Perjalanan yang panjang dari London ke New York,
membuat kami sangat kelelahan. Aku langsung tertidur sesampainya diapartemen.
Tak kuhiraukan lagi Mark yang masih mengangkat koper-koper kami dari bagasi
mobil menuju kekamar.
Aku, mama, dan papa
sedang dalam perjalanan kesebuah tempat. Papa yang mengajakku dan mama untuk
berlibur. Aku sangat senang sekali, karena sudah lama kami tidak berlibur
bersama. Selama diperjalanan aku hanya sibuk membaca buku cerita yang baru saja
dibelikan mama. Saat aku sedang membaca tiba-tiba mobil yang kami tumpangi
seperti berguncang, papa yang sedang menyetir terlihat sangat kebingungan tak
bisa mengendalikan mobil. Mobil kami melaju semakin kencang. Aku yang duduk
sendiri dibangku belakang ketakutan, begitupun mama dia mengenggam tanganku
erat.
“Aku takut ma..”
air mataku mulai mengalir.
“Tenang sayang,
kamu jangan takut..”mama menenangkanku.
Namun tak lama
kemudian, terdengar suara benturan cukup keras, mobil kami terbalik. Tubuhku
terhempas, kepalaku terbentur. Aku meringis kesakitan sambil memegangi
kepalaku. Tapi sakit yang kurasakan tak sebanding dengan kulihat
disekelilingku, kulihat kaca mobil pecah, mama tak sadarkan diri dengan wajah
penuh darah begitupun papa. Aku berteriak
histeris melihat mereka berdua.
“Maaa... Pa,,,,
bangun...”
Tapi mereka tak
sedikitpun bergerak.
“Mama,...papa....”
aku berteriak lagi..
“Asya.. bangun sayang..”
Terdengar seseorang memanggilku sambil mengguncang
tubuhku.
“Sayang, sayang...” panggilnya lagi.
Perlahan aku membuka mataku, ada Mark dengan wajah
paniknya disampingku.
“Kau kenapa?? Kau mimpi buruk” katanya sambil menyeka
keringat diwajahku.
“Aku pergi dengan kedua orang tuaku, tapi kita
kecelakaan. Dan mereka...” aku langsung menangis saat membayangkan wajah kedua
orang tuaku tadi.
“ Itu hanya mimpi sayang, kau terlalu lelah”
Aku masih menangis..
“Ku mohon jangan menangis lagi, sayang” katanya sambil menyeka
air mataku, lalu dia menarikku kedalam pelukannya, dia mencium keningku dengan
hangat.
“Ada aku disini..”
Aku memeluknya erat, membenamkan wajahku kedadanya sambil
memejamkan kembali mataku berusaha untuk tidak mengingat mimpi itu lagi.
***
Pagi harinya aku terbangun mendengar suara ponselku yang
dari tadi berdering memecah kesunyian. Kuambil ponselku yang ada dimeja
disamping tempat tidur kami. Kulihat nama Dhee yang tertera dilayar ponselku,
langsung saja aku menerimanya.
“Halo Dhee..”
“Asya, apa kau sudah pulang dari bulan madu mu?”
“Iya, Dhee aku kembali kemarin sore..”
“Maaf aku mengganggu waktumu dan Mark, tapi kita
membutuhkanmu. Sebuah kecelakaan yang menewaskan salah satu petinggi kepolisian
diduga telah direncanakan oleh sebuah kelompok mafia. Saat ini kami telah
berhasil menangkap anak buahnya. Kami membutuhkanmu Sya, Brad dan Gale baru
akan kembali dari Kanada besok. Kita akan menyusun strategi hari ini.” Dhee
menjelaskan semuanya padaku.
“Iya Dhee aku mengerti, aku memang akan kembali kekantor
hari ini. Aku akan sampai dikantor satu jam lagi.” Jawabku.
“Terima kasih Sya. Baiklah kami akan menunggu kedatanganmu.
Sampai bertemu dikantor nanti”
“Iya Dhee..” aku menutup telponnya.
“Siapa sayang..??” suara dan belaian Mark dipunggungku
sedikit mengejutkanku.
Aku yang tadi memunggunginya, berbalik menghadapnya
sambil membelai wajah tampannya.
“Kau sudah bangun yaa?? Tadi Dhee menelponku. Mereka
membutuhkanku, saat ini kami kekurangan tim. Gale dan Brad sedang di Kanada. Aku
akan bersiap sekarang sayang, aku harus segera kekantor”
“Apa kau baik-baik saja setelah mimpi burukmu semalam,
kau baru tertidur lagi menjelang pagi sayang??”
“Aku baik-baik saja” jawabku sambil mengecup bibirnya.
“Sebaiknya kau juga segera bersiap, bukankah waktu
liburmu juga telah berakhir. Aku yakin sebentar lagi asistenmu akan
menelponmu juga” jawabku sambil
tersenyum.
“Ya, kita akan kembali kerutinitas lagi sayang”
Lalu kami beranjak dari tempat tidur, masuk kekamar
mandi.
***
Aku masuk kedalam kantor dengan tergesah-gesah, aku
tahu saat ini aku sudah terlambat 20
menit. Andai saja aku dan Mark pergi lebih awal sebelum kemacetan terjadi,
pasti aku tidak akan terlambat. Aku bertanya dengan salah satu pegawai kemana
Dhee dan yang lainnya, ternyata mereka sudah ada diruang rapat.
Aku masuk keruang rapat, kulihat sudah ada Lou, Steve,
Eric, Zac dan Dhee disana. Aku langsung duduk disebelah Dhee.
“Maaf aku terlambat..”
“Tidak apa-apa Sya, kami baru memulainya 15 menit yang
lalu” jawab Lou.
Aku mengangguk mendengarkan Lou.
“Sya, aku yakin tadi saat aku menelponmu kau sedang asyik
dengan Mark kan??” Dhee berbisik-bisik menggodaku.
“Tidak Dhee, aku baru bisa tertidur nyenyak menjelang
pagi”
“Ohh, jadi itu sudah selesai..”
Aku melotot kepada Dhee..
Suara Lou berdehem membuat aku dan Dhee fokus lagi
mendengarkan Zac yang sedang menjelaskan strategi yang akan kami lakukan untuk
menangani kasus ini.
Dari penjelasan Zac aku baru tahu kalau kelompok mafia
ini seringkali merencanakan beberapa tindak kejahatan yang korbannya adalah
pejabat kepolisian, pengusaha kaya, bahkan pejabat pemerintahan juga target
kejahatan mereka. Aku jadi berfikir bahwa kelompok ini sangat rapi dalam
menjalankan aksinya, mereka bukan mafia biasa.
Kami telah menyusun rencana untuk melakukan penyergapan,
tapi sebelumnya kami akan menginterogasi seorang lelaki yang diduga anak buah
dari kelompok mafia itu. Menurut Eric biasanya anak buah kelompok mafia itu
tidak akan mengaku siapa ketua kelompok mereka. Bahkan mereka rela mati asalkan
rahasia kelompok mereka tetap terjaga. Kami mendapat ide, untuk melakukan hal
yang pernah dilakukan Lila kepada Red Eye saat kami melakukan penyergapan
dirumah orang tua Kyle. Ya, memasukkan
serum anti kebohongan kedalam minumannya.
Selesai rapat kami langsung kekantor polisi, menemui
seseorang yang diduga anak buah dari sebuah kelompok mafia besar. Sesampainya
disana kami langsung melaksanakan apa yang telah kami rencanakan tadi saat
dikantor. Steve yang memasukkan serumnya kedalam air minum lelaki itu, dia tak
menyadari apa yang telah Steve lakukan. Beberapa saat setelah dia meminumnya,
Zac dan Lou menginterogasinya.
Dari hasil interogasi yang dilakukan Zan dan Lou, kami
mulai menemukan banyak fakta darinya, ternyata dia adalah Charlie Hunt, anggota kelompok mafia yang diketuai oleh Sam
Moran atau yang lebih dikenal dengan nama Scarface.
Saat mendengar namanya aku langsung mencari data tentang Sam Moran atau
Scarface. Setelah mendapatkan beberapa informasi aku mulai membacanya
data-datanya. Aku tidak memperhatikan percakapan antara Zac, Lou dan Charlie
Hunt namun saat Charlie Hunt menyebutkan nama Ardy Yudha Wiranata dan Christina
Mary Clarkson aku langsung kaget, itu nama kedua orang tuaku. Dhee juga
langsung memandangiku saat mendengar nama itu. Aku meletakkan laptopku,
kemudian mendekat duduk disamping Zac.
“Bisakah kau menjelaskan tentang Ardy Yudha Wiranata dan
Christina Mary Clarkson??”
“Aku sudah bekerja dengan Sam selama 16 tahun, Ardy
Wiranata adalah seorang pengusaha sukses, istrinya Christina Clarkson adalah
seorang agent wanita yang sangat hebat. Setelah mereka menikah Ardy juga
menjadi agent, mereka bersama 3 orang temannya adalah tim yang hebat saat itu.
Semua kasus dapat dipecahkan, beberapa kelompok mafia berhasil mereka tangkap,
namun tidak untuk kami. Kami berhasil merencanakan sebuah kecelakan yang
menewaskan keluarga itu bahkan sampai saat ini anak perempuannya pun tidak
diketahui keberadaannya. Kecelakaan itu terjadi 14 tahun yang lalu di Las
Vegas. Dan sampai saat ini tidak ada yang mengetahui pasti kalau kami lah yang
menyebabkan kecelakaan itu”
Aku tertegun mendengarkannya. Hatiku terasa hancur, aku
mengepalkan kedua tanganku kemarahanku sudah tak dapat ditahan lagi.
“Ya cukup Charlie”
Aku langsung kembali kedekat Dhee, Dhee langsung
menatapku kasihan.
“Sya..” dia memanggilku.
“Aku ingin membereskannya sekarang, aku akan mencari Sam”
“Sya, kita akan melakukannya setelah ini, kau harus
sedikit bersabar. Aku tahu yang kau rasakan saat ini”
Aku mengangguk, ya aku takkan bisa menghadapi Scarface
sendirian. Akan kubalas semuanya nanti.
“Aku keluar sebentar, aku ingin sendiri. Tolong lanjutkan
pencarian datanya”
Lalu aku langsung keluar dari ruangan itu menuju toilet.
Air mataku tak dapat kutahan lagi, ingin rasanya aku menjerit. Sebuah kenyataan
yang sangat pahit. Kedua orang tuaku meninggal bukan karena kecelakaan murni
tapi ini semua direncanakan. Itu berarti mereka dibunuh. Aku menangis
sejadi-jadinya ditoilet.
Beberapa saat kemudian aku bisa mengendalikan emosiku.
Aku keluar toilet dengan mata sedikit
bengkak. Bayangan wajah kedua orang tuaku dimimpiku semalam kembali ku ingat.
Hatiku kembali sakit. Ya Tuhan, kuatkan
aku untuk melewati semua ini.
Saat aku keluar dari toilet aku bertemu dengan Steve. Dia
baru saja keluar dari toilet pria. Aku berusaha untuk memalingkan wajahku agar
mataku yang sehabis menangis tidak dilihatnya. Namun ternyata Steve mengetahuinya
dan dia mulai bertanya kepadaku.
“Kau disini rupanya..?? Dhee mencarimu. Interogasinya
sudah selesai”
“Aku akan segera kesana. Terima kasih Steve” jawabku
sambil tetap berjalan untuk menemui Dhee dan yang lainnya.
Saat sedang berjalan Steve menarik tangan kananku.”Sya,
apa benar yang dikatakan Dhee tentang orang tuamu tadi ??”
Aku mengangguk “Iya Steve, aku tidak tahu kalau
kecelakaan itu direncanakan, karena saat itu aku masih kecil” air mataku mulai
mengalir lagi.
Dia menepuk pundakku, kemudian dia memelukku “ kita akan
mencarinya besok. Semua data telah terkumpul. Kau harus sabar Sya”
“Iya Steve, terima kasih untuk bantuan kalian” aku
melepaskan pelukannya.
“Kita harus kembali menemui mereka, kami semua
mengkhawatirkanmu” ajak Steve.
Lalu kami kembali keruangan interogasi.
Saat melihatku Dhee langsung memelukku erat.
“Kita sudah mendapatkan datanya Sya. Besok kita akan
menyergap mereka”
Aku mengangguk. “Terima kasih untuk bantuannya Dhee”
Lalu kami kembali kekantor mempersiapkan untuk penyergapan
besok.
***
Pagi ini aku sudah bersiap untuk penyergapan. Mark akan
ikut kami hari ini setelah aku menceritakan tentang kecelakaan orang tuaku yang
disebabkan oleh Sam. Sebenarnya aku tidak setuju dia ikut, tapi dia memaksa,
dia sangat mengkhawatirkanku. Akhirnya aku menyetujuinya, asalkan Mark nanti
menunggu dimobil pengintai.
Sesampai dikantor kami langsung menuju ketempat
persembunyian Scarface. Saat ini mereka sedang ada disebuah hotel dan sebentar
lagi akan mereka akan meninggalkan hotel. Tim kami sudah menyebar dibeberapa
titik disekitar hotel itu.
“Sayang aku keluar sekarang. Tetaplah disini, dan jangan
kemana-mana sebelum aku kembali. Aku mohon”
“Kau harus hati-hati sayang, aku akan menunggumu disini”
jawabnya sambil mengecup bibirku.
“Aku mencintaimu Mark..”
“Aku juga sangat mencintaimu” jawabnya.
Lalu aku keluar dari mobil, bergabung dengan tim yang
lainnya.
Aku setim dengan Dhee dan Eric. Kami masuk lewat pintu
darurat hotel itu. Langsung kelantai tiga. Karena menurut informasi yang kami
dapatkan dia menempati kamar dilantai 3. Tak butuh waktu yang lama kami
menemukan kamar 131 tempat Scarface menginap. Saat ada didepan pintu kamarnya
kami mendengar beberapa orang sedang berbicara. Eric meyakinkan kalau itu
adalah suara Scarface. Dengan sekali aba-aba kami menendang pintunya dan pintu
itu terbuka. Eric benar, ada Scarface dan 2 orang anak buahnya disini. Mereka
terkejut melihat kami bertiga.
“Tidak ada lagi celah untuk melarikan diri Scarface,
tempat ini sudah dikepung” Eric mengancamnya.
“Kalian siapa??”
“Aku putri dari Ardy Wiranata dan Christina Clarkson” aku
menjawabnya sambil tetap siaga dengan senjataku.
“Kau...”
“Menyerahlah Sam, inilah akhir hidupmu sebagai mafia”
Namun tanpa diduga anak buahnya melepaskan sebuah tembakan
kearahku, dengan cepat aku menghindar dan tembakannya meleset. Kami terlibat
aksi tembak menembak, aku dan Dhee berlawanan dengan anak buah Scarface
sedangkan Eric dengan Scarface, tak lama kemudian Steve datang membantu Eric.
Saat senjata lawanku kehabisan peluru, dia melepaskan sebuah pukulan kearahku
disaat aku lengah dan mengenai bibirku.
Aku merasa terasa darah keluar dari bibirku namun aku tak mengiraukannya. Aku
langsung menembak kakinya, dan tak lama kemudian dia terduduk tak berdaya
menahan sakit. Kulihat begitu juga lelaki yang berkelahi dengan Dhee, dia
menyerah setelah Gale menembaknya.
Aku melihat Scarface yang masih
bisa bertahan melawan Eric dan Steve. Emosi ku sudah tak dapat kutahan lagi,
aku langsung melepaskan sebuah tembakan hingga tepat mengenai kaki kanannya.
Scarface terjatuh, senjatanya terlepas. Dengan cepat Steve mengambilnya.
“Itu untuk semua kejahatanmu Sam..” aku mendengus
kearahnya.
“Aku akan membalasnya “
“Tidak ada waktu lagi” jawabku.
Dan Eric langsung memborgol tangannya. Tak lama kemudian
beberapa tim kami datang membawa mereka kedalam mobil tahanan.
“Kalian tidak apa-apakan?? Maaf kami datang terlambat.
Anak buahnya ada dibawah tadi” Zac datang bersama Lou dan Brad.
“Kita tidak apa-apa Zac.” Jawabku.
“Sya, bibirmu berdarah..”
“Aku tidak apa-apa Dhee, hanya pukulan ringan dari
lawanku tadi”
“Aku akan mengobatimu dimobil nanti”
Aku mengangguk..
“Sebaiknya kau dan Dhee segera kembali kemobil Sya, kami
akan segera menyusul setelah memeriksa kamar ini. Sepertinya mereka
menyembunyikan sesuatu”
“Baiklah, kami menunggu kalian dimobil secepatnya” jawab
Dhee.
Lalu aku dan Dhee kembali kemobil, di mobil kulihat Mark
menunggu dengan gelisah. Dia tersenyum saat melihatku dan Dhee kembali.
“Sayang, apa kau terluka??” Mark langsung memelukku dan
mencium keningku.
“Aku tidak apa-apa. Sudah kubilang kau tak perlu khawatir
denganku”
“Iya Mark, kami tidak apa-apa. Sebentar lagi yang lainnya
kan segera kembali” jawab Dhee.
Mark memperhatikan wajahku, dia memegangi ujung bibirku “
tapi ini??”
“Tidak, ini hanya luka kecil, Dhee yang akan
mengobatiku.”
“Sini biar aku yang mengobatimu Sya” Dhee mendekatiku
sambil memegang es batu.
“Dhee biarkan aku yang mengobatinya, sebaiknya kau
istirahat saja” Mark mengambil es batu dan obat yang dibawa Dhee.
“Baiklah” jawab Dhee sambil tersenyum.
Lalu Mark mengobati lukaku, aku meringis perih saat
obatnya dioleskan kebibirku.
“Aku bersyukur kau tidak apa-apa, aku sangat takut
terjadi sesuatu denganmu sayang”
“Kau sudah lihatkan, aku baik-baik saja sayang. Scarface
sudah ditangkap, dan tadi aku sempat menembaknya. Aku sedikit lega akhirnya
dendamku terbalas” jawabku sambil tersenyum.
“Tadi aku menelpon Christian memberitahu tentang ini,
sebaiknya kau telpon lagi nanti. dia mengkhawatirkanmu..”
“Baiklah, aku akan menelponnya nanti” jawabku sambil
membelai wajahnya dan mengecup bibirnya dan melepaskannya.
Belum lama aku melepaskannya dia menarik daguku lagi. Dia
mencium bibirku dengan lembut dan intens “Aku mencintaimu sayang”
“Aku juga sangat mencintaimu” jawabku sambil membalas
ciumannya.
“Sebaiknya kita pulang sekarang” suara Zac membuat kami
melepaskan ciuman kami.
Aku tersipu malu saat kulihat Zac dan yang lainnya sudah
kembali. Mereka berdiri didepan pintu mobil yang dari tadi memang kami buka.
“Apa semuanya sudah selesai??” tanyaku
“Iya Sya, barang bukti sudah dibawa”
“Lanjutkan dirumah Mark..” Gale menggoda Mark. Sedangkan
Mark hanya tersenyum.
“Gale...” aku melotot kearah Gale.
“Sudah sebaiknya kita pulang dan segera beristirahat.
Hari ini cukup melelahkan” Zac menengahi aku dan Gale.
“Terima kasih untuk semuanya ya, aku tahu ini takkan
berhasil tanpa kalian semua.”
“Sudah seharusnya kita saling membantu Sya..” jawab Lou.
Lalu kami masuk mobil untuk kembali kekantor dan setelah
itu kami pulang kerumah untuk beristirahat.
***
Seminggu telah berlalu dari penyergapan Scarface, aku
sangat lega karena akhirnya aku bisa membalaskan semua yang dilakukan Scarface
kepada orang tuaku. Sekarang dia telah tertangkap dan dipenjarakan.
Pagi ini aku sudah berada dikantor, setibanya dikantor
aku langsung keruanganku untuk membereskan semua berkas yang nanti akan aku
laporkan kepada Lou. Belum lama aku mengerjakan pekerjaanku, aku keluar
ruanganku untuk membuat kopi, rasanya aku sangat mengantuk pagi ini.
Tapi saat aku tiba dipantry, ponselku berbunyi. Ternyata Lila
yang menelponku.
“Hallo La??”
“Sya,..” suaranya terdengar bergetar.
“Ada apa La?? Sepertinya kau sedang panik..”
“Naima hilang Sya, aku mohon bantu aku mencarinya.”
“Naima hilang?? Kau yakin, mungkin dia diajak oleh
susternya keluar??”
“Tidak Sya, dia belum keluar hari ini. Tadi pagi saat
suster kekamarnya, Naima sudah tidak ada” jawab Lila sambil menangis.
“Aku dan yang lainnya akan segera kesana La, kau harus
tenang dulu. Sebaiknya beritahu Zac secepatnya.”
“Aku sudah menelpon Zac, tadi tidak bisa. Ponselnya tidak
aktif”
“Ya sudah kau harus tetap tenang La, aku akan kesana”
jawabku sambil menutup telponnya.
yuhuuuuu akhirnya muncul juga ini chapter 44..
BalasHapusDiawali dengan pasangn newlywed kita yg baru plng h.moon...
ada peningkatan dalam penuturan ceritanya. meskipun ada beberapa pnempatan kata dan kalimat yang kurang pas sih...
selebihnya sippp... di tunggu revisian chapter yang ini sama next chapternya :D :*