Kamis, 17 Januari 2013

CHAPTER 13

***
Hari ini aku sedang menikmati hari liburku bersama kedua sahabatku Dhee dan Lila. Tadinya kami berencana untuk pergi berlibur ke Hawaii, namun men mengingat pekerjaan kami sebagai seorang secret agent kami memutuskan untuk menghabiskan waktu di New York saja.
Hari itu kami pergi kesebuah salon untuk melakukan perawatan tubuh dari ujung kepala sampai ujung rambut. Benar-benar momen yang sangat menyenangkan sekali.
"Lila, kau kenapa?"
"Aku tidak apa-apa, Sya."
"Jangan menyembunyikan sesuatu dari kami berdua Lila."
"Dhee benar Lila, kau harus menceritakannya pada kami berdua."
Namun Lila hanya terdiam dan mengalihkan pandangannya dari kami berdua. Lila memang termasuk orang tidak begitu terbuka, bahkan kepadaku dan Dhee. Biasanya aku dan Dhee tidak pernah memaksanya untuk bercerita pada kami berdua. Karena jika sudah merasa siap Lila pasti akan menceritakannya pada kami berdua.
“Andai setiap hari bisa seperti ini. Pasti sangat menyenangkan sekali. Tidak berhadapan dengan pekerjaan.“
“Kau benar Dhee, hidup pasti akan lebih menyenangkan.“
“Tapi pasti akan sangat membosankan. Jika kita menjalani hidup yang biasa saja dan tanpa tantangan. Setelah ini kalian mau kemana lagi?“
“Aku ada janji dengan Gale, Lila.“
“Sedangkan aku akan pergi dengan Mark.“
“Berarti malam ini aku akan sendirian di apartemen.“
“Bukankah kau biasanya pergi dengan Brad, La?“
“Jangan sebut namanya Dhee, kumohon.“
Lalu Lila menghentikan perawatan yang sedang di lakukannya. Lalu pergi meninggalkan aku dan Dhee begitu saja.
“Lila kenapa ya, Dhee?“
“Mungkin sedang bertengkar dengan Brad, Sya. Entahlah.“


Aku bingung melihat ekspresi Lila yang langsung pergi saat Dhee menyebut nama Brad. Sebenarnya apa yang terjadi antara Lila dan Brad, bukannya beberapa hari yang lalu kulihat mereka baik-baik saja.
“Sya.. kapan kau akan pergi dengan Mark??” suara Dhee membuyarkan lamunanku tentang Lila dan Brad.
“ohh, sekitar jam 10 nanti. Kau??”
“ sebentar lagi, setelah selesai ini aku akan pergi. Gale akan menjemputku sebentar lagi. “
“ Oke, have fun ya Dhee” jawabku sambil tersenyum.
Dan benar saja setelah selesai perawatan Dhee langsung pergi bersama Gale. Sedangkan aku masih mencari Lila yang tadi menghilang entah kemana. Sudah kukirimkan pesan singkat namun tak dibalasnya dan beberapa kali kutelpon barulah diterimanya.
“Hallo, La.. kau dimana?? Kau tidak akan kesini lagi?. Oh, ya sudah aku menyusulmu kesana”
Setelah aku menelpon Lila, aku langsung menyusulnya. Ternyata dia ada di kafe yang ada diseberang jalan tempat perawatan kami tadi. Sesampainya aku disana aku langsung duduk disebelahnya. Kulihat wajah Lila sedikit kusut.
“ada apa dengan mu La?? Sejak tadi kau telihat sangat uring-uringan. Kau ada masalah??” tanyaku pada Lila.
“ sudahlah Sya, aku tidak apa-apa.  Tidak usah mengkhawatirkanku”
Aku mengangguk mendengar jawabannya, sepertinya Lila belum mau menceritakan masalah padaku. Lalu kami membicarakan tentang kuliah dan pekerjaan kami. Belum lama aku dan Lila mengobrol Mark menelponku, katanya dia sudah ada di depan Salon tempat kami perawatan tadi. Rupanya aku lupa memberitahu Mark kalau aku ada di Kafe bersama Lila. Akhirnya kuputuskan untuk menemuinya diparkiran.
“La, aku pergi sekarang ya? Mark sudah menungguku didepan.”
“iya, Sya hati-hati ya..”
“Iya La, kau juga harus hati-hati. Bye..” aku berpamitan dengan Lila.

Aku meninggalkan Lila dan bergegas ke parkiran menemui Mark, kulihat Mark sudah berdiri disamping mobil ferarri merahnya.
“Hai, maaf aku lama yaa??” kataku sambil memeluknya sekilas dan dia mencium keningku.
“tidak juga,. “ jawabnya sambil tersenyum.
“ tadi aku lupa memberi tahumu kalau aku kekafe bersama Ara.”
“tidak apa-apa sayang. Hmm, bisakah kita pergi sekarang?? Tanyanya sambil membelai wajahku.
Aku mengangguk, sedangkan Mark membukakan pintu mobilnya untukku.
“silakan cantik...”
“ terima kasih pangeran..” jawabku sambil tersenyum.
Lalu aku masuk kedalam mobil, begitu juga dengan Mark langsung duduk dibalik kemudi mobilnya. Dia mulai mengendarai mobilnya.
“Mark, kita akan pergi kemana??” tanyaku
“ kesuatu tempat sayang..” jawabnya sambil tersenyum.
“iya.. kemana??”
“sebaiknya kau nikmati saja perjalanannya, Dilla sayang. Kau pasti sangat menyukai tempatnya.”
“baiklah..” jawabku sambil cemberut.
Sedangkan Mark kembali fokus menyetir mobilnya.

Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, kulihat Mark memperlambat laju mobilnya. Kulihat ini sepertinya sebuah taman yang sangat luas. Taman yang terletak dipinggiran kota New York. Lalu Mark memberhentikan mobilnya.
“ini tempatnya??” tanyaku
Dia mengangguk, “ iya, ada banyak hal yang  indah didalam sana..” katanya sambil menunjuk kearah areal taman.
“baiklah..” jawabku.

Lalu kami berdua keluar dari mobil dan masuk kearea taman itu sambil bergandengan tangan, sesekali Mark mencium kening dan bibirku.
“Mark, orang-orang memperhatikan kita berdua. Aku malu, apa lagi kau kan penyanyi.”
“tidak apa-apa sayang, lagi pula kenapa kau  malu?? Kau malu aku jadi kekasihmu” tanyanya sambil mengerutkan dahinya.
“bukan itu maksudku, aku bukan malu karenamu. Tapi aku takut mereka berfikiran kalau aku tidak pantas untukmu.” Jawabku.
“siapa yang bilang kau tak pantas untukku?? Kau lah yang sangat pantas untukku, bukan yang lain. Jangan berfikiran negatif, tetaplah berfikiran positif terhadap orang lain” katanya sambil menggenggam tanganku dan mencium buku-buku jariku.
Mark mengajakku kesebuah tempat dipinggir danau dan disana banyak sekali tanaman bunga, harus kuakui Mark adalah orang yang sangat romantis, dia selalu tahu apa yang menjadi kesukaanku. Lalu kami duduk dibawah pohon dipinggir danau itu.
“kau menyukai tempat ini, sayang??”
“iya, tempat yang indah Mark. Aku sangat menyukainya. “ jawabku sambil memeluk lengannya dan menyandarkan kepalaku dibahunya.
“aku bahagia, jika kau bahagia Dilla” katanya sambil mencium keningku lama.
Setelah melepaskan ciumannya dariku, kulihat Mark merogoh saku jaketnya. Dan setelah itu dia seperti kebingungan.
“kau seperti kebingungan?? Ada apa??” tanyaku.
“ehm, sepertinya aku meninggalkan sesuatu didalam mobil.”
“apa??’ tanyaku lagi.
“kau tidak apa-apakan kalau kutinggalkan sebentar disini. Aku akan mengambilnya dimobil. Hanya sebentar sayang..”
Aku mengangguk kebingungan, apa yang sebenarnya dicari Mark??

Lalu Mark pergi kemobil, sedangkan aku masih tetap duduk. Saat aku sedang memandang kearah danau, kulihat ada seorang remaja yang sedang berdiri dipinggir danau, lalu dia seperti melemparkan sesuatu ketanah dan tak lama kemudian banyak sekali burung-burung merpati berdatangan. Aku berdecak kagum melihatnya. Aku sangat menyukai burung merpati, apalagi yang berwarna putih. Akhirnya aku mendekati remaja itu, dan saat aku mendekat burung–burung merpati yang sedang makan tadi langsung berterbangan. Tak ku sangka ternyata burung-burung itu terkejut dengan kedatanganku. Remaja itu pun memandangiku.
“Maaf, aku bukan bermaksud mengusir burung-burung itu. Tapi aku hanya ingin mendekatinya. Aku sangat menyukai burung merpati” kataku sambil tersenyum.
“Kau menyukainya??” tanya remaja itu.
Aku mengangguk. Lalu dia mendekatiku.
“kau lemparkan saja makanannya. Mereka akan datang lagi” katanya sambil memberikan segenggam biji jagung ketanganku. Dan aku pun mengucapkan terima kasih dan menerimanya.
Kami berdua pun melemparkan beberapa biji jagung ke tanah dan burung-burung merpati itu kembali datang. Beberapa ekor merpati mendekatiku dan memakan jagung yang ada ditanganku. Aku sangat senang karena ternyata  burung itu mulai jinak..

Saat aku sedang asyik bermain dengan burung-burung itu kulihat Mark datang. Namun ketika dia melihatku, dia berlari kearahku. Aku sangat terkejut dan saat dia sampai didekatku, burung-burung itu beterbangan lagi.
“Kau membuatnya pergi Mark. “ kataku sambil cemberut.
Mark langsung menarik tanganku, “ ayo kita pergi dari sini”
“ Kau kenapa?? Aku masih ingin disini”
“Tidak sayang, sebaiknya kita pergi dari sini” Mark menarikku tanganku paksa.
“ayo lah Dilla, ku mohon kita pergi dari sini..” katanya. Sekilas kulihat wajahnya, Mark sedikit pucat.
“Mark kau......”
Tapi Mark langsung menarikku dan dia berlari “ ayo cepat”

Akhirnya aku mengikutinya, Mark berlari dengan cepat sehingga aku juga berlari bersamanya. Hingga dia berhenti saat kami sudah didekat mobilnya yang terparkir. Pegangan tangannya padaku masih erat. Dibukakannya pintu mobil dan aku langsung duduk. Kemudian dia juga duduk dan mulai mengendarai mobilnya.
“Mark, ada apa sebenarnya?? Kau membuatku bingung.”
“tidak seharusnya kau seperti tadi sayang..” jawabnya dingin.
“kenapa?? Aku tidak melakukan apa-apa. Selama kau pergi aku hanya bermain dengan anak itu“
“Iya, itu tidak baik Dilla.”
“anak tadi tidak baik?? Kau mengenalnya??”
“bukan dia??”
“lalu apa?? Kamu sangat aneh dan membuatku bingung. Memaksaku pulang, disaat aku sedang asyik bermain dengan burung merpati itu.”
“Dilla, aku tidak suka kau bermain dengan burung-burung itu. “
“ kau tidak menyukainya?? Tapi aku sangat menyukainya”
“ apa kau tidak tau bahaya dari burung itu?? dan kumohon jangan pernah kau bermain dengan burung atau sejenisnya didekatku “ jawabnya.
Aku masih terdiam mendengarkan jawaban Mark. Sangat tidak masuk diakal kalau alasan adalah bahaya dari burung. Sepertinya Mark menyembunyikan sesuatu tentang dirinya padaku.
Kulihat Mark mempercepat laju kendaraannya dan tak lama kemudian kami sampai di apartemennya.
“ ayo kita masuk ke apartemenku.. “ ajaknya
“ kau memang aneh Mark, sangat aneh..” aku mendengus kesal.
“ Dilla, ku mohon..  ”
Akupun menurutinya, turun dari mobil dan masuk kedalam apartemennya. Saat sudah sampai didalam Mark langsung memberiku handuk.
“ apa maksudmu??”
“ aku takkan pernah mendekatimu sebelum kau mandi Dilla. “ jawabnya
“ hahh?? Aku baru menyadari kalau aku berpacaran dengan orang yang sangat aneh. Kau membuatku gila Mark. Tadi kau mengajakku ketaman itu, dan disaat aku sedang menikmatinya kau mengajakku kesini dan sekarang kau takkan mendekatiku sebelum aku mandi. Ada apa sebenarnya?? “ aku menatapnya dalam.
Mark menghela nafasnya dan membalas menatapku.
“ baiklah.. ku akui aku takut dan alergi dengan burung dan sejenisnya” jawabnya pelan
Aku terkejut mendengarnya, mana mungkin lelaki dengan postur tinggi dan berotot ini takut dengan burung. Seketika amarahku berkurang dan ingin rasanya aku tertawa. Namun aku langsung menggigit bibirku untuk menahannya.
“Dilla, kumohon kau turuti apa yang kukatakan padamu..” katanya
Aku mengangguk, sambil mengambil handuk yang diberikan Mark padaku tadi. Dan berjalan kekamar mandi yang ada dikamarnya.
“aku menunggumu sayang..” katanya sambil duduk disofa yang ada diruang tamunya.
Aku langsung mandi, membersihkan tubuhku. Sealergi apakah Mark sampai-sampai ia takkan mendekatiku jika aku tidak segera mandi?? Oh Tuhan, hal apa lagi yang tidak kuketahui dari Mark. Aku mendesah didalam hati. 

3 komentar:

  1. Wuiih panjang ya
    Chapter terpanjang dr chap lainnya ini :D

    Waduh Lila knp sm Brad ya.
    Dhee sm Asya lg bahagia sm pcr masing2
    Lila ko mlh sedih gitu :(

    Mark aneh dan konyol iih
    takut sm burung ckckck
    tapi ga lari terbirit2 itu ya dia wkt liat Asya
    lg mainin burung mlh nyamperin haha

    hhmmm…stlh mandi Asya mo diapain ya sm Mark
    *mikir keras

    next chapter yaaaa ditunggu

    BalasHapus
  2. Waduhh itu lila sama brad knpa ya :O

    huahahaha Mark ada2 aj tuh xD
    Mark jeles kali karena Asya lbh suka sama burung merpati dari pada burungnya Mark #eh xD

    Nahio abis mandi mau di apain tuh Asya sama Mark?

    Ckckckck gokil gokil lanjutkan Sya
    Good job :*

    BalasHapus
  3. Waduhh itu lila sama brad knpa ya :O

    huahahaha Mark ada2 aj tuh xD
    Mark jeles kali karena Asya lbh suka sama burung merpati dari pada burungnya Mark #eh xD

    Nahio abis mandi mau di apain tuh Asya sama Mark?

    Ckckckck gokil gokil lanjutkan Sya
    Good job :*

    BalasHapus