Sabtu, 16 Februari 2013

CHAPTER 42



Akhir-akhir ini aku sering ditugaskan oleh Lou keluar kota bahkan keluar negeri untuk menghadiri beberapa pertemuan dengan para agent dunia. Terkadang aku bingung sendiri, bagaimana jika nanti aku sudah menikah apa kesibukanku akan tetap seperti ini. Entahlah. Beruntungnya Mark sangat memaklumi pekerjaanku, selama aku masih bisa menjaga keselamatan diriku.

Sudah lama sekali aku tidak berkumpul dengan kedua sahabatku, aku sangat merindukan mereka. Terutama dengan Lila, aku sudah lama tidak bertemu dengannya, tepatnya sejak dia memutuskan untuk non aktif sementara dari keanggotaannya sebagai agent karena sebentar lagi dia akan melahirkan putri pertamanya.

Hari ini aku berencana untuk mengunjungi Lila dirumahnya yang terletak dipinggiran kota New York. Aku belum menceritakan tentang rencana pernikahanku dengan Mark yang akan dilaksanakan dipertengahan tahun ini. Aku yakin dia akan sama bahagianya denganku saat mengetahuinya. Tadi saat dikantor aku menceritakannya dengan Dhee. Jangan ditanya bagaimana reaksi Dhee saat mendengarnya. Dia sangat senang karena akhirnya aku akan segera menikah dengan Mark. Dan yang membuatku tertawa saat Gale langsung mengajaknya menikah juga. Namun Dhee tidak mengubrisnya, sepertinya dia belum siap menikah dalam waktu dekat. Melihat Dhee yang belum memberikan tanggapan Gale terlihat agak kecewa. Tingkah Gale yang sedikit konyol itu membuatku tak henti-hentinya tertawa.

Aku mengendarai mobilku dengan kencang dijalanan yang sepi, sekitar 10 menit akhirnya aku sampai dirumah Lila. Aku langsung memarkirkan mobilku didepan garasinya, kemudian mengetuk pintunya. Tak lama  kemudian Lila membukakan pintunya. Dia sepertinya terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba.

“Lilaaa....” aku langsung memeluknya.
“Asya.. kapan kau pulang dari L.A?? kau tidak bilang akan datang??. Ayo masuk..”
Lalu kami berdua berjalan masuk keruang tamu Lila dan duduk disofa.
“ 2 hari yang lalu La, aku sengaja tidak memberitahumu akan kesini, aku ingin memberimu kejutan. Kau tahu, aku sangat merindukanmu..”
“aku juga sangat merindukanmu Sya, kemarin dihari terakhirku dikantor kau sedang ada di L.A. Bagaimana semuanya pekerjaanmu beres kan??”
“Iya La, semuanya beres.. “ jawabku.
“kau mau minum apa?? Aku buatkan yaa”
“tidak La, tidak usah aku belum haus. Oh iya, aku membawakanmu ini.” aku memberikan bungkusan berisi buah-buahan yang ku beli tadi.
“ya sudah kalau kau belum mau, terima kasih ya untuk buahnya “

“Ehh, Zac mana La??”
“Zac, sedang pergi berbelanja Sya, persediaan makanan kami tinggal sedikit. Tadinya aku ingin ikut, tapi dia melarangku.”
“ohh, iya La, kau jangan terlalu lelah. Apalagi saat ini perutmu sudah sangat besar. Kapan kau kan melahirkan??”
“Menurut dokter, sekitar 3 atau 4 hari lagi Sya. Aku sangat gugup menantinya. “
“Semoga proses kelahirannya lancar ya La..”
“ aku harap juga begitu,. Bagaimana hubunganmu dengan Mark?? Zac dan Dhee bilang akhir-akhir ini kau sering diantar Mark kalau kekantor. Dia sudah tahu tentang pekerjaanmu??”

Aku langsung tersenyum mendengarnya,
“kau kenapa tersenyum??”
“Iya dia sudah lama tahu tentang pekerjaanku, dan beruntungnya dia memakluminya. Dan satu hal lagi La, dia melamarku...” jawabku penuh semangat
“kau serius Sya?? Lalu kapan kalian akan menikah??’ Lila meyakinkanku
Aku mengangguk “ Iya aku serius, kami akan menikah pertengahan tahun ini. Mark masih ada beberapa jadwal tour saat ini”
“Selamat Sya, selamat yaa.. aku turut bahagia mendengarnya” dia langsung memelukku.
“terima kasih La, kau tahu aku sangat membutuhkan kalian untuk memantapkan hatiku. Terkadang saat aku ingat pernikahanku yang semakin dekat membuatku ragu dan gugup”
“apa yang kau ragukan Sya??, Mark sangat mencintaimu, dia mau menerima keadaanmu”
“entahlah apa yang kuragukan saat ini, aku tidak bisa mengungkapkannya”jawabku.
“sebenarnya semua perempuan akan gugup saat akan menikah. Lalu apakah Christian sudah tahu tentang ini”
“aku sudah menelponnya beberapa waktu lalu, dia sangat senang. Tapi sayang dia belum bisa datang kesini, dia sepertinya sangat sibuk La.”
“sudah tidak apa-apa Sya, disini kau masih ada aku, Dhee, Zac, dan Gale. Kita semua keluarga Sya. “

Aku mengangguk mendengar ucapannya, Lila benar walaupun kak Tian belum bisa kesini aku masih ada sahabatku yang selalu menemaniku. Merekalah keluargaku selain kak Tian.
“Asya, aku tahu kau sedang memikirkan orang tuamu. Kau jangan sedih Sya” Lila menepuk pundakku.
“Iya La,aku tahu. Aku tidak boleh bersedih. Aku sangat beruntung memiliki kalian semua.”
“Sya, aku kedapur dulu ya. Aku ingin membuat teh untuk kita berdua.”
“aku ikut ya, sekalian aku mau ketoilet La.” Jawabku

Lalu kami berjalan kedalam, Lila kedapur dan aku toilet. Selesai dari toilet aku menyusul Lila didapur. Saat baru saja aku melangkah keluar toilet kudengar Lila memanggil namaku.
“Syaa. Asya.. tolong aku Sya”
“Iya La, ada apa??” aku bergegas menemuinya
Saat aku sampai didapur kulihat Lila sudah terduduk dikursi didekat meja makan,wajahnya terlihat sangat pucat, keringatnya pun bercucuran. Aku langsung panik melihatnya.
“Kau kenapa La??”
“Sya, perutku sakit sekali rasanya. Tolong bantu aku kekamar yaa”
“Iya Laa, ayo. Kau pelan-pelan yaa??”

Aku memapah Lila berjalan kekamarnya. Sesampai dikamar dia langsung duduk bersandar ditempat tidurnya.
“kau kenapa La.. aku telpon Zac dulu yaa..”
“perutku sakit Sya, sepertinya aku akan melahirkan. Iya kau telpon Zac, cepat Sya..”
“Iya La, aku menelponnya sekarang”
Lalu aku menelpon Zac, tapi saat ku telpon terdengar suara ponsel berbunyi diatas meja hias Lila. Astaga aku rasa ponsel Zac tertinggal.
“Sya, itu ponselnya Zac. Ponselnya tertinggal.”Lila masih meringis kesakitan.
“kita kerumah sakit saja yaa. Aku bantu kemobilku”
“Tidak Sya, kau telpon saja dokter kandunganku. Suruh dia kesini. Nomornya ada diponselku. Cepat Sya ini sakit sekali” Lila meringis sambil memegangi perutnya
“Iya La, iya.”
Lalu aku mengambil ponsel Lila dan menelpon dokter kandungannya. Mereka akan datang kesini 10 menit lagi. Tapi aku sangat kasihan melihat Lila yang kesakitan. Ya Tuhan, bantulah dia..

Saat aku sedang menenangkan Lila yang mulai menangis karena kesakitan, kudengar seseorang datang.
“Sayang kenapa kau tidak mengunci pintunya??” terdengar suara Zac dari arah ruang tamu
“Zaaac...” Lila memanggil Zac pelan.
“La, kau tunggu disini ya. Biar aku yang menemui Zac” Lila mengangguk, aku lalu menemui Zac.

Kulihat Zac baru saja pulang dari belanja banyak sekali kantong yang dia bawa.
“Zac, akhirnya kau pulang juga”
“Hai Sya, Lila mana??”
“Lila dikamar, perutnya sakit Zac. Aku sudah menelpon dokter untuk kesini. Sebaiknya....”
Belum selesai aku berbicara, Zac sudah meninggalkanku. Dia langsung kekamar menemui Lila, begitupun aku yang kembali kekamar. Dikamar kulihat Zac menenangkan Lila yang menangis.
“sudah lama Sya Lila perut Lila sakit..??” tanya Zac
“belum sih Zac, apa mungkin Lila mau lahiran sekarang Zac??”
Saat aku sedang berbicara dengan Zac kudengar seseorang mengetuk pintu. Dengan cepat aku keluar kamar dan membuka pintu. Ternyata seorang dokter dan dua orang suster yang datang. Aku langsung mengantarkan dokter dan suster itu kekamar Lila. Dikamar dokter langsung memeriksa Lila sedangkan aku menunggu diruang keluarga yang ada dirumah Lila. Selama menunggu Lila, aku menelpon Dhee untuk segera kesini. Untunglah Dhee tidak sibuk dia akan segera datang.

***
Selama sejam lebih aku menunggu kudengar Lila sesekali berteriak, aku sangat mengkhawatirkanya. Beruntung Dhee datang, kami menunggu bersama sambil berdoa semoga semuanya lancar. Dan benar saja tak lama kemudian seorang suster keluar, diiringi oleh Zac. Aku dan Dhee langsung mendekati Zac yang sedang berbicara dengan dokter.
“Zac, bagaimana Lila, semuanya baik-baik saja kan??” aku langsung bertanya kepada Zac.
“Lila, baik-baik saja Sya, Dhee. Dia sudah melahirkan putri kami dengan selamat. Terima kasih kalian sudah membantu Lila yaa “
“Iya Zac. Boleh kami masuk sekarang”
“sudah boleh Dhee. Aku mau mengambil perlengkapan bayi yang ada dikamar atas yaa” kata Zac sambil meninggalkan aku dan Dhee.

Aku dan Dhee langsung masuk menemui Lila, saat itu kulihat Lila setengah tertidur sambil memeluk bayi mungilnya yang lucu. Namun mendengar aku dan Dhee masuk Lila kembali membuka matanya.
“La, maaf kami menganggumu. Kami hanya ingin melihat keadaanmu dan bayimu.”
“kalian tidak menganggu Sya, Dhee. Terima kasih untuk bantuannya yaa”
Aku mengangguk sambil duduk dikursi disamping tempat tidur Lila. “La selamat yaa..”
“Iya La, selamat ya. Bayimu sangat lucu..” Dhee mendekati bayi Lila sambil membelai wajahnya
“sangat menggemaskan ya Dhee. Ehh, namanya putri cantik ini siapa La??”
“Aurora Naima Alexandra, dan aku memanggilnya Naima” terlihat rona bahagia diwajah Lila.
Aku dan Dhee tersenyum melihat Lila membelai dan  mencium pipi putri kecilnya.
“Bertambah lagi kebahagiaan yang kumiliki selain kalian semua. Aku memilikinyanya”

***
Waktu ternyata berjalan dengan sangat cepat, tak terasa acara pernikahanku dan Mark tinggal seminggu lagi. Semua persiapan telah selesai, hanya saja aku belum bisa membayangkan seperti apa tempat pernikahanku nanti. Karena Mark merahasiakannya dariku, aku hanya tahu kalau acaranya akan dilaksanakan disebuah pantai.
Hari ini, tiga hari sebelum hari pernikahanku aku dan Mark akan pergi kelokasi pernikahan kami, Menurut Mark sebagian keluarganya sudah ada disana. Tapi yang membuatku sedikit sedih kak Tian yang kemarin rencananya akan datang hari ini ternyata batal. Dia baru akan datang sehari sebelum pernikahanku. Aku sedikit kecewa mendengarnya, padahal aku sangat merindukannya.

“Sayang, kau kenapa?? Sepertinya kau tidak bahagia??’ suara Mark membuyarkan lamunanku.
“aku tidak apa-apa sayang..”
“Asya, kau jangan gugup. Ayolah tersenyum sayang” Mark meremas tanganku

Aku tersenyum mendengar ucapannya, perasaanku rasanya tak karuan. Bercampur aduk antara bahagia dan sedih. Aku sangat bahagia karena aku akan segera menikah dengan Mark, tapi kesedihan melandaku, aku sangat ingin ada kedua orang tuaku saat pernikahanku nanti. Tapi hal itu tidak mungkin terjadi, hanya akan ada kak Tian yang mendampingiku. Aku memejamkan mata mengingat itu semua. Ya Tuhan beri aku kekuatan untuk melewati ini tanpa kedua orang tuaku.

Akhirnya perjalanan yang melelahkan itu telah usai, sesampai dibandara kami langsung melanjutkan perjalanan dengan mobil. Tiga puluh menit perjalanan kami sampai disebuah hotel mewah. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dihotel ini. perjalanan panjang tadi ternyata sangat melelahkanku.

“Istirahatlah dulu sayang, aku tidak ingin kau sakit. Aku janji sore ini kita akan melihat tempatnya” katanya ambil mencium keningku
“Baiklah, aku istirahat dulu ya“
Lalu aku dan Mark berjalan kekamar hotel, Mark menyuruhku membuka pintunya.
“kau buka ya sayang, ini kuncinya”
Aku mengambil kunci dari tangan Mark, dan membuka pintunya. Lalu aku masuk kedalam, saat aku masuk kudengar seseorang memanggil namaku.


2 komentar:

  1. yeeeayyy
    akhirnya Naima keluar juga dari dlm perut...

    berat bgt sihh, heuheu...
    untung aja Naima lahir dng selamat..

    peluk cium Naima...


    and wedding day closer...
    pesta pesta lagi..
    congratulation Mark and Asya

    Gale kocak ya...
    tetep latah nya gk berubah sama gk sembuh2 juga..
    ckckckck

    tapi Christian kmn ya??

    next chapter sist :*

    BalasHapus
  2. Selamat Lila n Zac udah jd ortu
    dan akhirnya Naima muncul juga disini ^^

    Hmm…mau ada wed bentar lagi
    sik…asyik akhirny jd merit juga Asya n Mark

    Lanjut next chapter the wedding day sist
    :*

    BalasHapus