Mataku tak terpejam, tubuhku terasa kaku di atas tempat tidur. Entah sudah berapa lama aku berada dalam posisi seperti itu. Bahkan suara ponselku yang terus berderingn pun tetap aku abaikan. Karena aku yakin bahwa masih belum ads perkembangan tentang keberadaan Zac. Aku butuh waktu untuk sendiri. Agar aku bisa mendapatkan kembali kesadaran dan kewarasanku.
Tidak terasa tiga hari sudah aku lewati dan masih tetap tidak ada perkembangan tentang Zac. Hidupku benar-benar hampa, untuk menangispun aku sudah tidak bisa.
Aku kembali menjadi mayat hidup, seperti tubuh yang kehilangan nyawanya. Tak banyak yang bisa aku lakukan di kantor ataupun di kampus. Aku hanya termenung dan mengurung diri di dalam ruanganku. Untung saja Lou bisa mengerti dengan keadaanku saat ini.
"Lila, ayo kita ke kantin untuk makan siang."
"Aku tidak lapar Dhee."
"Kau harus makan Lila, sudah tiga hari kau tidak makan apapun. Kalau begini terus kau bisa sakit."
"Bagaimana aku bisa makan Dhee, sedangkan aku tidak tahu bagaimana keadaan Zac di luar sana."
"Aku mengerti La, sangat mengerti sekali perasaanmu seperti apa. Tapi jangan sampai menyiksa dirimu seperti ini, Zac takkan suka jika kau seperti ini. Ayolah, kita makan di kantin."
Dhee menarik tubuhku dari kursi. Dengan terpaksa aku pun berdiri dari kursiku dengan malas. Baru beberapa langkah kepalaku langsung terasa sakit dan berputar-putar. Tubuhku ambruk, semuanya menjadi gelap dan aku tidak ingat apa-apa.
***
Akhrinya aku bisa juga menarik Lila keluar dari ruangannya. Namun baru beberapa langkah Lila langsung ambruk tidak sadarkan diri. Aku langsung berteriak panik.
"Gale... Lou... Asya... Brad... siapa saja tolonglah aku." Aku berteriak-teriak didepan ruangan Lila.
Gale, Asya, Eric, Brad dan Lou langsung menghampiriku.
"Ada apa Dhee?"
"Lila Sya..."
"Lila pingsan..."
"Ya Tuhan, baru saja aku akan memberitahunya bahwa Zac dan Steve selamat. Saat ini mereka sudah berada di bandara."
"Zac dan Steve selamat, Lou?"
"Benar Dhee, kalau begitu kau, Gale dan Asya bawa ke Rumah Sakit. Aku, Eric dan Brad akan pergi ke bandara."
"Kabari kami, Lou."
"Tentu saja."
Aku, Gale dan Asya langsung membawa Lila ke Rumah Sakit. Sesampainya disana Lila langsung di tangani oleh dokter. Sedangkan kami menunggu di ruang tunggu.
"Gale, bagaimana bisa kau menjadi seorang agent rahasia?"
"Pihak kepolisian menwariku, Sya. Setelah mengikuti beberapa tes akhirnya aku lulus dan pihak kepolisian memintaku untuk bertemu dengan Lou. Lalu Lou memanggil Lila yang ternyata adalah Ara, aku benar-benar kaget pada hari itu."
"Satu masalah besar akhirnya selesai juga. Kau tahu sayang, aku benar-benar hampir putus asa karena harus menutupi identitasku yang sebenarnya kepadamu."
"Aku mengerti, sayang."
"Apakah kau masih akan tetap menjadi seorang aktor?"
"Tentu saja, Sya. Aku tidak mungkin meninggalkan dunia yang sudah membesarkan namaku."
"Mengapa dokter masih saja belum keluar. Lila benar-benar tidak berdaya tanpa Zac."
"Kau benar Dhee, kadang aku selalu berpikir kenapa mereka bukannya menikah saja."
"Aku setuju denganmu, Sya."
"Lalu kapan kau mau menikah denganku, sayang?"
"Yang jelas tidak dalam waktu dekat Gale. Aku belum siap selain itu masih banyak hal yang ingin aku capai dan aku lakukan."
"Aku akan menunggumu, sayang."
Ketika sedang berbincang-bincang tiba-tiba Zac muncul dengan wajah yang sangat panik, di ikuti oleh Lou dan Eric, sedangkan Brad langsung mengantar Steve pulang.Terdapat beberapa luka di wajahnya namun tidak parah.
"Bagaimana keadaan Lila?"
"Dokter masih di dalam Zac. Selamat datang kembali, senang melihatmu baik-baik saja."
"Terima kasih Dhee, bagaimana Lila bisa seperti ini?"
"Karena Lila sangat mencintaimu Zac."
Akhirnya dokterpun keluar dan menjelaskan keadaan Lila, dokter juga mengizinkan kami untuk melihat keadaan Lila. Namun kami tidak di perbolehkan masuk secara bersamaan. Akhirnya kami menyuruh Zac untuk masuk melihat keadaan Lila.
***
"Sayang, ayo bangun ini aku. Aku sudah pulang, aku baik-baik saja, sayang. Maafkan aku, karena sudah membuatmu seperti ini?"
Aku membuka mataku perlahan dan melihat Zac sedang menunduk sambil menggenggam tanganku. Ya Tuhan, ternyata ini benar-benar dia. Ini Zac-ku kekasihku, pusat kehidupanku, nyawaku. Terima kasih kau sudah mengembalikannya kepadaku Tuhan.
"Z-Zac..." panggilku dengan suara terbata.
"Sayang, kau sudah bangun. Iya, ini aku Zac, sayang." Zac langsung menciumi keningku.
"Kau kembali Zac, kau sudah kembali padaku. Aku hampir putus asa Zac..." tanpa sadar air mataku mulai jatuh, "Aku tidak tahu apakah aku bisa melanjutkaj hidupku tanpamu."
"Shhh, jangan menangis sayang. Aku sudah berada disini, aku takkan pernah membiarkanmu sendiri."
Setelah menjalani perawatan selama dua hari akhirnya dokter memperbolehkan aku untuk pulang. Malam itu Zac mengajakku makan malam, meskipun kami hanya makan malam di apartemen milik Zac. Tapi entah mengapa makan malam kali ini benar-benar terasa sangat istimewa sekali.
Saat itu kami sudah duduk saling berhadapan di meja makan yang sudah Zac tata menjadi sangat indah. Dengan diiringi oleh musik yang mengalun pelan yang semakin menambah suasana menjadi semakin romantis.
"Kapan kau menyiapkan semua ini, Zac?"
"Ummm... Ketika kau sedang tidur sayang. Aku berharap kau akan menyukai makan yang sudah aku masak khusus untuk malam ini."
"Tempat ini menjadi sangat romantis, aku sangat menyukainya. Terima kasih."
"Aku sangat senang kau menyukainya, sayang. Ayo kita makan."
Kamipun mulai makan dan ketika acara sudah selesai. Kami memutuskan untuk berbincang sambil meminum sampanye.
Tiba-tiba Zac mengenggam tanganku dan menciuminya dengan sangat lembut. "Sayang aku ingin mengatakan sesuatu padamu?"
"Mengatakan apa? Sepertinya sangat serius sekali."
Zac berdiri dari kursinya, dan menghampiriku lalu mengeluarkan sebuah kotak dari dalam saku celananya, dan ternyata ada sebuah cincin dari emas putih bertahtakan batu rubi yang sangat indah sekali. Setelah itu Zac berlutut di hadapanku.
"Sayang, aku memang tidak padai dalam merangkai kata-kata yang indah dan romantis seperti pujangga. Namun aku ingin menyampaikan bahwa hidupku semakin indah dan berwarna setelah kau hadir. Maka dari itu izinkanlah aku untuk menjaga dan mencintaimu seumur hidupku, karena aku ingin hidup bersamamu hingga maut memisahkan kita berdua. Lila, maukah kau menikah dan menjadi istriku?"
Mataku membulat karena terkejut mendengarkan kata-katanya barusan. Ya Tuhan, Zac melamarku pria tampan ini ingin memiliku selamanya.
Air mata bahagia mulai berkumpul di sudut mataku, "Aku mau Zac, aku mau menjadi istrimu."
Zac menyematkan cincin itu di jari manis tangan kananku, menciumnya lalu memelukku dengan sangat erat sekali.
"Sayang, terima kasih karena kau sudah menerima lamaranku yang tidak romantis ini."
"Tidak Zac, bagiku malam ini sangat romantis sekali. Aku mencintaimu sangat sangat mencintaimu Zac."
"Aku juga sangat mencintaimu, sayang."
Zac mencium bibirku dengan sangat lembut sekali, aku melingkarkan kedua lenganku di lehernya dan sesekali membelai tengkuknya. Ciuman kami sangat dalam dan sangat intens, meskipun dadaku sudah terasa sesak aku tetap tidak mau melepaskan ciumanku.
Ketika ciuman kami terlepas, hembusan nafas kami sudah menjadi cepat dan terengah-engah. Zac menggendongku sambil menciumku dan berjalan menuju ke dalam kamar.
"Zac, turunkan aku."
"Tempat tidurnya di sana sayang bukan disini."
"Cepat turunkan aku."
Akhirnya Zac menurunkanku dengan perlahan-lahan. Lalu aku mencium bibirnya sambil mendorongnya perhalan hingga tubuhnya terjatuh di atas tempat tidur.
Lalu aku merangkak di atas tubuhnya dan kembali menciuminya sambil membuka satu persatu kancing kemejanya. Aku melempar kemeja ke lantai lalu kembali menciumi lehernya. Tubuh Zac melenggelinjang ketika aku mulai menciumi perutnya dan kembali mencium bibirnya.
Ia memelukku dengan begitu erat lalu mulai menurunkan restleting gaunku dan menurunkannya dengan perlahan. Menyisakan celana dalam saja, karena hanya itulah satu-satunya kain yang melekat di tubuhku. Tangannya mulai meremas-remas payudaraku yang sudsh mulai mengeras dan membuatku mengeluarkan desahan.
Aku merangkak turun untuk membuka ikat pinggang dan menarik celana serta boxer yang di gunakannya secara perlahan. Membebaskan miliknya yang sudah membesar dan keras. Dengan perlahan aku memegang miliknya itu, membuat gerakan naik dan turun di sana. Sesekali aku mempermaikan bolanya dan menekannya pelan.
Dan itu membuat Zac menggeram. Lalu aku mulai menjilati miliknya itu dan memasukan miliknya ke dalam mulutku. Mulai menghisapnya dengan tempo yang semakin keras dan membuat Zac menggerang.
"Ya... Sayang, terus begitu." Zac terus meracau selama aku melakukan oral padanya.
Lama kelamaan miliknya semakin besar dan keras berada di dalam mulutku. Membuatku kehabisan nafas.
"Sudah hentikan sayang, aku ingin segera berada di dalam dirimu."
Ternyata Zac sudah membawa bungkusan foil. Aku merebutnya dari tangannya, lalu merobeknya menggunakan gigiku. Setelah itu aku memasangkannya pada miliknya yang sudah keras, besar, tegak dan basah oleh air liurku.
Aku memposisikan tubuhku mengangkanginya lalu secara perlahan memasukan miliknya kedalam diriku, aku menahan nafas ketika aku meregang untuk menerimanya memasuki diriku.
Ketika seluruh milikknya sudah berada di dalam diriku. Aku mulai menggoyangkan tubuhnya sambil mencengram kuat lengan Zac. Suara erangan keluar dari tenggorokan kami berdua. Zac terus menelusuri bagian depan tubuhku, meremas dan menghisap payudaraku.
Membuat tubuhku bergetar karena orgasme yang siap meledak.
"Zac..." teriakku memanggil namanya.
"Datanglah untukku sayang."
Zac menusukku dengan perlahan namun setiap tusukannya membuatku berteriak. Dan pada akhirnya tubuhku ambruk karena gelombang orgasme yang menyerangku dengan begitu hebatnya.
Zac menurunkan tubuhku mengangkat salah satu kakiku dan memiringkan tubuhku. Lalu dengan perlahan ia memasukiku dari belakang. Ia terus bergerang dengan perlahan sepertinya Zac sedang membangkitkan kembali gairah di dalam diriku. Bibirnya terus memagut bibirku sedangkan jari-jarinya menyentuh clitku membuat pola melingkar disana.
Membuatku mengerang di mulutnya, "Ah..."
Cukup lama kami bercinta dengan posisi itu tapi sepertinya Zac belum memperlihatkan tanda-tanda akan mencapai orgasmenya. Kami kembali berganti posisi. Zac membalikan tubuhku sehingga aku berada dalam posisi menungging. Ia kembali memasukiku dari belakang.
Dan aku sudah berkali-kali mengalami orgasme. Tiba-tiba Zac semakin cepat menggerakan tubuhnya, suaranya menggeram dan bergetar. Tangannya meremas payudaraku dan kembali menekan clitku.
"Sayang..." Zac menggeram memanggil namaku.
Akhirnya Zac membalik lagi badanku, mengaitkan kakiku kepinggangnya dan mulai bergerak dengan cepat. Sampai akhirnya tubuh kami berdua bergetar hebat secara bersamaan. Zac pun mencapai klimaksnya bersamaan denganku. Tubuhnya langsung ambruk di atas tubuhku.
"Jika setiap hari seperti ini aku tidak akan bisa bangun untuk untuk bekerja, Zac." Ucapku dengan nafas yang terengah-engah.
"Aku sangat merindukanmu sayang."
Zac mengeluarkan dirinya dari dalam diriku, dan berbaring di sampingku. Aku melirik jam yang berada di meja samping ranjang dekatku. Aku hampir tersedak ketika melihat angka-angka digital di jam itu. Pukul 02.00 dini hari, ya ampun berarti aku dan Zac hampir empat jam bercinta.
"Tidurlah sayang, atau kita akan terlambat lagi dalam pertemuan pagi ini. Karena ada hal yang sangat penting sekali yang harus di sampaikan."
"Kau dan Steve menemukan apa di sana?"
"Besok saja sayang, kau harus tidur."
"Baiklah kalau begitu, selamat malam sayang."
"Mimpi indah sayang, selamat malam." Zac mengecup bibirku.
Ketika aku memejamkan mataku, lengan Zac langsung memelukku. Kehangatan yang terpancar dari tubuhnya membuatku terlelap dengan perasaan yang damai. Meskipun aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Yang terpenting bagiku adalah Zac ada di sampingku.
waduh Lila baru jg sembuh udah ganas gitu :O :O
BalasHapusZac juga samanya itu sm Lila ckckck
Pas pas deh berdua cocok bgt haha
Asyik asyik Lila dilamar. Ada pesta lg nih.
Jangan lama2 ya lsg nikah ajj
Selamat menempuh hidup baru ^^
Gale gitu tuh suka latah
Pake nanya kpn mo nikah --"
Next chapter hothotpop lg nih Lila Zac
:Dv
Waduh Lila sakit aja gitu, gimana sembuhnya yaa?? *mikir keras..
BalasHapushothotpop trus hahhaa..
Yeaahh, selamat Laa, akhirnya dilamar Zac..
ayo setelah ini siapa yang nyusul.
Dhee sm Gale yaa :D
Efek kangen berat itu, smpe lupa diri hahhaa