Keesokkan harinya aku membuka mataku dengan perlahan. Mataku rasanya sulit untuk kubuka. Panas tubuh Zac masih terasa disekujur tubuhku. Kepalaku berada di lengannya, sedangkan lengannya yang lain membungkus tubuhku.
Aku menatap langit-langit kamar, berusaha untuk mengumpulkan kesadaranku. Aku berusaha mengingat kejadian semalam dan wajahku langsung memanas ketika mengingat percintaan panas yang kami lakukan semalam.
"Selamat pagi, sayang." Suara lembut Zac menyadarkanku dari lamunanku.
"Hai, selamat pagi."
"Apa kau tidur nyenyak semalam? Tubuhmu baij-baik saja, kan."
"Tidurku nyenyak Zac, meskipun tubuhku agak sedikit sakit."
Zac langsung memegang wajahku dengan tatapan yang khawatir, "Sayang, maafkan aku. Seharusnya semalam aku bisa lebih menahan diriku."
Aku membelai rambutnya sambil tersenyum, "Tak perlu meminta maaf Zac. Aku baik-baik saja, sungguh."
Lalu ia mencium keningku cukup lama dan mencium bibirku. Lama kelamaan ciumannya berubah menjadi liar. Sampai-sampai ia menekan tubuhku semakin tenggelam ke dalam kasur.
Tangan Zac mulai bergeriliya di tubuhku. Setiap jarinya menyentuh kulitku tubuhku langsung melengkung ke arahnya. Membuat tubuhku semakin bergetar dan panas, nafasku memburu dan terengah-engah. Dan aku bisa merasakan miliknya yang mulai mengeras menekan perutku.
"Kau tahu sayang, dengan begini aku semakin yakin untuk menjadikanmu milikku selamanya."Suaranya terdengar berat.
"Zac..." hanya kata itulah yang berhasil keluar dari mulutku.
"Kau milikku sayang milikku."
Dan dengan perlahan ia memasuki diriku, sedangkan aku hanya bisa mengerang.
"Ah..." erangan yang cukup panjang keluar dari mulutku ketika miliknys sudah tenggelam sepenuhnya di dalam diriku.
Dengan perlahan ia mulai menggerakan badannya keluar dan masuk. Aku sudah tidak merasakan sakit atau perih lagi, mungkin karena milikku sudah bisa menyesuaikan dengan miliknya. Yang aku rasakan saat ini hanyalah kenikmatan yang menggeleyar di seluruh tubuhku.
Zac menggerakan tubuhnya semakin cepat. Ia menggeram sambil menggertakkan giginya. Hal yang serupa juga terjadi padaku, tubuhku mulai bergetar p, otot di sekitar perutku mulai mengencang. Aku mempererat pelukanku sambil menancapkan kuku jariku di punggunynya.
Kami berdua berteriak bersama-sama ketika mencapai klimaks. Dan ketika gelombang orgasme itu menyerangku, aku hanya bisa mengeluarkan lengguhan panjang sambil menggigit bahu Zac.
Ia mengeluarkan dirinya dari dalam diriku. Lalu mengecup bibirku.
"Ayo kita pergi mandi sayang. Jika tidak aku akan bercinta lagi denganmu. Ya Tuhan, aku tidak akan merasa puas bercinta denganmu, sayang."
"Zac, aku butuh makan dan beristirahat,"
"Kau bisa mendapatnya setelah mandi, sayang."
Zac mengangkat tubuhku menuju ke kamar mandi. Lalu ia menurunkan tubuhku dengan perlahan. Kemudian ia menyalakan shower yang kemudian mulai membasahi tubuh kami berdua.
Zac menyabuni tubuhku sambil memijatnya dengan lembut. Pijatan tangannya menbuat tubuhku menjadi lebih rileks.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, sayang."
"Jauh lebih baik Zac, tubuhku terasa lebih rileks."
"Maaf sudah membuatmu kelelahan, sayang."
Aku membalikan tubuhku menatap mata abu-abunya yang masih terlihat terbakar dan menyala-nyala. "Berhentilah meminta maaf padaku. Kau tidak melakukan kesalahan, lagipula aku juga tidak menolaknya." Suaraku terdengar hampir seperti berbisik dengan wajah yang memanas.
Ia menyeringai mendengar ucapanku, "Aku tahu bahwa kau juga menyukainya, sayang."
"Zac..." aku memelototinya dengan wajah yang sudah sangat memerah sekali.
"Apakah kau mau mencoba bercinta di kamar mandi?" Tatapan matanya menggelap menatapku.
"Tidak Zac, yang aku inginkan untuk saat ini hanya makan dan beristirahat."
"Baiklah sayang, mungkin lain kali kita akan mencoba bercinta di kamar mandi." Zac mengedipkan sebelah matanya padaku.
Kami segera menyelesaikan mandi kami. Dan setelah selesai berpakaian kami turun ke dapur untuk memasak. Setelah selesai makan dan mencuci piring kotornya. Zac mengajakku berjalan-jalan di sekitar pondok. Udara hari ini masih terasa dingin, mungkin karena badai semalam.
"Udara hari ini sangat dingin, kau tahu aku tidak kuat dengan udara dingin sejak kecil."
Zac memelukku, "Sayang maaf aku tidak tahu bahwa akan terjadi badai semalam."
"Ada kau di sampingku saat ini, Zac." Aku mengecup bibirnya untuk menghilangankan perasaan bersalahnya.
"Aku semakin mencintaimu, Lila." Ia menggangkat tubuhku dengan tiba-tiba.
"Zac, turunkan aku...."
Liburan kami sudah hampir selesai. Waktu lima hari cuti begitu cepat berlalu. Pada hari Minggu aku dan Zac sudah kembali ke New York, hanya saja Zac memintaku untuk ikut pulang bersamanya ke apartemennya.
Tentu saja aku menyetujuinya karena aku masih ingin bersama dengannya. Aku sempat berbohong pada Asya ketika ia meneleponku tadi siang. Ia memberitahuku bahwa ada meeting penting pada hari Senin pagi. Dan Zad menyuruhku untuk berkata bahwa kami masih berada di Aspen terjebak badai.
"Zac, pasti besok pagi Dhee dan Asya akan marah padaku."
"Tidak akan marah sayang, karena besok pagi kita akan pergi ke kantor bersama-sama. Sebaiknya sekarang kita pergi tidur saja."
Ia menarik tanganku menuju ke kamar, namun sesampainya disana kami tidak langsung tidur.
Aku mendorong tubuhnya hingga ia terjatuh di atas tempat tidur.
“Apa yang akan kau lakukan, sayang?“
“Kau mau aku melakukan apa padamu, sayang.“ aku berbicara sambil sedikit menggodanya.
“Apakah kau bermaksud akan menggodaku?“
“Menggodamu? Tidak Zac, aku tidak bermaksud untuk menggodamu.“
Zac hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyolku.
“Ummm... Zac bisakah aku meminjam kaosmu untuk tidur?“
“Pilih saja di lemari, sayang.“
Aku berjalan menuju lemari pakaian milik Zac. Lalu mengeluarkan kaos berwarna putih dan sebuah boxer berwarna hitam. Setelah itu aku menyimpannya di atas tempat tidur.
Aku berpura-pura tidak sadar ketika membuka kemeja dan celana jinsku dengan gerakan yang sangat menggoda.
Aku melirik Zac melalui ujung mataku. Zac membelalakan matanya dan terlihat seperti menahan nafas. Tatapannya menggelap dan menyala-nyala.
Setelah selesai aku memunguti pakaianku yang berserakan di atas lantai dan menyampirkannya di kursi. Lalu aku merangkak naik ke atas tempat tidur dan berbaring di sampingnya.
“Sayang, kau sedang apa? Ayo cepat berbaring.“
Ia pun membaringkan tubuhnya dan menghadap padaku. Matanya mulai menatapku dengan begitu intens. Dadanya naik turun dengan tempo yang sangat cepat.
“Kau baik-baik saja, kan?“
“Ya...“ suaranya terdengar berat dan menggeram.
Aku mulai memejamkan mataku. Berusaha untuk menstabilkan pernafasanku. Namun aku bisa merasakan jari-jarinya menelusuri wajahku, lalu jari-jarinya menelusuri bibirku.
Lalu aku merasakan bibirnya mencium keningku, lalu turun ke bibirku. Ia cukup lama mencium bibirku dan berusaha menelusupkan lidahnya ke dalam mulutku.
Aku membuka mata dan berpura-pura terkejut dengan tindakannya itu.
“Apa yang kau lakukan, Zac?“ Aku berbicara ketika bibirnya masih mengeksplorasi bibirku.
“Kau... Kau ternyata nakal juga, sayang.“ nafasnya semakin terengah-engah.
“Apa maksudmu?“
“Kau... Kau berusaha untuk menggodaku, bukan? Dan kau tahu sayang, usahamu berhasil.“
“Aku tidak menggodamu, Zac. Ayolah, sebaiknya kita tidur. Aku tak ingin terlambat besok pagi.“
“Tidak sayang, aku tidak akan bisa tidur. Sebelum aku berada di dialam dirimu.“
“Zac...“
Ya ampun, ternyata Zac benar-benar tergoda dan terangsang. Padahal tadi aku hanya main-main saja menggodanya.
Zac mulai menelusupkan tangannya ke dalam kaos yang kupakai. Tangannya mulai membelai, menangkup dan meremas payudaraku yang bebas tanpa bra dengan agak keras.
“Zac...“ aku mengerang keras, “Pelan-pelan.“
“Maafkan aku sayang, aku sudah benar-benar tidak bisa menahan diriku lagi.“
Ia mulai melucuti pakaianku satu persatu. Zac mulai menelusuri setiap jengkal tubuhku dengan jari dan lidahnya. Tubuhku melengkung akibat sensasi yang di berikan oleh setiap sentuhannya.
Tangannya mulai membelai pahaku dan naik menuju ke pusat diruku yang sudah sangat panas. Tangannya membelai clitku, dan membuat gerakan memutar yang membuatku mengerang dan semakin tenggelam dalam kenikmatan.
Dan aku terkesiap ketika jarinya menelusup masuk ke dalam pusat diriku. Membuat tubuhku melengkung karena kenikmatan dan menginginkan lebih. Tubuhku bergetar mendekati puncak orgasmeku.
“Zac...“ suaraku terdengar serak.
“Tidak sayang, kau harus menahannya sampai aku selesai.“
“Zac... Aku mohon...“
“Ada apa sayang.“
Rupanya Zac sedang mempermainkan sekarang. Ia mulai menciumi pusat diriku. Lidahnya membelai clitku, ia menghisap dan menggigitnya dengan lembut. Membuatku berteriak-teriak. Aku ingin dia berada di dalam diriku.
“Zac... Aku mohon...“
“Mohon apa sayang?“
“Aku ingin kau berada di dalam diriku sekarang.“
Zac menyeringai mendengar aku memohon untuk di puaskan. Ia menciumku sekilas lalu berdiri,membuka laci dan mengambil bungkusan foil, membuka dan memasangkannya.
Setelah itu ia kembali ke atas tempat tidur dan meraih kedua kakiku dan mulai mengarahkan miliknya ke dalam pusat diriku yang sudah sangat basah.
Aku mengeluarkan suara lengguhan yang cukup panjang ketika miliknya sudah tenggelam sepenuhnya di dalam diriku.
Tubuhku bergoyang-goyang ketika ia mulai menggerakkan tubuhnya. Jari-jariku mencengkram seprai dengan kuat ketika gelombang orgasmeku meledak dengan hebat bersamaan dengan Zac.
Tubuhnya ambruk di atas tubuhku, namun aku bisa merasakan miliknya yang masih keras di dalam diriku.
Aku membelai punggungnya dan mencium bahunya dengan lembut. Ternyata itu membuat Zac kembali bergairah. Ia mengangkat wajahnya dan menyeringai menatapku.
“Lagi?“ tanyaku sambil mengerutkan keningku.
“Sudah kubilang bercinta denganmu takkan pernah cukup, sayang. Kau membuatku menjadi kecanduan.“
Dengan sekali hentakan, posis kami jadi bertukar. Sekarang posisiku berada di atas tubuh Zac.
Dengan sedikit meringis aku mulai menggerakan tubuhku ke atas dan ke bawah. Semakin lama gerakanku semakin cepat. Zac menarik tubuhku ke arahnya dan mencium bibirku sambil meremas payudaraku.
Zac mengambil alih, ia mulai menusuk tubuh dengan cepat dan keras. Sampai akhirnya kami berdua saling meneriakkan nama masing-masing ketika gelombang orgasme kembali datang menghantam kami.
Tubuhku ambruk di atas tubuhnya. Nafasku masih belum stabil. Percintaan malam ini membuatku hampir kehilangan kesadaran.
Dengan perlahan Zac menurunkan tubuhku dari atas tubuhnya. Lalu mendekapku dengan sangat erat sambil terus mengucapkan kata-kata cinta untukku.
“Aku juga sangat memcintaimu, Zac.“
“Tidurlah sayang.“
Zac mencium keningku. Lalu kami berduapun terlelap karena kelelahan setelah percintaan kami itu.
woaaaaahhh,,,
BalasHapustrnyata masih berlanjut juga itu.
hahhaha
Zac nafsu bgt nyeruduk Lila.
lagi, lagi dan lagi kyknya :D
Smpe pake acara bohong juga itu, blg kejebak badai lagi. padahal diapartemennya Zac. ckckck
masih kurang juga ternyata libur 5 harinya :p
lanjut lagi sista..
terserah deh mau lanjut hotscene nya ato mau lanjut kasus lain :p
lanjutannya ditunggu ya :*
hhmmm…tambah hot nih hothotpopnya
BalasHapusmo berguru sm Lila aah
>,<
lanjut lanjut sist :D