Kamis, 28 Februari 2013

CHAPTER 44 (REVISI)

Tak terasa waktu dua minggu kami bulan madu sudah berakhir, kini aku dan Mark baru kembali ke New York. Sesampainya di New York kami langsung pulang ke apartemen Mark, mulai sekarang aku akan tinggal diapartemennya Mark yang terletak ditengah kota New York.

Perjalanan yang panjang dari London ke New York, membuat kami sangat kelelahan. Aku langsung tertidur sesampainya diapartemen. Tak kuhiraukan lagi Mark yang masih mengangkat koper-koper kami dari bagasi mobil menuju kekamar.


Aku, mama, dan papa sedang dalam perjalanan kesebuah tempat. Papa yang mengajakku dan mama untuk berlibur. Aku sangat senang sekali, karena sudah lama kami tidak berlibur bersama. Selama diperjalanan aku hanya sibuk membaca buku cerita yang baru saja dibelikan mama. Saat aku sedang membaca tiba-tiba mobil yang kami tumpangi seperti berguncang, papa yang sedang menyetir terlihat sangat kebingungan tak bisa mengendalikan mobil. Mobil kami melaju semakin kencang. Aku yang duduk sendiri dibangku belakang ketakutan, begitupun mama dia mengenggam tanganku erat.
“Aku takut ma..” air mataku mulai mengalir.
“Tenang sayang, kamu jangan takut..”mama menenangkanku.

Namun tak lama kemudian, terdengar suara benturan cukup keras, mobil kami terbalik. Tubuhku terhempas, kepalaku terbentur. Aku meringis kesakitan sambil memegangi kepalaku. Tapi sakit yang kurasakan tak sebanding dengan kulihat disekelilingku, kulihat kaca mobil pecah, mama tak sadarkan diri dengan wajah penuh darah begitupun papa. Aku berteriak  histeris melihat mereka berdua.
“Maaa... Pa,,,, bangun...”
Tapi mereka tak sedikitpun bergerak.
“Mama,...papa....” aku berteriak lagi..


“Asya.. bangun sayang..”
Terdengar seseorang memanggilku sambil mengguncang tubuhku.
“Sayang, sayang...” panggilnya lagi.
Perlahan aku membuka mataku, ada Mark dengan wajah paniknya disampingku.
“Kau kenapa?? Kau mimpi buruk” katanya sambil menyeka keringat diwajahku.
“Aku pergi dengan kedua orang tuaku, tapi kita kecelakaan. Dan mereka...” aku langsung menangis saat membayangkan wajah kedua orang tuaku tadi.
“ Itu hanya mimpi sayang, kau terlalu lelah”
Aku masih menangis..
“Ku mohon jangan menangis lagi, sayang” katanya sambil menyeka air mataku, lalu dia menarikku kedalam pelukannya, dia mencium keningku dengan hangat.
“Ada aku disini..”
Aku memeluknya erat, membenamkan wajahku kedadanya sambil memejamkan kembali mataku berusaha untuk tidak mengingat mimpi itu lagi.

***

Pagi harinya aku terbangun mendengar suara ponselku yang dari tadi berdering memecah kesunyian. Kuambil ponselku yang ada dimeja disamping tempat tidur kami. Kulihat nama Dhee yang tertera dilayar ponselku, langsung saja aku menerimanya.
“Halo Dhee..”
“Asya, apa kau sudah pulang dari bulan madu mu?”
“Iya, Dhee aku kembali kemarin sore..”
“Maaf aku mengganggu waktumu dan Mark, tapi kita membutuhkanmu. Sebuah kecelakaan yang menewaskan salah satu petinggi kepolisian diduga telah direncanakan oleh sebuah kelompok mafia. Saat ini kami telah berhasil menangkap anak buahnya. Kami membutuhkanmu Sya, Brad dan Gale baru akan kembali dari Kanada besok. Kita akan menyusun strategi hari ini.” Dhee menjelaskan semuanya padaku.
“Iya Dhee aku mengerti, aku memang akan kembali kekantor hari ini. Aku akan sampai dikantor satu jam lagi.” Jawabku.
“Terima kasih Sya. Baiklah kami akan menunggu kedatanganmu. Sampai bertemu dikantor nanti”
“Iya Dhee..” aku menutup telponnya.


“Siapa sayang..??” suara dan belaian Mark dipunggungku sedikit mengejutkanku.
Aku yang tadi memunggunginya, berbalik menghadapnya sambil membelai wajah tampannya.
“Kau sudah bangun yaa?? Tadi Dhee menelponku. Mereka membutuhkanku, saat ini kami kekurangan tim. Gale dan Brad sedang di Kanada. Aku akan bersiap sekarang sayang, aku harus segera kekantor”
“Apa kau baik-baik saja setelah mimpi burukmu semalam, kau baru tertidur lagi menjelang pagi sayang??”
“Aku baik-baik saja” jawabku sambil mengecup bibirnya.
“Sebaiknya kau juga segera bersiap, bukankah waktu liburmu juga telah berakhir. Aku yakin sebentar lagi asistenmu akan menelponmu  juga” jawabku sambil tersenyum.
“Ya, kita akan kembali kerutinitas lagi sayang”
Lalu kami beranjak dari tempat tidur, masuk kekamar mandi.


***

Aku masuk kedalam kantor dengan tergesah-gesah, aku tahu  saat ini aku sudah terlambat 20 menit. Andai saja aku dan Mark pergi lebih awal sebelum kemacetan terjadi, pasti aku tidak akan terlambat. Aku bertanya dengan salah satu pegawai kemana Dhee dan yang lainnya, ternyata mereka sudah ada diruang rapat.

Aku masuk keruang rapat, kulihat sudah ada Lou, Steve, Eric, Zac dan Dhee disana. Aku langsung duduk disebelah Dhee.
“Maaf aku terlambat..”
“Tidak apa-apa Sya, kami baru memulainya 15 menit yang lalu” jawab Lou.
Aku mengangguk mendengarkan Lou.
“Sya, aku yakin tadi saat aku menelponmu kau sedang asyik dengan Mark kan??” Dhee berbisik-bisik menggodaku.
“Tidak Dhee, aku baru bisa tertidur nyenyak menjelang pagi”
“Ohh, jadi itu sudah selesai..”
Aku melotot kepada Dhee..
Suara Lou berdehem membuat aku dan Dhee fokus lagi mendengarkan Zac yang sedang menjelaskan strategi yang akan kami lakukan untuk menangani kasus ini.


Dari penjelasan Zac aku baru tahu kalau kelompok mafia ini seringkali merencanakan beberapa tindak kejahatan yang korbannya adalah pejabat kepolisian, pengusaha kaya, bahkan pejabat pemerintahan juga target kejahatan mereka. Aku jadi berfikir bahwa kelompok ini sangat rapi dalam menjalankan aksinya, mereka bukan mafia biasa.


Kami telah menyusun rencana untuk melakukan penyergapan, tapi sebelumnya kami akan menginterogasi seorang lelaki yang diduga anak buah dari kelompok mafia itu. Menurut Eric biasanya anak buah kelompok mafia itu tidak akan mengaku siapa ketua kelompok mereka. Bahkan mereka rela mati asalkan rahasia kelompok mereka tetap terjaga. Kami mendapat ide, untuk melakukan hal yang pernah dilakukan Lila kepada Red Eye saat kami melakukan penyergapan dirumah orang tua Kyle. Ya, memasukkan serum anti kebohongan kedalam minumannya.


Selesai rapat kami langsung kekantor polisi, menemui seseorang yang diduga anak buah dari sebuah kelompok mafia besar. Sesampainya disana kami langsung melaksanakan apa yang telah kami rencanakan tadi saat dikantor. Steve yang memasukkan serumnya kedalam air minum lelaki itu, dia tak menyadari apa yang telah Steve lakukan. Beberapa saat setelah dia meminumnya, Zac dan Lou menginterogasinya.


Dari hasil interogasi yang dilakukan Zan dan Lou, kami mulai menemukan banyak fakta darinya, ternyata dia adalah Charlie Hunt,  anggota kelompok mafia yang diketuai oleh Sam Moran atau yang lebih dikenal dengan nama Scarface. Saat mendengar namanya aku langsung mencari data tentang Sam Moran atau Scarface. Setelah mendapatkan beberapa informasi aku mulai membacanya data-datanya. Aku tidak memperhatikan percakapan antara Zac, Lou dan Charlie Hunt namun saat Charlie Hunt menyebutkan nama Ardy Yudha Wiranata dan Christina Mary Clarkson aku langsung kaget, itu nama kedua orang tuaku. Dhee juga langsung memandangiku saat mendengar nama itu. Aku meletakkan laptopku, kemudian mendekat duduk disamping Zac.
“Bisakah kau menjelaskan tentang Ardy Yudha Wiranata dan Christina Mary Clarkson??”
“Aku sudah bekerja dengan Sam selama 16 tahun, Ardy Wiranata adalah seorang pengusaha sukses, istrinya Christina Clarkson adalah seorang agent wanita yang sangat hebat. Setelah mereka menikah Ardy juga menjadi agent, mereka bersama 3 orang temannya adalah tim yang hebat saat itu. Semua kasus dapat dipecahkan, beberapa kelompok mafia berhasil mereka tangkap, namun tidak untuk kami. Kami berhasil merencanakan sebuah kecelakan yang menewaskan keluarga itu bahkan sampai saat ini anak perempuannya pun tidak diketahui keberadaannya. Kecelakaan itu terjadi 14 tahun yang lalu di Las Vegas. Dan sampai saat ini tidak ada yang mengetahui pasti kalau kami lah yang menyebabkan kecelakaan itu”

Aku tertegun mendengarkannya. Hatiku terasa hancur, aku mengepalkan kedua tanganku kemarahanku sudah tak dapat ditahan lagi.
“Ya cukup Charlie”
Aku langsung kembali kedekat Dhee, Dhee langsung menatapku kasihan.
“Sya..” dia memanggilku.
“Aku ingin membereskannya sekarang, aku akan mencari Sam”
“Sya, kita akan melakukannya setelah ini, kau harus sedikit bersabar. Aku tahu yang kau rasakan saat ini”
Aku mengangguk, ya aku takkan bisa menghadapi Scarface sendirian. Akan kubalas semuanya nanti.
“Aku keluar sebentar, aku ingin sendiri. Tolong lanjutkan pencarian datanya”
Lalu aku langsung keluar dari ruangan itu menuju toilet. Air mataku tak dapat kutahan lagi, ingin rasanya aku menjerit. Sebuah kenyataan yang sangat pahit. Kedua orang tuaku meninggal bukan karena kecelakaan murni tapi ini semua direncanakan. Itu berarti mereka dibunuh. Aku menangis sejadi-jadinya ditoilet.


Beberapa saat kemudian aku bisa mengendalikan emosiku. Aku keluar toilet  dengan mata sedikit bengkak. Bayangan wajah kedua orang tuaku dimimpiku semalam kembali ku ingat. Hatiku kembali sakit. Ya Tuhan, kuatkan aku untuk melewati semua ini.


Saat aku keluar dari toilet aku bertemu dengan Steve. Dia baru saja keluar dari toilet pria. Aku berusaha untuk memalingkan wajahku agar mataku yang sehabis menangis tidak dilihatnya. Namun ternyata Steve mengetahuinya dan dia mulai bertanya kepadaku.
“Kau disini rupanya..?? Dhee mencarimu. Interogasinya sudah selesai”
“Aku akan segera kesana. Terima kasih Steve” jawabku sambil tetap berjalan untuk menemui Dhee dan yang lainnya.
Saat sedang berjalan Steve menarik tangan kananku.”Sya, apa benar yang dikatakan Dhee tentang orang tuamu tadi ??”
Aku mengangguk “Iya Steve, aku tidak tahu kalau kecelakaan itu direncanakan, karena saat itu aku masih kecil” air mataku mulai mengalir lagi.
Dia menepuk pundakku, kemudian dia memelukku “ kita akan mencarinya besok. Semua data telah terkumpul. Kau harus sabar Sya”
“Iya Steve, terima kasih untuk bantuan kalian” aku melepaskan pelukannya.
“Kita harus kembali menemui mereka, kami semua mengkhawatirkanmu” ajak Steve.
Lalu kami kembali keruangan interogasi.


Saat melihatku Dhee langsung memelukku erat.
“Kita sudah mendapatkan datanya Sya. Besok kita akan menyergap mereka”
Aku mengangguk. “Terima kasih untuk bantuannya Dhee”
Lalu kami kembali kekantor mempersiapkan untuk penyergapan besok.


***
Pagi ini aku sudah bersiap untuk penyergapan. Mark akan ikut kami hari ini setelah aku menceritakan tentang kecelakaan orang tuaku yang disebabkan oleh Sam. Sebenarnya aku tidak setuju dia ikut, tapi dia memaksa, dia sangat mengkhawatirkanku. Akhirnya aku menyetujuinya, asalkan Mark nanti menunggu dimobil pengintai.


Sesampai dikantor kami langsung menuju ketempat persembunyian Scarface. Saat ini mereka sedang ada disebuah hotel dan sebentar lagi akan mereka akan meninggalkan hotel. Tim kami sudah menyebar dibeberapa titik disekitar hotel itu.


“Sayang aku keluar sekarang. Tetaplah disini, dan jangan kemana-mana sebelum aku kembali. Aku mohon”
“Kau harus hati-hati sayang, aku akan menunggumu disini” jawabnya sambil mengecup bibirku.
“Aku mencintaimu Mark..”
“Aku juga sangat mencintaimu” jawabnya.
Lalu aku keluar dari mobil, bergabung dengan tim yang lainnya.


Aku setim dengan Dhee dan Eric. Kami masuk lewat pintu darurat hotel itu. Langsung kelantai tiga. Karena menurut informasi yang kami dapatkan dia menempati kamar dilantai 3. Tak butuh waktu yang lama kami menemukan kamar 131 tempat Scarface menginap. Saat ada didepan pintu kamarnya kami mendengar beberapa orang sedang berbicara. Eric meyakinkan kalau itu adalah suara Scarface. Dengan sekali aba-aba kami menendang pintunya dan pintu itu terbuka. Eric benar, ada Scarface dan 2 orang anak buahnya disini. Mereka terkejut melihat kami bertiga.
“Tidak ada lagi celah untuk melarikan diri Scarface, tempat ini sudah dikepung” Eric mengancamnya.
“Kalian siapa??”
“Aku putri dari Ardy Wiranata dan Christina Clarkson” aku menjawabnya sambil tetap siaga dengan senjataku.
“Kau...”
“Menyerahlah Sam, inilah akhir hidupmu sebagai mafia”


Namun tanpa diduga anak buahnya melepaskan sebuah tembakan kearahku, dengan cepat aku menghindar dan tembakannya meleset. Kami terlibat aksi tembak menembak, aku dan Dhee berlawanan dengan anak buah Scarface sedangkan Eric dengan Scarface, tak lama kemudian Steve datang membantu Eric. Saat senjata lawanku kehabisan peluru, dia melepaskan sebuah pukulan kearahku disaat aku lengah  dan mengenai bibirku. Aku merasa terasa darah keluar dari bibirku namun aku tak mengiraukannya. Aku langsung menembak kakinya, dan tak lama kemudian dia terduduk tak berdaya menahan sakit. Kulihat begitu juga lelaki yang berkelahi dengan Dhee, dia menyerah setelah Gale menembaknya.

Aku melihat Scarface yang masih bisa bertahan melawan Eric dan Steve. Emosi ku sudah tak dapat kutahan lagi, aku langsung melepaskan sebuah tembakan hingga tepat mengenai kaki kanannya. Scarface terjatuh, senjatanya terlepas. Dengan cepat Steve mengambilnya.

“Itu untuk semua kejahatanmu Sam..” aku mendengus kearahnya.
“Aku akan membalasnya “
“Tidak ada waktu lagi” jawabku.
                                   
Dan Eric langsung memborgol tangannya. Tak lama kemudian beberapa tim kami datang membawa mereka kedalam mobil tahanan.
“Kalian tidak apa-apakan?? Maaf kami datang terlambat. Anak buahnya ada dibawah tadi” Zac datang bersama Lou dan Brad.
“Kita tidak apa-apa Zac.” Jawabku.
“Sya, bibirmu berdarah..”
“Aku tidak apa-apa Dhee, hanya pukulan ringan dari lawanku tadi”
“Aku akan mengobatimu dimobil nanti”
Aku mengangguk..

“Sebaiknya kau dan Dhee segera kembali kemobil Sya, kami akan segera menyusul setelah memeriksa kamar ini. Sepertinya mereka menyembunyikan sesuatu”
“Baiklah, kami menunggu kalian dimobil secepatnya” jawab Dhee.


Lalu aku dan Dhee kembali kemobil, di mobil kulihat Mark menunggu dengan gelisah. Dia tersenyum saat melihatku dan Dhee kembali.
“Sayang, apa kau terluka??” Mark langsung memelukku dan mencium keningku.
“Aku tidak apa-apa. Sudah kubilang kau tak perlu khawatir denganku”
“Iya Mark, kami tidak apa-apa. Sebentar lagi yang lainnya kan segera kembali” jawab Dhee.

Mark memperhatikan wajahku, dia memegangi ujung bibirku “ tapi ini??”
“Tidak, ini hanya luka kecil, Dhee yang akan mengobatiku.”
“Sini biar aku yang mengobatimu Sya” Dhee mendekatiku sambil memegang es batu.
“Dhee biarkan aku yang mengobatinya, sebaiknya kau istirahat saja” Mark mengambil es batu dan obat yang dibawa Dhee.
“Baiklah” jawab Dhee sambil tersenyum.

Lalu Mark mengobati lukaku, aku meringis perih saat obatnya dioleskan kebibirku.
“Aku bersyukur kau tidak apa-apa, aku sangat takut terjadi sesuatu denganmu sayang”
“Kau sudah lihatkan, aku baik-baik saja sayang. Scarface sudah ditangkap, dan tadi aku sempat menembaknya. Aku sedikit lega akhirnya dendamku terbalas” jawabku sambil tersenyum.
“Tadi aku menelpon Christian memberitahu tentang ini, sebaiknya kau telpon lagi nanti. dia mengkhawatirkanmu..”
“Baiklah, aku akan menelponnya nanti” jawabku sambil membelai wajahnya dan mengecup bibirnya dan melepaskannya.

Belum lama aku melepaskannya dia menarik daguku lagi. Dia mencium bibirku dengan lembut dan intens “Aku mencintaimu sayang”
“Aku juga sangat mencintaimu” jawabku sambil membalas ciumannya.


“Sebaiknya kita pulang sekarang” suara Zac membuat kami melepaskan ciuman kami.
Aku tersipu malu saat kulihat Zac dan yang lainnya sudah kembali. Mereka berdiri didepan pintu mobil yang dari tadi memang kami buka.
“Apa semuanya sudah selesai??” tanyaku
“Iya Sya, barang bukti sudah dibawa”
“Lanjutkan dirumah Mark..” Gale menggoda Mark. Sedangkan Mark hanya tersenyum.
“Gale...” aku melotot kearah Gale.
“Sudah sebaiknya kita pulang dan segera beristirahat. Hari ini cukup melelahkan” Zac menengahi aku dan Gale.
“Terima kasih untuk semuanya ya, aku tahu ini takkan berhasil tanpa kalian semua.”
“Sudah seharusnya kita saling membantu Sya..” jawab Lou.
Lalu kami masuk mobil untuk kembali kekantor dan setelah itu kami pulang kerumah untuk beristirahat.



***
Seminggu telah berlalu dari penyergapan Scarface, aku sangat lega karena akhirnya aku bisa membalaskan semua yang dilakukan Scarface kepada orang tuaku. Sekarang dia telah tertangkap dan dipenjarakan.


Pagi ini aku sudah berada dikantor, setibanya dikantor aku langsung keruanganku untuk membereskan semua berkas yang nanti akan aku laporkan kepada Lou. Belum lama aku mengerjakan pekerjaanku, aku keluar ruanganku untuk membuat kopi, rasanya aku sangat mengantuk pagi ini.


Tapi saat aku tiba dipantry, ponselku berbunyi. Ternyata Lila yang menelponku.
“Hallo La??”
“Sya,..” suaranya terdengar bergetar.
“Ada apa La?? Sepertinya kau sedang panik..”
“Naima hilang Sya, aku mohon bantu aku mencarinya.”
“Naima hilang?? Kau yakin, mungkin dia diajak oleh susternya keluar??”
“Tidak Sya, dia belum keluar hari ini. Tadi pagi saat suster kekamarnya, Naima sudah tidak ada” jawab Lila sambil menangis.
“Aku dan yang lainnya akan segera kesana La, kau harus tenang dulu. Sebaiknya beritahu Zac secepatnya.”
“Aku sudah menelpon Zac, tadi tidak bisa. Ponselnya tidak aktif”
“Ya sudah kau harus tetap tenang La, aku akan kesana” jawabku sambil menutup telponnya.

1 komentar:

  1. yuhuuuuu akhirnya muncul juga ini chapter 44..

    Diawali dengan pasangn newlywed kita yg baru plng h.moon...

    ada peningkatan dalam penuturan ceritanya. meskipun ada beberapa pnempatan kata dan kalimat yang kurang pas sih...

    selebihnya sippp... di tunggu revisian chapter yang ini sama next chapternya :D :*

    BalasHapus