Aku tertegun sejenak, rasa kantuk yang tadi menyerangku
mendadak hilang saat mendengar berita tentang hilangnya Naima. Aku langsung
kembali keruanganku mengambil tas dan persenjataanku, setelah aku
memberitahukan kepada Dhee, Gale, dan yang lain aku langsung pergi kerumah
Lila.
Hanya butuh waktu 10 menit untuk menembus jalanan menuju
kerumah Lila. Sesampainya disana aku langsung mencari Lila. Kulihat Lila sedang
mondar mandir gelisah sambil memegang ponselnya.
“La, kau sudah memeriksa semua pintu dan jendela?? Apakah
ada tanda-tanda yang mencurigakan??”
“Aku sudah memeriksanya Sya, jendela kamarnya rusak.
Terlihat seperti dibuka paksa” jelas Lila.
“Sebaiknya kita telusuri melalui jendela itu, karena
tidak mungkin penculiknya membawa pergi Naima dari pintu depan”
Lalu aku dan Lila memeriksa lagi bagian samping kamar
Naima dari luar. Aku terus berjalan, hingga aku melihat sebuah pintu yang terletak
tidak begitu jauh dari bangunan rumah Lila.
“La, itu pintu kemana??” aku menunjuk kearah pintu itu.
“Setelah pintu itu, ada taman kecil dan setelah itu
disamping bangunan rumah ada hutan yang tidak terlalu lebat”
Kami mendekati pintu itu, aku langsung mendapati kalau
kuncinya juga telah dirusak.
“La, ini berarti penculiknya lewat dari sini, ayo kita
mulai mencari dari sini. Mungkin penculiknya masih ada disekitar sini”
“Iya, Sya..”
Kami berdua mulai menyusuri halaman, hingga taman yang
masih ada dibelakang rumah Lila sambil tetap siaga dengan senjata kami, kalau
saja ada yang mencurigakan. Saat kami akan memasuki hutan Dhee, Gale, Lou,
Olivia, Steve dan Brad datang. Kami membagi menjadi beberapa kelompok agar
pencarian lebih cepat dan mulai menyebar kebeberapa titik melakukan pencarian.
Sekitar hampir satu jam kami menyusuri hutan yang
disamping rumah Lila, tiba-tiba Brad menelponku kalau dia dan Steve menemukan
sebuah pondok yang berada ditengah hutan itu. Menurut mereka dari kejauhan
sepertinya ada hal yang mencurigakan. Mendengar informasi itu aku langsung
memberitahukan dengan yang lainnya dan kami segera mendekat kepondok itu.
Kami sudah mendekati pondok itu perlahan sambil tetap
memperhatikannya. Dari sana terdengar suara bayi menangis.
“Itu Naima..” Lila langsung bergerak untuk masuk kedalam
pondok itu.
“La, kita harus menunggu beberapa saat dulu. Kita tidak
tahu siapa yang ada didalam itu. Aku takut kalau kita langsung masuk akan
membuat penculik itu melukai Naima.” Jelas Lou.
“Lou, benar La.. kau harus bersabar sebentar. Lagi pula
Brad dan Steve mulai menyusup masuk. Kita akan segera masuk jika mereka telah
memberikan aba-aba.” Aku berusaha menenangkan Lila.
Saat suasana sedang tegang menunggu isyarat dari Brad dan
Steve. Tiba-tiba terdengar seseorang yang mendekat kearah kami dengan
tergesa-gesa. Kami yang terkejut langsung mengambil posisi bertahan, jika saja
itu musuh yang akan menyerang kami.
“Maaf aku terlambat sayang” ternyata itu Zac yang baru
saja datang.
“Kau membuat kami kaget Zac, untung saja aku tidak
menembakmu” jawabku sambil memasukkan kembali senjataku.
“Maaf aku sangat panik, ketika Gale mengabari Eric tadi”
Melihat Zac yang datang Lila langsung memeluk suaminya. Beberapa
saat Lila menangis sambil
menceritakan kronologi hilangnya Naima. Zac mengangguk sambil menenangkan Lila.
Tak berapa lama kemudian Steve memberikan isyarat supaya
kami segera mendekat. Kami mendekat perlahan, menyebar mengelilingi pondok itu.
Aku yang berada didekat jendela, dapat melihat apa yang ada didalam. Kulihat
seorang lelaki sedang menggendong Naima dan seorang lagi kulihat keluar dari
pondok itu. Mereka sedang membicarakan cara untuk membawa Naima pergi dari
sini. Aku yang didekat Steve menanyakan siapa lelaki yang barusan tadi pergi.
“Steve apa kau tahu siapa lelaki itu??” aku berbisik
kepadanya.
“Dia adalah anak buah dari Scarface kemarin. Aku juga
tidak tahu sejak kapan Kyle berhubungan dengan anak buah Scarface.”
“Kyle??..” aku terkejut saat Steve menyebut nama Kyle.
“Iya, Kyle Patrick putra dari Red Eye”
Aku mengangguk, dan langsung memberi tahu Dhee dan Lila
kalau yang menculik Naima itu adalah Kyle.
Mendengar Kyle yang menculik Naima, Lila langsung masuk
kedalam tanpa bisa kami tahan lagi. Sebenarnya kami sangat terkejut saat Lila
tiba-tiba masuk kedalam pondok, tapi aku dan Dhee segera menyusul Lila.
Sedangkan Zac dan yang lainnya tetap berjaga diluar karena seorang anak buah
Scarface belum kembali.
“Apa yang kau inginkan Kyle??” Lila terdengar sangat
emosi saat dia mengetahui Kyle lah dibalik semua ini.
“Ohh, kau sudah ada disini ternyata Lila. Padahal aku
belum memberitahumu” jawab Kyle sambil tersenyum sinis.
“Kyle, apa yang kau inginkan?? Sampai-sampai kau menculik
anakkku..” seketika emosi Lila mereda saat melihat Naima dipelukan Kyle.
“Aku menginginkanmu Lila, aku ingin kau pergi bersamaku”
“Apa maksudmu?? Aku sudah menikah dan itu anakku Kyle.
Tidak mungkin aku pergi denganmu” jawab Lila.
“Kau jangan khawatir, kita akan pergi bersama anak ini..
Dengan begitu kau tidak usah bersedih, kau akan tetap bersamanya”
“Kyle, cepat serahkan Naima sekarang??” bentak Dhee.
“Tidak Dhee. Sebelum Lila memastikan kalau dia akan ikut
denganku.”
Kalau saja Kyle tidak sedang menggendong Naima, sudah
kupastikan aku akan menembaknya. Namun aku tetap berusaha sabar, karena ada
Naima bersamanya. Aku takut dia akan melukai Naima kalau kami memaksanya.
“Baiklah, aku kan ikut denganmu Kyle. Ini kulakukan
karena aku ingin bersama anakku.” Jawab Lila.
Kyle tersenyum puas mendengar jawaban Lila.
“Sekarang biarkan aku menggendong anakku. Aku sangat
mengkhawatirkannya” Lila menjulurkan tanganya.
Tapi Kyle mundur selangkah tidak memberikan Naima
langsung kepada Lila.
“Letakkan dulu senjata kalian berdua kelantai, aku tidak
percaya sepenuhnya dengan kalian berdua” jawab Kyle sambil menunjuk kearahku
dan Dhee.
Dhee memberikan isyarat kepadaku untuk menuruti perintah
Kyle. Karena kulihat Zac dan yang lainnya sudah ada dekat pintu. Dan Kyle tidak
menyadarinya.
Lalu aku dan Dhee meletakkan senjata kami kelantai.
“Kita sudah melakukannya Kyle..”
“Bagus, kalian ternyata bisa dipercayai juga” jawab Kyle
sambil tersenyum.
Lila mendekati Kyle “Aku ingin menggendongnya Kyle, aku
sangat merindukannya”
Awalnya Kyle terlihat agak ragu namun akhirnya dia
memberikan Naima kepada Lila, karena Naima menangis lagi. Setelah Naima kembali
bersama Lila. Lila dengan cepat menjauh dari Kyle.
“Kau ingat janjimu Lila..” Kyle mengingatkan.
“Aku yang akan mengingat janjinya Kyle..”Zac yang muncul
tiba-tiba langsung menodongkan senjatanya kekepala Kyle.
“Kau...”
“Beraninya kau menganggu keluargaku. Apa kau lupa
bagaimana kami menangkap Red Eye kemarin?? Ternyata kau dan dia sama, sama-sama
pengecut Kyle.”
Mendengar kata-kata Zac, Kyle terlihat sangat marah.
“Lepaskan aku”
Tapi Eric yang ada didekat Zac langsung memborgol tangan
Kyle.
“Kau harus menanggung semua akibatnya, dan kau akan
menyesal” Zac menjauh dari Kyle.
“Aku tidak akan menyesal..” Kyle menjawab dengan
entengnya.
Zac yang tadi sudah menjauh dari Kyle, kembali mendekatinya.
Tiba-tiba melayangkan sebuah pukulan keras kewajah Kyle. “Ini untuk
kemarahanku”
Lalu Zac pergi keluar dari pondok itu sambil mengajak
Lila yang sedang menggendong Naima.
“Biar kami yang mengurusnya, kalian bertiga kembalilah
kerumah Lila dan Zac” perintah Lou kepadaku, Dhee dan Olivia.
“Baiklah” jawab kami bertiga.
Lalu kami bertiga kembali kerumah Lila, begitu juga
dengan Lou dan Gale. Hanya Brad, Eric dan Steve yang tidak kembali kerumah
Lila. Mereka membawa Kyle dan anak buah Scarface tadi kemarkas kepolisian untuk
diproses secara hukum.
***
Dua bulan telah berlalu dari kejadian penculikan Naima
yang dilakukan oleh Kyle. Beberapa waktu yang lalu Lila dan Zac juga sudah
pindah kerumah baru mereka. Sepertinya keluarga itu agak sedikit trauma sejak
kejadian penculikan itu.
Hari ini aku dan Mark juga baru selesai pindahan dari
apartemen Mark kerumah baru kami yang terletak sebuah kompleks perumahan mewah
di New York. Setelah selesai membereskan pakaian dan beberapa barang, aku dan
Mark langsung mandi. Selesai makan malam, aku kekamar untuk beristirahat. Aku
merasa kepalaku pusing lagi. Memang beberapa hari ini aku sering sekali merasa
pusing, Mark sudah mengajakku untuk kedokter namun karena pusing itu tidak
menganggu aktivitasku jadinya aku menolak.
Dikamar aku berusaha untuk tidur, agar pusingnya hilang.
Tapi saat aku akan tertidur Mark masuk, sepertinya dia tahu kalau aku pusing
lagi..
“Kau kenapa sayang?? Pusing lagi??” dia bertanya sambil
berbaring disampingku.
“Aku memang sedikit pusing Mark, itu karena aku
kelelahan.”
“Aku ambilkan obat yaa”
“Tidak usah, aku hanya ingin beristirahat dan tidur,
besok pagi pasti sudah lebih baik” jawabku.
“Kau yakin sayang??”
Aku mengangguk, “ Iya aku yakin sayang” jawabku.
Lalu aku memejamkan mataku, sedang dia memeluk tubuhku
sambil mencium keningku.
Pagi harinya aku terbangun saat sinar matahari yang masuk
melalui jendela kamar menghangatkan tubuhku. Saat aku membuka mataku, aku
langsung mencari Mark yang tadi malam ada disampingku.
“Mark, sayang...” aku memanggilnya.
“Iya sayang, kau sudah bangun yaa..”
Kulihat Mark baru selesai mandi, dia langsung
mendekatiku, duduk disamping tempat tidur.
“Jam berapa ini?? kenapa kau tidak membangunkanku??”
“Tidurmu nyenyak sekali, aku tidak tega jika harus membangunkanmu
sayang” katanya sambil mencium keningku.
“Tapi aku harus kekantor, aku tidak ingin terlambat..”
“Kau ingin masuk kerja?? Apa pusingmu sudah hilang??”
“Umm, sedikit.” Jawabku.
“Apa kau yakin sayang, jika belum juga membaik sebaiknya
kita pergi kedokter saja hari ini, aku mengkhawatirkanmu” katanya sambil
membelai wajahku.
Aku beranjak duduk disampingnya “Aku tidak apa-apa,
percaya padaku sayang” aku mencium bibirnya dengan gemas.
Saat aku menciumnya, Mark lagsung membalasnya ciumanku.
Bibirnya mengecap semua bagian mulutku. Lidahnya masuk kedalam mulutku dan
menari bersama lidahku didalam sana. Ciuman kami berubah menjadi ciuman yang
liar dan panas. Aku mulai mengalungkan tanganku kelehernya. Mark masih
menciumku dengan intens, sesekali dia menggigit bibir bawahku. Beberapa saat
kemudian Mark melepaskan ciumannya karena nafas kami yang sudah terengah-engah.
“Sebaiknya kau segera bersiap sayang, jika tidak aku akan
membuatmu tidak masuk kekantor hari ini” suaranya terdengar berat ditelingaku.
Aku tersenyum sambil mengangguk, “Ya, aku akan bersiap
sekarang “ jawabku.
Lalu aku turun dari tempat tidur, namun saat berdiri
tubuhku terasa limbung. Hampir saja aku terjatuh untung Mark memegangi tubuhku.
“Hati-hati sayang”
“Ahh, iya..”
Lalu aku masuk kekamar mandi, saat dikamar mandi kepalaku
pusing lagi bahkan saat ini aku merasakan mual. Aku tak dapat lagi menahannya
hingga aku muntah.
Saat aku muntah-muntah, Mark masuk kedalam kamar mandi. Dia
langsung menutupi tubuhku yang telanjang dengan jubah mandiku.
“Kau muntah sayang, sebaiknya tidak usah kekantor saja,
aku akan menelpon Dhee menberitahukan keadaanmu”
“Ini masuk angin Mark, aku baik-baik saja. Biasanya aku akan merasa lebih enak
setelah muntah.”
Karena kau bersikeras tetap pergi kekantor, akhirnya dia
mengizinkanku masuk hari ini dengan syarat aku harus menelponnya jika terjadi
seseuatu denganku.
***
Sesampainya dikantor aku masuk keruanganku, menyelesaikan
pekerjaanku. Namun belum lama aku bekerja, perutku mual lagi, dengan cepat aku
bergegas ketoilet. Saat akan keluar ruanganku, aku bertemu Dhee, sepertinya dia
akan keruanganku. Karena aku sudah tak tahan lagi tak kuhiraukan Dhee yang
memanggilku. Saat didalam toilet aku langsung memuntahkan semuanya. Setelah
selesai aku keluar toilet, tubuhku terasa lemah sekali.
“Kau kenapa Sya?? kau muntah??” Dhee menghampiriku sambil
memberikan segelas air minum.
“Terima kasih Dhee, aku tidak enak badan. Sudah beberapa
kali aku muntah pagi ini. Sepertinya aku ingin pulang saja”
“Kau harus segera kedokter Sya, aku antar ya. Lagi pula
kau tidak membawa mobilkan hari ini??”
“Aku akan menelpon Mark saja, aku ingin kedokter sepulang
dari sini”
“Baiklah, aku harap kau tidak apa-apa Sya” jawab Dhee
sambil menepuk pundakku.
“Terima kasih Dhee”
Lalu kami kembali lagi keruanganku. Aku langsung menelpon
Mark, untuk meminta jemput dengannya. Setelah setengah jam menunggu akhirnya
Mark datang, aku langsung berpamitan dengan Dhee kemudian pergi kedokter untuk
memeriksa kesehatanku yang beberapa hari ini menurun.
Sesampainya aku dirumah sakit aku langsung diperiksa oleh
seorang dokter. Setelah hampir satu jam menunggu akhirnya hasil labku keluar. Dokter
menyatakan kalau saat ini aku hamil. Sesaat aku dan Mark terkejut saat dokter
itu menyatakan aku hamil, namun tak lama kemudian Mark langsung memelukku dan
menciumku. Aku tidak percaya, tapi aku sangat bahagia mendengarnya. Menurut
perkiraan dokter kehamilanku berusia
empat minggu.
Selesai memeriksa keadaanku dan kandunganku, dokter
memberikan beberapa resep obat dan vitamin, serta daftar yang boleh ku lakukan
dan yang tidak selama aku hamil. Setelah semuanya selesai aku dan Mark pulang
kerumah.
“Sayang, aku sangat bahagia saat dokter itu bilang kau
hamil. Aku sangat mencintaimu sayang” dia memelukku erat, kemudian mencium
keningku dengan lembut.
“Aku juga sangat mencintaimu Mark, sangat mencintaimu”
Dia melepaskan pelukannya dan mengelus perutku “Cepat
besar ya sayang” katanya sambil mencium perutku.

Kyle ternyata yg nyulik Naima :O
BalasHapusGak nyangka Kyle ko jahat sih beraninya sm Naima, kan msh bayi u.u
Untung Naima bisa diselamatin, bisa balik ke Lila n Zac.
Asya hamil?? oooo WOW…congrats Asya n Mark.
Bakalan punya keponakan lg nih yeay.
Ayo Lila, pnya anak lg biar tambah byk keponakannya Dhee
:Dv
fiuuh…akhirnya satu persatu masalah bisa diselesaikan dan berganti dengan kebahagiaan.
Is this the end of stories? u.u
next chapter lanjut author
#colekcolekauthor
:**
ya ampun Kyle, teganya dirimu menculik anakku :‘(
BalasHapusknp km jahat gini sih Kyle???
aku ud pnya suami jd tolong jng gnggu2 lagi u.u (lebay)
eh Asya hamil ya??
selamat selamat...
ayo Dhee, kpn mau nyusul..
#toeltoelGalesamaDhee
ummm overall ud bagus tapi kurang dramatis :P
dan masih ada pnggunaan kata dan kalimat yg kurang pas.
tp gpp sih, bisa di perbaiki kok ntar...
next giliran siapa ya????
#lirikDhee zD