Aku mulai menyusuri ruangan tempat pagelaran berlangsung. Aku harus benar-benar memasang indra pendengarku karena pandangan yang terbatas akibat keadaan ruangan yang cukup gelap.
Aku berjalan perlahan-lahan menuju ke belakang panggung, dengan harapan aku bisa menemukan alat pembangkit listrik agar ruangan ini kembali menjadi terang.
Sepertinya aku sudah sampai di belakang panggung. Aku harus segera menemukan saklarnya.
Ketika sedang sibuk lagi-lagi aku mendengar suara tembakan. Dan keadaan di ruangan ini menjadi semakin kacau. Orang-orang berteriak dan berlari mencari jalan keluar.
Sial, aku harus segera menemukan saklarnya. Agar orang-orang itu tidak panik. Lagipula aku tidak bisa fokus jika keadaannya begitu gelap seperti ini.
Aku terus berjalan dengan penerangan yang berasal dari pistol yang aku pegang dan akhirnya aku menemukan kotak saklarnya.
Gotcha, akhirnya aku menemukanmu wahai saklar.
Aku langsung menarik tuasnya dan tak lama kemudian keadaan ruangan ini menjadi terang kembali. Lalu aku segera berjalan ke depan panggung untuk memantau keadaan disana.
“Listrik sudah berhasil aku nyalakan. Apakah ada korban jiwa di sana?“
“Lila, ini Dhee. Aku melihat ada korban jiwa di area tempat penonton.“
“Aku akan segera mengeceknya Dhee. Apakah orang-orang bersenjata itu sudah terlihat?“
“Belum La, Steve dan Brad masih melakukan penyisiran di dalam situ.“
Aku tidak sengaja melihat seseorang yang berpakaian serba hitam dan memakai topeng sedang membidik salah satu mentri yang hadir dalam acara itu dari sisi panggung.
“Sialan, aku sudah melihat salah satu dari mereka Dhee.“
Aku membidikan pistolku tepat kearah orang berbaju hitam itu dan menembak punggungnya. Tak lama setelah itu peluru langsung berdesing dari segala penjuru.
Oh ya ampun, pertempuran yang sebenarnya baru saja di mulai. Aku harus melepaskan rok ini agar aku bisa bergerak dengan bebas. Well, aku merasa seperti Lara Croff dalam film Tomb Rider sekarang.
Aku mulai menembaki satu persatu orang-orang berbaju hitam itu. Mereka mulai menjadikanku sebagai target mereka. Bagus sekali, aku harus menembaki mereka seorang diri.
“Siapa saja, aku membutuhkan bantuan kalian di dalam sini. Aku bisa mati tertembak, cepatlah kirim bala bantuan untukku. Persediaan peluruku hampir habis.“ Aku berlari menghindari peluru yang tertuju kearahku, “Fiuh, hampir saja aku tertembak.“
Tiba-tiba ada sebuah suara yang cukup familiar menyapaku, “Ara, kau sedang apa? Mengapa pakaianmu seperti ini?“
“Kyle, apa yang kau lakukan didalam sini? Seharusnya kau keluar bersama orang-orang tadi.“
Aku buru-buru mengisi kembali pistolku.
“Mengapa kau memegang senjata?“
“Jangan banyak tanya. Ayo, aku akan mengeluarkanmu dari sini.“
Kyle yang terlihat terkejut mengikuti dari belakang. Benar-benar, pria ini membuatku repot saja.
***
Sementara itu di luar...
“Dhee, aku menyusul Lila di dalam. Kau tidak apa-apa sendirian disini?“
“Aku tidak apa-apa, Lou bisa mengawasiku dengan mudah dari sini. Cepat bantu Lila dan orang-orang yang masih berada di dalam.“
“Baiklah, hati-hati Dhee.“
Asya langsung masuk ke dalam gedung untuk menyusul Lila yang berada di dalam. Sedangkan aku melanjutkan kembali menyisir bagian luar gedung.
Tentu saja saat ini bagian bawah dari gaun yang aku dan Asya kenakan sudah berubah. Saat ini kami hanya menggunakan celana pendek agar kami bisa bergerak dengan leluasan.
Ketika sedang berada di bagian samping gedung aku melihat beberapa orang berpakaian hitam dengan topeng memasuki gedung.
Sialan, orang-orang itu memanggil teman-temannya. Aku harus segera meminta bantuan lagi, karena Lila, Asya, Steve dan Brad hanya berempat saja di dalam gedung.
“Lou ini Dhee, kirimkan beberapa regu ke dalam karena hanya ada Lila, Asya, Steve dan Brad saja disana. Aku baru saja melihat beberapa orang-orang berpakaian hitam dan topeng itu memasuki gedung.“
“Baiklah Dhee, aku akan mengirimkan tiga regu kedalam. Karena sepertinya masih banyak orang yang harus di evakuasi.“
“Terima kasih Lou, aku akan segera bergabung jika sudah selesai disini.“
Setelah merasa yakin bahwa keadaan di luar aman aku segera berlari menuju ke dalam gedung. Dan dalam perjalanan aku melihat Gale sedang mengendap-endap sambil memegang sebuah pistol.
Apa yang sedang Gale lakukan di dalam sini? Dan mengapa ia mendapatkan izin untuk memiliki sebuah senjata??
Aku menyembunyikan pistol yang sedang kupegang. Lalu berjalan menghampiri Gale.
“Apa yang sedang kau lakukan disini, Gale? Tempat ini berbahaya.“ suaraku terdengar berbisik.
Gale membelalakan matanya melihat penampilanku, “H-hai Lana... Kau terlihat sangat panas dengan pakaian seperti ini.“
“Jangan mengomentari pakaianku saat ini Gale. Kau harus keluar dari tempat ini. Disini sangat berbahaya.“
“Lana kau tahu bahwa kau terlihat sangat-sangat cantik sekali. Bagaimana jika kita pergi berkencan besok malam?“
“Ini bukan waktu yang tepat untuk mengajakku berkencan, Gale.“
Aku mengawasi Asya yang sedang berdiri di dekat seorang pria. Aku tersontak kaget ketika melihat Asya mendorong pria yang berada di dekatnya itu. Sehingga Asya tertembak.
“Lihat apa yang sudah kau lakukan. Karena kau terus mengajaku mengobrol aku jadi tidak bisa fokus. Sekarang sahabatku terkena tembakan.“
“Biar aku menemanimu kesana. Begini-begini aku sering membantu pihak kepolisian.“
“Terserah kau saja, Gale.“
Aku mengeluarkan pistol milikku sambil berlalu.
“Kau... Kau juga memiliki sebuah senjata?“
“Berhenti membanjiriku dengan berbagai pertanyaan, Gale. Sebaiknya kau lebih fokus dengan keadaan sekitar, itupun jika kau ingin terluka.“
:O
BalasHapuskeadaan genting gitu masih sempet2nya Gale ngajak kencan ckckckck
Dasar Gale gelooo :D
Kyle lagi udah nyosor skrg ngebuntutin Lila...hahaha
Cowok2 konyol :p
Asya yg ga enak kena tembak dia..haduh kasian :(
Next chapter pasti tmbh seru nih sist
Itu Kyle emg nyebelin, ngikutin Lila trus..
BalasHapusGak tau apa, org lgi tgs juga.
Satu lagi nih, Gale..
Sempet2nya ngajak Dhee kencan.
Kebiasaan Gale gak prnah brubah :D
Asya tuh kasian, ktembak..
Bantuan mana,bantuan :'(
*panik
Chapter selanjutnya kak..
Makin seru ini...