Rabu, 13 November 2013

EPILOG

Hari Minggu yang indah di musim panas. Ketiga agen cantik ini sedang menghabiskan waktu liburan bersama suami dan anak-anak mereka.

Lila, Dhee dan Asya saat ini mereka bertiga sedang berada di kepulauan Belize. Berlibur bersama-sama seperti ini memang kerap kali mereka lakukan. Apalagi setelah menikah dan memiliki anak mereka bertiga jadi lebih banyak menghabiskan waktu sebagai ibu rumah tangga.

Awalnya sulit memang, karena mereka terbiasa dengan kesibukan dan pekerjaannya yang sebagai agen rahasia. Meskipun terkadang pekerjaan itu membuat mereka terluka. Tapi karena mereka cinta dengan pekerjaannya. Lila, Dhee dan Asya terkadang tidak mempedulikan keselamatan mereka masing-masing.

Barulah setelah mereka memiliki anak, Lila, Dhee dan Asya memutuskan untuk non aktif dari pekerjaan sebagai agen rahasia. Namun meskipun begitu mereka bertiga masih tetap terlibat dalam penanganan suatu kasus hanya saja tidak turun langsung di lapangan.

***

"Nikmatnya hidup." Dhee yang saat itu sedang berjemur di pinggir pantai bersama Asya dan Lila sambil mengawasi anak-anak yang sedang bermain bersama Gale, Zac dan Mark.

"Menjadi seorang ibu ternyata sangat menyenangkan sekali ternyata." Lila yang sedang asyik menyeruput minumannya ikut bersuara.

"Benar, sangat menyenangkan sekali. Melihat Kieran tumbuh itu sangat membahagiakan." Asya menybung.

Suasana pantai yang memang tidak terlalu ramai tiba-tiba saja menjadi gaduh. Beberapa pengunjung berlarian kesana kemari sambil berteriak. Bahkan terdengar suara letusan dari senjata api.

Kegaduhan itu langsung membangkitkan jiwa agen rahasia mereka. Karena mereka selalu membawa pistol revolver kesayangan mereka kemanapun.

"Ada yang tidak beres. Ayo kita berpencar, Asya kau bersama Dhee pergi melihat keadaan anak-anak." Lila langsung saja membagi tugas yang harus mereka lakukan, "Ah dan jangan lupa cari bantuan juga. Ada anak-anak dan Mark juga yang harus kita lindungi." Sambung Lila.

"Lalu kau sendiri mau kemana?" Asya bertanya sambil mempersiapkan senjatanya.

"Ketempat asal mula suara tembakan terjadi." Jawab Lila sambil memberikana kedua sahabatnya alat komunikasi.

"Sejak kapan kau membawa dan mempersiapkan semua ini, La?" Meskipun terheran-heran Dhee langsung memakai alat komunikasi yang di berikan oleh Lila.

"Setiap hari aku memeang selalu membawa alat-alat ini. Jangan tanya kenapa." Jelas Lila singkat.

Asya dan Dhee mengerti. Mereka tahu Lila seperti apa. Terkadang insting yang miliki Lila begitu tajam. Tentu saja kelebihan Lila itu tak jarang membuat mereka berhasil memecahkan berbagai macam kasus bahkan kasus yang besar dan berat sekalipun.

"Tetap informasikan keadaan, aku pergi." Lila langsung pamit setelah berkata seperti itu.

Mereka langsung menjalankan tugas masing-masing. Entah apa yang sebenarnya terjadi di pulau ini. Kebetulan sekali semua kekacauan ini terjadi ketika mereka sedang berlibur. Lila, Zac, Gale, Dhee, Mark dan Asya tidak akan sepanik ini jika anak-anak.mereka tidak berada di sini.

Karena Naima, Kieran dan Darrel ikut, otomatis konsetrasi dan fokus mereka semua menjadi terbagi-bagi. Setelah semua kekacauan mulai mereda Mark langsung mengamankan dan membawa anak-anak pergi ke tempat yang sudah di siapkan sebelumnya untuk jaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.

Kelima agen rahasia ini langsung di minta bantuannya untuk menangkap beberapa gembong narkoba yang merangkap juga menjadi teroris. Apalagi mereka sudah berani dan terang-terangan membuat kekacauan di tempat umum.

"Jadi apakah kalian sudah menemukan lokasi yang di jadikan markas oleh mereka di sini?" Tanya Gale kepada Opsir McLaren.

"Ya, kami mencurigai beberapa titik yang berpotensi di gunakan oleh mereka sebagai tempat persembunyian. Maaf, kami harus mengganggu waktu liburan kalian." Jelas Opris McLaren sambil meminta maaf.

"Tak perlu meminta maaf. Ini memang pekerjaan kami. Dimanapun berada kami memang harus selalu siap siaga." Timpal Zac yang masih belum bisa menghubungi Lila yang tak lain adalah istrinya.

"Masih belum bisa menghubungi Lila, Zac?" Tanya Dhee yang baru saja datang.

"Lila masih belum bisa di hubungi. GPS yang terpasang di alat komunikasinya tidak bisa terdeteksi oleh satelit." Jelas Zac dengan nada suara yang terdengar frustasi.

"Biar aku coba untuk melacaknya." Dhee langsung menuju kesalah satu komputer dan langsung melakukan pelacakan.

Tiba-tiba Gale bersama beberapa anggota kepolisian datang. Gale baru saja selesai melakukan pencarian ke tempat-tempat sekitar pantai. Selain itu Gale juga menemukan sesuatu di dekat hutan yang lokasinya tidak terlalu jauh dari area pantai.

"Apa kau menemukan sesuatu, Gale?" Zac langsung membombardir Gale dengan pertanyaan-pertanyaan.

"Ini..." Gale memberikan sebuah kalung kepada Zac, "Aku menemukan kalung itu di dalam hutan yang tak jauh dari pantai. Dan aku juga yakin bahwa kalung ini milik Lila." Mendengar penjelasan dari Gale wajah Zac langsung memucat.

Ia yakin sekali bahwa telah terjadi sesuatu dengan istri tercintanya. Zac terduduk lemas di atas kursi yang berada tak jauh darinya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah-olah sedang berusaha mengusir pikiran-pikiran buruk yang masuk dan mulai menguasai otaknya.

"Aku akan mencari Lila ke dalam ke dalam hutan." Ucap Zac tiba-tiba, ia juga sudah bangkit dari posisi duduknya.

"Saya akan menyiapkan beberapa orang untuk menemanimu melalukan pencarian. Setidaknya kau pasti membutuhkan seseorang yang mengenal seluk beluk hutan-hutan yang berada di sini." Usul Opsir McLaren.

Zac menyetujuinya, lagipula Zac tak ingin gegabah karena tindakannya yang sudah terpengaruhi oleh perasaan kalut karena saking khawatirnya akan mencelakakan nyawa istrinya.

Maka berangkatlah Zac bersama orang-orang yang telah di perintahkan oleh Opsir McLaren untuk menemaninya melakukan pencarian. Tentu saja mereka juga mempersenjatai diri mereka untuk berjaga-jaga.

***

Sementara itu jauh di kedalaman hutan yang sangat lebat. Lila tersadar dari pingsannya, kepalanya terasa berdentam-dentam dan sangat sakit sekali. Keadaan di sekitarnya remang-remang. Ia menyipitkan kedua matanya dan mulai bisa terbiasa dengan keadaan sekitarnya.

"Akhirnya kau sadar juga, sayang." Tubuh Lila langsung menegang mendengar suara yang berasal dari belakang tubuhnya. Tak lain dan tak bukan pemilik suara itu adalah Kyle. Ya, Lila sangat yakin sekali. Meskipun sudah bertahun-tahun Lila tak mungkin melupakannya begitu saja.

Kyle yang asalnya merupakan seorang pria baik-baik tiba-tiba saja berubah setelah mengetahui bahwa ayahnya ada seorang penjahat kelas kakap. Selain itu Kyle sangat terobsesi kepada Lila. Meskipun pada saat itu Lila sudah resmi berstatus menjadi istri dari Zac yang notabene adalah partner kerjanya. Tapi Kyle terus saja berusaha untuk mendapatkan wanita itu agar Lila berpisah dari Zac.

Bahkan Kyle sampai menculik bayi perempuan Lila yang waktu itu baru berusia dua bulan. Demi mendapatkan Lila Kyle rela karirnya sebagai seorang penyanyi hancur karena ia nekat menculik bayi Lila dan berakhir dengan ia yang harus mendekam di balik jeruji.

Namun sekarang Kyle sudah bebas. Dan setelah keluar dari tempat pesakitan Kyle sibuk mengawasi Lila dan menyiapkan berbagai rencana untuk membalaskan dendamnya kepada Lila. Apalagi sekarang ia tak sendiri ada ScarFace dan Buttler yang menjadi partnernya.

Karena mereka berdua sama seperti dirinya yang memiliki kepentingan dengan ketiga agen rahasia cantik itu. Mereka masing-masing memiliki dendam. Maka dari itu mereka bertiga bersatu untuk membalaskan dendamnya.

Melakukan berbagai kekacauan adalah salah satu cara mereka untuk memancing Lila, Dhee dan Asya keluar. Namun cara mereka tidak berhasil. Sampai akhirnya mereka mendapatkan kabar bahwa mereka semua sedang berlibur di Belize.

Itu artinya mereka jauh dari pengawasan Lou dan tentu saja sangat menguntungkan bagi Kyle, ScarFace dan Buttler. Hanya saja mereka tak menyangka  bahwa Lila membawa peralatan mata-matanya dan sempat memberikan perlawan kepada mereka.

"Kau, apalagi yang kau inginkan, Kyle?" Tegur Lila dengan datar.

"Aku kembali untuk membalaskan dendamku kepadamu. Tapi tenang saja sebentar lagi kedua temanmu juga akan segera menyusulmu. Ah, tidak tidak bukan hanya mereka tapi anak dan suamimu juga akan segera mati." Gumam Kyle yang di susul oleh suara tawanya.

Lila berniat untuk menghajar Kyle, namun tubuhnya terasa sangat lemah dan tak bisa di gerakan. Rupanya Kyle telah mengikat dan entah memasukan apa ke dalam tubuhnya, "Jangan sentuh anak dan suamiku, Kyle. Atau aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri." Desis Lila dengan mata yang berkilat marah.

"Kau takkan bisa melawanku, sayang. Akan aku pastikan kau menderita karena melihat orang-orang yang kau cintai satu-persatu mati di hadapanmu, sayang." Ancamnya sambil membelai wajah Lila. "Cepat bawa wanita ini. Pertunjukan akan segera di mulai." Perintah Kyle kepada seseorang.

Beberapa detik kemudian seorang pria yang bertubuh besar mulai menyeret tubuh Lila keluar dari ruangan itu. Erangan kesakitan yang keluar dari mulut Lila tak di hiraukannya. Pria itu ternyata lebih suka Lila kesakitan karena tubuhnya mulai lecet dan memar karena di seret seperti barang.

Setelah itu mereka sampai di sebuah tempat dan ada sebuah jurang yang terjal di situ. Kedua tangan Lila di ikita pada seutas tali yang terhubung dengan ranting yang terdapat pada sebuah pohon yang tumbuh menjutai ke jurang.

Lila berusaha meredan dan menekan kuat-kuat perasaan takutnya. Meskipun saat ini wajah Lila telah berubah menjadi pucat pasi.

"Bagaimana berada di ujung kematian, sayang? Andai saja kau mau bersamaku tentu kau akan bisa hidup lebih lama lagi, sayang." Ucap Kyle yang setengah berteriak dari pinggir jurang.

"Aku lebih baik mati daripada harus bersamamu, Kyle." Teriak Lila yang telah memberikan tatapan mematikannya kepada Kyle.

"As your wish my lady." Ejek Kyle sambil tertawa.

Tak lama kemudian Zac datang bersama teman-temannya. Tentu saja bersama sebagian pasukan yang sudah di sebar untuk mengepung tempat itu tanpa di ketahui oleh pihak musuh. Ia amat terkejut ketika melihat istrinya tergantung tak berdaya di ranting pohon yang terjuntai ke arah jurang.

Kreekk... Kreekk... bunyi sesuatu yang patah membuat Zac semakin takut. Ia harus segera menyelamatkan Lila atau Lila akan segera jatuh ke dalam jurang. Entah berapa lama lagi ranting pohon itu akan sanggup bertahan menahan tubuh Lila.

Tanpa banyak kata, mereka langsung baku hantam dengan para teroris itu. Dhee dan Asya terkejut melihat Buttler dan ScarFace ternyata berada di balik semua ini.

Buttler berhasil menyayat bagian perut Dhee dengan pisau yang di pegangnya sedangkan Asya terkena tembakan di bahunya. Sedangkan Zac berusaha melawan Kyle dan anak buahnya yang menghalangi usahanya untuk menyelamatkan Lila. Karena semakin lama suara patahan ranting semakin terdengar. Dan itu membuat Zac menjadi kalap dan membabi buta menyerang Kyle.

Di detik-detik terakhir untunglah Lou datang bersama Eric, Brad, Adam, Nico, Steve dan Olivia. Sehingga Zac bisa menyelamatkan Lila tetap ketika tubuh Lila mulai melayang jatuh menuju jurang.

Setelah pertempuran yang cukup sengit akhirnya komplotan Kyle, Buttler dan ScarFace berhasil di lumpuhkan. Dan untuk kali ini mereka bertiga di pastikan akan mendekam seumur hidup di dalam penjara.

Lila, Dhee dan Asya langsung di larikan ke rumah sakit karena luka-luka yang di alami oleh mereka bertiga.

***

Satu bulan setelah kejadian itu kehidupan mereka bertiga kembali normal. Namun meskipun begitu Gale, Mark dan Zac menempatkan penjagaan yang sangat ketat untuk anak dan istri mereka.

Ketiga pria tampan itu tak ingin kejadian di Belize beberapa waktu yang lalu terulang kembali.
Dan mereka semua akhirnya bisa hidup bahagia dengan damai, aman dan tentram bersama keluarga mereka masing-masing.

-FIN-

Jumat, 13 September 2013

CHAPTER 49

“Emmmm, kakiku sangat pegal. Sebenarnya seluruh tubuhku sangat pegal, tapi kakiku yang paling sakit. Maukah kau memijat kakiku?”

Wajah tampannya langsung terlihat agak kaget dan kesal. Namun ia tetap mau melakukan
permintaanku untuk memijat kakiku. “Baiklah sayang, aku akan melakukannya. Sebentar…”

Gale turun dari tempat tidur, melepaskan sepatu dan jas yang di pakainya. Lalu berjalan menuju ke meja rias dan mengambil sesuatu dari sana dan kembali ke atas tempat tidur.

Dengan perlahan Gale meraih kakiku dan melepaskan sepatu yang masih menempel dikedua kakiku. Lalu ia menuangkan sedikit minyak aroma terapi di kakiku dan mulai memijatnya dengan lembut.

Aku memperhatikan sambil menahan tawa. Karena ekspresi Gale sangat sangat lucu sekali. Aku tahu sekali bahwa ia sedang berusaha keras untuk menahan gairah yang sudah sangat meledak-ledak di dalam dirinya.

“Gale, agak ke atas sedikit. Mengapa kau terus-terusan memijat di tempat yang sama?” tanpa menjawab perkataanku Gale mulai menyingkap gaun pengantinku lebih ke atas.

Sentuhan tangannya mengirimkan getaran-getaran keseluruh tubuhku, sedangkan Gale mulai terdengar menggeram dengan suara yang berat.

Gale mulai terlihat frustasi, namun ia tetap berusaha menahan gairah yang saat ini sedang berkecamuk di dalam dirinya. Setelah sepuluh menit kakiku merasa jauh lebih baik daripada sebelumnya.

“Gale…” panggilku pelan.

“Ada apa, sayang?” jawabnya sambil masih memijat kakiku.

“Sudah cukup, hentikan pijatanmu. Kakiku sudah terasa jauh lebih baik, terima kasih.”

“Apa benar kakimu sudah tidak apa-apa?” tanyanya sambil menatap lekat mataku.

Aku mengangguk, “Sudah Gale, terima kasih.”

"Err bisakah sekarang kita melakukannya?" Tanyanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku, "Aku sudah tidak bisa menunggu lagi, sayang."

Semakin lama Gale mendekatkan wajahnya dan mulai mencium lembut bibirku. Sedangkan tangannya mulai membelai bagian belakang telinga dan tengkukku. Ciumannya semakin dalam, tapi aku berusaha keras agar tidak terbuai dalam sensai ini. Karena aku masih ingin mengerjainya. Sebenarnya aku tidak tega mengerjai Gale, tapi di lain sisi aku ingin sekali mengerjainya. Jangan-jangan ini adalah kemauan dari bayi yang sedang aku kandung ini. Mungkin dia ingin mengerjai Daddynya.

"Gale..." panggilku di sela-sela ciuman kami yang mulai memanas.

"Sabar sayang, aku baru mulai." Bisiknya dengan suara yang berat.

"Gale..." akhirnya aku menarik diri dari ciuman kami.

"Ada apa, sayang?" Tanyanya sambil mengernyitkan kening dan terlihat sangat kecewa sekali. Karena aku menghentikan kegiatannya, seperti seorang anak yang mainannya di rebut oleh anak lain.

"Aku lapar, Gale."

"Aku juga sama sayang, aku lapar akan dirimu."

"Aku serius Gale, aku ingin makan." Timpalku sambil mengerucutkan bibirku.

Gale menghembuskan nafas dengan frustasi, "Apa yang ingin kau makan, sayang? Aku akan membuatkannya untukmu."

"Aku ingin kau membelikanku lasagna dan chocolate smoothies di kafe favorit kita."

Gale membulatkan matanya menatapku, "Tapi jarak kafe itu dengan rumah ini jauh, sayang. Ini juga sudah malam."

"Kafe itu buka dua puluh empat jam, Gale. Pokoknya aku ingin makan itu, aku tidak mau tahu." Aku merajuk.

"Baiklah, aku akan membelikannya untukmu."

Gale berjalan ke kamar mandi, lalu beberapa saat kemudia ia keluar sudah dengan pakaian casualnya. Setelah pamit ia pun pergi untuk membeli makanan yang aku inginkan.

Sepeninggalan Gale aku memutuskan untuk membersihkan seluruh badanku yang sudah sangat lengket. Setelah mandi dan berpakaian tubuhku terasa jauh lebih segar. Sambil menunggu kedatangan Gale aku berbaring di atas tempat tidur sambil membaca sebuah buku. Namun rasa kantuk itu datang menyerangku. Dan aku sudah tak sanggup lagi membuka kedua mataku untuk lebih lama lagi. Akhirnya aku menyerah dan tertidur karena kelelahan.

***

GALE

Aku tak menyangka bahwa di malam pengantinku aku harus berkeliaran di malam hari untuk mencarikan makanan yang di minta oleh istriku tercinta. Ya, sebenarnya Dhee tidak sepenuhnya salah karena saat ini ia memang sedang mengandung anakku.

Andai saja Dhee tidak hamil saat ini aku pasti sedang melancarkan semua rencana untuk menikmati malam pengantin yang sudah aku rancang sejak lama. Tapi ternyata kesabaranku sedang di uji saat ini. Aku harus rela menahan semua hasrat yang sudah sejak lama menyala di tubuhku.

Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh lima menit akhirnya aku sampai di kafe yang biasa kami datangi. Aku langsung memesan makanan dan minuman yang di minta oleh Dhee. Setelah mendapatkan pesananku, aku langsung bergegas pulang.

Sesampainya di rumah aku langsung menata makanan dan minuman yang baru saja kubeli ke piring dan gelas. Setelah itu aku segera bergegas menuju ke kamar untuk segera memberikan makanan dan minuman ini untuk istriku tercinta.

Dengan bersemangat aku membuka pintu kamar. Namun tubuhku langsung lesu, karena aku mendapati istri cantiku sedang berbaring sambil menutup kedua matanya dengan nafas yang teratur.

Aku berjalan lemas menuju meja yang berada di depan sofa dan menyimpan nampan yang aku pegang. Lagi-lagi aku hanya bisa menghembuskan nafas untuk menghilangkan rasa kesal dan kecewa yang mulai menyesaki dadaku. Selama berjam-jam aku hanya memandangi nampan yang berada di hadapanku dan istriku yang sedang terlelap dengan begitu pulas. 

Aku memang merasa lelah namun mataku tetap tak bisa kupejamkan. Akhirnya aku memutuskan untuk memakan lasagna dan menghabiskan chocolate smoothies yang aku beli tadi. Hari ini benar-benar membuatku sangat kelaparan. Aku memakan lasagna itu dengan lahapnya, biarlah nanti aku membelinya lagi jika Dhee masih menginginkan lasagna dan chocolate smoothies ini. Dan setelah semuanya habis aku tertidur di atas sofa karena lelah secara lahir dan batin.

***

DHEE

Mataku terbuka dengan perlahan-lahan, aku berusaha menyesuaikan penglihatanku di ruangan ini. Ah, maksudku kamarku dan Gale di rumah baru kami. Aku mengedarkan pandanganku kesekeliling, tapi aku tak mendapati Gale di sampingku.

Lalu aku turun dari tempat tidur. Dan menemukam Gale sedang tertidur di atas sofa. Dan... Oh astaga ia menghabiskan semua lasagna dan chocolate smoothiesku. Aku langsung merasakan perasaan marah ketika mengetahui Gale memakan makananku itu.

Dengan gemas aku membangunkannya. Aku akan meminta Gale untuk membelikannya kembali. Dan ia harus mau.

"Gale... ayo bangun." Aku mengguncang-guncangkan tubuhnya. Tapi Gale tak bergeming. "Galeeeee, ayo bangun." Aku berteriak sambil mencubiti perutnya dan sesekali menggelitikinya hingga akhirnya Gale membuka matanya.

"Ya ya aku bangun, ada apa sayang? Kau tahu bahwa aku baru tidur selama satu jam saja. Biarkan aku tidur sebentar lagi." Ucapnya sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Aku berkacak pinggang sambil memandangnya sinis. Aku benar-benar sangat kesal sekali. Gale menghabiskan makananku, rasanya aku ingin menangis saja. Tapi tidak, aku tidak akan menangis. Aku akan memarahi Gale.

"Mengapa kau menghabiskan makananku?" Tegurku dengan suara yang terdengar dingin.

Namun Gale hanya mengernyitkan keningnya, "Makanan apa, sayang?"

Ya ampun Gale malah bertanya makanan apa? Argh, aku semakin kesal dengan kelakuannya pagi ini. Tanpa berkata-kata aku memutuskan untuk pergi ke kamae mandi sambil menghentak-hentakan kakiku. Biar saja ia heran kenapa aku bersikap seperti ini.

Aksi diamku masih terus berlanjut ketika kami sedang berada di dalam pesawat yang menuju ke Maldives. Aku memang sudah lama sekali ingin pergi ke Maldives, menikmati sinar matahari dan menggelapkan kulitku. Tapi saat ini aku masih kesal dengan Gale. Sangat sangat kesal.

"Sayang, sebenarnya kau kenapa? Aku perhatikan sejak tadi pagi kau menekuk terus wajah cantikmu itu." Aku hanya mendelikkan mataku lalu segera mengalihkan pandanganku keluar jendela pesawat.

Gale terlihat mengacak rambutnya dengan frustasi melihat sikapku yang masih saja mengacuhkannya. Aku bisa melihat dari ujung mataku bahwa Gale berkali-kali melirikku dengan sikap yang canggung dan serba salah.

Tiba-tiba Gale merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya, "Sayang, kumohon jangan seperti ini. Kumohon katakan kepadaku jika aku melakukan kesalahan kepadamu. Jangan diam seperti ini, kau benar-benar membuatku gila sayang."

Entah mengapa mendengar kata-katanya itu tiba-tiba saja aku menangis terisak di dalam pelukannya. Aku benar-benar tidak mengerti dengan perubahan suasana hatiku akhir-akhir ini. Tak jarang aku merajuk hanya karena masalah yang sangat kecil sekali.

"Sayang, jangan menangis."

"Aku kesal kepadamu, Gale..." ucapku di sela-sela isak tangisku, "Aku kesal karena kau menghabiskan lasagna dan chocolate smoothies milikku."

Mendengar ucapakanku itu Gale langsung menangkup wajahku dengan kedua tangannya yang besar itu, memaksaku untuk menatap wajahnya. "Jadi kau mengacuhkanku selama berjam-jam karena masalah itu, sayang?" Aku mengangguk lemah, "Astaga sayang, mengapa kau tidak mengatakannya. Jadi sebelum kita ke bandara kita bisa mampir dulu kesana."

"Ma-afkan aku, Gale." Isakku.

Gale langsung memelukku erat, "Maafkan aku sayang, seharusnya aku bisa lebih peka.  Apalagi saat ini kau sedang mengandung bayiku." Ungkapnya sambil mengecup puncak kepalaku berkali-kali.

***

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Akhirnya kami sampai juga di Maldives. Sebuah vila yang letaknya lebih menjorok ke arah laut menjadi pilihan kami. Vila ini cukup luas, di lengkapi dengan fasilitas yang canggih dengan furniture yang minimalis namun terlihat begitu elegan.

Bagian favoritku di vila ini adalah terasnya yang langsung menyajikan pemandangan laun yang sangat indah sekali. Ada sebuah sofa putih berukuran besar di sana. Tempat ini benar-benar indah sekali. Aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.

Sore itu aku sedang menikmati suasana sekitar yang benar-benar indah. Semburat jingga yang muncul menambah suasana di tempat ini menjadi romantis.

Tiba-tiba Gale memelukku dengan lembut dari belakang, "Apakah kau senang berada di sini, sayang?" Ucapnya tepat di telingaku.

"Aku sangat senang Gale, terima kasih. Tempatnya benar-benar sangat indah sekali." Ucapku sambil membalikkan tubuhku menghadapnya.

"Apapun akan aku lakukan untuk membahagiankanmu, sayang. Asalkan aku bisa melihat kau tersenyum. Aku sangat mencintaimu istriku."

"Aku lebih lebih mencintaimu suamiku." Lalu kami berdua berciuman dengan sangat lembut. Sama-sama ingin mengungkapkan dan menunjukkan apa yang sedangan kami rasakan saat ini.

Tuhan, terima kasih atas kebahagian yang tak terkira ini. Aku akan selalu berdoa agar semua ini tetap abadi hingga maut memisahkan kami berdua.

-The End-

CHAPTER 48

"Sayang, apa kau sudah siap?"

"Iya, aku sudah siap, Gale."

Hari ini hari pertamaku dan Gale mulai bekerja kembali setelah beberapa hari berada di Malibu untuk berlibur. Aku sudah tidak sabar ingin memberitahu kedua sahabatku Lila dan Asya tentang pertunangan kami.

Aku tersenyum ketika teringat momen saat Gale melamarku di pantai. "Kehadiranmu membuat Mommy dan Daddy bahagia, sayang. Karena kehadiranmu pula kau sudah merubah kekerasan hati Mommy." Bisikku sambil mengelus perutku yang masih rata perlahan.

"Sayang kau kenapa? Apa perutmu sakit?" Gale menghampiriku dengan wajah yang terlihat cemas.

"Aku tidak apa-apa, Gale. Kami berdua baik-baik saja." Aku tersenyum sambil mengelus pipinya, "Aku hanya merasa kehadiran bayi ini telah merubah segalanya. Selama ini aku selalu menghindar ketika kau ingin malamarku. Tapi sekarang, aku ingin segera menjadi Mrs. Harold."

"Itu akan segera terjadi, sayang. Kalau kau mau besok kita bisa menikah, bagaimana?" Gale meraih tubuhku merapat ke tubuhnya dan menatapku dengan tatapan penuh harap.

"Tidak secepat itu juga, sayang. Kita tetap pada rencana, tiga minggu lagi." Aku tertawa geli melihatnya, "Aku tetap akan menjadi istrimu, Gale." Lalu aku mengecup pipinya sekilas.

Gale menundukkan kepalanya sehingga kening kami saling menempel."Aku sudah tidak sabar untuk menjadikanmu milikku satu-satunya, sayang. Kau dan bayi kita. Kalian sangat berharga bagiku. Aku mencintai kalian berdua."

"Aku juga mencintaimu, Gale."

Dengan lembut Gale mencium bibirku. Aku melingkarkan kedua tanganku di lehernya dan membalas ciumannya lalu mengelus tengkuknya. Sehingga dengan cepat ciuman kami berubah menjadi panas. Lidahnya menerobos masuk ke dalam mulutku yang terbuka. Lidah kami saling bertautan dan mencecap rasa masing-masing.

Gale meremas pinggangku dengan lembut dan penuh gairah. Mengalirkan jutaan volt aliran listrik keseluruh tubuhku. Tangannya mengelus punggungku dan memelukku erat, sehingga tubuh kami semakin menempel. Sedangkan mulutnya masih mengeksplorasi bibirku. Nafasku terengah-engah begitu juga dengan Gale, ketika ciuman kami terlepas. Kening kami masih menempel ketika kami berusaha mengatur nafas.

"Sebaiknua kita segera berangkat, sayang. Atau kita akan sangat terlambat datang ke kantor." Bisiknya setelah nafas kami kembali normal.

"Aku akan bilang pada Lou kalau kau yang membuat kita terlambat." Kataku sambil tertawa dan membelai pipinya.

"Hei, aku juga akan mengatakan bahwa kaulah yang membuat aku jadi penyebab kita terlambat. Karena percintaan panas kita semalam. Bagaimana, sayang?" Jawabnya sambil menyeringai nakal.

"Itu pasti akan menjadi alasan terkonyol yang pernah Lou dengar. Kalau begitu kita harus pergi sekarang, sayang." Aku tertawa geli membayangkannya.

Sambil tertawa kami turun dan keluar apartemen. Gale membukakan pintu mobil dan sebelum aku masuk ia kembali mengecup bibirku sekilas. Rasa cinta dan sayang yang mendalam terpancar jelas dari mata dan perlakuannya kepadaku.

***

Di markas aku dan Gale langsung menemui kedua sahabatku Lila dan Asya. Mereka berdua sedang bersama Zac berkumpul di ruangan Lila.

"Hai Lila, Asya, Zac. Apa kami berdua boleh masuk?" Ucapku sambil mengintip dari balik pintu.

"Dhee, Gale... Tentu saja boleh, Dhee. Kau ini ada-ada saja." Lila menghampiri kami lalu memelukku erat, "Bagaimana kabar kalian berdua dan juga calon keponakanku ini?"

"Kami baik-baik saja, Lila." Aku menjawab pertanyaan Lila setelah pelukannya terlepas.

"Aku kira kalian berdua belum kembali dari liburan."

"Tadi malam kami baru sampai, Sya."

"Sepertinya kalian berdua membawa kabar bahagia." Zac menyipitkan matanya menatap kami berdua secara bergantian.

"Sok tahu kau, Zac." Jawab Gale sambil tertawa melihat tingkah Zac

"Yang benar, Gale? Wajah kalian terlihat semakin berseri-seri. Terutama kau Gale, tidak sepertu biasanya."

"Iya Zac, kau benar. Kalian tahu Dhee sudah menerima lamaranku." Gale tersenyum melingkarkan tangannua di bahuku.

"Wah, benarkah itu, Dhee?"

"Iya La, aku sudah menerima lamaran Gale." Kataku sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisku.

Lalu Asya dan Lila langsung memelukku.

"Selamat ya, untuk kalian berdua. Ini kabar yang kami tunggu-tunggu sejak lama."

"Terima kasih."

"Akhirnya kalian berdua bertungan juga, ya. Aku ikut bahagia."

"Iya, terima kasih Zac."

"Jadi kapan rencananya kalian akan menikah? Jangan lama-lama nanti perutmu semakin membesar, Dhee."

"Tiga minggu lagi, Sya."

"Wah sebentar lagu. Kalian pasti sangat sibuk sekali menyiapkannya. Kalau perlu bantuan kami katakan saja."

"Iya, kau jangan terlalu lelah, Dhee. Ingan kandunganmu."

"Aku mengerti, terima kasih untuk semuanya."

Dan sejak hari itu, aku dan Gale sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk persiapan pernikahan kami. Untung saja Lila, Asya, Mark dan Zac mau membantu kami mempersiapkannya. Gaun pengantin dan semua persiapan lainnya sudah siap semua. Karena tidak banyak orang yang kami undang, mengingat aku dan Gale adalah seorang secret agent.
Meskipun Gale masih tetap berprofesi sebagai seorang aktor.

Hari pernikahanpu tiba. Halaman belakang dari rumah yang sudah di beli Gale saat ini sudah berubah menjadi bernuansa serba putih. Banyak sekali bunga mawar putih dimana-mana, tempat ini di sulap menjadi tempat yang sangat indah sekali. Kedua sahabatku mengenakan gaun putih sebagai pengiringku. Aku sangat gugup sekali dengan semua ini. Namun orang-orang yang aku sayangi selalu mendukungku dan menguatkanku.

Papa mengiringiku berjalan menuju ke tempat Gale berdiri saat ini. Semua mata yang terfokus kepadaku membuatku semakin merasa gugup. Namun semua perasaan itu hilang ketika Papa menyerahkan tanganku kepada Gale. Gale tersenyum menggoda ketika aku sudah berada di dekatnya.

Dan upacara yang sakral itupun segera di laksanakan.

"When the day turns into light, I look into your eyes. I see my future now. All the world and its wonder. This love won't fade away and through the hardest days I'll never question us. You are the reason, my only reason." Ucap Gale dengan mantap sambil terus menatapku.

Lalu aku membalas ucapannya tersebut, "I am blessed of what I need in a world loosing hope. You're my only believe. You make things right everytime after time. I love you." Ketika aku selesai Gale langsung mencium bibirku dengan sangat lembut sekali. Para hadirin pun bertepuk tangan memberikan selamat kepada kami.

"Aku ingin menyanyikan sebuah lagu untuk kedua mempelai. Semoga kalian berdua dan para tamu undangan menyukainya. Selamat menikmati." Mark turun dari panggung dan bergegas menuju ke sebuah piano yang memang sengaja di persiapkan.

Mark mulai memainkam jari-jarinya dengan lihai di atas tuts piano. Musik yang romantis pun mulai mengalun dengan lembut.

"Nothing's impossible, nothing's unreachable, when am I weary. You make me stronger, this love is beautiful so unforgettable. I feel no winter cold when we're together, when we're together." Suara Mark yang merdu dengan alunan musik yang lembut membuatku ingin berdansa dan ternyata Gale tahu keinginanku. Dengan lembut Gale mengajakku berdansa  "Will you stand by me? Hold on and never let me go. Will you stand by  me? With you I know I belong. When the story gets told, when the days turns into the night I look into your eyes I see my future now. All the world and its wonder." Lirik yang sangat indah terus mengalun, membuat suasana menjadi sangat romantis sekali. Aku menatap wajah Gale yang tampan suamiku tercinta. "This love won't fade away and through the hardest days I'll never question us. You are the reason, my only reason. I am blessed of what I need in a world loosing hope. You're my only believe. You make things right everytime after time." Para tamu ikut berdansa mengikuti alunan musik. Dan ketika Mark mengakhiri lagunya semua tamu memberikan tepuk tangan yang meriah sekali.

"I love you with all of my heart amd all of my soul my beautiful wife." Bisik Gale lembut.

"And I love too my gorgeous husband, thanks for this greatest moment you've gave to me."

Lalu Galr kembali menciumku dengan sangat lembut. Namun ciumannya itu langsung berubah menjadi panas ketika lidahnya berusaha menelusup masuk ke dalam mulutku. Tangannya mulai meremaa pinggangku dengan lembut. Aku bisa merasakan nafasnya yang mulai terengah.

"Cepat masuk ke kamar saja kalian berdua. Disini masih banyak tamu." Suara Zac langsung menyadarkanku dan aku segera melepaskan pagutan bibir Gale.

"Hai, kalian rupanya." Sapaku dengan wajah yang memerah.

"Selamat ya Dhee, aku bahagia melihatmu akhirnya menikah juga dengan Gale." Asya memeluk sambil mengucapkan selamat kepadaku.

"Terima kasih, Sya. Ini semua berkat dorongan dari kalian."

"Bukan Dhee, semua ini berkat bayi yang sedang kau kandung saat ini."

"Kau benar, Sya." Aku menjawab sambil mengelus perutku.

"Kapan kalian akan pergi berbulan madu?" Lila yang sedang menggendong Naima menghampiriku.

"Sepertinya besok, La. Halo sayang, kau cantik sekali hari ini." Aku mencium pipi Naima yang tembem. Sangat menggemaskan sekali, "La, bolehkah aku menggendong Naima?"

"Tentu saja, tapi Naima sangat berat sekali seranga, Dhee. Hati-hati, ya." Ucap Lila sambil memberikan Naima kepadaku.

"Tentu saja aku akan berhati-hati, La."

Menggendong Naima membuatku ingin segera melahirkan bayi kami. Aku penasaran apakah bayi kami akan mirip aku atau Gale. Sangat menyenangkan sekali rasanya jika bisa melahirkan bayi yabg sehat seperti Naima.

Tak terasa pesta pun usai dan semua tamu undangan sudah pulang. Gale memutuskan untuk berangkat berbulan madu besok. Alasannya kareba dia tidak ibgin aku kelelahan karena harus menempuh perjalanan panjang setelah pesta pernikahan kami usai. Gale tidak ingin terjadi sesuatu denganku dan bayi kami.

Gale menggendongku memasuki kamar kami yang berada di lanrai dua. Sebuah kamar dengan ukuran yang sangat luas dengan sebuah tempat tidur berukuran king size di tengahnya. Dekorasi kamar ini sangat indah, hangat dan romantis. Dengan dominasinwarna broken white, ada sebuah TV plasma berukuran besar serta sofa melingkar dengan ukuran yang cukup besar berwarna coklat yang sangat empuk sekali. Secara keseluruhan aku sangat menyukai segala hal yang ada di rumah ini. Gale benar-benar tahu dengan pasti apa yang aku sukai.

Gale menurunkanku di atas tempat tidur dengan perlahan, lalu ia ikut berbaring di sampingku, tangannya langsung asyik mengelus-elus perutku.

"Gale..."

"Ada apa sayang?" Tanyanya sambil menatap lekat mataku.

"Ayo kita berjalan-jalan keliling rumah. Ini kali pertama aku menginjakkan kakiku di rumah ini."

"Tidak sekarang sayang, nantin saja. Setelah kita pulang berbulan madu kita bisa mengelilingi rumah ini sepuasnya."

"Ayolah... kumohon..." aku memasang wajah memelas.

"Tidak sayang, ini malam pertama kita," ucapnya sambil mendekat ke wajahku. Gale terlihat sangat bergairah sekali. Namun ketika bibirnya hampir menempel di bibirku...

"Gale..." sontak Gale langsung memberi jarak di antara wajah kami.

"Ada apa sayang?"

***

Kamis, 14 Maret 2013

CHAPTER 47

Aku sudah siap dengan gaun malam indah yang membalut tubuhku. Malam ini aku akan menyusup ke pesta dan mendekati Butler. Aku berdandan secantik dan sesexy mungkin agar ia tertarik padaku. Dari artikel-artikel yang kubaca, Butler adalah seorang don juan. Ia sangat menyukai wanita-wanita sexy.

Gaun malam merah yang kupakai sekarang membuatku terlihat sexy dengan belahan dada rendah dan punggung yang terbuka hingga membuat Gale tidak henti-hentinya memintaku untuk menggantinya dengan gaun yang lain. Tentu saja aku menolaknya dan kami sempat berdebat hingga akhirnya ia menyerah.

Akhirnya aku tiba di tempat pesta. Setelah memperlihatkan undangan yang kubawa kepada penjaga, aku pun masuk ke dalam ruangan pesta. Tidak lama kemudian Gale menyusul masuk.

Entah pesta apa yang diadakan tapi sepertinya bukan hanya relasi bisnis Butler saja yang hadir tapi beberapa orang penting di negara ini juga hadir.

Sambil memegang gelas wine, aku mengedarkan pandanganku keseluruh ruangan dan mataku berhenti pada mata abu-abu yang akan selalu aku ingat sampai kapanpun. Aku mendapati Butler sedang menatapku. Tatapannya membuatku risih, matanya seakan ingin melahapku. Aku berpura-pura mengacuhkannya dan sepertinya umpanku berhasil, karena tidak memakan waktu lama akhirnya ia mendekatiku.

"Selamat malam, nona." Butler menyapaku dan aku pun berpura-pura kaget dengan kehadirannya.

Jantungku berdegup kencang, rasanya aku ingin sekali langsung menembakkan pistol ke kepalanya. Suara Gale melalui alat pendengar yang terpasang di anting yang kupakai membuatku lebih tenang dan aku pun membalas sapaannya.

"Selamat malam, Mr. Butler." Aku mengulurkan tanganku dan tersenyum semanis mungkin.

Ia meraih tanganku lalu menciumnya. "Senang kau bisa datang ke pestaku, nona…?."

"Elaina Reindhart, kau bisa memanggilku Lana."

"Lana, senang bertemu denganmu. Panggil aku Gerard."

Kami pun mulai berbincang-bincang dan sepanjang malam itu tidak sedetikpun Butler meninggalkanku. Sepertinya rencanaku untuk mendekatinya berjalan mulus.

Setelah pertemuan di pesta, Butler semakin gencar mendekatiku. Tampaknya ia tidak membuang waktu, ia sering menelepon dan mengajakku keluar sekedar untuk makan siang. Sebuah apartemen pun aku sewa untuk melengkapi penyamaranku. Aku tidak lagi datang ke markas. Tapi untuk keamanan, Gale dan yang lain secara bergantian selalu mengawasi tempat tinggalku.

****

Malam ini Butler mengundangku ke rumahnya untuk makan malam. Kesempatan yang sudah aku tunggu-tunggu sejak beberapa hari ini.

Rumah yang besar dan mewah dengan penjagaan yang super ketat langsung menyambutku ketika aku turun dari mobil. Seorang penjaga langsung mengantarku ke pintu masuk. Di dalam, seorang pria berwajah dingin menyambutku tapi ia memperlakukanku dengan sangat hormat. Tanpa banyak bicara ia memberi isyarat untuk mengikutinya.

Aku berjalan mengikutinya melintasi sebuah ruangan luas dengan perabotan mewah hingga kami berhenti di satu ruangan dengan pintu tertutup. Pria itu membuka pintu lalu mempersilahkanku masuk.

"Mr. Butler akan menemui anda sebentar lagi, nona Reindhart."

Aku mengangguk dan pria itu pun berlalu dari hadapanku.Setelah memastikan keadaan aman, aku mulai memasang alat penyadap dan kamera kecil yang kubawa ditempat strategis dan tersembunyi.

"Kalian melihat dan mendengarku?." Aku berbisik melalui alat yang terpasang dikalung yang kupakai.

"Yup, kami melihat dan mendengarmu, Dhee."

"Bagus La." Aku mengacungkan jempolku ke kamera.

"Sayang, berhati-hatilah."

"Tentu Gale. Aku akan berhati-hati. Sampai nanti."

Kemudian aku duduk disofa dan tidak lama kemudian pintu terbuka. Butler masuk dan langsung tersenyum melihatku.

"Lana, aku senang kau datang, sayang. Kau kelihatan sangat cantik. Maaf sudah membuatmu menunggu." Ia membungkuk lalu mencium tanganku.

"Terima kasih sudah mengundangku, Gerard."

"Aku senang kau menerimanya, Lana."

Kemudian Butler berjalan ke mini bar dan menuangkan sampanye ke dalam gelas lalu memberikannya padaku.Kami berbincang-bincang sebentar lalu Butler mengajakku keluar dan kami langsung menuju ruang makan.

Kami mulai menyantap hidangan yang sudah tersedia di meja. Ketika kami selesai makan, pria berwajah dingin tadi masuk, lalu berbisik kepada Butler dan keluar.

"Lana, maafkan aku. Ada tamu yang harus segera aku temui. Jadi aku harus meninggalkanmu sementara."

"Tidak masalah. Boleh aku memakai kamar mandimu?."

"Tentu saja, Lana."

Kami keluar dari ruang makan. Aku langsung menuju kamar mandi yang ditunjukkannya, sedangkan Butler masuk ke ruang tamu. Bagus gumamku dalam hati.

"Kalian mendengarku?."

"Iya, sayang. Kau dimana? Kau baik-baik saja?."

"Aku di kamar mandi. Aku baik-baik saja, sayang. Apa yang kalian lihat?."

"Butler dan empat orang tamunya. Mereka sedang membicarakan tentang pengiriman senjata ke Timur Tengah besok siang."

"Bagus, kalian awasi mereka. Aku akan masuk ke ruang kerjanya."

"Baik, Dhee. Berhati-hatilah."

Perlahan aku membuka pintu kamar mandi, terlihat dua orang bersenjata yang berjaga-jaga di dalam. Dengan mengendap-endap, aku menaiki tangga menuju lantai atas. Sepertinya aku tidak perlu bersusah payah mencarinya. Di lantai itu hanya ada satu ruangan kaca berukuran besar yang tertutup tirai.
Dengan hati-hati aku membuka pintu kaca dan menutupnya kembali. Sebuah kamar tidur menyatu dengan ruang kerja hanya dibatasi oleh pintu kaca dengan tirai yang memisahkan kedua ruangan itu.

Aku masuk ke ruangan kerja dan mulai mencari-cari informasi hingga akhirnya aku mendapatkan berkas sebuah rancangan senjata pembunuh masal dan sebuah dokumen. Dengan kamera kecil berbentuk pulpen, aku memotret berkas-berkas itu.

"Dhee, kau masih di ruang kerja Butler?. Segera keluar dari sana. Butler dan tamunya sudah keluar dari ruangan."

"Oke, Sya aku sudah selesai disini. Aku segera keluar."

Setelah memasukkan kamera ke dalam clutch, aku bergegas keluar dari ruang kerja. Sial, sepertinya Butler ada di luar kamar, aku mendengarnya berbicara di telepon.

"Bunuh ilmuwan itu dan keluarganya. Siapa saja yang berani melawan perintahku akan berakhir seperti keluarga Anderson." Suara Butler terdengar dingin dan kejam.

Ya Tuhan… Aku menutup mulutku ketika mendengarnya menyebut nama keluarga Anderson. Air mataku menetes mengingat kekejamannya dulu kepada Alana dan keluarganya.

"Sayang, ada apa? Kau menangis, kau kenapa?." Suara Gale terdengar sangat cemas.

"Memang benar Butler yang membunuh Alana dan orangtuanya, Gale." Aku berbisik pelan sambil terisak.

"Sayang, cepat keluar dari sana."

"Aku…aku masih ada di kamarnya. Aku akan segera keluar."

Suara langkah kaki yang mendekati pintu membuatku tanpa pikir panjang lagi langsung naik ke atas ranjang dan berpura-pura tidur.

Kemudian aku mendengar pintu kamar dibuka dan suara langkah kaki mendekati ranjang. Dadaku berdegup kencang ketika langkah kaki itu berhenti lalu seseorang duduk diranjang.

Aku langsung membuka mataku ketika nafas panasnya menyentuh wajahku.

"Gerard, kau mengejutkanku. Aku ketiduran rupanya."

"Kenapa kau ada disini, Lana?".

"Maafkan aku, Gerard. Tadi aku mencarimu. Tiba-tiba kepalaku sakit jadi aku putuskan untuk berbaring disini tapi ternyata aku malah ketiduran."

"Tidak apa-apa, sayang. Bagaimana kepalamu? Apa masih sakit?." Butler menyentuh keningku dan mengusapnya. "Tidurlah lagi, aku akan menemanimu, Lana." Butler menatapku lekat lalu wajahnya mendekat dan berusaha mencium bibirku. Dengan cepat aku mengecup pipinya lalu turun dari ranjang dan melangkah ke pintu.

"Kepalaku masih sedikit sakit dan aku tidak membawa obat, jadi sebaiknya aku pulang sekarang, Gerard."

"Kau bisa tidur disini. Aku ingin bersamamu malam ini, sayang." Butler mendekat dan menahan pintu yang akan kubuka hingga tubuhku terjepit diantara pintu dan tubuhnya. Aku bisa merasakan nafasnya yang panas ketika wajahnya mendekat. "Kau sangat cantik, Lana. Aku selalu memikirkanmu sejak pertemuan kita di pesta." Suaranya terdengar berat dan tatapan matanya menjadi liar.

"Gerard, aku harus pulang sekarang." Aku berusaha tenang walau dadaku berdegup kencang. Ya Tuhan, tolong aku. Apa yang harus aku lakukan.

"Tidak, sayang. Kau akan bersamaku malam ini." Tangannya mengelus punggungku yang terbuka. Ketika ia akan menciumku, tiba-tiba ponselnya berdering. Butler tidak menghiraukannya tapi ponsel itu terus saja berdering dan akhirnya dengan kesal ia pun mengangkatnya. Tampaknya telepon itu sangat menarik perhatiannya. Ketika dia lengah, aku segera membuka pintu dan keluar.

"Terima kasih untuk makan malamnya. Selamat malam, Gerard" kataku tergesa-gesa dan tanpa menunggu jawabannya, aku segera turun dan keluar dari rumah itu.

Gale langsung memelukku ketika aku baru melangkah masuk ke apartemen. Lila, Zac, Asya dan Mark juga ada disini.

"Aku senang kau sudah kembali, sayang." Gale terus menciumi wajahku dan memelukku erat.

"Jangan berlebihan, Gale. Aku tidak apa-apa."

"Kalau aku tidak menelepon laki-laki itu, kau mungkin belum keluar dari sana, sayang."

"Apa?? Jadi kau yang meneleponnya tadi, Gale?."

"Tentu saja, Dhee. Gale langsung meneleponnya ketika mendengar Butler menahanmu."

"Hhmm…kau sangat cerdik, sayang. Terima kasih." Aku mengecup pipinya.

Gale malah semakin mempererat pelukannya dan terus menciumi wajahku sampai aku harus mencubit perutnya untuk menghentikannya karena Zac, Lila, Asya dan Mark mulai tertawa geli melihat kami.

Sambil meringis, Gale menyusulku bergabung dengan mereka duduk di sofa untuk membahas hasil penyelidikan tadi dan akan melaporkannya kepada Lou besok sekaligus menyusun rencana penyergapan.

****

Sesuai infomasi yang berhasil kami dapat, hari ini Butler akan melakukan pengiriman senjata ke Timur Tengah. Kami telah sampai di gudang penyimpanan senjata yang berada disebuah gedung tua di pinggiran kota. Tempatnya sangat terpencil dan sepi.

Sambil bersembunyi disebuah gubuk tidak jauh dari gudang, Lou mulai memberi instruksi kepada kami.

"Baiklah, kalian semua siap?."

"Siap, Lou." Kami menjawab berbarengan.

"Zac, keluarkan senjatanya."

"Baik, Lou." Zac mengambil tas ransel yang dibawanya lalu menaruhnya diatas meja dan membukanya.

Sontak mata kami semua terbelalak melihat isi ransel yang dibuka oleh Zac. Bukan senjata melainkan berpak-pak pampers. Zac sendiri sangat terkejut melihat isi ransel yang dibawanya.

"Zac, kau ingin kami memakai pampers?" kata Gale menahan geli.

"Zac, apa ini? Aku menyuruhmu membawa senjata, bukan pampers."

"Ma-maaf Lou. Sepertinya aku salah bawa ransel. Pasti tertinggal di mobil" jawab Zac gugup dan wajahnya memerah.

"Bukan sepertinya lagi, Zac. Kau memang salah bawa ransel..hahaha…" Aku tidak dapat lagi menahan tawa dan kami pun tertawa geli melihat kegugupan Zac. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus.

Sambil bersungut-sungut, Zac keluar membawa ransel tersebut dan berjalan menuju mobil. Setelah beberapa menit, Zac kembali membawa ransel yang lain.

"Semoga kali ini benar senjata yang kau bawa, Zac bukannya pakaian Lila." Gale kembali menggoda Zac.

"Tentu saja ini senjata, Gale. Kau ingin bukti?". Zac langsung melemparkan sebuah pistol ke arah Gale tapi Gale mengelak sehingga pistol itu mengenai lengan Brad yang berdiri di sebelahnya.

"Aduuuhhh…. Kenapa kau melemparku, Zac." Brad meringis sambil mengelus-elus lengannya.

"Ma-maaf Brad, aku tidak sengaja." Wajah Zac kembali memerah lalu sambil bersungut-sungut ia menggaruk-garuk kepalanya. Kami kembali tertawa geli melihat tingkahnya.

"Sudah, sudah. Sebaiknya kita bersiap-siap sekarang." Lou menengahi kami yang masih tertawa melihat tingkah Zac.

Kami pun mulai mempersiapkan senjata masing-masing. Semua telah siap. Senjata, rompi anti peluru lengkap dengan alat komunikasi telah melekat di tubuh kami masing-masing.

Sebuah limo berhenti di depan gudang dan tampak beberapa orang turun dari mobil, mereka adalah orang-orang yang kemarin menemui Butler.

Kami mulai bergerak ketika melihat Butler tiba dan langsung masuk ke dalam gudang. Kami dibantu pihak kepolisian berpencar di beberapa titik, mengepung gudang tersebut.

Dua orang bersenjata yang menjaga pintu masuk gudang berhasil dilumpuhkan oleh Eric dan Steve. Kami pun mulai menyebar masuk ke gudang tanpa bersuara.

Di dalam, enam orang tampak sedang memasukkan senjata ke dalam peti. Tapi kami tidak melihat Butler. Kami bersembunyi di balik tumpukan peti.

"Eric, Steve, Brad kalian tangani orang-orang itu. Lakukan dengan cepat dan tanpa bersuara. Zac, Dhee, Gale dan aku akan naik ke atas. Sepertinya Butler dan tamu-tamunya berada di atas."

Setelah mendapat instruksi dari Lou, kami pun menyebar. Lou benar, Butler dan tamu-tamunya beserta anak buahnya terlihat di satu ruangan di lantai atas. Tak lama setelah Eric dan Steve bergabung, kami pun menyerbu masuk. Aku, Gale dan Steve masuk melalui pintu tepat dibelakang Butler. Lou, Zac dan Eric mendobrak pintu depan.

"CIA…angkat tangan…letakkan senjata kalian. Kalian sudah terkepung!!!."

Kami menodongkan senjata ke arah mereka yang tampak terkejut dengan kehadiran kami. Tapi sepertinya anak buah Butler tidak mau menyerah, mereka balik menodongkan senjata kepada kami.

"Suruh anak buahmu meletakkan senjata mereka, Butler atau aku akan menembak kepalamu." Aku menodongkan pistol ke kepalanya dan mengokangnya.

"La-Lana, kau…" Butler sangat terkejut melihatku.

"Terkejut melihatku, Gerard?" kataku sinis. "Kau tidak akan lolos kali ini. Suruh anak buahmu meletakkan senjatanya dan tendang kedepan."

Butler memberi isyarat kepada anak buahnya dan mereka pun meletakkan senjata di lantai lalu menendangnya.

Kami segera meringkus mereka, tapi Butler melarikan diri melalui pintu belakang setelah mendorong Steve dengan keras ke lantai. Aku langsung mengejarnya diikuti oleh Gale dan Zac. Di lorong, dua orang menghadang kami sehingga kami pun terlibat perkelahian.

Aku berhasil lolos dan kembali mengejar Butler hingga akhirnya ia terdesak disebuah tembok tinggi yang mengelilingi gedung.

"Menyerahlah, Butler. Kau tidak bisa kemana-mana sekarang." Aku menodongkan pistol ke arahnya.

"Lana, aku mencintaimu. Kau bisa ikut denganku. Aku akan membuatmu bahagia."

"Cinta?? Manusia sepertimu tidak punya cinta, Butler. Aku juga tidak sudi ikut dengan seorang pembunuh kejam sepertimu. Tapi kau benar, kau bisa membuatku bahagia jika aku menembakmu sekarang karena kau telah membunuh keluarga Anderson. Anak buahmu hampir membunuhku juga malam itu." Aku berteriak dengan emosi. Bayangan kekejamannya membunuh Alana membuatku kalap.

"Jadi kau yang ada disana, Lana."

"Ya, kau pasti sangat menyesal sekarang karena tidak terus mencari dan membunuhku. Karena aku yang akan membunuhmu sekarang." Aku sudah siap menembaknya ketika Gale dan Zac berlari mendekat ke arahku.

"Sayang, jangan lakukan itu. Kau bukan seorang pembunuh."

"Orang ini pantas mati. Entah sudah berapa banyak keluarga tak berdosa yang dibunuhnya."

Gale dan Zac terus mencoba menenangkanku dan ketika aku lengah, Butler kembali mencoba melarikan diri. Aku langsung menembak kakinya. Zac meringkus dan memborgolnya lalu membawanya pergi.

"Semua sudah berakhir, sayang. Ayo kita pulang." Gale memeluk bahuku.

Aku dan Gale berjalan berdampingan keluar dari gudang ketika tiba-tiba terdengar suara di belakang kami. Gale langsung mendorong tubuhku ke samping ketika bunyi letusan pistol terdengar. Tubuh kami terjatuh bersamaan lalu suara letusan kedua kembali terdengar, kali ini aku liat Eric mengarahkan senjatanya kepada orang yang menembak kami.

"Dhee, Gale kalian tidak apa-apa?." Suara teriakan Eric terdengar panik.

"Aku tidak apa-apa, Ric" Aku berteriak kepada Eric.

"Sayang, kau tidak apa-apa?." Aku menoleh ke arah Gale yang terbaring dibelakangku. Darah! Ya Tuhan, begitu banyak darah keluar dari lengan dan kepalanya.

"Galeeee!!!." Aku berteriak histeris melihatnya dan langsung memeluk tubuhnya yang tidak bergerak.

"Dheeeee!!!." Lou dan yang lainnya langsung berlarian ke arah kami.

"Ya Tuhan, Dhee. Gale tertembak." Lou langsung bersimpuh di sampingku.

Aku hanya bisa menangis memanggil namanya sambil memeluk tubuhnya sampai ambulan datang dan paramedis membawanya ke dalam ambulan. Ya Tuhan, aku mohon selamatkan kekasihku. Doa itu tidak henti-hentinya aku ucapkan diantara tangisanku.

"Dhee, tenanglah. Semoga Gale baik-baik saja." Steve yang menemaniku di dalam ambulan berusaha menenangkan dan menghiburku.

"Aku takut Steve. Aku tidak mau kehilangan dia." Akhirnya aku tidak bisa lagi menahan diri, aku pun menangis terisak.

Ambulan yang membawa kami pun tiba di rumah sakit. Paramedis segera membawa Gale ke dalam menuju ruang operasi. Tidak lama kemudian Lou dan Eric tiba, disusul Lila, Zac, Asya dan Mark. Lila dan Asya langsung duduk disampingku dan memelukku  yang masih menangis. Dua jam kemudian, dokter keluar dari ruang operasi. Aku langsung menghampirinya diikuti yang lain. Dokter mengatakan peluru yang bersarang di lengan Gale sudah berhasil diangkat tapi benturan di kepalanya sangat parah dan itu yang membuatnya masih tidak sadarkan diri.

Setelah dipindahkan ke ruang perawatan, Gale masih belum sadar. Hari sudah malam dan keadaannya masih belum berubah. Aku tidak kuasa menahan air mataku melihatnya terbaring tak sadarkan diri seperti ini. Tak sedetikpun aku meninggalkannya, aku duduk disamping ranjang sambil menggenggam erat tangannya.

"Kau harus sadar, sayang. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku sangat mencintaimu." Aku berbisik ditelinganya dengan airmata yang terus mengalir.

"Dhee, jangan menangis terus. Sebaiknya kau pulang dulu. Istirahatlah dan kau juga belum makan."

"Tidak La. Bagaimana aku bisa makan kalau keadaan Gale seperti ini" jawabku lirih.

"Tapi kau tetap harus makan Dhee. Ayolah, kalau kau sakit bagaimana?."

"Pulanglah Dhee. Aku akan menjaga Gale disini. Ini sudah malam, kau bisa kembali besok pagi-pagi. Aku akan kabari kalau ada apa-apa."

"Terima kasih, Steve." Aku menjawab dengan lirih. Teman-temanku benar, sebaiknya aku pulang, tubuhku sudah sangat lemah dan bajuku penuh darah yang mengering. "Aku akan kembali besok pagi, sayang" kataku sambil mencium kening Gale. Rasanya berat sekali untuk meninggalkannya.

"Ayo Dhee, aku dan Lila akan mengantarmu ke apartemen."

"Baiklah, Zac."

Dalam perjalanan ke apartemen, aku merasa perutku seperti diaduk-aduk. Aku merasa sangat mual.

"Dhee, kau kenapa?." Lila menatapku cemas.

"Aku merasa sangat mual, La. Mungkin karena belum makan. Zac, tolong cepat...aku sudah tidak tahan."

Benar saja, sesampainya di apartemen, aku langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua. Setelah aku lebih tenang dan menyakinkan bahwa aku baik-baik saja, akhirnya Lila dan Zac pun pulang.

Sepeninggal Lila dan Zac, aku melangkah ke kamar mandi. Ketika aku membuka kemeja yang penuh darah, air mataku kembali mengalir. Aku terduduk lemas di bawah shower. Air yang mengalir langsung mengguyur kepala dan seluruh tubuhku menyatu dengan airmata yang terus membasahi pipiku. 

Entah sudah berapa lama aku di kamar mandi, aku baru beranjak dari sana setelah tubuhku menggigil kedinginan. Aku mengambil kaos milik Gale dan memakainya lalu pergi ke dapur untuk membuat makanan. Baru sedikit makanan masuk ke mulutku, lagi-lagi aku merasa mual dan kembali memuntahkan semua di kamar mandi.

Malam semakin larut tapi aku tidak bisa tidur, tubuhku terasa lemas karena muntah terus menerus. Tubuhku rasanya tidak bertenaga. Aku tidak mungkin menelepon Asya atau Lila, ada Naima yang harus diurus Lila dan Asya juga sedang hamil. Aku hanya bisa menangis, aku merasa sendirian. Lalu aku mengambil fotoku dan Gale di meja samping tempat tidur. "Aku membutuhkanmu Gale." Bisikku terisak sambil memeluk bingkai foto itu.

Sinar matahari langsung menyambutku ketika aku membuka mata. Suara ketukan dipintu membuatku beranjak ke wastafel, tubuhku terasa lemas dan wajahku juga terlihat pucat. Setelah mencuci muka, aku keluar kamar dan membuka pintu.

"Eric…"

"Dhee, bagaimana keadaanmu? Aku menjemputmu untuk ke rumah sakit dan aku bawakan sarapan untukmu juga. Kau terlihat pucat. Kau sakit, Dhee?."

"Aku baik-baik saja, terima kasih, Eric. Seharusnya kau tidak perlu melakukan ini."

"Sudahlah, Dhee. Sebaiknya kau mandi sekarang lalu sarapan setelah itu kita pergi."

"Baiklah." Aku menuju ke kamar mandi dan aku kembali muntah-muntah. Ya Tuhan, apa yang terjadi pada diriku. Tubuhku semakin lemah tapi aku berusaha menguatkan diri. Aku tidak boleh sakit. Setelah selesai mandi dan berpakaian, aku kembali menemui Eric di ruang tamu.

"Aku sudah siap, Eric. Bisa kita pergi sekarang?."

"Dhee, kau yakin tidak apa-apa? Sebaiknya kau sarapan dulu." Eric menyodorkan makanan dan coklat panas yang dibawanya.

Aku mengambilnya dan dengan malas mengunyah makanan yang dibawanya. Bagaimana aku bisa makan dalam keadaan seperti ini. Perasaanku tak menentu, rasanya hatiku begitu kosong. Tanpa sadar air mata jatuh membasahi pipiku.

"Dhee, berhentilah menangis. Semua akan baik-baik saja." Eric menggenggam erat tanganku. "Kau tahu aku mencintaimu, tapi aku sadar cinta kalian berdua begitu besar. Dan sekarang, aku hanya ingin kau bahagia. Gale akan sembuh, Dhee. Cintamu yang begitu besar kepadanya yang akan membuatnya kuat dan bertahan."

"Terima kasih, Eric. Untuk semuanya."

"Sudahlah, Dhee. Kita berangkat sekarang?."

Aku mengangguk. Kami keluar apartemen dan langsung menuju rumah sakit. Di rumah sakit, keadaan Gale masih belum berubah. Steve masih berjaga bersama Brad. Ketika aku akan menghampiri ranjang, rasa mual itu kembali datang.

"Dhee, kau kenapa?."

"Aku tidak tahu, Eric. Dari semalam dan pagi ini aku seperti ini."

'Sebaiknya periksakan dirimu ke dokter, Dhee."

"Tidak usah, Steve. Mungkin karena aku telat makan kemarin…" Pandanganku tiba-tiba menjadi kabur, sekelilingku terasa berputar. Aku merasa Eric menangkap tubuhku lalu semua gelap.

Perlahan aku membuka mataku. Aku terbaring diranjang rumah sakit, kulihat Lila dan Asya duduk disisi ranjang.

"L-La… S-Sya…."

"Dhee, syukurlah kau sudah sadar."

"Aku kenapa La? Apa yang terjadi?."

"Kau pingsan tadi, Dhee. Menurut dokter kau sedang hamil satu minggu."

"A-aku hamil? Ya Tuhan…" Refleks aku mengelus perutku, airmataku menetes. Terima kasih, Tuhan. Kau memberiku kebahagiaan ditengah-tengah kesedihanku.

"Iya, Dhee. Kau hamil. Selamat ya." Lila dan Asya memelukku.

"Terima kasih, La…Sya. Tolong bantu aku, aku ingin menemui Gale."

Asya dan Lila lalu mengantarku ke ruangan tempat Gale dirawat. Aku duduk disamping ranjang dan mencium keningnya lama sambil menggenggam tangannya.

"Sayang, aku tahu kau mendengarku. Aku ingin kau tahu kalau aku sangat bersyukur telah bertemu denganmu dan menjadi kekasihmu. Aku sangat mencintaimu dan aku ingin hidup bersamamu selamanya bersama anak kita. Aku hamil, sayang." Aku berbisik ditelinganya dengan terisak. "Aku ingin menikah denganmu, Gale. Aku ingin menjadi istrimu. Demi Tuhan, kau harus sadar, untuk aku, untuk anak kita. Kami sangat membutuhkanmu."

Sambil menangis aku merebahkan kepalaku di dadanya. Aku memegang tangannya dan menaruhnya dipipiku.

"Aku merindukanmu, sayang. Sangat merindukanmu." Aku menciumi tangannya.

Selama beberapa menit aku dalam posisi seperti itu. Tiba-tiba aku merasakan jari-jarinya bergerak perlahan dipipiku yang basah. Aku menoleh dan melihat matanya terbuka perlahan. Terima kasih, Tuhan. Aku segera menekan bell di samping tempat tidur.

"H-hai…" Gale menyapaku dengan suara lemah.

"Hai…aku senang kau kembali, sayang." Aku mengecup keningnya.

"Jangan menangis, sayang. A-aku tidak apa-apa. Aku tidak mau melihatmu menangis" bisiknya sambil mengusap airmata dipipiku perlahan.

Tidak lama kemudian, Dokter dan suster masuk dan langsung memeriksanya. Dokter menyatakan Gale sudah melewati masa kritis dan akan segera pulih.

****

Selama dua minggu, Gale menjalani perawatan di rumah sakit hingga akhirnya diperbolehkan pulang. Kondisinya sudah pulih seperti semula. Kehamilanku berusia tiga minggu sekarang dan tentu saja Gale sangat bahagia ketika mengetahui kehamilanku, tidak henti-hentinya ia menciumi perutku.

Dan hari ini, Gale mengajakku pergi berlayar dengan yatch miliknya. Menjelang malam, kami tiba di pantai Malibu. Gale mengajakku makan malam di pinggir pantai. Sebuah meja dengan dua kursi lengkap dengan hiasan bunga segar di atas meja sudah tersedia di sana. Tidak lama setelah kami duduk, pelayan datang membawa minuman. Kami pun bersulang. Tidak lama kemudian, pelayan kembali datang membawakan hidangan makan malam. Kami pun mulai menyantap hidangan di atas meja.

Setelah selesai makan, Gale mengajakku berjalan-jalan di tepi pantai. Sambil berpelukan, kami berjalan menyusuri pantai hingga akhirnya sampai disebuah batu karang. Gale membantuku naik dan kami berdiri disana.

"Kau tidak apa-apa, sayang? Apa kau lelah? Bayi kita baik-baik saja?." Gale mengelus perutku dengan lembut.

"Aku tidak apa-apa, sayang. Kami baik-baik saja."

"Ada sesuatu untukmu, sayang" bisiknya. "Lihatlah." Gale menunjuk ke langit yang malam itu dipenuhi bintang-bintang.

"Bintang? Indah sekali, Gale. Aku suka suasana ini."

"Iya, sangat indah, sayang.  Tapi bukan itu maksudku. Tunggu sebentar ya." Gale membalikkan badannya sambil mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang dan suaranya terdengar kesal. Setelah itu ia kembali berbalik ke arahku. "Sekarang lihatlah ke sana, sayang."

Aku melihat langit menjadi terang karena sinar kembang api yang sangat indah. Aku berdecak kagum melihatnya. Mataku membulat dan sontak menutup mulutku dengan kedua tangan ketika kembang api itu membentuk sebuah tulisan "DHEANDRA, WOULD YOU MARRY ME?". Ya Tuhan... Aku menoleh ke arah Gale yang sedang menatapku sambil memegang sebuah kotak berisi cincin.

"Would you marry me, Dheandra Ilana Puteri Reindhart?" bisiknya sambil tersenyum.

"Yes…yes…yes, I would Gale..." Aku menjerit dan langsung memeluknya. Kami pun berciuman dan berpelukan. Setelah aku melepaskan pelukanku, Gale memasangkan cincin indah itu di jari manisku lalu menciumnya.

"Terima kasih, aku sangat bahagia kau menerima lamaranku, sayang."

"Karena aku mencintaimu, Gale. Sangat…sangat mencintaimu."

"Aku juga sangat mencintaimu, sayang. Aku mencintai kalian berdua melebihi dari nyawaku sendiri. Kau dan bayi kita adalah hal terindah yang ada dalam hidupku. Kalian berdua membuat hidupku menjadi lebih lengkap dan berarti."

Gale mencium bibirku dengan lembut dan penuh kasih sayang. Kami berpelukan dan menikmati pertunjukan kembang api yang menambah keindahan malam ini.

Aku membenamkan diriku dipelukannya yang hangat. Aku yakin sekarang, bersama Gale lah aku ingin menghabiskan seluruh sisa hidupku...bersama pria yang aku cintai dan mencintaiku. Dan juga bersama seorang bayi yang saat ini tumbuh dirahimku.

****

Sabtu, 02 Maret 2013

CHAPTER 46

Aku terbangun dengan tubuh gemetar dan keringat membasahi seluruh tubuh. Mimpi buruk itu datang lagi membuat ingatanku melayang ke 15 tahun yang lalu saat berumur 8 tahun. Sebuah peristiwa yang nyaris merenggut nyawaku dan telah merenggut nyawa sahabatku Alana. Dan peristiwa itu juga yang telah merubah jalan hidupku.

Aku mengenal Alana ketika ia baru pindah ke lingkungan kami.  Rumah kami bersebelahan, saat itu kami berumur 8 tahun. Ayahnya seorang ilmuwan dan ibunya bekerja di sebuah bank. Kami menjadi akrab karena orang tua kami sama-sama sibuk. Orangtuaku berprofesi sebagai polisi. Itu yang aku tahu sampai akhirnya ketika umurku 15 tahun, Mama dan Papa mengatakan bahwa mereka adalah seorang secret agent. Mereka menyembunyikan identitas untuk melindungiku.

Aku sering menghabiskan waktu di rumah Alana, hanya ditemani seorang pengasuh yang bekerja di sana. Malam itu, aku masih berada di rumah Alana karena Mama dan Papa mengatakan ada pekerjaan yang harus diselesaikan sehingga mereka akan terlambat pulang. Setelah makan malam bersama kedua orangtuanya, aku dan Alana pergi tidur. Aku terbangun ketika mendengar kegaduhan di luar. Alana tidak ada di kamar, maka aku keluar kamar untuk mencarinya. 

Ketika akan menuruni tangga, aku melihat beberapa orang bersenjata di bawah. Aku langsung bersembunyi dan berusaha melihat apa yang terjadi. Disana Alana dan kedua orangtuanya duduk terikat di sofa dengan mulut di lakban.

Orang-orang itu menodongkan pistol ke arah mereka. Ada seorang pria tinggi besar yang berdiri diantara orang-orang bersenjata itu. Ketika pria itu mengangkat tangannya, mereka pun langsung menembak Alana dan kedua orangtuanya.

Aku terpekik dan gemetar melihatnya lalu langsung berlari ke kamar, bersembunyi di sebuah ruangan rahasia di kamar itu. Mereka mulai mencariku, menodongkan pistol kesana kemari. Bahkan ketika mendengar suara, mereka langsung menembak. Peluru-peluru itu hampir saja mengenai tubuhku. Aku diam dan gemetar tidak berani bersuara, sampai akhirnya suara sirine mobil polisi membuat mereka pergi.

Aku baru  keluar dari tempat persembunyianku setelah mendengar suara mama dan papa yang panik mencariku. Dan aku hanya bisa terpaku melihat polisi membawa tubuh sahabatku Alana yang sudah kaku dalam sebuah kantung.

Sejak kejadian itu, aku mengalami trauma yang hebat dan selama beberapa tahun aku berada dalam perawatan psikiater hingga akhirnya mama dan papa memutuskan untuk membawaku pindah ke New York.Kehidupanku pun kembali normal hingga dewasa hingga akhirnya aku memutuskan menjadi secret agent mengikuti jejak kedua orangtuaku.

Kepalaku berdenyut-denyut mengingat mata itu, mata abu-abu yang tidak akan pernah aku lupakan. Mata itu kembali hadir ketika aku melihatnya ditayangan TV tadi malam. Gerard Butler… ternyata orang itu yang telah membunuh sahabatku. Dari keterangan yang aku liat tadi, ia seorang pengusaha. Besok aku harus mencari info tentang orang itu, itu tekadku.

****

Semalaman aku tidak bisa tidur, kepalaku pun terasa sakit sekali ketika keesokan paginya aku bangun dan pergi ke markas.

"Pagi La, Sya." Aku menyapa kedua sahabatku ketika akan ke pantry. "Bagaimana kabar putri mungilmu, La? aku kangen sekali padanya."

"Pagi Dhee, Naima baik-baik saja. Mainlah ke rumahku kapan-kapan. Hei, kau kenapa? wajahmu pucat Dhee."

"Aku tidak apa-apa La. Aku hanya tidak bisa tidur semalam."

"Kau pasti bersama Gale ya sampai tidak bisa tidur, Dhee?."

"Aku tidak bersama siapa-siapa, tahu. Aku sendirian semalam, Sya."

"Maaf, Dhee. Aku hanya bercanda."

"Ah…maafkan aku membentakmu, Sya. Bagaimana kandunganmu? perutmu sudah semakin terlihat, Sya."

"Kandunganku baik-baik saja, Dhee. Sudah hampir tiga bulan usianya" kata Asya sambil mengelus-elus perutnya.

Aku tersenyum melihatnya. Aku sangat berbahagia untuk kedua sahabatku. Mereka telah menemukan kebahagiaan masing-masing. Seandainya Alana masih hidup…airmataku mengalir saat teringat sahabatku itu tapi aku buru-buru menghapusnya.

"Dhee, kau kenapa?."

"Tidak apa-apa, La. Aku hanya senang karena kalian telah menemukan kebahagiaan kalian."

"Ada yang kau sembunyikan dari kami, Dhee. Tidak biasanya seperti ini. Ayolah, ceritakan pada kami, Dhee."

"Nanti saja aku ceritakan, La. Sekarang aku mau ke pantry." Aku langsung menuju pantry meninggalkan Asya dan Lila yang saling berpandangan.

Aku duduk sambil meminum gelas kopiku yang kedua. Sentuhan pelan dibahu membuatku menoleh. Ternyata Gale, dia sudah berdiri disampingku sambil meremas bahuku lembut.

"Hai, sayang". Ia mencium keningku lalu duduk di sampingku. "Asya dan Lila bilang kau ada disini. Mereka sangat mengkhawatirkanmu. Kau sakit?."

"Tidak apa-apa, Gale. Aku sedikit sakit kepala saja."

"Seharusnya tidak usah masuk kalau kau sakit, sayang."

"Aku tidak sakit, Gale. Aku hanya tidak tidur semalam."

"Ada yang mengganggu pikiranmu? Ceritakan padaku, Dhee."

"Aku akan ceritakan nanti, Gale." Aku melirik jam ditanganku, sebentar lagi rapat dimulai. "Sebaiknya kita ke ruang rapat sekarang."

Lalu kami berjalan menuju ruang rapat. Disana sudah menunggu Lou dan para agent.

"Maaf, kami terlambat."

"Rapat belum di mulai, Dhee. Kau tidak apa-apa? Wajahmu kelihatan pucat."

"Aku tidak apa-apa, Lou." Aku langsung menarik kursi disebelah Lila dan duduk.

Rapat tentang evaluasi hasil kerja pun dimulai. Pikiranku melayang kesana kemari, aku sama sekali tidak bisa mencerna apa yang dikatakan Lou.

"Dhee, kau masih bersama kami?."

"Eh…I-iya Lou. Maaf." Dan semua mata di ruangan itu pun menatapku dengan heran karena tidak biasanya aku seperti ini.

Setelah dua jam, akhirnya rapat selesai. Lou serta agent lain sudah meninggalkan ruang rapat hanya tinggal aku, Gale, Lila, Zac dan Asya saja di ruangan ini. Aku bermaksud berdiri tapi tangan Lila menahanku.

"Ada apa La?."

"Dhee, ceritakan pada kami apa yang mengganggu pikiranmu."

"Nanti saja saat makan siang, La. Sekarang ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."

"Sayang, kau tidak sedang menghindar kan?."

"Tidak, Gale. Aku akan ceritakan semua nanti saat makan siang. Aku janji. Sebaiknya kita kembali kerja sekarang."

Tanpa menunggu jawaban mereka, aku langsung keluar dan menuju ruangan kerjaku. Tapi aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaan dihadapanku. Akhirnya aku membuka arsip 15 tahun yang lalu mengenai kasus pembunuhan keluarga Anderson tapi tidak banyak informasi yang bisa aku dapatkan.

Suara ketukan dipintu membuatku buru-buru menutup laptopku. Gale terlihat berjalan menghampiriku.

"Ada apa, Gale?."

"Sudah waktunya makan siang, sayang. Ayo, kita ke kantin. Aku tidak mau kau jatuh sakit."

"Baiklah."

Kami pun berjalan beriringan menuju kantin. Ternyata Asya, Lila dan Zac sudah berada di sana. Setelah mengambil makanan, aku dan Gale bergabung bersama mereka. Kami tidak banyak berbicara ketika makan, sepertinya mereka membiarkanku untuk makan terlebih dahulu. Setelah beberapa saat, aku menyingkirkan piring makananku yang masih tersisa. Rasanya aku tidak berselera makan.

"Kenapa tidak dihabiskan, sayang?. Makanmu sedikit sekali. Kau harus makan, kau bisa sakit kalau begini."

"Aku tidak berselera, Gale."

"Dhee, Gale benar. Kau harus makan."

Aku menggelengkan kepala mendengar ucapan Lila. "Maafkan aku, aku tahu kalian mengkhawatirkanku. Sekarang aku akan ceritakan pada kalian apa yang membuatku seperti ini."

Setelah menghela nafas, akhirnya aku ceritakan semua tentang masa laluku pada mereka. Raut terkejut terlihat jelas di wajah mereka ketika mendengarnya.

"Maafkan aku, sayang. Aku tidak tahu tentang hal ini." Gale meremas tanganku lembut seakan ingin memberi kekuatan padaku.

"Kau tidak pernah menceritakan tentang ini pada aku dan Lila, Dhee."

"Maaf Sya. Menceritakan semua ini kembali sangat berat untukku. Aku harus kembali mengingat kejadian dimasa lalu yang sangat ingin aku lupakan."

"Kami mengerti, Dhee."

"Jadi kau ingin membuka kembali kasus ini?."

"Iya, Zac. Aku tidak akan pernah bisa melupakan mata itu, mata orang yang telah membunuh kel. Anderson, membunuh sahabatku. Orang yang telah membuatku hidup dalam trauma selama bertahun-tahun saat aku masih sangat kecil. Sekarang aku sudah tahu siapa dia. Dan aku membutuhkan kalian untuk mencari informasi lebih detail tentangnya. Kalian mau membantuku, kan?."

"Tentu Dhee, kami pasti akan membantumu."

"Kau akan memberitahu Lou tentang hal ini kan?."

"Tentu saja, Gale. Aku memerlukan lebih banyak informasi dari bagian arsip dan aku harus meminta ijin pada Lou terlebih dahulu."

"Baiklah, kami mendukungmu, Dhee."

"Terima kasih."

Lima belas menit kemudian, kami meninggalkan kantin dan kembali ke meja kerja masing-masing. Hari itu juga setelah mendapat persetujuan dari Lou, aku dan Gale langsung menuju gudang arsip untuk mencari dokumen pembunuhan itu.

"Gale, aku menemukannya." Setelah membongkar cukup lama tumpukan file-file akhirnya aku berhasil menemukan dokumen itu.

Kami duduk dan membaca satu persatu lembar kertas itu dengan teliti. Tak terasa air mataku jatuh ketika melihat foto Alana dan kedua orangtuanya yang bersimbah darah. Hatiku terasa sakit sekali. Luka itu semakin terbuka lebar.

"Sayang, kau tidak apa-apa?." Gale merengkuh bahuku dan memelukku.

"Aku harus menangkap orang itu, Gale. Aku yakin Alana tidak akan tenang sebelum orang itu tertangkap begitu juga aku."

"Aku mengerti, sayang. Aku akan selalu ada untuk mendukungmu."

"Terima kasih, sayang."

Setelah aku lebih tenang, kami pun kembali membaca berkas-berkas itu.

"Dhee, kau bilang Mr. Anderson seorang ilmuwan?. Coba lihat apa yang aku temukan." Gale menyodorkan kertas yang dipegangnya. Aku lalu membaca bagian yang ditunjuknya.

"Mr. Anderson bekerja di perusahaan milik Gerard Butler. Pada saat terjadi pembunuhan itu ia sedang membuat suatu penemuan. Gale, Gerard Butler…orang itu memang terlibat dan ini pasti berhubungan dengan penemuan yang sedang dikerjakan Mr. Anderson."

Tiba-tiba ponselku berbunyi, Lila sudah mendapatkan informasi tentang Gerard Butler. Kami pun bergegas menuju ruang rapat karena Lila dan yang lain menunggu di sana.

"Dhee, coba kau lihat ini." Lila langsung menyodorkan laptop ke arahku. "Butler ternyata terlibat perdagangan senjata ilegal, Dhee."

"Apa?? Tapi kenapa ia masih bebas? kenapa tidak di tahan La?."

"Ia sangat lihai, Dhee. Ia selalu bisa terlepas dari hukuman karena tidak cukup bukti. Ia seperti tidak terjamah oleh hukum."

"Hmmm…kali ini tidak akan terjadi lagi Sya. Aku akan mendekatinya dan menyusup untuk mencari bukti."

"Tidak, sayang. Kau tidak akan melakukan itu."

"Gale, tidak ada cara lain untuk mendapatkan bukti kejahatannya. Aku harus mendekatinya."

"Tapi itu sangat berbahaya. Bagaimana kalau ia mengetahuinya?. Nyawamu bisa terancam, Dhee." Gale tampak gusar.

"Aku secret agent, Gale. Aku sudah biasa melakukan penyamaran dan aku akan berhati-hati, aku janji."

"Gale, sebaiknya kita percaya pada Dhee. Ini memang satu-satunya cara untuk bisa mendapatkan bukti."

"Oke…oke. Baiklah. Lalu bagaimana caramu menyusup ke sana?."

"Dhee bisa menyusup ke acara pesta yang akan diadakan 3 hari lagi." Tiba-tiba Lou masuk diikuti oleh Steve dan Brad.

"Pesta Lou?. Hmm…ide bagus. Aku bisa mendekatinya di pesta itu."

"Butler akan menggelar pesta disebuah hotel. Seluruh relasi bisnisnya akan hadir. Kami akan atur agar kau bisa menyusup sebagai perwakilan dari salah satu perusahaan relasinya, Dhee. Gale, aku tahu kau mengkhawatirkan Dhee. Kami akan menyusupkanmu juga jadi kau bisa mengawasinya dari dekat."

"Baik, Lou. Terima kasih."

****

Malam ini, aku dan Gale masih berada di markas untuk meretas masuk ke dalam komputer pribadi milik Butler. Siang tadi Lila dan Asya sudah berhasil masuk tapi belum berhasil membuka data-data yang terkunci. Aku memutuskan untuk mencobanya lagi malam ini. Sebelum menyusup aku harus mendapatkan lebih banyak informasi.

Butler memiliki perusahaan di beberapa negara. Tapi perusahaan yang sangat mencurigakan adalah perusahaan dimana ayah Alana pernah bekerja dan kami akan fokus pada perusahaan itu karena aku yakin pembunuhan itu berhubungan dengan penemuan yang saat itu sedang dikerjakan oleh Mr. Anderson.

Sudah berjam-jam aku dan Gale di depan komputer tapi masih belum berhasil menemukan kata kuncinya.

"Sebaiknya kita lanjutkan besok, sayang. Sudah malam, kau harus istirahat."

"Tidak, Gale. Aku harus menyelesaikannya malam ini juga."

"Kau sangat keras kepala, Dhee. Aku hanya tidak ingin kau sakit" gerutunya sambil menyandarkan tubuh ke kursi dengan gusar.

Aku tersenyum geli melihatnya. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, sayang." Lalu aku mengecup pipinya sekilas.

"Ya sudah, aku akan buatkan kopi untuk kita." Gale berdiri lalu keluar menuju pantry.

Sepeninggal Gale, aku memijat keningku yang terasa sakit tapi aku tidak mau berhenti, aku harus mendapatkan kata kuncinya.

"Minumlah, kau kelihatan kacau." Gale menyodorkan kopi yang dibawanya.

"Terima kasih, sayang" kataku lalu meminum kopi yang dibawanya.

"Rileks saja dulu. Sepertinya kau memerlukan pijatan." Gale menarik bahuku pelan hingga bersandar dan tangannya mulai memijat bahuku.

"Rasanya enak sekali, sayang." Aku memejamkan mata menikmati pijatannya.

"SEXY BITCHES." Tiba-tiba Gale bergumam.

Mataku hampir melompat keluar mendengar Gale mengatakan itu. "Apaaa?. Apa maksudmu, Gale?." Aku langsung berteriak dan melotot kearahnya.

"Maaf, sayang. Aku hanya sedang membaca judul artikel tentang Butler. Maafkan aku." Gale menunjukkan artikel yang dibacanya. "Kau sudah mencobanya?."

"Kau pikir ia memakai kata 'sexy bitches' untuk kata kuncinya?."

"Tidak ada salahnya mencoba, kan?. Ia selalu menggunakan kata itu untuk wanita-wanita yang mendekatinya."

Walaupun aku ragu tapi tidak ada salahnya mencoba. Akhirnya, aku memasukkannya sebagai kata kunci. Dan…BINGGO berhasil.

"Haaa…kau benar Gale." Aku berteriak dan langsung memeluknya.

"Ia benar-benar laki-laki berengsek. Kau harus berhati-hati padanya, sayang."

"Tentu, sayang. Kau tidak perlu khawatir."

Aku segera mengcopy semua data-data tentang penemuan yang sedang dikerjakan Mr. Anderson tersebut ke dalam USB. Tampaknya Mr. Anderson berseberangan dengan Butler hingga ia dibunuh. Setelah selesai, aku dan Gale kembali ke apartemen. Hari ini sangat melelahkan hingga akhirnya kami langsung terlelap ketika kepala kami menyentuh bantal.

****

Jumat, 01 Maret 2013

CHAPTER 45


Aku tertegun sejenak, rasa kantuk yang tadi menyerangku mendadak hilang saat mendengar berita tentang hilangnya Naima. Aku langsung kembali keruanganku mengambil tas dan persenjataanku, setelah aku memberitahukan kepada Dhee, Gale, dan yang lain aku langsung pergi kerumah Lila.

Hanya butuh waktu 10 menit untuk menembus jalanan menuju kerumah Lila. Sesampainya disana aku langsung mencari Lila. Kulihat Lila sedang mondar mandir gelisah sambil memegang ponselnya.
“La, kau sudah memeriksa semua pintu dan jendela?? Apakah ada tanda-tanda yang mencurigakan??”
“Aku sudah memeriksanya Sya, jendela kamarnya rusak. Terlihat seperti dibuka paksa” jelas Lila.
“Sebaiknya kita telusuri melalui jendela itu, karena tidak mungkin penculiknya membawa pergi Naima dari pintu depan”

Lalu aku dan Lila memeriksa lagi bagian samping kamar Naima dari luar. Aku terus berjalan, hingga aku melihat sebuah pintu yang terletak tidak begitu jauh dari bangunan rumah Lila.
“La, itu pintu kemana??” aku menunjuk kearah pintu itu.
“Setelah pintu itu, ada taman kecil dan setelah itu disamping bangunan rumah ada hutan yang tidak terlalu lebat”

Kami mendekati pintu itu, aku langsung mendapati kalau kuncinya juga telah dirusak.
“La, ini berarti penculiknya lewat dari sini, ayo kita mulai mencari dari sini. Mungkin penculiknya masih ada disekitar sini”
“Iya, Sya..”

Kami berdua mulai menyusuri halaman, hingga taman yang masih ada dibelakang rumah Lila sambil tetap siaga dengan senjata kami, kalau saja ada yang mencurigakan. Saat kami akan memasuki hutan Dhee, Gale, Lou, Olivia, Steve dan Brad datang. Kami membagi menjadi beberapa kelompok agar pencarian lebih cepat dan mulai menyebar kebeberapa titik melakukan pencarian.


Sekitar hampir satu jam kami menyusuri hutan yang disamping rumah Lila, tiba-tiba Brad menelponku kalau dia dan Steve menemukan sebuah pondok yang berada ditengah hutan itu. Menurut mereka dari kejauhan sepertinya ada hal yang mencurigakan. Mendengar informasi itu aku langsung memberitahukan dengan yang lainnya dan kami segera mendekat kepondok itu.

Kami sudah mendekati pondok itu perlahan sambil tetap memperhatikannya. Dari sana terdengar suara bayi menangis.
“Itu Naima..” Lila langsung bergerak untuk masuk kedalam pondok itu.
“La, kita harus menunggu beberapa saat dulu. Kita tidak tahu siapa yang ada didalam itu. Aku takut kalau kita langsung masuk akan membuat penculik itu melukai Naima.” Jelas Lou.
“Lou, benar La.. kau harus bersabar sebentar. Lagi pula Brad dan Steve mulai menyusup masuk. Kita akan segera masuk jika mereka telah memberikan aba-aba.” Aku berusaha menenangkan Lila.

Saat suasana sedang tegang menunggu isyarat dari Brad dan Steve. Tiba-tiba terdengar seseorang yang mendekat kearah kami dengan tergesa-gesa. Kami yang terkejut langsung mengambil posisi bertahan, jika saja itu musuh yang akan menyerang kami.
“Maaf aku terlambat sayang” ternyata itu Zac yang baru saja datang.
“Kau membuat kami kaget Zac, untung saja aku tidak menembakmu” jawabku sambil memasukkan kembali senjataku.
“Maaf aku sangat panik, ketika Gale mengabari Eric tadi”
Melihat Zac yang datang Lila langsung memeluk suaminya. Beberapa saat Lila menangis sambil       menceritakan kronologi hilangnya Naima. Zac mengangguk sambil menenangkan Lila.

Tak berapa lama kemudian Steve memberikan isyarat supaya kami segera mendekat. Kami mendekat perlahan, menyebar mengelilingi pondok itu. Aku yang berada didekat jendela, dapat melihat apa yang ada didalam. Kulihat seorang lelaki sedang menggendong Naima dan seorang lagi kulihat keluar dari pondok itu. Mereka sedang membicarakan cara untuk membawa Naima pergi dari sini. Aku yang didekat Steve menanyakan siapa lelaki yang barusan tadi pergi.
“Steve apa kau tahu siapa lelaki itu??” aku berbisik kepadanya.
“Dia adalah anak buah dari Scarface kemarin. Aku juga tidak tahu sejak kapan Kyle berhubungan dengan anak buah Scarface.”
“Kyle??..” aku terkejut saat Steve menyebut nama Kyle.
“Iya, Kyle Patrick putra dari Red Eye”
Aku mengangguk, dan langsung memberi tahu Dhee dan Lila kalau yang menculik Naima itu adalah Kyle.

Mendengar Kyle yang menculik Naima, Lila langsung masuk kedalam tanpa bisa kami tahan lagi. Sebenarnya kami sangat terkejut saat Lila tiba-tiba masuk kedalam pondok, tapi aku dan Dhee segera menyusul Lila. Sedangkan Zac dan yang lainnya tetap berjaga diluar karena seorang anak buah Scarface belum kembali.

“Apa yang kau inginkan Kyle??” Lila terdengar sangat emosi saat dia mengetahui Kyle lah dibalik semua ini.
“Ohh, kau sudah ada disini ternyata Lila. Padahal aku belum memberitahumu” jawab Kyle sambil tersenyum sinis.
“Kyle, apa yang kau inginkan?? Sampai-sampai kau menculik anakkku..” seketika emosi Lila mereda saat melihat Naima dipelukan Kyle.
“Aku menginginkanmu Lila, aku ingin kau pergi bersamaku”
“Apa maksudmu?? Aku sudah menikah dan itu anakku Kyle. Tidak mungkin aku pergi denganmu” jawab Lila.
“Kau jangan khawatir, kita akan pergi bersama anak ini.. Dengan begitu kau tidak usah bersedih, kau akan tetap bersamanya”

“Kyle, cepat serahkan Naima sekarang??” bentak Dhee.
“Tidak Dhee. Sebelum Lila memastikan kalau dia akan ikut denganku.”
Kalau saja Kyle tidak sedang menggendong Naima, sudah kupastikan aku akan menembaknya. Namun aku tetap berusaha sabar, karena ada Naima bersamanya. Aku takut dia akan melukai Naima kalau kami memaksanya.

“Baiklah, aku kan ikut denganmu Kyle. Ini kulakukan karena aku ingin bersama anakku.” Jawab Lila.
Kyle tersenyum puas mendengar jawaban Lila.
“Sekarang biarkan aku menggendong anakku. Aku sangat mengkhawatirkannya” Lila menjulurkan tanganya.
Tapi Kyle mundur selangkah tidak memberikan Naima langsung kepada Lila.
“Letakkan dulu senjata kalian berdua kelantai, aku tidak percaya sepenuhnya dengan kalian berdua” jawab Kyle sambil menunjuk kearahku dan Dhee.

Dhee memberikan isyarat kepadaku untuk menuruti perintah Kyle. Karena kulihat Zac dan yang lainnya sudah ada dekat pintu. Dan Kyle tidak menyadarinya.
Lalu aku dan Dhee meletakkan senjata kami kelantai.

“Kita sudah melakukannya Kyle..”
“Bagus, kalian ternyata bisa dipercayai juga” jawab Kyle sambil tersenyum.
Lila mendekati Kyle “Aku ingin menggendongnya Kyle, aku sangat merindukannya”
Awalnya Kyle terlihat agak ragu namun akhirnya dia memberikan Naima kepada Lila, karena Naima menangis lagi. Setelah Naima kembali bersama Lila. Lila dengan cepat menjauh dari Kyle.
“Kau ingat janjimu Lila..” Kyle mengingatkan.

“Aku yang akan mengingat janjinya Kyle..”Zac yang muncul tiba-tiba langsung menodongkan senjatanya kekepala Kyle.
“Kau...”
“Beraninya kau menganggu keluargaku. Apa kau lupa bagaimana kami menangkap Red Eye kemarin?? Ternyata kau dan dia sama, sama-sama pengecut Kyle.”
Mendengar kata-kata Zac, Kyle terlihat sangat marah. “Lepaskan aku”
Tapi Eric yang ada didekat Zac langsung memborgol tangan Kyle.
“Kau harus menanggung semua akibatnya, dan kau akan menyesal” Zac menjauh dari Kyle.
“Aku tidak akan menyesal..” Kyle menjawab dengan entengnya.
Zac yang tadi sudah menjauh dari Kyle, kembali mendekatinya. Tiba-tiba melayangkan sebuah pukulan keras kewajah Kyle. “Ini untuk kemarahanku”
Lalu Zac pergi keluar dari pondok itu sambil mengajak Lila yang sedang menggendong Naima.

“Biar kami yang mengurusnya, kalian bertiga kembalilah kerumah Lila dan Zac” perintah Lou kepadaku, Dhee dan Olivia.
“Baiklah” jawab kami bertiga.

Lalu kami bertiga kembali kerumah Lila, begitu juga dengan Lou dan Gale. Hanya Brad, Eric dan Steve yang tidak kembali kerumah Lila. Mereka membawa Kyle dan anak buah Scarface tadi kemarkas kepolisian untuk diproses secara hukum.

***

Dua bulan telah berlalu dari kejadian penculikan Naima yang dilakukan oleh Kyle. Beberapa waktu yang lalu Lila dan Zac juga sudah pindah kerumah baru mereka. Sepertinya keluarga itu agak sedikit trauma sejak kejadian penculikan itu.

Hari ini aku dan Mark juga baru selesai pindahan dari apartemen Mark kerumah baru kami yang terletak sebuah kompleks perumahan mewah di New York. Setelah selesai membereskan pakaian dan beberapa barang, aku dan Mark langsung mandi. Selesai makan malam, aku kekamar untuk beristirahat. Aku merasa kepalaku pusing lagi. Memang beberapa hari ini aku sering sekali merasa pusing, Mark sudah mengajakku untuk kedokter namun karena pusing itu tidak menganggu aktivitasku jadinya aku menolak.

Dikamar aku berusaha untuk tidur, agar pusingnya hilang. Tapi saat aku akan tertidur Mark masuk, sepertinya dia tahu kalau aku pusing lagi..
“Kau kenapa sayang?? Pusing lagi??” dia bertanya sambil berbaring disampingku.
“Aku memang sedikit pusing Mark, itu karena aku kelelahan.”
“Aku ambilkan obat yaa”
“Tidak usah, aku hanya ingin beristirahat dan tidur, besok pagi pasti sudah lebih baik” jawabku.
“Kau yakin sayang??”
Aku mengangguk, “ Iya aku yakin sayang” jawabku.
Lalu aku memejamkan mataku, sedang dia memeluk tubuhku sambil mencium keningku.

Pagi harinya aku terbangun saat sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar menghangatkan tubuhku. Saat aku membuka mataku, aku langsung mencari Mark yang tadi malam ada disampingku.
“Mark, sayang...” aku memanggilnya.
“Iya sayang, kau sudah bangun yaa..”

Kulihat Mark baru selesai mandi, dia langsung mendekatiku, duduk disamping tempat tidur.
“Jam berapa ini?? kenapa kau tidak membangunkanku??”
“Tidurmu nyenyak sekali, aku tidak tega jika harus membangunkanmu sayang” katanya sambil mencium keningku.
“Tapi aku harus kekantor, aku tidak ingin terlambat..”
“Kau ingin masuk kerja?? Apa pusingmu sudah hilang??”
“Umm, sedikit.” Jawabku.
“Apa kau yakin sayang, jika belum juga membaik sebaiknya kita pergi kedokter saja hari ini, aku mengkhawatirkanmu” katanya sambil membelai wajahku.
Aku beranjak duduk disampingnya “Aku tidak apa-apa, percaya padaku sayang” aku mencium bibirnya dengan gemas.

Saat aku menciumnya, Mark lagsung membalasnya ciumanku. Bibirnya mengecap semua bagian mulutku. Lidahnya masuk kedalam mulutku dan menari bersama lidahku didalam sana. Ciuman kami berubah menjadi ciuman yang liar dan panas. Aku mulai mengalungkan tanganku kelehernya. Mark masih menciumku dengan intens, sesekali dia menggigit bibir bawahku. Beberapa saat kemudian Mark melepaskan ciumannya karena nafas kami yang sudah terengah-engah.  

“Sebaiknya kau segera bersiap sayang, jika tidak aku akan membuatmu tidak masuk kekantor hari ini” suaranya terdengar berat ditelingaku.
Aku tersenyum sambil mengangguk, “Ya, aku akan bersiap sekarang “ jawabku.
Lalu aku turun dari tempat tidur, namun saat berdiri tubuhku terasa limbung. Hampir saja aku terjatuh untung Mark memegangi tubuhku.
“Hati-hati sayang”
“Ahh, iya..”

Lalu aku masuk kekamar mandi, saat dikamar mandi kepalaku pusing lagi bahkan saat ini aku merasakan mual. Aku tak dapat lagi menahannya hingga aku muntah.
Saat aku muntah-muntah, Mark masuk kedalam kamar mandi. Dia langsung menutupi tubuhku yang telanjang dengan jubah mandiku.
“Kau muntah sayang, sebaiknya tidak usah kekantor saja, aku akan menelpon Dhee menberitahukan keadaanmu”
“Ini masuk angin Mark, aku baik-baik  saja. Biasanya aku akan merasa lebih enak setelah muntah.”
Karena kau bersikeras tetap pergi kekantor, akhirnya dia mengizinkanku masuk hari ini dengan syarat aku harus menelponnya jika terjadi seseuatu denganku.


***

Sesampainya dikantor aku masuk keruanganku, menyelesaikan pekerjaanku. Namun belum lama aku bekerja, perutku mual lagi, dengan cepat aku bergegas ketoilet. Saat akan keluar ruanganku, aku bertemu Dhee, sepertinya dia akan keruanganku. Karena aku sudah tak tahan lagi tak kuhiraukan Dhee yang memanggilku. Saat didalam toilet aku langsung memuntahkan semuanya. Setelah selesai aku keluar toilet, tubuhku terasa lemah sekali.
“Kau kenapa Sya?? kau muntah??” Dhee menghampiriku sambil memberikan segelas air minum.
“Terima kasih Dhee, aku tidak enak badan. Sudah beberapa kali aku muntah pagi ini. Sepertinya aku ingin pulang saja”
“Kau harus segera kedokter Sya, aku antar ya. Lagi pula kau tidak membawa mobilkan hari ini??”
“Aku akan menelpon Mark saja, aku ingin kedokter sepulang dari sini”
“Baiklah, aku harap kau tidak apa-apa Sya” jawab Dhee sambil menepuk pundakku.
“Terima kasih Dhee”

Lalu kami kembali lagi keruanganku. Aku langsung menelpon Mark, untuk meminta jemput dengannya. Setelah setengah jam menunggu akhirnya Mark datang, aku langsung berpamitan dengan Dhee kemudian pergi kedokter untuk memeriksa kesehatanku yang beberapa hari ini menurun.

Sesampainya aku dirumah sakit aku langsung diperiksa oleh seorang dokter. Setelah hampir satu jam menunggu akhirnya hasil labku keluar. Dokter menyatakan kalau saat ini aku hamil. Sesaat aku dan Mark terkejut saat dokter itu menyatakan aku hamil, namun tak lama kemudian Mark langsung memelukku dan menciumku. Aku tidak percaya, tapi aku sangat bahagia mendengarnya. Menurut perkiraan dokter kehamilanku berusia empat minggu.

Selesai memeriksa keadaanku dan kandunganku, dokter memberikan beberapa resep obat dan vitamin, serta daftar yang boleh ku lakukan dan yang tidak selama aku hamil. Setelah semuanya selesai aku dan Mark pulang kerumah.

“Sayang, aku sangat bahagia saat dokter itu bilang kau hamil. Aku sangat mencintaimu sayang” dia memelukku erat, kemudian mencium keningku dengan lembut.
“Aku juga sangat mencintaimu Mark, sangat mencintaimu”
Dia melepaskan pelukannya dan mengelus perutku “Cepat besar ya sayang” katanya sambil mencium perutku.
Aku tersenyum, kemudian memeluk erat tubuhnya. Ya Tuhan, terima kasih untuk semua kebahagaiaan yang kau berikan kepada keluarga kecilku ini.