Selasa, 29 Januari 2013

CHAPTER 31

Aku berlutut di samping tubuh Dhee yang tergeletak tak sadarkan diri.

“Ya Tuhan, Dhee... Ayo sadar Dhee...“

“Bawa Dhee Rumah Sakit cepat. Panggil ambulan kemari.“ Lou berteriak.

Sedangkan Gale hanya mematung sambil memeluk tas berisi bom itu. Bahkan ketika para medis datang dan membawa tubuh Dhee ke dalam ambulan.

“Gale, cepat masuk ke dalam ambulan. Mengapa kau dari tadi hanya bengong.“ Asya membentak Gale.

“Ah baiklah.“ Gale bergegas masuk ke dalam ambulan.

“Tunggu Gale, apakah kau mau membawa bom itu ke Rumah Sakit bersamamu?“

“Ya Tuhan, aku lupa La.“

Gale memberikan tasnya kepadaku. Lalu ia masuk ke dalam ambulan yang membawa Dhee.

“Ayo kita cari tempat untuk mematikan bom itu.“ Lou berkata.

Lalu kami pergi meninggalkan tempat itu. Kami pergi ke suatu tempat yang jauh dari perkotaan.

Dan saat ini kami sudah berada di sebuah lapangan berumput hijau yang sangat luas sekali.

Aku duduk di atas rumput dan mulai membuka tas itu dan mulai berkonsentrasi. Otakku berpikir keras untuk menon-aktifkan bom itu. Aku memijit-mijit kepalaku yang akhir-akhir ini sering terasa sakit.

“Kau baik-baik saja sayang?“ Zac bertanya sambil meremas bahuku dengan lembut.

“Hanya sakit kepala ringan saja.“

“Aku yakin kau bisa melakukannya, sayang.“

“Terima kasih sudah berada bersamaku sampai detik ini, Zac.“

“Karena aku sangat mencintaimu, sayang.“

Aku tersenyum mendengar perkataannya. Lalu aku kembali berkutat dengan benda yang sangat berbahaya yang ada di depanku saat ini.

Detik demi detik terus bergulir. Dan setelah satu jam lebih berkutat akhirnya aku berhasil menon-aktifkan bom itu.

“Berhasil...“ aku langsung berdiri sambil berteriak dan melompat-lompat senang.

Zac langsung memelukku di susul oleh teman-teman yang lain.

“Kerja yang bagus Lila. Kita semua berhasil menyelesaikan tugas ini dengan sangat baik. Terima kasih semuanya.“ Lou berkata.

Lou membawa bom itu untuk di serahkan ke departemen nuklir untuk di amankan.

Sedangkan kami semua langsung pulang ke hotel dan apartemen masing-masing untuk beristirahat.

***

Seminggu kemudian setelah kasus yang sangat besar itu. Kami mulai kembali ke rutinitas sehari-hari.

Dhee sudah sembuh dan sudah kembali ke apartemen. Sedangkan Lila sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Zac yang akan di selenggarakan minggu depan.

Aku benar-benar merasa iri melihat kedua sahabatku yang terlihat bahagia bersama pasangannya masing-masing.

Sedangkan aku? Mark masih sibuk dengan tour-nya dan entah kapan akan kembali ke New York. Aku sangat merindukannya, meskipun Mark sering menghubungiku. Tapi mendengarkan suaranya takkan cukup.

Malam itu aku memutuskan untuk pergi ke sebuah club. Malam ini aku ingin menghilangkan kepenatan yang aku rasakan.

Ketika sedang asyik minum aku bertemu dengan Steve. Akhirnya ia menemaniku minum.

“Asya, aku mencintaimu. Sudah lama aku memendam perasaan cinta ini.“

“Steve...“ aku kembali meminum minumanku.

“Asya, sudah berhenti. Atau kita akan sangat mabuk dan takkan bisa pulang.“

“Kau benar, Steve. Lagipula aku tidak membawa mobil kemari. Kau harus mengantarkanku pulang ke apartemen.“

Steve membantuku berdiri dan memapahku keluar dari tempat itu. Lalu ia membantuku masuk ke dalam mobilnya.

Setengah jam kemudian kami sampai di apartemenku. Ketika sampai tidak ada siapa-siapa, mungkin Dhee sudah tidur.

Steve membantuku masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhku. Entah setan apa yang merasukiku dan karena pengaruh alkohol yang kuminum tadi. Aku langsung menarik tubuh Steve. Sehingga ia berada di atas tubuhku.

“Steve jangan pergi.“

“Aku harus pulang, Sya. Ini sudah malam.“

“Tidak, jangan pergi kumohon.“ aku mulai membelai wajahnya dan Steve memejamkan matanya meresapi belaianku.

“Aku tetap harus pulang.“

“Bercintalah denganku, Steve. Kumohon, bercintalah denganku.“

“Apakah kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu itu Asya?“

“Aku serius dengan ucapanku, Steve. Bercintalah denganku malam ini.“

Steve langsung melumat bibirku seperti orang yang kelaparan namun ciumannya terasa lembut sekali di bibirku.

Aku melingkarkan kedua lenganku di lehernya dan membalas ciumannya. Yang semakin lama membuat aku terengah-engah menginginkan lebih.

Steve membuka kaos yang aku pakai. Hingga kedua payudaraku yang sudah mengeras mulai terekspos. Dia membuka pengait bra-ku dan setelah terlepas ia menengkup dan mulai meremasnya dengan lembut.

“Ah...“ suara erangan nikmat keluar dari mulutku.

“Kau sangat cantik seperti ini, Sya.“ ucapny sambil meremas kedua payudaraku secara bergantian.

Steve menghisap dan mempermainkan putingnya dan membuatnya semakin keras dengan lidahnya yang panas.

Setiap sentuhannya mengirimkan aliran listrik yang berpusat di organ vitalku. Lalu ia mulai menelusuri tubuhku dengan lidahnya.

Menciumi perutku dan mempermainkan clikku yang sudah mengeras di bawah sana. Membuatku tak henti-hentinya mengeluarkan suara erangan.

Lalu Steve mulai melepaskan seluruh pakaiannya. Miliknya sudah sangat keras dan siap sekali. Namun rupanya Steve malah mengeksplorasi pusat diriku.

Ia menelusupkan lidahnya disana. Menggigit dan menghisap clitnya. Membuat tubuhku bergetar hebat saat orgasme itu melandaku.

Mataku mengkerjap-kerjap, dadaku naik turun karena nafas yang terengah-engah. Aku seperti melihat ribuan kupu-kupu berwarna warni yang beterbangan di hadapanku.

Aku mendengar Steve seperti merobek bungkusan foil. Lalu membuka lebar kedua pahaku dan mengaitkannya di pinggangnya.

Ia mulai mengarahkan miliknya untuk memasuki diriku. Nafasku tertahan ketika organ vitalku merengan menerima miliknya.

“Oh, ya Tuhan, Steve...“ suaraku tertahan ketika miliknya tertanam seluruhnya.

Steve mulai menggerakkan tubuhnya maju mundur. Menusuk di tempat yang sangat tepat di dalam sana.

Menghantarkan kenikmatan di seluruh tubuhku.

“Ya Tuhan Asya, milikmu sangat ketat sekali.“ suaranya terdengar berat.

Setiap gerakannya membuat otot-otot tubuhku menegang dan bergetar hebat. Karena orgasme yang hampir meledak.

“Steve...“ aku terpekik tertahan sambil memeluk erat tubuhnya.

“Tahan sayang, aku ingin datang bersama denganmu.“

Steve mempercepat gerakannya. Membuatku tak henti-hentinya meracau karena orgasme yang sudah berada di ujung dan siap meledak.

Aku merasakan tubuh Steve bergetar hebat. Giginya bergemertak dan suaranya mulai mengeluarkan geraman.

Kami saling meneriakan nama masing-masing ketika mencapai pusat orgasme. Steve mencium bibir dan memelukku dengan sangat erat.

Tubuh kami ambruk, nafas kami masih memburu. Ketika nafas kami berdua kembali normal, Steve mengeluarkan dirinya dari dalam diriku.

Ia berguling ke sampingku,mencium dan memeluk tubuhku. Sebelum akhirnya kami terlelap karena kelelahan.

2 komentar:

  1. Gale…Gale…ckckck
    itu malah bom yg dipeluk2, bukannya Dhee yg dipeluk
    lagi berdarah2 gitu juga --"

    hah…beneran konyol cuma bengong ajj liat Dhee.
    itu shock apa kenapa ya Galenya :o

    :O Asya!! :O
    ga nyangka sama Steve ckckck
    Inget Mark Sya!!
    Mark sih ga plg2 jd galau Asyanya

    trus gimana itu lanjut ga sm Steve ya ?
    trus Nico jg gimana nasibnya tuh

    Asya…Asya

    next chapter lanjut sist






    BalasHapus
  2. Kekonyolan Gale pun berlanjut.
    Astaga, udah kayak pelawak aja nih Gale.
    Masa tas bom yang dipeluk, bukannya Dhee yng lagi luka parah itu. ckckck
    pantes aja kalo Asya bentak, bengong aja sih :D

    Setelah kembali kerutinitas kegalauan Asya sangat terasa.
    Mark gak pulang2 sih.
    Makanya Asya salah tarik itu, ketarik sama Steve.
    maklumnya itu diluar kesadaran Asya :D

    Ayo Mark pulang lah. Makin galau nih Asya nya,
    kalo gak pulang juga Aku terima Steve nih *ancam Mark

    Galau, galau...

    lanjut deh Author, gimana itu lanjutan Steve sm Asya :D

    BalasHapus