Pria ini seperti sudah menganalku lama saja. Belum ada 24 jam kami berkenalan ia sudah berani mengajakku untuk berkencan. Ya ampun, benar-benar pria yang aneh.
Aku langsung menuju ketempat Asya yang sedang terluka. Aku dan Gale berlari kesana kemari untuk menghindari serangan yang di tujukan kepada kami berdua.
“Gale sebaiknya kau bantu para tamu keluar dari tempat ini. Aku harus menolong temanku yang terluka.“
“Aku khawatir padamu.“
“Aku akan baik-baik saja Gale. Lagipula aku lebih ahli menggunakan senjata daripada kau. Cepat, turuti saja perkataanku atau akan semakin banyak orang tak berdosa yang menjadi korban.“
“Baiklah, kalau begitu aku akan keluar. Kau hati-hati.“ Ia mendaratkan sebuah ciumannya di bibirku. Meskipun sebentar tapi rasa panas bibirnya masih membekas di bibirku.
Dhee, mengapa kau jadi lengah seperti ini dengan seorang pria. Ingat, kau baru mengenal pria ini. Jangan terbujuk rayuannya.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku harus fokus pada tugas ini. Lalu aku segera berlari menuju ketempat Asya.
“Kau baik-baik saja?“ aku langsung melihat luka di tangan Asya.
“Hanya tanganku yang terluka. Selebihnya aku baik-baik saja.“
Aku langsung menegur pria yang tadi di selamatkan oleh Asya tadi, “Hei kau, bisa tolong bawa temanku keluar dari sini? Ia harus segera mendapatkan pertolongan.“
“B-baiklah kalau begitu. Dilla... Ayo aku akan membantumu keluar dari sini.“
“Terima kasih Mark. Lana, kau hati-hati, ya.“
Asya dan Mark pergi menuju keluar. Dan sekarang aku harus mencari Lila. Dimana dis berada saat ini.
Aku berjalan menyusuri pinggir panggung dan melihat Lila yang sedang berkelahi dengan orang-orang itu.
Aku langsung memposisikan senjataku agar tepat sasaran. Aku membantu Lila mengalahkan orang-orang itu dengan cara menembakinya.
“Terima kasih sudah membantuku.“ ucapnya dengan nafas yang terengah-engah.
“Apa kau terluka?“
“Tidak Dhee, aku baik-baik saja. Bagaimana dengan Asya?“
“Asya tertembak, La?“
“Apa? Lalu bagaimana keadaannya?“
“Lengannya tertembak. Dan selebihnya ia baik-baik saja.“
Tiba-tiba Brad dan Steve datang menghampiri kami berdua. Wajah Brad terlihat sangat khawatir, karena selama ini Brad memendam perasaan cinta kepada Lila.
“Kalian berdua baik-baik saja, kan?“ Brad langsung memeluk Lila.
“Apa yang kau lakukan? Hei Brad, lepaskan pelukanmu itu, kau terlalu berlebihan.“
Brad langsung melepaskan Lila dengan wajah yang memerah. Aku tak habis pikir mengapa Lila tidak menyadari perasaan Brad padanya.
“Ayo kita temui Lou, tugas kita sudah selesai.“ ajak Steve pada kami.
“Lila, bagaimana jika kita pergi makan siang bersama besok?“
“Aku ingin tidur saja, Brad. Aku malas pergi keluar besok.“
“Kalau kita makan di apartemenmu bagaimana?“
“Aku tidak bisa memasak kau tahu.“
“Tidak masalah, biar aku yang memasak untukmu.“
“Baiklah.“
Aku dan Steve hanya bisa tertawa melihat melihat kelakuan Lila dan Brad. Selama perjalanan menuju tempat Lou berada.
“Brad benar-benar menyukai Lila ternyata.“
“Kau tahu Dhee, padahal aku sudah memberitahu Brad bahwa Lila itu susah untuk di luluhkan.“
Tiba-tiba Gale menghampiriku, lalu Steve pamit pada kami berdua.
“Aku sangat bersyukur sekali karena kau bisa keluar dari tempat itu dengan selamat.“
“Terima kasih atas perhatianmu Gale.“
“Jadi, bagaimana dengan ajakanku tadi? Apakah kau mau menerima ajakanku?“
ckckckckckckckck
BalasHapusGale...Gale..bener2 ya...sempet2nya nyosor kyk Kyle juga tnyata :D
Dhee suka hahahahaha....
hhmmm...Brad mulai melancarkan serangan juga ke Lila. Pake hothotpop ga ya nanti di apartemen? :Dv
Lanjut...lanjut hari ini next chapternya..
hahaha...maksa #todongpakepistol