Jumat, 13 September 2013

CHAPTER 49

“Emmmm, kakiku sangat pegal. Sebenarnya seluruh tubuhku sangat pegal, tapi kakiku yang paling sakit. Maukah kau memijat kakiku?”

Wajah tampannya langsung terlihat agak kaget dan kesal. Namun ia tetap mau melakukan
permintaanku untuk memijat kakiku. “Baiklah sayang, aku akan melakukannya. Sebentar…”

Gale turun dari tempat tidur, melepaskan sepatu dan jas yang di pakainya. Lalu berjalan menuju ke meja rias dan mengambil sesuatu dari sana dan kembali ke atas tempat tidur.

Dengan perlahan Gale meraih kakiku dan melepaskan sepatu yang masih menempel dikedua kakiku. Lalu ia menuangkan sedikit minyak aroma terapi di kakiku dan mulai memijatnya dengan lembut.

Aku memperhatikan sambil menahan tawa. Karena ekspresi Gale sangat sangat lucu sekali. Aku tahu sekali bahwa ia sedang berusaha keras untuk menahan gairah yang sudah sangat meledak-ledak di dalam dirinya.

“Gale, agak ke atas sedikit. Mengapa kau terus-terusan memijat di tempat yang sama?” tanpa menjawab perkataanku Gale mulai menyingkap gaun pengantinku lebih ke atas.

Sentuhan tangannya mengirimkan getaran-getaran keseluruh tubuhku, sedangkan Gale mulai terdengar menggeram dengan suara yang berat.

Gale mulai terlihat frustasi, namun ia tetap berusaha menahan gairah yang saat ini sedang berkecamuk di dalam dirinya. Setelah sepuluh menit kakiku merasa jauh lebih baik daripada sebelumnya.

“Gale…” panggilku pelan.

“Ada apa, sayang?” jawabnya sambil masih memijat kakiku.

“Sudah cukup, hentikan pijatanmu. Kakiku sudah terasa jauh lebih baik, terima kasih.”

“Apa benar kakimu sudah tidak apa-apa?” tanyanya sambil menatap lekat mataku.

Aku mengangguk, “Sudah Gale, terima kasih.”

"Err bisakah sekarang kita melakukannya?" Tanyanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku, "Aku sudah tidak bisa menunggu lagi, sayang."

Semakin lama Gale mendekatkan wajahnya dan mulai mencium lembut bibirku. Sedangkan tangannya mulai membelai bagian belakang telinga dan tengkukku. Ciumannya semakin dalam, tapi aku berusaha keras agar tidak terbuai dalam sensai ini. Karena aku masih ingin mengerjainya. Sebenarnya aku tidak tega mengerjai Gale, tapi di lain sisi aku ingin sekali mengerjainya. Jangan-jangan ini adalah kemauan dari bayi yang sedang aku kandung ini. Mungkin dia ingin mengerjai Daddynya.

"Gale..." panggilku di sela-sela ciuman kami yang mulai memanas.

"Sabar sayang, aku baru mulai." Bisiknya dengan suara yang berat.

"Gale..." akhirnya aku menarik diri dari ciuman kami.

"Ada apa, sayang?" Tanyanya sambil mengernyitkan kening dan terlihat sangat kecewa sekali. Karena aku menghentikan kegiatannya, seperti seorang anak yang mainannya di rebut oleh anak lain.

"Aku lapar, Gale."

"Aku juga sama sayang, aku lapar akan dirimu."

"Aku serius Gale, aku ingin makan." Timpalku sambil mengerucutkan bibirku.

Gale menghembuskan nafas dengan frustasi, "Apa yang ingin kau makan, sayang? Aku akan membuatkannya untukmu."

"Aku ingin kau membelikanku lasagna dan chocolate smoothies di kafe favorit kita."

Gale membulatkan matanya menatapku, "Tapi jarak kafe itu dengan rumah ini jauh, sayang. Ini juga sudah malam."

"Kafe itu buka dua puluh empat jam, Gale. Pokoknya aku ingin makan itu, aku tidak mau tahu." Aku merajuk.

"Baiklah, aku akan membelikannya untukmu."

Gale berjalan ke kamar mandi, lalu beberapa saat kemudia ia keluar sudah dengan pakaian casualnya. Setelah pamit ia pun pergi untuk membeli makanan yang aku inginkan.

Sepeninggalan Gale aku memutuskan untuk membersihkan seluruh badanku yang sudah sangat lengket. Setelah mandi dan berpakaian tubuhku terasa jauh lebih segar. Sambil menunggu kedatangan Gale aku berbaring di atas tempat tidur sambil membaca sebuah buku. Namun rasa kantuk itu datang menyerangku. Dan aku sudah tak sanggup lagi membuka kedua mataku untuk lebih lama lagi. Akhirnya aku menyerah dan tertidur karena kelelahan.

***

GALE

Aku tak menyangka bahwa di malam pengantinku aku harus berkeliaran di malam hari untuk mencarikan makanan yang di minta oleh istriku tercinta. Ya, sebenarnya Dhee tidak sepenuhnya salah karena saat ini ia memang sedang mengandung anakku.

Andai saja Dhee tidak hamil saat ini aku pasti sedang melancarkan semua rencana untuk menikmati malam pengantin yang sudah aku rancang sejak lama. Tapi ternyata kesabaranku sedang di uji saat ini. Aku harus rela menahan semua hasrat yang sudah sejak lama menyala di tubuhku.

Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh lima menit akhirnya aku sampai di kafe yang biasa kami datangi. Aku langsung memesan makanan dan minuman yang di minta oleh Dhee. Setelah mendapatkan pesananku, aku langsung bergegas pulang.

Sesampainya di rumah aku langsung menata makanan dan minuman yang baru saja kubeli ke piring dan gelas. Setelah itu aku segera bergegas menuju ke kamar untuk segera memberikan makanan dan minuman ini untuk istriku tercinta.

Dengan bersemangat aku membuka pintu kamar. Namun tubuhku langsung lesu, karena aku mendapati istri cantiku sedang berbaring sambil menutup kedua matanya dengan nafas yang teratur.

Aku berjalan lemas menuju meja yang berada di depan sofa dan menyimpan nampan yang aku pegang. Lagi-lagi aku hanya bisa menghembuskan nafas untuk menghilangkan rasa kesal dan kecewa yang mulai menyesaki dadaku. Selama berjam-jam aku hanya memandangi nampan yang berada di hadapanku dan istriku yang sedang terlelap dengan begitu pulas. 

Aku memang merasa lelah namun mataku tetap tak bisa kupejamkan. Akhirnya aku memutuskan untuk memakan lasagna dan menghabiskan chocolate smoothies yang aku beli tadi. Hari ini benar-benar membuatku sangat kelaparan. Aku memakan lasagna itu dengan lahapnya, biarlah nanti aku membelinya lagi jika Dhee masih menginginkan lasagna dan chocolate smoothies ini. Dan setelah semuanya habis aku tertidur di atas sofa karena lelah secara lahir dan batin.

***

DHEE

Mataku terbuka dengan perlahan-lahan, aku berusaha menyesuaikan penglihatanku di ruangan ini. Ah, maksudku kamarku dan Gale di rumah baru kami. Aku mengedarkan pandanganku kesekeliling, tapi aku tak mendapati Gale di sampingku.

Lalu aku turun dari tempat tidur. Dan menemukam Gale sedang tertidur di atas sofa. Dan... Oh astaga ia menghabiskan semua lasagna dan chocolate smoothiesku. Aku langsung merasakan perasaan marah ketika mengetahui Gale memakan makananku itu.

Dengan gemas aku membangunkannya. Aku akan meminta Gale untuk membelikannya kembali. Dan ia harus mau.

"Gale... ayo bangun." Aku mengguncang-guncangkan tubuhnya. Tapi Gale tak bergeming. "Galeeeee, ayo bangun." Aku berteriak sambil mencubiti perutnya dan sesekali menggelitikinya hingga akhirnya Gale membuka matanya.

"Ya ya aku bangun, ada apa sayang? Kau tahu bahwa aku baru tidur selama satu jam saja. Biarkan aku tidur sebentar lagi." Ucapnya sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Aku berkacak pinggang sambil memandangnya sinis. Aku benar-benar sangat kesal sekali. Gale menghabiskan makananku, rasanya aku ingin menangis saja. Tapi tidak, aku tidak akan menangis. Aku akan memarahi Gale.

"Mengapa kau menghabiskan makananku?" Tegurku dengan suara yang terdengar dingin.

Namun Gale hanya mengernyitkan keningnya, "Makanan apa, sayang?"

Ya ampun Gale malah bertanya makanan apa? Argh, aku semakin kesal dengan kelakuannya pagi ini. Tanpa berkata-kata aku memutuskan untuk pergi ke kamae mandi sambil menghentak-hentakan kakiku. Biar saja ia heran kenapa aku bersikap seperti ini.

Aksi diamku masih terus berlanjut ketika kami sedang berada di dalam pesawat yang menuju ke Maldives. Aku memang sudah lama sekali ingin pergi ke Maldives, menikmati sinar matahari dan menggelapkan kulitku. Tapi saat ini aku masih kesal dengan Gale. Sangat sangat kesal.

"Sayang, sebenarnya kau kenapa? Aku perhatikan sejak tadi pagi kau menekuk terus wajah cantikmu itu." Aku hanya mendelikkan mataku lalu segera mengalihkan pandanganku keluar jendela pesawat.

Gale terlihat mengacak rambutnya dengan frustasi melihat sikapku yang masih saja mengacuhkannya. Aku bisa melihat dari ujung mataku bahwa Gale berkali-kali melirikku dengan sikap yang canggung dan serba salah.

Tiba-tiba Gale merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya, "Sayang, kumohon jangan seperti ini. Kumohon katakan kepadaku jika aku melakukan kesalahan kepadamu. Jangan diam seperti ini, kau benar-benar membuatku gila sayang."

Entah mengapa mendengar kata-katanya itu tiba-tiba saja aku menangis terisak di dalam pelukannya. Aku benar-benar tidak mengerti dengan perubahan suasana hatiku akhir-akhir ini. Tak jarang aku merajuk hanya karena masalah yang sangat kecil sekali.

"Sayang, jangan menangis."

"Aku kesal kepadamu, Gale..." ucapku di sela-sela isak tangisku, "Aku kesal karena kau menghabiskan lasagna dan chocolate smoothies milikku."

Mendengar ucapakanku itu Gale langsung menangkup wajahku dengan kedua tangannya yang besar itu, memaksaku untuk menatap wajahnya. "Jadi kau mengacuhkanku selama berjam-jam karena masalah itu, sayang?" Aku mengangguk lemah, "Astaga sayang, mengapa kau tidak mengatakannya. Jadi sebelum kita ke bandara kita bisa mampir dulu kesana."

"Ma-afkan aku, Gale." Isakku.

Gale langsung memelukku erat, "Maafkan aku sayang, seharusnya aku bisa lebih peka.  Apalagi saat ini kau sedang mengandung bayiku." Ungkapnya sambil mengecup puncak kepalaku berkali-kali.

***

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Akhirnya kami sampai juga di Maldives. Sebuah vila yang letaknya lebih menjorok ke arah laut menjadi pilihan kami. Vila ini cukup luas, di lengkapi dengan fasilitas yang canggih dengan furniture yang minimalis namun terlihat begitu elegan.

Bagian favoritku di vila ini adalah terasnya yang langsung menyajikan pemandangan laun yang sangat indah sekali. Ada sebuah sofa putih berukuran besar di sana. Tempat ini benar-benar indah sekali. Aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.

Sore itu aku sedang menikmati suasana sekitar yang benar-benar indah. Semburat jingga yang muncul menambah suasana di tempat ini menjadi romantis.

Tiba-tiba Gale memelukku dengan lembut dari belakang, "Apakah kau senang berada di sini, sayang?" Ucapnya tepat di telingaku.

"Aku sangat senang Gale, terima kasih. Tempatnya benar-benar sangat indah sekali." Ucapku sambil membalikkan tubuhku menghadapnya.

"Apapun akan aku lakukan untuk membahagiankanmu, sayang. Asalkan aku bisa melihat kau tersenyum. Aku sangat mencintaimu istriku."

"Aku lebih lebih mencintaimu suamiku." Lalu kami berdua berciuman dengan sangat lembut. Sama-sama ingin mengungkapkan dan menunjukkan apa yang sedangan kami rasakan saat ini.

Tuhan, terima kasih atas kebahagian yang tak terkira ini. Aku akan selalu berdoa agar semua ini tetap abadi hingga maut memisahkan kami berdua.

-The End-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar