Hari Minggu yang indah di musim panas. Ketiga agen cantik ini sedang menghabiskan waktu liburan bersama suami dan anak-anak mereka.
Lila, Dhee dan Asya saat ini mereka bertiga sedang berada di kepulauan Belize. Berlibur bersama-sama seperti ini memang kerap kali mereka lakukan. Apalagi setelah menikah dan memiliki anak mereka bertiga jadi lebih banyak menghabiskan waktu sebagai ibu rumah tangga.
Awalnya sulit memang, karena mereka terbiasa dengan kesibukan dan pekerjaannya yang sebagai agen rahasia. Meskipun terkadang pekerjaan itu membuat mereka terluka. Tapi karena mereka cinta dengan pekerjaannya. Lila, Dhee dan Asya terkadang tidak mempedulikan keselamatan mereka masing-masing.
Barulah setelah mereka memiliki anak, Lila, Dhee dan Asya memutuskan untuk non aktif dari pekerjaan sebagai agen rahasia. Namun meskipun begitu mereka bertiga masih tetap terlibat dalam penanganan suatu kasus hanya saja tidak turun langsung di lapangan.
***
"Nikmatnya hidup." Dhee yang saat itu sedang berjemur di pinggir pantai bersama Asya dan Lila sambil mengawasi anak-anak yang sedang bermain bersama Gale, Zac dan Mark.
"Menjadi seorang ibu ternyata sangat menyenangkan sekali ternyata." Lila yang sedang asyik menyeruput minumannya ikut bersuara.
"Benar, sangat menyenangkan sekali. Melihat Kieran tumbuh itu sangat membahagiakan." Asya menybung.
Suasana pantai yang memang tidak terlalu ramai tiba-tiba saja menjadi gaduh. Beberapa pengunjung berlarian kesana kemari sambil berteriak. Bahkan terdengar suara letusan dari senjata api.
Kegaduhan itu langsung membangkitkan jiwa agen rahasia mereka. Karena mereka selalu membawa pistol revolver kesayangan mereka kemanapun.
"Ada yang tidak beres. Ayo kita berpencar, Asya kau bersama Dhee pergi melihat keadaan anak-anak." Lila langsung saja membagi tugas yang harus mereka lakukan, "Ah dan jangan lupa cari bantuan juga. Ada anak-anak dan Mark juga yang harus kita lindungi." Sambung Lila.
"Lalu kau sendiri mau kemana?" Asya bertanya sambil mempersiapkan senjatanya.
"Ketempat asal mula suara tembakan terjadi." Jawab Lila sambil memberikana kedua sahabatnya alat komunikasi.
"Sejak kapan kau membawa dan mempersiapkan semua ini, La?" Meskipun terheran-heran Dhee langsung memakai alat komunikasi yang di berikan oleh Lila.
"Setiap hari aku memeang selalu membawa alat-alat ini. Jangan tanya kenapa." Jelas Lila singkat.
Asya dan Dhee mengerti. Mereka tahu Lila seperti apa. Terkadang insting yang miliki Lila begitu tajam. Tentu saja kelebihan Lila itu tak jarang membuat mereka berhasil memecahkan berbagai macam kasus bahkan kasus yang besar dan berat sekalipun.
"Tetap informasikan keadaan, aku pergi." Lila langsung pamit setelah berkata seperti itu.
Mereka langsung menjalankan tugas masing-masing. Entah apa yang sebenarnya terjadi di pulau ini. Kebetulan sekali semua kekacauan ini terjadi ketika mereka sedang berlibur. Lila, Zac, Gale, Dhee, Mark dan Asya tidak akan sepanik ini jika anak-anak.mereka tidak berada di sini.
Karena Naima, Kieran dan Darrel ikut, otomatis konsetrasi dan fokus mereka semua menjadi terbagi-bagi. Setelah semua kekacauan mulai mereda Mark langsung mengamankan dan membawa anak-anak pergi ke tempat yang sudah di siapkan sebelumnya untuk jaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
Kelima agen rahasia ini langsung di minta bantuannya untuk menangkap beberapa gembong narkoba yang merangkap juga menjadi teroris. Apalagi mereka sudah berani dan terang-terangan membuat kekacauan di tempat umum.
"Jadi apakah kalian sudah menemukan lokasi yang di jadikan markas oleh mereka di sini?" Tanya Gale kepada Opsir McLaren.
"Ya, kami mencurigai beberapa titik yang berpotensi di gunakan oleh mereka sebagai tempat persembunyian. Maaf, kami harus mengganggu waktu liburan kalian." Jelas Opris McLaren sambil meminta maaf.
"Tak perlu meminta maaf. Ini memang pekerjaan kami. Dimanapun berada kami memang harus selalu siap siaga." Timpal Zac yang masih belum bisa menghubungi Lila yang tak lain adalah istrinya.
"Masih belum bisa menghubungi Lila, Zac?" Tanya Dhee yang baru saja datang.
"Lila masih belum bisa di hubungi. GPS yang terpasang di alat komunikasinya tidak bisa terdeteksi oleh satelit." Jelas Zac dengan nada suara yang terdengar frustasi.
"Biar aku coba untuk melacaknya." Dhee langsung menuju kesalah satu komputer dan langsung melakukan pelacakan.
Tiba-tiba Gale bersama beberapa anggota kepolisian datang. Gale baru saja selesai melakukan pencarian ke tempat-tempat sekitar pantai. Selain itu Gale juga menemukan sesuatu di dekat hutan yang lokasinya tidak terlalu jauh dari area pantai.
"Apa kau menemukan sesuatu, Gale?" Zac langsung membombardir Gale dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Ini..." Gale memberikan sebuah kalung kepada Zac, "Aku menemukan kalung itu di dalam hutan yang tak jauh dari pantai. Dan aku juga yakin bahwa kalung ini milik Lila." Mendengar penjelasan dari Gale wajah Zac langsung memucat.
Ia yakin sekali bahwa telah terjadi sesuatu dengan istri tercintanya. Zac terduduk lemas di atas kursi yang berada tak jauh darinya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah-olah sedang berusaha mengusir pikiran-pikiran buruk yang masuk dan mulai menguasai otaknya.
"Aku akan mencari Lila ke dalam ke dalam hutan." Ucap Zac tiba-tiba, ia juga sudah bangkit dari posisi duduknya.
"Saya akan menyiapkan beberapa orang untuk menemanimu melalukan pencarian. Setidaknya kau pasti membutuhkan seseorang yang mengenal seluk beluk hutan-hutan yang berada di sini." Usul Opsir McLaren.
Zac menyetujuinya, lagipula Zac tak ingin gegabah karena tindakannya yang sudah terpengaruhi oleh perasaan kalut karena saking khawatirnya akan mencelakakan nyawa istrinya.
Maka berangkatlah Zac bersama orang-orang yang telah di perintahkan oleh Opsir McLaren untuk menemaninya melakukan pencarian. Tentu saja mereka juga mempersenjatai diri mereka untuk berjaga-jaga.
***
Sementara itu jauh di kedalaman hutan yang sangat lebat. Lila tersadar dari pingsannya, kepalanya terasa berdentam-dentam dan sangat sakit sekali. Keadaan di sekitarnya remang-remang. Ia menyipitkan kedua matanya dan mulai bisa terbiasa dengan keadaan sekitarnya.
"Akhirnya kau sadar juga, sayang." Tubuh Lila langsung menegang mendengar suara yang berasal dari belakang tubuhnya. Tak lain dan tak bukan pemilik suara itu adalah Kyle. Ya, Lila sangat yakin sekali. Meskipun sudah bertahun-tahun Lila tak mungkin melupakannya begitu saja.
Kyle yang asalnya merupakan seorang pria baik-baik tiba-tiba saja berubah setelah mengetahui bahwa ayahnya ada seorang penjahat kelas kakap. Selain itu Kyle sangat terobsesi kepada Lila. Meskipun pada saat itu Lila sudah resmi berstatus menjadi istri dari Zac yang notabene adalah partner kerjanya. Tapi Kyle terus saja berusaha untuk mendapatkan wanita itu agar Lila berpisah dari Zac.
Bahkan Kyle sampai menculik bayi perempuan Lila yang waktu itu baru berusia dua bulan. Demi mendapatkan Lila Kyle rela karirnya sebagai seorang penyanyi hancur karena ia nekat menculik bayi Lila dan berakhir dengan ia yang harus mendekam di balik jeruji.
Namun sekarang Kyle sudah bebas. Dan setelah keluar dari tempat pesakitan Kyle sibuk mengawasi Lila dan menyiapkan berbagai rencana untuk membalaskan dendamnya kepada Lila. Apalagi sekarang ia tak sendiri ada ScarFace dan Buttler yang menjadi partnernya.
Karena mereka berdua sama seperti dirinya yang memiliki kepentingan dengan ketiga agen rahasia cantik itu. Mereka masing-masing memiliki dendam. Maka dari itu mereka bertiga bersatu untuk membalaskan dendamnya.
Melakukan berbagai kekacauan adalah salah satu cara mereka untuk memancing Lila, Dhee dan Asya keluar. Namun cara mereka tidak berhasil. Sampai akhirnya mereka mendapatkan kabar bahwa mereka semua sedang berlibur di Belize.
Itu artinya mereka jauh dari pengawasan Lou dan tentu saja sangat menguntungkan bagi Kyle, ScarFace dan Buttler. Hanya saja mereka tak menyangka bahwa Lila membawa peralatan mata-matanya dan sempat memberikan perlawan kepada mereka.
"Kau, apalagi yang kau inginkan, Kyle?" Tegur Lila dengan datar.
"Aku kembali untuk membalaskan dendamku kepadamu. Tapi tenang saja sebentar lagi kedua temanmu juga akan segera menyusulmu. Ah, tidak tidak bukan hanya mereka tapi anak dan suamimu juga akan segera mati." Gumam Kyle yang di susul oleh suara tawanya.
Lila berniat untuk menghajar Kyle, namun tubuhnya terasa sangat lemah dan tak bisa di gerakan. Rupanya Kyle telah mengikat dan entah memasukan apa ke dalam tubuhnya, "Jangan sentuh anak dan suamiku, Kyle. Atau aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri." Desis Lila dengan mata yang berkilat marah.
"Kau takkan bisa melawanku, sayang. Akan aku pastikan kau menderita karena melihat orang-orang yang kau cintai satu-persatu mati di hadapanmu, sayang." Ancamnya sambil membelai wajah Lila. "Cepat bawa wanita ini. Pertunjukan akan segera di mulai." Perintah Kyle kepada seseorang.
Beberapa detik kemudian seorang pria yang bertubuh besar mulai menyeret tubuh Lila keluar dari ruangan itu. Erangan kesakitan yang keluar dari mulut Lila tak di hiraukannya. Pria itu ternyata lebih suka Lila kesakitan karena tubuhnya mulai lecet dan memar karena di seret seperti barang.
Setelah itu mereka sampai di sebuah tempat dan ada sebuah jurang yang terjal di situ. Kedua tangan Lila di ikita pada seutas tali yang terhubung dengan ranting yang terdapat pada sebuah pohon yang tumbuh menjutai ke jurang.
Lila berusaha meredan dan menekan kuat-kuat perasaan takutnya. Meskipun saat ini wajah Lila telah berubah menjadi pucat pasi.
"Bagaimana berada di ujung kematian, sayang? Andai saja kau mau bersamaku tentu kau akan bisa hidup lebih lama lagi, sayang." Ucap Kyle yang setengah berteriak dari pinggir jurang.
"Aku lebih baik mati daripada harus bersamamu, Kyle." Teriak Lila yang telah memberikan tatapan mematikannya kepada Kyle.
"As your wish my lady." Ejek Kyle sambil tertawa.
Tak lama kemudian Zac datang bersama teman-temannya. Tentu saja bersama sebagian pasukan yang sudah di sebar untuk mengepung tempat itu tanpa di ketahui oleh pihak musuh. Ia amat terkejut ketika melihat istrinya tergantung tak berdaya di ranting pohon yang terjuntai ke arah jurang.
Kreekk... Kreekk... bunyi sesuatu yang patah membuat Zac semakin takut. Ia harus segera menyelamatkan Lila atau Lila akan segera jatuh ke dalam jurang. Entah berapa lama lagi ranting pohon itu akan sanggup bertahan menahan tubuh Lila.
Tanpa banyak kata, mereka langsung baku hantam dengan para teroris itu. Dhee dan Asya terkejut melihat Buttler dan ScarFace ternyata berada di balik semua ini.
Buttler berhasil menyayat bagian perut Dhee dengan pisau yang di pegangnya sedangkan Asya terkena tembakan di bahunya. Sedangkan Zac berusaha melawan Kyle dan anak buahnya yang menghalangi usahanya untuk menyelamatkan Lila. Karena semakin lama suara patahan ranting semakin terdengar. Dan itu membuat Zac menjadi kalap dan membabi buta menyerang Kyle.
Di detik-detik terakhir untunglah Lou datang bersama Eric, Brad, Adam, Nico, Steve dan Olivia. Sehingga Zac bisa menyelamatkan Lila tetap ketika tubuh Lila mulai melayang jatuh menuju jurang.
Setelah pertempuran yang cukup sengit akhirnya komplotan Kyle, Buttler dan ScarFace berhasil di lumpuhkan. Dan untuk kali ini mereka bertiga di pastikan akan mendekam seumur hidup di dalam penjara.
Lila, Dhee dan Asya langsung di larikan ke rumah sakit karena luka-luka yang di alami oleh mereka bertiga.
***
Satu bulan setelah kejadian itu kehidupan mereka bertiga kembali normal. Namun meskipun begitu Gale, Mark dan Zac menempatkan penjagaan yang sangat ketat untuk anak dan istri mereka.
Ketiga pria tampan itu tak ingin kejadian di Belize beberapa waktu yang lalu terulang kembali.
Dan mereka semua akhirnya bisa hidup bahagia dengan damai, aman dan tentram bersama keluarga mereka masing-masing.
-FIN-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar