tuhan... Aku menoleh ke arah Gale yang sedang menatapku sambil memegang sebuah kotak berisi cincin.
"Would you marry me, Dheandra Ilana Puteri Reindhart?" bisiknya sambil tersenyum.
"Yes…yes…yes, I would Gale..." Aku menjerit dan langsung memeluknya. Kami pun berciuman dan berpelukan. Setelah aku melepaskan pelukanku, Gale memasangkan cincin indah itu di jari manisku lalu menciumnya.
"Terima kasih, aku sangat bahagia kau menerima lamaranku, sayang."
"Karena aku mencintaimu, Gale. Sangat…sangat mencintaimu."
"Aku juga sangat mencintaimu, sayang. Aku mencintai kalian berdua melebihi dari nyawaku sendiri. Kau dan bayi kita adalah hal terindah yang ada dalam hidupku. Kalian berdua membuat hidupku menjadi lebih lengkap dan berarti."
Gale mencium bibirku dengan lembut dan penuh kasih sayang. Kami berpelukan dan menikmati pertunjukan kembang api yang menambah keindahan malam ini.
Aku membenamkan diriku dipelukannya yang hangat. Aku yakin sekarang, bersama Gale lah aku ingin menghabiskan seluruh sisa hidupku...bersama pria yang aku cintai dan mencintaiku. Dan juga bersama seorang bayi yang saat ini tumbuh dirahimku.
****