“Tahan sebentar, Sya. Kakimu bengkak.“
“Awww... Sakit, Nic.“ aku mencengkram bahu Nico dengan erat.
Bahkan tanpa sadar aku menggigit bibirku karena menahan sakit.
“Sebentar lagi selesai, Sya.“
Dan lima menit kemudian Nico selesai memijat kakiku yang terkilir. Bahkan Nico kembali memakaikan sepatuku.
“Terima kasih, Nic. Kakiku sudah jauh lebih sekarang.“
“Sama-sama, hey ada dengan bibirmu?“
Aku langsung memegangi bibirku yang memang terasa agak perih, “Sepertinya tadi aku menggigit bibirku agak keras, Nic.“
Tiba-tiba Nico mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku. Aku hanya bisa mematung, bahkan ketika ia menggigit bibir bawahku dan menghisapnya dengan lembut.
Lama-lama aku pun mulai terbuai, sampai akhirnya aku pun membalas tiap ciumannya. Aku mulai mengalungkan kedua lenganku di lehernya.
Ciuman kami semakin lama semakin panas dan liar. Nico membuatku lupa diri dan melupakan semuanya.
Jari-jari Nico mulai menelusuri punggungku. Lalu mulai bergerak ke arah payudaraku. Ketika tangannya mulai meremas payudaraku. Mulutku mengeluarkan erangan.
Suara ponselku berdering, seperti sebuah tamparan yang sangat keras sekali. Telepon dari Dhee membuatku sadar.
Aku langung menjawab panggilan dari Dhee. Dhee memberi tahu bahwa Adam menemukan sesuatu. Ternyata para teroris itu mengincar kami bertiga.
Karena menurup mereka keberadaan aku, Dhee dan Lila mengancam mereka semua.
“Ada apa, Sya? Mengapa wajahmu terlihat sangat pucat sekali?
“Ternyata para teroris itu mengejar sesuatu di New York.“
“Apa itu?“
“Mereka mengincar Dhee, aku dan Lila.“
“Ya Tuhan, jangan takut. Karena aku akan selalu melindungimu. Ayo kita terusnya penyisirannya.“
Selama melakukan penyisiran Nico terus menggenggam tanganku. Sejenak aku bisa merasa tenang, meskipun sebenarnya aku sangat mengkhawatirkan Lila dan Dhee.
Apalagi sampai saat ini Lila belum menghubungi kami sama sekali. Ya Tuhan, lindungilah kedua sahabatku.
***
Aku sangat syok mengetahui apa yang sudah di dapatkan oleh Adam. Ternyata namaku, Asya dan Lila masuk ke dalam daftar orang yang paling di incar oleh para teroris itu.
Kepalaku sakit memikirkannya. Bahkan tanpa sadar air mataku mulai jatuh membasahi kedua pipiku.
“Ada apa Dhee? Mengapa kau menangis?“
“Aku hanya memikirkan keadaan Lila dan Asya, Dam. Aku takut terjadi sesuatu pada mereka. Aku sangat menyayangi mereka berdua, Dam. Mereka lebih dari sekedar sahabat untukku.“
Tiba-tiba Adam memeluk tubuhku dan mulai menghapus air mata yang membasahi pipiku.
“Jangan menangis, kumohon. Aku tahu kau pasti akan sangat terkejut sekali ketika mengetahui apa yang sudah aku temukan tadi. Aku juga sangat terkejut, Dhee. Dan hal itu membuatku ingin selalu berada di sampingmu dan melindungimu, Dhee.“
“Tidak boleh, Adam tidak sendiri.“
“Aku tahu, Dhee. Aku tahu bahwa kau sudah memiliki kekasih. Dan aku tidak peduli.“
Adam menangkup kedua pipiku. Membakarku dengan tatapannya yang tajam. Lalu bibirnya mengunci bibirku.
“Adam... Kumohon jangan seperti ini.“ aku berusaha memprotesnya ketika bibirnya masih mengunci bibirku.
“Biarkan aku menciummu Dhee, kumohon. Karena aku takkan bisa memilikimu.“
Mendengar ucapannya aku langsung menekan bibirku, membuat ciuman kami semakin dalam dan intents.
ya ampun…Lou's Angels terancam nyawanya ini
BalasHapus><
*waspada waspada jgn lengah
Nico lg tugas itu malah nyosor Asya
trs lsg menyusup lagi sambil bergerilya
di "sekwilda" Asya :O
Sorry ya digangguin sm Dhee :3
Hah! Adam jg lsg nyosor ajj itu ><
orang lg sedih juga mikirin nasib yg terancam ckckck
Ga ada yg liat kan? #lirikkanankiri
Semoga ga ketauan sm Eric apalg sm Gale :3
Gawat bisa bonyok itu Adam nnti
Next chapter makin tegang nih pasti
lanjutkan sist :D
wooo...
BalasHapusNico, cocok jadi tukang pijat tu hahha.
Tp knapa abis pijat kaki, malah ke bibir yaa o.o
ckkckck
keterusan ini.
Untung gak ada yg liat..
Dan, Lou's Angels terancam..
Butuh perlindungan ini.
#tarik Nico sm Steve :D
eh,eh.. Dhee juga tuh sm Adam main sosor2an.. Haha
bner2, menjelajah cinta nih Asya. Ckckkck