Lila hanya tertawa ketika aku memelototinya. Setelah itu kami semua pulang untuk beristirahat. Karena luka tembak di lenganku tidak begitu parah aku tidak perlu menjalani perawatan di rumah sakit.
Sesampainya di apartemen aku langsung membersihkan diriku. Membaringkan tubuhku yang sangat lelah di atas tempat tidur.
Mataku langsung terpejam ketika kepalaku menyentuh bantal. Sayup-sayup aku mendengar suara ponselku berdering. Sayangnya aku sudah tidak sanggup untuk membuka kedua mataku lagi.
***
Keesokan harinya aku bangun dengan tubuh yang terasa sangat sakit sekali. Mungkin ini karena semalam aku berkelahi dengan para teroris itu.
Rasanya sangat malas sekali untuk bangun dari tempat tidurku ini. Namun suara ketukan di pintu kamarku telah memaksaku untuk segera bangkit.
Dengan malas aku berjalan menuju ke pintu dan membukanya, “Ada apa Dhee?“
“Itu Brad sudah datang. Sebaiknya kau segera mandi.“
“Ah, aku lupa kalau hari ini ia akan datang. Tapi mengapa ia datang sepagi ini.“
“Ini sudah siang, La. Kau sudah lama sekali tidur, cepat mandi sana.“
“Benarkah?“ aku melirik jam yang ada di atas meja samping tempat tidurku, “Ya Tuhan, ternyata ini memang sudah siang. Baiklah kalau begitu aku akan segera mandi. Terima kasih sudah membangunkanku Dhee.“
Setelah Dhee pergi aku buru-buru membersihkan tubuhku dan setelah selesai berpakaian aku langsung turun untuk menemui Brad yang sedang mengobrol di ruang tengah bersama Dhee dan Asya.
“Hai, maaf membuatmu menunggu lama.“ aku duduk di sebelah Dhee.
“Tidak apa-apa, La. Aku mengerti bahwa kau sangat lelah sekali.“
“Ya sudah kalau begitu aku dan Asya ke atas dulu, ya.“
Dhee dan Asya pergi meninggalkanku bersama Brad. Dan Brad terlihat aneh sekali.
“Kau baik-baik saja, kan?“
“A-aku baik-baik saja, La. Apakah kau sudah makan? Biar aku membuatkan sesuatu untukmu.“
“Aku sangat lapar sekali. Kau akan membuat apa? Biar aku membantumu.“ Kami mengobrol sambil berjalan ke dapur.
“Kau ingin memakan apa hari ini?“
“Apapun Brad, asalkan memasaknya tidak memerlukan waktu yang lama untuk memasaknya.“
“Baiklah kalau begitu.“
Brad mulai mengeluarkan isi dari kantong belanjaan yang di bawanya itu. Lalu ia mulai membersihkan fillet ayam. Sedangkan aku mengupas wortel dan kentang.
Setelah selesai di kupas aku mencuci wortel dan kentangnya. Lalu memotongnya kecil-kecil. Aku memang tidak begitu sering berada didapur. Tiba-tiba saja tanganku teriris oleh pisau yang sedang aku gunakan.
“Awww...“
“Kau kenapa? Ya Tuhan, jarimu terluka.“
“Ini hanya luka kecil Brad. Aku baik-baik saja.“
Namun Brad malah meraih tanganku, lalu menghisap darah yang keluar dari lukaku itu.
“Brad, hentikan lukaku ini hanya luka kecil.“ Tapi ia tidak menggubris ucapanku.
Ia masih saja menghisap jariku dan itu berhasil membuat pipiku memanas. Lalu ia mengambil sebuah plaster dari dalam kotak P3K dan memasangkannya di jariku.
“Terima kasih, Brad.“
“Seharusnya aku tidak membiarkamu untuk membantuku memasak.“
“Hei, aku tidak apa-apa. Lagipula lukanya juga sangat kecil.“
“Sebaiknya kau duduk saja disini.“
“Tapi aku ingin membantumu memasak.“
“Tidak Lila, aku tidak mau kau melukai lagi jarimu itu.“
“Ayolah Brad. Biar aku membantumu.“
“Tidak, kau duduk saja.“
Akhirnya aku pergi menuju kursi yang berada di depan meja mini bar. Duduk memperhatikan Brad yang sedang memasak sambil menekuk wajahku.
Lima belas menit kemudian, Brad menyajikan hasil masakannya di atas mini bar. Aku mengambil dua buah gelas. Lalu Brad menuangkan wine yang di bawanya kedalam gelas yang aku bawa itu.
“Ayo makan, aku ingin tahu bagaimana rasanya.“
Aku menyuap chicken stir-fry dan rasanya sangat lezat sekali. Aku tak menyangka bahwa Brad pandai memasak.
“Ini sangat lezat sekali, Brad. Kau sangat pandai memasak rupanya.“ Aku kembali memakan makanan yang berada di piringku.
“Makan yang banyak.“
“Hei mengapa kau tidak makan juga?“
“Iya iya aku akan makan.“
Makan siang kami di selingi dengan bercanda dan mengobrol berbagai hal. Ternyata Brad orangnya sangat lucu dan menyenangkan.
Lalu kami mencuci peralatan makan dan peralatan masak yang sudah kami gunakan. Setelah itu kami berdua memutuskan untuk mengobrol sambil menonton DVD saja.
Sepertinya film yang aku putar benar-benar salah. Mengapa aku malah menonton film romantis bersama Brad.
Tapi pikiran aneh itu langsung hilang. Karena aku tidak melihat ada yang aneh pada Brad.
Aku menyandarkan kepalaku di bahu Brad dan melingkarkan tanganku di lengannya yang kekar itu.
Ketika aku menengadahkan wajahku, aku melihat Brad sedang menatapku. Ia semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku dan mencium bibirku.
Mungkin aku terbawa suasana oleh film yang sedang kami tonton. Karena aku membalas ciumannya yang semakin lama semakin panas dan liar.
Brad melepaskan ciumannya, “Maafkan aku La, aku tidak bisa menahan diriku.“
“Kalau begitu jangan kau tahan.“
Mendengar ucapanku Brad kembali mencium bibirku. Tapi kali ini dengan sangat lembut sekali.
“Aku sangat mencintaimu Lila...“ ucapnya di sela-sela ciuman kami, “Maukah kau menjadi kekasihku? Sudah sejak lama aku ingin mengatakan hal ini. Kau mau, kan?“
“Ya.“ hanya itu yang bisa keluar dari mulutku, karena Brad kembali menciumku.
jadian juga sm Brad :o
BalasHapustnyata dua2nya memendam cinta cuma malu2 meong hahaha
sabar ya Kyle kamu hrs tersingkir di awal :Dv
seru…seru.
lanjutkan sist. lbh cepat lbh baik ^^
Ciee Lila sm Brad..
BalasHapusUdah Isep2 aja tuh hahha.,
awas ntr malah isep yg lain o.o
nah lhoo. Kyle keduluan sm Brad.
kelamaan sih Kyle nya
Yes,yess.. Lila pacaran sm Brad.
lnjutkan :*