"Sayang, apa kau sudah siap?"
"Iya, aku sudah siap, Gale."
Hari ini hari pertamaku dan Gale mulai bekerja kembali setelah beberapa hari berada di Malibu untuk berlibur. Aku sudah tidak sabar ingin memberitahu kedua sahabatku Lila dan Asya tentang pertunangan kami.
Aku tersenyum ketika teringat momen saat Gale melamarku di pantai. "Kehadiranmu membuat Mommy dan Daddy bahagia, sayang. Karena kehadiranmu pula kau sudah merubah kekerasan hati Mommy." Bisikku sambil mengelus perutku yang masih rata perlahan.
"Sayang kau kenapa? Apa perutmu sakit?" Gale menghampiriku dengan wajah yang terlihat cemas.
"Aku tidak apa-apa, Gale. Kami berdua baik-baik saja." Aku tersenyum sambil mengelus pipinya, "Aku hanya merasa kehadiran bayi ini telah merubah segalanya. Selama ini aku selalu menghindar ketika kau ingin malamarku. Tapi sekarang, aku ingin segera menjadi Mrs. Harold."
"Itu akan segera terjadi, sayang. Kalau kau mau besok kita bisa menikah, bagaimana?" Gale meraih tubuhku merapat ke tubuhnya dan menatapku dengan tatapan penuh harap.
"Tidak secepat itu juga, sayang. Kita tetap pada rencana, tiga minggu lagi." Aku tertawa geli melihatnya, "Aku tetap akan menjadi istrimu, Gale." Lalu aku mengecup pipinya sekilas.
Gale menundukkan kepalanya sehingga kening kami saling menempel."Aku sudah tidak sabar untuk menjadikanmu milikku satu-satunya, sayang. Kau dan bayi kita. Kalian sangat berharga bagiku. Aku mencintai kalian berdua."
"Aku juga mencintaimu, Gale."
Dengan lembut Gale mencium bibirku. Aku melingkarkan kedua tanganku di lehernya dan membalas ciumannya lalu mengelus tengkuknya. Sehingga dengan cepat ciuman kami berubah menjadi panas. Lidahnya menerobos masuk ke dalam mulutku yang terbuka. Lidah kami saling bertautan dan mencecap rasa masing-masing.
Gale meremas pinggangku dengan lembut dan penuh gairah. Mengalirkan jutaan volt aliran listrik keseluruh tubuhku. Tangannya mengelus punggungku dan memelukku erat, sehingga tubuh kami semakin menempel. Sedangkan mulutnya masih mengeksplorasi bibirku. Nafasku terengah-engah begitu juga dengan Gale, ketika ciuman kami terlepas. Kening kami masih menempel ketika kami berusaha mengatur nafas.
"Sebaiknua kita segera berangkat, sayang. Atau kita akan sangat terlambat datang ke kantor." Bisiknya setelah nafas kami kembali normal.
"Aku akan bilang pada Lou kalau kau yang membuat kita terlambat." Kataku sambil tertawa dan membelai pipinya.
"Hei, aku juga akan mengatakan bahwa kaulah yang membuat aku jadi penyebab kita terlambat. Karena percintaan panas kita semalam. Bagaimana, sayang?" Jawabnya sambil menyeringai nakal.
"Itu pasti akan menjadi alasan terkonyol yang pernah Lou dengar. Kalau begitu kita harus pergi sekarang, sayang." Aku tertawa geli membayangkannya.
Sambil tertawa kami turun dan keluar apartemen. Gale membukakan pintu mobil dan sebelum aku masuk ia kembali mengecup bibirku sekilas. Rasa cinta dan sayang yang mendalam terpancar jelas dari mata dan perlakuannya kepadaku.
***
Di markas aku dan Gale langsung menemui kedua sahabatku Lila dan Asya. Mereka berdua sedang bersama Zac berkumpul di ruangan Lila.
"Hai Lila, Asya, Zac. Apa kami berdua boleh masuk?" Ucapku sambil mengintip dari balik pintu.
"Dhee, Gale... Tentu saja boleh, Dhee. Kau ini ada-ada saja." Lila menghampiri kami lalu memelukku erat, "Bagaimana kabar kalian berdua dan juga calon keponakanku ini?"
"Kami baik-baik saja, Lila." Aku menjawab pertanyaan Lila setelah pelukannya terlepas.
"Aku kira kalian berdua belum kembali dari liburan."
"Tadi malam kami baru sampai, Sya."
"Sepertinya kalian berdua membawa kabar bahagia." Zac menyipitkan matanya menatap kami berdua secara bergantian.
"Sok tahu kau, Zac." Jawab Gale sambil tertawa melihat tingkah Zac
"Yang benar, Gale? Wajah kalian terlihat semakin berseri-seri. Terutama kau Gale, tidak sepertu biasanya."
"Iya Zac, kau benar. Kalian tahu Dhee sudah menerima lamaranku." Gale tersenyum melingkarkan tangannua di bahuku.
"Wah, benarkah itu, Dhee?"
"Iya La, aku sudah menerima lamaran Gale." Kataku sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisku.
Lalu Asya dan Lila langsung memelukku.
"Selamat ya, untuk kalian berdua. Ini kabar yang kami tunggu-tunggu sejak lama."
"Terima kasih."
"Akhirnya kalian berdua bertungan juga, ya. Aku ikut bahagia."
"Iya, terima kasih Zac."
"Jadi kapan rencananya kalian akan menikah? Jangan lama-lama nanti perutmu semakin membesar, Dhee."
"Tiga minggu lagi, Sya."
"Wah sebentar lagu. Kalian pasti sangat sibuk sekali menyiapkannya. Kalau perlu bantuan kami katakan saja."
"Iya, kau jangan terlalu lelah, Dhee. Ingan kandunganmu."
"Aku mengerti, terima kasih untuk semuanya."
Dan sejak hari itu, aku dan Gale sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk persiapan pernikahan kami. Untung saja Lila, Asya, Mark dan Zac mau membantu kami mempersiapkannya. Gaun pengantin dan semua persiapan lainnya sudah siap semua. Karena tidak banyak orang yang kami undang, mengingat aku dan Gale adalah seorang secret agent.
Meskipun Gale masih tetap berprofesi sebagai seorang aktor.
Hari pernikahanpu tiba. Halaman belakang dari rumah yang sudah di beli Gale saat ini sudah berubah menjadi bernuansa serba putih. Banyak sekali bunga mawar putih dimana-mana, tempat ini di sulap menjadi tempat yang sangat indah sekali. Kedua sahabatku mengenakan gaun putih sebagai pengiringku. Aku sangat gugup sekali dengan semua ini. Namun orang-orang yang aku sayangi selalu mendukungku dan menguatkanku.
Papa mengiringiku berjalan menuju ke tempat Gale berdiri saat ini. Semua mata yang terfokus kepadaku membuatku semakin merasa gugup. Namun semua perasaan itu hilang ketika Papa menyerahkan tanganku kepada Gale. Gale tersenyum menggoda ketika aku sudah berada di dekatnya.
Dan upacara yang sakral itupun segera di laksanakan.
"When the day turns into light, I look into your eyes. I see my future now. All the world and its wonder. This love won't fade away and through the hardest days I'll never question us. You are the reason, my only reason." Ucap Gale dengan mantap sambil terus menatapku.
Lalu aku membalas ucapannya tersebut, "I am blessed of what I need in a world loosing hope. You're my only believe. You make things right everytime after time. I love you." Ketika aku selesai Gale langsung mencium bibirku dengan sangat lembut sekali. Para hadirin pun bertepuk tangan memberikan selamat kepada kami.
"Aku ingin menyanyikan sebuah lagu untuk kedua mempelai. Semoga kalian berdua dan para tamu undangan menyukainya. Selamat menikmati." Mark turun dari panggung dan bergegas menuju ke sebuah piano yang memang sengaja di persiapkan.
Mark mulai memainkam jari-jarinya dengan lihai di atas tuts piano. Musik yang romantis pun mulai mengalun dengan lembut.
"Nothing's impossible, nothing's unreachable, when am I weary. You make me stronger, this love is beautiful so unforgettable. I feel no winter cold when we're together, when we're together." Suara Mark yang merdu dengan alunan musik yang lembut membuatku ingin berdansa dan ternyata Gale tahu keinginanku. Dengan lembut Gale mengajakku berdansa "Will you stand by me? Hold on and never let me go. Will you stand by me? With you I know I belong. When the story gets told, when the days turns into the night I look into your eyes I see my future now. All the world and its wonder." Lirik yang sangat indah terus mengalun, membuat suasana menjadi sangat romantis sekali. Aku menatap wajah Gale yang tampan suamiku tercinta. "This love won't fade away and through the hardest days I'll never question us. You are the reason, my only reason. I am blessed of what I need in a world loosing hope. You're my only believe. You make things right everytime after time." Para tamu ikut berdansa mengikuti alunan musik. Dan ketika Mark mengakhiri lagunya semua tamu memberikan tepuk tangan yang meriah sekali.
"I love you with all of my heart amd all of my soul my beautiful wife." Bisik Gale lembut.
"And I love too my gorgeous husband, thanks for this greatest moment you've gave to me."
Lalu Galr kembali menciumku dengan sangat lembut. Namun ciumannya itu langsung berubah menjadi panas ketika lidahnya berusaha menelusup masuk ke dalam mulutku. Tangannya mulai meremaa pinggangku dengan lembut. Aku bisa merasakan nafasnya yang mulai terengah.
"Cepat masuk ke kamar saja kalian berdua. Disini masih banyak tamu." Suara Zac langsung menyadarkanku dan aku segera melepaskan pagutan bibir Gale.
"Hai, kalian rupanya." Sapaku dengan wajah yang memerah.
"Selamat ya Dhee, aku bahagia melihatmu akhirnya menikah juga dengan Gale." Asya memeluk sambil mengucapkan selamat kepadaku.
"Terima kasih, Sya. Ini semua berkat dorongan dari kalian."
"Bukan Dhee, semua ini berkat bayi yang sedang kau kandung saat ini."
"Kau benar, Sya." Aku menjawab sambil mengelus perutku.
"Kapan kalian akan pergi berbulan madu?" Lila yang sedang menggendong Naima menghampiriku.
"Sepertinya besok, La. Halo sayang, kau cantik sekali hari ini." Aku mencium pipi Naima yang tembem. Sangat menggemaskan sekali, "La, bolehkah aku menggendong Naima?"
"Tentu saja, tapi Naima sangat berat sekali seranga, Dhee. Hati-hati, ya." Ucap Lila sambil memberikan Naima kepadaku.
"Tentu saja aku akan berhati-hati, La."
Menggendong Naima membuatku ingin segera melahirkan bayi kami. Aku penasaran apakah bayi kami akan mirip aku atau Gale. Sangat menyenangkan sekali rasanya jika bisa melahirkan bayi yabg sehat seperti Naima.
Tak terasa pesta pun usai dan semua tamu undangan sudah pulang. Gale memutuskan untuk berangkat berbulan madu besok. Alasannya kareba dia tidak ibgin aku kelelahan karena harus menempuh perjalanan panjang setelah pesta pernikahan kami usai. Gale tidak ingin terjadi sesuatu denganku dan bayi kami.
Gale menggendongku memasuki kamar kami yang berada di lanrai dua. Sebuah kamar dengan ukuran yang sangat luas dengan sebuah tempat tidur berukuran king size di tengahnya. Dekorasi kamar ini sangat indah, hangat dan romantis. Dengan dominasinwarna broken white, ada sebuah TV plasma berukuran besar serta sofa melingkar dengan ukuran yang cukup besar berwarna coklat yang sangat empuk sekali. Secara keseluruhan aku sangat menyukai segala hal yang ada di rumah ini. Gale benar-benar tahu dengan pasti apa yang aku sukai.
Gale menurunkanku di atas tempat tidur dengan perlahan, lalu ia ikut berbaring di sampingku, tangannya langsung asyik mengelus-elus perutku.
"Gale..."
"Ada apa sayang?" Tanyanya sambil menatap lekat mataku.
"Ayo kita berjalan-jalan keliling rumah. Ini kali pertama aku menginjakkan kakiku di rumah ini."
"Tidak sekarang sayang, nantin saja. Setelah kita pulang berbulan madu kita bisa mengelilingi rumah ini sepuasnya."
"Ayolah... kumohon..." aku memasang wajah memelas.
"Tidak sayang, ini malam pertama kita," ucapnya sambil mendekat ke wajahku. Gale terlihat sangat bergairah sekali. Namun ketika bibirnya hampir menempel di bibirku...
"Gale..." sontak Gale langsung memberi jarak di antara wajah kami.
"Ada apa sayang?"
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar