Chapter 39
Aku benar-benar sangat syok, ya Tuhan. Kyle adalah anak sulung dari orang yang sudah menembak ibuku.
Kenyataan itu membuat kepalaku sakit. Bagaimana mungkin aku melakukan aksi balas dendamku kepada ayah kandung temanku sendiri.
Aku harus memberitahu Kyle tentang masa lalu ayahnya jadi biar Kyle sendiri yang menyerahkan ayahnya kepada pihak yang berwajib. Tapi bagaimana caranya???
Sepanjang hari ini kepalaku terus berdenyut-denyut. Zac tidak ada di markas, karena sedang mengumpulkan informasi-informasi tentang Mark Dickherber atau Red Eye di dunia para mafia.
Seharian itu aku hanya mengurung diri di dalam ruanganku. Pada saat jam makan siangpun aku tidak keluar. Kepalaku sangat sakit sekali dan membuatku tidak berselera untuk makan. Di tambah lagi aku sangat mengkhawatirkan keadaan suamiku di luar sana.
Tiba-tiba Dhee datang ke ruanganku.
“Lila, kau baik-baik saja, kan?“
“Hai Dhee, aku baik-baik saja terima kasih.“
“Apakah ada masalah?“ Aku menggeleng pelan, “Jangan bohongi aku, La. Pasti ada yang kau sembunyikan, ceritakanlah padaku.“
“Aku dan Zac sedang mencari orang yang menembak Maa, Dhee.“
“Kau masih menyelidiki orang itu setelah bertahun-tahun, La?“
Aku hanya menganggukan kelapa pelan.
“Apakah kau sudah menemukan informasi tentang orang itu?“
“Sudah Dhee, Red Eye berada di negara ini. Ia hidup bahagia bersama istri dan anak-anaknya. Betapa beruntungnya anak-anak yang bisa tumbuh besar bersama ayah dan ibu mereka. Sedangkan aku, mengenal ibuku pun saja tidak Dhee.“
“Sabar La, ingat kau saat ini sedang mengandung. Kasian bayimu jika kau terlalu banyak pikiran dan stress. Ayo kita ke kantin untuk makan, wajahmu terlihat pucat. Ada aku dan yang lain akan selalu membantumu, jangan melupakan keberadaan kami, La.“
“Terima kasih, Dhee. Kau dan Asya sudah melebihi dari sahabat. Kalian berdua sudah menjadi bagian dari hidupku.“
Dhee tersenyum mendengar ucapanku, “Dan begitu pun dengan aku dan Asya. Ayo kita makan, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada calon keponakanku ini.“
Akhirnya kami keluar dari ruangan dan menuju ke kantin untuk makan siang. Di kantin Asya sudah menunggu, sedangkan Gale menurut Dhee sedang ada tugas.
Dan sejak hari itu Gale, Dhee dan Asya membantuku untuk menyelidiki keluarganya Kyle yang berada di Georgia.
Asya, Dhee dan Gale kaget ketika mengetahui Kyle adalah anak kandung dari orang yang sudah menembak Maa. Kami membagi tugas dalam penyelidikan ini.
Bahkan Lou bersedia untuk membantuku, karena sebenarnya pihak kepolisian sudah sangat lama sekali mencari keberadaan Red Eye sang bos mafia kelas kakap.
Yang selalu berhasil meloloskan diri dari sergapan petugas. Dan berhasil menghilangkan jejak-jejak kejahatannya agar tidak di ketahui oleh siapapun.
Sudah sangat lama sekali pihak kepolisian mencari jejak Red Eye namun tak ada hasil sama sekali. Sampai akhirnya kami berhasil mengungkap keberadaan Red Eye.
Tentang di mana dia berada dan menjadi siapa Red Eye selama ini. Segala hal dan kegiatan yang di lakukan Red Eye dalam pelarian dan penyamarannya selama ini.
Hari ini kami sedang berada di ruang rapat untuk membahas kembali strategi yang akan di pakai dalam upaya penyergapan Red Eye.
Karena mereka mengetahui Kyle Patrick yang merupakan anak kandung Red Eye itu mengejar-ngerjarku. Dengan berat hati Lou memintaku untuk turun langsung dalam penyergapan itu.
Zac juga sebenarnya tidak ingin aku turun langsung. Karena hanya aku yang bisa masuk dan menedekati Red Eye.
Karena selama penyidikan ini aku memang mendekati Kyle dengan cukup gencar. Karena kehamilanku belum terlihat. Aku menunggu dia agar membawaku ke rumahnya untuk bertemu dengan orang tuanya.
Saat-saat yang di tunggu akhirnya tiba. Karena pada akhirnya Kyle mengajakku ke Georgia untuk menemui kedua orang tuanya.
Darahku langsung bergejolak karena perasaan marah yang langsung menguasaiku. Namun akhirnya aku bisa mengendalikan amarah dan emosiku.
Tentu saja aku memberitahu Lou dan tim yang lain ketika Kyle mengajakku ke Georgia. Kami pun langsung menyusun rencana. Aku sudah memasang berbagai alat penyadap dan kamera pengintai di tubuhku.
Setengah jam sebelum Kyle menjemput. Dhee dan Asya membantuku memasang alat pelacak, alat komunikasi, dan berbagai kamera pengintai.
“Semoga Kyle tidak berbuat macam-macam padamu, La.“
“Aku juga berharap seperti itu. Meskipun Zac akan tetap mengawasiku dalam jarak yang dekat. Aku tetap merasa takut dan khawatir.“
“Semua akan baik-baik saja, La. Yang terpenting kau harus hati-hati dan jaga keponakan kami baik-baik.“
“Akan aku lakukan, Dhee.“
Tiba-tiba Zac masuk dan langsung memelukku dengan dengan sangat erat.
“Hati-hati sayang, aku akan sangat merindukanmu.“
“Aku akan kembali Zac. Berjanjilah kepadaku untuk berhati-hati.“
Zac tersenyum sambil mencubit hidungku dengan lembut, “Seharusnya aku yang berkata seperti itu. Jaga baik-baik bayi kita, sayang.“
“Tentu saja, Zac. I love you.“ aku memeluknya erat.
“Aku pergi, Zac.“
Zac mencium kening dan bibirku, “Berhati-hatilah sayang.“
Aku mengangguk cepat dan langsung pergi ke luar. Karena Kyle sudah datang menjemputku.
***
Ketika keluar dari flat yang sengaja kami sewa, Kyle terlihat sedang bersandar di mobil sport miliknya.
Penampilan Kyle malam ini terlihat cukup tampan. Namu n tetap saja tidak bisa membuatku terpesona. Karena di mata, hati dan pikiranku hanya ada suamiku seorang.
“Hai, Ra. Kau terlihat sangat mengagumkan sekali malam ini. Kedua orang tuaku pasti akan langsung menyukaimu.“
“Kau terlalu berlebihan, Kyle. Tapi terima kasih atas pujiannya. Bisakah kita pergi sekarang?“
“Tentu saja, silakan masuk.“
Kyle membukakan pintu mobilnya untukku. Setelah aku duduk, Kyle langsung menyusul dan duduk di sampingku. Lalu mulai menyalakan mesin mobilnya dengan kecepatan yang sedang.
Kyle langsung mengarahkan mobilnya ke jalan tol dan menuju ke Georgia. Perjalanan yang cukup melelahkan, mungkin karena keadaanku yang saat ini sedang hamil muda.
Namun aku berusaha untuk tidak tertidur selama perjalanan. Meskipun Kyle menyuruhku untuk tidur dan akan membangunkanku ketika sudah sampai nanti.
“Tidak Kyle, aku ingin menikmati pemandangan yang indah ini selama perjalanan. Jadi jangan memaksaku untukku untuk tidur.“
“Jika itu kemauanmu, aku takkan memaksamu, Ra.“
“Terima kasih, Kyle.“
“Sama-sama, kau tahu aku akan melakukan apapun untukmu. Agar kau menjadi milikku seutuhnya.“
“Kyle, jangan merusak moodku.“
“Maaf, tapi yang aku katakan barusan benar-benar serius. Aku akan melakukan berbagai cara untuk memilikimu.“
“Kau tidak akan bisa memilikiku sampai kapanpun Kyle. Karena aku sudah menjadi istri orang lain.“ ucapku dalam hati sambil tersenyum ketir.
“Hei, ada apa? Mengapa kau langsung diam, apa aku mengatakan hal yang salah?“
“Tidak Kyle, aku hanya merasa sedikit lelah saja. Bisakah kita berhenti untuk membeli jus?“
“Tentu saja, kita akan berhenti di depan tempat peristirahatan yang ada di depan sana.“
Kyle menghentikan mobilnya di sebuah tempat peristirahatan. Kami memutuskan untuk beristirahat di sebuah kafe yang berada di situ.
Lima belas menit kemudian kami melanjutkan kembali perjalan kami. Dan sore harinya kami sampai di Georgia.
Ketika sampai dan memasuki rumahnya seluruh keluarganya datang menyambut kedatangan kami. Ketika Kyle memperkenalkanku kepada seorang pria paruh baya bertubuh tinggi besar itu adalah ayahnya.
Kemarahan dan kebencian langsung menguasaiku. Rasanya aku sangt ingin sekali memborgol tangannya dan menodongkan pistol tepat ke kepalanya. Namun suara Zac, Dhee dan Asya di luar sana memperingatkanku agar lebih bisa menahan diriku.
“Siapa namamu?“ Red Eye bertanya.
“Aracelli Davis.“ jawabku singkat.
“Nama yang cantik cocok denganmu.“
“Terima kasih.“
Ibunya Kyle mengantarku untuk beristirahat di kamar tamu. Karena nanti malam akan ada sebuah pesta yang harus aku hadiri.
Sesampainya di kamar aku langsung mengunci pintu kamar. Lalu segera menghubungi Lou dan menjelaskan tentang pesta nanti malam.
Yang jelas aku harus bisa membuat Red Eye mengakui semua kejahatannya di masa lalu. Lalu aku akan segera menangkapnya.
Malam haripun tiba. Aku memakai gaun berwarna putih panjang dengan potongan low v neck. Mungkin Zac akan memaksaku untuk memakai mantel jika melikat pakaian yang aku pakai saat ini.
Aku hanya tidak ingin setengah-setengah dalam mengerjakan tugasku. Aku sudah menyiapkan persenjataanku dan borgol tentu saja.
Kyle langsung memelototiku ketika aku turun untuk bergabung di pesta keluarganya. Begitu juga dengan Red Eye.
“Kau sangat menganggumkan Miss Davis.“
“Terima kasih, Kyle.“
Singkat cerita aku pun bergabung dengan keluarga besar dan kerabat keluarga besar Kyle. Melihat penampilan mereka aku bisa memastikan jika diantara mereka ada juga yang berprofesi sebagai mafia.
Akan kupastikan mereka semua tertangkap malam ini. Karena Lou sudah menyiapkan banyak sekali pasukan yang berjaga di luar sana. Bahkan pasukannya sudah mulai bergerak untuk melakukan pengepungan dengan perlahan. Agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Diam-diam dengan gerakan tangan yang cepat aku memasukan serum pendeteksi kebohongan kedalam gelas yang di pegang oleh Red Eye.
Ternyata dan ternyata Red Eye itu papa nya Kyle yaa..
BalasHapuswaduh, rupanya Lila udh kenal lama itu sama anak penembak maa nya. ckckckk..
Lila juga ikut dalam aksi kali ini.
hati2 La, jangan sampai terjadi sesuatu denganmu dan bayimu yaa..
Hebat bgt itu Red Eye bisa berkeliaran kemana2, padahal dia kan buronan.
huhh, perlu dihajar ini Mark Dickherber.nya..
Ayo lanjutkan aksi kita..
semangattt..