Akhir-akhir
ini aku sering ditugaskan oleh Lou keluar kota bahkan keluar negeri untuk
menghadiri beberapa pertemuan dengan para agent
dunia. Terkadang aku bingung sendiri, bagaimana jika nanti aku sudah menikah
apa kesibukanku akan tetap seperti ini. Entahlah. Beruntungnya Mark sangat
memaklumi pekerjaanku, selama aku masih bisa menjaga keselamatan diriku.
Sudah
lama sekali aku tidak berkumpul dengan kedua sahabatku, aku sangat merindukan
mereka. Terutama dengan Lila, aku sudah lama tidak bertemu dengannya, tepatnya
sejak dia memutuskan untuk non aktif sementara dari keanggotaannya sebagai
agent karena sebentar lagi dia akan melahirkan putri pertamanya.
Hari
ini aku berencana untuk mengunjungi Lila dirumahnya yang terletak dipinggiran
kota New York. Aku belum menceritakan tentang rencana pernikahanku dengan Mark
yang akan dilaksanakan dipertengahan tahun ini. Aku yakin dia akan sama
bahagianya denganku saat mengetahuinya. Tadi saat dikantor aku menceritakannya
dengan Dhee. Jangan ditanya bagaimana reaksi Dhee saat mendengarnya. Dia sangat
senang karena akhirnya aku akan segera menikah dengan Mark. Dan yang membuatku
tertawa saat Gale langsung mengajaknya menikah juga. Namun Dhee tidak
mengubrisnya, sepertinya dia belum siap menikah dalam waktu dekat. Melihat Dhee
yang belum memberikan tanggapan Gale terlihat agak kecewa. Tingkah Gale yang
sedikit konyol itu membuatku tak henti-hentinya tertawa.
Aku
mengendarai mobilku dengan kencang dijalanan yang sepi, sekitar 10 menit
akhirnya aku sampai dirumah Lila. Aku langsung memarkirkan mobilku didepan
garasinya, kemudian mengetuk pintunya. Tak lama
kemudian Lila membukakan pintunya. Dia sepertinya terkejut dengan
kedatanganku yang tiba-tiba.
“Lilaaa....”
aku langsung memeluknya.
“Asya..
kapan kau pulang dari L.A?? kau tidak bilang akan datang??. Ayo masuk..”
Lalu
kami berdua berjalan masuk keruang tamu Lila dan duduk disofa.
“
2 hari yang lalu La, aku sengaja tidak memberitahumu akan kesini, aku ingin
memberimu kejutan. Kau tahu, aku sangat merindukanmu..”
“aku
juga sangat merindukanmu Sya, kemarin dihari terakhirku dikantor kau sedang ada
di L.A. Bagaimana semuanya pekerjaanmu beres kan??”
“Iya
La, semuanya beres.. “ jawabku.
“kau
mau minum apa?? Aku buatkan yaa”
“tidak
La, tidak usah aku belum haus. Oh iya, aku membawakanmu ini.” aku memberikan
bungkusan berisi buah-buahan yang ku beli tadi.
“ya
sudah kalau kau belum mau, terima kasih ya untuk buahnya “
“Ehh,
Zac mana La??”
“Zac,
sedang pergi berbelanja Sya, persediaan makanan kami tinggal sedikit. Tadinya
aku ingin ikut, tapi dia melarangku.”
“ohh,
iya La, kau jangan terlalu lelah. Apalagi saat ini perutmu sudah sangat besar.
Kapan kau kan melahirkan??”
“Menurut
dokter, sekitar 3 atau 4 hari lagi Sya. Aku sangat gugup menantinya. “
“Semoga
proses kelahirannya lancar ya La..”
“
aku harap juga begitu,. Bagaimana hubunganmu dengan Mark?? Zac dan Dhee bilang
akhir-akhir ini kau sering diantar Mark kalau kekantor. Dia sudah tahu tentang
pekerjaanmu??”
Aku
langsung tersenyum mendengarnya,
“kau
kenapa tersenyum??”
“Iya
dia sudah lama tahu tentang pekerjaanku, dan beruntungnya dia memakluminya. Dan
satu hal lagi La, dia melamarku...” jawabku penuh semangat
“kau
serius Sya?? Lalu kapan kalian akan menikah??’ Lila meyakinkanku
Aku
mengangguk “ Iya aku serius, kami akan menikah pertengahan tahun ini. Mark
masih ada beberapa jadwal tour saat ini”
“Selamat
Sya, selamat yaa.. aku turut bahagia mendengarnya” dia langsung memelukku.
“terima
kasih La, kau tahu aku sangat membutuhkan kalian untuk memantapkan hatiku.
Terkadang saat aku ingat pernikahanku yang semakin dekat membuatku ragu dan
gugup”
“apa
yang kau ragukan Sya??, Mark sangat mencintaimu, dia mau menerima keadaanmu”
“entahlah
apa yang kuragukan saat ini, aku tidak bisa mengungkapkannya”jawabku.
“sebenarnya
semua perempuan akan gugup saat akan menikah. Lalu apakah Christian sudah tahu
tentang ini”
“aku
sudah menelponnya beberapa waktu lalu, dia sangat senang. Tapi sayang dia belum
bisa datang kesini, dia sepertinya sangat sibuk La.”
“sudah
tidak apa-apa Sya, disini kau masih ada aku, Dhee, Zac, dan Gale. Kita semua
keluarga Sya. “
Aku
mengangguk mendengar ucapannya, Lila benar walaupun kak Tian belum bisa kesini
aku masih ada sahabatku yang selalu menemaniku. Merekalah keluargaku selain kak
Tian.
“Asya,
aku tahu kau sedang memikirkan orang tuamu. Kau jangan sedih Sya” Lila menepuk
pundakku.
“Iya
La,aku tahu. Aku tidak boleh bersedih. Aku sangat beruntung memiliki kalian
semua.”
“Sya,
aku kedapur dulu ya. Aku ingin membuat teh untuk kita berdua.”
“aku
ikut ya, sekalian aku mau ketoilet La.” Jawabku
Lalu
kami berjalan kedalam, Lila kedapur dan aku toilet. Selesai dari toilet aku
menyusul Lila didapur. Saat baru saja aku melangkah keluar toilet kudengar Lila
memanggil namaku.
“Syaa.
Asya.. tolong aku Sya”
“Iya
La, ada apa??” aku bergegas menemuinya
Saat
aku sampai didapur kulihat Lila sudah terduduk dikursi didekat meja
makan,wajahnya terlihat sangat pucat, keringatnya pun bercucuran. Aku langsung
panik melihatnya.
“Kau
kenapa La??”
“Sya,
perutku sakit sekali rasanya. Tolong bantu aku kekamar yaa”
“Iya
Laa, ayo. Kau pelan-pelan yaa??”
Aku
memapah Lila berjalan kekamarnya. Sesampai dikamar dia langsung duduk bersandar
ditempat tidurnya.
“kau
kenapa La.. aku telpon Zac dulu yaa..”
“perutku
sakit Sya, sepertinya aku akan melahirkan. Iya kau telpon Zac, cepat Sya..”
“Iya
La, aku menelponnya sekarang”
Lalu
aku menelpon Zac, tapi saat ku telpon terdengar suara ponsel berbunyi diatas
meja hias Lila. Astaga aku rasa ponsel Zac tertinggal.
“Sya,
itu ponselnya Zac. Ponselnya tertinggal.”Lila masih meringis kesakitan.
“kita
kerumah sakit saja yaa. Aku bantu kemobilku”
“Tidak
Sya, kau telpon saja dokter kandunganku. Suruh dia kesini. Nomornya ada
diponselku. Cepat Sya ini sakit sekali” Lila meringis sambil memegangi perutnya
“Iya
La, iya.”
Lalu
aku mengambil ponsel Lila dan menelpon dokter kandungannya. Mereka akan datang
kesini 10 menit lagi. Tapi aku sangat kasihan melihat Lila yang kesakitan. Ya
Tuhan, bantulah dia..
Saat
aku sedang menenangkan Lila yang mulai menangis karena kesakitan, kudengar
seseorang datang.
“Sayang
kenapa kau tidak mengunci pintunya??” terdengar suara Zac dari arah ruang tamu
“Zaaac...”
Lila memanggil Zac pelan.
“La,
kau tunggu disini ya. Biar aku yang menemui Zac” Lila mengangguk, aku lalu
menemui Zac.
Kulihat
Zac baru saja pulang dari belanja banyak sekali kantong yang dia bawa.
“Zac,
akhirnya kau pulang juga”
“Hai
Sya, Lila mana??”
“Lila
dikamar, perutnya sakit Zac. Aku sudah menelpon dokter untuk kesini. Sebaiknya....”
Belum
selesai aku berbicara, Zac sudah meninggalkanku. Dia langsung kekamar menemui
Lila, begitupun aku yang kembali kekamar. Dikamar kulihat Zac menenangkan Lila
yang menangis.
“sudah
lama Sya Lila perut Lila sakit..??” tanya Zac
“belum
sih Zac, apa mungkin Lila mau lahiran sekarang Zac??”
Saat
aku sedang berbicara dengan Zac kudengar seseorang mengetuk pintu. Dengan cepat
aku keluar kamar dan membuka pintu. Ternyata seorang dokter dan dua orang
suster yang datang. Aku langsung mengantarkan dokter dan suster itu kekamar
Lila. Dikamar dokter langsung memeriksa Lila sedangkan aku menunggu diruang keluarga
yang ada dirumah Lila. Selama menunggu Lila, aku menelpon Dhee untuk segera
kesini. Untunglah Dhee tidak sibuk dia akan segera datang.
***
Selama
sejam lebih aku menunggu kudengar Lila sesekali berteriak, aku sangat
mengkhawatirkanya. Beruntung Dhee datang, kami menunggu bersama sambil berdoa
semoga semuanya lancar. Dan benar saja tak lama kemudian seorang suster keluar,
diiringi oleh Zac. Aku dan Dhee langsung mendekati Zac yang sedang berbicara
dengan dokter.
“Zac,
bagaimana Lila, semuanya baik-baik saja kan??” aku langsung bertanya kepada
Zac.
“Lila,
baik-baik saja Sya, Dhee. Dia sudah melahirkan putri kami dengan selamat.
Terima kasih kalian sudah membantu Lila yaa “
“Iya
Zac. Boleh kami masuk sekarang”
“sudah
boleh Dhee. Aku mau mengambil perlengkapan bayi yang ada dikamar atas yaa” kata
Zac sambil meninggalkan aku dan Dhee.
Aku
dan Dhee langsung masuk menemui Lila, saat itu kulihat Lila setengah tertidur
sambil memeluk bayi mungilnya yang lucu. Namun mendengar aku dan Dhee masuk
Lila kembali membuka matanya.
“La,
maaf kami menganggumu. Kami hanya ingin melihat keadaanmu dan bayimu.”
“kalian
tidak menganggu Sya, Dhee. Terima kasih untuk bantuannya yaa”
Aku
mengangguk sambil duduk dikursi disamping tempat tidur Lila. “La selamat yaa..”
“Iya
La, selamat ya. Bayimu sangat lucu..” Dhee mendekati bayi Lila sambil membelai
wajahnya
“sangat
menggemaskan ya Dhee. Ehh, namanya putri cantik ini siapa La??”
“Aurora
Naima Alexandra, dan aku memanggilnya Naima” terlihat rona bahagia diwajah
Lila.
Aku
dan Dhee tersenyum melihat Lila membelai dan mencium pipi putri kecilnya.
“Bertambah
lagi kebahagiaan yang kumiliki selain kalian semua. Aku memilikinyanya”
***
Waktu
ternyata berjalan dengan sangat cepat, tak terasa acara pernikahanku dan Mark tinggal
seminggu lagi. Semua persiapan telah selesai, hanya saja aku belum bisa membayangkan
seperti apa tempat pernikahanku nanti. Karena Mark merahasiakannya dariku, aku
hanya tahu kalau acaranya akan dilaksanakan disebuah pantai.
Hari
ini, tiga hari sebelum hari pernikahanku aku dan Mark akan pergi kelokasi pernikahan
kami, Menurut Mark sebagian keluarganya sudah ada disana. Tapi yang membuatku
sedikit sedih kak Tian yang kemarin rencananya akan datang hari ini ternyata
batal. Dia baru akan datang sehari sebelum pernikahanku. Aku sedikit kecewa mendengarnya,
padahal aku sangat merindukannya.
“Sayang,
kau kenapa?? Sepertinya kau tidak bahagia??’ suara Mark membuyarkan lamunanku.
“aku
tidak apa-apa sayang..”
“Asya,
kau jangan gugup. Ayolah tersenyum sayang” Mark meremas tanganku
Aku
tersenyum mendengar ucapannya, perasaanku rasanya tak karuan. Bercampur aduk
antara bahagia dan sedih. Aku sangat bahagia karena aku akan segera menikah
dengan Mark, tapi kesedihan melandaku, aku sangat ingin ada kedua orang tuaku
saat pernikahanku nanti. Tapi hal itu tidak mungkin terjadi, hanya akan ada kak
Tian yang mendampingiku. Aku memejamkan mata mengingat itu semua. Ya Tuhan beri aku kekuatan untuk melewati
ini tanpa kedua orang tuaku.
Akhirnya
perjalanan yang melelahkan itu telah usai, sesampai dibandara kami langsung
melanjutkan perjalanan dengan mobil. Tiga puluh menit perjalanan kami sampai
disebuah hotel mewah. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dihotel ini.
perjalanan panjang tadi ternyata sangat melelahkanku.
“Istirahatlah
dulu sayang, aku tidak ingin kau sakit. Aku janji sore ini kita akan melihat
tempatnya” katanya ambil mencium keningku
“Baiklah,
aku istirahat dulu ya“
Lalu
aku dan Mark berjalan kekamar hotel, Mark menyuruhku membuka pintunya.
“kau
buka ya sayang, ini kuncinya”
Aku
mengambil kunci dari tangan Mark, dan membuka pintunya. Lalu aku masuk kedalam,
saat aku masuk kudengar seseorang memanggil namaku.
yeeeayyy
BalasHapusakhirnya Naima keluar juga dari dlm perut...
berat bgt sihh, heuheu...
untung aja Naima lahir dng selamat..
peluk cium Naima...
and wedding day closer...
pesta pesta lagi..
congratulation Mark and Asya
Gale kocak ya...
tetep latah nya gk berubah sama gk sembuh2 juga..
ckckckck
tapi Christian kmn ya??
next chapter sist :*
Selamat Lila n Zac udah jd ortu
BalasHapusdan akhirnya Naima muncul juga disini ^^
Hmm…mau ada wed bentar lagi
sik…asyik akhirny jd merit juga Asya n Mark
Lanjut next chapter the wedding day sist
:*