~~~
Setelah beberapa hari beristirahat, aku sudah merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Morning sickness yang aku alami sudah berkurang tidak separah seminggu yang lalu.
Dan hari ini aku memutuskan untuk masuk ke kantor. Karena aku sangat merindukan kedua sahabatku Dhee dan Asya.
Ketika sampai di kantor yang merangkap sebagai markas juga, para sahabatku kebetulan sedang berkumpul dan tidak berada di ruangan mereka masing-masing. Dhee dan Asya langsung menghambur memelukku ketika aku dan Zac tiba.
“Lila, senang sekali akhirnya kau masuk juga. Aku merindukanmu.“
“Aku juga merindukanmu Dhee.“
“Aku pikir kau tidak akan kembali bekerja karena Zac melarangmu.“
“Zac tidak akan berani melarangku, Sya.“
“Selamat datang kembali Lila.“
“Terima kasih, Lou.“
“La, aku perhatikan badanmu jadi lebih berisi lalu sejak kapan memakai mini dress dengan model baby doll seperti ini?‘
“Aku hanya ingin sedang memakainya saja, Dhee.“
Padahal yang sebenarnya Zac yang memaksaku untuk memakai pakaian longgar. Aku hanya menuruti perkataannya karena pakaianku sudah mulai sempit. Sepertinya aku harus mengajak Zac berbelanja nanti sore.
Setelah bercengkrama kami semua kembali ke ruangan masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan kami.
“Senangnya bisa kembali ke kemari. Selama aku tidak masuk apakah tidak ada tugas untukku?“
“Sebenarnya ada, tapi aku yang mengambil alih, sayang.“
“Terima kasih, Zac.“
“Aku tidak ingin kau terlalu lelah, sayang.“
“Zac, aku bisa minta tolong sesuatu padamu?“
“Tentu saja sayang, aku ini suamimu. Dan aku akan melakukan apapun untukmu.“
“Aku ingin sedang makan makanan dari negara asalku.“
“Memangnya kau ingin makan apa, sayang?“
“Rujak, belikan untukku.“
“Makanan apa itu, sayang?“
“Itu isinya buah-buahan, pokoknya belikan untukku.“
“Iya iya, aku akan membelikannya. Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu.“
Zac pun akhirnya pergi dengan wajah yang bingung. Karena baru kali ini aku ngidam makanan dari Indonesia. Kalau kemarin-kemarin ngidamnya ingin makan pizza, lasagna, spagetthi dan makanan sejenis itu.
Sambil menunggu Zac aku membuka-buka tiap file yang ada di dalam komputerku. Ada sebuah file yang berisi tentang kematian Maa.
Hatiku terasa sakit membacanya. Karena orang itu telah merenggut Maa dari aku dan Paa. Sehingga aku harus tumbuh dewasa tanpa kasih sayang seorang ibu.
Tak terasa air mataku perlahan jatuh membasahi pipiku. Aku harus menemukan orang itu. Aku harus menyeret orang itu masuk ke dalam penjara.
Aku harus segera menyelidiki si penembak itu. Lalu aku segera memindahkan semua data tentang peristiwa penembakan ibuku ke dalam USB.
Seteleh selesai aku segera menyimpan USB milikku di dalam tas. Tiba-tiba rasa mual itu kembali menyerang. Aku langsung bergegas ke toilet.
Tubuhku langsung lemas, tiba-tiba Asya keluar dari salah satu bilik toile.
“Kau kenapa Lila? Jangan-jangan suara orang yang terdengar seperti sedang muntah-muntah itu adalah kau?‘
“Memang aku, Sya.“
“Sepertinya kau belum benar-benar sehat. Sebenarnya kau sakit apa, La?“
“Aku tidak sakit, Sya.“
Asya langsung mengerutkan kening, “Lalu?“
“Ummm... Aku sedang hamil, Sya.“ aku menjawab sambil mengelus-elus perutku.
“Kau hamil, Lila? Selamat, ya.“ Asya memelukku. “Pasti baru berusia satu minggu, kan.“
“Delapan minggu, Sya.“
“Delapan minggu? Jangan-jangan ketika kita sedang melawan para teroris di Washington kau sedang hamil?“
“Kau benar, Sya. Dan aku baru mengetahui kehamilanku minggu lalu.“
“Ya Tuhan, untung saja kau tidak apa-apa. Sya apakah benar kau dan Steve pernah?“
“Kau pasti tahu dari Dhee, kan.“ aku hanya mengangguk, “Ya, itu benar. Semua itu terjadi karena kami sedang dalam keadaan mabuk.“
“Lalu hubungan kalian sekarang bagaimana?“
“Steve acuh tak acuh kepadaku, La. Karena aku menolaknya karena aku tidak memiliki perasaan apapun kepadanya.“
“Biarkan saja, Sya. Kau yang sabar saja jangan sampai Mark mengetahui skandalmu dan Steve. Kau mengerti apa maksudku, bukan.“
“Sangat mengerti, ayo kita pergi dari sini.“
Kami pun keluar dari toilet. Dan ketika akan kembali ke ruangan kami, Zac datang sambil membawa bungkusan. Wajahnya terlihat kelelahan, aku lupa memberitahu restoran yang menjual berbagai makanan dan minuman khas Indonesia pada Zac.
“Hai sayang, kau sudah datang rupanya.“
“Kau dari mana, Zac?“
Zac mengakat bungkusannya, “Beli rujak, Sya. Sulit sekali mencarinya, untung saja aku ini seorang secret agent. Jadi bisa menemukan restorannya.“
“Maaf, aku lupa memberitahumu sayang. Ayo Sya, kita makan rujak bersama-sama, sudah jam makan siang.“
“Benar Sya, kebetulan aku membelinya cukup banyak.“
“Baiklah aku ikut. Kebetulan sudah lama sekali tidak makan rujak.“
Lalu kami bertiga langsung menuju ke kantin. Dan ketika sampai disana Dhee dan Gale sudah berada disana.
“Hei, kemarilah...“ Dhee memanggil kami bertiga.
“Kau membawa apa, Zac?“
“Rujak, kau mau Gale?“
“Rujak? Sudah lama aku tidak memakan rujak. Dalam rangka apa?“
“Dalam rangka memenuhi permintaannya Lila, Dhee.“
“Lila sedang hamil, Dhee.“
“Hamil? Benarkah itu, La?“
Aku hanya mengangguk pelan sambil tersenyum.
“Selamat ya, Zac. Kau hebat bisa membuat Lila hamil secepat ini.“
“Terima kasih, Gale.“
“Tidak cepat Gale, karena usia kandunganku saat ini sudah memasuki bulan kedua.“
“Hah? Sudah memasuki bulan kedua? Bagaimana bisa?“
“Aku saja baru mengetahuinya sepulang dari berbulan madu, Dhee.“
“Ayo kita mulai acara makan rujak bersamanya.“ Asya mengingatkan.
Kamipun mulai memakan rujak yang di beli oleh Zac dengan susah payah. Tadinya Zac dan Gale lahap memakannya, karena bumbunya tidak pedas.
Tapi diam-diam Dhee mencampurkan sambalnya ke dalam bumbu rujak. Otomatis Gale dan Zac langsung berteriak.
“Mengapa rasanya jadi pedas seperti ini?“
“Pedas? Tidak Gale, lihat.“ Dhee mencolekkan sepotong mangga dan memakannya, “Tuh, tidak pedas, kan.“
“Kalian bertiga pasti mengerjai aku dan Gale, kan?“
“Tidak sayang, mana mungkin kami mengerjai kau dan Gale.“ aku berusaha untuk menahan tawa dan ekspresi wajahku.
Tiba-tiba Gale berdiri dari tempat duduknya sambil memegangi perutnya.
“Kau kenapa, Gale?“ Asya bertanya.
“Sepertinya perutku sakit, aku ke toilet dulu sebentar.“
‘Sepertinya perutku juga sakit.“
Zac dan Gale pergi ke toilet. Setelah mereka pergi kami bertiga langsung tertawa lepas.
“Kau keterlaluan Dhee, awas saja jika suamiku sakit perutnya berkelanjutan.“
“Bukan suamimu saja, La. Kekasihku juga menjadi korban kejahilanku.“
Kami bertiga kembali tertawa sambil melanjutkan acara makan rujak kami. Sambil menunggu Gale dan Zac kembali dari toilet.
hahaha…
BalasHapuspenyegaran ini chapternya setelah kemarin ceritanya hot2 trs :3
ngakak giling2 bacanya :D
Wuhuuu…lila hamil \(^_^)/
Gale…Gale ga usah dibilang juga kali kalo Zac hebat bisa bikin Lila cepat hamil ckckck
*gigit Gale :3
Nah, tuh kan akhirnya di jailin sm Dhee deh smp mules2 :D
tapi Zac juga kena… ><
kabur ah drpd ketauan dhee yang jailin
#lariiiii
lanjut next chapter sist
:*
Welcome back Lila,,
BalasHapus*pelukcium Lila.
eh Lila hamil yaa, selamat ya selamat. sebentar lagi jadi ibu..
berarti sebentar lagi dapet keponakan baru ya kita *lirik Dhee
Rujak Party :D
udah lama gak makan rujak, enak ya seger2 gitu..
tapi kyknya gak untuk Gale sm Zac yang mules2 akibat makan rujak.
hahhaha..
Dhee kalo ngerjain gak tanggung2. kasian itu mereka berdua :D
tapi beneran kocak deh chap yg ini..
bikin ngakak giling2 :D