Kamis, 24 Januari 2013

CHAPTER 20

***

Setelah Dhee berhasil menyelamatkan Gale dan Zac kembali dari tugasnya. Kami berdua memutuskan untuk pergi berlibur selama beberapa hari.

Karena beberapa minggu terakhir ini baik aku maupun Zac sangat sibuk sekali. Dan kami jarang menghabiskan waktu bersama.

Kami memutuskan untuk pergi ke Aspen. Karena Zac memiliki sebuah pondok disana, tepatnya di kaki pegunungan Aspen.

Pagi itu kami berangkat dari New York menggunakan jet pribadi milik Zac. Ya Tuhan, ternyata kekasihku memiliki sebuah jet pribadi. Rencananya kami akan menginap di sana selama beberapa hari.

Karena aku dan Zac sama-sama seorang agen rahasia jadi kami tidak perlu susah-susah untuk menutupi identitas kami yang sebenarnya.

“Sayang apakah kau mempunyai sebuah rumah di Aspen?“ pada saat itu kami sedang berada di dalam pesawat menuju ke Aspen.

“Tidak sayang, aku hanya memiliki sebuah pondok yang mungil dan sederhana disana. Tapi jika kau menyukai tempatnya kita bisa membeli sebuah rumah atau villa disana.“

“Tidak Zac, meskipun nanti aku akan menyukai tempatnya aku takkan memintamu untuk membelikanku sebuah rumah atau villa disana, Zac.“

“Aku akan tetap membelinya, sayang. Karena kau akan segera menjadi Mrs. Zac Efron atau Mrs. David Alexander.“

Mendengar ucapannya wajahku langsung memanas, “Itu masih lama Zac.“

“Tapi aku ingin menikahimu secepatnya, sayang.“

"Zac... Apakah ini artinya kau sedang melamarku?"

"Berikan aku waktu, agar aku bisa melamarmu dengan layak, sayang."

Aku mengelus pipinya sambil tersenyum. Terkadang Zac bersikap sangat lucu sekali. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Sampai-sampai ia memiliki pemikiran untuk melamarku secepat ini.

"Sebaiknya kita beristirahat saja."  Ajakku pada Zac.

"Kau duluan saja, sayang."

"Tidak, sayang. Aku tidak akan beristirhat jika kau tidak ikut beristirahat juga bersamaku."

Akhirnya Zac pun menuruti perkataanku. Lalu kami pergi menuju ke dalam kamar yang berada di dalam pesawat. Kami langsung membaringkan diri di atas tempat tidur dan kemudian terlelap. Kami terbangun satu jam kemudian dan kembali ke kursi penumpang. Karena kami akan segera mendarat di bandara Aspen.

Ketika kami sudah mendarat dan berada di luar bandara ada seorang pria yang menghampiri Zac. Zac berbincang dengan pria itu, lalu pria itu menyerahkan sebuah kunci mobil kepada Zac. Lalu Zac mengajakku memasuki sebuah mobil Audi R8 berwarna putih. Lalu kami melanjutkan perjalanan menggunakan mobil.

Saat ini mobil kami mulai memasuki pusat kota Aspen. Banyak sekali gedung bertingkat dan toko-toko barang bermerek berjejer disini. Bangunan-bangunan rumah para pendudukpun sangat indah dan dan mewah sekali. Zac mengarahkan mobilnya ke jalanan yang menuju ke daerah perbukitan. Mobil melaju menyusuri jalan yang melingkar.

Sampai akhirnya mobil melambat dan masuk ke sebuah halaman yang cukup luas dengan rumput hijau yang menghiasi halamannya. Di tengah-tengah berdiri sebuah bangunan yang ukurannya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Namun bangunan itu terlihat indah meskipun sederhana. Zac menghentikan mobil, ia keluar untuk membukakan pintu mobil untukku.

"Selamat datang di pondokku yang sederhana ini, sayang."

Aku turun dari mobil dan berdiri di sampingnya sebelum masuk ke dalam rumah.

"Tempat ini sangat indah, Zac."

"Ayo kita masuk ke dalam sayang."

Kami berduapun masuk ke dalam pondok bertingkat dua ini. Lalu Zac mengajakku berkeliling pondok. Semua furtinure yang berada disini serba minimalis namun terlihat sangat pas dan seimbang. Di lantai satu ada ruang depan dengan tiga buah sofa yang besar dan TV plasma yang besar pula dan ada sebuah dapur lengkan dengan sebuah mini bar. Lalu kami pergi ke lantai dua, disini hanya terdapat sebuah kamar tidur yang sangat luas dan memiliki pemandangan yang mengarah langsung ke sebuah danau yang sangat indah.

Di kamar itu terdapat sebuah tempat tidur yang sangat besar sekali. Bahkan ukurannya lebih besar dari tempat tidurku yang berada di apartemen, sebuah sofa panjang yang besar lengkap dengan mejanya dan TV Plasma. Lalu sebuah kamar mandi dengan interior yang indah. Aku tak berhenti berdecak kagum melihat isi pondok yang Zac bilang sederhana.

"Bagaimana sayang, apakah kau menyukai tempat ini?"

"Tempat ini sangat indah Zac. Aku suka tempat ini, terima kasih sudah mengajakku kemari."

"Kemarilah sayang." Zac menarik tubuhku ke dalam pelukannya.

Kemudian ia menangkup wajahku dan mencium bibirku dengan sangat lembut namun intens. Setelah cukup lama bibir kami saling berpagutan Zac melepaskan ciumannya.

"Ayo kita pergi ke kota, sayang. Kita harus membeli bahan makanan untuk beberapa hari kedepan."

"Kau tidak lelah, sayang. Bagaimana jika kita beristirahat dulu sebentar,"

"Tidak sayang, sebentar lagi hari akan gelap. Bagaimana jika aku yang pergi ke kota untuk berbelanja dan kau menunggu disini dan beristirahat saja."

"Tidak, aku tidak mau tinggal sendirian disini tanpamu, Zac."

Zac memeluk dan mencium keningku, "Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri, sayang. Ayo kita berangkat sekarang."

Akhirnya aku pun ikut ke kota bersama Zac untuk berbelanja bahan makanan. Tadinya kami akan berjalan-jalan terlebih dahulu sebelum pulang. Namun kami mengurungkan niat kami itu, karena awan berwarna hitam pekat sudah berkumpul di atas kota Aspen. Sepertinya akan terjadi badai malam ini.

Sesampainya di pondok, aku langsung membereskan belanjaan yang kami beli tadi ke dalam kulkas dan lemari sementara Zac sedang mandi, setelah itu barulah giliranku untuk mandi.

Setelah kami membersihkan diri, aku dan Zac sibuk berada di dapur untuk menyiapkan makan malam. Aku memang tidak sepandai Dhee dan Asya dalam urusan memasak. Aku hanya bisa memasak makanan yang cepat saja. Akhirnya acara memasakpun selesai, kami menikmati makan malam sambil menonton TV, saat itulah Dhee meneleponku,

"Halo Dhee ada apa?... Oh aku pikir ada hal yang penting... Kami sedang berada di Aspen saat ini... Oke aku mengerti, sampai bertemu hari Senin depan Dhee, salam untuk Asya. Bye."

Aku menutup ponselku, menyimpannya di atas meja dan kembali melanjutkan makan malamku.

"Siapa yang menelepon, sayang?"

"Barusan Dhee, ia bertanya kita sedang berada dimana saat ini."

"Aku pikir Lou yang menelepon memberikan kita pekerjaan. Sebaiknya kau matikan ponselmu untuk beberapa hari kedepan, sayang." Zac berbicara sambil mematikan ponselku.

"Terserah kau saja, cepat habiskan makan malammu. Aku sudah sangat lelah sekali."

Zac segera menghabiskan makanannya. Setelah itu aku langsung mencuci peralatan makan yang sudah kami gunakan, sementara Zac mengunci semua pintu dan jendela. Setelah semuanya selesai barulah kami naik ke atas.

Sesampainya di kamar aku langsung menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur. Tak lama kemudian aku bisa merasakan Zac yang naik ke atas tempat tidur di sampingku.

Zac menarik tubuhku merapat ketubuhnya dan memelukku dengan sangat erat.

"Pejamkan matamu sayang, aku akan menjagamu selama kau tidur."

Aku menatap matanya sambil tersenyum, "Selamat malam sayang." Aku mengecup bibirnya lalu memejamkan mataku.

Baru beberapa menit memejamkan mata, aku mendengar suara hujan yang sangat deras di sertai oleh suara petir yang menggelegar. Suara desiran angin yang sangat kencang  terdengar. Ternyata malam ini badai bener-benar terjadi.

Aku merasakan tubuhku menggigil karena udara yang berubah menjadi sangat dingin. Aku tetap memejamkan mataku sambil menahan gigiku agar tidak bergemertak, karena aku tidak mau membangunkan Zac yang sedang tidur. Namun tubuhku semakin menggigil karena kedinginan aku memang tidak kuat dengan udara yang dingin. Tiba-tiba aku merasakan lengan Zac yang memeluk tubuhku.

"Sayang ada apa denganmu? Ya Tuhan, tubuhmu sangat dingin sekali." Zac semakin mempererat pelukannya.

Meskipun begitu tubuhku masih tetap menggigil. Akhirnya Zac melepaskan semua pakaiannya dan pakaianku lalu memelukku dengan sangat erat. Beberapa saat kemudian tubuhku mulai kembali menghangat. Panas tubuh Zac sudah membuat tubuhku kembali menghangat.

"Apakah kau sudah merasa lebih baik, sayang?"

"A-aku sudah jauh merasa lebih baik Zac, t-terima kasih." Aku menyandarkan kepalaku di dadanya yang telanjang.

Aku bisa merasakan detak jantung Zac yang berpacu cepat serta nafasnya yang berubah menjadi terengah-engah. Jari-jarinya mulai bergeriliya di sepanjang punggungku yang terbuka. Sentuhan jarinya meninggalkan jejak di tubuhku yang membuat tubuhku semakin memanas.

Ketika jarinya membelai tengkuk dan bagian belakang telingaku nafasku berubah menjadi terengah-engah, sama seperti Zac. Sampai akhirnya Zac merengkuh daguku dan mencium bibirku dengan penuh gairah. Aku membuka mulutku untuk memberikan akses agar lidahnya bisa dengan leluasa masuk.

Ciuman kami berubah menjadi sangat panas dan liar. Lidahnya menari-nari di dalam mulutku. Sedangkan tangannya yang lain mulai membelai dan meremas payudaraku dengan perlahan dan begitu lembuh. Suara lengguhanpun keluar dari mulutku yang masih di kunci oleh bibirnya.

Lalu ia mulai menciumi payudaraku, aku terkesiap ketika Zac menghisap putingnya yang sudah mengeras dengan agak keras.

"Ah... Zac..." Suaraku terdengar seperti sebuah desahan.

Tubuhku mulai bergetar ketika Zac masih bereksplorasi dan mencumbuku. Semakin lama getaran ditubuhku semakin hebat, apalagi ketika lidahnya yang panas menciumi pusat diriku yang sudah sangat basah sekali.

"Zac..." nafasku semakin terengah-engah.

Namun Zac semakin liar mengeksplorasi pusat diriku dengan lidahnya. Dan akhirnya aku tidak bisa lagi menahan gelombang orgasmeku yang meledak dan melandaku dengan sangat hebat.

Tubuhku langsung terasa lemas setelah orgasme pertamaku. Lalu Zac berhenti mengeksplorasi pusat diriku. Ia membuka laci dan mengeluarkan sesuatu. Aku mendengar sebuah kemasan foil yang di sobek. Setelah itu ia kembali ketempat tidur, memisahkan pahaku dan melingkarkannya dipinggangnya.

Aku meringis ketika miliknya yang sudah sangat besar itu berusaha memasuki pusat diriku. Melihat aku yang kesakitan Zac menghentikan gerakannya.

"Sayang, bukalah matamu." Dengan perlahan aku membuka mataku dan memandang mata abu-abunya yang menyala-nyala. "Ini pasti akan terasa sakit tapi aku ingin kau membukw matamu dan menatapku ketika aku memasukimu."

Aku mengangguk pelan menuruti perkataannya. Lalu ia menghujam keras ke dalam diriku engsn sekali hentakan. Dan aku berteriak memanggil namanyw sambil membelalakan mataku.

"Zac....."

"Tenang sayang, setelah ini kau takkan merasakan sakit lagi."

Setelah milikku bisa menerima dan menyesuaikan dengan miliknya yang besar Zac mulai bergerak keluar dan masuk secara perlahan. Erangan demi erangan keluar dari mulut kami berdua, sampai akhirnya tubuhku kembali bergetar.

"Zac..."

"Datanglah untukku sayang." Suaranya yang berat terdengar di telingaku.

Aku berteriak keras ketika orgasme keduaku melanda. Zac mempercepat gerakannya sambil menggeram dan aku bisa merasakan miliknya yang semakin membesar di dalam diriku. Tubuhku kembali bergetar hebat, orgasmeku meledak bersamaan dengannya.

Zac langsung ambruk di atas tubuhku. Nafas kami masih memburu ketika Zac mencium kening dan bibirku dengan penuh cinta. Aku meringis ketika ia mengeluarkan dirinya dari dalam diriku. Zac berguling ke samping dan mendekap tubuhku serta menciumi puncak kepalaku berkali-kali.

"Kau milikku Lila, mulai saat ini dan selamanya kau milikku. Aku sangat mencintaimu sayang."

"Aku juga sangat mencintaimu Zac."

Zac mencium bibirku dengan sangat intens. Dan kami pun kembali terlibat ke dalam percintaan yang panas. Di tengah badai malam itu entah berapa kali kami bercinta. Sampai-sampai tubuhku lemas untuk membukw mata saja aku tak sanggup.

3 komentar:

  1. wiuihh asyik nih Lila Zac dpt libur
    lsg liburan ke tempat dingin ajj tuh

    Zac moduuusss :p
    Buka baju untk menghangatkan tubuh
    Pasrah ajj Lila bajunya dilucuti pas lg menggigil kedinginan
    ><

    Nah kan, akhirnya kepanasan deh smp kebakaran di pondok
    :D

    Badai hebatnya bkn cma di luar tp di dlm pondok jg badainya lbh hebat lagi smp Lila ga bisa buka mata diterjang badai Zac berkali2 ><

    :D

    Lanjut lanjut. Next chapter msh hothotpop donk
    secara liburannya msh lama dan msh terjebak badai :p


    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahahahaha xD

      Abis gimana dong, Lila emang gk kuat sama cuaca dingin, akhirnya pasrah deh pas Zac ngebuka baju Lila satu per satu, daripada ntar jadinya hipotermia #alesan xP

      Iya tuh badai yang di sebabkan Zac lebih hebat dari badai yang diluar, Lila di bikin porak poranda xD

      Tenang tenang sedang merngkai plot selanjutnya sebelum balik ke New York dan menangani sebuah kasus lagi xD

      Hapus
  2. Enak tuh liburan berdua hahha

    ckckkck..
    Zac gak tau ya kalo lila gak kuat sm cuaca dingin..
    tapi gak papa deh selama Zac bisa menghangatkan itu oke,oke aja :D
    Eh bukan hangat lagi yaa kebakaran Lila nya sampe buka matapun gak bisa.

    badainya cetar menggelegar membahana terpampang itu :p

    lanjut..lanjut.
    sukses juga bikin panas dingin hahaha..

    selesain itu liburannya ya La..
    sblm nnti kembali kerutinitas :D

    BalasHapus