Rabu, 16 Januari 2013

CHAPTER 12

Aku memapah tubuhnya keluar dari ruangan itu. Dan kami langsung di sambut oleh para penjahat itu.

Aku harus mendorong tubuj Gale kesana kemari agar ia tidak terkena peluru mereka. Di tengah perjalanan aku bertemu dengan Lila.

“Cepat bawa dia keluar, sepertinya ia membutuhkan perawatan. Ayo, aku akan membantu kalian sampai pintu keluar.“

“Baiklah kalau begitu. Dan behati-hatilah.“

Lila berjalan di depan aku dan Gale sebagai tameng. Suara peluru berdesing di sekitar kami, pertempuran belum selesai ternyata. Dan akhirnya kami sampai di pintu keluar.

“Cepat bawa dia ke rumah sakit. Aku harus kembali kedalam.“

“Terima kasih, hati-hati.“ Lila mengangguk dan langsung berbalik, berlari masuk ke dalam gudang.

Ketika di luar ku bertemu dengan Lou. Dia menyuruhku untuk membawa Gale ke rumah sakit.

Aku langsung membawa Gale menuju ke rumah sakit. Dalam perjalanan Gale tidak sadarkan diri. Karena itu aku berani melepas masker yang aku pakai.

Ketika di lampu merah aku mencopot semua peralatan agenku. Hanya pistol dan alat komunikasi yang terpasang di telingaku saja yang tersisa.

Sesampainya di rumah sakit para perawat itu langsung membawa Gale ke ruang unit gawat darurat.

Aku mondar mandir di depan ruang unit gawat darurat. Menunggu dokter yang menangani Gale keluar. Tuhan semoga tidak terjadi apa-apa pada Gale. Aku mohon selamatkanlah dia ya Tuhan.

Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan dan aku langsung menghampirinya.

“Dokter bagaimana keadaan kekasih saya?“

“Luka-lukanya tidak begitu parah nona, tapi ia harus di rawat di sini selama tiga hari.“ jelas dokter.

“Syukurlah, apakah saya boleh melihat keadaannya, dok?“

“Tentu saja, saat ini kekasih anda akan segera di pindahkan ke ruang perawatan. Baiklah kalau begitu saya permisi dulu.“

Lalu dokterpun pergi. Aku tak henti-hentinya mengucapkan syukur di dalam hati. Karena Gale tidak apa-apa. Lalu aku segera menuju ke ruangan tempat di mana Gale akan di rawat.

Dengan perlahan aku membuka pintu kamarnya dan duduk di sebuah kursi yang ada di samping tempat tidurnya. Dengan hati-hati aku menggenggan tangannya lalu mengangat dan menciumnya.

“Cepat bangun sayang. Aku sangat merindukanmu. Maafkan aku Gale, harusnya aku memberitahukanmu tentang surat ancaman itu. Semua ini salahku...“ air mataku jatuh tak terbendung lagi.

Tiba-tiba Gale menggerakan jari-jari tangannya. Aku langsung menghapus air mata yang membasahi kedua pipiku.

“Gale...“

Perlahan Gale membuka matanya dan pandangannya langsung mengunci mataku, “Sayang...“ ucapnya dengan suara lemah “Jangan menangis kumohon, aku tidak apa-apa.“

Gale mengangkan tangannya dan meletakannya di pipiku.

“Aku sangat mengkhawatirkanmu Gale, aku takut terjadi sesuatu padamu.“

“Aku baik-baik saja, sayang. Maaf sudah membuatmu khawatir.“

Aku hanya tersenyum sambil menggeleng kepalaku pelan menjawab ucapannya itu.

“Kapan aku boleh pulang keluar dari sini?“

“Kau masih harus menjalani perawatan disini selama tiga hari sayang.“

“Lama sekali, aku ingin pulang besok. Lagipula yang bisa menyembuhkanku itu hanya kau sayang.“

Wajahku memanas dan memerah mendengar perkataan Gale.

“Kau ini ada-ada saja, Gale.“

“Kau terlihat sangat cantik jika tersipu malu seperti itu, sayang.“

“Berhenti menggodaku seperti itu Gale.“

Keesokan harinya aku menemui dokter dan Gale bisa pulang hari ini. Dengan syarat Gale harus beristirahat di rumah selama beberapa hari.

Setelah membereskan administrasinya aku pun membawa Gale pulang ke apartemennya. Dan tanpa sepengetahuannya aku sudah menyimpan kamera pengintai di beberapa tempat. Sehingga aku bisa tetap mengawasinya dimanapun.

Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh lima menit akhirnya kami sampai di apartemen. Aku membantunya masuk dan mengantarkannya ke kamar.

“Berbaringlah, aku akan membuatkan sesuatu untuk makan.“

Namun ketika akan melangkah pergi. Tiba-tiba Gale menarik tubuhku, sehingga aku berada di atas tubuhnya.

Gale memeluk tubuhku dengan sangat erat, “Jangan pergi kemana-mana sayang. Kumohon.“

Aku hanya terdiam dan balas memeluknya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat dan nafasnya yang mulai terengah.

Lalu secara tiba-tiba Gale membalik tubuhku. Sehingga posisi kami bertukar, sekarang aku yang berada di bawah tubuh Gale.

Tiba-tiba ia mencium bibirku dengan sangat lembut. Aku mengalungkan kedua lenganku di lehernya. Aku menikmati ciumannya dan membalasnya.

Lama-lama ciuman kami menjadi panas dan liar. Nafas kami berdua memburu. Gale menekan bibirnya semakin dalam dibibiku, sedangkan tangannya yang bebas mulai membuka kancing kemejaku satu persatu. Lalu mendorongnya agar terlepaa dari tubuhku dan melemparnya.

Lalu tangannya menelusuri tubuh bagian atasku yang telanjang dan hanya menyisakan bra saja.

Tubuhku terbakar dan melengkung hebat setiap kali tangannya menyentuh kulitku. Lalu ia membuka bra yang kupakai dan melemparnya, mulutnya langsung menciumi payudaraku.

Bibir dan tangannya mengeksplorasi kedua payudaraku secara bergantian. Dan aku sudah tidak bisa menahan lagi erangan-erangan kecil yang lolos dari tenggorokanku. Lalu ia melepaskan celana jins dan celana dalam yang kupakai secara bersamaan.

Ketika bibirnya kembali bereksplorasi di bibirku, aku membuka satu persatu kancing kemeja yang di pakainya dan melemparkannya. Aku menelusuri dadanya yang telanjang, aku memeluk punggungnya dan membelainya.

Lalu Gale melepaskan ciumannya. Ia berdiri meninggalkanku yang sudah sangat terengah-engah. Gale membuka celana dan boxer yang di pakainya secara  bersamaan. Lalu ia membuka kemasan foil dan memakainya.

Setelah itu ia kembali merangkak di atas tubuhku. Melingkarkan kakiku di pingganggnya, dan mengarahkan miliknya untuk memasuki pusat diriku. Perutku menegang ketika miliknya yang besar dan sangat keras itu mulai menerobos masuk ke dalam diriku.

Aku merintih menahan sakit ketika miliknya sudah setengahnya berada di dalam diriku.

“Bukalah matamu sayang. Aku tahu aku akan membuatmu kesakitan, tapi setelahnya tidak akan terasa sakit lagi.“

Gale mencium bibirku ketika ia menusuk dengan keras dan merobek sesuatu di dalam sana. Mataku membelalak menahan sakit. Teriakanku teredam oleh ciumannya.

Selama beberapa saat ia tidak melakukan gerakan apapun. Ia membiarkan diriku untuk menyesuaikan dengan miliknya itu. Barulah ia menggerakan tubuhnya secara perlahan.

Aku menggigit bibirku karena rasa sakit dan perih yang timbul. Aku memasik mempererat pelukanku ketika Gale menggerakan tubuhnya dengan cepat. Rasa sakit itupun berubah menjadi kenikmatan yang menghilangkan pikiranku.

“Datanglah untukku, sayang.“ ia berbisik di telingaku dengan suara yang berat.

Kata-katanya itu membuat tubuhku bergetar hebat. Orgasme yang hebat menghancurkanku, membuatku memanggil namanya dengan keras.

“Gale......“

Melihatku seperti itu Gale mempercepat gerakannya menusukku. Ia menggeram dan menggertakab giginy ketika ia sampai untuk pelepasannyannya.

Tubuhnya terkulai lemas di atas tubuhku. Nafas kami masih memburu. Gale mencium keningku lama lalu mencium bibirku.

Aku meringis ketika ia mengeluarkan miliknya dari dalam diriku. Ia berguling ke samping tubuhku dan memelukku dengan sangat erat.

“Kau milikku sayang, aku takkan membiarkan siapapun untuk mengambil miliku. I love you.“

“I love you too, Gale.“

Gale menciumku lagi sebelum ia membiarkanku untuk tertidur di dalam dekapannya yang hangat itu.

2 komentar:

  1. ckckck Gale…Gale jd geleng2 kpla ini bacanya haha

    di RS br sadar msh sempet2nya ngerayu Dhee dia. Tnyata udah pnya rencana dia tuh mo merobek2 Dhee mknya ga mau lama2 di RS hahaha :D

    Gale selalu ajj gerak cepat, ga mau buang2 wktu takut keduluan org lain lsg ajj ditandain ckck :3

    next chapter asya mark ya jd korban author
    :Dv

    can't wait sist :*





    BalasHapus
  2. Woww...
    Gale, gale. blm sembuh aja udh bisa merobek2.
    Gimana nnti kl sembuh yaa, bisa Dhee dimutilasi sm Gale :D

    Kasian Dhee, sampe teriak2 begitu, ckckck

    bikin panas dingin jg ini, *tarik Mark

    apa?? next chapter Mark Asya jdi korban??
    korban apa?? #mikirkeras

    next chapter ya sist :*
    slalu ditunggu :D

    BalasHapus