Sabtu, 26 Januari 2013

Chapter 23



Sesampainya dikampus aku langsung duduk didepan kelasku. Tak lama menunggu aku melihat Robert datang kearahku, aku pura-pura konsentrasi membaca buku. Setelah sampai didekatku dia langsung menyapaku..
“Hai, Dilla.. kau sudah lama menungguku??” katanya duduk disampingku.
“tidak juga, aku baru saja keluar..”
“kita bisa pergi sekarang?? Aku sudah sangat lapar” ajaknya.
“baiklah aku juga sudah lapar..” aku beranjak dari tempat duduk dan memasukkan buku-bukuku kedalam tas.

Lalu kami pergi kecafe yang terletak diseberang kampusku. Aku sengaja menerima ajakannya untuk naik mobil bersamanya dan meninggalkan mobilku dikampus. Aku ingin melihat bagaimana mobilnya apakah ada sesuatu yang mencurigakan atau tidak. Saat aku masuk didalam mobilnya aku mulai melirik, melihat  sarta memainkan kamera pengintai yang terpasang dijam tanganku apakah ada hal yang mencurigakan atau tidak.

Sesaat setelah sampai dicafe, kami langsung memesan makanan dan setelah pesanan itu datang kami langsung makan bersama. Disaat makan itulah aku mulai memperhatikan wajah Robert, dia memang mirip dengan Tom. Dan satu hal lagi, Dhee benar dia memang tampan. Makanku yang terhenti karena memperhatikan Robert membuatnya jadi memperhatikanku.
“Dilla, kau sangat cantik..” katanya sambil menyentuh tanganku
Aku terkejut dengan sentuhan tangannya yang tiba-tiba.
“terima kasih akhirnya kau mau kuajak makan bersama. Kau tau aku sudah lama menginginkan waktu berdua denganmu,.”
Aku mengangguk sambil tersenyum..
“oh iya kau tidak kekantor hari ini??” aku berusaha untuk mengalihkan pembicaraannya. Karena aku memasang alat perekam juga di liontin kalungku, akan sangat memalukan jika Robert terus-terusan memujiku dan semuanya terekam. Aku akan sangat malu saat rekaman ini diputar kembali dikantor.
“aku mengambil cuti sambil akhir minggu ini, aku sedang ada urusan lagipula aku akan mengunjungi kedua orang tuaku di Paris.”
“orang tuamu di Paris??”
“iya mereka sudah menetap diParis sejak 2 tahun yang lalu. Tadinya mereka di London, tapi karena suatu hal mereka pindah di Paris dan menetap disana.”

Lalu dia menceritakan sedikit tentang dirinya dan keluarganya. Aku hanya mendengarkan dan memperhatikannya. Dari situ aku baru tahu kalau dia sebenarnya adalah anak yatim piatu yang diambil oleh pasangan suami istri yang kaya raya untuk dijadikan anak. Tapi aku bingung tentang kebenaran ucapannya, apa mungkin dia berbohong?? Tapi dari tatapan matanya sepertinya dia tidak bohong. Entahlah..
*****
Selesai makan siang dengan Robert aku kembali kekampus, saat dikampus aku masuk kedalam mobil dan membuka laptop untuk mengirimkan foto, dan rekaman video tentang aku dan Robert kepada Dhee. Aku harap Dhee bisa memastikan apakah Robert itu adalah Tom. Setelah selesai aku memacu mobilku dengan kencang kembali kekantor.

Setibanya dikantor aku langsung keruangan Dhee, ternyata Dhee bersama Lila. Mereka sedang mengidentifikasi foto Tom dengan hasil rekamanku tadi.
“bagaimana Dhee, La, apakah Rob itu Tom??” aku langsung mendekati mereka berdua.
“ coba kau lihat Sya, kedua foto ini sangat mirip. Jadi menurut ku Robert itu adalah Tom” Dhee meyakinkanku.
“Dan juga tadi aku baru saja mendapatkan informasi kalau Tom itu adalah kaki tangan dari ketua kelompoknya. Jadi bisa dikatakan kalau Tom mengetahui semua informasi kelompok Stephanie” Lila menambahkan.
“Dan Lou sudah mengetahui tentang ini Sya, dia tadi menugaskanmu untuk tetap mendekati dan memata-matai Tom”
“ternyata tugasku berlanjut..” aku mendesah
“tidak apa-apa Sya, lagipula Robert menyukaimu. Sedikit menyenangkan bukan??” Dhee meledekku lagi.
“tidak untuk seorang mafia Dhee.. “
“tapi setelah aku lihat-lihat dia tampan juga Sya” Lila ikut meledekku.
“ kalian berdua memang sama ya..”
Lalu mereka tertawa melihatku menekuk wajahku.
****
Sejak hari itu, aku dan Robert jadi sering bersama walaupun itu hanya sekedar ngobrol atau makan bersama. Kedekatan antara aku dan Robert ini sedikit menganggu hubunganku dengan Mark, tak jarang saat aku bersama Robert, Mark tiba-tiba menelponku. Dan dengan terpaksa aku berbohong padanya mengatakan kalau aku sedang sibuk dan tidak bisa diganggu.

Sementara aku menghabiskan waktuku dengan Robert, Lila dan Dhea bersama Tim yang lainnya sedang menyiapkan rencana penyergapan di apartemen Robert dan dirumah yang sudah dipastikan kalau itu gudang dari obat-obatan terlarang. Memang sebelumnya aku sudah memberitahu mereka bahwa Robert akan mengajakku keapartemennya. Dia mengajakku keapartemennya karena besok dia akan pergi keParis dan belum tahu kapan akan kembali ke New York.

Pagi ini aku sudah bersiap-siap untuk pergi bersama Robert, sudah dua hari aku menyewa sebuah flat untuk tempat tinggalku sementara. Hal itu dikarenakan Robert selalu ingin mengantarku pulang. Aku tidak mungkin mengajak Robert ke apartemen, karena hal itu sangat berbahaya.

Tepat pukul 9 Robert menjemputku, dia sangat kagum melihatku memakai Gaun berwarna coklat tua dengan model punggung terbuka, ditambah lagi dengan beberapa aksesoris yang mendukung penampilanku. Aku sengaja berdandan sedikit berlebihan dari biasanya, aku ingin membuat Robert terkagum-kagum melihatku.

Sekitar 30 menit kami mengendarai mobil dari flatku. Kami tiba disebuah apartemen yang sangat mewah. Dia langsung mengajakku masuk kedalam,sebelum aku masuk kedalam kulirik kearah seberang jalan sana mobil pengintai sudah terparkir disana Dhee,Lila dan tim lainnya sudah bersiap disana. Mereka hanya menunggu instruksi dari ku untuk menyergap Robert nanti.
“Ayo, Dilla sayang.. masuklah” Robert menarik tanganku kedalam apartemennya.
“ baiklah..” aku mengikutinya.

Lalu kami masuk kedalam apartemennya, ternyata perabotan didalamnya sangatlah mewah, dan canggih.
Saat masuk aku langsung duduk disofa yang ada diruang tamunya.
“kau mau minum sesuatu??” tanyanya
“tidak Robert, nanti saja aku belum haus. Sebenarnya apa yang akan kita lakukan disini??” tanyaku
“aku ingin menghabiskan waktuku denganmu, aku akan sangat merindukanmu sayang.. “ dia yang duduk disampingku langsung menarikku kedalam pelukannya.
Aku berusaha untuk melepaskan pelukannya dari ku namun sulit aku tak ingin dia tersinggung dengan gerakanku yang menolaknya.

“kau tau aku sangat mencintaimu Dilla, aku ingin kau menjadi kekasihku..” kata-kata itu terlontar dari mulutnya.
“ kau mau kan jadi kekasihku??’
Sejenak aku tersentak kaget, apa yang dikatakan Robert barusan, apakah itu sebuah pernyataan cintanya untukku. Ya Tuhan, haruskah aku mempercayainya?? Oh, tidak-tidak ada Mark yang selalu ada untukku. Aku meyakinkan hatiku..
“maaf Robert aku tidak bisa..” jawabku
“kenapa??”
“ya aku tidak bisa.. aku tidak sedang ingin berhubungan dengan siapapun” jawabku

Lalu dia menghadapkan wajahnya padaku, memegang wajahku dengan tangannya dan kemudian langsung menciumku dengan liar. Aku terkejut dengan gerakannya yang tiba-tiba. Untunglah saat itu aku sedang mengenggam ponselku. Aku langsung menekan tombol panggilan cepat. Aku menelpon Lila untuk segera datang. Lalu kubiarkan ponselku tergeletak, aku meraih tangan Robert yang mulai membelai leher dan punggungku, aku memegang erat tangannya. Dengan beraninya sedikit kugigit bibir Robert. Dia mengerang. Setelah itu aku mendorong tubuhnya jatuh kesofa. Aku tersenyum saat dia jatuh.
“Dilla, kau sedikit nakal” ternyata dia kaget namun senang melihat responku.
Aku tersenyum menatapnya, maafkan aku Rob ataupun Tom kau harus menerima nasib burukmu hari ini juga. Aku menyeringai kepadanya.

Sesaat dari aku menjatuhkannya, dia menarikku lagi, sehingga aku jatuh dipelukannya. Dengan gerakan cepat dia membalikkan tubuhku, sehingga aku yang berbaring disofa. Robert menatapku dalam, matanya menyala-nyala, dari gerakannya kulihat dia akan segera menindihku.
Dengan sekali gerakan aku menendangnya, tendanganku tepat mengenai perutnya sehingga dia tersungkur.
“Dilla, apa yang kau lakukan” dia berdiri dari jatuhnya.
“itu untuk kebohongan yang kubuat selama ini Robert..”
“apa maksudmu??”

Kemudian pintu apartemennya ditendang dengan kasar oleh Lila sehingga terbuka.
“tetap disitu Tom, tidak ada cara untuk pergi” Lila sudah mengarahkan senjata nya ke Tom.
“ apa maksudmu Dilla??
“aku bukan wanita yang mudah kau bohongi Tom,aku tau siapa kau..”
Lalu aku dan Dhee mendekatinya, aku akan segera memborgolnya. Ya tangan kirinya ku borgol namun belum selsai aku memborgolnya. Tiba-tiba dia menarikku dan bersiap mencekikku dengan tangan kanannya yang memegang pisau lipat kecil.
“maafkan aku Dilla, aku mengikuti permainanmu, dan kalian jika temanmu ingin selamat letakkan senjata yang kalian punya. Atau dia akan mati” Tom ataupun Robert sudah berubah menjadi arogan.
Namun sebelum dia menyelesaikan perkataannya aku mengigit tangannya yang bersiap untuk mencekikku sehingga pisau ditangannya terlepas dan jatuh kelantai.
“Aww.. kau brengsek Dilla,. “
“Kauu, “ aku meraih tangan kanannya dan memborgolnya.
“ jangan pernah pergi jauh Robert,” aku tersenyum mengejek padanya”

Lalu Steve, Brad dan 3 orang teman kami lainnya langsung mendekat kearahku.
“Biar kami yang mengurusnya Sya..”
“Terima kasih, Brad” aku meninggalkan melepaskan Robert dan memberikannya kepada Brad dan Steve.
Aku mengambil tas dan ponselku dan kemudian keluar dari apartemen Robert. Sedangkan yang lainnya masih membereskan Robert dan menggeledah beberapa ruangan.
**** 
Kluar dari apartemen Robert aku, Lila dan Dhee langsung naik kemobil untuk segera bergabung dengan Lou, dan Zac serta tim mereka.Saat didalam mobil aku langsung mengganti gaunku dengan pakaian kerjaku, memakai rompi anti peluru dan mempersiapkan senjataku dengan baik.
“apa yang sudah kau lakukan dengannya Sya?? “ Lila bertanya padaku.
“tidak ada waktu untuk menjelaskannya sekarang La, berusahalah lebih cepat.. “
Lalu Lila mempercepat laju mobilnya karena jarak antara apartemen dan tempat penyergapan kedua agak jauh. Kulihat mobil Brad dan Steve sudah mengikuti kami dari belakang.

Sekitar setengah jam perjalanan kami sampai disebuah daerah pinggiran yang tempatnya tidak terlalu terpencil. Kami langsung bergabung dengan dengan team Lou..
“bagaimana keadaan didalam Lou??” tanya Dhee.
“masih terlihat lengang Dhee, beberapa kali terlihat orang keluar masuk kedalam rumah”
“baiklah kita serang sekarang Lou??”
“sebaiknya kita berbagi team, sebagian ada yang dari depan dan dari belakang” Zac menambahkan.
“baiklah “ aku mengangguk.

Lalu kami berbagi team, team Lou dan Brad dari depan sedangkan kami bertiga dan team Zac masuk melalui pintu belakang. Saat masuk kami langsung dihadang oleh beberapa orang yang sedang berjaga-jaga dipintu belakang. Tanpa diduga anggota mereka lumayan banyak. Mereka semua langsung menyerang kami, sebagian dari mereka tidak memiliki senjata seperti kami sebagian lagi langsung menembaki kami, namun karena kami memakai rompi anti peluru hanya suara berdesing yang terdengar. Beberapa diantara mereka sangat ahli dalam bela diri sehingga mereka terkadang langsung menyerang kearah kami. Pertarungan kami sangat lah sengit. Kami, fokus kepada musuh yang dihadapi. Sebagian dari mereka sudah berhasil kami kalahkan, namun sebagian lagi belum, dengan terpaksa kami menembak mereka.

Saat ditengah pertarungan kami, aku tidak melihat Dhee. Aku sedikit mendekat kearah Lila.
“La,, Dhee kmana?? Aku tidak melihatnya??”
Lila melirik kesamping sambil tetap fokus mempertahankan diri.
“Iya Sya, dia kemana??”
Aku mulai mengkhawatirkan Dhee, kemana dia?? Tidak biasanya dia menghilang dtengah penyergapan seperti ini.
“biar aku yang mencarinya La,.” Aku sedikit berteriak.
“ aku akan ikut Sya..”

Lalu aku dan Lila mulai memasuki setiap ruangan satu persatu, mencari Dhee. Dan akhirnya kami mencurigai sebuah kamar yang pintunya terkunci. Kulihat disana ada seorang laki-laki yang memakai seragam seperti kami. Namun aku belum mengenalnya..
“kau melihat Dhee??’ tanya Lila.
“Iya La, dia ada didalam...” jawab lelaki itu.
“ yasudah La kita dobrak saja” aku sudah tidak sabar untuk medobrak pintu itu.
“tidak ada jalan lain ayo kita lakukan bertiga”
Lila mengangguk setuju. Dengan satu aba-aba kami bertiga langsung menendang pintu kamar itu.
Hasilnya dengan sekali tendangan pintunya terbuka. Saat masuk, kulihat Dhee sudah terduduk lesu dengan mulut ditutup dan tangan dan kaki diikat. Ternyata Dhee disandera oleh ketua kelompok Stephanie. Kami bertiga langsung menyerang lelaki yang diduga bernama Matt itu. Dengan perlahan aku mendekati Dhee yang terduduk lesu dan membuka tutup mulutnya. Dhee kau baik-baik saja??” aku memanggilnya sambil fokus menyerang musuh.
“tidak setelah cairan itu masuk kedalam tubuhku Sya” aku melirik kelantai sebuah bekas suntikan. Cairan apa itu???
Lalu aku langsung memanggil lelaki anggota baru kami tadi. “maaf bisa aku minta tolong bawa Dhee kerumah sakit sekarang.. “ aku setengah memerintah padanya
“baiklah” katanya.
Lalu lelaki itu membantu Dhee melepaskan semua ikatan yang ada ditubuhnya. Setelah selesai mereka langsung mencari jalan keluar. Saat Dhee berdiri tubuhnya hampir saja jatuh. Lelaki tadi langsung menggendong Dhee, saat digendong tangan Dhee terkulai lemah dengan darah yang mengalir.
Ya Tuhan Dhee juga terluka.. “cepat bawa dia pergi dari sini” perintahku

Pertarungan kami sangat lah sengit sampai-sampai Lila harus berkejar kejaran smbil menembak Matt. Matt baru dapat dilumpuhkan saat sebuah peluru bersarang dikakinya. Sekitar satu jam pertempuran kami, tim dari kepolisian datang smbil membawa beberapa unit mobil tawanan. Karena mereka sangat banyak sekali. Saat polisi datang, mereka langsung mengepungnya. Sehingga tidak ada lagi celah untuk melarikan diri. Para anggota polisi itu langsung menangkap semua anggota dari kelompok Matt. Bahkan bisa dipastikan anggota mereka telah tertangkap semua. Tidak lupa penyisiran dibeberapa ruangan kami lakukan untuk mencari barang bukti. Ternyata benar kami menemukan hampir 100 paket obat-obatan terlarang yang siap dikirimkan besok pagi.

Setelah semua urusan sudah selesai, kami semua langsung menyusul Dhee kerumah sakit. Kami semua sangat mencemaskannya. Tadi Dhee dibawa oleh seorang agent yang baru pindah dari London, dan aku baru tahu kalau namanya Eric, aku menyuruh Eric untuk membawanya karena kondisinya yang sangat buruk, apalagi Dhee juga sempat diberikan obat bius dengan dosis sedang oleh Matt. Dan dia juga terluka dibagian bahu kirinya. Saat kami tanyakan keadaannya kepada dokter, katanya kondisinya memang sedikit drop shingga dia perlu dirawat selama tiga hari disini. Namun secara keseluruhannya tidak terlalu berbahaya. 

1 komentar:

  1. Asya mulai menggoda Robert pk baju sexy
    dan Robert pun tergoda :D

    Untung masih sadar ya itu Asya jd penyergapan
    bisa berjalan lancar.
    Kl ga sadar team diluar bklan nunggu lama itu
    aba2 dr Asya haha

    Giliran Dhee yg terluka skrg dan Eric pun muncul.

    Ga sbr baca next chapter
    yuk ah buru2 ke sana

    :*

    BalasHapus