Jumat, 01 Februari 2013

CHAPTER 34

"INTERMEZO: SORRY BGT KL CHAPTER INI CERITANYA GA SERU, GAJE, TLL BERTELE-TELE, KRG BERKENAN DLL…DSB. SEMOGA MSH BS DINIKMATIN WALAU CUMA DIKIIIT AJA :3. INI KISAH CINTA DHEE JD GA ADA TEMBAK2AN SAMA ADEGAN BERDARAH2 :3. PIISSS AAHH KL BYK KURANGNYA :Dv. MET BACA AJA DEH YA SIST :* "
--------------------------------------------------------------------------

Hari sabtu dan minggu ini aku dan Gale memutuskan untuk memanfaatkan waktu berdua saja di vilanya yang terletak di New Jersey.

Kami berangkat pagi-pagi setelah semua siap. Perjalanan memakan waktu cukup lama tapi untungnya banyak pemandangan menarikb yang kami temui sehingga tidak merasa bosan.

Sebelum menuju vila, kami berhenti di sebuah mini market untuk membeli makanan, minuman dan beberapa keperluan selama di vila.

"Sayang, kita makan dulu di restoran itu. Aku lapar sekali". Gale menunjuk sebuah restoran  yang ada di seberang jalan.

"Baiklah, aku juga sudah sangat lapar"

Lalu kami berjalan menuju restoran. Restoran ini tidak terlalu besar tapi sangat bersih dan rapi. Ketika kami masuk, seorang wanita setengah baya langsung menyambut kami dan memeluk Gale dengan hangat. Gale pun membalas pelukannya.

"Gale, akhirnya kau kembali juga kesini"

"Tentu saja Helen. Tempat ini adalah tempat favoritku. Dan aku sudah rindu dengan masakanmu"

Helen tertawa mendengarnya. "Hei, kau tidak mau memperkenalkan wanita cantik ini padaku, Gale?". Wanita itu, Helen menatapku sambil tersenyum ramah.

"Ah iya, maafkan aku. Helen, ini Lana kekasihku dan sayang, ini Helen pemilik restoran ini". Gale mulai memperkenalkan kami berdua dan aku pun menyambut uluran tangannya yang hangat.

"Ini suatu kejutan. Kau tahu sayang, selama ini ia tidak pernah membawa seorang wanita pun kesini"

"Benarkah? kalau begitu aku beruntung sekali menjadi yang pertama"

"Tidak sayang. Ia yang beruntung bisa mengajakmu kesini" katanya sambil berbisik dan tersenyum. "Ayo, aku antar ke tempat favorit Gale"

Helen langsung menggandengku dan membawa kami ke sebuah ruangan. Ruangannya tidak terlalu luas tapi sangat nyaman. Setelah kami duduk dan memesan makanan, Helen pun segera meninggalkan kami.

"Tempat ini sangat menyenangkan"

"Aku tahu kau akan menyukainya, sayang"

"Dan aku menjadi wanita pertama yang kau bawa ke sini, Gale?"

"Kau yang pertama, sayang dan aku ingin kau menjadi yang terakhir". Gale meraih tanganku dan mengecupnya dengan lembut. Sambil mengelus tanganku, ia menatapku lekat. "Aku ingin menjadikanmu sebagai istriku, Dhee. Wanita terakhir yang akan mengisi hidupku selamanya"

"Kau tidak sedang melamarku kan, Gale?". Setiap kali Gale membicarakan keinginannya menikahiku, kepalaku langsung berdenyut-denyut.

"Itu keinginanku sayang, menjadikanmu sebagai istriku, wanita terakhir dalam hidupku. Tapi tidak, ini bukan lamaran. Aku ingin ketika melamarmu, itu adalah lamaran yang terindah hanya untukmu, Dhee dan aku akan menunggumu sampai kau siap"

Wajahku memanas ketika Gale menyatakan perasaannya padaku. Sebagai seorang secret agent aku terkenal tegas, galak dan agak judes. Tapi ketika berhadapan dengannya aku menjadi luluh. Ya, karena aku sangat mencintainya. Aku sangat mencintai pria dihadapanku ini. Tapi aku belum ingin menikah dalam waktu dekat ini. Masih banyak hal yang ingin kucapai walau aku yakin Gale akan selalu mendukungku setelah kami menikah nanti.

Lamunanku terhenti ketika pelayan datang membawakan wine dan makanan pesanan kami. Gale melepaskan genggamannya. Ia menuangkan wine ke dalam gelas lalu kami bersulang.

Akhirnya makanan yang terhidang pun sudah habis kami santap. Selesai makan, kami masih berbincang-bincang dan bercanda. Dan entah siapa yang memulai, kami mulai berciuman dengan sangat panas bahkan karena gemas ia sampai menggigiti bibirku. Ciuman kami terlepas ketika nafas kami sudah terengah-engah.

"Sebaiknya kita pergi ke vila sekarang, sayang" katanya dengan suara berat, keningnya masih menempel dikeningku dan kedua tangannya menangkup wajahku.

Aku menggelengkan kepalaku. Gale menarik wajahnya dan mengernyitkan keningnya sambil menatapku bingung.

"Aku ingin berjalan-jalan dulu, Gale. Nanti saja ke vilanya"

"Tapi kita baru saja sampai sejam yang lalu, sayang. Apa kau tidak lelah?"

"Jangan berdebat denganku, Gale. Lagi pula aku tidak lelah. Sudahlah, ayo kita pergi sekarang"

Aku langsung berdiri dan menarik tangannya. Setelah berpamitan pada Helen, kami keluar lalu berjalan menyusuri deretan toko-toko kecil sepanjang jalan.

Dengan bersemangat aku memasuki satu persatu toko disana. Aku memuaskan diriku berbelanja karena jarang sekali aku bisa pergi berbelanja seperti ini. Sementara Gale hanya mengikuti kemana aku pergi sambil membawa tas-tas belanjaan yang sudah menumpuk.

"Sayang, aku sudah sangat lelah. Kita ke vila sekarang ya. Belanjaanmu juga sudah banyak". Gale mengangkat kedua tangannya memperlihatkan tas-tas belanjaanku yang dipegangnya.

Aku tertawa geli melihat wajahnya yang memelas. "Baiklah, sayang. Kita ke vila sekarang". Aku mengecup pipinya lalu menggandeng tangannya dan berjalan menuju mobil.

Lima belas menit kemudian kami pun sampai. Dari jauh terlihat vila yang berdiri kokoh dan cukup besar. Pemandangan disekitar vila sangat mengagumkan. Bukit-bukit hijau terhampar luas di sekelilingnya. Ah, segar sekali melihatnya.

Angin dingin pun segera menerpa wajahku ketika aku membuka jendela mobil. Aku mengeluarkan kepala untuk menghirup udara segar yang langsung masuk ke paru-paruku.

"Segar sekali udaranya, sayang" kataku sambil menghirup lagi udara segar di luar. "Aku ingin jalan-jalan ke sana, Gale". Aku menunjuk sebuah bukit kecil yang berada di belakang vila.

"Tentu sayang, tapi tidak sekarang"

Aku hanya mengangguk, kali ini tidak membantahnya. Mobil semakin mendekat ke vila dan berhenti. Gale memarkir mobilnya lalu kami berjalan masuk.

Ruangan di dalam vila tidak kalah mengagumkan. Perpaduan modern dan klasik menghiasi setiap ruangan.

Setelah beristirahat sejenak, Gale membawaku ke kamar di lantai atas. Kami pun membersihkan diri dan langsung merebahkan diri di atas tempat tidur. Rasanya nyaman sekali.

"Tempat ini indah sekali, Gale. Kau harus membawaku ke bukit itu besok"

"Tentu, sayang. Tapi sekarang ada yang ingin aku lakukan denganmu"

Gale menindih tubuhku dan menciumku. Lidahnya membuka mulutku dan kami berciuman dengan sangat panas. Aku bisa merasakan miliknya mengeras dan siap. Ia terus mencumbuku, meremas payudaraku sementara rasa kantuk mulai menyerangku.

"Gale, aku mengantuk". Mataku rasanya sulit untuk terbuka.

"Tidak, sayang. Jangan tidur dulu. Aku ingin bercinta denganmu"

"Eeemm…". Mataku mulai terpejam, aku tidak bisa lagi menahannya untuk tetap terbuka.

"Sayang…Dhee…"

Suara Gale yang memanggil namaku dan tepukan di pipiku seperti sebuah buaian yang langsung membuatku terlelap.

****

Entah sudah berapa lama aku tidur, ketika aku membuka mata, hari sudah mulai gelap.

Gale masih tertidur disampingku dengan tangan dan kakinya membungkus tubuhku. Aku mulai mengganggunya dengan menggelitiki hidungnya.

"Sayang, aku ingin tidur" katanya dengan suara berat dan malas tapi tidak membuka matanya.

"Bangun Gale. Kita sudah tidur cukup lama"

Aku kembali mengganggunya. Kali ini dengan menggelitiki pinggangnya. Usahaku berhasil, Ia langsung bangun dan balas menggelitikiku.

"Kau akan menerima akibatnya, sayang".

Gale terus menggelitikku hingga kami saling menggelitik dan berkejaran di dalam kamar seperti anak kecil saja, berlarian kesana kemari.

Sudah lama aku tidak pernah merasakan tertawa dan bercanda lepas seperti ini. Ia memang selalu punya cara untuk membuatku tertawa dan melupakan semua ketegangan dari pekerjaan kami sebagai secret agent.

Entah berapa lama kami berkejaran, sampai akhirnya kami kelelahan dan aku langsung menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur. Aku memejamkan mata sambil mengatur nafas yang memburu.

"Jangan tidur, sayang karena aku akan membalas perbuatanmu tadi"

Tiba-tiba sebuah benda dingin menyentuh pipiku. Mataku terbuka, aku lihat Gale sudah berada disampingku sambil memegang sebuah borgol. Kemeja yang tadi dipakainya sudah terlepas, hanya tinggal celana jeans yang melekat di tubuhnya. Oh Ya Tuhan, ia sangat sexy, aku meracau dalam hati.

"Apa yang akan kau lakukan dengan benda itu, Gale?". Aku mengernyitkan keningku.

Ia hanya menyeringai nakal dan langsung menindih tubuhku. Sambil memegang kedua tanganku ke atas, bibirnya mulai menciumiku.

Lidahnya menyeruak masuk membuka mulutku lalu memagut bibirku dengan intens. Erangan kecil keluar dari mulutku. Aku membalas ciumannya, menggigit bibir bawahnya dan hal itu semakin membuatnya bergairah.

Gale masih menciumiku dengan liar, genggaman tangannya mulai mengendur. Aku tersenyum dalam hati…hhmmm ia mulai lengah. Dengan sekuat tenaga aku mendorong tubuhnya kesamping hingga kini posisi kami bertukar. Borgol yang dipegangnya pun kini sudah berada di tanganku. Gotcha!!

"Sayang, apa yang kau lakukan?" wajahnya terlihat kaget ketika aku mulai memasang benda itu di kedua tangannya, meletakkannya di atas sisi kepalanya dan menguncinya ke tempat tidur.

"Kau ingin bermain-main dengan borgol itu kan, sayang. Semoga kau punya kuncinya". Aku tersenyum puas melihat hasil kerjaku. Rasakan kau, Gale.

"Tapi seharusnya tidak seperti ini". Ia mulai memprotesku.

"Kau lupa aku lebih berpengalaman dengan benda ini, sayang" bisikku menggoda.

Aku mencium kedua pipinya lalu tanganku membelai dadanya.  Tubuhnya menegang ketika bibirku mulai menyusuri dada dan perutnya yang berotot. Nafasnya mulai memburu, dadanya turun naik dengan cepat dan perutnya menegang.

"Bukalah pakaianmu, sayang. Aku ingin melihatmu"

Aku turun dari atas tubuhnya dan berdiri di samping tempat tidur. Aku menuruti kata-katanya lalu membuka kaos serta celana jeansku dengan gerakan menggoda. Kini hanya tinggal bra dan celana dalam yang tersisa ditubuhku.

"Kau cantik sekali, sayang. Sangat sangat cantik. Tiap inchi bagian tubuhmu selalu memabukanku"

Aku tersenyum mendengarnya. Lalu aku kembali merangkak naik ke atas tubuhnya masih dengan gerakan yang menggoda.

Wajahku mendekat ke wajahnya, mencium bibirnya dan menggigit bibir bawahnya. Ia mengerang dan membalasnya dengan liar tapi aku melepaskan bibirku dari bibirnya.

"Sayang, apa yang kau lakukan?"

"Menciummu, sayang. Mencium matamu…" bisikku sambil mencium kedua matanya.
"Hidungmu…" bibirku pun turun ke hidungnya. "Pipimu…" lalu aku mengecup kedua pipinya.
"Bibirmu…" aku mengecup bibirnya sekilas.

Tubuhnya semakin menegang ketika aku melakukan hal itu.

"Kau menggodaku". Nafasnya kembali memburu. "Lepaskan benda ini, sayang. Aku ingin menyentuhmu, please"

Aku menggelengkan kepalaku. "Belum saatnya, Gale".

Bibir dan tanganku kembali mengeksplorasi dada dan perutnya. Aku membuka celana jeansnya bersamaan dengan celana dalamnya. Miliknya sudah sangat keras dan besar ketika aku membebaskannya.

"Aahhh…". Gale mengerang ketika aku mencium miliknya, menjilat dan memasukkannya ke mulutku lalu menghisapnya dengan keras. Kedua tanganku mengelus dada dan perutnya sementara mulutku terus menghisap miliknya dan bergerak naik turun hingga erangannya semakin kuat.

"Sayang…hentikan. Aku ingin berada di dalam dirimu" suaranya terdengar berat dengan nafas memburu.

Aku tidak memperdulikannya karena aku ingin menggodanya malam ini. Ketika ia hampir sampai, aku melepaskan miliknya dari mulutku dan meninggalkan dirinya yang sudah sangat terengah-engah.

Aku mengambil kemejanya yang tergeletak di lantai dan memakainya lalu berjalan menghampirinya yang menatap dengan putus asa.

"Aku lapar, sayang. Kau juga pasti lapar. Aku buatkan makan malam dulu"

"Tapi sayang…". Nada protes keluar dari mulutnya.

Aku menempelkan jari telunjukku ke bibirnya. Setelah menutupi tubuh bagian bawahnya dengan selimut, aku berjalan keluar kamar meninggalkannya.

"Sayang…Dheee…Dheeee…". Ia berteriak memanggilku.

Aku hanya mengangkat tangan kananku sambil berjalan ke luar kamar dan langsung menuju dapur.

Untunglah tadi kami membeli beberapa makanan instan jadi tidak perlu waktu lama memasaknya. Pilihanku jatuh pada steak. Aku mulai mengolahnya dan setelah steak yang kumasak matang, aku membawanya dengan segelas anggur ke dalam kamar.

"Akhirnya kau kembali, sayang"

"Tentu saja, sayang. Aku akan membuka benda ini agar kau bisa makan". Aku melepaskan borgol dan mencium kedua tangannya.

"Terima kasih. Akhirnya kau melepaskanku juga" katanya sambil duduk.

"Aku akan menyuapimu. Apa kau mau minum?"

"Tentu, sayang. Aku sudah haus sekali"

Aku meneguk wine dan mendekatkan mulutku ke mulutnya yang terbuka sehingga wine tadi berpindah ke mulutnya. Ia menelannya dengan cepat. Baru sekarang aku melakukan ini lagi setelah terakhir aku lakukan di apartemennya dulu.

Lalu aku memotong steak dengan ukuran sedang,menggigit ujungnya dan ia menggigit ujung satunya hingga bibir kami bersentuhan. Begitu terus hingga makanannya habis.

"Kau suka makanannya?"

"Tentu sayang, sangat enak. Dan aku suka caramu menyuapiku".

"Aku suka melakukannya denganmu". Aku  menempelkan keningku di keningnya dan menciumnya.

Ciuman itu berubah panas ketika ia membelai lidahku dengan lidahnya yang panas. Tubuhku sudah berpindah ke pangkuannya.

Tangannya menyusup ke dalam bajuku dan membelai punggungku. Ia meremas pinggangku dengan gemas lalu membuka kemeja yang kupakai dan melepaskan pengait braku. Dadaku terekspos didepannya, ia meremas dan menghisap putingku dengan keras, memberikan tanda disana.

"Kau milikku, sayang"

Tubuhku menggelinjang, melengkung ke arahnya tiap kali lidahnya menyentuh kulitku. Suara erangan keluar dari tenggorokanku tanpa bisa kutahan.

Dengan gerakan cepat, ia melepaskan celana dalamku. Menyentuh pusat diriku yang sudah sangat basah. Jarinya menusuk masuk perlahan dan memainkannya dengan lihai hingga aku melenguh dan hilang kesadaran.

Tanganku meremas rambutnya dengan kuat ketika tubuhku mulai bergetar hebat menikmati sentuhannya di clitku. Aku menjerit dan meneriakkan namanya ketika orgasme melandaku dengan hebat.

Nafasku masih memburu saat Gale meraih kemasan foil lalu membukanya. Aku mengambilnya dari tangannya dan menaruhnya di mulutku lalu turun dan membungkus miliknya yang keras dengan foil menggunakan mulutku.

Ia menatapku takjub dan menyeringai nakal ketika aku kembali duduk di pangkuannya.

"Kau sangat tidak terduga, sayang" bisiknya sambil menciumi telinga dan leherku. Disaat yang bersamaan ia menempatkan miliknya ke dalam pusat diriku.

Tubuhku meregang, menyesuaikan diri saat miliknya masuk terasa penuh dan besar di dalamku. Aku  mulai bergerak naik turun perlahan dan semakin cepat.

Sementara ia semakin memompa gairahku dengan bibir dan tangannya yang mengeksplorasi payudaraku sampai akhirnya ia menusuk dengan keras dan cepat. Tubuhku bergetar saat gelombang orgasme kembali melandaku.

Gale membaringkanku, mengangkat satu kakiku melingkari pinggangnya dan satu kaki dibahunya. Ia kembali menghujam dengan keras lalu bergerak perlahan hingga gerakannya semakin cepat membuatku kembali tak berdaya.

Aku sudah siap meledak untuk ketiga kalinya. Tanganku mencengkeram bahunya dengan kuat, membenamkan kuku-kukuku dikulitnya.

"Datanglah, sayang. Berikan padaku"

Ucapannya seperti sebuah perintah dan tubuhku menurutinya. Gelombang orgasme menghantamku dengan keras membuat tubuhku lemas.

Ia memiringkan tubuh dan kedua kakiku lalu kembali menusuk dengan keras hingga membuatku kembali mengerang. Rasanya tidak ada yang bisa kulakukan selain mengerang dan menjerit. Gale benar-benar sudah menguras tenagaku.

"Gale…". Aku terengah-engah saat pusat diriku semakin mengetat, membungkus miliknya.

"Tahan dulu, sayang. Aku ingin kau datang bersamaku"

Ia mengangkat satu kakiku dan menahannya dengan tangannya. Aku mencengkeram sprei dengan kuat, menutupi mulutku. Rasanya aku sudah tidak bisa menahan orgasme yang sudah sangat dekat.

"Berteriaklah, sayang. Datanglah bersamaku sekarang"

Gale memompa semakin cepat, ia mengeram hingga akhirnya kami saling meneriakkan nama masing-masing ketika kami menemukan kenikmatan bersama-sama.

Tubuhnya ambruk diatas tubuhku. Nafas kami memburu dan berusaha mengaturnya kembali normal. Aku meringis saat ia mengeluarkan miliknya perlahan lalu mengecup kening dan bibirku.

"Kau tidak apa-apa, sayang?"

"Aku lemas sekali. Kau sudah menguras tenagaku, Gale"

"Tadi itu hebat sekali, sayang. I love you"

"I love you too". Aku membelai wajah dan rambutnya yang basah oleh keringat.

"Sebaiknya kita mandi, sayang. Setelah itu kita bisa tidur"

"Gendong aku, Gale. Kakiku lemas sekali"

Gale mengangkat dan menggendongku ke kamar mandi. Setelah mandi, kami langsung naik ke tempat tidur. Aku memejamkan mata dan tak lama kemudian aku kembali tertidur lelap dalam pelukannya yang hangat.

****

Aku dan Gale berjalan menyusuri rumput-rumput hijau menuju bukit. Aah…udaranya sangat segar sekali. Tidak pernah aku menghirup udara sesegar ini.

Kami ingin menghabiskan waktu berjalan-jalan di sekitar vila sebelum kami kembali ke New York sore nanti.

Cukup lama kami berjalan-jalan dan kemudian kami berhenti di sebuah padang rumput hijau dengan bunga-bunga liar yang menghiasinya dan ada sebuah danau kecil di tengah. Sangat indah sekali, aku berdecak kagum.

Gale menghamparkan selimut yang kami bawa. Lalu kami duduk-duduk sambil memandangi danau di depan kami. Suasana disini sangat tenang dan nyaman.

Gale memelukku dari belakang, dagunya menempel di bahuku dan aku menyandarkan kepalaku di dadanya. Hanya kami berdua disini dan ini sangat menyenangkan.

"Aku mencintaimu, Gale" bisikku.

"Aku juga mencintaimu, Dheandra Ilana Putri" bisiknya sambil mencium pipiku. "Sangat sangat mencintaimu. Aku ingin bersamamu, pindahlah ke apartemenku, sayang".

"Aku tidak bisa, Gale. Lila sudah menikah dan tidak lagi tinggal di apartemen. Tinggal aku dan Asya. Kalau aku pindah, kasihan Asya sendirian"

"Tapi Asya punya kekasih, kan? Ia bisa tinggal bersama kekasihnya"

"Tidak semudah itu, sayang. Mark belum tahu kalau Asya seorang secret agent. Lagipula aku belum siap untuk pindah ke apartemenmu, Gale"

"Ah ya, aku mengerti. Aku akan menunggumu, sayang"

"Terima kasih, sayang"

Aku menciumnya dan ketika ia membalasnya, ciuman kami pun berubah panas. Gale meremas payudaraku hingga membuatku menggelinjang.  Sebelah tangannya membelai pahaku lalu membuka restleting jeansku dan menyusup menyentuh pusat diriku.

Tubuhku menegang, menikmati sentuhannya. Tapi aku berusaha mengumpulkan kesadaranku.

"Gale, hentikan nanti ada yang melihat". Aku berusaha melepaskan tangannya dari bagian bawah tubuhku.

"Aku ingin bercinta denganmu, sayang dan kau sudah sangat siap. Hanya ada kita berdua disini, tidak ada yang melihat"

Ia membaringkan tubuhku, membuka jeans dan celana dalamku lalu membebaskan miliknya yang sudah sangat keras dan menusuk perlahan ke dalam diriku.

Kami bercinta disana, suasana sejuk dan sepi seakan melenakan kami. Percintaan panas kami berakhir ketika kami menemukan kenikmatan secara bersamaan.

Air danau menyegarkan tubuh kami setelah percintaan kami tadi. Aku dan Gale bermain-main dan bercanda di danau hingga tak terasa hari telah menjelang sore. Kami kembali ke vila dan selanjutnya bersiap-siap untuk kembali ke New York.

****









2 komentar:

  1. Whoaaaasaa :O
    lucu..

    Gemes...

    Bkin ngakak...

    Dan hot pastinya...

    pukpukpuk.
    Mupeng berat ya Gale...
    Sabar sabar akhirnya di kasih juga kn xD

    wuihhhh di deket danau o.o

    wah wah sprtinya Dhee bener bener udah berguru sama Lila yak :Dv

    good job sist :*

    Next chapter please. ;*

    BalasHapus
  2. huaahahahhaha..
    Ngakak gila ini bacanya.
    Dhee ketiduran. ckkck
    pukpukpuk Gale.

    ehh abis dtinggalin tidur disiksa sm Dhee, nasibmu Gale hahha
    Tapi dapet juga kan itu, bisa nusuk2 juga yaa :D

    Di danau nya boleh juga tuh..
    ehhh, tpi gak pake safety yaa??
    asekk.. Gale Jr nya dtunggu ya :D

    Jngan pndah dulu donk. kasian sm Asya. Jngn ditinggalin ya Dhee :'(

    Boleh juga tuh Dhee, belajar sm siapa ya bisa nyiksa bgitu hahha
    #lirik Lila

    next chapternya siapa yaa??
    #melongo liat kanan kiri :D

    BalasHapus