Sabtu, 02 Maret 2013

CHAPTER 46

Aku terbangun dengan tubuh gemetar dan keringat membasahi seluruh tubuh. Mimpi buruk itu datang lagi membuat ingatanku melayang ke 15 tahun yang lalu saat berumur 8 tahun. Sebuah peristiwa yang nyaris merenggut nyawaku dan telah merenggut nyawa sahabatku Alana. Dan peristiwa itu juga yang telah merubah jalan hidupku.

Aku mengenal Alana ketika ia baru pindah ke lingkungan kami.  Rumah kami bersebelahan, saat itu kami berumur 8 tahun. Ayahnya seorang ilmuwan dan ibunya bekerja di sebuah bank. Kami menjadi akrab karena orang tua kami sama-sama sibuk. Orangtuaku berprofesi sebagai polisi. Itu yang aku tahu sampai akhirnya ketika umurku 15 tahun, Mama dan Papa mengatakan bahwa mereka adalah seorang secret agent. Mereka menyembunyikan identitas untuk melindungiku.

Aku sering menghabiskan waktu di rumah Alana, hanya ditemani seorang pengasuh yang bekerja di sana. Malam itu, aku masih berada di rumah Alana karena Mama dan Papa mengatakan ada pekerjaan yang harus diselesaikan sehingga mereka akan terlambat pulang. Setelah makan malam bersama kedua orangtuanya, aku dan Alana pergi tidur. Aku terbangun ketika mendengar kegaduhan di luar. Alana tidak ada di kamar, maka aku keluar kamar untuk mencarinya. 

Ketika akan menuruni tangga, aku melihat beberapa orang bersenjata di bawah. Aku langsung bersembunyi dan berusaha melihat apa yang terjadi. Disana Alana dan kedua orangtuanya duduk terikat di sofa dengan mulut di lakban.

Orang-orang itu menodongkan pistol ke arah mereka. Ada seorang pria tinggi besar yang berdiri diantara orang-orang bersenjata itu. Ketika pria itu mengangkat tangannya, mereka pun langsung menembak Alana dan kedua orangtuanya.

Aku terpekik dan gemetar melihatnya lalu langsung berlari ke kamar, bersembunyi di sebuah ruangan rahasia di kamar itu. Mereka mulai mencariku, menodongkan pistol kesana kemari. Bahkan ketika mendengar suara, mereka langsung menembak. Peluru-peluru itu hampir saja mengenai tubuhku. Aku diam dan gemetar tidak berani bersuara, sampai akhirnya suara sirine mobil polisi membuat mereka pergi.

Aku baru  keluar dari tempat persembunyianku setelah mendengar suara mama dan papa yang panik mencariku. Dan aku hanya bisa terpaku melihat polisi membawa tubuh sahabatku Alana yang sudah kaku dalam sebuah kantung.

Sejak kejadian itu, aku mengalami trauma yang hebat dan selama beberapa tahun aku berada dalam perawatan psikiater hingga akhirnya mama dan papa memutuskan untuk membawaku pindah ke New York.Kehidupanku pun kembali normal hingga dewasa hingga akhirnya aku memutuskan menjadi secret agent mengikuti jejak kedua orangtuaku.

Kepalaku berdenyut-denyut mengingat mata itu, mata abu-abu yang tidak akan pernah aku lupakan. Mata itu kembali hadir ketika aku melihatnya ditayangan TV tadi malam. Gerard Butler… ternyata orang itu yang telah membunuh sahabatku. Dari keterangan yang aku liat tadi, ia seorang pengusaha. Besok aku harus mencari info tentang orang itu, itu tekadku.

****

Semalaman aku tidak bisa tidur, kepalaku pun terasa sakit sekali ketika keesokan paginya aku bangun dan pergi ke markas.

"Pagi La, Sya." Aku menyapa kedua sahabatku ketika akan ke pantry. "Bagaimana kabar putri mungilmu, La? aku kangen sekali padanya."

"Pagi Dhee, Naima baik-baik saja. Mainlah ke rumahku kapan-kapan. Hei, kau kenapa? wajahmu pucat Dhee."

"Aku tidak apa-apa La. Aku hanya tidak bisa tidur semalam."

"Kau pasti bersama Gale ya sampai tidak bisa tidur, Dhee?."

"Aku tidak bersama siapa-siapa, tahu. Aku sendirian semalam, Sya."

"Maaf, Dhee. Aku hanya bercanda."

"Ah…maafkan aku membentakmu, Sya. Bagaimana kandunganmu? perutmu sudah semakin terlihat, Sya."

"Kandunganku baik-baik saja, Dhee. Sudah hampir tiga bulan usianya" kata Asya sambil mengelus-elus perutnya.

Aku tersenyum melihatnya. Aku sangat berbahagia untuk kedua sahabatku. Mereka telah menemukan kebahagiaan masing-masing. Seandainya Alana masih hidup…airmataku mengalir saat teringat sahabatku itu tapi aku buru-buru menghapusnya.

"Dhee, kau kenapa?."

"Tidak apa-apa, La. Aku hanya senang karena kalian telah menemukan kebahagiaan kalian."

"Ada yang kau sembunyikan dari kami, Dhee. Tidak biasanya seperti ini. Ayolah, ceritakan pada kami, Dhee."

"Nanti saja aku ceritakan, La. Sekarang aku mau ke pantry." Aku langsung menuju pantry meninggalkan Asya dan Lila yang saling berpandangan.

Aku duduk sambil meminum gelas kopiku yang kedua. Sentuhan pelan dibahu membuatku menoleh. Ternyata Gale, dia sudah berdiri disampingku sambil meremas bahuku lembut.

"Hai, sayang". Ia mencium keningku lalu duduk di sampingku. "Asya dan Lila bilang kau ada disini. Mereka sangat mengkhawatirkanmu. Kau sakit?."

"Tidak apa-apa, Gale. Aku sedikit sakit kepala saja."

"Seharusnya tidak usah masuk kalau kau sakit, sayang."

"Aku tidak sakit, Gale. Aku hanya tidak tidur semalam."

"Ada yang mengganggu pikiranmu? Ceritakan padaku, Dhee."

"Aku akan ceritakan nanti, Gale." Aku melirik jam ditanganku, sebentar lagi rapat dimulai. "Sebaiknya kita ke ruang rapat sekarang."

Lalu kami berjalan menuju ruang rapat. Disana sudah menunggu Lou dan para agent.

"Maaf, kami terlambat."

"Rapat belum di mulai, Dhee. Kau tidak apa-apa? Wajahmu kelihatan pucat."

"Aku tidak apa-apa, Lou." Aku langsung menarik kursi disebelah Lila dan duduk.

Rapat tentang evaluasi hasil kerja pun dimulai. Pikiranku melayang kesana kemari, aku sama sekali tidak bisa mencerna apa yang dikatakan Lou.

"Dhee, kau masih bersama kami?."

"Eh…I-iya Lou. Maaf." Dan semua mata di ruangan itu pun menatapku dengan heran karena tidak biasanya aku seperti ini.

Setelah dua jam, akhirnya rapat selesai. Lou serta agent lain sudah meninggalkan ruang rapat hanya tinggal aku, Gale, Lila, Zac dan Asya saja di ruangan ini. Aku bermaksud berdiri tapi tangan Lila menahanku.

"Ada apa La?."

"Dhee, ceritakan pada kami apa yang mengganggu pikiranmu."

"Nanti saja saat makan siang, La. Sekarang ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."

"Sayang, kau tidak sedang menghindar kan?."

"Tidak, Gale. Aku akan ceritakan semua nanti saat makan siang. Aku janji. Sebaiknya kita kembali kerja sekarang."

Tanpa menunggu jawaban mereka, aku langsung keluar dan menuju ruangan kerjaku. Tapi aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaan dihadapanku. Akhirnya aku membuka arsip 15 tahun yang lalu mengenai kasus pembunuhan keluarga Anderson tapi tidak banyak informasi yang bisa aku dapatkan.

Suara ketukan dipintu membuatku buru-buru menutup laptopku. Gale terlihat berjalan menghampiriku.

"Ada apa, Gale?."

"Sudah waktunya makan siang, sayang. Ayo, kita ke kantin. Aku tidak mau kau jatuh sakit."

"Baiklah."

Kami pun berjalan beriringan menuju kantin. Ternyata Asya, Lila dan Zac sudah berada di sana. Setelah mengambil makanan, aku dan Gale bergabung bersama mereka. Kami tidak banyak berbicara ketika makan, sepertinya mereka membiarkanku untuk makan terlebih dahulu. Setelah beberapa saat, aku menyingkirkan piring makananku yang masih tersisa. Rasanya aku tidak berselera makan.

"Kenapa tidak dihabiskan, sayang?. Makanmu sedikit sekali. Kau harus makan, kau bisa sakit kalau begini."

"Aku tidak berselera, Gale."

"Dhee, Gale benar. Kau harus makan."

Aku menggelengkan kepala mendengar ucapan Lila. "Maafkan aku, aku tahu kalian mengkhawatirkanku. Sekarang aku akan ceritakan pada kalian apa yang membuatku seperti ini."

Setelah menghela nafas, akhirnya aku ceritakan semua tentang masa laluku pada mereka. Raut terkejut terlihat jelas di wajah mereka ketika mendengarnya.

"Maafkan aku, sayang. Aku tidak tahu tentang hal ini." Gale meremas tanganku lembut seakan ingin memberi kekuatan padaku.

"Kau tidak pernah menceritakan tentang ini pada aku dan Lila, Dhee."

"Maaf Sya. Menceritakan semua ini kembali sangat berat untukku. Aku harus kembali mengingat kejadian dimasa lalu yang sangat ingin aku lupakan."

"Kami mengerti, Dhee."

"Jadi kau ingin membuka kembali kasus ini?."

"Iya, Zac. Aku tidak akan pernah bisa melupakan mata itu, mata orang yang telah membunuh kel. Anderson, membunuh sahabatku. Orang yang telah membuatku hidup dalam trauma selama bertahun-tahun saat aku masih sangat kecil. Sekarang aku sudah tahu siapa dia. Dan aku membutuhkan kalian untuk mencari informasi lebih detail tentangnya. Kalian mau membantuku, kan?."

"Tentu Dhee, kami pasti akan membantumu."

"Kau akan memberitahu Lou tentang hal ini kan?."

"Tentu saja, Gale. Aku memerlukan lebih banyak informasi dari bagian arsip dan aku harus meminta ijin pada Lou terlebih dahulu."

"Baiklah, kami mendukungmu, Dhee."

"Terima kasih."

Lima belas menit kemudian, kami meninggalkan kantin dan kembali ke meja kerja masing-masing. Hari itu juga setelah mendapat persetujuan dari Lou, aku dan Gale langsung menuju gudang arsip untuk mencari dokumen pembunuhan itu.

"Gale, aku menemukannya." Setelah membongkar cukup lama tumpukan file-file akhirnya aku berhasil menemukan dokumen itu.

Kami duduk dan membaca satu persatu lembar kertas itu dengan teliti. Tak terasa air mataku jatuh ketika melihat foto Alana dan kedua orangtuanya yang bersimbah darah. Hatiku terasa sakit sekali. Luka itu semakin terbuka lebar.

"Sayang, kau tidak apa-apa?." Gale merengkuh bahuku dan memelukku.

"Aku harus menangkap orang itu, Gale. Aku yakin Alana tidak akan tenang sebelum orang itu tertangkap begitu juga aku."

"Aku mengerti, sayang. Aku akan selalu ada untuk mendukungmu."

"Terima kasih, sayang."

Setelah aku lebih tenang, kami pun kembali membaca berkas-berkas itu.

"Dhee, kau bilang Mr. Anderson seorang ilmuwan?. Coba lihat apa yang aku temukan." Gale menyodorkan kertas yang dipegangnya. Aku lalu membaca bagian yang ditunjuknya.

"Mr. Anderson bekerja di perusahaan milik Gerard Butler. Pada saat terjadi pembunuhan itu ia sedang membuat suatu penemuan. Gale, Gerard Butler…orang itu memang terlibat dan ini pasti berhubungan dengan penemuan yang sedang dikerjakan Mr. Anderson."

Tiba-tiba ponselku berbunyi, Lila sudah mendapatkan informasi tentang Gerard Butler. Kami pun bergegas menuju ruang rapat karena Lila dan yang lain menunggu di sana.

"Dhee, coba kau lihat ini." Lila langsung menyodorkan laptop ke arahku. "Butler ternyata terlibat perdagangan senjata ilegal, Dhee."

"Apa?? Tapi kenapa ia masih bebas? kenapa tidak di tahan La?."

"Ia sangat lihai, Dhee. Ia selalu bisa terlepas dari hukuman karena tidak cukup bukti. Ia seperti tidak terjamah oleh hukum."

"Hmmm…kali ini tidak akan terjadi lagi Sya. Aku akan mendekatinya dan menyusup untuk mencari bukti."

"Tidak, sayang. Kau tidak akan melakukan itu."

"Gale, tidak ada cara lain untuk mendapatkan bukti kejahatannya. Aku harus mendekatinya."

"Tapi itu sangat berbahaya. Bagaimana kalau ia mengetahuinya?. Nyawamu bisa terancam, Dhee." Gale tampak gusar.

"Aku secret agent, Gale. Aku sudah biasa melakukan penyamaran dan aku akan berhati-hati, aku janji."

"Gale, sebaiknya kita percaya pada Dhee. Ini memang satu-satunya cara untuk bisa mendapatkan bukti."

"Oke…oke. Baiklah. Lalu bagaimana caramu menyusup ke sana?."

"Dhee bisa menyusup ke acara pesta yang akan diadakan 3 hari lagi." Tiba-tiba Lou masuk diikuti oleh Steve dan Brad.

"Pesta Lou?. Hmm…ide bagus. Aku bisa mendekatinya di pesta itu."

"Butler akan menggelar pesta disebuah hotel. Seluruh relasi bisnisnya akan hadir. Kami akan atur agar kau bisa menyusup sebagai perwakilan dari salah satu perusahaan relasinya, Dhee. Gale, aku tahu kau mengkhawatirkan Dhee. Kami akan menyusupkanmu juga jadi kau bisa mengawasinya dari dekat."

"Baik, Lou. Terima kasih."

****

Malam ini, aku dan Gale masih berada di markas untuk meretas masuk ke dalam komputer pribadi milik Butler. Siang tadi Lila dan Asya sudah berhasil masuk tapi belum berhasil membuka data-data yang terkunci. Aku memutuskan untuk mencobanya lagi malam ini. Sebelum menyusup aku harus mendapatkan lebih banyak informasi.

Butler memiliki perusahaan di beberapa negara. Tapi perusahaan yang sangat mencurigakan adalah perusahaan dimana ayah Alana pernah bekerja dan kami akan fokus pada perusahaan itu karena aku yakin pembunuhan itu berhubungan dengan penemuan yang saat itu sedang dikerjakan oleh Mr. Anderson.

Sudah berjam-jam aku dan Gale di depan komputer tapi masih belum berhasil menemukan kata kuncinya.

"Sebaiknya kita lanjutkan besok, sayang. Sudah malam, kau harus istirahat."

"Tidak, Gale. Aku harus menyelesaikannya malam ini juga."

"Kau sangat keras kepala, Dhee. Aku hanya tidak ingin kau sakit" gerutunya sambil menyandarkan tubuh ke kursi dengan gusar.

Aku tersenyum geli melihatnya. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, sayang." Lalu aku mengecup pipinya sekilas.

"Ya sudah, aku akan buatkan kopi untuk kita." Gale berdiri lalu keluar menuju pantry.

Sepeninggal Gale, aku memijat keningku yang terasa sakit tapi aku tidak mau berhenti, aku harus mendapatkan kata kuncinya.

"Minumlah, kau kelihatan kacau." Gale menyodorkan kopi yang dibawanya.

"Terima kasih, sayang" kataku lalu meminum kopi yang dibawanya.

"Rileks saja dulu. Sepertinya kau memerlukan pijatan." Gale menarik bahuku pelan hingga bersandar dan tangannya mulai memijat bahuku.

"Rasanya enak sekali, sayang." Aku memejamkan mata menikmati pijatannya.

"SEXY BITCHES." Tiba-tiba Gale bergumam.

Mataku hampir melompat keluar mendengar Gale mengatakan itu. "Apaaa?. Apa maksudmu, Gale?." Aku langsung berteriak dan melotot kearahnya.

"Maaf, sayang. Aku hanya sedang membaca judul artikel tentang Butler. Maafkan aku." Gale menunjukkan artikel yang dibacanya. "Kau sudah mencobanya?."

"Kau pikir ia memakai kata 'sexy bitches' untuk kata kuncinya?."

"Tidak ada salahnya mencoba, kan?. Ia selalu menggunakan kata itu untuk wanita-wanita yang mendekatinya."

Walaupun aku ragu tapi tidak ada salahnya mencoba. Akhirnya, aku memasukkannya sebagai kata kunci. Dan…BINGGO berhasil.

"Haaa…kau benar Gale." Aku berteriak dan langsung memeluknya.

"Ia benar-benar laki-laki berengsek. Kau harus berhati-hati padanya, sayang."

"Tentu, sayang. Kau tidak perlu khawatir."

Aku segera mengcopy semua data-data tentang penemuan yang sedang dikerjakan Mr. Anderson tersebut ke dalam USB. Tampaknya Mr. Anderson berseberangan dengan Butler hingga ia dibunuh. Setelah selesai, aku dan Gale kembali ke apartemen. Hari ini sangat melelahkan hingga akhirnya kami langsung terlelap ketika kepala kami menyentuh bantal.

****

2 komentar:

  1. yeaaaaaaaahhhh finally...

    ckckckck Dhee kecil traumatic karena liat sahabatnya di bunuh di depan matanya...
    ckckckckck


    butter butter... eh butler maksudnya...

    here we gooo
    lets start for the new case...
    rpat2... Dhee sampe gk konsen gtu...

    dan penyamaranpun akan segera di laksanakan buat cari bukti bukti....

    SEXY BITCHES Gale Gale ckckck


    gk ad yg aku komenin ini sudah baguuuuuuuussss...

    good job..

    next chapter sist :*

    BalasHapus
  2. busyeeettt.
    Sadis bgt yakk.
    Pantes Dhee trauma bgt.
    Pukpukpuk Dhee..

    Yeayy, new case..
    Ayo kita selesaikan case nya bareng2. Smngat2..

    Mulai nyusup2 ni Dhee.
    Gale khawatir nih, tenang tenang Gale. Dhee biasa kq nyusup2 sm nyamar2 :D

    Butler, butler kaulah target CIA selanjutnya..

    Dan "SEXY BITCHES"
    hohoho Gale..
    *tepokjidat Gale :D

    lanjut ahh lanjutt..
    Jng lama2 ya author :****

    BalasHapus